Rabu, 26 Agustus 2026
Sebuah Cubitan dari Allah
Selasa, 25 Agustus 2026
Lepas dari Perbudakan Cinta
Seorang sahabat Innuri bercerita soal cintanya yang kandas, semula orang tua si gadis menyetujui hubungan mereka. Namun di tengah perjalanan mengumpulkan modal untuk menikah, si gadis dipaksa bertunangan dengan lelaki lain.
Apa yang aku nasehatkan padanya klasik banget, seputar menerima semua ini, Allah tahu yang terbaik, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu.
Namun menyembuhkan luka patah hati itu butuh waktu, bisa cepat, bisa lama, dan bisa lama sekali. Bisa jadi kehadiran orang baru sebagai pengganti bisa menjadi obat, akan tetapi memori itu tidak pernah terhapus dan bisa jadi cinta antara keduanya tidak pernah terhapus begitu saja.
Begitulah isi dunia ini. Banyak yang mengalami hal semacam itu, cinta yang kandas namun tak pernah terhapus. Banyak sahabat Innuri mengalaminya.
Nah, bila kamu pernah membaca tulisan Innuri tentang Semesta Paralel, atau baca saja deh di sini dan lanjutannya ada 10-an tulisan tentang semesta paralel. Maka kamu akan memahami bila semua pengalaman putus cinta dan patah hati itu memang kamu perlu mengalaminya untuk memahami cinta kasih Allah kepadamu. Pemahaman akan adanya semesta paralel itu akan menolongmu untuk berdamai dengan keadaan ini.
Kamu akan paham bila ternyata cintamu tak pernah kandas. Bila kalian saling mencintai, maka di semesta yang lain dia adalah pasanganmu. Itulah kasih sayang Allah yang tak terbatas.
"Mengapa bukan di kehidupan ini saja, saat ini saja cinta itu bersatu?" tanyamu. Karena pelajaran yang musti diambil harus lewat peristiwa perpisahan. Allah itu mengajari kita sesuatu dan memahamkan sesuatu bukan di depan kelas ya, Sayang, melainkan lewat peristiwa.
Kalau cintamu bersatu saat ini, bisa jadi kamu bukannya menyembah Allah,bisa jadi kamu malah menyembah kekasihmu itu. Ayahab jere arek Malang alias bahaya. Bisa jadi pula bila kalian bersatu saat ini, kalian malah saling menyakiti dan berakhir saling membenci. Ayahab lagi dong. Allah yang Maha Tahu, maka terima saja apapun, karena itu untuk kebahagiaanmu dan dia juga.
Bila Allah menggantinya dengan orang yang lebih baik, lalu kamu bisa mencintainya sepenuh hati, sementara di semesta yang lain kamu berpasangan dengan dia. Ada dua cinta dong, atau bahkan ada banyak cinta dalam kehidupanmu. Pertanyaannya, manakah cinta sejatimu?
Cinta sejatimu adalah Allah. Titik.
Sampai kamu paham bila Allah 'menjelma' menjadi apa saja dan siapa saja untuk membahagiakanmu. Sebegitu dalamnya cinta Allah.
Ketika kamu menyadari bila di saat kamu mencintai seseorang, hakekatnya kamu sedang mencintai Allah, maka di titik inilah kamu bisa merasakan kebebasan dari perbudakan cinta yang menyakitkan. Kamu merdeka.
Semoga cintamu segera sampai pada kemerdekaan.
Mendaki Gunung
Ramai di grup kuliah gara-gara aku naik gunung di usia lansia ini, padahal dulu bukan anak Impala (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam). Padahal juga, aku pernah punya masalah lutut karena asam urat tinggi, juga kolesterol tinggi.
Sepulang dari mendaki aku malah merasa lebih sehat. Biasanya kalau posisi duduk mau berdiri pakai pegangan dulu, ajaibnya sekarang malah gak perlu pegangan, langsung mak nyat berdiri. Aku syukuri kejutan indah ini.
Aku belajar ternyata penyakit bukan untuk ditolak atau dibenci. Karena dia hanya sedang memberitahu kita sesuatu, mungkin karena tubuh yang kurang gerak atau karena makan yang terlalu rakus atau mungkin pola pikir dan pola perasaan kita yang salah.
Jadi berterimakasihlah pada apapun yang terjadi pada tubuhmu, ajak ngobrol, dia lagi ngasih tahu soal apa sih? Dia mau ngomong apa sih?
Kuingat jaman remaja dulu aku gampang sakit dan langganan pingsan di sekolah. Ternyata itu karena aku hidup dalam ketakutan. Aku sedang parah indigonya saat-saat itu. Kemampuan ESP (extra sensory perception) aku lagi tumbuh, hal menakutkan aku saksikan setiap hari.
Puluhan tahun kemudian aku masih bergelut dengan persoalan ESP-ku dan aku masih gampang sakit. Hingga aku sadari semakin aku bisa menerima keadaan ini, aku jadi jarang sakit.
Berdamai dengan apa pun dan siapa pun, menjadi hal yang berpengaruh signifikan pada kesehatan jasmani rohani kita. Itulah yang kurasakan. Namun semua itu juga karena Allah.
Bukan usia, bukan gaya hidup, Allahlah yang memberi kita kesehatan dan Allah pula yang menuntun langkah kita ke sana. Diri ini cuma wayang, maka jadilah wayang yang pandai bersyukur.
Senin, 24 Agustus 2026
Inti
Pagi itu aku mandi dengan membawa perasaan gusar.
"Allah, pernahkah Engkau bingung mau ngapain? Sepertiku pagi ini? Mau cuci piring malas, mau bersih-bersih rumah capek, rasanya hidupku tidak berguna." kataku pada Allah.
"Allah, kalau lagi begini musti ngapain?"
"Aku sudah menyadari bila ini bukan aku, tapi Engkaulah yang mengendalikan aku. Maka mengapa musti bingung begini? Kapankah aku bisa tahu musti melakukan apa dan yakin bila yang aku lakukan benar?"
Sambil menyiram badanku dengan air aku menangis, hanya gara-gara persoalan sepele, bingung mau ngapain karena malas ngapa-ngapain.
Akhirnya aku selesai mandi, ganti baju dan duduk di depan televisi, menyimak kuliah Pak Hans dari Youtube.
Tiba-tiba saja aku mendapat jawaban dari pertanyaan selama aku mandi, jawabannya sama seperti yang pernah kudapat, tetapi lebih mendalam. Bila aku katakan jawabannya padamu, pasti kamu akan mengatakan, ah itu lagi, itu mah aku sudah tahu, mbak Innuri. Ya, karena ini memang susah dikatakan, harus mengalami sendiri.
Bila bisa dikatakan walau kata-kata sudah terbatas sekali untuk menggambarkan ini, maka inilah yang bisa kukatakan.
Tuhan itu Maha Tunggal, kita semua adalah perwujudan dari Ketuhanan. Namun posisi kita berbeda-beda. Bayangkan sebuah atom, ada inti atom, lalu ada neutron dan proton, lalu elektron yang tak henti-hentinya bergetar mengitari inti atom. Baik inti ataupun neutron, proton dan elektron, semuanya satu, semuanya atom. Akan tetapi inti itu stabil dan tenang, pergerakan di dekat inti pun lebih stabil dibandingkan dengan yang jauh dari inti.
Manusiapun begitu. Semakin jauh dari inti, manusia akan semakin gelisah dan tidak tenang. Manusia musti berada di inti untuk mencapai ketenangan.
Sesederhana itu penjelasannya tapi yang aku alami tidak sederhana, seperti mengalami alam semesta, di mana alam semesta ini pun punya struktur seperti atom, berputar mengelilingi inti masing-masing. Tata surya punya inti yaitu matahari, galaksi juga punya inti yang merupakan poros galaksi. Lebih jelasnya googling saja deh, Innuri bukan ahlinya di sini. Hanya untuk menggambarkan pemahaman yang aku dapat.
Karena di dunia batin pun demikian, kita semua berputar mengelilingi inti dan dikendalikan oleh inti, posisi manusia berbeda-beda dalam jarak terhadap inti. Posisi itulah yang menentukan suasana jiwa masing-masing.
Semakin dekat dengan Tuhan membuat batin kita stabil.
Jadi berterimakasihlah pada kegelisahan, karena dia hanya memberitahu sedang berada di posisi mana kita ini.
Setelah memahami yang bisa aku pahami, hatiku menjadi tenang, Dia begitu dekat. Dekat yang tak terbayangkan dekatnya.
Kamis, 20 Agustus 2026
Mikirin Indonesia
Sampai mikirin Indonesia Innuri, ketika siangnya ngobrol dengan sahabat tentang kemiskinan ekstrim di negri ini. Negeri di mana rakyatnya menjadi babu untuk orang-orang asing yang hidup mewah di tanah leluhur mereka sendiri. Negeri yang ....
Mikirin Indonesia Innuri, ketika suara anak-anakku mahasiswa yang peduli pada nasib bangsa ini berusaha dibungkam atau manusianya ditiadakan.
Mikirin Indonesia Innuri, ketika kebakaran hutan melanda, gempa dan bencana... Sementara ada tangan rakus yang merampok kekayaan alamnya.
Mikirin Indonesiaku ini ketika emas puluhan kilogram ditemukan di rumah pejabatnya. Oh Indonesia yang korup.
Aku gelisah malam itu, mendoakan negri dengan perasaan yang tidak yakin. Sampai aku sadari bila kegelisahan adalah sebuah pertanda bila hati sedang terpisah dengan Tuhan, dan melihat semua kenyataan terpisah dengan Tuhan juga.
Maka ketika aku kembali menyatu dengan Tuhan, disitulah aku merasa tenang. Semua ini dibawah kendaliNya, tidak ada yang perlu disedihkan atau dikhawatirkan. Ujung-ujungnya bakalan mati, kehidupan dunia bagaimana pun indah atau nelangsanya, semuanya bakalan ditinggalkan.
Tidak ada yang perlu dikasihani, tidak pula ada yang perlu "digemesin" saking serakah atau jahatnya. Kenapa?
Karena semuanya hanya pembagian peran saja. Peranku peranmu perannya peran mereka, semua itu tidak sama. Ya jalani peran masing-masing dengan bersyukur saja.
Jumat, 14 Agustus 2026
Membalut Kecewa
Senin, 10 Agustus 2026
Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip
Pertama mendengar istilah ini dari tulisan eyang Syamsul'alam, kaya-kaya wes mati sajrone isih urip, itu bahasa Jawa yang artinya seolah-olah sudah mati di dalam kehidupan. Itu juga merupakan salah satu ajaran tasawuf yang disebut fana atau ketiadaan diri. Ini adalah hal paling indah dan membagikan saat bisa mengalaminya, rasanya tuh merdeka dari perbudakan, kayak punya sayap, ringan dan bebas.
Merdeka dari perbudakan siapa? Dari pikiran dan logika kita sendiri, dari perasaan kita sendiri, dari persepsi dan persangkaan kita sendiri, merdeka dari emosi negatif, marah dendam benci dsb.
Innuri lagi mempraktekkan ini dengan sengaja di dalam kehidupan. Walau masih on of, semakin ke sini rasanya semakin lama on-nya.
Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak mengontrol orang-orang seperti apa yang aku mau. Aku membiarkan mereka semua dikontrol Allah, berproses menurut kehendak Allah. Ini membuat aku tidak pusing dengan segala hal yang dilakukan orang-orang di luaran sana atau orang-orang yang dekat denganku, hatiku menjadi damai sekali.
Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak lagi terpengaruh dengan perlakuan orang pada diriku, mau mereka membenci kek, menghujat, atau diam, mengagumi, dll. Ibarat mereka sedang menembak angin, tidak ada yang terluka, tidak juga ada yang merasa tersanjung. Perasaan sudah di atas itu, di atas suka duka, itu perasaan yang enak sekali.
Ketika aku merasa tidak ada, aku tidak lagi melekat pada makhluk. Kehadiran atau pun ketidakhadiran mereka, kepergian atau pun kedatangan mereka, perasaan sudah di atas senang dan sedih, itu bukan perasaan biasa saja, itu perasaan yang indah karena bisa mencintai semuanya. Justru tidak melekatlah yang menghadirkan perasaan menyatu.
"Melekat dalam ketidakmelekatan" Ketemu paradoks ini dan masuk ke dalamnya lalu merasakan unconditional love itu.
Ketika merasa tidak ada, maka yang terlihat hanyalah Allah, semua adalah keindahan.
Ketika merasa tidak ada, Allah adalah aku dan kamu, juga dia dan mereka, juga alam semesta utuh.
Ketika merasa tidak ada, aku sudah berada di surgaNya.
Rabu, 05 Agustus 2026
Mengapa Kosong Itu Penting?
Banyak cerita kudengar, seseorang mendapatkan hidup yang luar biasa setelah mengalami kebuntuan lalu menyerah, seolah bilang,"Terserah Engkau, ya Tuhan." Batinnya sudah kosong karena nggak tahu mau ngapain lagi untuk menolong dirinya sendiri, tetapi di titik itu dia justru mendapat solusi, seperti pembuka jalan. Itulah 'fenomena kosong' yang mendatangkan pertolongan Allah. Bila setelah itu si orang tadi bisa mempertahankan kekosongan itu, ya hidupnya bakalan dibanjiri dengan kejaiban demi keajaiban, kebahagiaan demi kebahagiaan.
Mengapa 'kosong' begitu penting? Kosong dalam arti sudah 'berpasrah bongkokan' pada Allah, sudah tak lagi memikirkan bagaimana jalan keluar, bagaimana solusi, atau bagaimana usaha mencapai ini dan itu? Kosong dalam arti mengalir saja, melangkah seperti wayang, terserah Sang Maha Dalang.
Mengapa kosong begitu penting?
Ketika kita kosong, Allah yang turun tangan memperbaiki kehidupan kita ini. Sebaliknya ketika kita merasa bisa, Allah lepas tangan dong, wong kitanya merasa bisa.
Tapi manusia 'kan wajib berikhtiar, lalu hasilnya terserah Allah? tanyamu.
Ikhtiarnya manusia itu bisa di level iman, di level pikiran, di level perbuatan. Orang yang sudah kosong itu kebanyakan sudah tidak bisa lagi berikhtiar di level pikiran dan perbuatan, jadi sudah menyerah alias secara iman dia sudah percaya bila hanya Allah yang bisa, manusia tidak bisa apa-apa.
Jadi bila ada orang yang terlihatnya seperti 'tidak ngapa-ngapain' sementara hatinya sedang menyerah kepada Allah, itulah ikhtiar di level iman. Nanti Allahlah yang menggerakkan alam semesta ini, termasuk menggerakkan orang itu dalam mewujudkan kehendak Tuhan yang terindah. Manusianya hanya menikmati setiap momen, mensyukuri setiap hal, sudah nggak tolah-toleh lagi.
Faham 'kan Sayang?
Minggu, 02 Agustus 2026
Pelajaran Dari Anak
Ada curhatan dari beberapa sahabat Innuri tentang anak (herannya kok masalahnya sama, tentang anak) yang bikin aku jadi teringat dengan Tom Hanks dan Brad Pitt, sekaligus teringat Dr Masaru Emoto. Karena aku begitu kagum pada ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button.
Aku juga teringat Dr Masaru Emoto karena eksperimennya dengan kata-kata yang memengaruhi struktur air, karena mendidik anak itu berhubungan dengan kata-kata.
Bagaimana ibu Forrest Gump mengatakan kalimat-kalimat yang mengagumkan tentang sang anak yang menderita disabilitas fisik dan kecerdasan rendah, sampai anaknya menjadi orang hebat di kemudian hari. Sedangkan ibu angkatnya Benjamin Button menganggap kehadiran bayi aneh adalah sebuah keajaiban dan kemudian merawat bayi aneh tersebut dengan penuh cinta. Pasti tahu 'kan kedua film itu dibintangi Tom Hanks dan Brad Pitt, itu film yang terkenal sekali.
Walau hanya film, walau film itu tak sama dengan dunia nyata yang kompleks ini, tetapi ada pelajaran yang bisa diambil dari kedua ibu hebat itu, ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button, yaitu 'menerima dengan penuh cinta' yang menghasilkan 'mukjizat'. Kalimat-kalimat positif yang diucapkannya tentang si anak mengingatkanku pada Dr Masaru Emoto dengan percobaannya pada air. Bila setiap kata memengaruhi struktur air, pasti memengaruhi manusia juga 'kan?
Aku sendiri bukanlah ibu yang baik dan aku sering sekali memperlakukan anak-anakku dengan salah, bahkan sampai setua ini, jadi tulisan ini bukan bermaksud menggurui ya, ini tulisan dari 'sesama pelajar'. Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, makanya orang tua sering melakukan kesalahan sementara dia merasa itu untuk tujuan yang benar.
Beberapa hal bodoh yang sering orang tua (nunjuk diri sendiri) lakukan terhadap anak:
- membandingkan anak dengan anak orang lain atau dengan saudaranya yang lebih hebat, ini bikin anak jadi minder.
- menyepelekan perasaan anak, misal 'gitu aja kok nangis', 'gitu aja takut' , dsb.
- merendahkan anak dengan harapan dia akan terpacu untuk bertumbuh
- mendidik dengan ego, merasa lebih tahu dan lebih pintar dari si anak
- jarang memberi apresiasi (kurang menghargai), seringnya mengoreksi dan menyalahkan.
- terlalu mengatur anak sehingga tidak memberi kesempatan anak untuk memilih.
- dll boleh tambahkan sendiri.
Kalau secara spiritual, orang-orang terdekat seperti anak dan pasangan, adalah "penyampai pesan Tuhan". Bahkan anak bisa jadi guru spiritual yang menyamar. Ketika kamu semakin baik, maka kondisinya anak bakalan membaik. Jadi yang dikoreksi bukannya si anak, melainkan dirimu sendiri itu loh, eh diriku sendiri juga ding.
Jadi ketika ada masalah dengan anak, yang dipertanyakan duluan adalah ,"Apa sih pesan Allah lewat peristiwa ini?" Setelah itu biarkan petunjuk Allah mengalir dan lakukan sesuai petunjuk itu. Ini memang tidak sesederhana yang Innuri katakan. Tapi minimal kamu menerima anak baik positif maupun negatifnya, kamu berdamai dengan kondisi anak, berprasangka baik pada Allah apa pun kondisinya dan terus memperbaiki diri di hadapan Allah.
Intinya, kamu menerima anak dengan cinta dan mengajarinya untuk mencinta. Ini aku cetak tebal ya, itulah yang aku pelajari dari dua film terkenal itu dan film hidupku sendiri.
Di level spiritual yang lebih dalam lagi, kamu akan menyadari bila segala sesuatu di dalam kendali Allah, termasuk perasaanmu, perasaan anak, segala yang dilakukan olehmu dan anak, semua itu Allah yang menggerakkan. Di sini sudah tidak ada yang salah atau benar, manusia hanyalah wayang di tangan sang Dalang. Jadi segala usahamu untuk anak, kamu tidak merasa melakukan, tetapi Allahlah yang menggerakkanmu melakukannya. Di level ini, batinmu sudah damai sekali, kamu tak lagi resah, kamu hanya percaya penuh pada Allah dan kemungkinan terjadi, anak-anakmu akan membaik seperti mukjizat!
Semoga tulisan ini membantu.
Sabtu, 01 Agustus 2026
Menembus Logika
"Mbak Innuri, gimana sih caranya agar bisa 100% menerima? Aku terbiasa berpikir logis, jadi apa-apa kalau sudah masuk di pikiranku, baru aku bisa menerima."
Adakah yang punya masalah seperti si penanya? Yuuk nikmati teh dan onde-ondenya.
Itu salah satu sisi kurang ajarnya pikiran, tapi tak perlu dibenci karena orang hidup butuh pikiran.
Yang perlu diluruskan adalah tak semua hal bisa dilogikakan.
Bagaimana bisa pikiran yang terbatas mampu memahami sesuatu yang tak terbatas, seperti kasih sayang Allah yang tidak terbatas atau alam semesta ini?
Karena pikiran itu terbatas, maka proses berpikir bukan satu-satunya cara memahami sesuatu. Letakkan semua pada tempatnya masing-masing.
Untuk menerima sebuah kejadian di dalam hidup ini, maka diperlukan 'wawasan keimanan' yang mencakup bagaimana setiap kejadian diturunkan Allah padamu dengan kasih sayang.
Kejadian ditipu orang misalnya. Secara materi kamu rugi, tapi ingat kamu bukan makhluk materi, kamu makhluk spiritual. Maka secara spiritual kamu beruntung karena mendapatkan kesempatan belajar bahwa di dunia ini tidak ada satupun yang kita miliki, materi bisa datang dan pergi sesuka takdir menuliskannya, atau kamu akan mendapatkan pelajaran / hikmah yang lain. Itulah proses menerima peristiwa 'ditipu orang' dengan iman. Kalau dengan logika pasti sulit, kamu pasti mendendam pada orang yang telah menipumu bertahun-tahun.
Bagaimana kalau menolak? Marah, tidak terima atau mendendam itu tanda-tanda penolakan. Kalau menolak ya kamu akan memelihara sampah kemarahan itu bertahun-tahun sampai kamu bisa menerima. Atau kamu bakalan mengalami peristiwa yang mirip karena kamunya tak kunjung mengambil pelajaran dari peristiwa itu.
Jadi bagaimana menurutmu? Pilih menerima walau tidak masuk di pikiranmu ataukah menolak karena tidak logis? Atau kamu punya contoh peristiwa apa yang membuatmu susah untuk menerima?