Kamis, 04 Juni 2026

Salat Tanpa Kata ( 4 )

Adakah yang mempertanyakan meski hanya dalam hati, mengapa di dalam Al Quran tidak disebutkan tata cara salat secara rinci, gerakannya bagaimana, bacaannya juga apa saja?

Menurut Innuri nih, karena yang menurunkan Al Quran adalah Tuhan semesta alam dan Al Quran juga diturunkan untuk seluruh umat manusia.  Jadi yang menurunkan Al Quran bukan Tuhannya umat Islam saja loh ya dan Al Quran adalah kitab suci umat manusia, bukan hanya kitab sucinya umat Islam.

Karena Al Quran diturunkan untuk semuanya, maka tata cara salat pun tidak diuraikan secara rinci, mengingat beraneka ragamnya tata cara salat yang dipraktekkan manusia di muka bumi ini.  Dengan kata lain, tata cara salat itu terserah keyakinanmu, yang penting adalah jangan keluar dari hakekatnya salat, yaitu untuk bertemu Tuhan dan membentuk jiwa yang tenang.  

Faktanya adalah banyak orang melakukan salat yang sesuai syariat, tetapi tidak mendapatkan apa pun, hanya olah raga jungkat-jungkit, saat salat pikirannya kemana-mana, sedikit sekali pikirannya ke Tuhan, alih-alih bertemu Tuhan, di luar salat jiwanya juga masih gelisah. Untuk khusyu' satu detik saja susahnya minta ampun. Jangan tersinggung, aku sedang membicarakan diriku sendiri.  Kalau tersinggung, bagus juga.

Jadi banyak orang melakukan salat secara fisik saja, yang akibatnya, salat tidak mencegah dari perbuatan keji dan munkar.  Rajin salat tapi masih galau dan berkeluh kesah tentang berbagai hal.  Salat tapi maling uang rakyat, itu contoh lainnya.

Inilah beberapa catatan tentang salat di dalam Al Quran yang penting untuk diketahui agar tidak melenceng dari hakekat salat:

- jangan lalai dari salat , itu orang yang mendustakan agama (Surat Al Ma'un)

- salat untuk mengingat Allah (Surat Thaha 14)

- khusyu' dalam salat (Al Mukminun 2)

- salat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar (Al Ankabut 45)

- sabar dan salat adalah cara mohon pertolongan Allah, salat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Al Baqarah 45)

- orang yang salat tidak suka berkeluh kesah dan kikir (Al Maarij 19-23)

Poin-poin itulah yang mestinya dipertanyakan kepada diri sendiri.  Apakah masih merasa berat menjalankan salat? Apakah sudah mengingat Allah sepenuhnya saat salat? Apakah masih kikir dan suka berkeluh kesah? Apakah bisa khusyu' saat salat? 

Apakah masih menganggap salat hanya sebagai kewajiban dan jauh di bawah sadar merasa itu sebagai beban? 

Carilah cara agar bisa menjadikan salat sebagai "pertemuan yang menyenangkan" dengan Tuhan.  Kalian boleh memakai cara apa saja.  Kalau kalian memakai cara syariat bisa sekaligus hakekatnya, itu bagus.  Kalau gak bisa boleh nyontek Innuri.  Dan itulah caraku, sudah aku tulis 'kan? Kalau takut melanggar syariat, ya kerjakan diluar salat wajib.

Dengan salat tanpa kata, hati dan pikiran menjadi lebih terkoneksi dengan Tuhan.  Ada yang bilang caraku ini tidak sah walau salatnya salat sunah, dan aku jawab ra patheken, yang penting aku bertemu Tuhan dan bisa jatuh cinta padaNya dan selalu rindu berdiri, ruku' dan sujud tanpa merasa berat sama sekali.

Ingat masa remaja pas dikunjungi pacar, aduh senengnya minta ampun sampai kepingin meloncat menemui dia.  Seperti itulah gambarannya.  Suka cita saat waktu salat datang karena itu artinya ketemu dengan Sang Kekasih.

Salat dengan pikiran yang terikat pada aturan sampai takut tidak sah, itu malah menghijab hati dari Allah. Itu pengalaman Innuri, kalau pengalaman kalian beda ya tak apa-apa.

 Aku tidak mau menyembah aturan, aturan salat yang dirumuskan ulama, yang di Indonesia saja terdapat berbagai tata cara salat, golongan satu merasa lebih benar daripada yang lain.

Mengapa tidak mencari persamaannya saja yang tertulis di Al Quran?  Bukankah ini lebih damai dan lebih dekat dengan Tuhan?

Hmm.... Itu memang sudah dikehendaki Allah kok, manusia dengan segala perbedaannya. Santai saja, bersyukurlah kalian yang sudah menemukan hakekat salat yang memperindah jiwa. 

Selasa, 02 Juni 2026

Salat Tanpa Kata (3) Menemukan Cinta

Seperti menemukan sumber mata air hikmah yang tidak habis-habisnya digali dan membuatku terpana, itulah yang kurasakan saat rajin melakukan salat tanpa kata. 

Ketika tangan terangkat pertanda menyerah pada Allahu Akbar, kamu sudah terjerat dalam kebesaranNya. Rasakan dan resapi kemahabesaranNya hingga kamu tak merasakan persoalan yang memberatkan kehidupanmu lagi. Semua itu terangkat dan kamu merasa ringan. 

Letakkan kedua tanganmu bersedekap di atas pusar.  Aku bilang di atas pusar karena pusar menyimpan rahasia yang akan mempertautkanmu dengan dua ibu, ibu kandungmu dan ibu alam semesta. 

Lakukan saja ini dengan penuh penghayatan akan makna bacaan Al Fatihah yang akan kamu baca di jiwamu. Biarkan makna bacaan al fatihah bergema di dalam jiwa ragamu. 

Lalu ketika jiwamu turut tunduk ruku' dan sujud, jiwamu menghormatiNya, menyerah dalam kasih sayangNya, lalu sujud mencium bumi,  

Kamu akan merasakan cinta, betapa Dia mengurungmu dalam jeratan cinta dari segenap penjuru.  Tidak ada titik yang kosong dari cinta kasihNya.

Maka kamu pun mencium bumi dengan sepenuh cinta. Cinta yang menyatu antaramu dan penciptamu, kamu kehilangan dirimu karena terlalu menempel padaNya. Kamu bagaikan sebuah molekul air yang terbuai dalam kasih sayang lautan. Kemana saja molekul airmu bergerak, kamu akan bertemu dengan Sang Maha Cinta. 

Cinta kasih adalah dasar penciptaan langit dan bumi. Menemukan kembali cinta kasih dalam ibadah tanpa kata adalah pulang kepada kebahagiaan yang asli, aslinya dirimu yang terbuat dari cinta kasih. 

Itulah hal terindah yang kebanyakan manusia lalai dari salatnya.

Mencapai apa yang aku lukiskan di atas itu perlu proses.  Yang penting selama melakukan salat jaga terus ikatan hati, pikiran dan jiwa selalu tertaut dengan Allah yang lebih dekat dari urat lehermu itu.  Merasakan kehadirannya sepanjang salat, lalu di luar salat pun kamu tetap terpaut dengan Allah, itulah makna dari 'tidak lalai dari salat'.

Jangan mengharap sesuatu selain Allah dari salatmu, misal demi masuk surga, karena surga pun makhluk.  Apalagi berharap hal-hal yang sifatnya duniawi.  Lurus untuk Allah saja, tidak usah tolah-toleh. 

( bersambung )

Senin, 01 Juni 2026

Salat Tanpa Kata (2) Raja di Kerajaan Batin

 Kamu akan mendapatkan hikmah dan pengalaman yang begitu berbeda saat melakukan salat tanpa kata, hingga kamu akan selalu rindu melakukannya.

Di antara hikmah yang aku alami adalah merasakan di dalam diriku ini ada sebuah kerajaan kecil tapi sebesar alam semesta.  Yang namanya kerajaan ya ada rajanya dan ada rakyatnya.  Persoalannya adalah siapa rajanya dan siapa rakyatnya?  Itu terjawab ketika kita salat tanpa kata.

Baiklah untuk memperjelas, di dalam dirimu itu ada apa saja sih?  Di bagian luar ada raga, sel-sel tubuh, anggota tubuh yang menggerakkanmu, ada panca indra.  Di bagian dalam ada pikiran dengan segenap 'pasukannya', ada gudang memori tempat menyimpan 'file' kejadian di masa lalu, ada perasaan, ada keinginan, ada hawa nafsu, dan ada Allah yang lebih dekat daripada urat lehermu.  Anggaplah semua itu sebagai penghuni atau penduduk di dalam kerajaan kecilmu.

Pertanyaannya adalah, siapa yang memimpin? Siapa raja di dalam dirimu?

Ketika kamu jawab, Allah pemimpinnya.  Eits, tunggu dulu!  Bila itu hanya ucapan di bibir saja, itu bukan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Salat tanpa kata adalah salah satu cara mengenali siapa pemimpinmu, siapa raja di kerajaan batinmu yang sebenarnya.

Bila selama salat, yang berputar-putar di dalam dirimu adalah pikiranmu yang melancong kesana kemari, berarti itulah rajanya.  Biasanya sih hidupmu masih terasa tegang dan banyak kecemasan.  Pikiran suka banget mengombang-ambingkan perasaan mencemaskan berbagai hal.  Pikiran pula yang menjadikan Allah di bawah 'perintah'nya, berupa doa-doa yang bersumber dari kehendak ego.  Doa yang ngotot sampai memaksa Allah mengabulkannya. 

Nah, salat tanpa kata itulah yang akan memproses batinmu dari kerajaan batin yang dipimpin oleh selain Allah menuju kepemimpinan Allah.  Pemahaman-pemahaman yang mendalam akan makna bacaan salat akan mengantarmu ke sana, dengan bimbingan Allah tentunya.

Perlu digarisbawahi sebelum melakukan salat tanpa kata, jaga hatimu dari 'merasa melakukan salat' menjadi ' Allahlah yang menggerakkan aku salat' .  

Kenali siapa raja di kerajaan batinmu dan rasakan pergantian kekuasaan dari selain Allah menjadi Allah saja. 

Dicoba ya. 

Semoga Allah selalu membimbingmu, Sahabat.

Salat Tanpa Kata (1)

 Untuk melatih hati agar semakin peka dalam memahamiNya dan semakin dekatnya diri dengan sifat-sifatNya, cobalah salat tanpa kata, maksudku bacaan salat diucapkan di hati, bukan di bibir.  Bila kalian masih belum berani meninggalkan tata cara syariat, lakukan salat wajib seperti biasa, tapi coba lakukan salat sunah dua rekaat tapi tanpa kata yang terucapkan di bibirmu.  Ucapkan bacaan salat di hati saja disertai pemahaman yang mendalam akan makna bacaan itu.

Misalnya, saat membaca takbiratul ihram, ucap Allahu Akbar di dalam hati sampai meresap betul hingga sampai ke setiap sel-sel tubuhmu akan kemahabesaranNya.  Dalam kondisi badan yang 'dirasuki' kemahabesaranNya, kamu akan merasa kecil, persoalan-persoalanmu juga menjadi kecil, hingga kamu merasa tidak membutuhkan siapa pun selainNya.

Begitu pun saat membaca Al fatihah dan bacaan salat yang lain.  Rasakan Maha Kasih SayangNya menerangi setiap sel-sel tubuhmu, sampai seluruh raga dan jiwamu bisa merasakan kasih sayangNya.

Bacaan salat itu bacaan yang terpilih, maknanya mendalam, menyangkut kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Lakukan gerakan salat bukan hanya fisik, ruku' dan sujud dengan mengajak serta jiwamu melakukan ruku' dan sujud.  Kepatuhan, tunduk, menghamba, lakukan itu semua di dengan segenap jiwa ragamu.

Salatmu jadi lama, tapi akan sangat terasa indahnya, karena yang menggema di hatimu hanyalah bacaan salat, bukan pikiranmu yang sibuk memikirkan dunia sementara bibirmu melantunkan bacaan salat.

Gema makna bacaan salat akan terpateri di jiwamu dan itu membentuk kekuatan baru, keyakinan yang semakin dalam dan kuat.  Kamu akan merasakan salatmu menggerakkan semesta, membentuk harmoni, seperti orkestra kehidupan.  

Bagaimana bila pikiran masih kemana-mana?  Tak apa-apa, karena ini sebuah ketrampilan batin, teruslah berlatih melakukannya.  Kamu harus belajar untuk hening, memasrahkan segalanya kepada Allah, kamu harus belajar meditatif di kehidupan sehari-hari, agar bisa meditatif saat salat.  Boleh simak tulisanku yang berjudul "Perjalanan ke Dalam", di situ ada caranya.

(bersambung)