Kamis, 03 September 2026

Menatap Tragedi

 Di tulisanku yang berjudul "Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip"  Innuri bilang, kala diri ini sudah merasakan ketiadaan / fana, maka yang terlihat hanyalah Allah dan semua itu indah saja.  Lalu ketika tulisan itu aku bagikan ke Fb, ada komentar yang bila diringkas, bagaimana melihat keindahan dari bencana banjir di Nepal? Apakah semua itu Allah?

Bila dilanjutkan bisa lebih panjang lagi, bagaimana melihat kebakaran hutan, kebakaran pemukiman, gempa bumi, kecelakaan dsb, bagaimana bisa melihat semua itu Allah?  Mungkin maksudnya, bagaimana melihat tragedi itu bikinan Allah, masa sih Allah penebar tragedi? Memangnya ada keindahan dalam sebuah tragedi? 

Innuri tahu jawabannya tapi terlalu rumit untuk dijelaskan dalam bentuk kata-kata, tapi aku akan coba menyederhanakannya dengan pertolongan Allah.

Begini ya, orang yang dalam keadaan fana (ketiadaan diri) itu yang dilihat bukanlah fisik, yang dilihat bukanlah pemandangan yang ditangkap mata zahir ini. Lantas apa yang dilihat?  Kesejatian.

Sesuatu yang bisa berubah (impermanen)  dan tergantung pada sesuatu yang lain (interdependen) bukanlah kesejatian.  Jadi semua yang tampak mata ini bukanlah kesejatian.  Kesejatian melampaui itu semua.

Lantas, apa dong yang berada di balik tragedi yang dilihat orang-orang fana itu?  Kesejatian macam apa?

Bila kalian punya akses untuk menonton film V for Vandetta, ada bagian yang menceritakan tentang bagaimana V bersandiwara menyiksa Evey untuk mengeluarkan sisi kebijaksanaan di dalam diri Evey yang tersimpan dalam-dalam di jiwanya.  Setelah Evey tahu itu cuma sandiwara, marah dong Evey, lalu V berterus terang bila dia pun tak tega melakukan itu pada Evey, tapi terpaksa dia lakukan untuk tujuan itu.  Artinya V melakukan penyiksaan itu karena kasih sayang, demi kebaikan Evey sendiri, demi tujuan yang lebih besar dan lebih mulia.

Jadi itulah yang dilihat orang-orang fana, kasih sayang Allah.  Di dalam tragedi, sejatinya Allah sedang menyempurnakan jiwa seseorang.

Kamu boleh bertanya lagi, penyempurnaan macam apa bila seseorang sudah mati di usia muda, bahkan bayi atau anak-anak karena tersapu tragedi?  Pertanyaan itu terjawab bila kamu percaya reinkarnasi.  Reinkarnasi itu tertulis di Al Quran, bila ingin tahu lebih banyak penjelasan soal ini, silakan cari saja di blog ini, ada kolom pencarian di kanan atas ya.

Apakah ada pertanyaan lain? 

Rabu, 02 September 2026

Antara Usaha dan Anugerah

 "Apakah fana dan wushul itu sesuatu yang merupakan anugerah Tuhan semata-mata ataukah boleh diusahakan?" tanya seorang sahabat Innuri.

Jawabannya bisa berbeda tergantung pada pemahaman seseorang dan jawaban yang berbeda itu semuanya benar.  

Begini, untuk orang yang beranggapan bila manusia diberi free will, atau kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, maka jawabannya adalah bisa diusahakan.

Untuk orang yang beranggapan bila semuanya sudah tertulis di lauhulmahfuz dan manusia tinggal menjalani, jawabannya adalah semata-mata anugerah Allah.

Untuk orang yang beranggapan bila manusia punya kehendak bebas tetapi punya keterbatasan, maka jawabannya adalah 'manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan'.

Ketiga jawaban itu benar, karena ketiga sifat manusia yang aku sebut di atas itu memang diciptakan Tuhan, semuanya ada di masyarakat dunia ini, ketiganya juga punya landasan dalil dari Al Quran dengan penafsiran masing-masing.

Dari tiga yang benar itu, manakah yang paling benar?  tanyamu.  Maka jawabannya. yang paling benar adalah yang paling bisa menghargai pendapat yang berbeda, yang tetap berkasih sayang terhadap yang berbeda dan bisa memahami yang berbeda dengannya.

Kalau kalian ketemu orang yang menganggap bila pendapatnyalah yang paling benar dan suka menyalahkan orang yang tidak sependapat dengannya, maka saranku adalah, jangan ikuti dia dan jangan ikuti pendapatnya.

Alenia di atas aku cetak tebal dan cetak miring pula, karena itu sangat penting agar kalian selamat.  Ikutilah orang yang hatinya penuh kasih kepada siapapun dan apapun, karena Allah bersama orang yang hatinya penuh kasih sayang.

Sekarang,  Innuri sendiri pilih jawaban yang mana dari ketiga jawaban itu?

Bila yang jawab Innuri empat puluh tahun yang lalu, maka jawaban pertama itulah yang aku katakan, manusia punya kehendak bebas dan bisa menentukan nasibnya sendiri.

Bila yang jawab Innuri tiga puluh tahun yang lalu, maka jawaban ketiga itulah yang aku katakan, manusia punya free will tapi dibatasi kekuasaan Tuhan.

Bila Innuri dua tahun yang lalu yang ditanya, maka jawabannya adalah semua sudah tertulis dan manusia tinggal menjalani.

Jawaban Innuri sekarang masih sama seperti dua tahun yang lalu dan di sinilah aku merasa yakin karena hatiku bisa memahami semuanya, semua perbedaan itu, sekaligus pernah mengalami dan merasakan berada di ketiga 'kubu' itu.  Rasaku sekarang adalah damai dan hatiku bisa menyayangi semuanya, termasuk orang yang menudingku salah atau sesat.

Jadi pemahaman seseorang itu berproses, yang penting adalah menjalani setiap proses dengan penuh rasa syukur dan selalu terhubung dengan Allah.  Sebenarnyalah orang yang bersyukur itu adalah orang yang terhubung dengan Allah.

Jadi saranku adalah di posisi mana pun pemahaman kalian, yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu sampai menemukan kedamaian.  Yakin pada Allah, itulah yang terpenting.

Baik, muncul pertanyaan lagi, bila semua sudah dijalankan Allah, manusia tidak mau berusaha dong!

Bila kalian sudah berada di posisi wushul, maka kalian sangat menyadari bila segala usaha yang dilakukan manusia itu tidak pernah terlepas dari Allah.  Allahlah yang menggerakkanmu berusaha. Jadi manusia yang wushul itu tetap berusaha kok, tetapi batinnya tidak merasa berusaha, karena lahaulawala quwata illabillah, Allahlah yang menggerakkannya berusaha.  Berusaha tanpa berusaha, atau berusaha tanpa merasa berusaha.

Karena dia berusaha tanpa merasa berusaha, manusia wushul jauh sekali dari sifat sombong dan membanggakan diri.

Semoga penjelasan di atas bisa dipahami ya. Salam kasih.

Selasa, 01 September 2026

Marah yang Elegan

 "Bagaimana cara mengelola amarah dengan baik dalam konteks berumahtangga?" Tanya seorang sahabat Innuri. 

Innuri kasih 2 jawaban, yaitu jawaban klasik dan jawaban yang nggak klasik ya. 

Jawaban klasiknya begini : 

Salah satu ciri orang bertaqwa itu adalah menahan amarah, itu tertulis di dalam al quran. Jadi kalau lagi marah, jangan buru-buru dibrolkan atau jangan langsung dikeluarkan dalam bentuk kata-kata atau jadi tindakan. Marahnya pakai seni, pakai trik, pakai strategi, agar goalnya tercapai. 

Waktu marah, mikir dulu targetnya apa?  Bukan sekedar melepas emosi. Otomatis marahnya diredam dulu sampai jadi 'dingin', baru ngomong sesuai goalnya.  Mungkin itu maksudnya 'menahan amarah'. 

Yang aku ceritakan itu bukan teori, sudah dipraktekkan dan terbukti membuat suasana rumah tangga menjadi adem ayem, tapi dipraktekkan oleh suamiku ... hehe.  Innuri kalau marah bral brol saja, apa yang tersimpan di hati diledakkan saja, kalau yang dimarahi diam, tambah marah dong karena merasa diabaikan, kalau yang dimarahi membela diri, juga tambah marah karena merasa tidak dipahami perasaanku.  Kacau, kacau dah marah model Innuri, jangan dicontoh.  Tapi itu dulu ya, semakin tua aku semakin santai dan sudah lupa caranya marah.

Jawaban yang nggak klasiknya begini:

Innuri ajak ke pola berpikir yang mendalam, pola pikir spiritual yang membuatku lupa caranya marah.

Yang harus disadari duluan adalah "Kasih sayang adalah dasar dari segala sesuatu".  yang berarti, kasih sayang adalah dasar penciptaan, dasar segala kejadian atau peristiwa dalam hidup.  Itu adalah princip bismillah.

Bila di dalam keluarga ada kejadian pasangan berbuat salah sampai membangkitkan marah, di mana dong letak kasih sayangnya?  Katanya kasih sayang adalah dasar segala kejadian.  Ya inilah yang harus disadari, marah itu artinya ada kasih sayang yang hilang, berarti marah itu tidak 'menciptakan' apapun selain kehancuran.  Jadi hadirkan lagi kasih sayang itu di hatimu, barulah kamu boleh marah, jadi marahnya pakai kasih sayang.  

Kalau marahnya masih pakai emosi, ya siap-siap melihat orang-orang yang kamu sayangi hancur hatinya, kebayang bagaimana sikap orang yang hatinya sudah kamu hancurkan?  Permusuhan dong.  Mau musuhan sama orang yang katanya kamu sayangi?  Ada musuh di dalam rumah itu seperti resmi masuk neraka deh, pakai sertifikat pula ... haha.

Kasih sayang adalah dasar segala kejadian, iya benar itu.  Allah yang menurunkan kejadian, karena Allah tahu di hatimu masih ada ego yang membatu yang butuh dilunakkan.  Maka kejadian yang membuatmu marah hanyalah alat bantu untuk mengetahui ego macam apa yang tersembunyi di kedalaman hatimu yang harus diselesaikan, yang merupakan PR kehidupan.

Misal kamu marah karena anakmu mencorat coret mobilmu dengan cat permanen. Itu hanya menunjukkan kemelekatanmu dengan harta benda kok, yang lebih kamu sayangi daripada anakmu sendiri.

Misal kamu marah karena pasanganmu berselingkuh.  Memangnya nggak boleh marah untuk kasus seberat ini?  Boleh, tapi disadari dulu marahmu karena apa?  Karena ada orang lain merebut milikmu?  Memangnya apa sih yang kamu miliki di dunia ini?  Semua milik Allah loh, bahkan pasanganmu itu.  Kejadian itu hanya untuk menyadarkanmu bila di dunia ini yang kita miliki cuma Allah kok.  

Ego, itu adalah PR bagi banyak orang.  Segala sesuatu yang mengandung kata 'ku' itu menunjukkan ego.  Kebanyakan orang marah karena 'ku' nya terusik. Lenyapkan saja 'ku' itu, lihat bila semuanya digerakkan Allah, maka hati menjadi damai dan lupa caranya marah.

Ya, Innuri lupa caranya marah sejak mengalami fana dan wushul.  Menyadari sampai ke tulang sumsum dan aliran darah, bila segala sesuatu digerakkan Allah, nggak bisa gerak sendiri, lahaula wala quwata illabillah.  Ketika ada kejadian yang di mata orang awam bikin marah, ketika bisa melihat itu loh digerakkan Allah, ya tidak ada rasa marah itu.