Selasa, 17 Maret 2026

Mencintai Bayangan

 Ada ungkapan yang bikin hati tersindir dari Gus Mukhlason Rasyid yaitu "mencintai bayangan."

Maksudnya, manusia punya kecenderungan mencintai makhluk melebihi cintanya pada yang menciptakan makhluk. Ibarat makhluk hanya bayangan dari sang Pencipta, tapi itulah yang lebih dicintainya dan malah mengabaikan sang Pencipta.  

Bagiku itu ungkapan yang nancep banget di hati. Lebih nancep lagi bila manusia juga sadar bila bayangan itu pasti akan menyakitinya, entah sakit dalam bentuk berpisah karena ditinggalkan / meninggalkan atau sakit karena benturan ego.

Cinta itu deritanya tiada akhir, kata Patkay dalam serial Kera Sakti.  Kalian yang punya happy married  pasti tidak setuju, aku juga tak setuju awalnya. 

'Kan belum dipisahkan dengan yang kamu cintai. Tunggu saja saatnya, itu pasti terjadi, baik kamu siap atau tidak. 

Mungkin baru sekarang mencintai pasangan yang sah terasa salah. 

Sudah tahu kalau cinta yang bahagianya tiada akhir itu adalah cinta ilahiyah, tapi manusia memang suka sekali cari perkara. 

Tapi memang dunia ini tempatnya ujian (surat Al Mulk). Punya pasangan yang nyaris sempurna itu ujian, punya pasangan yang rasanya pingin "ditukar tambah" juga ujian. Punya harta banyak itu ujian, miskin juga ujian.  Anak, jabatan, kehormatan di masyarakat, follower,  pecinta dan pembenci, apa sih yang bukan ujian di dunia ini? 

Tantangannya adalah bagaimana strategi menghadapi semua itu? 

Sadari bila semua itu hanya bayangan, selayaknya kita lebih mencintai wujud aslinya daripada bayangan.  Semakin kelihatan bodohnya kalau mencintai bayangan yang pasti akan melukaimu.

Yang tak pernah melukaimu adalah mencintai Tuhan. Itulah jurus paling ampuh.  

Untuk bisa mencintaiNya dan lengket denganNya, adalah mengenalNya.  Kurasa cara yang paling mudah adalah dengan zikir tanpa ucapan tanpa nama, hanya merasakan kehadiranNya terus menerus yang disebut zikir sirrur asror.  

Kalau di dalam Budhis, ada meditasi vipassana yang mengantarkan kita bertemu Tuhan. Meditasi vipassana itu akar dari mindfullness yang terkenal itu, makanya aku lebih suka vipassana karena ini yang ori. 

Yang muslim, dalam keadaan apa saja, kamu bisa melakukan zikir sirrur asror, karena 'hanya' perlu merasakan di hati kehadiranNya, penjagaanNya dan kasih sayangNya. Aku kasih tanda kutip kata 'hanya' karena ini kelihatannya mudah tapi tidak mudah. 

Kalau bisa sering-sering menyepi, menyendiri bersama Allah saja, itu bakalan lebih baik.  Aku sering melakukannya, beberapa hari jauh-jauhan dari suami dan anak-anak, benar-benar sendirian saja di Ngantang atau di rumah di dekat bandara, atau di kebun. Bersyukurnya aku didukung suami melakukan uzlah.

Allah mengijinkanku melakukan ketiga-tiganya, zikir sirrur asror, meditasi dan uzlah.  Kusarankan mengalir saja, yang penting ada niat kuat di hati, Allah pasti menuntun. Yang terpenting dari semua itu adalah 'jangan merasa melakukan', tapi Allahlah yang menggerakkanmu melakukannya. 

Ada lagi yang keren sekali yaitu salat daim. Yaitu salatnya jiwa, jiwa yang terhubung dengan Tuhan, tunduk patuh dan menghamba terus menerus (karena jiwanyalah yang ruku' dan sujud).  Salat daim ini salat 24 jam, atau salat 50 waktu.  Mirip-mirip zikir sirrur asror.  Innuri nggak tahu sudah bener belum dalam melakukannya, jadi aku nggak bisa cerita banyak. 

Yang bisa aku ceritakan adalah bagaimana karunia Allah saat melepaskan aku dari mencintai bayangan. 

Yaitu pandangan batin menjadi luas, dibukakan pemahaman-pemahaman baru. Seperti diperlihatkan keutuhan dari rancangan Allah yang menyangkut diriku dan orang-orang yang aku cintai.  

Ketika memahami keutuhan, jadi paham sebenarnya kita tak pernah berpisah.  Kedengarannya membingungkan, ketika sudah tidak melekat pada makhluk, justru di situ jadi paham sebenarnya kita selalu melekat satu sama lain (utuh).  Bila kamu belum paham, tak usah dipaksakan untuk paham, karena kepahaman yang ini diperoleh dengan mengalami sendiri.

Allah itu Maha Sayang, tak rela bila kita menderita.  Itulah mengapa mencintai bayangan itu salah, karena kita jadi terkurung dalam cinta yang penuh penderitaan.  Sedangkan mencintai Allah itu adalah cinta yang membebaskan.  Selain membebaskanmu dari penderitaan, juga membebaskan pikiranmu dari jeratan persepsi yang sempit.  Rasanya indah sekali. 

Kurasa kamu harus mencobanya. 

Btw, kuucap selamat merayakan Iedul Fitri bagi yang merayakannya ya. Aku merayakan hari ini, bagaimana denganmu? 

Salam untuk hatimu yang manis. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar