Kamis, 04 Juni 2026

Salat Tanpa Kata ( 4 )

Adakah yang mempertanyakan meski hanya dalam hati, mengapa di dalam Al Quran tidak disebutkan tata cara salat secara rinci, gerakannya bagaimana, bacaannya juga apa saja?

Menurut Innuri nih, karena yang menurunkan Al Quran adalah Tuhan semesta alam dan Al Quran juga diturunkan untuk seluruh umat manusia.  Jadi yang menurunkan Al Quran bukan Tuhannya umat Islam saja loh ya dan Al Quran adalah kitab suci umat manusia, bukan hanya kitab sucinya umat Islam.

Karena Al Quran diturunkan untuk semuanya, maka tata cara salat pun tidak diuraikan secara rinci, mengingat beraneka ragamnya tata cara salat yang dipraktekkan manusia di muka bumi ini.  Dengan kata lain, tata cara salat itu terserah keyakinanmu, yang penting adalah jangan keluar dari hakekatnya salat, yaitu untuk bertemu Tuhan dan membentuk jiwa yang tenang.  

Faktanya adalah banyak orang melakukan salat yang sesuai syariat, tetapi tidak mendapatkan apa pun, hanya olah raga jungkat-jungkit, saat salat pikirannya kemana-mana, sedikit sekali pikirannya ke Tuhan, alih-alih bertemu Tuhan, di luar salat jiwanya juga masih gelisah. Untuk khusyu' satu detik saja susahnya minta ampun. Jangan tersinggung, aku sedang membicarakan diriku sendiri.  Kalau tersinggung, bagus juga.

Jadi banyak orang melakukan salat secara fisik saja, yang akibatnya, salat tidak mencegah dari perbuatan keji dan munkar.  Rajin salat tapi masih galau dan berkeluh kesah tentang berbagai hal.  Salat tapi maling uang rakyat, itu contoh lainnya.

Inilah beberapa catatan tentang salat di dalam Al Quran yang penting untuk diketahui agar tidak melenceng dari hakekat salat:

- jangan lalai dari salat , itu orang yang mendustakan agama (Surat Al Ma'un)

- salat untuk mengingat Allah (Surat Thaha 14)

- khusyu' dalam salat (Al Mukminun 2)

- salat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar (Al Ankabut 45)

- sabar dan salat adalah cara mohon pertolongan Allah, salat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Al Baqarah 45)

- orang yang salat tidak suka berkeluh kesah dan kikir (Al Maarij 19-23)

Poin-poin itulah yang mestinya dipertanyakan kepada diri sendiri.  Apakah masih merasa berat menjalankan salat? Apakah sudah mengingat Allah sepenuhnya saat salat? Apakah masih kikir dan suka berkeluh kesah? Apakah bisa khusyu' saat salat? 

Apakah masih menganggap salat hanya sebagai kewajiban dan jauh di bawah sadar merasa itu sebagai beban? 

Carilah cara agar bisa menjadikan salat sebagai "pertemuan yang menyenangkan" dengan Tuhan.  Kalian boleh memakai cara apa saja.  Kalau kalian memakai cara syariat bisa sekaligus hakekatnya, itu bagus.  Kalau gak bisa boleh nyontek Innuri.  Dan itulah caraku, sudah aku tulis 'kan? Kalau takut melanggar syariat, ya kerjakan diluar salat wajib.

Dengan salat tanpa kata, hati dan pikiran menjadi lebih terkoneksi dengan Tuhan.  Ada yang bilang caraku ini tidak sah walau salatnya salat sunah, dan aku jawab ra patheken, yang penting aku bertemu Tuhan dan bisa jatuh cinta padaNya dan selalu rindu berdiri, ruku' dan sujud tanpa merasa berat sama sekali.

Ingat masa remaja pas dikunjungi pacar, aduh senengnya minta ampun sampai kepingin meloncat menemui dia.  Seperti itulah gambarannya.  Suka cita saat waktu salat datang karena itu artinya ketemu dengan Sang Kekasih.

Salat dengan pikiran yang terikat pada aturan sampai takut tidak sah, itu malah menghijab hati dari Allah. Itu pengalaman Innuri, kalau pengalaman kalian beda ya tak apa-apa.

 Aku tidak mau menyembah aturan, aturan salat yang dirumuskan ulama, yang di Indonesia saja terdapat berbagai tata cara salat, golongan satu merasa lebih benar daripada yang lain.

Mengapa tidak mencari persamaannya saja yang tertulis di Al Quran?  Bukankah ini lebih damai dan lebih dekat dengan Tuhan?

Hmm.... Itu memang sudah dikehendaki Allah kok, manusia dengan segala perbedaannya. Santai saja, bersyukurlah kalian yang sudah menemukan hakekat salat yang memperindah jiwa. 

Selasa, 02 Juni 2026

Salat Tanpa Kata (3) Menemukan Cinta

Seperti menemukan sumber mata air hikmah yang tidak habis-habisnya digali dan membuatku terpana, itulah yang kurasakan saat rajin melakukan salat tanpa kata. 

Ketika tangan terangkat pertanda menyerah pada Allahu Akbar, kamu sudah terjerat dalam kebesaranNya. Rasakan dan resapi kemahabesaranNya hingga kamu tak merasakan persoalan yang memberatkan kehidupanmu lagi. Semua itu terangkat dan kamu merasa ringan. 

Letakkan kedua tanganmu bersedekap di atas pusar.  Aku bilang di atas pusar karena pusar menyimpan rahasia yang akan mempertautkanmu dengan dua ibu, ibu kandungmu dan ibu alam semesta. 

Lakukan saja ini dengan penuh penghayatan akan makna bacaan Al Fatihah yang akan kamu baca di jiwamu. Biarkan makna bacaan al fatihah bergema di dalam jiwa ragamu. 

Lalu ketika jiwamu turut tunduk ruku' dan sujud, jiwamu menghormatiNya, menyerah dalam kasih sayangNya, lalu sujud mencium bumi,  

Kamu akan merasakan cinta, betapa Dia mengurungmu dalam jeratan cinta dari segenap penjuru.  Tidak ada titik yang kosong dari cinta kasihNya.

Maka kamu pun mencium bumi dengan sepenuh cinta. Cinta yang menyatu antaramu dan penciptamu, kamu kehilangan dirimu karena terlalu menempel padaNya. Kamu bagaikan sebuah molekul air yang terbuai dalam kasih sayang lautan. Kemana saja molekul airmu bergerak, kamu akan bertemu dengan Sang Maha Cinta. 

Cinta kasih adalah dasar penciptaan langit dan bumi. Menemukan kembali cinta kasih dalam ibadah tanpa kata adalah pulang kepada kebahagiaan yang asli, aslinya dirimu yang terbuat dari cinta kasih. 

Itulah hal terindah yang kebanyakan manusia lalai dari salatnya.

Mencapai apa yang aku lukiskan di atas itu perlu proses.  Yang penting selama melakukan salat jaga terus ikatan hati, pikiran dan jiwa selalu tertaut dengan Allah yang lebih dekat dari urat lehermu itu.  Merasakan kehadirannya sepanjang salat, lalu di luar salat pun kamu tetap terpaut dengan Allah, itulah makna dari 'tidak lalai dari salat'.

Jangan mengharap sesuatu selain Allah dari salatmu, misal demi masuk surga, karena surga pun makhluk.  Apalagi berharap hal-hal yang sifatnya duniawi.  Lurus untuk Allah saja, tidak usah tolah-toleh. 

( bersambung )

Senin, 01 Juni 2026

Salat Tanpa Kata (2) Raja di Kerajaan Batin

 Kamu akan mendapatkan hikmah dan pengalaman yang begitu berbeda saat melakukan salat tanpa kata, hingga kamu akan selalu rindu melakukannya.

Di antara hikmah yang aku alami adalah merasakan di dalam diriku ini ada sebuah kerajaan kecil tapi sebesar alam semesta.  Yang namanya kerajaan ya ada rajanya dan ada rakyatnya.  Persoalannya adalah siapa rajanya dan siapa rakyatnya?  Itu terjawab ketika kita salat tanpa kata.

Baiklah untuk memperjelas, di dalam dirimu itu ada apa saja sih?  Di bagian luar ada raga, sel-sel tubuh, anggota tubuh yang menggerakkanmu, ada panca indra.  Di bagian dalam ada pikiran dengan segenap 'pasukannya', ada gudang memori tempat menyimpan 'file' kejadian di masa lalu, ada perasaan, ada keinginan, ada hawa nafsu, dan ada Allah yang lebih dekat daripada urat lehermu.  Anggaplah semua itu sebagai penghuni atau penduduk di dalam kerajaan kecilmu.

Pertanyaannya adalah, siapa yang memimpin? Siapa raja di dalam dirimu?

Ketika kamu jawab, Allah pemimpinnya.  Eits, tunggu dulu!  Bila itu hanya ucapan di bibir saja, itu bukan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Salat tanpa kata adalah salah satu cara mengenali siapa pemimpinmu, siapa raja di kerajaan batinmu yang sebenarnya.

Bila selama salat, yang berputar-putar di dalam dirimu adalah pikiranmu yang melancong kesana kemari, berarti itulah rajanya.  Biasanya sih hidupmu masih terasa tegang dan banyak kecemasan.  Pikiran suka banget mengombang-ambingkan perasaan mencemaskan berbagai hal.  Pikiran pula yang menjadikan Allah di bawah 'perintah'nya, berupa doa-doa yang bersumber dari kehendak ego.  Doa yang ngotot sampai memaksa Allah mengabulkannya. 

Nah, salat tanpa kata itulah yang akan memproses batinmu dari kerajaan batin yang dipimpin oleh selain Allah menuju kepemimpinan Allah.  Pemahaman-pemahaman yang mendalam akan makna bacaan salat akan mengantarmu ke sana, dengan bimbingan Allah tentunya.

Perlu digarisbawahi sebelum melakukan salat tanpa kata, jaga hatimu dari 'merasa melakukan salat' menjadi ' Allahlah yang menggerakkan aku salat' .  

Kenali siapa raja di kerajaan batinmu dan rasakan pergantian kekuasaan dari selain Allah menjadi Allah saja. 

Dicoba ya. 

Semoga Allah selalu membimbingmu, Sahabat.

Salat Tanpa Kata (1)

 Untuk melatih hati agar semakin peka dalam memahamiNya dan semakin dekatnya diri dengan sifat-sifatNya, cobalah salat tanpa kata, maksudku bacaan salat diucapkan di hati, bukan di bibir.  Bila kalian masih belum berani meninggalkan tata cara syariat, lakukan salat wajib seperti biasa, tapi coba lakukan salat sunah dua rekaat tapi tanpa kata yang terucapkan di bibirmu.  Ucapkan bacaan salat di hati saja disertai pemahaman yang mendalam akan makna bacaan itu.

Misalnya, saat membaca takbiratul ihram, ucap Allahu Akbar di dalam hati sampai meresap betul hingga sampai ke setiap sel-sel tubuhmu akan kemahabesaranNya.  Dalam kondisi badan yang 'dirasuki' kemahabesaranNya, kamu akan merasa kecil, persoalan-persoalanmu juga menjadi kecil, hingga kamu merasa tidak membutuhkan siapa pun selainNya.

Begitu pun saat membaca Al fatihah dan bacaan salat yang lain.  Rasakan Maha Kasih SayangNya menerangi setiap sel-sel tubuhmu, sampai seluruh raga dan jiwamu bisa merasakan kasih sayangNya.

Bacaan salat itu bacaan yang terpilih, maknanya mendalam, menyangkut kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Lakukan gerakan salat bukan hanya fisik, ruku' dan sujud dengan mengajak serta jiwamu melakukan ruku' dan sujud.  Kepatuhan, tunduk, menghamba, lakukan itu semua di dengan segenap jiwa ragamu.

Salatmu jadi lama, tapi akan sangat terasa indahnya, karena yang menggema di hatimu hanyalah bacaan salat, bukan pikiranmu yang sibuk memikirkan dunia sementara bibirmu melantunkan bacaan salat.

Gema makna bacaan salat akan terpateri di jiwamu dan itu membentuk kekuatan baru, keyakinan yang semakin dalam dan kuat.  Kamu akan merasakan salatmu menggerakkan semesta, membentuk harmoni, seperti orkestra kehidupan.  

Bagaimana bila pikiran masih kemana-mana?  Tak apa-apa, karena ini sebuah ketrampilan batin, teruslah berlatih melakukannya.  Kamu harus belajar untuk hening, memasrahkan segalanya kepada Allah, kamu harus belajar meditatif di kehidupan sehari-hari, agar bisa meditatif saat salat.  Boleh simak tulisanku yang berjudul "Perjalanan ke Dalam", di situ ada caranya.

(bersambung)

Sabtu, 30 Mei 2026

Menasehati tanpa Menasehati

"Mbak Innuri, kalau anak kita butuh nasehat karena hidupnya nggak beres, apakah perlu kita nasehati berkali-kali, atau cukup sekali saja dan serahkan pada Allah, karena hakekatnya keadaan itu hanya jalan pulang untuk pandang Allah.  Rasa gak sabar dan mahu dia berubah, " tulis seorang pembacaku dari Malaysia.  Ini pertanyaan ke sekian masalah anak dan kurasa perlu membahas soal anak lagi dari perspektif yang berbeda.

Begini sahabat, kadang orang-orang yang kita sayangi itu seperti "guru yang menyamar" dengan pelajaran yang tersembunyi dari perilakunya.  Jadi mari nikmati kopi dan pisang gorengnya sambil menjawab pertanyaan di atas satu per satu.

Apakah anak butuh nasehat?  Versi orang tua, anak butuh nasehat, tapi coba duduk sebagai anak, apakah anak butuh nasehat?  Tidak!  Anak cuma butuh dipahami, disayangi dan didukung sepenuhnya.  

Kalau pun anda begitu merasa anak butuh nasehat, sampaikan tanpa 'menasehati'. Bagaimana caranya? Nanti ya, jangan pindah channel dulu... hmm. 

Ada juga type anak yang kalau butuh nasehat dia akan datang sendiri ke orang tuanya, gurunya atau temannya, biasanya sih ke orang yang membuatnya nyaman. Jadi kalau ingin anak yang datang meminta nasehat, ya buatlah dia nyaman denganmu sebagai orang tuanya. 

Kembali ke pertanyaan di atas ya. 

Apakah anak merasa hidupnya nggak beres?  Belum tentu, orang tuanyalah yang merasa hidup anak tidak beres.  Barangkali anak malah merasa orang tuanyalah yang tidak beres.  Jadi coba berpikir sebagai anak, atau coba kembali ke masa lalu ketika diri kita masih seusia anak. 

Ada juga anak yang merasa dirinya tidak beres, bicaralah padanya sebagai teman yang banyak mendengar, bukan sebagai orang tua yang merasa lebih tahu dan banyak bicara. Bila perlu ajak anak ke psikolog bila sebagai orang tua anda merasa tidak bisa memahami ketidakberesan di dalam diri anak. 

Bagaimana cara menasehati tanpa menasehati? Banyak caranya, misal nonton film yang satu tema dengan permasalahan anak, nonton berdua dengan anak ya.  Pancing obrolan biar dia mau mengomentari film tersebut, anda bisa memasukkan nasehat di sini, tapi berdasarkan film tersebut.  Cara ini pernah kulakukan, bahkan aku nggak perlu mengajaknya nonton bareng, dia sudah duduk manis di sampingku dan membahas film tersebut.  Aku nggak menasehati, tapi aku mengemukakan perasaanku.  Tiba-tiba saja kami berdua punya kesepakatan yang sama.

Sebenarnya banyak film dan serial yang mendidik di Youtube atau di Netflix.  Yang aku tahu semacam Linttle House in the Prairie, The Walton Family, ada beberapa award winning movie.  Kalau ada yang bisa menambahkan silakan tulis di komentar atau inbox Innuri ya.

Orang tua musti kreatif nyari cara agar bisa 'menasehati tanpa menasehati'  yang bisa disesuaikan dengan kesukaan anak, love language anak (silakan googling 'love language Chapman').  

Jangan lupa berajar ilmu parenting dan psikologi, banyak di Youtube.  Yang aku tahu dari Dr Aisah Dahlan dan Prof YF La Kahija di channel Eling lan Awas.

Di atas itu semua, anak bisa jadi 'guru spiritual yang menyamar',  Bila tidak sabar menunggu perubahan pada diri anak, berarti PR-nya ya sabar.  Terima anak apa adanya, menerima kelebihan sekaligus kekurangannya.  Bersyukurlah dengan segala kelakuan anak, karena disitu ada pesan Tuhan yang penuh kasih padamu. 

Jumat, 22 Mei 2026

Memaknai Thawaf

 Bagaimana kamu memaknai thawaf? 

Itu adalah gambaran perjalanan batin manusia menuju Tuhannya. Seperti pusaran elektron proton dan inti atom. Seperti pusaran alam semesta, tata surya, galaksi, dan entah apa lagi namanya. 

Inti diri manusia itu dipenuhi sifat-sifat yang baik. Semakin jauh dari inti semakin kacau. Kesedihan, kemarahan, galau, itu karena jauh dari inti. Sedangkan kejahatan terjadi karena terlepas dari inti, walau tak pernah terlepas sama sekali, seperti layang layang putus, tak punya arah tujuan, tapi tetap terhubung dengan grafitasi. 

Bila hidupmu terasa kacau, obatnya cuma kembali ke inti. Caranya diam dan masuk ke dalam dirimu. Ini tidak mudah bila kamu terbiasa jauh, maka kamu harus meringankan diri dengan menyerah pada grafitasi inti. 

Banyak pikiran dan kekhawatiran itu beban, memberatkan perjalananmu ke inti. Lepaskan semua, maka perjalananmu akan lebih ringan, sampai kamu merasa bukan kamu yang melakukan perjalanan, melainkan grafitasi inti yang menarikmu ke dalam. Bila begini semuanya akan mudah. 

Nikmatilah perjalananmu dan pertemuanmu dengan inti, di dalam inti dirimu itulah kesejatian, orang-orang menyebutnya Tuhan, Allah, Sang Hyang Widi Wasa, Tao, Teos, Ar Rahman, ... terserah kamu menyebutnya, Dia punya nama yang indah-indah.

Bagaimana kamu memaknai mabrur haji? 

Mabrur adalah kondisi batinmu saat bertemu inti, pertemuanmu dengan Allah. Haji hakekatnya adalah perjalanan ke dalam diri untuk menemui inti. 

Kamu boleh ke Mekah untuk berhaji, tidak ke Mekah juga boleh, karena yang wajib adalah menempuh perjalanan ke dalam. Mekah hanya simbol, jangan sampai kamu malah menuhankan simbol.

Yang penting adalah mabrur-nya, menemukan inti dirimu. Ingatlah bila Allah lebih dekat dari urat lehermu.  Bertemu Allah, itulah yang penting, dan Dia tidak berada di Mekah sana, di mana pun di bumiNya, kamu bisa menemuiNya. 

Minggu, 17 Mei 2026

Apa yang Membuatmu Resah?

 Apa yang kamu resahkan saat ini? 

Apa yang sering membuatmu gelisah? 

Jawab di hati saja ya. 

Tahukah kamu, apa yang membuatmu resah dan gelisah itu menunjukkan prioritas hidupmu. 

Dan aku bisiki pelan-pelan ya, "Bisa jadi itulah sembahanmu selain Allah. "

Ini hal yang halus sekali.

Keresahan atau kegelisahan itu menunjukkan hati kita masih berpaling dari Allah, ada penolakan terkait sebuah keadaan atau seseorang yang membuatmu  resah.

Selain itu, ada ketidakpercayaan di hatimu bahwa Allahlah yang akan membuat semuanya membaik.  Imanmu lagi turun, Sayang.  

Akan tetapi kamu sudah menemukan hal yang meresahkan hatimu, itu satu langkah maju untuk menyelesaikannya, karena kamu sudah mengenali biang keroknya.  Setelah menyadari hal itu, segera kembalilah kepada Allah, sadari bila hal besar atau kecil sudah tertulis, kembalikan hatimu untuk percaya pada kasih sayangNya.  Bila ini masih sulit, mohon pertolonganNya untuk membuat keimananmu kuat lagi, tak berpaling lagi dari Dia dan agar kasih sayangNya menyentuh hatimu.

Galau dan resah bisa jadi disebabkan oleh hawa nafsu yang menyelinap dan mempermainkanmu.  Disadari dan kembali kepada Allah, Allahlah yang menggenggam hatimu dan mengembalikan hatimu pada kedamaian.  Jangan merasa berusaha, karena bisa kecele.

Cara Melepas Cinta Pada Makhluk

 Bagaimana mencintai pasangan yang sah dan mencintai anak-anak kita sendiri menjadi salah?  Memang di mata syariah itu tidak salah, yang salah ya mencintai suami / istri orang lain dan malah tidak mencintai anak-anak kita sendiri, itu baru salah.  

Kadang belajar spiritual itu membagongkan juga, tapi coba renungkan.  

Tujuan orang menempuh perjalanan spiritual itu 'kan menyaksikan Allah (bersyahadat) lalu menyatu dengan Allah (wushul, manunggaling kawula-Gusti).  Nah, kecintaan kita pada segala sesuatu selain Allah itu menghijab (menutup) antara kita dengan Allah.  Begitu deh. 

Intinya cinta kita pada makhluk jangan melebihi cinta kita pada Allah.  Kalau bahasa Innuri sih boleh cinta tapi jangan melekat, jangan lengket kayak prangko, ntar kalau dipisah jadi sobek alias terluka. Dari sini sudah mulai paham betapa bahayanya mencintai makhluk itu, sampai muncul istilah 'selingkuh dari Allah', istilahnya Gus Mukhlason Rasyid.  Padahal itulah cara Allah melindungi kita dari terluka hati yang amat dalam.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya biar nggak melekat pada cinta makhluk?  Prakteknya bagaimana? 

Caranya ya dipasrahkan Allah saja semua perasaan cinta itu.  Innuri bilang,"Allah, aku hanya ingin mencintaiMu saja, jadi tolong bantu aku memperbaiki hatiku ini."  Hati musti punya keinginan yang kuat untuk melepas semua cinta pada makhluk untuk memilih Allah saja.  Lakukan ini dengan sengaja, sebuah pilihan yang diputuskan dengan yakin dan penuh kesadaran, memilih Allah di atas makhlukNya.  

Terkadang aku pakai cara ngeles cantik, aku bilang,"Allah, ini bukan perasaanku loh ya, ini adalah perasaanMu, Allah."

Nah, ketika perasaan cinta yang melekat pada makhluk itu terlepas, perasaan jadi indah sekalil, digantikan rasa cinta yang lebih tinggi, compassion mungkin ya namanya.  Melekatnya hati sudah pada Allah saja.

Aku sendiri masih on of di rasa ini, tapi hatiku sudah tidak menginginkan melekat pada makhluk lagi, hatiku sudah mantab memilih Allah.  Kemantaban hati inilah yang aku syukuri karena tidak mudah sampai di titik ini, datangnya pelan-pelan sekali, perlu waktu lama Allah memproses diriku, saking lengketnya hatiku ini pada orang-orang yang aku cintai.


Selama puluhan tahun hidup bersama dalam sebuah happy married, bayangkan betapa susahnya untuk tidak melekat pada makhluk yang berjudul suami itu.  Terkadang aku pilih sendirian beberapa hari, pisah rumah dengan suami, tapi ternyata bukan begitu caranya.  Fisik yang berjauhan belum tentu bisa menghapus kemelekatan, karena melekat itu letaknya di hati.

Saat perasaan lagi of dan kumat kerinduan dan kecintaanku pada pesona makhluk, aku mengembalikan hatiku pada penglihatan tembus, aku harus melihat Allah dominan sampai melihat dia adalah Allah.  Lalu hatiku spontan berucap,"Oh, ternyata yang aku cintai adalah Allah."

Di tingkat yang lebih tinggi lagi, ketika kemelekatan sudah terlepas, aku bisa merasakan bila sebenarnya aku tidak pernah terpisah dengan orang-orang yang aku cintai.  Bagaimana menjelaskan perasaan ini ya? Susah dijelaskan, tapi kayak perasaan Tuhan deh, diri sudah kecemplung di alam ilahiyah yang luasnya tak terperi itu, indah sekali.  Ya indahnya tak bisa dikatakan.  Kalau istilahnya Gus Son, itu alam akhirat, aku lebih suka menyebut alam ilahiyah.

Pokoknya kalian jangan mati dulu deh sebelum merasakan kecemplung alam ilahiyah ini.

Sabtu, 16 Mei 2026

Menjadi Dia

 Untuk ke sekian kakinya aku merasa menjadi 'dia' , yang aku maksudkan dengan 'dia' disini adalah merasakan menjadi orang lain.  Bukan perasaan empati seperti dalam pengertian orang-orang, tapi perasaan menyatu, seperti pengalaman Dr Lynda Creamer yang pernah aku ceritakan di seri Semesta Paralel.

Ada kesadaran kolektif yang menjadikan manusia bisa merasakan satu sama lain, ini seperti digambarkan Al Quran di Surat Al Hijr 47 dan Al A'raf 43 , " ... Dan kami lenyapkan rasa dendam yang ada di dalam dada mereka ..."

Sulit dijelaskan dengan kata-kata perasaan ini, sudah rasa di awang-awang dah, ringan, enak dan indah.

Baiklah aku coba menjelaskannya.  Bayangkan kalian punya tetangga atau teman yang njengkelin banget, berkali-kali membuatmu kesal dan marah.  Saking kesalnya kamu pada si orang ini, dengar namanya disebut saja sudah bikin kamu mual-mual.  Lalu kamu memasrahkan pada Allah perasaanmu itu, agar Allah membersihkannya.  Beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja kamu bisa merasakan menjadi dia, kamu ikut senang ketika dia senang, kamu ikut sedih ketika dia sedih, dan kamu tahu mengapa dia bersikap njengkelin yang membuat kamu memaklumi sikapnya.

Perasaan kamu di awang-awang, maksudku walaupun merasa menjadi dia, emosi kamu tetap stabil, kamu tidak terseret, tapi kamu memahami. Memahami kesedihannya tanpa terseret perasaan kelabu, perasaanmu tetap ringan yang lebih ringan daripada udara. 

Aku pakai istilahku sendiri untuk pengalaman semacam ini, yaitu "mengalami Al Quran".

Tetaplah berhati baik dan bersandarlah selalu pada Allah, karena semua yang dijanjikanNya di Al Quran, keindahannya  jauh melampaui yang bisa kamu bayangkan.


Jumat, 15 Mei 2026

Ego Orang Tua

 Tulisan ini menjawab kasus pembaca Innuri blog, tentang anak yang sering ribut dengan ibunya sendiri.   

Jadi begini, Sahabat.

Pesan Allah itu lebih banyak disampaikan lewat orang-orang terdekat, anak, pasangan, family, karyawan, pembantu, dsb.  Jadi jangan fokus di 'peristiwa'nya, tapi cari 'pesan yang tersembunyi'.

Misal, anak marah karena ibunya bercerita soal anak orang lain yang menurutnya baik, agar anak kita sendiri mencontoh.  Tak perlu tersinggung karena anak marah, cari akar permasalahannya, coba selami hati dan pikiran anak.  Anak marah karena dia tidak mau dibandingkan dengan anak orang lain, dia ingin dihargai dan diterima apa adanya.  Itulah sebabnya.  Coba kalian sendiri dibanding-bandingkan dengan orang lain, misalnya anak membandingkan kalian dengan orang tua temannya, bagaimana perasaan kalian?

Selanjutnya, pesan Allah apa?  Harus menyelam ke dalam diri sendiri, perasaan apa yang terbangkitkan saat anak protes?  Perasaan negatif yang muncul itulah yang harus diselesaikan.  Misal yang muncul perasaan nelangsa kok anakku begini, nggak mau tahu sama maksud orang tua.  Itu perasaan tidak terima, tidak menerima pemberian Allah, seolah-olah bilang 'mauku begini, mau Allah kok begitu sih?'.  Hati ibu yang protes terrefleksi ke anak yang protes.  

Penyelesaiannya bagaimana?  Ya menerima kehendak Allah dengan rasa syukur.  Kalau mau menerima kelebihan anak, ya musti menerima kekurangannya, begitu loh.  Sebagai ibu juga apakah sesempurna itu?  Harus disadari juga sebagai orang tua juga punya kekurangan.

Sumber dari segala masalah itu adalah EGO.  Ego sebagai orang tua yang merasa lebih tahu dari anak, sudah merasa melakukan yang terbaik untuk anak, sudah merasa mencurahkan segala kasih sayang, perhatian dan segalanya untuk anak.  Itu penyakit orang tua kebanyakan, Innuri juga nunjuk diri sendiri ini mah.

Jadi begini, jadi orang tua itu jangan merasa super deh, kita ini cuma lahir lebih dulu dari anak.  Lahir lebih dulu belum tentu lebih bijak, belum tentu tahu lebih banyak, belum tentu lebih pintar.  Anak-anak terlahir di jaman yang berbeda dengan jaman orang tuanya, jadi kadang orang tualah yang belajar dari anak.  Kita dilahirkan ke dunia ini untuk saling belajar satu sama lain kok.  Jadikanlah anak sebagai 'teman seperjalanan spiritual', posisi kita dan anak-anak kita di hadapan Allah adalah setara.

Rendahkan hati ya, Ibu dan Bapak yang sudah jadi orang tua. Tidak ada kata terlambat untuk berubah walau anak kita sudah jenggotan. 

Salam manis.

Kamis, 14 Mei 2026

Sederhana

Ada status yang menarik dari sahabat Fb-ku yang namanya Kang Awii. begini tulisnya:

Pola hidup sederhana itu menjaga eksistensi peradaban.. Nilai hidup sederhana menyebabkan orang untuk selalu bijak menggunakan sumber daya,.mengambil secukupnya dan menjaga kenyamanan lingkungan.  

Sebaliknya jika terbiasa hidup mewah dan nyaman menyebabkan kita kehilangan "kesanggupan menderita" , semangat berkorban untuk kenyamanan umum berkurang, sebaliknya akan menjadi cengeng dan mudah mengeluh. 

Mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan di keluarga akan semakin menguatkan daya tahan keluarga dalam menghadapi problem.  Nilai ini sangat relevan dengan slow living. Mindset,sederhana tidak identik dengan kekurangan, .ini pilihan gaya hidup yang rasional.

Inspiratif sekali bukan?  Perlu waktu untuk mencerna kalimat demi kalimat di atas.

Aku sendiri suka kesederhanaan karena sudah tertarik dengan tasawuf dan sufisme sejak masih SMP,  masih imut sekali.  Kuingat cita-citaku yang sederhana, hanya ingin menjadi ibu rumah tangga dan bahagia disamping suami, di saat anak seusiaku kepingin jadi guru, dokter, insinyur.

Aku amat terinspirasi dari kehidupan sederhana para sufi yang menjauhkan diri dari kemewahan agar hati tidak lalai dari Allah, karena dunia ini hanya tempat persinggahan sementara.

Hidup sederhana juga tidak membangkitkan rasa iri orang lain dan tidak membangkitkan kejahatan.  Walau masih ada saja orang yang iri dan rumah sederhanaku masih kemasukan maling beberapa kali sebagai teguran dari Allah karena hatiku yang belum bersih sepenuhnya.

Ya, hidup sederhana kelihatannya bikin orang gak gampang sombong dan membanggakan diri, tapi tunggu dulu.  Orang sederhana pun bisa terjebak kesombongan, lah apa yang disombongkan?  Ya kesederhanaannya itu! 

Ketika hidup sederhana tapi merasa itu karena usahanya untuk sederhana, itu pun kesombongan, apalagi karena merasa sudah peduli untuk tidak membuat rasa iri orang lain.  Apalagi kesederhanaan membuatnya memandang rendah kemewahan.  Musti kembali ke lahaulawala quwata illabillah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.  Mau hidup sederhana atau mewah, yang penting adalah 'setelan' di hati yang sadar bila semua itu adalah perbuatan Allah kepadanya.  

Dengan setelan hati yang benar, kita tak akan merendahkan siapa pun dan tidak punya alasan untuk menyombongkan diri.

Kesederhanaan bukanlah prestasi, juga bukan pilihan hidup, karena aslinya adalah pilihan Allah untuk kehidupanmu.

Memahabesarkan Allah

 Allah Maha Besar, coba rasakan ini dengan rasa. Merasakan kebesaran Allah, lalu perlahan-lahan kamu sadari bila selama ini ternyata kamu telah memahabesarkan dirimu sendiri dan persoalan hidupmu  sendiri. 

Dalam 24 jam, berapa persen kita gunakan untuk memikirkan persoalan diri sendiri, menunjukkan secara jujur arah hati kita, ternyata bukan pada Allah Yang Maha Besar. 

Ketika menyadari Allah Maha Besar, menjadi kecillah diri dan persoalan kita ini, terbungkus dalam kemahabesaranNya.

Selasa, 12 Mei 2026

Terimakasih, Sahabat Innuri

 "Hari gini nulis di blog?" tanyanya heran.  Dia masih muda, generasi millennial  yang butuh nasehat, lalu kusarankan membuka blogku, dan begitulah reaksinya.  Aku langsung merasa jadi 'manusia purba' ... haha.

Aku jadi penasaran, memangnya blogku ada yang baca?  Kalau ada, berapa biji sih?  Lalu iseng kubuka statistik di blog, kagetlah aku.  Tadinya kukira pengunjung Innuri blog ini paling banter puluhan, mengingat bila aku share link ke Fb, yang nge-like cuma beberapa biji saja,  itu pun sudah membuatku senang. 


Ternyata dalam seminggu terakhir, blogku sudah dikunjungi 9,99 ribu orang, angka cantik yaa, artinya dalam sehari sudah seribu orang lebih dong!  Kalau dikumpulin di rumahku sudah tak cukup nih, enaknya dikumpulin di mana ya? haha.

Untuk itu aku berterimakasih kepada sahabat Innuri yang rajin berkunjung ke blog ini.  Tempat aku berbagi cerita yang bisa dibawa pulang ke hatimu untuk lebih dekat dengan Allah.

Tanpa terasa sudah 16 tahun aku menulis di blog, selama itu aku pernah rajin sekali menulis hampir setiap hari, pernah juga mogok menulis sampai berbulan-bulan.  Saat tidak menulis lama, sampai ada yang mengkhawatirkan keadaanku.  Makasiiih, kalian sudah seperti keluarga bagiku.

Pernah juga tulisanku diserbu komentar pedas dan ada saja yang membelaku, sampai sekarang pun masih ada.  Semula nangis-nangis dong mendapat pengalaman seperti itu, sekarang sudah 'B saja' itu istilah Alni anak cantikku, maksudnya biasa saja.  Aku memaafkan mereka semua, karena aslinya mereka tidak paham dan mereka perlu tempat mengekspresikan isi hatinya.

Pernah juga aku diijinkan Allah mendampingi kalian yang sedang bermasalah atau yang sedang sakit, lalu tiba-tiba aku berhenti total karenaNya juga, tiba-tiba nggak bisa transfer energi, dicabut 'kesaktian'ku sama Allah seperti Gatotkaca ilang gapite ... haha.  Begitu penuh kejutan hidupku ini, untuk menyadarkan aku bila manusia itu cuma wayang ditangan Sang Maha Dalang.  Lalu beberapa waktu lalu, kembali bisa mendampingi kalian lagi.

Karena aku menulis runtut, tulisanku juga mengikuti perjalanan spiritualku. Semakin ke sini, semakin halus dan semakin susah dipahami, terutama yang aku tulis di tahun 2025 dan 2026.  Karena itu aku minta maaf bila agak sulit dimengerti dan malah bikin bingung.  Ada beberapa hal yang hanya bisa dipahami setelah mengalami sendiri.  InsyaAllah nanti kalian akan mengerti bila sudah mengalami.

Yang mengikuti Innuri blog dari lama, pasti sudah tahu kalau dari blog ini sudah lahir dua buku.  Buku pertamaku terbit di tahun 2018, Menciptakan Keajaiban Finansial, dulu didistribusikan Gramedia.  Ada sisa yang tidak terjual di rumah. hanya belasan biji saja, kujadikan giveaway buat kalian, tapi spesial buat yang amat membutuhkan saja ya,  bila tertarik silakan kontak ke Fb messenger atau IG Innuri Sulamono.  Gratis tentu saja.

Kalau buku kedua yang Energi Murni Alam Semesta, bisa diunduh gratis e-book Energi Murni Alam Semesta

Salam kasih.

Senin, 11 Mei 2026

Penyakit Bangga

Pernah merasa bangga pada diri sendiri? Merasa sudah bisa melewati berbagai hal berat, merasa pencapaian-pencapaian dalam hidup sudah begitu luar biasa?  Atau bangga pada orang-orang yang kamu sayangi?  

Ada sesuatu yang tersembunyi dari bangga, yaitu keakuan, merasa aku yang melakukan.  Padahal tanpa Allah, apa sih yang bisa kamu  dan aku lakukan?  

Rasa bangga itu dekat dengan kesombongan dan berpotensi merendahkan orang lain.

Kadang bangga juga dibungkus kata-kata yang religius, "Alhamdulillah, telah sampai di titik ini, semua berkat perjuangan yang tak kenal lelah, juga doa yang dilantunkan setiap malam."  Adakah yang janggal dari kata-kata itu?  Bagi orang awam mungkin tidak, tapi bagi orang spiritual, pasti tahu apa yang tersembunyi di balik kalimat itu.

Merasa telah berjuang / berusaha dan merasa telah berdoa hingga doa-doa dikabulkan.  Allah letaknya dimana? Di pengabul doa dan keinginan?  Allah bukan lagi Tuhan yang berperan di dalam seluruh kehidupan manusia.  Manusia dengan keinginannya yang dominan, Tuhan hanya sebagai 'mesin' pengabul keinginan.  Manusia merasa sebagai tokoh utama, padahal aslinya dia hanya wayang yang digerakkan sang dalang.

Bangga itu penyakit serius bagi seorang yang ingin selamat kehidupan akhiratnya.  Segeralah sadari bila kita manusia ini tak punya daya dan kekuatan selain dari Allah.

Terkadang rasa bangga itu menyusup begitu halusnya, dalam bentuk merasa diri lebih baik dari orang lain.  Ingat iblis terjerumus dalam kesesatan karena merasa lebih baik dari Adam. 

Cara melenyapkan rasa bangga yang paling efektif adalah dengan wushul, meniadakan diri, yang ada hanya Allah.  Lahaulawala quwataillabillah.

Sabtu, 09 Mei 2026

Melihat Allah

 Bila kamu sudah bisa merasakan semua sama, dualitas panas-dingin, gelap-terang, sehat-sakit, lapang-sempit, dll, kamu bisa merasakan semua itu sama, maka kamu sudah sampai di kesejatian. Itu berarti pandangan batinmu sudah melampaui fisik, sudah di ketinggian.  Ibarat kupu-kupu yang sudah meninggalkan kepompongnya.

Semua yang kamu alami dalam hidup, rasanya sama, rasanya tetap indah, tetap memukau, karena semua dari Allah. Karena kamu sudah bisa melihat Allah dominan, bukan Allah dibalik segala yang tampak, tapi Alllah yang tampak, sedangkan yang lainnya hanya bayangan. 

Pada awalnya memang perlu melatih untuk melihat tembus, dibalik makhluk ada Allah yang menggerakkan. Awalnya yang kamu lihat adalah makhluk, makhluk yang tampil duluan, menyusul kemudian pikiranmu memproses dibalik makhluk ada Allah.  Latihlah penglihatan tembus ini terus menerus sepanjang hari sepanjang hidupmu, tanpa menargetkan apa pun. 

Lalu lama kelamaan makhluknya tak tampak lagi, menjadi Allah saja yang kelihatan, makhluknya jadi terlihat hanya sebagai bayangan.  Allah yang tampak duluan.

 Saat inilah kamu tidak mengenal kesedihan.  Perasaan indahmu sudah melampaui kesenangan dan penderitaan, itulah kebahagiaan sejati. 

Proses ini berlangsung dengan lembut,  perubahan dari melihat "dibalik makhluk ada Allah", menjadi "Allah saja yang terlihat". Proses itu murni karunia, pemberian Allah, hadir begitu saja karena dihadirkan Allah. 

Terkadang untuk sampai pada "melihat Allah duluan" ini, terlebih dulu kamu mengalami guncangan dalam hidupmu mengenai orang-orang yang kamu sayangi atau apa pun yang kamu cintai. Bersyukurlah dengan ujian dariNya. Itu semata-mata untuk membuatmu paham. 

Yang terpenting bagimu sekarang adalah sengaja melatih hati, setiap hari, dengan sadar kamu memutuskan "hari ini aku sengaja melihat semuanya Allah". Jangan lupa hatimu harus selalu menyadari bahwa Allahlah yang menggerakkan hatimu. Jangan merasa berusaha, Allahlah yang menggerakkan keseluruhan dirimu. 

Hingga pada ujungnya kamu akan melihat semuanya Kasih Sayang. Kamu akan merasakan keharuan yang luar biasa. 

Jumat, 08 Mei 2026

Menghentikan Perang

 Seseorang bertanya padaku, "Bagaimana menghentikan perang? "

Jawablah pertanyaanku. Apakah kamu punya musuh?  Apakah kamu punya kebencian? 

Apakah kamu punya musuh? 

Bila jawabanmu tidak, kamu keren. Ya, kamu tidak punya musuh, tapi orang-orang itu memusuhimu dengan sebab yang tidak jelas. 

Bila jawabanmu ya, siapa musuhmu? 

Tahukah bila musuh terbesarmu adalah hawa nafsumu sendiri yang sudah seperti kuda liar. Untuk menundukkannya perlu kesadaran dan memasrahkannya pada Tuhan. 

Apakah kamu punya orang atau sesuatu yang kamu benci? 

Bila jawabanmu tidak, kamu keren.  Hati yang kotorlah yang bisa membenci. Kalau hatimu bersih, kamu tak akan sanggup membenci siapapun dan apapun. 

Ya, aku benci kebohongan, kemunafikan, penjajahan, kekerasan, kesewenang-wenangan, kesombongan, dll.  Bagus sih membenci sesuatu yang negatif, tapi apakah dengan membenci membuatnya berubah?  Atau kebencian itu membuang energi saja? Melelahkan bagi dirimu sendiri sementara dunia tidak berubah. 

Terima saja segalanya sebagai bagian dari tarian semesta. Segalanya dari Tuhan, sudah tertulis. Kamu hanya perlu menggoreskan warna terindah bagi jiwamu. Mengurus sesuatu di dalam dirimu itu lebih penting. 

Jadi bagaimana menghentikan perang? 

Sayangku, peperangan yang terjadi di muka bumi ini hanyalah refleksi dari peperangan di dalam diri seluruh penduduknya. 

Untuk menghentikan perang di luar, ya hentikan peperangan di dalam dirimu.  Ketika hawa nafsu sudah tunduk pada hati nurani, kamu akan merasakan damai, .  Kedamaian hatimu akan memancar membentuk kenyataan.

Kedamaian hati itulah sumbangsih terbesarmu untuk menghentikan perang. 

Berarti perang tidak bisa dihentikan dong, karena tidak semua orang berhati damai? Tak perlu semua orang katanya,  cukup tiga setengah persen orang berhati damai bisa memengaruhi kedamaian secara global.  Itu hasil penelitian Erica Chenoweth Dari Harvard Kennedy School.  Mungkin penelitian itu tidak merujuk pada kedamaian hati yang aku maksudkan, tapi tetap saja kedamaian hati itu memengaruhi dunia secara quantum.

Tak perlu memikirkan perang di luar sana. Pikirkan saja peperangan di dalam dirimu sendiri, menangkan hati nuranimu yang penuh kasih. 

Juga tak perlu membenci perang, karena itu bagian dari skenario Allah untuk memberi pelajaran bagi umat manusia. 


Kunci Surga

 Semakin ke sini semakin banyak yang paham bila akhirat, surga dan neraka itu sudah bisa diakses sejak di dunia ini.  

Akan tetapi orang mengartikannya, kalau hatimu damai, senang dan bahagia, itulah surga. Kalau hatimu sumpek, panas, terbakar marah atau cemburu, itulah neraka.  Pemahaman seperti ini tidak bisa disalahkan, wong belum ke akhirat beneran. 

Lah surga dan neraka versi akhirat bagaimana? Ya tidak bisa dideskripsikan.  Nabi Muhammad membuat perumpamaan, celupkan jarimu ke laut, maka air yang menempel di jarimu itulah dunia, sedangkan air yang terbentang bersuka ria di lautan itulah akhirat. Jauh sekali 'kan bedanya? 

Kebanyakan orang juga menganggap surga itu di atas sana, di tempat yang tinggi sekali. Padahal surga itu dekat, bersentuhan dengan dunia kita sekarang, hanya beda "frekwensi", maka kita tak bisa seenaknya mengakses masuk ke sana. 

Alam dunia yang kita huni ini baru kulit terluarnya, yang gampang goyah, bukan kehidupan yang sebenarnya.  Alam akhirat itu inti, itulah kehidupan yang sebenarnya. 

Selama ini kita pahami bila inti itu berada di tengah dan ukurannya lebih kecil. Nah di dunia quantum, berlaku kebalikannya. Inti itu lebih gede (ibarat lautan tadi loh) yang menyelimuti ilusi ( ibarat air yang tertinggal di jemari). 

Jadi sebenarnya akhirat itu dekat, kalau ingin mengaksesnya ya musti pegang kuncinya. Kuncinya apa? Laillahaillallah, tiada Tuhan selain Allah dalam arti Tauhid yang semurni-murninya. 

Saat kamu meniadakan semua, termasuk meniadakan diri sendiri, berhenti melekat pada dunia dan seisinya, berhenti menginginkan makhluk termasuk surgaNya, hanya Allah yang kamu lihat. Sudah, kamu tak terdefinisikan. 

Pengalaman "dicemplungin" ke ketidakberhinggaan itu memang luar biasa tapi tak bisa diulang di memori, pokoknya ya luar biasa thok wes. Setiap orang yang pernah ke sono pasti kepingin ke sono lagi. 

Sayangnya, ketika menginginkan masuk ke sono lagi, hati malah kacau. Inilah pelajaran berharga yang kutangkap.  Ketika aku menginginkan surga, aku malah kacau . Jadi inginkan Allah saja. 

Jangan beribadah untuk surga, dijamin kamu kecele. Surga itu makhluk. Persembahkan hidup dan mati untuk Allah saja ya. 

Kamis, 07 Mei 2026

Makin Tua Makin Banyak Masalah?

 "Kupikir semakin tua, masalah akan semakin sedikit, ternyata semakin banyak, " katanya.  Aku menatapnya heran, mungkin karena aku merasa tidak seperti itu. 

"Itu karena Allah ingin kita lebih bijak, " kataku. 

Adakah yang merasa seperti temanku itu, makin tua makin banyak masalah? Yuk kita nikmati teh dan ubi panggangnya. 

Kalau kata penganut stoic, masalah itu cuma dua, yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan.  Jangan urusi sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.

Reaksi kita terhadap masalah itulah yang bisa kita kendalikan. Jadi ya fokus ke dalam. Tenang, itu hanyalah peristiwa. Manusia tidak disiksa oleh peristiwa, yang menyiksa manusia adalah pikirannya tentang peristiwa itu. 

Sekarang pindah ke Hawai lewat ho'oponopono, kalau ada masalah,ucap terimakasih (bersyukur), karena itu membuka kesempatan untuk membersihkan diri lewat memohon ampun pada Tuhan sampai keluar rasa cintamu kepada Tuhan. 

I'm sorry, please forgive me, thank You and I love You. 

Kalau kata sufi, dibalik semua itu Allah yang menggerakkan, pasti ada hikmah dan pelajarannya. 

Kalau kata teori semesta paralel, block universe, kehidupan ini sudah ada kisahnya dari awal sampai akhir, cuma kita berada di scene yang mana dulu. Semuanya sudah ter skenario dengan rapi.  Seperti keyakinan orang Islam bila semua sudah tertulis di lauhulmahfuz.  Jadi ya dijalani saja dengan bahagia.

Kalau yang tertulis di Al quran, kehidupan di dunia ini bukan kehidupan yang sebenarnya, di sini hanyalah permainan dan senda gurau. Jadi jangan terlalu dipikirin, yang dipikirin itu kehidupan yang sebenarnya atau akhirat.  

Kalau kata Innuri. Masalah itu bagian dari proses pendewasaan spiritual, berarti datangnya masalah ya dirayakan saja. 

Kalian pilih cara yang mana dalam menghadapi masalah? 

Selasa, 05 Mei 2026

Memaknai Luka

 Bagaimana kamu memaknai luka? 

Kemarin aku  nangis beneran cuma gara-gara telunjuk teriris pisau masak. Perih banget dan darahnya ngucur. Suami sampai buru-buru keluar kamar mandi dengar aku nangis. Langsung dihansaplast agak ketat agar darah brenti ngucur. Aman. Alhamdulilah.

Siangnya aku lihat bayangan darah di hansaplast, aku mau ganti saja, pikirku. Eh begitu dilepas, darah ngucur lagi, sambil nangis masang hansaplast sendiri, sampai dua kali ganti baru bener. Aman, tapi nangis lagi karena ingat Allah, karena ku tahu sebenarnya peristiwa ini ada pelajarannya. 

Kepedihan luka mengajarkan untuk berhati-hati, untuk melindungi dari luka yang lebih parah. Agar manusia paham bila perlakuanNya adalah karena kasih sayang. 

Manusia tak perlu memikirkan kerumitan proses biokimia penyembuhan luka di dalam tubuhnya sendiri, luka itu pun sembuh, dan itu berlangsung terus menerus.

Bahkan luka hati pun Allah menyiapkan pencegahannya, yaitu jangan mencintai selainNya. Jangan mencintai dunia, itu hanya permainan dan senda gurau, itu bukan kehidupan yang sebenarnya.  Karena segala sesuatu selain Allah berpotensi menyakiti. 

Kehilangan harta, tahta dan pasangan, itu amat menyakitkan.  Tapi kamu tak akan pernah kehilangan Allah. 

Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, yang manusia pikir terjadi setelah kematian. Tidak. Kamu akan merasakannya di dunia ini ketika cintamu pada dunia dan seisinya runtuh. 

Jangan melekat pada sesuatu selain Tuhan. Justru ketika kamu tidak melekat, kamu akan merasakan tidak pernah terpisah dengan apa pun dan siapa pun yang kamu cintai. 

Kamis, 30 April 2026

Amor Fati

Rukun iman yang ke enam adalah percaya pada takdir atau ketentuan Allah. Bila iman itu mendamaikan dan membahagiakan manusia, maka kutemukan makna yang lebih mendalam dari rukun iman yang ke enam ini pada amor fati. 

 Amor fati, sebuah ajaran Stoisisme, yang artinya mencintai takdir.  Dulu kupahami sebagai mencintai takdirku sendiri.  Aku menerima apa pun, yang sudah, sedang, dan akan terjadi, tidak menginginkan sesuatu berbeda dari yang aku alami.  Aku sadar semua itu penting dalam proses spiritualku.  Tidak ada penyesalan atas apa yang sudah berlalu, tidak ada kekhawatiran akan masa depan, dan menikmati hari ini dengan bahagia.

Aku merasa sudah di titik itu, sampai aku sadari bila itu belum cukup.

Ketika batinku menangis melihat seorang kakek tua mendorong gerobak jualan, tanpa tahu bagaimana menolongnya.  Aku menyalahkan sistem, yang di dalam UUD 45 tertulis 'fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara', tapi ....  Batinku protes pada keadaan.  Juga ketika hukuman pada Pak Nadhim Makarim ditetapkan yang menurutku amat dibuat-buat. 

Kuingat ajaran stoic yang lain, fokus pada hal yang bisa kita kendalikan, bukan pada yang tidak bisa kita kendalikan.  Masuk akal, daripada memboroskan energi untuk sesuatu yang tidak bisa kita ubah. 

Bila di dalam Al quran, semua yang terjadi adalah skenario Allah, maka apakah aku merasa lebih tahu dan lebih pintar dari Dia sampai protes ini itu?   

Sesungguhnya yang aku lihat hanyalah permukaannya, hakekatnya aku sungguh tidak tahu.  Ingat kisah Nabi Musa dan Nabi Khaidir di dalam Al quran. Kesalahan Nabi Musa dibuka dengan gamblang. Mengingatkan manusia bila penilaian dari sesuatu yang terlihat mata itu bukanlah kebenaran.

Hidup, mati, cara hidup, dan cara mati, semua sudah dalam rancangan terbaikNya.  Inilah makna iman itu.

Setelah merenungkan itu, pemahamanku mengembang, setelah mencintati takdir diriku, aku mencintai takdir orang-orang yang kucintai.  Lalu mencintai takdir semua orang, berkembang lagi mencintai takdir negri ini dan takdir dunia ini.  Setelah selesai, aku seperti punya sayap, terbang mengangkasa, pandanganku menjadi luas.  Pemahaman-pemahaman baru bermunculan di hatiku.

Apa pun yang terjadi di dalam atau di luar diriku, di alam semesta ini, adalah sebuah orkestra kehidupan.  Kini aku memeluk semuanya, aku mencintai semuanya. Batinku damai karena menyandarkan hati padaNya. Aku percaya penuh kebijaksanaanNya. 

Rabu, 29 April 2026

Kapan Dunia Ini Runtuh?

 Kapan dunia ini runtuh? Kapan kehancuran alam semesta terjadi?

Di kitab suci dikatakan bila  kehidupan akhirat itu terjadi setelah dunia ini runtuh kan?  Kalau secara sains terjadinya bisa milyaran sampai trilyunan tahun ke depan.

Akan tetapi, di kitab suci sudah diceritakan tentang kehidupan akhirat, juga tentang kiamat. Bahkan secara rinci diceritakan tentang surga dan neraka. Ulama menafsirkan bila semua sudah ada saat ini, 

Ingat salah satu hukum di dalam fisika quantum, teori block universe, bahwa waktu tidak mengalir, melainkan seperti roll film yang semuanya sudah terjadi di dalam sebuah "file".  Innuri sudah menuliskan ini di seri Semesta Paralel.  Yang berarti apa yang tertulis di kitab suci memang benar, akhirat sudah ada saat ini.

Dalam kajian Gus Mukhlason Rasyid, beliau mengatakan  ketika dunia sudah runtuh di hati seseorang,  maka orang itu sudah bertemu dengan akhirat dan memasuki surgaNya.  Itu bisa terjadi di dunia saat ini.

Pertanyaannya adalah kapan nih dunia kita runtuh selagi masih hidup saat ini? Ceritanya aku sedang mencari cara bagaimana kesadaran ini bisa 'on' terus.

Untuk itulah Innuri mau bocorin cerita yang malu-maluin ini. 

Kan Innuri cukup sering tuh dicemplungin ke semesta lain yang indah-indah. Ujung-ujungnya jadi ketagihan masuk ke sana lagi. Jadi sedih ketika tidak bisa melihat hal-hal indah itu, sampai kubertanya pada Allah,"Bagaimana sih caranya menjaga perasaan terus bersamaMu saja, ya Allah?"  Pertanyaannya seperti itu, tapi Allah tahu saja bila sebenarnya di hatiku ada tersembunyi rasa ingin  selalu bisa melihat segala keindahan itu, yang disebut surga itu.

Tanpa aku sadari, arah batinku telah bergeser, dari ingin bersama Tuhan untuk Tuhan, menjadi ingin bersama Tuhan untuk surgaNya.   

Innuri salah arah. 

Bahkan orang yang pernah mengalami wushul pun bisa kena jebakan betmen. 

Betapa halus jebakan ini. Super halus sekali. 

Jadi. 

Paradoks di dunia spiritual itu nyata.  

"Ketika kamu menginginkan, kamu akan kehilangan.  Ketika kamu kehilangan, maka kamu memiliki"  Paham 'kan maksud dua kalimat ini?  Seperti yang terjadi pada Innuri, ketika Allah yang diinginkan, keindahan itu Allah hadirkan.  Namun ketika keindahan itu yang diinginkan, keduanya melayang.

Sudahlah Innuri, saat bersama Allah apakah kamu merasakan kedamaian? Iya 'kan?  Apakah rasa damai itu tidak cukup bagimu?  Cukup.  Cukuplah Allah bagiku.

Ketika aku merasa cukup dengan Allah, rasanya aku mendengar sesuatu yang sangat indah, sesaat, hanya sesaat.  Itu nyanyian surga, nyanyian yang tidak pernah terdengar di dunia ini.  Lagi-lagi Innuri mengalami 'mendengar tapi tidak mendengar'.  Hore!  Aku kecemplung lagi!

Tapi bukankah Innuri sudah tiada?  Jadi bukan Innuri yang mendengar, tapi Allah. Oh, akhirnyaaa ... perasaan indah itu hadir lagi.

Kembali ke pertanyaan, kapan dunia ini runtuh?  

Jawabannya adalah, tak perlu dipikirin! Fokus saja ke Allah, jangan mau diiming-imingi apa pun selain Allah walau Innuri yang ngiming-imingi.

Salam kasih. 

Selasa, 28 April 2026

Serambut Dibelah Tujuh

Seseorang memuji, bilang selalu membaca tulisanku. Aku jawab begini, "Makasih sudah menyukai tulisanku, aslinya bukan aku yang menulis, Allah yang menggerakkan aku untuk menulis. "  

Sebenarnya aku mau bilang, "Allah yang menulis. " Tapi kok kelihatannya terlalu 'ekstrim' untuk dia. 

Lalu dia menjawab, "Ya saya paham, saya juga seperti itu, hanya sebagai media. " 

Sekarang mari kita kupas dari ilmu Tauhid. Benarkah pernyataan 'manusia sebagai media' ?  Ingat ya, kita bahasnya dari sudut pandang ketauhidan alias keesaan Tuhan. 

Bila manusia sebagai media penyampai pesan Tuhan, berarti ada media dan ada Tuhan.  Ada Tuhan yang menggunakan manusia sebagai media untuk menyampaikan pesan ke masyarakat manusia. Begitu 'kan? 

Ada sisi manusia ada sisi Tuhan, berarti keduanya terpisah.  Sedangkan Tuhan itu lebih dekat dari urat leher manusia (Qaf 16), yang artinya menyatu.  Itulah maksud keesaan Tuhan, Tuhan tidak terpisah dengan makhluk.  Akan tetapi makhluk bukan Tuhan. 

Sering aku bilang, jangan pisahkan makhluk dengan Tuhan, itulah tauhid yang sebenarnya. Jadi .... 

Kalian yang belum sampai pada pemahaman ini pasti bingung. Berarti Tuhan banyak dong. 

Banyak tetapi satu. 

Begitulah kebenaran terdalam selalu menyimpan paradoks.  Membingungkan bagi yang masih awam, tetapi jelas bagi yang sudah mengalami.

Perasaan menyatu dengan Tuhan itulah kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai manusia.   Aku yang masih on of di perasaan itu sangat tahu bedanya.  Betapa tidak enaknya perasaan terpisah dengan Tuhan, selain mudah terseret emosi negatif, juga seperti turun ke frekwensi yang penuh kebisingan. 

Bersama Allah itu tenang, damai, melihat segalanya dengan bening. Seperti berada di ketinggian dan semuanya terasa indah dan jernih sekali.  Saat bersama Allah, seakan melihat makrokosmos di dalam mikrokosmosku.  Melihat lapisan-lapisan semesta di saat yang bersamaan dengan perasaan takjub. 

Surga itu tidak jauh, dia ada di tempat ini saat ini, hanya kalian tidak melihatnya. Kalau kalian melihatnya, kalian akan rela menukar apapun yang kalian miliki untuk berada di dalamnya. 

Ketika dunia ini runtuh di mata manusia, saat itulah diperlihatkan semesta surgaNya.  Makanya jangan terlalu memuja dunia, dunia ini ilusi yang kuat, tapi tetap harus ditempuh sampai tamat. 

Ketika semesta ilusi runtuh, yang tampak adalah semesta kesejatian.  Perjalanan ke sini memang penuh halangan dan rintangan, hanya kasih sayang Allah yang bisa menyampaikanmu ke sini. 

Kamu hanya perlu memilih, pilihlah Allah tanpa ragu sedikit pun.  Katakan kamu bersedia diperjalankan Allah menuju menyatu denganNya.  Bersandarlah terus padaNya.  Terima setiap hal sebagai langkah-langkahmu menujuNya. 

Pernahkah kamu mengalami lucid dream yang indah? Atau spiritual dream yang di dalamnya kamu melihat pemandangan yang tidak pernah kamu temukan di dunia ini? 

Surga itu terjadi saat bersamaNya, karena mataNya menjadi matamu, penglihatanNya menjadi penglihatanmu. Seperti sebuah lucid dream, tetapi dialami saat terjaga. 

Sekali saja kamu mengalami keindahanNya, kamu akan terus merindukanNya. 

"Ini Allah, bukan Innuri." itu berbeda sekali dengan "Ini bukan Innuri, tetapi Allah. "  Sekilas tampak sama, cuma kata yang dibolak-balik. Tetapi itu jauh berbeda. 

"Ini Allah, bukan Innuri, " Allah duluan yang disebut, makhluk Innuri sudah lebur di dalamNya, makhluk-makhluk lain pun lebur di dalamNya. 
"Ini bukan Innuri, tetapi Allah, " Innuri merasa sudah tiada, yang ada hanya Allah.  Ada ego yang setipis serambut dibelah tujuh.  Innuri merasa sudah berusaha untuk fana, ada "Innuri yang berusaha", ada potensi merasa lebih tinggi dari orang lain yang belum merasakan ketiadaan diri. 

Sejatinya manusia itu tidak bisa berusaha, lahaulawalaquwataillabillah. Jangan merasa sudah berusaha, kasih sayang Allahlah yang bekerja. 

Berusaha tanpa berusaha. Kembali bermain paradoks. 

Begitulah, semakin ke sini semakin halus, sehalus serambut dibelah tujuh. 

I love You. 

Senin, 27 April 2026

Menampar Rasa Iri

 Seorang sahabat memintaku menulis untuk menampar rasa iri dan dengkinya terhadap seseorang.  Bukan kali ini saja dan bukan dia saja dengan kasus serupa. Jadi mari kita nikmati teh dan gorengannya ya.

Dari mana datangnya iri dan dengki itu?  Yuk pintunya ditutup dulu ah, biar mereka nggak masuk. 

Pintu pertama.

Adalah suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. " Aku yang soleh dan lurus-lurus saja kok dikasih kesulitan, sana yang sombong dan begajulan hidupnya begitu mudah."  Mungkin begitulah kira-kira.

Bagaimana bila membandingkan dalam konteks bersyukur?  Maksudnya melihat ke bawah lalu merasa bersyukur dengan kemudahan yang diberikan Allah?  Bersyukur di atas penderiaan orang lain dong. Oh kejamnya dikau, teganya dikau ... (baca sambil nyanyi ya, itu lagunya Diana Nasution, you know?)

Jadi tak perlu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain, masing-masing punya PR sendiri-sendiri. 

Pintu Kedua.

Kurang kerjaan.  Karena terlalu nganggur pikirannya, jadi kemana-mana deh.  Tapi menyibukkan diri biar nggak ngurusi orang lain juga cuma jadi pengalihan sesaat, tapi bisa membantu untuk sementara. Jadi kalau nganggur, pakai zikir sirrur asror saja atau zikir fana.

Pintu Ketiga. 

Merasa memiliki.  Ini milikku, itu milikmu, sini miliknya, dsb.  Semuanya itu milik Allah.  Merasa dipinjami Allah juga kurang tepat, ntar jadi membandingkan lagi, kok sana dipinjami banyak, aku sedikit, kambuh iri lagi.  Yang benar merasa apa dong?

 Pintu Keempat.

Merasa ada.  Inilah akarnya akar masalah dari semua masalah.  Merasa dirinya ada dan hidup, itulah masalahnya.  Yang ada dan hidup hanya Allah.  Bila sudah bisa merasa tidak ada, yang ada hanya Allah, sudah beres kalau begini, semua masalah juga beres.

Jurus Pamungkas. 

Saat hati merasa iri, disadari saja, manusia tidak bisa mengelola perasaan dan pikirannya sendiri. Allahlah yang membolak balik hati manusia.  Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.  Sadari dan pasrahkan, agar Allah menata hatimu.  Bila hatimu sudah damai dan tidak ada lagi rasa negatif, sadari bila itu bukan usahamu, itu karunia dari Allah.  

Begicuuuu. 

 

Minggu, 26 April 2026

Semesta Paralel ( 10 )

 Semakin kusadari, banyak kode-kode rahasia tersembunyi di dalam Al Quran, yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu yang dipilih Allah.

Orang yang dipilih Allah itu siapa? Tak usah menunjuk orang lain, bisa jadi dirimu sendiri.  Tapi S&K berlaku ya, Al Waqiah 79, yaitu suci batinnya, tidak ada rasa iri dengki protes marah dan najis-najis batin lainnya.

 Jadi mari buka Al quran dengan semangat baru, membuka kode rahasia alam semesta.

Innuri lagi membuka kode di Surat An Najm nih, aku pilih yang ada hubungannya dengan semesta paralel.

- ayat 24, 25 mengatakan Milik Allahlah kehidupan akhirat dan dunia, manusia tidak mendapat apa pun yang diinginkannya.  

Akhirat disebut duluan daripada dunia, ini artinya apa?   Karena kehidupan akhirat itu lah kehidupan yang sebenarnya, dunia itu bukan kehidupan yang sebenarnya. Boleh kalian artikan sesuka hati asal hatinya terhubung dengan Allah. 

Milik Allahlah, yang berarti kalian harus wushul dulu untuk mendapatkan kehidupan akhirat dan dunia. Manusia harus meniadakan 'aku' nya,  sehingga yang ada hanyalah Allah.  Manusia yang masih menjadi manusia tidak akan mendapat apa pun, camkan ini ya!  Manusia harus tiada dulu, sehinga yang ada hanya Allah.  Kemanusiaannya sudah berubah menjadi keilahian. 

Manusia yang semasa hidup di dunia kaya raya, nanti matinya juga nggak bawa apa-apa.  Kalau setelah matinya juga nggak dapat apa-apa ya kasihan deh mereka.  Jadi jangan sampai menimpa kita yaaa, ayo kita wushul berjamaah.

- ayat 39, 40, 41 usaha manusia di dunia akan diperlihatkan di akhirat.

Ini menarik. Selama ini kita maknai apa ayat ini?  Bukankah jelas sekali bila di akhirat nanti, seluruh kehidupan kita di dunia yang berupa 'roll film' itu akan dipertontonkan pada kita.  Seperti tulisanku di Semesta Paralel ( 9 ) 

- ayat 47  Bahwa sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain.

Ayat ini dengan bantuan ilmu fisika quantum, teristimewa tentang semesta paralel, sudah jelas bila Allah juga menciptakan semesta yang lain.  Satu jiwa multisemesta itu ternyata ada kodenya di Al quran.   

Jadi apa yang bisa kita usahakan di dunia ini adalah menata kesadaran untuk kembali kepada Allah seutuhnya, dalam arti hilangnya keakuan diri, sehingga yang ada hanyalah Allah.  Aku, kamu, alam semesta ini, yang nyata terlihat hanyalah Allah.

Semesta Paralel ( 9 )

 Seorang sahabat memberiku link video tiktok tentang semesta paralel yang penjelasan di dalamnya amat sederhana dan mudah dipahami.

Disclaimer dulu ya, apa yang Innuri tulis di bawah ini sudah aku cocokkan dengan ayat-ayat Al quran, dipadukan dengan pengalaman ESP (extra sensory perception).  Ini bukan tulisan ilmiah.  Semata-mata bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.  Untuk memahami tulisan ini, sebaiknya baca di tulisan sebelumnya tentang semesta paralel.

Bayangkan kehidupan ini seperti roll film, masa lalu, masa sekarang dan masa depan sudah lengkap berada di dalamnya.  Yang berarti masa lalu, masa sekarang dan masa depan itu sudah ada di 'tempat' yang sama.  Hanya saja kita sedang menonton masa sekarang saja, tanpa bisa mem-pause (menghentikan beberapa saat), me-rewind (memutar balik) atau me-fast forward (memutar maju ke dapan dengan cepat).  

Seperti saat kita sedang menonton film di televisi, tak ada yang bisa kita lakukan, karena programnya sudah disetel dari stasiun televisi sono dan kita hanya bisa menikmatinya saja. Itulah ibarat kehidupan kita di dunia ini.  

Di dalam Al quran disebut semua kejadian di muka bumi ini sudah tertulis, buka sendiri ayatnya ya. Al Qamar 53, Al Hadid 22, Al An'am 59. 

Sekarang bandingkan dengan saat menonton film di youtube yang dengan remote kontrol di tangan, kita bisa memutar balik, menghentikan lalu keluar dari film dan memutar film lain, atau memutar ke depan dengan cepat ke bagian akhirnya langsung.  Dengan remote kontrol di tangan, kita bisa menikmati adegan yang kita mau, yang paling kita sukai.  Banyak pilihan tersedia, jenis film apa saja ada.  Cara menikmatinya pun bebas, mau diputar sampai selesai, mau berhenti di tengah-tengah, mau pilih adegan ciumannya doang ... haha.  Pokoknya bebas. 

Sudah terbayang 'kan?  Sekarang bayangkan bila kita bisa seenaknya sendiri memutar kehidupan kita, memilih mau hidup di mana, dengan siapa, berapa lama hidup di situ.  Lalu bisa keluar dari semesta kehidupan yang satu untuk berkunjung di semesta yang lain.  

Sekarang renungkan tentang Al Quran. Tertulis bila di dalam Al quran Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.  Kenapa Allah membuat perumpamaan?  Agar manusia mengerti.  Lantas apakah perumpamaan itu sama dengan yang diumpamakan?  Tidak sama tetapi sama, sama tetapi sangat berbeda. Bermain paradoks lagi,

Bila kehidupan di dunia ini adalah permainan dan senda gurau, sedangkan kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.  Maka itulah makna kehidupan yang sebenarnya, ketika remote kontrol sudah berada di tangan kita.  Lalu tersedia "channel-channel" semesta surga yang bisa kita masuki. 

Berapa channel yang Allah berikan ke tangan kita? itu tergantung dari perbuatan kita di dunia.  Ada yang bisa masuk ke semesta surga mana saja, ada yang tidak.

Itu semua menjawab pernyataan ini : 

Badanku tertawa lalu bilang,"Itulah kamu, kamu merasa terpisah. Badanmu ini tidak pernah berpisah denganmu walaupun kamu mati.  Jiwa kamu lepas dari tubuh, tapi pada saat itulah kamu benar-benar menyatu dengan tubuhmu."  kutipan dari tulisan Ketika Badan Bicara Kematian

Jiwa lepas dari tubuh, yang di saat bersamaan keduanya benar-benar menyatu.  Membingungkan sekali 'kan?  Maksudnya adalah, ketika kita mati fisik dan matinya dalam keadaan menyatu dengan Allah alias wushul, maka kita auto dapat akses "remote kontrol akhirat"  Kita bebas mau memilih tubuh di semesta mana pun, di waktu mana pun, di lakon kehidupan mana pun.

Innuri bisa ngomong begini karena pengalaman dimasukkan ke semesta-semesta yang lain itu, yang pernah aku tuliskan di tulisan terdahulu.  Itu indahnya tidak terkira yaa teman-teman.  

Kehidupan di dunia ini dengan segala permasalahannya itu tidak usah dipikirin deh! Karena skenarionya sudah tertulis secara utuh sampai kita nanti mati.  Kamu tidak bisa lepas dari skenario itu, jadi tak ada gunanya dipusingkan.  Diterima, dinikmati saja setiap momennya.  Yang bisa kamu usahakan adalah kembali seutuhnya kepada Allah, itulah yang terpenting!  Kamu wushul, kamu mati sebelum mati beneran. Sudah tahu kan apa itu wushul?  Dirimu tiada, yang ada hanya Allah.

(bersambung) 

 

Sabtu, 25 April 2026

Kejadian Batin Penyingkap Rahasia

Kesan kamu pada perilaku seseorang, bukan mencerminkan orang itu sepenuhnya, itu lebih mencerminkan dirimu sendiri.

Lima orang jomblowati melihat seorang lelaki yang cukup menarik lewat di depan mereka.

Yang pertama bereaksi cepat dengan mata yang berbinar-binar lalu ngomong, "Ganteng amat." 

Yang kedua menimpali, "Ganteng kalau nggak ada duitnya mah buat apa."  

Yang ketiga ngomong,"Kulihat dia penyayang, kebapakan, type family man."

Setelah mengobservasi sosok itu lebih lama, yang keempat ngomong,"Sorot matanya menunjukkan dia orang yang cerdas, kusuka."

Yang kelima melihat sekilas, terkesan cuek, lalu bilang,"Kayaknya orangnya nggak religius, jangan-jangan sukanya ...." 

Nah, kalian bisa menyimpulkan sendiri 'kan? Siapa yang sedang mereka bicarakan, aslinya tidak membicarakan lelaki itu, tapi sedang membicarakan diri mereka sendiri.  Paham 'kan?

Yang bilang ganteng menggambarkan dirinya yang suka penampilan fisik. Yang ngomongin uang menunjukkan dirinya matre. Yang bilang family man dan cerdas menunjukkan seleranya akan pasangan idaman. Yang bilang tidak religius menunjukkan dangkalnya pemahaman akan ukuran religius dari penampilan dan mudahnya dia menuduh orang suka berbuat negatif hanya dari penglihatan sesaat. 

Begitupun yang terjadi pada diri kita setiap hari.  Ada orang datang dalam kehidupanmu, kesan kamu terhadapnya bukan mencerminkan orang itu apa adanya, melainkan cerminan dirimu sendiri.

Kejadian di dalam batin saat ada orang atau peristiwa terjadi, itu penting banget untuk disadari, dari situ kita bisa 'bersih-bersih' dengan kasih sayangNya.

Misal, ketika ada seseorang datang, kamu mencurigainya, jangan-jangan dia mau nipu aku.  Ini berarti ada peristiwa 'ditipu orang' yang belum kamu maafkan, belum direlease istilah populernya, jadi ada yang membebani hati, ada ketakutan tertentu yang minta untuk diselesaikan.

Bagaimana cara menyelesaikan isyarat dari batin ini? 

Amati saja setiap "kejadian batin" secara jujur, disadari, sampai menemukan O dalam diri kita. 

"O, ternyata aku ini matre yo?" 

"O, ternyata aku masih ketempatan rasa iri dan dengki to?" 

"O, ternyata aku masih gampang terseret emosi. " 

dll. 

Semua itu cukup disadari, lalu pasrahkan Allah agar Allah yang mengarahkan isi hati dan pikiranmu. 

Mudah bukan? Simple but not easy ... hehe. Harus menyadari bila kita manusia selemah itu, tidak bisa mengendalikan hati dan pikiran kita sendiri, makanya harus dipasrahkan Allah.  Nanti lihat dan rasakan saja, perubahan di hati dan pikiranmu, lebih ringan dan tertata.  Ikuti saja prosesnya, kadang perubahan ini cepat, kadang juga perlu waktu berhari-hari, berbulan-bulan.  Kadang perlu ada kejadian batin lagi dengan pengulanan yang sama, menandakan bila batin belum sepenuhnya bersih, terus disadari dan dipasrahkan Allah, itu saja sampai seterusnya, selama hidup di dunia ini.

 

 

Kamis, 23 April 2026

Link E-book Energi Murni Alam Semesta

 Silakan bisa diunduh gratis link di bawah ini.Energi Murni Alam Semesta

Semoga bermanfaat.

Ketika Badan Bicara Kematian

 Kemarin dalam perjalanan dari Ngantang ke Pakis, aku tertidur di daerah Batu, lalu terbangun di Dinoyo.  Saat terbangun, terdiam beberapa saat, tiba-tiba ada yang berbisik di hatiku, "Aku bukanlah badan ini."  Bisikan yang kuat sekali, sampai aku seperti merasa, "Apa sudah dekat waktuku untuk mati?"

Jujurly suka banget kalau dapat isyarat kematian, membayangkan lepas dari penjara materi dan jiwa bebas lepas mengangkasa menuju ketidakberhinggaan.  Siapa pun kalian, bila pernah diperlihatkan ketidakberhinggaan sepertiku, pasti merindukan mati.

Badanku ngomong begini, "Aku unsur dari Tuhan juga, tetapi kamu punya unsur yang lebih indah, yang lebih cantik dan penuh warna, yang lebih ringan tapi sangat kuat.  Kamu bebas bila sudah tidak terpenjara dari badan ini.  Kamu bisa menyatu dengan semuanya tanpa terkotori oleh itu semua. Kamu bersama Tuhan untuk seterusnya tanpa terganggu dengan urusan ilusi. Itulah kesejatian dirimu, itulah kamu yang sebenarnya.  Kamu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, keindahanmu, kebebasanmu, juga penyatuanmu dengan Tuhan."

 Aku jawab,"Kalau begitu terima kasih sudah menemani perjalananku di dunia selama ini."

Badanku tertawa lalu bilang,"Itulah kamu, kamu merasa terpisah, seperti kebanyakan manusia. Badanmu ini tidak pernah berpisah denganmu walaupun kamu mati.  Jiwa kamu lepas dari tubuh, tapi pada saat itulah kamu benar-benar menyatu dengan tubuhmu."

"Kan sudah dikubur dan hancur jadi tanah?" bantahku.

"Nah, lagi-lagi kamu memisahkan dunia fisik dengan dunia batin," kata badanku.

"Ya, bingung dong aku.  Mati jadi tanah, tapi tak terpisah.  Jelas-jelas nyawaku melayang meninggalkan fisikku, tapi katamu tak pernah terpisah.  Bagaimana memahaminya?"

Pertanyaan terakhir itu bukan pertanyaanku, tapi pertanyaan kalian pembaca Innuri blog. Karena aku sudah tahu gambarannya.

Di dunia spiritual sering sekali ketemu paradoks seperti kalimat di atas.  Ini badanku tapi aku bukan badan ini, berusaha tanpa berusaha, mati dalam kehidupan, sekarang ketemu "terpisah tetapi menyatu".

Baiklah, untuk 'terpisah tetapi menyatu'  ini aku umpamakan dengan sepasang kekasih yang begitu saling mencintai, tetapi takdir memisahkan mereka.  Mereka tak pernah berhenti mencintai walau berjauhan, bahkan tak tahu kekasihnya di mana, mereka berdua terhubung oleh doa-doa dan kerinduan.  Kalian yang menganggap mereka terpisah, adalah kalian yang memandang ilusi sebagai kesejatian. Karena yang sejati adalah jiwa.  Sedangkan kalian yang memandang mereka tidak terpisah, berarti kalian sudah bisa memandang kesejatian. 

Di mata fisik, mereka terpisah, tetapi batin mereka tetap menyatu.  Gamblang 'kan contohnya?  

Nah dalam kasus kematian, nyawa meninggalkan fisik, fisik hancur, ruh menghadap Ilahi, lalu dikatakan bahwa dalam kondisi inilah jiwa benar-benar menyatu dengan tubuhnya.  Bagaimana bisa?  Bagaimana penjelasannya?

Bayangan manusia kebanyakan, Yang Ilahi itu di atas sana, di langit yang lapisan paling atasnya atas dah. Ruh naik ke langit, jasad yang mati ada di dalam bumi.  Pasti terpisah bila pandangan masih seperti itu. 

Tetapi Allah menyebutkan bila Dia dekat melebihi dekatnya kita dengan urat leher kita sendiri, artinya Dia lebih dekat daripada jazad kita sendiri dong. Berarti tempat pulangnya ruh itu lebih dekat daripada jazad kita sendiri. Nah, dari sini sudah jelas sekali, kita tidak pernah terpisah dengan jazad walau secara penglihatan mata ruh sudah tidak ada di tubuh. Karena pulangnya ruh itu ke Tuhan yang lebih dekat daripada jazad kita sendiri. 

Paham 'kan Sayang?  Atau masih bingung? Gapapa bingung dan gapapa tidak paham, itu bukan keharusan.  Hanya Allah yang bisa memahamkanmu. 

Tuhan itu meliputi segala sesuatu, ketika kamu pulang ke Tuhan, berarti kamu pulang ke ketidakberhinggaan, kamu tak terdefinisikan. Tidak bisa aku jelaskan ya, karena tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

Apakah setiap kematian itu indahnya seperti yang digambarkan oleh omongan tubuhku itu? Tidak dong.  Hanya untuk orang yang sudah kembali seutuhnya kepada Tuhannya semasih hidup di dunia saja. 

Lantas, orang-orang yang belum kembali kepada Tuhan bagaimana? Ya masih mengalami siklus hidup mati hidup mati seperti dilukiskan di Al quran, orang menyebutnya reinkarnasi.  Entah di semesta mana dihidupkan lagi untuk mendapatkan pelajaran agar bisa kembali seutuhnya kepada Tuhan. Artinya jiwanya masih harus menghadapi penderitaan seperti halnya kehidupan kita di muka bumi ini. 

 Kalian pilih yang mana? Pulang seutuhnya kepada Allah atau kembali hidup di dunia ilusi?  Bagaimana caranya kembali kepada Allah sebelum mati? 

Pilih Allah dulu, lalu inginkan Allah melebihi keinginanmu pada selain Allah, soal caranya dan jalannya nanti Allah yang akan menunjukkan. 

Innuri akan terus flexing keindahan berada di ketidakberhinggaan itu.  Beruntunglah kalian yang menginginkan Allah, karena itulah doa yang Allah pasti akan kabulkan seperti janjiNya. 


Rabu, 22 April 2026

Mengapa Lepas Hijab?

 Kemarin Innuri posting nyanyi sambil gitaran di tiktok, tapi aku kasih filter negatif film, karena nggak pakai kerudung.  Seorang teman berkomentar dong, "Kok lepas hijab?"

Alasan sebenarnya karena malas ambil kerudung di lantai bawah, capek seharian naik turun tangga.  Kondisi sudah dasteran dan siap tidur lah kok pingin rekaman.  Seniman gitu soalnya ... ehm.  Tapi kalau aku jawab persis kondisi aslinya, jadinya nggak mencerminkan jiwa Innuri yang cerewet dan kadang suka cari perkara.  Ada alasan lain yang lebih dari sebenarnya, nanti aku tulis di bagian akhir ya.

Maka di tiktok aku jawab begini.

Maaf aku termasuk di kubu yang berpendapat bila hijab itu tidak wajib.  Di surat Al ahzab 59 dan An Nur 31 , tertulis "hendaklah" bukan "diwajibkan atas kamu". sedangkan pakaian yang paling baik adalah pakaian taqwa tertulis di Al Araf 26. 

Aku sendiri pakai lepas pakai lepas jilbab itu sejak SMP.  Aku SMP tahun 80 an, di jaman jilbab belum umum dan bahkan dilarang di sekolah umum, jadinya pakai di luar sekolah tapi lepas pakai lepas sampai aku SMA, karena tidak punya teman, tidak didukung orang tua pula.  Baru ketika kuliah, mulai konsisten berjilbab, karena beranggapan jilbab itu wajib. 

Jaman kuliah dulu jarang sekali mahasiswi berjilbab, se-fakultas bisa dihitung pakai jari tangan, seangkatan cuma tiga biji.  Itupun musti siap-siap dipantau kegiatannya, bahkan aku pernah dipanggil PR III untuk diinterogasi apa saja kegiatanku di luar kuliah.  Kala itu berjilbab sudah dicurigai anti pemerintah dan anti Pancasila dah.  Berat sekali, belum lagi orang-orang yang membuli dan berkomentar miring.

Dasar idealis, Innuri tempuh saja setiap tantangannya.  Lalu ketika pacaran dengan si Hary, dibuli lagi dong, ":Jilbaban kok pacaran."  Padahal pacarannya kayak apa siiiih, wong aku dan Hary  teman sekelas dan sering satu kelompok praktikum, jadi sering ngerjain tugas bareng, asistensi bareng, kuliah bareng.  Lalu Innuri diceramahi senior-senior, "Menikah saja."  Eh ketika sudah menikah, dibilang, "Hamil palingan, kok buru-buru menikah."  Wkwkwkwk.

Begitulah, jaman itu berjilbab = berat.  Sekarang kebalikannya,  sekarang tidak berjilbab = aneh, muslim kok tidak jilbaban?   

Aku terkenang istri eyang Syamsul'alam (guru tasawufku) dan putri beliau yang tidak berjilbab.  Dari situ aku mulai lunak, tidak ngotot banget dengan pendapatku bila jilbab itu wajib, pendapatku mulai terbuka.  Jadi setelah menikah aku juga lepas pakai lepas pakai karena pemahaman baruku itu.  

Sayangnya ketika aku lepas jilbab, aku mendapat pengalaman tidak enak, yaitu dikejar-kejar lelaki yang jatuh cinta, karena dikira masih gadis padahal anakku sudah dua saat itu.  Bukan sekali dua kali aku mengalami hal itu, sering, bahkan sampai anakku empat. Lalu aku mengambil kesimpulan sendiri, bila berjilbab dan kemana-mana selalu dengan suami, itu adalah bentuk penjagaan Allah pada wanita.

Saat ini aku sudah nenek-nenek dong, tidak perlu takut ada yang jatuh cinta lagi.  Seiring perjalanan jiwa yang semakin spiritual, aku semakin yakin bila berjilbab itu bukanlah kewajiban, tetapi anjuran atau himbauan.  Karena yang menganjurkan Allah, aku lebih suka memakai jilbab.  Logikanya, kalau kita sendiri menganjurkan sesuatu dan orang melakukannya, kita jadi seneng 'kan?

Jadi berjilbab atau tidak, yang penting adalah melakukannya karena Allah, titik.  Yang di level tertingginya yaitu di level orang-orang wushul, berjilban pun digerakkan Allah, tidak berjilbabpun digerakkan Allah, karena lahaulawala quwata illabillah, tidak ada daya dan kekutatan melainkan dari Allah.

Jadi jawaban yang tepat untuk pertanyaan, mengapa melepas jilbab?  Karena Allah menghendaki demikian alias Allah menjalankan aku demikian atau dijalankan Allah demikian. 

 Sekian cerita Innuri, selamat dijalankan Allah hari ini yaa.

Senin, 20 April 2026

Marah yang Disadari

 Di akhir tulisanku  Menantang Allah aku menjanjikan akan bercerita bagaimana hasilnya setelah kesadaran bila semuanya dikendalikan Allah sudah terinstal dalam diri kita.

Hidup jadi damai, bahagia, tanpa beban, seperti danau di bawah gunung, permukaannya tenang, tidak ada riak, di dalamnya pun tidak ada gejolak, sejuk dan menyejukkan.  Ketika ada tangan jahil melempar batu ke dalamnya, ada riak kecil keluar tapi segera tenang kembali.  Gambaran sempurna sebuah perasaan indah kesadaran.

Namun tak semudah itu, Sayang.  Ada ujiannya yang membuat kesadaranmu semakin kokoh dan kuat.

Ujian pertamaku.

Sudah beberapa kali Allah menggerakkanku untuk membagikan tulisan di 9 grup spiritual di Fb.  Di situlah aku sering merasa 'kok gini amat ya Allah' isinya orang-orang di grup tasawuf, makrifat dll.  Aku dikatain gila, bodoh, mati sana! dll, juga komentar panjang yang tidak aku baca sambil ketawa dalam hati. "Kapok kowe, dah nulis panjang-panjang aku cuekin."  

Dari awal aku merasa "kok gini amat" lalu menyadari "memangnya siapa yang menggerakkan?" sampai kemudian menyadari "itu pesan Allah" berarti hatiku yang harus dibersihkan, lalu merasa tidak terpisah "loh mereka kan refleksi dari sisi gelap aku sendiri"  setelah itu merasa semuanya Allah, melihat Allah di semua hal.

Ujian kedua, pelajaran yang berbeda.

Ceritanya di Ngantang ketemuan sama teman-teman SMP lalu rujakan di pinggir danau Selorejo diantar Mas Hary.  Maka lewatlah kami di depan rumah seorang teman SMP, rumah megah dengan pekarangan luas, tapi ternyata pekarangan kosong di samping rumahnya sudah berpagar, artinya sudah bukan milik dia lagi.

Melihat itu aku bertanya pada teman-temanku, "Loh dijual ta?"

"Iya, sudah laku dari lama," jawab beberapa teman.  Kepalaku langsung berdenyut memikirkan sesuatu, karena dia punya hutang padaku, tak kunjung dibayar dengan alasan lagi bankrut.  Eh, tanahnya laku nggak ingat bayar hutangnya padaku.

Aku marah dong, marah-marah lewat pesan di WA.  Kemarahanku terpicu karena hutang dia itu dalam bentuk lukisan.  Dia pesan lukisan potret kedua orang tuanya, aku mengerjakannya tiga bulan (walau tidak dikerjakan setiap hari) mana dia cerewetnya ampun-ampunan, yang kurang ini kurang itu, semua aku turuti.

Aku marah karena merasa tidak dihargai jerih payahku, padahal aku sudah kasih harga teman.

Sebelum pesan lukisan itu dia pernah mamerin uang tunainya di dompet ... haha, jadi aku percaya dia orang kaya ditambah penampilan rumahnya yang megah.  Jadi aku kerjakan pesanan itu tanpa kecurigaan apa pun, juga tanpa minta DP.  

Saat aku marah-marah itu sebenarnya aku sudah 'melihat Allah', tapi memang Allah menggerakkanku untuk marah-marah.  Jadi aku marah-marah sambil menyadari bila aku sedang digerakkan Allah untuk marah-marah.  Ini berbeda dengan marah-marah yang digerakkan emosi ya.  Memang ada emosinya, tetapi emosi itu aku sadari bila emosiku sedang digerakkan Allah.  Haduh, membingungkan ya?  

Jadi begini, ketika kita sadar bila sedang digerakkan Allah keseluruhan diri kita, hati kita ini mudah menjadi damai lagi.  Ketika hati damai, terbitlah pemahaman-pemahaman baru yang tadinya tertutup oleh pikiran kita.

Apa pemahaman baru dari ulah temanku yang nakal ini?

Allah tidak mengijinkan aku bersikap mengalah saja, biarin saja, alias gampang memaklumi orang.  Allah tidak rela ada orang berbuat semena-mena terhadapku dan terhadap kalian semua.  Marah itu boleh, asalkan marah dengan kesadaran.

Kesadaran yang bagaimana?  Kesadaran bila diri kita ini sedang digerakkan Allah untuk marah, karena marahnya bener, marahnya dengan sebab yang benar.  

Pikirkanlah, bila perbuatan orang-orang macam temanku itu dimaklumi saja, dia semakin seenaknya sendiri.  Tidak ada jeranya.  Dia bisa menzalimi orang lain.  Jadi marahnya untuk membela diri dan untuk mencegah dia dari menzalimi orang lain.  Jangan lupa marahnya disadari.

Begitulah ceritaku dari desa di ujung barat kabupaten Malang.

Kamis, 16 April 2026

Menantang Allah

 Ketika Innuri bilang bila seluruh pergerakan kehidupan ini dikendalikan Allah, termasuk gerakan tanganmu menggaruk rasa gatal di lehermu itu.  Apakah kalian percaya?

Apakah kalian lebih percaya bila manusia itu punya free will, alias kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, menentukan dia mau ke mana, mau ngapain saja.

Kalian team yang mana? Apa buktinya?  Pernah membuktikan sendiri?  Pernah menantang Allah?  Menantang Allah bagaimana?

Ya menantang Allah untuk membuktikan siapa yang mengendalikan hidupmu, dirimu sendiri ataukah Allah mutlak.  

Karena aku pernah, sering malah, menantang Allah.

Dulu pun aku termasuk orang yang percaya bila manusia diberi kehendak bebas memutuskan jalan hidupnya sendiri.  Bahkan sampai benjut-benjut dan berdarah-darah pun belum tersadarkan juga bila jalan hidup ini sudah ditulis secara detail skenarionya.  Makanya aku paham banget dengan orang-orang yang berpandangan seperti itu.

Bahkan aku yang Allah beri kelebihan prekognisi, atau punya kepekaan melihat sesuatu yang belum terjadi, masih merasa bila manusia sendirilah yang menentukan masa depannya.  Walau Allah banyak menurunkan peristiwa yang mestinya menyadarkanku bila manusia tak punya kekuatan apa-apa, hanya kekuatan dari Allah yang menggerakkannya.

Peristiwa yang paling aku ingat, karena amat berkesan buatku, adalah cerita ke pasar krempyeng semasih tinggal di Negara, Bali.  Kayaknya aku sudah sering ceritakan ini di blog, tapi aku akan ceritakan lagi. 

Suatu pagi di Negara, bangun tidur aku merasa bila aku nanti bakalan ke pasar krempyeng, entah namanya apa kalau di Bali, aku sudah lupa, pasar yang sudah bubar di jam tujuh pagi.

Perasaan 'aku nanti bakalan ke pasar' itu begitu kuat dan aku sengaja melawannya.  Aku mau mematahkan prekognisiku, jadi aku pilih bermalas-malasan nggak bangun-bangun.  Aku berasa memenangkan taruhan ketika pagi itu bangun lewat jam pasar dan lanjut memasak ke dapur.

Ketika memasak itulah, ada bahan yang kurang yang mengharuskan aku berbelanja ke pasar.  Tapi sudah terlambat, pikirku, salahku sendiri melawan prekognisi.  Tapi segera aku sadari bila hari itu hari Minggu, kalau hari Minggu, pasar buka sampai jam 9.00 WITA.  Akupun tak menyia-nyiakan waktu, segera berangkat ke pasar, tak peduli "kalah taruhan" ... haha.  Aku gagal melawan takdir.

Jodoh, rejeki dan ajal, itu katanya sesuatu yang sudah ditentukan Allah, yang tidak bisa diubah manusia.  Tapi ternyata bukan hanya jodoh, rejeki dan ajal, wong aku ke pasar atau tidak saja ditentukan olehNya kok.  Kalau tidak percaya, cobalah menantang Allah.

Caranya bagaimana?

Bilang saja,"Allah, aku ingin bukti bila segala sesuatu sampai hal yang sekecil-kecilnya, Engkaulah yang mengendalikannya.  Maka berikanlah aku bukti sampai aku yakin."

Innuri sudah di taraf yakin seyakin-yakinnya bila hidup ini seperti detak jantung, di luar kontrol kita, Allah yang memegangnya.  Tapi Allah mengendalikan hidup ini dengan kasih sayang, Maha Kasih Sayang.  Hidupmu dan hidupku terbuat dari kasih sayangNya.

Pada awalnya kenyataan ini cukup membingungkan, karena berbenturan dengan keyakinan yang lama bila manusia punya kehendak bebas.  Bahkan seperti bertentangan dengan potongan ayat al Quran Surat Ar Rad 11 "... Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada di diri mereka ...."  

Orang umumnya memaknai potongan ayat itu sebagai 'manusia harus berusaha keras mengubah nasibnya agar Allah mengubahnya."  padahal bukan itu maksudnya.  Coba baca utuh keseluruhan ayatnya.

"Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran di depan dan di belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah.  Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Bila ayat itu dibaca lengkap dan dimaknai secara keseluruhan, nggak dipotong di tengah-tengahnya saja, maka pemahaman menjadi lebih utuh.  Sebenarnya bukan perubahan nasib yang bisa dilakukan manusia, melainkan perubahan kesadaran, kesadaran bahwa apabila 'Allah menghendaki keburukan, tidak ada yang dapat menolaknya', juga kesadaran bahwa 'tidak ada pelindung selain Allah'.  Maksudnya, kita manusia ini loh nggak bisa apa-apa bila tidak dilindungi Allah dari keburukan. Artinya manusia itu nggak berdaya, tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah.

Ada malaikat penjaga yang menjaga manusia dari segala arah, itulah Maha Kasih SayangNya.  Manusia nggak bisa hidup tanpa dijaga oleh sistem yang dibuat Allah, artinya manusia itu lemah dan tidak berdaya.  Ini harus disadari.

"Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."  Di kalimat ini memuat keburukan dan perlingungan, lagi-lagi manusia disuruh menyadari betapa Maha Kasih SayangNya yang memberikan perlindungan kepada manusia dan hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan.  Jangan mengandalkan yang lain maksudnya, termasuk mengandalkan diri sendiri, termasuk mengandalkan kekuatanmu sendiri, karena kamu itu lemah, begicuuuu.

Bila sudah di kesadaran seperti itu, masih bisakah manusia berpikir bisa mengubah keadaannya agar Allah mengubah nasibnya?  Ehm ... ehm.  

Pemahaman menjadi lebih lengkap lagi bila keseluruhan Surat Ar Rad dibaca semuanya. Intinya pada perubahan kesadaran mengenai berbagai hal.  Indah sekali  Allah bernarasi di dalam Surat Ar Rad.  Semoga lain kali bisa membahasnya lebih mendalam ya.

Begitupun yang terjadi padaku ketika tidak berhasil menantang Allah, yang terjadi adalah perubahan kesadaran.  Sudahlah Innuri gagal mulu menantang Allah, kok nyuruh-nyuruh orang menantang Allah pula.  Soalnya mau nyari teman sesama gagal ... hahaha.

Baiklah, ketika perubahan kesadaran sudah terjadi, apa yang terjadi setelahnya?  Di tulisan selanjutnya yaa.  mata dah pedes nih.

Rabu, 15 April 2026

Melihat Tembus Pandang

 Bila mendengar kajian Gus Mukhlason Rasyid di youtube, kadang merasa begitu 'kafir' aku ini.

Mengatakan ibu yang memasak itu sudah tidak bertauhid.  Allahlah yang memasak.  Allahlah yang makan, Allahlah yang pup.  Kedengaran gila dan membingungkan bukan?  Tapi jangan mengatakan ini pada orang awam atau orang kebanyakan, bisa ditimpuk nasi pecel ... haha.

Tidak membingungkan bagi yang sudah merasakan kefanaan, atau ketiadaan diri, karena sudah melihat bila semuanya Allah.  Diri sendiri dan semua yang dilihat di luar dirinya telah lenyap, yang dia saksikan hanyalah Allah.  

Seorang penyaksi yang menyaksikan tarian semesta, itu kata Pak Hans.  Tapi versi Pak Hans ini masih ada yang menyaksikan dan yang disaksikan, tapi sudah keren berada di tahap ini.  Kalau versi Gus Son, sudah semuanya runtuh, semuanya hancur, yang tertinggal hanyalah Allah.  

Itulah makna akhirat, kata Gus Son.  Bukankah di Al Quran dilukiskan saat kiamat terjadi, alam semesta runtuh, hanya ada Allah saja, itulah akhirat.  Jadi ketika batin manusia sudah sampai pada keruntuhan alam semesta dan seisinya, yang terlihat hanya Allah, saat itulah manusia sampai pada akhiratnya.  Sampai pada akhirat semasih hidup di dunia ini, tanpa menunggu mati.  Bahkan Gus Son menekankan betapa pentingnya ketemu akhirat sebelum mati.

Fanaul bashirah, mata hati melihat ketiadaan semua hal, termasuk dirinya sendiri, yang ada hanya Allah.  Jadi bukan diri manusia melihat Allah, karena dirinya sudah tiada.  tapi Allah yang melihat Allah.  

Bingungkah?  Gak apa-apa bingung, bila sudah mengalami sendiri, nanti tidak bingung lagi kok. Memang tidak bisa dipaksakan, karena pengalaman ketuhanan seperti itu Allahlah yang menghadirkan dengan kehendakNya pada jiwa yang sudah siap.  

Yang penting adalah kamu menginginkan itu terjadi, itu penting.

Setelah itu tugasmu adalah menyiapkan diri tapi tanpa merasa menyiapkan.  Ini basic, jangan merasa menyiapkan diri, tetapi Allahlah yang menyiapkanmu, kamu tidak bisa apa-apa tanpa fasilitas dariNya, bahkan bernapas pun tidak bisa.  Paham 'kan, Sayang?

Sebagai latihan yang musti dilakukan setiap hari adalah membiasakan melihat tembus pandang.  Pandangan mata seperti anak panah yang menembus ilusi tiga dimensi, melihat kebenaran dibalik pergerakan yang hanya permukaan, menyobeknya sampai lenyap, hingga menampak kesejatian.

Cara sederhana, belajar melihat segala hal kecil atau besar, Allahlah yang menggerakkannya.  Misal, ketika ibu memasak di dapur, di pemahaman kita Allahlah yang menggerakkan ibu memasak di dapur.  Lahaulawalaquwata illabillah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan atas ijin Allah.  Ibu tidak bisa bergerak tanpa ijin dan kekuatan dari Allah.  Jadi hakekatnya Allahlah yang menggerakkan, manusia ini tidak berdaya melakukan apa pun.

Tentu orang-orang yang dihadirkan dalam kehidupanku dan kehidupanmu semua digerakkan Allah.  Kesadaran ini membuat batin kita tidak mudah komplain atas perlakuan orang yang barangkali tidak sesuai harapan.  Kadang bertemu orang yang menjengkelkan hati, kadang orang yang membahagiakan hati, semua itu ilusi, itu permukaan, lihat siapa di balik orang-orang itu.  Kita jadi senyum sendiri kok bila menyadari hal ini.

Hati yang tidak mudah komplain itu hati yang damai, mudah memahami kebijaksanaan Allah, dekat dengan kebahagiaan yang sejati  Tunggu hingga merasakan akhirat semasih hidup di dunia ini.  Itu indah banget, Saudara.  Hatimu seperti burung yang melesat ke angkasa setelah sekian lama terpenjara di sangkar dunia ini, bayangkan betapa bahagianya, bahagia yang sejati yang disebut eudamonia kata orang stoic.

Selasa, 14 April 2026

Bila Tersisa Satu Keinginan.

 Apakah yang kamu inginkan dalam hidupmu bila hanya boleh mengucap satu keinginan saja dan pasti dikabulkan Tuhan?

Catat baik-baik jawabanmu di hati ya lalu bacalah ceritaku. 

Seorang teman menulis status begini :

Ternyata apa yang kita bayangkan tak semudah dan seindah yang kita inginkan.

Dia pakai kata 'kita' , mestinya aku, karena itu kesimpulan dia sendiri 'kan?

Itu cerita tentang keinginan, yang ternyata tak semudah itu mencapainya, sudah tidak mudah, hasilnya pun tidak indah, artinya mengecewakan.  Dia sedang kecewa akan kehidupan yang tidak mudah dan sudah menjalani yang tidak mudah itu tetapi hasilnya mengecewakan.

Keinginan adalah sumber penderitaan, atau to the point saja,  keinginan adalah penderitaan.  

Agar tidak menjadi penderitaan, keinginan itu dipasrahkan Allah saja, agar menjadi keinginan Allah, kamu tidak punya keinginan itu lagi, hidupmu ringan, tinggal mengikuti aliran takdir seperti perahu kertas yang dilempar ke sungai berair jernih di tengah hutan yang teduh.  Selain cara itu, ada jurus lain yang lebih indah.

Yaitu merasakan bila semua yang ada di bumi ini adalah milik Allah, keinginanmu juga milik Allah.  Sudah selesai,  kamu tidak memiliki keinginan itu lagi.  Apa yang kamu lakukan di dunia ini hanyalah melangkah selaras dengan keinginan Allah.  Keinginan yang tertinggal di hatimu hanyalah keinginan untuk bersamaNya saja.

Selaras dengan Allah itu indah sekali, kamu bisa menikmati setiap momen dan bisa melihat sisi indah yang orang kebanyakan tidak bisa melihatnya.  

Orang kebanyakan yang aku maksud adalah orang-orang yang masih dibungkus oleh keinginannya.  Keinginannya itulah yang menghalanginya dari melihat hal indah yang semestinya dia bisa saksikan.

 Selaras dengan Tuhan juga menghentikan kekhawatiran akan ini dan itu, karena hati membiarkan semuanya dalam konrol Allah.  Selaras dengan Allah membuat hati kita menjadi netral, tidak merasa rugi dan kecewa.

Aku akan cerita tentang diriku.  Pernah suatu waktu, ada orang yang memesan batik tulis dengan harga yang aku tinggal njeplak alias tinggl ngomong, dia nggak nawar, jumlahnya banyak dan bakalan memesan secara kontinyu. Padahal aku sudah menutup butikku.  Aku tergoda dong, merasa aku lebih berarti dengan memproduksi batik tulis lagi, bisa membuka pekerjaan lagi untuk orang banyak.  Aku pun minta dimodalin suamiku membeli segala perlengkapan yang aku butuhkan sampai nominalnya banyak sekali.

ART-ku aku jadikan karyawan pertama ditambah memanggil seorang mantan karyawanku lagi yang nganggur di rumah.  Aku sudah merasa bakal bangkit lagi.  Tapi apa yang terjadi, di tengah jalan aku kehilangan mood, aku berhenti di tengah pesanan yang masih mengalir.  Sebagian sudah aku penuhi, tersisa satu potong belum aku kerjakan sampai sekarang, untung yang ini pesanan teman baikku sendiri yang paham akan situasiku.

Berhari-hari aku merasa berdosa pada suamiku dan pada Allah.  Merasa sudah rugi berbelanja begitu banyak yang akhirnya mangkrak. Suamiku tidak mempermasalahkan, dia memang lebih suka aku mengerjakan hobi melukisku.  Akulah yang tak bisa berhenti merasa bersalah.

Lalu kemudian aku menyadari bila semua itu Allahlah yang menggerakkan dan Allahlah yang menghentikan gerakanku.  Tidak ada yang rugi karena semua milik Allah dan terserah Allah bagaimana mengalirkan rezekinya.

Selaras dengan Tuhan dan mengalir bersama kehidupan, membuat hidupku lebih damai,  Satu-satunya keinginanku adalah selalu bersama Allah, dibimbingNya, merasakan kasih sayangNya setiap saat.  

Bagaimana denganmu? 

 

Senin, 13 April 2026

Ketulusan yang Menggetarkan Hati

 Jangan memisahkan makhluk dengan Tuhan, aku sering bilang begini, juga pada diriku sendiri yang sering lupa bila ada Allah dibalik orang-orang yang datang, pergi atau menetap dalam kehidupanku. Ada Allah dibalik kata-kata dan perbuatan mereka.  Aku masih sering melupakan ini, jadi terseret emosi, seperti hari ini.

Aku menulis sambil menangis.  Seorang pembacaku terusir dari rumahnya karena tidak mampu membayar kontrakan, suaminya 'membuangnya'.  Anak-anak dan keluarganya juga tidak peduli dengannya.  Entah mengapa aku menangis sampai terisak-isak, membayangkan dia berjalan sendirian tak punya tujuan, lalu berhenti di rumah seorang kenalan.  Aku sampai menyarankannya ke kantor polisi bila terpaksa tidak ada tempat menginap.

Aku juga membantunya (bukan aku, tetapi Allah yang menggerakkan aku) dengan menulis status dan membagikannya ke grup Tasikmalaya, tempat pembacaku itu berada saat ini. 

Sudah beberapa lama aku kontak dengan pembacaku ini, setiap hal yang aku katakan, dia nurut.  Dia cukup kooperatif dan aku merasa dia sudah bisa tenang menghadapi segala persoalan hidupnya.  Aku kira kondisinya bakalan membaik, tetapi aku salah. Salahku adalah meletakkan harapan pada keadaan yang membaik.  Mempercayai bila ketenangan batin akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.  Ini halus sekali, karena semestinya yang aku yakini hanya Allah yang bisa membuat perubahan, Allah adalah satu-satunya penyebab.

Orang-orang bertindak, berkata-kata, sampai berpikiran dan berperasaan tertentu, karena Allah yang menggerakkannya.  Menerima segala kelakuan mereka tanpa kecewa dan protes, meski pun di dalam hati, 

Jadi aku katakan pada pembacaku itu dan diriku sendiri. 

Perlakuan apa pun dari orang-orang, lihatlah yang dibalik itu.  Pada hakekatnya Allah, itu semua Allah.  Dengan keyakinan seperti ini kamu tidak perlu sedih, juga tak perlu berharap pada manusia, langsung pada Allah saja.  Juga tak perlu menyalahkan Allah, karena setiap perbuatanNya adalah kasih sayang.

Manusia itu hanya tahu di permukaannya saja, memelas melihat seorang wanita terusir dari rumahnya.  Padahal siapa tahu dibalik itu Allah sedang 'memprosesnya' menjadi kekasihNya, bila demikian dia adalah wanita yang sangat beruntung. 

***

Setelah aku menulis tulisan di atas, aku berangkat tidur, karena ngantuk sekali, masih jam 7 malam, habis isya. Terbangun jam 12 malam, aku merasa ada sesuatu yang mendorongku membuka komputer, kupikir aku mau melanjutkan tulisanku di blog, sambil membuka Fb.

MasyaAllah, aku diinbox seorang wanita yang tak kukenal, di add pertemanan, isinya menanyakan soal pembacaku itu.  Dia juga bercerita bila dia punya rumah kosong dengan 6 kamar yang bisa ditempati gratis asalkan mau bersih-bersih. Aku nangis lagi dong, dasarnya nangisan.  Kali ini aku menangis karena terharu menyaksikan ketulusan hati wanita yang hanya kenal aku di Fb.

Kembali aku harus melihat Allah,  Allah yang bertindak dengan kasih sayangNya.  Allah yang menggerakkan wanita itu  untuk menolong pembacaku.  

Aku yakin sekali kasih sayangNya, semoga pembacaku itu demikian juga.  Rasanya aku dan dia sudah menempuh perjalanan bersama menyaksikan kebesaranNya.   

*** 

Aku tidur lagi setelah menulis di jam 12 malam itu.  Pagi ini, subuh aku bangun. Ketika membuka Fb ada inbox dari pembacaku itu, bercerita dia ditawari pekerjaan menjahit daster tapi tidak ada messnya.  Sungguh kebetulan yang tidak kebetulan bukan? Dia mendapat tawaran pekerjaan yang tidak ada fasilitas menginap, sementara ada yang menawari tempat menginap gratis asalkan tempatnya dibersihkan.  Sungguh Allah itu Maha Pembuat skenario terindah.  Alhamdulillah.  

Pembacaku juga belajar, selama kita bersama Allah, semua akan baik-baik saja.

Selamat menempuh hidup baru, Teh. Allah selalu bersamamu.