Kamis, 18 Juni 2026

Melihat Wajah Allah ( 1 )

Padahal melihat wajah Allah itu sudah bisa dialami di dunia ini (Al Baqarah 115) tapi entah mengapa ajaran yang paling terkenal adalah : "Kenikmatan yang paling tinggi di surga adalah melihat wajah Allah." Ya berarti nunggu mati dulu dong? Makanya tak banyak orang menempuh jalan ini, jalan untuk bisa melihat wajah Allah di sini, di dunia ini. 

Inilah kebenarannya, tak usah menunggu mati. Semasih hidup di dunia ini pun bisa melihat wajah Allah dan itulah kenikmatan tertinggi, keindahan terindah, kebahagiaan terbahagia. 

Ketika melihat semuanya Allah, sudah tak melihat makhluk lagi. Itu luar biasa, tak terdefinisikan rasanya.  Sampai sering nangis karena terharu akan keindahanNya. Perasaan yang susah dilukiskan dengan kata-kata.

Kalian yang menganggap Innuri salah atau sesat dalam mengartikan "melihat wajah Allah", aku berani bilang kalian pasti belum pernah melakukan khalwat 40 hari.  Nah, ketimbang nyalah-nyalahin orang, coba deh lakukan seperti yang Nabi Muhammad lakukan, khalwat 40 hari full, baru boleh menilai sesat atau tidaknya Innuri. 

Awalnya melihat 'semuanya Allah' itu waktu melakukan khalwat 40 hari yang pertama di tahun 2024. Pernah aku tulis, maka yang aku tulis sekarang yang belum pernah saja ya.

 Awalnya aku tidak berani menuliskan ini, terlalu susah dipahami orang umum dan terlalu rahasia.  Lalu aku bertemu Gus Mukhlason Rasyid di Youtube, yang membuat aku punya keberanian bercerita sampai sedetail sekarang. Ternyata itu penting  untuk menjadi referensi orang lain yang pernah mengalami atau pun belum. 

Saat khalwat di 2024 itu aku sering duduk di lantai dua rumah Ngantang yang masih berupa strukturnya saja.  Dengan tumpukan bata ringan yang aku pakai bersandar.  Aku melakukan zikir dan meditasi di situ. Dari situ aku juga bisa melihat jalan ke arah rumah masa kecilku. 

Terbayang di benakku, suasana rumah, kamarku, benda-benda kesayangan, majalah, buku, kaset, loteng tempat aku menikmati senja dengan memandang gunung dan pepohonan.  Banyak hal manis aku alami di sana, membentuk kenangan yang kurindukan.  Walau rumahnya sudah berubah, kenangan itu masih hangat seperti baru terjadi sore kemarin. 

Lalu tiba-tiba saja aku melihat itu semua Allah! Ada kesimpulan batin yang amat jelas "Allah menjelma menjadi apa saja untuk membahagiakanku." Kamarku, tumpukan majalah Gadis kesayanganku, lemari ku, jendela itu, semuanya. 

Aku sempat ragu dengan kesimpulan ini, sampai aku menelepon suamiku dan suamiku membenarkan apa yang aku rasakan. Kami berdua khalwat bareng, dia khalwat dalam keramaian. Dia di rumah Pakis, aku di Ngantang. Pelajaran yang kami terima sama. 

Aku mencari dan mencari jawaban atas pengalamanku ini. Lalu kutemukan di channel Pak Hans "Eling lan Awas" yang saat itu malah membahas kitab Tao te Ching. Aku bersyukur sekali mendapat jawaban di situ.  Berarti apa yang aku alami benar, pernah dialami oleh manusia bijak di masa lalu, bahkan lama sebelum masa Nabi Muhammad. 

Jawaban di Surat Al Baqarah 115 itu belum terpikirkan olehku saat itu. Ayat yang jarang dibahas oleh para ulama, entah mengapa, padahal jelas sekali maknanya, tak perlu tafsir yang belibet.

"Kepunyaan Allahlah Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. " 

Jadi wajah Allah itu ya semua ciptaanNya ini.  Orang yang bilang penafsiran Innuri sesat pasti belum pernah khalwat 40 hari.  Dan sebenarnya Innuri bukan menafsirkan, ayat sejelas itu tak perlu ditafsirkan. 

Kemanapun kamu menghadap, atau dengan kata lain, apa pun yang kamu hadapi, apa pun yang kamu lihat, itulah wajah Allah. Perwujudan Allah, wujude Gusti Allah kata Gus Son. Aku dan kamu itu adalah wujudnya Allah, tapi bukan Allah dan jangan ngaku-ngaku Allah. 

Allah yang sebenarnya ya tidak bisa dilihat mata fisik.  Wujudnya Allah dengan Allah itu berbeda.  Seperti wujudnya Innuri dengan Innuri itu beda, Innuri yang sebenarnya bukanlah fisik yang menua dan bakalan musnah ini.  Innuri yang sebenarnya adalah ruh / jiwa yang akan tetap hidup meskipun fisiknya tiada. 

Wujudnya Allah adalah alam semesta ini yang bisa runtuh, tetapi Allah abadi. Ruh manusialah yang bisa menyaksikan Allah. Sedangkan mata fisik manusia hanya bisa menyaksikan wujudnya Allah. 

Paham kan? 

(bersambung) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar