Sabtu, 30 Mei 2026
Menasehati tanpa Menasehati
Jumat, 22 Mei 2026
Memaknai Thawaf
Bagaimana kamu memaknai thawaf?
Itu adalah gambaran perjalanan batin manusia menuju Tuhannya. Seperti pusaran elektron proton dan inti atom. Seperti pusaran alam semesta, tata surya, galaksi, dan entah apa lagi namanya.
Inti diri manusia itu dipenuhi sifat-sifat yang baik. Semakin jauh dari inti semakin kacau. Kesedihan, kemarahan, galau, itu karena jauh dari inti. Sedangkan kejahatan terjadi karena terlepas dari inti, walau tak pernah terlepas sama sekali, seperti layang layang putus, tak punya arah tujuan, tapi tetap terhubung dengan grafitasi.
Bila hidupmu terasa kacau, obatnya cuma kembali ke inti. Caranya diam dan masuk ke dalam dirimu. Ini tidak mudah bila kamu terbiasa jauh, maka kamu harus meringankan diri dengan menyerah pada grafitasi inti.
Banyak pikiran dan kekhawatiran itu beban, memberatkan perjalananmu ke inti. Lepaskan semua, maka perjalananmu akan lebih ringan, sampai kamu merasa bukan kamu yang melakukan perjalanan, melainkan grafitasi inti yang menarikmu ke dalam. Bila begini semuanya akan mudah.
Nikmatilah perjalananmu dan pertemuanmu dengan inti, di dalam inti dirimu itulah kesejatian, orang-orang menyebutnya Tuhan, Allah, Sang Hyang Widi Wasa, Tao, Teos, Ar Rahman, ... terserah kamu menyebutnya, Dia punya nama yang indah-indah.
Bagaimana kamu memaknai mabrur haji?
Mabrur adalah kondisi batinmu saat bertemu inti, pertemuanmu dengan Allah. Haji hakekatnya adalah perjalanan ke dalam diri untuk menemui inti.
Kamu boleh ke Mekah untuk berhaji, tidak ke Mekah juga boleh, karena yang wajib adalah menempuh perjalanan ke dalam. Mekah hanya simbol, jangan sampai kamu malah menuhankan simbol.
Yang penting adalah mabrur-nya, menemukan inti dirimu. Ingatlah bila Allah lebih dekat dari urat lehermu. Bertemu Allah, itulah yang penting, dan Dia tidak berada di Mekah sana, di mana pun di bumiNya, kamu bisa menemuiNya.
Minggu, 17 Mei 2026
Apa yang Membuatmu Resah?
Apa yang kamu resahkan saat ini?
Apa yang sering membuatmu gelisah?
Jawab di hati saja ya.
Tahukah kamu, apa yang membuatmu resah dan gelisah itu menunjukkan prioritas hidupmu.
Dan aku bisiki pelan-pelan ya, "Bisa jadi itulah sembahanmu selain Allah. "
Ini hal yang halus sekali.
Keresahan atau kegelisahan itu menunjukkan hati kita masih berpaling dari Allah, ada penolakan terkait sebuah keadaan atau seseorang yang membuatmu resah.
Selain itu, ada ketidakpercayaan di hatimu bahwa Allahlah yang akan membuat semuanya membaik. Imanmu lagi turun, Sayang.
Akan tetapi kamu sudah menemukan hal yang meresahkan hatimu, itu satu langkah maju untuk menyelesaikannya, karena kamu sudah mengenali biang keroknya. Setelah menyadari hal itu, segera kembalilah kepada Allah, sadari bila hal besar atau kecil sudah tertulis, kembalikan hatimu untuk percaya pada kasih sayangNya. Bila ini masih sulit, mohon pertolonganNya untuk membuat keimananmu kuat lagi, tak berpaling lagi dari Dia dan agar kasih sayangNya menyentuh hatimu.
Galau dan resah bisa jadi disebabkan oleh hawa nafsu yang menyelinap dan mempermainkanmu. Disadari dan kembali kepada Allah, Allahlah yang menggenggam hatimu dan mengembalikan hatimu pada kedamaian. Jangan merasa berusaha, karena bisa kecele.
Cara Melepas Cinta Pada Makhluk
Bagaimana mencintai pasangan yang sah dan mencintai anak-anak kita sendiri menjadi salah? Memang di mata syariah itu tidak salah, yang salah ya mencintai suami / istri orang lain dan malah tidak mencintai anak-anak kita sendiri, itu baru salah.
Kadang belajar spiritual itu membagongkan juga, tapi coba renungkan.
Tujuan orang menempuh perjalanan spiritual itu 'kan menyaksikan Allah (bersyahadat) lalu menyatu dengan Allah (wushul, manunggaling kawula-Gusti). Nah, kecintaan kita pada segala sesuatu selain Allah itu menghijab (menutup) antara kita dengan Allah. Begitu deh.
Intinya cinta kita pada makhluk jangan melebihi cinta kita pada Allah. Kalau bahasa Innuri sih boleh cinta tapi jangan melekat, jangan lengket kayak prangko, ntar kalau dipisah jadi sobek alias terluka. Dari sini sudah mulai paham betapa bahayanya mencintai makhluk itu, sampai muncul istilah 'selingkuh dari Allah', istilahnya Gus Mukhlason Rasyid. Padahal itulah cara Allah melindungi kita dari terluka hati yang amat dalam.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya biar nggak melekat pada cinta makhluk? Prakteknya bagaimana?
Caranya ya dipasrahkan Allah saja semua perasaan cinta itu. Innuri bilang,"Allah, aku hanya ingin mencintaiMu saja, jadi tolong bantu aku memperbaiki hatiku ini." Hati musti punya keinginan yang kuat untuk melepas semua cinta pada makhluk untuk memilih Allah saja. Lakukan ini dengan sengaja, sebuah pilihan yang diputuskan dengan yakin dan penuh kesadaran, memilih Allah di atas makhlukNya.
Terkadang aku pakai cara ngeles cantik, aku bilang,"Allah, ini bukan perasaanku loh ya, ini adalah perasaanMu, Allah."
Nah, ketika perasaan cinta yang melekat pada makhluk itu terlepas, perasaan jadi indah sekalil, digantikan rasa cinta yang lebih tinggi, compassion mungkin ya namanya. Melekatnya hati sudah pada Allah saja.
Aku sendiri masih on of di rasa ini, tapi hatiku sudah tidak menginginkan melekat pada makhluk lagi, hatiku sudah mantab memilih Allah. Kemantaban hati inilah yang aku syukuri karena tidak mudah sampai di titik ini, datangnya pelan-pelan sekali, perlu waktu lama Allah memproses diriku, saking lengketnya hatiku ini pada orang-orang yang aku cintai.
Selama puluhan tahun hidup bersama dalam sebuah happy married, bayangkan betapa susahnya untuk tidak melekat pada makhluk yang berjudul suami itu. Terkadang aku pilih sendirian beberapa hari, pisah rumah dengan suami, tapi ternyata bukan begitu caranya. Fisik yang berjauhan belum tentu bisa menghapus kemelekatan, karena melekat itu letaknya di hati.
Saat perasaan lagi of dan kumat kerinduan dan kecintaanku pada pesona makhluk, aku mengembalikan hatiku pada penglihatan tembus, aku harus melihat Allah dominan sampai melihat dia adalah Allah. Lalu hatiku spontan berucap,"Oh, ternyata yang aku cintai adalah Allah."
Di tingkat yang lebih tinggi lagi, ketika kemelekatan sudah terlepas, aku bisa merasakan bila sebenarnya aku tidak pernah terpisah dengan orang-orang yang aku cintai. Bagaimana menjelaskan perasaan ini ya? Susah dijelaskan, tapi kayak perasaan Tuhan deh, diri sudah kecemplung di alam ilahiyah yang luasnya tak terperi itu, indah sekali. Ya indahnya tak bisa dikatakan. Kalau istilahnya Gus Son, itu alam akhirat, aku lebih suka menyebut alam ilahiyah.
Pokoknya kalian jangan mati dulu deh sebelum merasakan kecemplung alam ilahiyah ini.
Sabtu, 16 Mei 2026
Menjadi Dia
Untuk ke sekian kakinya aku merasa menjadi 'dia' , yang aku maksudkan dengan 'dia' disini adalah merasakan menjadi orang lain. Bukan perasaan empati seperti dalam pengertian orang-orang, tapi perasaan menyatu, seperti pengalaman Dr Lynda Creamer yang pernah aku ceritakan di seri Semesta Paralel.
Ada kesadaran kolektif yang menjadikan manusia bisa merasakan satu sama lain, ini seperti digambarkan Al Quran di Surat Al Hijr 47 dan Al A'raf 43 , " ... Dan kami lenyapkan rasa dendam yang ada di dalam dada mereka ..."
Sulit dijelaskan dengan kata-kata perasaan ini, sudah rasa di awang-awang dah, ringan, enak dan indah.
Baiklah aku coba menjelaskannya. Bayangkan kalian punya tetangga atau teman yang njengkelin banget, berkali-kali membuatmu kesal dan marah. Saking kesalnya kamu pada si orang ini, dengar namanya disebut saja sudah bikin kamu mual-mual. Lalu kamu memasrahkan pada Allah perasaanmu itu, agar Allah membersihkannya. Beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja kamu bisa merasakan menjadi dia, kamu ikut senang ketika dia senang, kamu ikut sedih ketika dia sedih, dan kamu tahu mengapa dia bersikap njengkelin yang membuat kamu memaklumi sikapnya.
Perasaan kamu di awang-awang, maksudku walaupun merasa menjadi dia, emosi kamu tetap stabil, kamu tidak terseret, tapi kamu memahami. Memahami kesedihannya tanpa terseret perasaan kelabu, perasaanmu tetap ringan yang lebih ringan daripada udara.
Aku pakai istilahku sendiri untuk pengalaman semacam ini, yaitu "mengalami Al Quran".
Tetaplah berhati baik dan bersandarlah selalu pada Allah, karena semua yang dijanjikanNya di Al Quran, keindahannya jauh melampaui yang bisa kamu bayangkan.
Jumat, 15 Mei 2026
Ego Orang Tua
Tulisan ini menjawab kasus pembaca Innuri blog, tentang anak yang sering ribut dengan ibunya sendiri.
Jadi begini, Sahabat.
Pesan Allah itu lebih banyak disampaikan lewat orang-orang terdekat, anak, pasangan, family, karyawan, pembantu, dsb. Jadi jangan fokus di 'peristiwa'nya, tapi cari 'pesan yang tersembunyi'.
Misal, anak marah karena ibunya bercerita soal anak orang lain yang menurutnya baik, agar anak kita sendiri mencontoh. Tak perlu tersinggung karena anak marah, cari akar permasalahannya, coba selami hati dan pikiran anak. Anak marah karena dia tidak mau dibandingkan dengan anak orang lain, dia ingin dihargai dan diterima apa adanya. Itulah sebabnya. Coba kalian sendiri dibanding-bandingkan dengan orang lain, misalnya anak membandingkan kalian dengan orang tua temannya, bagaimana perasaan kalian?
Selanjutnya, pesan Allah apa? Harus menyelam ke dalam diri sendiri, perasaan apa yang terbangkitkan saat anak protes? Perasaan negatif yang muncul itulah yang harus diselesaikan. Misal yang muncul perasaan nelangsa kok anakku begini, nggak mau tahu sama maksud orang tua. Itu perasaan tidak terima, tidak menerima pemberian Allah, seolah-olah bilang 'mauku begini, mau Allah kok begitu sih?'. Hati ibu yang protes terrefleksi ke anak yang protes.
Penyelesaiannya bagaimana? Ya menerima kehendak Allah dengan rasa syukur. Kalau mau menerima kelebihan anak, ya musti menerima kekurangannya, begitu loh. Sebagai ibu juga apakah sesempurna itu? Harus disadari juga sebagai orang tua juga punya kekurangan.
Sumber dari segala masalah itu adalah EGO. Ego sebagai orang tua yang merasa lebih tahu dari anak, sudah merasa melakukan yang terbaik untuk anak, sudah merasa mencurahkan segala kasih sayang, perhatian dan segalanya untuk anak. Itu penyakit orang tua kebanyakan, Innuri juga nunjuk diri sendiri ini mah.
Jadi begini, jadi orang tua itu jangan merasa super deh, kita ini cuma lahir lebih dulu dari anak. Lahir lebih dulu belum tentu lebih bijak, belum tentu tahu lebih banyak, belum tentu lebih pintar. Anak-anak terlahir di jaman yang berbeda dengan jaman orang tuanya, jadi kadang orang tualah yang belajar dari anak. Kita dilahirkan ke dunia ini untuk saling belajar satu sama lain kok. Jadikanlah anak sebagai 'teman seperjalanan spiritual', posisi kita dan anak-anak kita di hadapan Allah adalah setara.
Rendahkan hati ya, Ibu dan Bapak yang sudah jadi orang tua. Tidak ada kata terlambat untuk berubah walau anak kita sudah jenggotan.
Salam manis.
Kamis, 14 Mei 2026
Sederhana
Ada status yang menarik dari sahabat Fb-ku yang namanya Kang Awii. begini tulisnya:
Pola hidup sederhana itu menjaga eksistensi peradaban.. Nilai hidup sederhana menyebabkan orang untuk selalu bijak menggunakan sumber daya,.mengambil secukupnya dan menjaga kenyamanan lingkungan.
Sebaliknya jika terbiasa hidup mewah dan nyaman menyebabkan kita kehilangan "kesanggupan menderita" , semangat berkorban untuk kenyamanan umum berkurang, sebaliknya akan menjadi cengeng dan mudah mengeluh.
Mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan di keluarga akan semakin menguatkan daya tahan keluarga dalam menghadapi problem. Nilai ini sangat relevan dengan slow living. Mindset,sederhana tidak identik dengan kekurangan, .ini pilihan gaya hidup yang rasional.
Inspiratif sekali bukan? Perlu waktu untuk mencerna kalimat demi kalimat di atas.
Aku sendiri suka kesederhanaan karena sudah tertarik dengan tasawuf dan sufisme sejak masih SMP, masih imut sekali. Kuingat cita-citaku yang sederhana, hanya ingin menjadi ibu rumah tangga dan bahagia disamping suami, di saat anak seusiaku kepingin jadi guru, dokter, insinyur.
Aku amat terinspirasi dari kehidupan sederhana para sufi yang menjauhkan diri dari kemewahan agar hati tidak lalai dari Allah, karena dunia ini hanya tempat persinggahan sementara.
Hidup sederhana juga tidak membangkitkan rasa iri orang lain dan tidak membangkitkan kejahatan. Walau masih ada saja orang yang iri dan rumah sederhanaku masih kemasukan maling beberapa kali sebagai teguran dari Allah karena hatiku yang belum bersih sepenuhnya.
Ya, hidup sederhana kelihatannya bikin orang gak gampang sombong dan membanggakan diri, tapi tunggu dulu. Orang sederhana pun bisa terjebak kesombongan, lah apa yang disombongkan? Ya kesederhanaannya itu!
Ketika hidup sederhana tapi merasa itu karena usahanya untuk sederhana, itu pun kesombongan, apalagi karena merasa sudah peduli untuk tidak membuat rasa iri orang lain. Apalagi kesederhanaan membuatnya memandang rendah kemewahan. Musti kembali ke lahaulawala quwata illabillah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah. Mau hidup sederhana atau mewah, yang penting adalah 'setelan' di hati yang sadar bila semua itu adalah perbuatan Allah kepadanya.
Dengan setelan hati yang benar, kita tak akan merendahkan siapa pun dan tidak punya alasan untuk menyombongkan diri.
Kesederhanaan bukanlah prestasi, juga bukan pilihan hidup, karena aslinya adalah pilihan Allah untuk kehidupanmu.
Memahabesarkan Allah
Allah Maha Besar, coba rasakan ini dengan rasa. Merasakan kebesaran Allah, lalu perlahan-lahan kamu sadari bila selama ini ternyata kamu telah memahabesarkan dirimu sendiri dan persoalan hidupmu sendiri.
Dalam 24 jam, berapa persen kita gunakan untuk memikirkan persoalan diri sendiri, menunjukkan secara jujur arah hati kita, ternyata bukan pada Allah Yang Maha Besar.
Ketika menyadari Allah Maha Besar, menjadi kecillah diri dan persoalan kita ini, terbungkus dalam kemahabesaranNya.
Selasa, 12 Mei 2026
Terimakasih, Sahabat Innuri
"Hari gini nulis di blog?" tanyanya heran. Dia masih muda, generasi millennial yang butuh nasehat, lalu kusarankan membuka blogku, dan begitulah reaksinya. Aku langsung merasa jadi 'manusia purba' ... haha.
Aku jadi penasaran, memangnya blogku ada yang baca? Kalau ada, berapa biji sih? Lalu iseng kubuka statistik di blog, kagetlah aku. Tadinya kukira pengunjung Innuri blog ini paling banter puluhan, mengingat bila aku share link ke Fb, yang nge-like cuma beberapa biji saja, itu pun sudah membuatku senang.
Untuk itu aku berterimakasih kepada sahabat Innuri yang rajin berkunjung ke blog ini. Tempat aku berbagi cerita yang bisa dibawa pulang ke hatimu untuk lebih dekat dengan Allah.
Tanpa terasa sudah 16 tahun aku menulis di blog, selama itu aku pernah rajin sekali menulis hampir setiap hari, pernah juga mogok menulis sampai berbulan-bulan. Saat tidak menulis lama, sampai ada yang mengkhawatirkan keadaanku. Makasiiih, kalian sudah seperti keluarga bagiku.
Pernah juga tulisanku diserbu komentar pedas dan ada saja yang membelaku, sampai sekarang pun masih ada. Semula nangis-nangis dong mendapat pengalaman seperti itu, sekarang sudah 'B saja' itu istilah Alni anak cantikku, maksudnya biasa saja. Aku memaafkan mereka semua, karena aslinya mereka tidak paham dan mereka perlu tempat mengekspresikan isi hatinya.
Pernah juga aku diijinkan Allah mendampingi kalian yang sedang bermasalah atau yang sedang sakit, lalu tiba-tiba aku berhenti total karenaNya juga, tiba-tiba nggak bisa transfer energi, dicabut 'kesaktian'ku sama Allah seperti Gatotkaca ilang gapite ... haha. Begitu penuh kejutan hidupku ini, untuk menyadarkan aku bila manusia itu cuma wayang ditangan Sang Maha Dalang. Lalu beberapa waktu lalu, kembali bisa mendampingi kalian lagi.
Karena aku menulis runtut, tulisanku juga mengikuti perjalanan spiritualku. Semakin ke sini, semakin halus dan semakin susah dipahami, terutama yang aku tulis di tahun 2025 dan 2026. Karena itu aku minta maaf bila agak sulit dimengerti dan malah bikin bingung. Ada beberapa hal yang hanya bisa dipahami setelah mengalami sendiri. InsyaAllah nanti kalian akan mengerti bila sudah mengalami.
Yang mengikuti Innuri blog dari lama, pasti sudah tahu kalau dari blog ini sudah lahir dua buku. Buku pertamaku terbit di tahun 2018, Menciptakan Keajaiban Finansial, dulu didistribusikan Gramedia. Ada sisa yang tidak terjual di rumah. hanya belasan biji saja, kujadikan giveaway buat kalian, tapi spesial buat yang amat membutuhkan saja ya, bila tertarik silakan kontak ke Fb messenger atau IG Innuri Sulamono. Gratis tentu saja.
Kalau buku kedua yang Energi Murni Alam Semesta, bisa diunduh gratis e-book Energi Murni Alam Semesta
Salam kasih.
Senin, 11 Mei 2026
Penyakit Bangga
Pernah merasa bangga pada diri sendiri? Merasa sudah bisa melewati berbagai hal berat, merasa pencapaian-pencapaian dalam hidup sudah begitu luar biasa? Atau bangga pada orang-orang yang kamu sayangi?
Ada sesuatu yang tersembunyi dari bangga, yaitu keakuan, merasa aku yang melakukan. Padahal tanpa Allah, apa sih yang bisa kamu dan aku lakukan?
Rasa bangga itu dekat dengan kesombongan dan berpotensi merendahkan orang lain.
Kadang bangga juga dibungkus kata-kata yang religius, "Alhamdulillah, telah sampai di titik ini, semua berkat perjuangan yang tak kenal lelah, juga doa yang dilantunkan setiap malam." Adakah yang janggal dari kata-kata itu? Bagi orang awam mungkin tidak, tapi bagi orang spiritual, pasti tahu apa yang tersembunyi di balik kalimat itu.
Merasa telah berjuang / berusaha dan merasa telah berdoa hingga doa-doa dikabulkan. Allah letaknya dimana? Di pengabul doa dan keinginan? Allah bukan lagi Tuhan yang berperan di dalam seluruh kehidupan manusia. Manusia dengan keinginannya yang dominan, Tuhan hanya sebagai 'mesin' pengabul keinginan. Manusia merasa sebagai tokoh utama, padahal aslinya dia hanya wayang yang digerakkan sang dalang.
Bangga itu penyakit serius bagi seorang yang ingin selamat kehidupan akhiratnya. Segeralah sadari bila kita manusia ini tak punya daya dan kekuatan selain dari Allah.
Terkadang rasa bangga itu menyusup begitu halusnya, dalam bentuk merasa diri lebih baik dari orang lain. Ingat iblis terjerumus dalam kesesatan karena merasa lebih baik dari Adam.
Cara melenyapkan rasa bangga yang paling efektif adalah dengan wushul, meniadakan diri, yang ada hanya Allah. Lahaulawala quwataillabillah.
Sabtu, 09 Mei 2026
Melihat Allah
Bila kamu sudah bisa merasakan semua sama, dualitas panas-dingin, gelap-terang, sehat-sakit, lapang-sempit, dll, kamu bisa merasakan semua itu sama, maka kamu sudah sampai di kesejatian. Itu berarti pandangan batinmu sudah melampaui fisik, sudah di ketinggian. Ibarat kupu-kupu yang sudah meninggalkan kepompongnya.
Semua yang kamu alami dalam hidup, rasanya sama, rasanya tetap indah, tetap memukau, karena semua dari Allah. Karena kamu sudah bisa melihat Allah dominan, bukan Allah dibalik segala yang tampak, tapi Alllah yang tampak, sedangkan yang lainnya hanya bayangan.
Pada awalnya memang perlu melatih untuk melihat tembus, dibalik makhluk ada Allah yang menggerakkan. Awalnya yang kamu lihat adalah makhluk, makhluk yang tampil duluan, menyusul kemudian pikiranmu memproses dibalik makhluk ada Allah. Latihlah penglihatan tembus ini terus menerus sepanjang hari sepanjang hidupmu, tanpa menargetkan apa pun.
Lalu lama kelamaan makhluknya tak tampak lagi, menjadi Allah saja yang kelihatan, makhluknya jadi terlihat hanya sebagai bayangan. Allah yang tampak duluan.
Saat inilah kamu tidak mengenal kesedihan. Perasaan indahmu sudah melampaui kesenangan dan penderitaan, itulah kebahagiaan sejati.
Proses ini berlangsung dengan lembut, perubahan dari melihat "dibalik makhluk ada Allah", menjadi "Allah saja yang terlihat". Proses itu murni karunia, pemberian Allah, hadir begitu saja karena dihadirkan Allah.
Terkadang untuk sampai pada "melihat Allah duluan" ini, terlebih dulu kamu mengalami guncangan dalam hidupmu mengenai orang-orang yang kamu sayangi atau apa pun yang kamu cintai. Bersyukurlah dengan ujian dariNya. Itu semata-mata untuk membuatmu paham.
Yang terpenting bagimu sekarang adalah sengaja melatih hati, setiap hari, dengan sadar kamu memutuskan "hari ini aku sengaja melihat semuanya Allah". Jangan lupa hatimu harus selalu menyadari bahwa Allahlah yang menggerakkan hatimu. Jangan merasa berusaha, Allahlah yang menggerakkan keseluruhan dirimu.
Hingga pada ujungnya kamu akan melihat semuanya Kasih Sayang. Kamu akan merasakan keharuan yang luar biasa.
Jumat, 08 Mei 2026
Menghentikan Perang
Seseorang bertanya padaku, "Bagaimana menghentikan perang? "
Jawablah pertanyaanku. Apakah kamu punya musuh? Apakah kamu punya kebencian?
Apakah kamu punya musuh?
Bila jawabanmu tidak, kamu keren. Ya, kamu tidak punya musuh, tapi orang-orang itu memusuhimu dengan sebab yang tidak jelas.
Bila jawabanmu ya, siapa musuhmu?
Tahukah bila musuh terbesarmu adalah hawa nafsumu sendiri yang sudah seperti kuda liar. Untuk menundukkannya perlu kesadaran dan memasrahkannya pada Tuhan.
Apakah kamu punya orang atau sesuatu yang kamu benci?
Bila jawabanmu tidak, kamu keren. Hati yang kotorlah yang bisa membenci. Kalau hatimu bersih, kamu tak akan sanggup membenci siapapun dan apapun.
Ya, aku benci kebohongan, kemunafikan, penjajahan, kekerasan, kesewenang-wenangan, kesombongan, dll. Bagus sih membenci sesuatu yang negatif, tapi apakah dengan membenci membuatnya berubah? Atau kebencian itu membuang energi saja? Melelahkan bagi dirimu sendiri sementara dunia tidak berubah.
Terima saja segalanya sebagai bagian dari tarian semesta. Segalanya dari Tuhan, sudah tertulis. Kamu hanya perlu menggoreskan warna terindah bagi jiwamu. Mengurus sesuatu di dalam dirimu itu lebih penting.
Jadi bagaimana menghentikan perang?
Sayangku, peperangan yang terjadi di muka bumi ini hanyalah refleksi dari peperangan di dalam diri seluruh penduduknya.
Untuk menghentikan perang di luar, ya hentikan peperangan di dalam dirimu. Ketika hawa nafsu sudah tunduk pada hati nurani, kamu akan merasakan damai, . Kedamaian hatimu akan memancar membentuk kenyataan.
Kedamaian hati itulah sumbangsih terbesarmu untuk menghentikan perang.
Berarti perang tidak bisa dihentikan dong, karena tidak semua orang berhati damai? Tak perlu semua orang katanya, cukup tiga setengah persen orang berhati damai bisa memengaruhi kedamaian secara global. Itu hasil penelitian Erica Chenoweth Dari Harvard Kennedy School. Mungkin penelitian itu tidak merujuk pada kedamaian hati yang aku maksudkan, tapi tetap saja kedamaian hati itu memengaruhi dunia secara quantum.
Tak perlu memikirkan perang di luar sana. Pikirkan saja peperangan di dalam dirimu sendiri, menangkan hati nuranimu yang penuh kasih.
Juga tak perlu membenci perang, karena itu bagian dari skenario Allah untuk memberi pelajaran bagi umat manusia.
Kunci Surga
Semakin ke sini semakin banyak yang paham bila akhirat, surga dan neraka itu sudah bisa diakses sejak di dunia ini.
Akan tetapi orang mengartikannya, kalau hatimu damai, senang dan bahagia, itulah surga. Kalau hatimu sumpek, panas, terbakar marah atau cemburu, itulah neraka. Pemahaman seperti ini tidak bisa disalahkan, wong belum ke akhirat beneran.
Lah surga dan neraka versi akhirat bagaimana? Ya tidak bisa dideskripsikan. Nabi Muhammad membuat perumpamaan, celupkan jarimu ke laut, maka air yang menempel di jarimu itulah dunia, sedangkan air yang terbentang bersuka ria di lautan itulah akhirat. Jauh sekali 'kan bedanya?
Kebanyakan orang juga menganggap surga itu di atas sana, di tempat yang tinggi sekali. Padahal surga itu dekat, bersentuhan dengan dunia kita sekarang, hanya beda "frekwensi", maka kita tak bisa seenaknya mengakses masuk ke sana.
Alam dunia yang kita huni ini baru kulit terluarnya, yang gampang goyah, bukan kehidupan yang sebenarnya. Alam akhirat itu inti, itulah kehidupan yang sebenarnya.
Selama ini kita pahami bila inti itu berada di tengah dan ukurannya lebih kecil. Nah di dunia quantum, berlaku kebalikannya. Inti itu lebih gede (ibarat lautan tadi loh) yang menyelimuti ilusi ( ibarat air yang tertinggal di jemari).
Jadi sebenarnya akhirat itu dekat, kalau ingin mengaksesnya ya musti pegang kuncinya. Kuncinya apa? Laillahaillallah, tiada Tuhan selain Allah dalam arti Tauhid yang semurni-murninya.
Saat kamu meniadakan semua, termasuk meniadakan diri sendiri, berhenti melekat pada dunia dan seisinya, berhenti menginginkan makhluk termasuk surgaNya, hanya Allah yang kamu lihat. Sudah, kamu tak terdefinisikan.
Pengalaman "dicemplungin" ke ketidakberhinggaan itu memang luar biasa tapi tak bisa diulang di memori, pokoknya ya luar biasa thok wes. Setiap orang yang pernah ke sono pasti kepingin ke sono lagi.
Sayangnya, ketika menginginkan masuk ke sono lagi, hati malah kacau. Inilah pelajaran berharga yang kutangkap. Ketika aku menginginkan surga, aku malah kacau . Jadi inginkan Allah saja.
Jangan beribadah untuk surga, dijamin kamu kecele. Surga itu makhluk. Persembahkan hidup dan mati untuk Allah saja ya.
Kamis, 07 Mei 2026
Makin Tua Makin Banyak Masalah?
"Kupikir semakin tua, masalah akan semakin sedikit, ternyata semakin banyak, " katanya. Aku menatapnya heran, mungkin karena aku merasa tidak seperti itu.
"Itu karena Allah ingin kita lebih bijak, " kataku.
Adakah yang merasa seperti temanku itu, makin tua makin banyak masalah? Yuk kita nikmati teh dan ubi panggangnya.
Kalau kata penganut stoic, masalah itu cuma dua, yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan. Jangan urusi sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.
Reaksi kita terhadap masalah itulah yang bisa kita kendalikan. Jadi ya fokus ke dalam. Tenang, itu hanyalah peristiwa. Manusia tidak disiksa oleh peristiwa, yang menyiksa manusia adalah pikirannya tentang peristiwa itu.
Sekarang pindah ke Hawai lewat ho'oponopono, kalau ada masalah,ucap terimakasih (bersyukur), karena itu membuka kesempatan untuk membersihkan diri lewat memohon ampun pada Tuhan sampai keluar rasa cintamu kepada Tuhan.
I'm sorry, please forgive me, thank You and I love You.
Kalau kata sufi, dibalik semua itu Allah yang menggerakkan, pasti ada hikmah dan pelajarannya.
Kalau kata teori semesta paralel, block universe, kehidupan ini sudah ada kisahnya dari awal sampai akhir, cuma kita berada di scene yang mana dulu. Semuanya sudah ter skenario dengan rapi. Seperti keyakinan orang Islam bila semua sudah tertulis di lauhulmahfuz. Jadi ya dijalani saja dengan bahagia.
Kalau yang tertulis di Al quran, kehidupan di dunia ini bukan kehidupan yang sebenarnya, di sini hanyalah permainan dan senda gurau. Jadi jangan terlalu dipikirin, yang dipikirin itu kehidupan yang sebenarnya atau akhirat.
Kalau kata Innuri. Masalah itu bagian dari proses pendewasaan spiritual, berarti datangnya masalah ya dirayakan saja.
Kalian pilih cara yang mana dalam menghadapi masalah?
Selasa, 05 Mei 2026
Memaknai Luka
Bagaimana kamu memaknai luka?
Kemarin aku nangis beneran cuma gara-gara telunjuk teriris pisau masak. Perih banget dan darahnya ngucur. Suami sampai buru-buru keluar kamar mandi dengar aku nangis. Langsung dihansaplast agak ketat agar darah brenti ngucur. Aman. Alhamdulilah.
Siangnya aku lihat bayangan darah di hansaplast, aku mau ganti saja, pikirku. Eh begitu dilepas, darah ngucur lagi, sambil nangis masang hansaplast sendiri, sampai dua kali ganti baru bener. Aman, tapi nangis lagi karena ingat Allah, karena ku tahu sebenarnya peristiwa ini ada pelajarannya.
Kepedihan luka mengajarkan untuk berhati-hati, untuk melindungi dari luka yang lebih parah. Agar manusia paham bila perlakuanNya adalah karena kasih sayang.
Manusia tak perlu memikirkan kerumitan proses biokimia penyembuhan luka di dalam tubuhnya sendiri, luka itu pun sembuh, dan itu berlangsung terus menerus.
Bahkan luka hati pun Allah menyiapkan pencegahannya, yaitu jangan mencintai selainNya. Jangan mencintai dunia, itu hanya permainan dan senda gurau, itu bukan kehidupan yang sebenarnya. Karena segala sesuatu selain Allah berpotensi menyakiti.
Kehilangan harta, tahta dan pasangan, itu amat menyakitkan. Tapi kamu tak akan pernah kehilangan Allah.
Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, yang manusia pikir terjadi setelah kematian. Tidak. Kamu akan merasakannya di dunia ini ketika cintamu pada dunia dan seisinya runtuh.
Jangan melekat pada sesuatu selain Tuhan. Justru ketika kamu tidak melekat, kamu akan merasakan tidak pernah terpisah dengan apa pun dan siapa pun yang kamu cintai.

