Aku merenung dengan tanda tanya besar di kepalaku, setengah bingung juga, ketika seorang teman bilang,"Yang penting sekarang (maksudnya di usia senja) adalah memperbanyak ibadah untuk bekal mati."
Karena aku cukup dekat dengan temanku itu, aku tahu yang dia maksud bekal untuk mati itu adalah ibadah puasa, salat, zikir, membaca Al Quran, sedekah, dll. Begitulah pemahaman kebanyakan orang, termasuk orang-orang di sekitarku yang rata-rata sudah berusia sekitar 60 tahunan (aku belum 60 tahun ya ... hehe).
Kenapa aku jadi bingung padahal itu hal yang wajar saja karena memang begitulah paham yang beredar di masyarakat muslim Indonesia? Karena sebagian otakku membantah. Orang-orang yang beranggapan seperti itu adalah orang-orang yang beribadah secara transaksional, alias ibadahnya tidak tulus. Mereka berharap ibadahnya ditukar dengan surga, berharap lolos dari siksa neraka, berharap padang dalane jembar kubure.
Ibadah yang tidak tulus, tujuannya makhluk (mereka menganggap surga itu tempat, yang berarti makhluk) padahal Allah Maha Tulus, sudah memberikan segala-galanya bahkan tanpa kita minta loh. Jadi renungkan ulang bila kamu juga beranggapan demikian. Jika masih menganggap bahwa masa depan di akhirat harus 'dibeli' dengan serangkaian ritual ibadah, bukankah ini mirip dengan menganggap Allah pedagang? Menganggap Allah adalah Tuhan yang tidak baik hati, bahkan bukti kebaikan dan anugerah Allah selama kita hidup di dunia ini belum cukup untuk membuatmu yakin bila Dia juga menjamin masa depanmu di akhirat.
Akar dari anggapan bahwa kebaikan Allah tak cukup membuat manusia yakin bila Allah menjamin masa depan akhiratnya adalah 'aku' atau ego yang segede gunung Himalaya. Yang aku maksud keakuan di sini adalah merasa bila kenikmatan-kenikmatan hidup di dunia ini adalah karena kerja keras dan doa-doanya. Contohnya:
- aku mendapat kemudahan-kemudahan ini karena banyak bersedekah
- karena banyak melafalkan zikir tertentu, rejekiku dilancarkan Allah
- rajin puasa Senin Kamis membuat aku dilancarkan jodoh
- tahajud membuatku lebih tenang dan bisa menyelesaikan hutang-hutangku
- rajin membaca surat tertentu di Al Quran bisa melindungi dari marabahaya
- rajin membawa surat tertentu di Al Quran membuat dijauhkan dari kemiskinan
- dll cari contoh di dalam dirimu sendiri
Begitulah yang kebanyakan aku baca di masyarakat sekitarku, sudah kental dengan anggapan bila kebaikan-kebaikan yang diterima di dalam hidupnya disebabkan ibadah-ibadah tertentu yang dia lakukan, alias 'aku' adalah penyebabnya, bukan Allah semata-mata. Allah seperti harus 'disogok' dulu pakai ibadah bila ingin hidupnya nyaman, termasuk hidupnya di akhirat.
Pertanyaannya, memangnya tidak perlu melakukan ibadah ritual? Saranku, minimal lakukan ibadah ritual untuk bersyukur, itu minimalnya, bila bisa beribadah karena cinta, karena mencintai Allah, itu lebih baik lagi. Setelah itu yakin bila Allah pasti memberikan masa depan yang indah di akhirat, karena kamu sudah mengenal Allah. Allah yang selalu memberikanmu kemudahan-kemudahan selama di dunia, pasti memberikanmu kemudahan di akhirat.
Di atas itu ada pemahaman yang lebih dalam, yang lebih indah, silakan disimak di bawah ini ya.
Sejatinya ibadah itu adalah sebuah sarana untuk mengenal, dekat dan menyatu denganNya. Sebuah jalan panjang menembus kegelapan batin kita sendiri untuk menemukan cahayaNya. Aku sebut jalan panjang karena itu kita lakukan sepanjang hidup kita di dunia ini. Sepanjang hidup kita di dunia ini pula Allah selalu hadir memberikan bimbingan, tuntunan, mempertemukanmu dengan guru, termasuk mempertemukanmu dengan tulisanku ini.
Jadi fungsinya ibadah ritual adalah mempermudah perjalanan kita menembus kegelapan diri sendiri untuk bertemu dengan cahaya ilahi, Quran Al Baqarah 257, Al Maidah 16, Al Ahzab 53.
Ujung dari perjalanan panjang menembus kegelapan diri sendiri itu adalah cahaya Allah. Bagaimana cahaya Allah itu digambarkan di Surat An Nur 35.
Seperti apa rasanya bertemu dengan cahaya Allah? Bayangkan sebuah lampu lima watt ditaruh di bawah matahari yang lagi terang benderang, kelihatan nggak cahayanya? Bahkan lampu seratus watt pun tak terlihat pancaran cahayanya di bawah sinar matahari. Begitulah ibaratnya, saat bertemu Allah, diri sendiri hilang, yang ada hanya Allah. Alias kehilangan ego, kehilangan aku, yang dilihat cuma Allah, termasuk diri sendiri, yang dilihat dari diri sendiri hanya Allah. Manunggaling kawula-Gusti.
Dari sini aku jadi paham, atau dipahamkan Allah, kondisi masa depan akhirat bagi orang-orang yang sudah bertemu cahaya Allah ini adalah tanpa hisab, alias tanpa melalui proses pertanggungjawaban selama hidup di dunia. Kenapa tanpa hisab? Ya karena dia sudah kehilangan 'aku' nya, dia sudah meyakini bila Allahlah yang bekerja di dalam dirinya, bukan dia. Logikanya, bila sudah menganggap Allahlah yang melakukan segala sesuatu dalam dirinya, berarti Allah dong yang menghisab dirinya sendiri alias dia lolos dari upacara hisab di akhirat.
Sedangkan orang-orang yang masih kencang berpegang pada 'aku' , mereka inilah yang bakalan menempuh jalur hisab, di akhirat dia harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama hidup di dunia. Ya memang bakalan melelahkan proses yang harus dijalani, tapi itu kan pilihan mereka ya, karena Allah tidak menzalimi hambaNya.
Karena menjadi aku itu cukup melelahkan, maka aku mau hilang saja, biar Allah saja di dalam diriku.
Bahkan orang-orang yang sudah menyatu dengan Allah, dia bisa merasakan surga semasih hidup di dunia ini. Ternyata surga itu bukan sebuah tempat.
Mungkin tulisanku selanjutnya adalah bagaimana proses ritual bisa menghilangkan kegelapan di dalam diri sendiri? Ini penting dan sedikit sekali yang membahas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar