Minggu, 18 Oktober 2026

Menghargai Allah

 Dipertemukan Allah dengan orang yang "nggak banget" , bukanlah untuk merendahkan dia walau hanya dalam hatimu, bukan pula untuk kesal.  Sadari memangnya siapa sih dia ? Allah juga yang menghadirkan dia dalam hidupmu kan?

Selalu ada maksud Allah dibalik segala peristiwa, salah satunya untuk bersyukur bahwa kau tidak dijadikan demikian oleh Allah.  

Merendahkan orang lain merupakan kesombongan, kamu kira kamu baik karena dirimu sendiri? Karena usahamu ? Tidaaaak, semua karena Allah yang menakdirkannya . Bersyukurlah. Segala peristiwa adalah untuk bersyukur.

Ketahuilah, mudah saja bagi Allah untuk menjadikanmu lebih buruk atau lebih menjengkelkan daripada orang yang kamu anggap buruk. Itu mudah saja bagi Allah, semudah kamu yang sehat mengedipkan mata.

Jadi hargailah setiap pemberian Allah. Melepaskan diri dari penilaian-penilaian, juga perbandingan-berbandingan adalah bagian dari menghargai setiap pemberian Allah.

Anggaplah peristiwa dan orang-orang adalah kehadiran Allah karena itulah hakekatnya, itulah kesejatian. Peluklah saja semuanya tanpa penilaian , karena yang berhak menilai hanyalah Allah.

Itulah caranya menghargai Allah.


Kamis, 15 Oktober 2026

Cara Menemukan Potret Utuh Kehidupan

 Aku jadi bertanya lagi, apa sih yang benar-benar bisa membebaskan manusia dari rasa takut, sedih, khawatir dan sebangsanya selain dari menyadari bila semua yang terjadi sudah tertulis.

Pertanyaan itu muncul ketika seorang temanku membagikan cerita di status Fb-nya.  Dia tinggal dengan ibu mertuanya yang sudah tua tetapi masih sehat.  Dia rawat sang ibu dengan penuh kasih, terpenuhi segala kebutuhan dengan sangat baik. Dikelilingi cucu yang baik-baik pula. Dibebaskan melakukan apa saja yang membuat beliau bahagia, dituruti semua permintaan yang membuat beliau bahagia. Intinya sang ibu hidup terjamin dan selalu dibagikan oleh anak, cucu dan menantu.

Tapi ternyata sang ibu masih sering galau dan sedih. Mungkin karena ketiadaan pasangan, mungkin karena terseret ke masa lalu, karena masa kini dan masa depan sudah tidak membuatnya khawatir.

Di situlah aku merenung. Kesadaran apa lagi yang dibutuhkan manusia agar benar-benar terbebas dari kesedihan?

Sampai aku bawa pertanyaan itu dengan membayangkan diriku sendiri seumpama di posisi itu.  Sampai aku menemukan jawabannya.

Selain kesadaran bila hidup ini sudah ada skenarionya. Ada satu ketentuan Allah yang sering sekali ditolak manusia, yaitu Allah menghadirkan segala sesuatu berpasang-pasangan.  Ada baik-buruk, sedih-senang, suka-duka, beruntung-buntung, siang-malam, gelap-terang,  dll , perbanyak sendiri kondisi yang berkebalikan itu.

Manusia memilih yang enak-enaknya saja kan? Menolak bagian yang tidak enak.  Padahal dua kondisi yang berbeda itu bisa berada di saat yang bersamaan, seperti mata uang.  

Atau lihat cahaya yang menimpa suatu benda, membentuk sisi gelap dan terang yang dengannya kita bisa membedakan satu benda dengan benda yang lain. Bila hanya memilih cahaya, tanpa sisi gelapnya ya tidak kelihatan bentuk suatu benda bukan?

Coba renungkan kehidupanmu sendiri, saat ini, saat membaca tulisan ini, ada apakah di hidupmu? Selalu ada dua hal yang berkebalikan bukan? Ketika kamu bahagia, ada hal-hal yang membuatmu tidak bahagia. Misalnya saja kamu punya keluarga yang selalu mensuportmu, tapi kamu punya tetangga yang nyinyir dengan pencapaianmu.  Seperti itulah gambarannya. Selalu dan selalu kehidupan ini membawa dua hal yang berkebalikan di saat yang bersamaan.

Bagaimana kamu bisa selalu bahagia menjalani kehidupan dengan hukum seperti ini? Kebanyakan orang akan mengatakan, abaikan sisi buruknya dan fokus pada sisi baiknya.  Betul 'kan? Namun ini bukan penyelesaian yang bijak, ini berarti sebuah penolakan akan suatu kondisi.  Ini tidak mengantarkanmu pada kesejatian atau kebahagiaan sejati yang tidak goyah oleh apapun.  Ini tidak bisa membuatmu melihat peristiwa secara utuh.

Lantas bagaimana? Menerima keduanya? Jawabannya iya dan tidak.  Menerima keduanya, tapi bukan berarti kamu sedih dan senang di saat yang bersamaan. Menerima keduanya tapi kamu melampaui (di atas) keduanya. Dengan demikian kamu akan melihat potret utuh dari peristiwa yang terjadi padamu, the complete picture of your life.

Aku ambil contoh dari kasus sahabatku yang saat ini sedang sedih banget karena lagi berselisih dengan anaknya. Karena perselisihan mereka, baik sang anak dan sang ibu sama-sama sedih kukira.  

Lantas aku katakan padanya bila segala sesuatu sudah tertulis sebelum peristiwa itu terjadi.  Tapi dia tak kunjung pulih dari penyesalannya.

Lantas aku katakan bila semua yang terjadi pasti berguna buat proses pendewasaan si anak, dan sekaligus proses spiritual sang ibu dalam memahami kebijaksanaan Allah.

Dia mengangguk-angguk, mengatakan bila aku benar, setelah peristiwa itu justru banyak hal baik terjadi di antara mereka berdua.  Nah, di sini rupanya maksud Allah memberi pengalaman buruk berupa pertengkaran, untuk hadirnya hal-hal baik yang diterima keduanya. Hukum dualitas itu terjadi.

Namun sahabatku masih sedih juga, mengatakan bila anaknya sekarang jadi berbeda, tak lagi seakrab dulu dengan dia sebagai ibunya.

Di situlah aku mengatakan padanya soal bagaimana menyikapi dualitas, agar kita tidak terus menerus terseret ke sini dan ke sana, kita musti melompat keluar dari kehidupan kita sendiri. Kita musti belajar menjadi penonton bagi kehidupan kita sendiri.

Ya, begitulah caranya, jadilah penonton! Penonton film kehidupan kita sendiri. Inilah salah satu cara melihat potret utuh kehidupan.  Endingnya adalah kita jadi takjub akan skenario Allah yang luar biasa indah untuk kehidupan kita.

Menjadi penonton bagi kehidupan kita sendiri itu memang tak semudah itu, perlu latihan dan pembiasaan.  Lain kali Innuri tulis di tulisan yang lain saja ya.

Kalau ada pertanyaan boleh.

Senin, 12 Oktober 2026

Semua Sudah Tertulis

 Apa sih yang benar-benar membebaskan manusia dari rasa takut, khawatir, sedih, gundah gulana, galau, patah hati dan sebangsanya? 

Pertanyaan itu muncul di hatiku ketika seorang pembaca Innuri blog mengatakan akan datang ke Malang.  Dia dari luar propinsi dan  sudah menabung sekian lama untuk tiket kereta api PP dari kotanya ke tempatku. Dia mau belajar energi murni langsung padaku.

Tentu aku menerimanya, aku senang bertemu pembaca blogku, apalagi pembaca  yang sudah mengikuti blogku sejak awal aku menulis di tahun 2011. 

Yang membuatku khawatir adalah semakin ke sini sebenarnya aku semakin "bodoh" , aku kehilangan kepekaanku,  juga kemampuan ESP-ku (extrasensory perception), bahkan aku sudah lama tidak melakukan transfer energi pada siapapun.

Aku khawatir dia sudah datang jauh-jauh, ternyata yang dia temui cuma wanita bodoh yang tidak bisa memberinya apa-apa. Aku khawatir dia pulang tanpa mendapatkan apa-apa.

Lalu tiba-tiba saja aku mendapatkan jawaban, bila segala sesuatu sudah tertulis, maka mengapa aku khawatir? Tentu sudah tertulis pula bagaimana aku menemui pembacaku , apa yang bakal aku omongkan pasti sudah tertulis. 

Setiap pertemuan atau perpisahan sudah tertulis.  Dia datang padaku karena skenarioNya, Allahlah  yang menghendaki pertemuannya denganku. 

Kesadaran ini membuat rasa khawatirku hilang seketika.

Yap! Aku mendapat jawaban dari pertanyaan yang aku tulis di awal. Apa hal yang bisa membebaskan manusia dari rasa takut, sedih, khawatir, dsb-nya ? 

Adalah kesadaran bila segala sesuatu sudah tertulis, kita hanyalah aktor dan artis kehidupan di dalam skenario Sang Maha Kasih Sayang. Karena Dia menulis dengan kasih sayang. Kasih sayang adalah dasar terwujudnya segala sesuatu.

Maka mengapa khawatir?

Banyak sekali hal yang membuat manusia jatuh dalam rasa sedih dan khawatir, bahkan untuk orang yang terlihatnya baik-baik saja.  Virus sedih dan khawatir itu seperti udara, ada terus dan sewaktu-waktu bisa masuk ke hatimu.

Sadarilah bila segala sesuatu sudah tertulis.  Al Qur'an menuliskan ini di beberapa ayat , salah satunya Al Hadid ayat 22.

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah".


Kamis, 08 Oktober 2026

Sisi Spiritual Diet

 Tak kusangka, dietku beberapa hari kemarin hingga hari ini bukan cuma mengatur pola makan dan apa yang boleh aku makan saja, tapi ini merupakan perjalanan spiritual.

Banyak manusia hanya memperhatikan makanan pada halal dan haramnya saja, termasuk diriku sendiri. Padahal ada ayat ini di dalam Al Qur'an.

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya (QS Abasa 24)

Hingga kusadari bila makan adalah ritual ibadah yang semakin memahamkan diri ini akan kasih sayang Allah.

Awalnya aku melakukan diet karena nyeri lutut yang disebabkan oleh asam urat yang mengkristal di persendianku.  Aku masih ingin naik gunung, makanya niatku bulat sekali dalam melakukan diet ini.

Aku mengulang pola diet asam urat yang dulu pernah aku jalani dan berhasil, minusnya aku tidak minum vitamin C dosis tinggi kayak dulu, aku ganti dengan buah-buahan saja. Yang mau lihat menu dietku bisa ditemukan di FB dengan hashtag #menudietinnuri , barangkali ada yang membutuhkannya.

Kembali ke sisi spiritual diet yang aku lakukan. Awalnya aku menyadari bila Allah memberikan tubuh ini untuk dirawat, jadi melakukan diet adalah bentuk tanggung jawab di hadapan Allah akan karunia tubuh yang sehat ini.

Aku juga menyadari bila kemampuan menahan diri dari menginginkan makanan enak adalah termasuk proses spiritual dalam mengendalikan keinginan/hawa nafsu, dan bukannya malah dikendalikan keinginan.  Kesabaran menempuh diet adalah kesabaran yang dipersembahkan kepada Allah.

Lalu aku menyadari bila kecanduan makanan pun merupakan kesalahan , bukan cuma kecanduan narkoba, miras, dll. Kecanduan makanan juga merupakan kesalahan serius karena mengakibatkan rusaknya tubuh  di kemudian hari.

Kemudian aku menjadi orang yang menghargai rasa original makanan alami dengan sedikit proses pengolahan , bagaimana enaknya wortel rebus atau sayuran rebus tanpa bumbu. Kurasa itu menghargai sang pencipta juga, walau Allah juga yang mengilhamkan pada manusia bagaimana membumbui makanan.

Lalu pada puncaknya pagi tadi aku menangis karena baru hari ini aku sadari sebenarnya Allah-lah yang "menyuapi" kita. Allah yang menyampaikan makanan itu hingga sampai ke mulutmu, lalu memrosesnya di dalam tubuhmu.  Semua itu karena kasih sayang Allah yang tak terdefinisi kan.

Aku diare tadi pagi, kusadari inilah jalan aku merasakan kedalaman makna.  Karena diare , aku terpaksa mengubah pola diet yang telah kujalani selama beberapa hari terakhir.  Aku utamakan memperbaiki pencernaan dulu.  Aku makan bubur bayi untuk memberi nutrisi tubuhku.  

Tepat di saat menatap semangkuk bubur bayi, tiba-tiba saja aku menangis terharu merasakan  bagaimana bubur ini sampai ke mulutku melewati tangan ke tangan yang sudah ditentukanNya. Aku seperti dilemparkan ke sebuah lembah yang membuatku terbuai  dalam perasaan dimanja dan disayang, dan Yang Maha Kasih Sayanglah yang melakukannya.

Aku seperti dibuat paham akan banyak hal tanpa kata-kata dan tanpa bisa diungkapkan dalam kata-kata pula.


MasyaAllah. I love You , Allah.


Rabu, 07 Oktober 2026

Pesan Mimpi

 Semalam ku bermimpi yang di dalam mimpi ada mimpi, ehm , jadi ingat film yang lupa judulnya yang diperankan Leonardo de Caprio. Tapi ini mimpi yang mengandung pesan Tuhan buat diriku dan kalian yang ketemu tulisan ini.

Aku tidur di rumah Pakis, kamarku di lantai atas.  Aku terbangun jam 2 pagi karena kebelet ke kamar kecil.  Aku turun dan menunaikan tugasku, tapi aku malas naik lagi, maka aku pun tidur di kamar bawah dengan santainya, meninggalkan suamiku sendirian di kamar atas.

Aku bermimpi dengan posisi tidur persis posisiku saat tidur tadi, membuat mimpi  itu terasa nyata sekali. 

Aku melihat ibuku di depan pintu ruang keluarga.  Aku membatin ,"Bukannya ibuku sudah meninggal? Mau apa kemari?"

Lalu dalam hatiku ada jawaban bahwa ibu mau menjemputku pulang ke Allah alias mati. Tiba-tiba saja ibu sudah berada di sisi tempat tidurku , tersenyum dengan wajah bahagia yang cantik sekali.

Aku mengucap kalimat syahadat dan kurasakan dua tarikan di tubuhku, aku nggak jadi mati.  Baru setelah aku mengubah posisi kepala kurasakan tiga tarikan dan aku pun mati. Kurasakan jiwaku melayang, tapi ada dua anak kecil berkulit hitam memegang kedua tanganku, aku merasa terbebani, tapi aku berusaha menerimanya. Lalu aku mendapat petunjuk bila kedua anak itu adalah hawa nafsu dan kehendakku (yang rupanya masih lengket dengan jiwaku).

Lalu kuputuskan untuk memberitahu suamiku bila aku sudah mati, maka aku pun melangkah turun dari tempat tidur, dengan kedua anak berkulit  hitam itu masih memegangi tanganku.  Di bawah tangga aku berdoa ,"Hanya kasih sayangMu ya Allah yang bisa melepaskan aku dari kehendak dan hawa nafsuku." Ajaib! Kedua anak itu menghilang.

Aku terbangun dalam mimpi, maksudku di dalam mimpi itu aku merasa terbangun, aku belum terbangun beneran, aku masih di dalam mimpi. Aku bilang ,"Oh, cuma mimpi." tapi bilang begitu di dalam mimpi.

Masih di dalam mimpiku, aku berpindah tempat entah di mana, aku melihat kebakaran hebat, aku berteriak dan apinya mengecil menjadi sekelas api kompor bersamaan dengan teriakanku. Orang-orang memadamkan api. Aku lalu bercerita kepada orang-orang tentang mimpiku ,"Hanya kasih sayang Allah yang bisa."

Aku pun terbangun beneran dan mengatakan dengan mulutku ini,"Oh, aku hanya bermimpi."

Mimpi yang pesannya terkesan jelas sekali, "Hanya kasih sayang Allah yang bisa."  

Namun perlu penjelasan panjang tentang dua anak berkulit hitam itu, bagaimana kasih sayang Allah bekerja, bagaimana pesan yang aku tangkap (bukan yang kalian tangkap) dari mimpi itu.  Aku akan tuliskan lebih jauh di tulisan yang lain ya.




Selasa, 06 Oktober 2026

Mengembalikan Rejeki

 Sahabatku bertanya, "Mbak In, gimana cara mengembalikan jatah rejeki yang dicuri orang? Musti tirakat yang bagaimana?"

Disadari dulu bila setiap jatah rejeki pasti sampai ke kita tanpa pernah dikurangi sedikit pun. Jadi tak ada jatah rejeki yang dicuri orang.

Misalnya kita pernah ditipu orang atau kemalingan misalnya, kelihatannya ada yang berkurang dari rejeki kita, tapi sebenarnya tidak.  Kehidupan ini seimbang , pernah kehilangan namun juga pernah mendapatkan. Jadi semua itu sudah sesuai takarannya, peristiwa apa pun  hanyalah peristiwa untuk menjadi pelajaran, apakah menjadi orang yang bersyukur ataukah kufur ? 

Menjadi orang kufur itu tidak harus orang yang keluar dari agama Islam ya, kufur itu kan maksudnya menutup, orang yang menutup diri dari kebenaran. Sedangkan kebenarannya adalah Allah melimpahi manusia dengan rejeki yang tak pernah putus bahkan mati itu pun rejeki dan sesudah mati pun dijamin rejekinya. 

Dalam agama, orang kufur itu orang yang mengingkari. Kufur nikmat berarti mengingkari nikmat. Sudah diberi nikmat yang banyak tetapi merasa tidak diberi apa-apa atau batinnya selalu merasa kurang.

Mengapa manusia bisa kufur? Karena manusia meletakkan semua hal pada dirinya, dia menganggap rejeki adalah hasil usahanya , kerja kerasnya.  Ingkar bila semuanya karena kasih sayang Allah semata-mata.  

Lebih dalam lagi karena manusia merasa dirinya  ada.  Itulah sumber penderitaan manusia di muka bumi ini.

Dunia ini ilusi, rejeki juga ilusi, jangan terpaku pada ilusinya, karena di balik ilusi yang tampak mata ini ada kesejatian.  Pandangan musti menembus ilusi.  Ilusi itu sesuatu yang tidak ada, pasti lenyap, sedangkan kesejatian itu selalu ada dan abadi.

Manusia yang merasa tidak ada, jauh sekali dari penderitaan. Justru manusia yang merasa tidak ada itulah manusia kaya raya yang sesungguhnya, dia tidak pernah merasa kehilangan karena tidak merasa memiliki.  Dalam keadaan 'tidak ada' justru dia menyatu dengan segala keberadaan.  Ini paradoks dalam dunia spiritual.  Kondisi yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata, hanya perlu dialami sendiri.

Musti tirakat yang bagaimana? Khalwat 40 hari, boleh khalwat dalam keramaian, bisa ditempuh sambil tetap beraktifitas seperti biasa. Karena dalam khalwat yang diniatkan murni karena Allah, Allah sendiri yang akan membimbing hambaNya langsung. 

Btw, rejeki yang paling besar bukanlah harta benda, melainkan dekatnya diri dengan Sang Maha Pemberi Rejeki.

Lalu sahabatku berkata lagi, "Rejeki yang menjadi jatah kita pasti datang ya, walau terlambat sampainya."

Maka aku katakan bila Allah tak pernah terlambat. Dia adalah Maha Perencana yang terbaik, pasti datang di waktu yang tepat.  Karena nafsu manusia yang suka tergesa-gesa dan berharap segera , maka menjadi terasa lambat.

Lepaskan diri dari penilaian-penilaian, karena itu menjauhkan diri dari kesejatian ya.

Kamis, 01 Oktober 2026

Laillahalillaana

 Sahabat Innuri itu lucu-lucu.  Gara-gara aku sering merekomendasikan channelnya Gus Mukhlason Rasyid, suatu hari dia bilang begini ,"Bunda, kalau zikirnya laillahalillaana, terus kedengaran orang gimana?"

Duh, Innuri jadi ikut bingung 'kan?  

Begini loh, biar nggak pada bingung.  Gus Son menerangkan soal perjalanan spiritual dari Laillahalillallah naik menjadi Laillahaillahuwa , lalu naik lagi menjadi Laillahaillaanta , lalu pada akhirnya menjadi Laillahaillaana , semua itu merupakan tahapan kedekatan hati dengan Sang Khaliq.  Jadi merupakan pemahaman demi pemahaman yang semakin mendalam, lebih ke kesadaran hati bila Allah sedekat itu.  Soal melafalkannya bagaimana ya itu rahasia saja antaramu dengan Allah, jangan kedengaran orang lain, ntar dicap sesat lagi.

Innuri sendiri tak pernah melafalkan zikir Laillahaillaana di bibir atau di ucapan, tapi kalau hati bunyi sendiri "Ini Allah bukan Innuri"  itu sering.  Innuri pernah menuliskan soal ini di pembahasan soal khalwat dan di tulisan tentang "Perjalanan ke Dalam".  Soal hati yang bunyi sendiri ini pun pas awal-awal mengalami terasa ragu, apa aku lagi disesatkan sama syetan ya?  Lalu aku mendapat jawaban dari channelnya Pak Hans.  Baru ketemu jawaban yang lebih jelas lagi di channelnya Gus Son di tahun 2026 ini.

Untuk sampai pada kesadaran laillahaillana itu pun tidak bisa dipaksakan, itu muncul dengan sendirinya saat diri terasa 'hilang' atau fana.  Kejadiannya murni karena karunia Allah saja.  Yang perlu kita lakukan hanyalah membersihkan diri.  

Membersihkan diri dari apa?  Selain dari hal-hal yang diharamkan Allah, memohon ampun untuk segala dosa dan kesalahan, juga membersihkan diri dari prasangka-prasangka, penilaian-penilaian, perbandingan-perbandingan, juga logika yang sering memenjarakan kita dari keajaiban hal-hal yang bersifat spiritual.

Adakah yang sama seperti sahabat Innuri dalam melafalkan zikirnya?