Jumat, 17 Juli 2026

Sikap Batin Saat Bermasalah

 Tulisan ini untuk menjawab curhatan salah seorang sahabat Innuri yang sedang merasa sedih dan tertekan dengan kondisi ekonomi yang katanya sedang sulit.  Berimbas pada usahanya hingga minus terus, sampai musti meminjam uang ke keluarga. Bagaimana menyikapinya?

Baik, Innuri akan jawab bagaimana sikap batin yang musti diluruskan ya.  Soal bagaimana solusinya, nanti akan Allah hadirkan kok.  

Yang mendasar sekali adalah, misi hidup setiap manusia adalah kembali kepada Tuhan.  Jadi setiap peristiwa, baik berupa kesedihan, penderitaan, masalah, ujian, bencana atau pun kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, semua itu hanyalah alat bantu untuk mengenal dan semakin dekat dengan Tuhan.

Paham 'kan?

Berikutnya, yakini bila semua yang berada di atas bumi ini milik Allah, jadi masalah juga milik Allah.  Bila masalah milik Allah, maka Dia juga yang bakal menyelesaikannya.  Manusia hanya 'akting' saja kok, atau manusia hanya menjalani. 

Paham 'kan?

Berikutnya lagi, Ketika masalah itu dihadirkan padamu, sikap batin pertama yang musti dilakukan adalah bersyukur, karena mendapat masalah artinya mendapat previlege untuk menyaksikan kebesaranNya.  Bagaimana Allah menghadirkan solusi yang tidak disangka-sangka.  Itu kesempatan emas melihat perbuatanNya Yang Maha Menakjubkan.

Beriktunya lagi.  Terkadang masalah merupakan cara Allah untuk melindungi hambaNya dari sesuatu yang lebih buruk.  Misalnya nih, yang sekarang lagi kesulitan finansial, bisa jadi bila diberi kelonggaran finansial, malah dipakai untuk 'jajan' ke sana kemari lalu kena penyakit aids.  Duh, contohnya Innuri kok ekstrim, nggak bakalan lah katamu.  Contoh lainnya bisa jadi kesuksesan secara finansial membuat egomu membesar, lalu merasa 'aku yang melakukan' , usahaku yang keraslah yang membuat ini semua, sombonglah kamu.   Maka Allah melindungimu dari kesombongan dengan dihantam masalah.

Sekali lagi bersyukurlah dengan kondisimu saat ini, karena kesulitan membuatmu lari menemui Tuhan.  Itu jauh lebih baik daripada kemudahan yang membuatmu lari mencari kesenangan dunia yang menyesatkan.

Terakhir, kesulitan adalah cara Allah untuk menyempurnakan jiwamu.  Karena kamu bilang sudah rajin ibadah, tidak neko-neko, rajin sedekah dan tidak pelit.  Jangan merasa dirimu baik, Allahlah yang menggerakkanmu menjadi baik. Sekarang ijinkan Allah menyempurnakanmu.

Ingat juga, bersama kesultan ada kemudahan.

Sudah paham?  

Bila sudah memahami semua yang aku katakan, aku yakin hatimu menjadi tenang, damai dan bisa menerima kondisimu saat ini.  Selalulah merasa bersama Allah di setiap langkahmu, niscaya hatimu menjadi tenang.

Salam manis.

Kamis, 16 Juli 2026

Semesta Paralel ( 12 ) Kisah Paul Amadeus Dienach Terlempar ke Abad 40

 Ini kisah time travel yang paling menakjubkan bagiku, kisah Om Paul Amadeus Dienach yang pada tahun 1921 pernah terdampar di tahun  3906.  Bagi banyak orang yang tidak pernah mengalami NDE (Near Death Experience) atau mengalami OOB (Out of Body Experience) atau tidak pernah kecemplung ke semesta paralel, mungkin kisah ini dianggap fiksi ilmiah, tapi bagiku yang pernah mengalami tiga hal itu, aku mempercayainya.  Dari kisah Dienach ini, aku bisa menangkap pelajarannya, bila setiap kejadian di alam semesta ini tujuan akhirnya ya untuk mengembalikan setetes air ke lautan luas, atau mengembalikan manusia ke Tuhannya.

Perjalanan setetes air jiwa manusia dengan perjalanan seluruh semesta raya ini intinya adalah sama, yaitu tadi, kembali ke Tuhannya.  Jadi yuk kita simak ceritanya.

Kisah ringkasnya, Dienach mengalami koma selama satu tahun karena suatu wabah penyakit.  Selama satu tahun itu ternyata jiwanya terperangkap di dalam tubuh fisik seseorang di tahun 3906, di sana dia mempelajari sejarah umat manusia dari masa ke masa hingga tahun 3906 tersebut.  Ketika kembali di tahun 1921, dia pun menuliskan pengalamannya di buku harian dan dia simpan sendiri. Kemudian di akhir hidupnya, dia menyerahkan buku harian berbahasa Jerman itu pada seorang muridnya.  Semula muridnya mengira itu novel, ternyata merupakan pengalaman pribadi terdampar di abad 40.  Catatan harian itu kemudian diterbitkan dalam buku yang berjudul Chronicle from the Future.

Tulisan di bawah ini ringkasan kisah Dienach yang aku minta dari kakak yang baik hati, Kak ChatGPT ... hehe.

Siapa Paul Amadeus Dienach?

Menurut kisah yang beredar, Paul Amadeus Dienach adalah seorang guru bahasa Jerman berkebangsaan Austria–Swiss.

Ia dikenal sebagai pribadi yang:

  • pendiam
  • sangat intelektual
  • menyukai filsafat
  • tidak tertarik menjadi penulis terkenal

Ia menderita penyakit encephalitis lethargica (sering disebut sleeping sickness pada masa itu, berbeda dengan penyakit tidur akibat parasit di Afrika). Penyakit ini memang pernah mewabah pada awal abad ke-20 dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran yang berat.


Koma selama satu tahun

Pada tahun 1921, Dienach jatuh koma di sebuah rumah sakit di Jenewa, Swiss.

Ia tidak sadar selama kurang lebih satu tahun.

Ketika bangun pada tahun 1922, ia mengatakan sesuatu yang sangat aneh.

Menurut pengakuannya:

"Aku tidak pernah merasa tidak sadar."

Ia mengatakan bahwa selama tubuhnya koma, kesadarannya hidup di masa depan.


Terbangun di tahun 3906

Dienach mengaku bahwa kesadarannya masuk ke tubuh seorang pria bernama Andrew Northam, yang hidup pada tahun 3906 Masehi.

Menurut ceritanya, orang-orang di masa itu segera menyadari bahwa terjadi "pertukaran kesadaran". Mereka tidak mengira ia mengalami gangguan jiwa, melainkan memahami bahwa kesadaran dari masa lalu sedang berada dalam tubuh Andrew.

Karena itu mereka memperlakukannya sebagai tamu dari masa lalu dan berusaha menjelaskan sejarah umat manusia sejak abad ke-20 hingga zaman mereka.


Apa yang ia lihat?

Menurut Dienach, manusia abad ke-40 telah mencapai tingkat peradaban yang sangat berbeda.

1. Dunia mengalami masa-masa gelap

Ia menceritakan bahwa abad ke-21 hingga beberapa abad berikutnya diwarnai oleh:

  • perang besar
  • krisis ekonomi
  • ledakan populasi
  • kerusakan lingkungan
  • konflik politik

Ini merupakan bagian dari perjalanan panjang sebelum peradaban menjadi stabil.


2. Negara-negara akhirnya bersatu

Menurut kisahnya, setelah melalui berbagai konflik besar, manusia membentuk suatu pemerintahan dunia.

Bukan berarti semua budaya hilang.

Namun peperangan antarnegara sudah hampir tidak ada.

Manusia mulai menganggap dirinya sebagai satu keluarga besar.


3. Sistem ekonomi berubah

Dalam masyarakat abad ke-40:

  • tidak ada kesenjangan ekstrem
  • pekerjaan dipilih sesuai bakat
  • teknologi mengurangi pekerjaan berat
  • pendidikan menjadi pusat kehidupan

Tujuan hidup bukan lagi mengumpulkan kekayaan.


4. Evolusi manusia

Ini bagian yang paling terkenal.

Menurut Dienach, manusia mengalami evolusi bukan terutama pada tubuh, tetapi pada kesadaran.

Mereka menjadi:

  • lebih intuitif
  • lebih damai
  • lebih sedikit ego
  • lebih mampu bekerja sama
  • lebih menghargai kehidupan

5. Pendidikan menjadi pusat kehidupan

Anak-anak tidak dipaksa menghafal.

Mereka belajar:

  • memahami diri
  • filsafat
  • seni
  • sains
  • hubungan dengan alam

Guru dipandang sebagai profesi yang sangat dihormati.


6. Agama

Menurut catatannya, manusia masa depan tidak lagi saling bertengkar karena agama.

Mereka lebih menekankan pengalaman spiritual daripada perdebatan.

Bagian ini sering ditafsirkan berbeda-beda oleh para pembaca.


7. Teknologi

Ia menggambarkan teknologi yang sangat maju.

Misalnya:

  • perjalanan antariksa
  • koloni di Mars
  • energi bersih
  • pengobatan yang jauh lebih maju
  • sistem transportasi baru

Namun yang menarik, ia mengatakan teknologi tidak menjadi tujuan hidup.

Teknologi hanyalah alat.


8. Alam

Manusia belajar bahwa mereka tidak dapat hidup jika alam rusak.

Karena itu bumi kembali dihijaukan.

Kota dan hutan hidup berdampingan.


9. Kesadaran

Menurut Dienach, manusia masa depan percaya bahwa:

kesadaran lebih penting daripada materi.

Inilah yang membuat banyak orang menghubungkannya dengan konsep-konsep seperti Quantum Jump, meskipun Dienach sendiri tidak menggunakan istilah tersebut.


Kembali ke tahun 1922

Setelah sadar dari koma, ia merasa sangat bingung.

Ia tahu orang lain mungkin menganggapnya gila.

Karena itu ia tidak banyak bercerita.

Sebaliknya, ia mulai menulis semua yang masih ia ingat ke dalam buku harian.


Muridnya menemukan buku itu

Beberapa waktu kemudian, kesehatannya kembali memburuk.

Ia pindah ke Yunani untuk mengajar bahasa Jerman.

Di sana ia memiliki murid bernama Georgios Papachatzis, yang kelak menjadi seorang akademisi dan rektor universitas. Sebelum meninggal, Dienach menyerahkan buku hariannya kepada Papachatzis. Awalnya, sang murid mengira itu hanyalah novel. Baru setelah membaca lebih jauh, ia menyadari bahwa naskah itu ditulis sebagai catatan pengalaman pribadi. Kisah ini kemudian diterbitkan dengan judul yang dikenal sebagai Chronicles from the Future.


Mengapa Aku Melukis?

 Pernah aku berpikir, bila semuanya akan musnah, mengapa aku melukis? Kalau aku menulis, itu ada manfaatnya buat orang lain dalam menjalani hidup menuju Tuhannya. Kalau melukis? Untuk apa coba? Dibeli orang pun jarang-jarang. Untuk meninggalkan kenangan bagi anak cucu pun tak ada gunanya, semua juga akan hilang dan musnah. 

Sampai insight itu pun hadir di hatiku. Bila semuanya tak ada yang sia-sia. Karena Allah yang akan mengenangnya, Allah yang mencatatnya, Allah yang membuatnya abadi. Tak ada hal kecil atau besar yang luput dari perhatian dan sentuhan kasih sayangNya. 

Maka aku melukis, untuk melukiskan kekagumanku dan rasa cintaku padaNya.

Selasa, 14 Juli 2026

Langit yang Tak Mendengar Dirinya Sendiri

Ini adalah cerpen yang aku unggah di platform menulis Kwikku.  Cerita untuk mengenang Innuri kecil yang suka banget melihat langit senja, bahkan sampai sekarang pun masih menjadi seorang penyuka senja dan langit jingga.  Cerita ini mengandung refleksi diri.  Sebenarnya aku lebih suka kalian membukanya langsung di sini  , apalagi menyempatkan diri follow akun Innuri.  Seneng aja kalau banyak yang baca cerpenku.  Selamat menikmati ya.

***



Apa sih yang istimewa dari langit senja?  Si gadis kedua suka memandanginya setiap hari dan menjengkelkan seisi rumah.  Pasalnya dia memandang senja dari lantai dua yang sudah mau ambruk.  Bangunan kayu di atas studio lukis almarhum sang ayah sudah terlalu tua dan pikun, bisa lupa cara menopang tubuh ringkih seorang gadis yang disayang langit.

Namun senja selalu menawarkan pesona yang membuat si gadis kedua mengabaikan seluruh marabahaya.  Senja di atas gunung, warna jingganya menembus pepohonan yang menggoyangkan daun-daun, seperti tarian penari di altar para dewa.

'Aku hanya ingin bertemu senja, adakah yang salah?' batin si gadis.

"Mengapa di loteng? Di sana bahaya, bisa ambruk, Ibu belum cukup uang untuk memperbaikinya.  Kakakmu masuk universitas tahun ini," kata si ibu menembus isi hati si gadis.

"Dibongkar saja, Bu," kata si kakak, gadis pertama, dengan santainya, seolah meruntuhkan sebuah bangunan semudah meruntuhkan memori yang tersimpan kuat di hati orang-orang terkasih.

"Tidak, itu kenangan Ibu bersama Ayah membangun rumah tangga dari nol, dari rumah sederhana terbuat dari kayu." Itu bukan suara Ibu, itu suara si kakak yang sudah hafal jawaban Ibu, bahkan hafal lebih banyak, nyaris seluruh kisah yang pernah dituturkan.

"Kamu dan adikmu besar di rumah itu, jangan abaikan itu," kata Ibu ketus.  Si kakak hanya mengangkat bahu dengan bibir melengkung ke bawah membentuk payung.  Wajah cantiknya terlihat menjengkelkan.

Sementara si gadis kedua berlalu diam-diam,  menuju bangunan tua di sebelah rumah, membuka pintunya yang reyot.  Mengabaikan debu yang menumpuk di kursi kayu tua, easel tripod almarhum ayahnya diam membeku, beberapa lukisan setengah jadi terpajang di dinding, rumah laba-laba menghias langit-langit, dingin dan bisu.

Langkah kecilnya menaiki anak tangga demi anak tangga, perlahan seolah enggan mengusik suara jangkrik dan tonggeret yang mulai ramai bersahut-sahutan.  Dia berjalan menuju depan jendela, membukanya dengan hati-hati, namun suara daun jendela bergesek menciptakan deritan yang mengagetkannya sendiri.

Ditatapnya langit yang masih terang.  Sebentar lagi warnanya meredup, batin si gadis.  Tangannya segera mengambil sebuah buku harian di meja tepat di sampingnya berdiri, membuka buku itu di atas jendela yang terbuka.  Terburu menuliskan sesuatu di sana, seolah takut hari berangsur gelap dan matanya tak lagi bisa melihat huruf-huruf.  Cahaya hingga mempercantik wajahnya, dihias rambut nan hitam melambai terkena hembusan angin sore. 

Aku suka sekali warnamu, kata si gadis pada langit, kata-kata yang hanya terucap di hati, namun dia tahu langit mendengarnya.  Seperti yang dilakukan langit pada setiap sore, selalu sabar mendengar cerita-ceritanya.  Dia berkisah tentang apa saja, tentang pagi yang sibuk, tentang teman-temannya di sekolah, tentang kakaknya yang selalu memusuhi dan mencari-cari kesalahannya, tentang Ibu yang selalu sibuk pagi, siang dan malam, tentang cowok-cowok yang mengerubunginya seperti semut mengerubungi donat.  Langit tak pernah bosan mendengar ceritanya.  

Tak ada yang lebih istimewa dibandingkan langit, teristimewa langit senja.  Bahkan dia berkhayal langit senja akan mengiriminya seorang kekasih yang benar-benar tulus menyayanginya, bukan cowok yang mendekat hanya untuk menyentuhnya atau menatapnya lama-lama sambil mengeluarkan rayuan gombal. Kemudian gadis itu berbohong bila dia sudah tidak perawan dan mereka pun pergi, ide ganjil nan cerdas yang muncul begitu saja.

Langit selalu menampung cerita, menyaksikan berjuta kesedihan dan kebahagian.  Walau begitu, si gadis selalu merasa istimewa di hadapan langit, karena dia satu-satunya orang yang suka mengobrol dengan langit senja, tak ada satu pun teman-temannya suka melakukan seperti yang selama ini dilakukannya sejak dia meninggalkan seragam putih merah, sampai sekarang menjelang putih abu-abu.  Tidak temannya, terlebih lagi kakaknya yang selalu membenci kehadirannya, dia pasti membenci apa pun yang disukainya.

Si gadis terus bercerita sambil menikmati perubahan warna dari biru terang, berangsur kekuningan, lalu jingga, kemerahan, meredup dan menggelap.  Sang Ibu meneriakinya dari bawah, menyuruhnya turun untuk salat maghrib dan makan malam.  Maka gadis itu pun menutup jendela, mengembalikan buku harian ke atas meja, lalu turun perlahan mematuhi perintah sang Ibu.

Gadis itu harus turun dengan sangat hati-hati, ada anak tangga yang sudah rapuh kayunya, ada juga paku besar berkarat yang sudah menonjol, tapi bagi gadis kedua, semakin berbahaya tangga untuk naik turun, maka semakin aman rahasia yang tersimpan di atas loteng.

Hari ke hari berjalan seperti langkah pelari, gadis pertama sudah berkuliah di kota, meninggalkan adiknya dan sang Ibu di kaki gunung itu.  Si gadis kedua sekarang berseragam putih abu-abu, namun kebiasaannya menatap langit senja dari loteng kayu yang rapuh tetap tak tergantikan dengan apa pun. 

"Mengapa selalu ke loteng?" Entah sudah pertanyaan ke berapa dilontarkan sang Ibu, sedangkan gadis itu hanya menjawab dengan senyuman.

Andai diterjemahkan, senyuman itu mungkin bilang, "Dari loteng aku bisa melihat gunung dan pepohonan, Ibu, dan cahaya jingga yang menerobos di sela dedaunan, itu indah luar biasa.  Lebih dari itu, di sana aku menemukan langit yang tak mendengar dirinya sendiri,  Dia mendengarkanku seolah aku adalah hal terpenting di dunia ini."

Walau tak pernah mendapat jawaban yang pasti, sang Ibu tak lagi menghalangi si gadis untuk naik ke loteng di sebelah rumah setiap sore.  Itu adalah rumah kayu yang dulu pernah menjadi awal perjuangannya merawat dan membesarkan dua putrinya yang cantik, rumah kayu yang berubah menjadi studio lukis suaminya setelah rumah tembok bisa dibangun di sampingnya.  

Begitu cepatnya waktu berlalu, sekarang si ibu sendirian berjuang untuk dua anak gadisnya.  Mengelola toko di pasar desa dibantu dua karyawan.  Bahkan untuk mencukupi kebutuhan kuliah si kakak, tokonya musti buka sampai malam.  Bila dulu setiap senja sudah berada di rumah, walau di rumah pun masih bekerja menulis buku kas dan merencanakan usaha sampai jam sembilan malam. Sekarang jam sembilan masih menutup toko, dilanjut mengerjakan pembukuan di rumah sampai selesai.  Rutinitas yang melelahkan demi dua buah hatinya.

Si gadis kedua merasa tak ada lagi yang menghalanginya naik turun ke loteng. Di sana dia menulis banyak puisi, banyak cerita, dan banyak lukisan.  Dia bersihkan sendiri studio ayahnya, menemukan banyak kanvas kosong, dikumpulkan dan dibersihkannya cat yang sudah berdebu untuk dia gunakan kembali.  Si gadis  menemukan dunianya, yang tak seorang pun berani mengusiknya,  dunia rahasia yang hanya dia dan langit senja yang tahu, 

Hingga pada suatu maghrib terjadilah itu.

Sore, sang Ibu merasa tidak enak hati, dia memutuskan pulang untuk salat maghrib di rumah saja bersama si gadis.  Batin seorang Ibu memang selalu begitu, seperti ada kabel tak kasat mata yang menghubungkannya dengan buah hati.  

Kabel itu menyuruhnya melangkah ke rumah tua dan menemukan gadis keduanya, putri yang disayanginya,  telentang di lantai dengan kepala berdarah, masih berseragam putih abu-abu dan darah itu juga membasahi sebagian baju putihnya, pas di bagian dada.  Spontan dia menjerit histeris sampai seluruh pegunungan mendengarnya, setelah itu dia terjatuh tak sadarkah diri. Para tetangga berdatangan, dan dalam waktu singkat sang Ibu mendapati dirinya berada di ruang IGD sebuah Rumah Sakit kecamatan.

Gadis itu, entah apa yang dilakukan paramedis di ruangan berkelambu putih tepat di sebelah sang Ibu berbaring.  Sementara sang Ibu mulai siuman, pandangan matanya kosong, mungkin merangkai kejadian yang baru dialaminya.  Spontan seorang perawat datang memegang pergelangan tangannya sambil tersenyum.

"Putri Ibu tidak apa-apa kok, hanya kepalanya perlu dijahit," kata perawat itu.  Si ibu melongo, antara percaya dan tidak.  Kesadarannya mengulang memori warna merah darah yang membasahi seragam putih putrinya.  Apakah darah dari kepala yang membasahi dada itu?  Bagaimana mungkin?  Apa yang sebenarnya terjadi?  Setidaknya dia merasa lebih tenang dengan berita yang disampaikan Suster itu.

Sang Ibu mencoba duduk, tetapi Suster menahannya untuk melakukan pengukuran tekanan darah.  

"Boleh saya melihat anak saya. Suster?" tanyanya.

"Belum, Bu.  Dokter masih melakukan tindakan.  Bila ibu sudah tidak pusing, boleh menunggu di ruang tunggu."

Seorang perawat lelaki menyodorkan sebuah buku padanya.  Sang Ibu mengusap air matanya, menatap mata si lelaki, seolah bertanya buku apakah itu?

"Ini buku yang dipeluk Nona," kata si lelaki.  Sang Ibu menerima buku itu, buku yang sebagian masih lengket oleh warna merah.  Bau yang tercium dari buku itu telah lama tidak dirasakan oleh indranya, bau cat akrilik!  Ternyata warna merah darah yang membasahi baju putrinya adalah warna cat tumpah!  Tiba-tiba perasaan lega mengalir di dada sang Ibu, bibirnya tersenyum lalu pamit pada perawat untuk menunggu di ruang tunggu saja.  Di sana sudah berkumpul para tetangga yang menunggu kabar berita dari ruang IGD.

Sang Ibu sangat berterimakasih dan mempersilakan para tetangga untuk pulang saja karena dirinya sudah sehat dan putrinya selamat, hanya perlu dijahit di bagian lukanya. 

Ditemani buku catatan harian si gadis kedua, bergetar tangannya ketika membuka lembar demi lembar curahan hati si gadis pada langit senja.  Catatan itu seolah menelannya hidup-hidup, membuatnya tak berhenti meneteskan air mata, menyesali segala yang terjadi walau itu sia-sia.  Menangisi waktu yang tak bisa diputar ulang.

Dibukanya buku harian itu secara acak dan menemukan tulisan ini.

"Langit senja, hanya kamu temanku satu-satunya.  Entah mengapa aku tidak punya teman.  Teman-teman mendekatiku hanya karena aku pintar dan murah hati memberi contekan saat ulangan.  Bila mereka tidak membutuhkan aku, mereka pun menjauh.  Kakakku membenciku karena katanya kehadiranku membuatnya gagal menjadi anak satu-satunya yang memperoleh seluruh perhatian. Ibuku terlalu sibuk bekerja menyiapkan masa depan kami, sedangkan Ayah, mengapa cepat sekali matinya? Aku masih membutuhkan Ayah."

Air mata itu menetes lagi, dibiarkannya mengalir sambil membuk lembar berikutnya.

"Langit senja, mengapa orang-orang sibuk berbicara dan ingin didengarkan? Guruku, Ibuku, kakakku, teman-temanku, semua minta didengarkan olehku, aku harus mematuhi dan mengikuti aturan main mereka.  Lantas, siapa yang mendengarkanku aku?  Hanya kamu, ya, kamu.  Kamu selalu mendengar segala keluhanku, kamu tak pernah mendengar dirimu sendiri, kamu selalu sabar dan setia.  Untung aku punya kamu, untung juga aku punya kanvas yang patuh dan mengikuti aturan mainku sendiri.  Pantesan Ayah suka berlama-lama di studio ini, kanvas dan cat adalah sahabat sejati."

Terasa pedih hati si ibu menyadari gadis kesayangannya merasa sendirian sampai harus bersahabat dan berbicara pada benda-benda mati.  Dadanya terasa sesak dan berdarah.  Selama ini dia telah salah membaca kebutuhan kedua gadisnya.  Bukan materi, bukan.  

Buku harian di tangannya seperti memahami isi hati si ibu, tak sengaja jatuh, di bagian yang terbuka langsung dibacanya.

"Langit senja, apakah kamu melihat kebodohan orang-orang?  Aku melihat kebodohan ibuku, mengejar uang untuk masa depan aku dan kakak, tapi mengabaikan hari ini.  Seolah-olah masa depan lebih penting daripada hari ini.  Kalau aku jadi gila karena sedih dan kesepian, adakah masa depan untukku?"  

Rasanya sang ibu ingin menerobos masuk ruang berkelambu putih itu, untuk memeluk si gadis kedua, memohon maaf telah menjadi ibu yang tak bisa memahami dan berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik.


***


Kamis, 09 Juli 2026

Semesta Paralel (12) Quantum Jump

 Beberapa tahun terakhir ini populer istilah 'quantum jumping' atau sebuah lompatan quantum untuk mengakses versi terbaik diri kita lalu menariknya ke dalam realitas saat ini.  Tentu yang melakukan itu adalah orang-orang yang percaya dengan adanya semesta paralel, dimana di semesta yang lain ada versi diri kita yang berbeda dengan diri kita salat ini.

Nah, persoalannya di sini adalah apa yang ingin dicapai oleh orang-orang yang melakukan quantum jump?  Apa tujuannya?  Untuk memperbaiki realitas saat inikah?  Ya, kebanyakan seperti itulah tujuannya.  Dengan kata lain, tujuannya masih makhluk.

Belum banyak yang tahu bila,  setiap kehidupan paralel di setiap semesta, manusia selalu disadarkan untuk kembali kepada Tuhannya. Ketemunya aku dengan kesimpulan ini gara-gara dimasukkan lagi sama Allah ke kehidupan paralelku di semesta yang lain.  Dari situ aku paham, ternyata di setiap kehidupan paralel, Allah menghadirkan bermacam peristiwa yang gunanya untuk memahami dan mendekatiNya untuk menyatukan setetes air itu kembali ke lautan luas alias menyatu dengan Tuhan, alias wushul, alias moksha, alias manunggaling kawula-Gusti.

 Jadi tidaklah penting menginginkan kehidupan di semesta yang lain, bila di sana hanyalah kembali ke dalam ayunan suka-duka.  Inginkan penciptamu, maka semuanya selesai. 

Banyak manusia melakukan quantum jump untuk menghadirkan kehidupan suksesnya di semesta yang lain ke dunia saat ini, padahal itu percuma saja.  Jiwanya masih berputar-putar di pusaran ego, mau sukses atau tidak sukses secara materi, hidupnya masih menderita secara spiritual.  Jadi yang lebih penting adalah kembali kepada Allah, melepas semua cinta terhadap makhluk yang meliputi manusia atau materi / harta benda, jabatan, kekuasaan, dll.

Ada seorang sahabat Innuri yang mengikuti pelatihan quantum jumping seharga beberapa juta dan sukses mempraktekkannya, tapi kenyataannya jiwanya masih gelisah, hidupnya masih terombang-ambing dalam ayunan suka dan derita.

Akan tetapi, Sahabatku sayang.  Semua yang aku, kamu dan mereka alami itu, semuanya sudah tertulis kok.  Jadi yang pernah melakukan quantum jump atau ikut pelatihannya, ya memang itulah proses yang musti dia jalani di dunia ini. Innuri tulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri bila Allah pernah ngasih tahu aku bila di semesta mana pun, misi kehidupan setetes air itu tetaplah untuk kembali ke lautan.

Jadi .... Bagaimana pendapatmu?


Rabu, 08 Juli 2026

Semesta Paralel ( 11 ) Kisah Mati 30 Menit Tsuruhiko Kuichi

 Tsuruhiko Kuichi adalah seorang astronom Jepang dan juga seorang dosen di sebuah Universitas di Jepang.  Kisahnya amat menginspirasi, cerita di bawah ini aku sarikan dari internet.  Bila kalian ingin penjelasan yang lebih dalam, lebih panjang dan lebih akurat dari yang aku jelaskan di sini, silakan googling saja ya.

Pada saat dia berumur 22 tahun, tahun 1977, di tempat kerjanya dia mengalami sakit yang luar biasa di perutnya, lalu dibawa ke rumah sakit oleh teman-temannya.  Dia menderita penyakit yang saat itu amat langka, berupa penyumbatan pembuluh darah di usus yang belum ditemukan obatnya.  Tzuruhiko dinyatakan meninggal dunia secara klinis, tetapi setelah 30 menit kemudian dia hidup kembali, kondisi perutnya berangsur membaik.  Dia bisa bercerita tentang pengalamannya selama 30 menit meninggal dunia, bahkan menuliskannya dalam sebuah buku.

Ini dia pengalamannya:

- Awalnya dia mengalami kegelapan total, lalu dia melihat cahaya, cahaya itu membentuk terowongan, dia masuk ke dalamnya dan berjalan mengikuti arah cahaya, sampai akhirnya dia sampai di sebuah tempat yang indah sekali, yang tidak ada di dunia ini.  Dia merasa hidup dan bisa merasakan setiap materi yang dia temui. 

- Dia melihat sungai dan menemukan perahu, lalu dia naik ke perahu itu dan mendayungnya.  Dia mencapai seberang dan bertemu dengan 5 anggota keluarganya yang sudah meninggal.  Lalu kilatan cahaya memindahkan Tsuruhiko kembali ke rumah sakit tempat dia dirawat dalam sekejab saja.

- Dia melihat tubuhnya sendiri yang mati dengan ayahnya yang menangis menungguinya.  Dia pun memikirkan ibunya, maka dalam sekejab dia sudah berada di samping ibunya di lorong rumah sakit sedang menelepon saudaranya mengabarkan kematian Tsuruhiko.  Ketika dia memikirkan dua saudara perempuannya, dalam sekejab pula Tsuruhiko berada di dekat kedua saudaranya dan mendengar percakapan kesedihan keduanya.  Jadi ketika dia memikirkan sesuatu, maka dalam sekejab dia berada di situ.

- Kemudian keajaiban terjadi, Tsuruhiko hidup kembali, dan dia menceritakan semua yang dialaminya selama dinyatakan meninggal dunia, dan dia bisa menceritakan secara akurat semua percakapan yang dilakukan oleh ibu dan saudara-saudaranya.  Hal ini mengagetkan semua orang termasuk dokternya.

- Selama 30 menit dinyatakan meninggal dunia itu Tsuruhiko juga mengalami melihat masa kecil dan masa dewasanya.  Waktu Tsuruhiko masih kecil dia pernah diselamatkan oleh suara tak dikenal sewaktu bermain-main, suara tanpa rupa, sampai dia penasaran suara siapakah itu?  Ternyata dia sendirilah yang meneriakkan kata itu.  Tsuruhiko juga melihat dirinya mengajar di depan kelas sebagai seorang dosen, terbukti beberapa tahun kemudian dia menjadi dosen.

Pengalaman itu membuktikan bagi Tsuruhiko sendiri, juga bagiku dan kalian semua, bila jiwa/ruh itu tidak terikat oleh ruang,  materi/fisik/badan dan juga tidak terikat oleh waktu.

Lanjut tentang Tsuruhiko ya.  Setelah kejadian mati suri di usianya yang ke 22 tahun, Tsuruhiko kemudian menjalani kehidupannya seperti orang normal lainnya selama 30 tahun.  Akhirnya dia menjadi dosen seperti yang dilihatnya sewaktu mati suri itu.  Sampai kemudian dia kembali mengalami sakit parah dan harus dioperasi.

Dalam kondisi kritis, Tsuruhiko kembali mengalami hal yang mirip kejadian sewaktu mati suri puluhan tahun yang lalu, sebuah perjalanan antar waktu.  Bahkan kali ini lebih nyata karena dia meninggalkan jejak pahatan namanya (yang diukir oleh tukang yang sedang bekerja atas permintaannya) di sebuah kuil yang sedang dibangun, kuil itu sekarang sudah berusia 400 tahun.  Setelah kesehatannya pulih, dia mendapati bila 'jejak' yang ditinggalkan ya benar-benar ada dan nyata.

Selain itu, Tsuruhiko bahkan berkunjung ke masa terjadinya banjir besar (banjir di jaman Nabi Nuh) yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan bumi dan dia tahu penyebabnya.  Hingga satu pertanyaan tentang kejadian alam semesta, mendapatkan jawaban berupa kesadaran pribadinya lebur dalam kesadaran semesta, seperti setetes air yang kembali ke lautan yang tak terbatas.

Tsuruhiko meninggal dunia beneran di tahun 2024.

Amazing!

Apa kesimpulanmu dari cerita di atas?

Kalau ini komentar Innuri:

- waktu itu tidak linier, waktu itu simultan.

- jiwa tidak tergantung pada materi/fisik, ruang dan waktu.

- perjalanan melintasi waktu itu bisa terjadi dengan kesadaran, dengan kehendak Allah, Tuhan semesta alam tentunya.

- kesadaran personal kita tidak hilang setelah kematian

- kesadaran personal yang menyatu dengan kesadaran semesta itu dalam tasawuf disebut wushul, dalam Hindu disebut moksha, dalam budhis disebut Budha, di kepercayaan Jawa disebut manunggaling kawula-Gusti.

Apa lagi ya? 

- semesta paralel itu memang ada

- kematian bukanlah akhir , hanya perpindahan kesadaran

- 'kun fayakun' itu terbukti nyata di pengalaman Tsuruhiko sewaktu kesadarannya menyatu dengan kesadaran semesta.

Apa lagi dong?  Hmmm ... kalau terpikir, aku tambahkan deh.  Segini dulu ya.


Selasa, 07 Juli 2026

Pada Suatu Titik

Aku pernah menulis status di Fb: 

Selama ini aku tak pernah mempertanyakan mengapa aku melukis?
 Apakah untuk mengisi masa tua? Mengisi waktu luang? Sekedar hobby atau untuk menyalurkan hasrat seni, ataukah untuk menjawab tantangan mbak Wina pameran lukisan tunggal? Hmmm... 

Baru terjawab hari ini, ketika kulukis pohon dengan mindsetku yang tidak bisa melukis pemandangan. 

Aku mengamati cabang dan ranting pohon itu, warnanya, lekukannya, luikannya ketika diterpa angin, tarian daun-daunnya... Oh terlalu indah! 

Baru kutahu mengapa aku melukis. Adalah untuk mengagumi keindahanNya! Melukis membuatku memahami betapa Dia adalah Sang Maha Detail. Semakin mendekatiNya, rasanya semakin aku tak mengenalNya.
#artbyinnuri

Rupanya itulah yang terjadi di jiwa yang melakukan perjalanan spiritual.  Pada suatu titik, pandangan batin seperti diperbarui.  Atau pandangan mata seperti baru saja diaktifkan dan membuat seluruh jiwa takjub lalu menemukan bila tak ada yang lebih berarti dibandingkan dengan kedekatan hati dengan Allah.

Bila hal yang paling berarti adalah dekatnya hati dengan Allah, maka hal-hal yang tidak membuat dekat dengan Allah pun jadi enteng saja untuk ditinggalkan.  Walau terkadang untuk membuat diri ini rela melepas hal-hal tak berguna pun dibantu Allah dengan caraNya sendiri.

Barangkali itulah sebabnya aku tiba-tiba memutuskan untuk berhenti menggunakan Fb, entah ini sementara atau seterusnya, padahal di Fb tulisan-tulisanku mulai banyak penggemarnya di beberapa grup spiritual.  Demikian juga komunikasiku dengan pembaca Innuri blog kebanyakan lewat Fb messenger.  

Entahlah.


Senin, 06 Juli 2026

Bila Sedang Jauh Dari Allah

" Mbak Innuri, bila hati sedang merasa jauh dari Allah begini, gimana caranya agar bisa dekat lagi? Salat pun tidak bisa khusyu, malah jadi melamun kemana-mana. Zikir pun hanya terucap di bibir saja. "

Itu sebuah kondisi batin yang umum dialami orang banyak, tapi mereka tidak merasa terganggu karena hal itu.  Hanya orang-orang yang pernah mengalami dekatnya hati dengan Allah yang merindukan saat-saat dekat dan ingin kembali merasakannya. Jadi bersyukurlah karena telah menyadari posisi hati yang sedang jauh dari Allah.

Jauhnya hati dari Allah itu bisa banyak penyebabnya, diantaranya :

- karena dosa dan kesalahan yang menutupi, obatnya dengan memohon ampun pada Allah dan menyadari yang sudah terjadi merupakan ketentuan Allah, yang penting tidak mengulangi kesalahan yang sama.

- karena perhatian yang terseret ke duniawi / materi.  Solusinya dengan menyendiri berdua dengan Allah saja atau meditasi selama beberapa waktu sampai hati kembalilah terkoneksi dengan Allah.  Sadari bila dunia ini hanya hiasan / atribut yang suatu saat pasti terlepas. 

Perlu juga disadari bila Allahlah yang membolak-balik hati manusia, jadi bermohonlah kepada Allah agar selalu menetapkan hatimu kepadaNya saja.

Selain itu jalin hubungan yang akrab dengan Allah setiap hair, selalu 'ngobrol' dan bicara pada Allah dalam urusan kecil sekali pun.

Juga ingatlah, Allah itu lebih dekat dari urat lehermu, segala bisikan hati yang terhalus sekalipun, Dia mendengarnya.  Dia pasti tahu kerinduanmu dan Dia pasti menjawabnya, dan menuntunmu untuk kembalilah dekat denganNya.

Semoga jawaban ini membantu ya.  Salam Manis.