Senin, 20 April 2026

Marah yang Disadari

 Di akhir tulisanku  Menantang Allah aku menjanjikan akan bercerita bagaimana hasilnya setelah kesadaran bila semuanya dikendalikan Allah sudah terinstal dalam diri kita.

Hidup jadi damai, bahagia, tanpa beban, seperti danau di bawah gunung, permukaannya tenang, tidak ada riak, di dalamnya pun tidak ada gejolak, sejuk dan menyejukkan.  Ketika ada tangan jahil melempar batu ke dalamnya, ada riak kecil keluar tapi segera tenang kembali.  Gambaran sempurna sebuah perasaan indah kesadaran.

Namun tak semudah itu, Sayang.  Ada ujiannya yang membuat kesadaranmu semakin kokoh dan kuat.

Ujian pertamaku.

Sudah beberapa kali Allah menggerakkanku untuk membagikan tulisan di 9 grup spiritual di Fb.  Di situlah aku sering merasa 'kok gini amat ya Allah' isinya orang-orang di grup tasawuf, makrifat dll.  Aku dikatain gila, bodoh, mati sana! dll, juga komentar panjang yang tidak aku baca sambil ketawa dalam hati. "Kapok kowe, dah nulis panjang-panjang aku cuekin."  

Dari awal aku merasa "kok gini amat" lalu menyadari "memangnya siapa yang menggerakkan?" sampai kemudian menyadari "itu pesan Allah" berarti hatiku yang harus dibersihkan, lalu merasa tidak terpisah "loh mereka kan refleksi dari sisi gelap aku sendiri"  setelah itu merasa semuanya Allah, melihat Allah di semua hal.

Ujian kedua, pelajaran yang berbeda.

Ceritanya di Ngantang ketemuan sama teman-teman SMP lalu rujakan di pinggir danau Selorejo diantar Mas Hary.  Maka lewatlah kami di depan rumah seorang teman SMP, rumah megah dengan pekarangan luas, tapi ternyata pekarangan kosong di samping rumahnya sudah berpagar, artinya sudah bukan milik dia lagi.

Melihat itu aku bertanya pada teman-temanku, "Loh dijual ta?"

"Iya, sudah laku dari lama," jawab beberapa teman.  Kepalaku langsung berdenyut memikirkan sesuatu, karena dia punya hutang padaku, tak kunjung dibayar dengan alasan lagi bankrut.  Eh, tanahnya laku nggak ingat bayar hutangnya padaku.

Aku marah dong, marah-marah lewat pesan di WA.  Kemarahanku terpicu karena hutang dia itu dalam bentuk lukisan.  Dia pesan lukisan potret kedua orang tuanya, aku mengerjakannya tiga bulan (walau tidak dikerjakan setiap hari) mana dia cerewetnya ampun-ampunan, yang kurang ini kurang itu, semua aku turuti.

Aku marah karena merasa tidak dihargai jerih payahku, padahal aku sudah kasih harga teman.

Sebelum pesan lukisan itu dia pernah mamerin uang tunainya di dompet ... haha, jadi aku percaya dia orang kaya ditambah penampilan rumahnya yang megah.  Jadi aku kerjakan pesanan itu tanpa kecurigaan apa pun, juga tanpa minta DP.  

Saat aku marah-marah itu sebenarnya aku sudah 'melihat Allah', tapi memang Allah menggerakkanku untuk marah-marah.  Jadi aku marah-marah sambil menyadari bila aku sedang digerakkan Allah untuk marah-marah.  Ini berbeda dengan marah-marah yang digerakkan emosi ya.  Memang ada emosinya, tetapi emosi itu aku sadari bila emosiku sedang digerakkan Allah.  Haduh, membingungkan ya?  

Jadi begini, ketika kita sadar bila sedang digerakkan Allah keseluruhan diri kita, hati kita ini mudah menjadi damai lagi.  Ketika hati damai, terbitlah pemahaman-pemahaman baru yang tadinya tertutup oleh pikiran kita.

Apa pemahaman baru dari ulah temanku yang nakal ini?

Allah tidak mengijinkan aku bersikap mengalah saja, biarin saja, alias gampang memaklumi orang.  Allah tidak rela ada orang berbuat semena-mena terhadapku dan terhadap kalian semua.  Marah itu boleh, asalkan marah dengan kesadaran.

Kesadaran yang bagaimana?  Kesadaran bila diri kita ini sedang digerakkan Allah untuk marah, karena marahnya bener, marahnya dengan sebab yang benar.  

Pikirkanlah, bila perbuatan orang-orang macam temanku itu dimaklumi saja, dia semakin seenaknya sendiri.  Tidak ada jeranya.  Dia bisa menzalimi orang lain.  Jadi marahnya untuk membela diri dan untuk mencegah dia dari menzalimi orang lain.  Jangan lupa marahnya disadari.

Begitulah ceritaku dari desa di ujung barat kabupaten Malang.

Kamis, 16 April 2026

Menantang Allah

 Ketika Innuri bilang bila seluruh pergerakan kehidupan ini dikendalikan Allah, termasuk gerakan tanganmu menggaruk rasa gatal di lehermu itu.  Apakah kalian percaya?

Apakah kalian lebih percaya bila manusia itu punya free will, alias kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, menentukan dia mau ke mana, mau ngapain saja.

Kalian team yang mana? Apa buktinya?  Pernah membuktikan sendiri?  Pernah menantang Allah?  Menantang Allah bagaimana?

Ya menantang Allah untuk membuktikan siapa yang mengendalikan hidupmu, dirimu sendiri ataukah Allah mutlak.  

Karena aku pernah, sering malah, menantang Allah.

Dulu pun aku termasuk orang yang percaya bila manusia diberi kehendak bebas memutuskan jalan hidupnya sendiri.  Bahkan sampai benjut-benjut dan berdarah-darah pun belum tersadarkan juga bila jalan hidup ini sudah ditulis secara detail skenarionya.  Makanya aku paham banget dengan orang-orang yang berpandangan seperti itu.

Bahkan aku yang Allah beri kelebihan prekognisi, atau punya kepekaan melihat sesuatu yang belum terjadi, masih merasa bila manusia sendirilah yang menentukan masa depannya.  Walau Allah banyak menurunkan peristiwa yang mestinya menyadarkanku bila manusia tak punya kekuatan apa-apa, hanya kekuatan dari Allah yang menggerakkannya.

Peristiwa yang paling aku ingat, karena amat berkesan buatku, adalah cerita ke pasar krempyeng semasih tinggal di Negara, Bali.  Kayaknya aku sudah sering ceritakan ini di blog, tapi aku akan ceritakan lagi. 

Suatu pagi di Negara, bangun tidur aku merasa bila aku nanti bakalan ke pasar krempyeng, entah namanya apa kalau di Bali, aku sudah lupa, pasar yang sudah bubar di jam tujuh pagi.

Perasaan 'aku nanti bakalan ke pasar' itu begitu kuat dan aku sengaja melawannya.  Aku mau mematahkan prekognisiku, jadi aku pilih bermalas-malasan nggak bangun-bangun.  Aku berasa memenangkan taruhan ketika pagi itu bangun lewat jam pasar dan lanjut memasak ke dapur.

Ketika memasak itulah, ada bahan yang kurang yang mengharuskan aku berbelanja ke pasar.  Tapi sudah terlambat, pikirku, salahku sendiri melawan prekognisi.  Tapi segera aku sadari bila hari itu hari Minggu, kalau hari Minggu, pasar buka sampai jam 9.00 WITA.  Akupun tak menyia-nyiakan waktu, segera berangkat ke pasar, tak peduli "kalah taruhan" ... haha.  Aku gagal melawan takdir.

Jodoh, rejeki dan ajal, itu katanya sesuatu yang sudah ditentukan Allah, yang tidak bisa diubah manusia.  Tapi ternyata bukan hanya jodoh, rejeki dan ajal, wong aku ke pasar atau tidak saja ditentukan olehNya kok.  Kalau tidak percaya, cobalah menantang Allah.

Caranya bagaimana?

Bilang saja,"Allah, aku ingin bukti bila segala sesuatu sampai hal yang sekecil-kecilnya, Engkaulah yang mengendalikannya.  Maka berikanlah aku bukti sampai aku yakin."

Innuri sudah di taraf yakin seyakin-yakinnya bila hidup ini seperti detak jantung, di luar kontrol kita, Allah yang memegangnya.  Tapi Allah mengendalikan hidup ini dengan kasih sayang, Maha Kasih Sayang.  Hidupmu dan hidupku terbuat dari kasih sayangNya.

Pada awalnya kenyataan ini cukup membingungkan, karena berbenturan dengan keyakinan yang lama bila manusia punya kehendak bebas.  Bahkan seperti bertentangan dengan potongan ayat al Quran Surat Ar Rad 11 "... Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada di diri mereka ...."  

Orang umumnya memaknai potongan ayat itu sebagai 'manusia harus berusaha keras mengubah nasibnya agar Allah mengubahnya."  padahal bukan itu maksudnya.  Coba baca utuh keseluruhan ayatnya.

"Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran di depan dan di belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah.  Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Bila ayat itu dibaca lengkap dan dimaknai secara keseluruhan, nggak dipotong di tengah-tengahnya saja, maka pemahaman menjadi lebih utuh.  Sebenarnya bukan perubahan nasib yang bisa dilakukan manusia, melainkan perubahan kesadaran, kesadaran bahwa apabila 'Allah menghendaki keburukan, tidak ada yang dapat menolaknya', juga kesadaran bahwa 'tidak ada pelindung selain Allah'.  Maksudnya, kita manusia ini loh nggak bisa apa-apa bila tidak dilindungi Allah dari keburukan. Artinya manusia itu nggak berdaya, tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah.

Ada malaikat penjaga yang menjaga manusia dari segala arah, itulah Maha Kasih SayangNya.  Manusia nggak bisa hidup tanpa dijaga oleh sistem yang dibuat Allah, artinya manusia itu lemah dan tidak berdaya.  Ini harus disadari.

"Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."  Di kalimat ini memuat keburukan dan perlingungan, lagi-lagi manusia disuruh menyadari betapa Maha Kasih SayangNya yang memberikan perlindungan kepada manusia dan hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan.  Jangan mengandalkan yang lain maksudnya, termasuk mengandalkan diri sendiri, termasuk mengandalkan kekuatanmu sendiri, karena kamu itu lemah, begicuuuu.

Bila sudah di kesadaran seperti itu, masih bisakah manusia berpikir bisa mengubah keadaannya agar Allah mengubah nasibnya?  Ehm ... ehm.  

Pemahaman menjadi lebih lengkap lagi bila keseluruhan Surat Ar Rad dibaca semuanya. Intinya pada perubahan kesadaran mengenai berbagai hal.  Indah sekali  Allah bernarasi di dalam Surat Ar Rad.  Semoga lain kali bisa membahasnya lebih mendalam ya.

Begitupun yang terjadi padaku ketika tidak berhasil menantang Allah, yang terjadi adalah perubahan kesadaran.  Sudahlah Innuri gagal mulu menantang Allah, kok nyuruh-nyuruh orang menantang Allah pula.  Soalnya mau nyari teman sesama gagal ... hahaha.

Baiklah, ketika perubahan kesadaran sudah terjadi, apa yang terjadi setelahnya?  Di tulisan selanjutnya yaa.  mata dah pedes nih.

Rabu, 15 April 2026

Melihat Tembus Pandang

 Bila mendengar kajian Gus Mukhlason Rasyid di youtube, kadang merasa begitu 'kafir' aku ini.

Mengatakan ibu yang memasak itu sudah tidak bertauhid.  Allahlah yang memasak.  Allahlah yang makan, Allahlah yang pup.  Kedengaran gila dan membingungkan bukan?  Tapi jangan mengatakan ini pada orang awam atau orang kebanyakan, bisa ditimpuk nasi pecel ... haha.

Tidak membingungkan bagi yang sudah merasakan kefanaan, atau ketiadaan diri, karena sudah melihat bila semuanya Allah.  Diri sendiri dan semua yang dilihat di luar dirinya telah lenyap, yang dia saksikan hanyalah Allah.  

Seorang penyaksi yang menyaksikan tarian semesta, itu kata Pak Hans.  Tapi versi Pak Hans ini masih ada yang menyaksikan dan yang disaksikan, tapi sudah keren berada di tahap ini.  Kalau versi Gus Son, sudah semuanya runtuh, semuanya hancur, yang tertinggal hanyalah Allah.  

Itulah makna akhirat, kata Gus Son.  Bukankah di Al Quran dilukiskan saat kiamat terjadi, alam semesta runtuh, hanya ada Allah saja, itulah akhirat.  Jadi ketika batin manusia sudah sampai pada keruntuhan alam semesta dan seisinya, yang terlihat hanya Allah, saat itulah manusia sampai pada akhiratnya.  Sampai pada akhirat semasih hidup di dunia ini, tanpa menunggu mati.  Bahkan Gus Son menekankan betapa pentingnya ketemu akhirat sebelum mati.

Fanaul bashirah, mata hati melihat ketiadaan semua hal, termasuk dirinya sendiri, yang ada hanya Allah.  Jadi bukan diri manusia melihat Allah, karena dirinya sudah tiada.  tapi Allah yang melihat Allah.  

Bingungkah?  Gak apa-apa bingung, bila sudah mengalami sendiri, nanti tidak bingung lagi kok. Memang tidak bisa dipaksakan, karena pengalaman ketuhanan seperti itu Allahlah yang menghadirkan dengan kehendakNya pada jiwa yang sudah siap.  

Yang penting adalah kamu menginginkan itu terjadi, itu penting.

Setelah itu tugasmu adalah menyiapkan diri tapi tanpa merasa menyiapkan.  Ini basic, jangan merasa menyiapkan diri, tetapi Allahlah yang menyiapkanmu, kamu tidak bisa apa-apa tanpa fasilitas dariNya, bahkan bernapas pun tidak bisa.  Paham 'kan, Sayang?

Sebagai latihan yang musti dilakukan setiap hari adalah membiasakan melihat tembus pandang.  Pandangan mata seperti anak panah yang menembus ilusi tiga dimensi, melihat kebenaran dibalik pergerakan yang hanya permukaan, menyobeknya sampai lenyap, hingga menampak kesejatian.

Cara sederhana, belajar melihat segala hal kecil atau besar, Allahlah yang menggerakkannya.  Misal, ketika ibu memasak di dapur, di pemahaman kita Allahlah yang menggerakkan ibu memasak di dapur.  Lahaulawalaquwata illabillah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan atas ijin Allah.  Ibu tidak bisa bergerak tanpa ijin dan kekuatan dari Allah.  Jadi hakekatnya Allahlah yang menggerakkan, manusia ini tidak berdaya melakukan apa pun.

Tentu orang-orang yang dihadirkan dalam kehidupanku dan kehidupanmu semua digerakkan Allah.  Kesadaran ini membuat batin kita tidak mudah komplain atas perlakuan orang yang barangkali tidak sesuai harapan.  Kadang bertemu orang yang menjengkelkan hati, kadang orang yang membahagiakan hati, semua itu ilusi, itu permukaan, lihat siapa di balik orang-orang itu.  Kita jadi senyum sendiri kok bila menyadari hal ini.

Hati yang tidak mudah komplain itu hati yang damai, mudah memahami kebijaksanaan Allah, dekat dengan kebahagiaan yang sejati  Tunggu hingga merasakan akhirat semasih hidup di dunia ini.  Itu indah banget, Saudara.  Hatimu seperti burung yang melesat ke angkasa setelah sekian lama terpenjara di sangkar dunia ini, bayangkan betapa bahagianya, bahagia yang sejati yang disebut eudamonia kata orang stoic.

Selasa, 14 April 2026

Bila Tersisa Satu Keinginan.

 Apakah yang kamu inginkan dalam hidupmu bila hanya boleh mengucap satu keinginan saja dan pasti dikabulkan Tuhan?

Catat baik-baik jawabanmu di hati ya lalu bacalah ceritaku. 

Seorang teman menulis status begini :

Ternyata apa yang kita bayangkan tak semudah dan seindah yang kita inginkan.

Dia pakai kata 'kita' , mestinya aku, karena itu kesimpulan dia sendiri 'kan?

Itu cerita tentang keinginan, yang ternyata tak semudah itu mencapainya, sudah tidak mudah, hasilnya pun tidak indah, artinya mengecewakan.  Dia sedang kecewa akan kehidupan yang tidak mudah dan sudah menjalani yang tidak mudah itu tetapi hasilnya mengecewakan.

Keinginan adalah sumber penderitaan, atau to the point saja,  keinginan adalah penderitaan.  

Agar tidak menjadi penderitaan, keinginan itu dipasrahkan Allah saja, agar menjadi keinginan Allah, kamu tidak punya keinginan itu lagi, hidupmu ringan, tinggal mengikuti aliran takdir seperti perahu kertas yang dilempar ke sungai berair jernih di tengah hutan yang teduh.  Selain cara itu, ada jurus lain yang lebih indah.

Yaitu merasakan bila semua yang ada di bumi ini adalah milik Allah, keinginanmu juga milik Allah.  Sudah selesai,  kamu tidak memiliki keinginan itu lagi.  Apa yang kamu lakukan di dunia ini hanyalah melangkah selaras dengan keinginan Allah.  Keinginan yang tertinggal di hatimu hanyalah keinginan untuk bersamaNya saja.

Selaras dengan Allah itu indah sekali, kamu bisa menikmati setiap momen dan bisa melihat sisi indah yang orang kebanyakan tidak bisa melihatnya.  

Orang kebanyakan yang aku maksud adalah orang-orang yang masih dibungkus oleh keinginannya.  Keinginannya itulah yang menghalanginya dari melihat hal indah yang semestinya dia bisa saksikan.

 Selaras dengan Tuhan juga menghentikan kekhawatiran akan ini dan itu, karena hati membiarkan semuanya dalam konrol Allah.  Selaras dengan Allah membuat hati kita menjadi netral, tidak merasa rugi dan kecewa.

Aku akan cerita tentang diriku.  Pernah suatu waktu, ada orang yang memesan batik tulis dengan harga yang aku tinggal njeplak alias tinggl ngomong, dia nggak nawar, jumlahnya banyak dan bakalan memesan secara kontinyu. Padahal aku sudah menutup butikku.  Aku tergoda dong, merasa aku lebih berarti dengan memproduksi batik tulis lagi, bisa membuka pekerjaan lagi untuk orang banyak.  Aku pun minta dimodalin suamiku membeli segala perlengkapan yang aku butuhkan sampai nominalnya banyak sekali.

ART-ku aku jadikan karyawan pertama ditambah memanggil seorang mantan karyawanku lagi yang nganggur di rumah.  Aku sudah merasa bakal bangkit lagi.  Tapi apa yang terjadi, di tengah jalan aku kehilangan mood, aku berhenti di tengah pesanan yang masih mengalir.  Sebagian sudah aku penuhi, tersisa satu potong belum aku kerjakan sampai sekarang, untung yang ini pesanan teman baikku sendiri yang paham akan situasiku.

Berhari-hari aku merasa berdosa pada suamiku dan pada Allah.  Merasa sudah rugi berbelanja begitu banyak yang akhirnya mangkrak. Suamiku tidak mempermasalahkan, dia memang lebih suka aku mengerjakan hobi melukisku.  Akulah yang tak bisa berhenti merasa bersalah.

Lalu kemudian aku menyadari bila semua itu Allahlah yang menggerakkan dan Allahlah yang menghentikan gerakanku.  Tidak ada yang rugi karena semua milik Allah dan terserah Allah bagaimana mengalirkan rezekinya.

Selaras dengan Tuhan dan mengalir bersama kehidupan, membuat hidupku lebih damai,  Satu-satunya keinginanku adalah selalu bersama Allah, dibimbingNya, merasakan kasih sayangNya setiap saat.  

Bagaimana denganmu? 

 

Senin, 13 April 2026

Ketulusan yang Menggetarkan Hati

 Jangan memisahkan makhluk dengan Tuhan, aku sering bilang begini, juga pada diriku sendiri yang sering lupa bila ada Allah dibalik orang-orang yang datang, pergi atau menetap dalam kehidupanku. Ada Allah dibalik kata-kata dan perbuatan mereka.  Aku masih sering melupakan ini, jadi terseret emosi, seperti hari ini.

Aku menulis sambil menangis.  Seorang pembacaku terusir dari rumahnya karena tidak mampu membayar kontrakan, suaminya 'membuangnya'.  Anak-anak dan keluarganya juga tidak peduli dengannya.  Entah mengapa aku menangis sampai terisak-isak, membayangkan dia berjalan sendirian tak punya tujuan, lalu berhenti di rumah seorang kenalan.  Aku sampai menyarankannya ke kantor polisi bila terpaksa tidak ada tempat menginap.

Aku juga membantunya (bukan aku, tetapi Allah yang menggerakkan aku) dengan menulis status dan membagikannya ke grup Tasikmalaya, tempat pembacaku itu berada saat ini. 

Sudah beberapa lama aku kontak dengan pembacaku ini, setiap hal yang aku katakan, dia nurut.  Dia cukup kooperatif dan aku merasa dia sudah bisa tenang menghadapi segala persoalan hidupnya.  Aku kira kondisinya bakalan membaik, tetapi aku salah. Salahku adalah meletakkan harapan pada keadaan yang membaik.  Mempercayai bila ketenangan batin akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.  Ini halus sekali, karena semestinya yang aku yakini hanya Allah yang bisa membuat perubahan, Allah adalah satu-satunya penyebab.

Orang-orang bertindak, berkata-kata, sampai berpikiran dan berperasaan tertentu, karena Allah yang menggerakkannya.  Menerima segala kelakuan mereka tanpa kecewa dan protes, meski pun di dalam hati, 

Jadi aku katakan pada pembacaku itu dan diriku sendiri. 

Perlakuan apa pun dari orang-orang, lihatlah yang dibalik itu.  Pada hakekatnya Allah, itu semua Allah.  Dengan keyakinan seperti ini kamu tidak perlu sedih, juga tak perlu berharap pada manusia, langsung pada Allah saja.  Juga tak perlu menyalahkan Allah, karena setiap perbuatanNya adalah kasih sayang.

Manusia itu hanya tahu di permukaannya saja, memelas melihat seorang wanita terusir dari rumahnya.  Padahal siapa tahu dibalik itu Allah sedang 'memprosesnya' menjadi kekasihNya, bila demikian dia adalah wanita yang sangat beruntung. 

***

Setelah aku menulis tulisan di atas, aku berangkat tidur, karena ngantuk sekali, masih jam 7 malam, habis isya. Terbangun jam 12 malam, aku merasa ada sesuatu yang mendorongku membuka komputer, kupikir aku mau melanjutkan tulisanku di blog, sambil membuka Fb.

MasyaAllah, aku diinbox seorang wanita yang tak kukenal, di add pertemanan, isinya menanyakan soal pembacaku itu.  Dia juga bercerita bila dia punya rumah kosong dengan 6 kamar yang bisa ditempati gratis asalkan mau bersih-bersih. Aku nangis lagi dong, dasarnya nangisan.  Kali ini aku menangis karena terharu menyaksikan ketulusan hati wanita yang hanya kenal aku di Fb.

Kembali aku harus melihat Allah,  Allah yang bertindak dengan kasih sayangNya.  Allah yang menggerakkan wanita itu  untuk menolong pembacaku.  

Aku yakin sekali kasih sayangNya, semoga pembacaku itu demikian juga.  Rasanya aku dan dia sudah menempuh perjalanan bersama menyaksikan kebesaranNya.   

*** 

Aku tidur lagi setelah menulis di jam 12 malam itu.  Pagi ini, subuh aku bangun. Ketika membuka Fb ada inbox dari pembacaku itu, bercerita dia ditawari pekerjaan menjahit daster tapi tidak ada messnya.  Sungguh kebetulan yang tidak kebetulan bukan? Dia mendapat tawaran pekerjaan yang tidak ada fasilitas menginap, sementara ada yang menawari tempat menginap gratis asalkan tempatnya dibersihkan.  Sungguh Allah itu Maha Pembuat skenario terindah.  Alhamdulillah.  

Pembacaku juga belajar, selama kita bersama Allah, semua akan baik-baik saja.

Selamat menempuh hidup baru, Teh. Allah selalu bersamamu. 

Sabtu, 11 April 2026

Katarsis

 Innuri lagi dibombardir curhatan Pak R alias Pak Ruwet yang aku ceritakan di tulisan terdahulu.  Dia memprotes tulisanku yang Esa Itu Tak Terpisah  .  Katanya, tidak semudah itu memaafkan saudara yang sudah berlaku zalim, berikut membeberkan bukti-buktinya.  Sekarang ganti Innuri yang curhat ya berkaitan dengan itu.  

Jujur saja, Innuri itu nggak patheken, dia nurut saranku atau tidak, dia mau nyungsang njempalik atau tegak berdiri, atau silakan berhenti menganggap Innuri pembimbingmu.  Bukan aku yang minta, Pak R sendiri yang memintaku membimbing perjalanan spiritualnya.

Ini adalah tulisan terakhirku untuk Pak R, itupun mengingat pengalaman hidupnya relate dengan sahabat dekatku.  Yang membedakan keduanya adalah cara menyikapi masalah yang dihadapinya, karena masalahnya mirip, hanya saja sahabatku ini perempuan.

Sebut saja sahabatku itu Melati, Melati dari Indragiri, karena rumahnya di Jl Indragiri.  Melati anak nomer dua, persis dengan Pak R yang anak nomer dua.  Tapi aku hanya bercerita soal Melati, agar Pak R bisa belajar darinya, karena permasalahannya mirip banget. Semoga pembaca Innuri blog juga bisa belajar dari Melati, teristimewa anak nomer dua.

Kakak Melati, sebut saja Mawar. Mawar yang berduri, membenci Melati sejak kehadirannya di dunia ini.  Bayi yang nggak tahu apa-apa sudah dibenci, besarnya dibuli dan dipukuli dong!  

Karena perbedaan usia yang jauh.  Melati lahir ketika usia Mawar 9 tahun.  Secara logika masuk akal, selama 9 tahun Mawar menjadi anak tunggal yang segala perhatian dan kasih sayang tercurah kepadanya seorang.  Saat Melati lahir, tentu perhatian semua orang beralih pada si bayi yang cantik itu.  

Sayangnya kedua orang tua mereka bekerja, tidak tahu apa yang terjadi di rumah.  Malangnya lagi, selain sering dibuli dan dipukuli kakaknya, Melati juga diasuh oleh pengasuh yang suka berkata kasar, mengumpat, mencela, dan tidak membelanya. 

Pengalaman masa kecil yang seperti itulah yang membuat Melati tidak mau menjadi wanita karier, ketika berkeluarga, dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja, agar anak-anaknya tidak mengalami seperti yang dia alami. 

Mawar semakin leluasa berbuat jahat pada Melati ketika Melati SMP.  Dijambak rambutnya lalu kepalanya dibenturin ke tembok, itu cara Mawar melampiaskan sakit hatinya hanya karena kesalahan kecil yang dibuat Melati.  Melati yang sekolah siang, pernah berangkat sekolah dengan lengan yang berdarah sambil menangis karena habis dicakar kakaknya. 

Apakah Melati melawan? Iya dong, masak dipukuli diam saja.  Tetapi semakin melawan, semakin kejam perlakuan kakaknya.  Karena itulah Melati memilih mengalah saja, walau perlakuan Mawar lebih mirip ibu tiri yang kejam.  Di hadapan orang tua mereka dan di hadapan semua orang, Mawar berlaku amat manis pada Melati, tapi bila tak ada orang, Mawar mengeluarkan durinya. 

Beruntung Melati punya sahabat yang baik, di sekolah dia sering menangis bila dijahati Mawar dan teman-temannyalah yang menghiburnya.  Beruntung pula Melati punya tempat melarikan diri di loteng rumahnya, tempat dia melukis dan menuliskan semua perasaannya di buku harian.  

Beruntung Melati suka surat menyurat, dia punya sahabat pena dari seluruh nusantara yang menjadi hiburannya, bahkan ada yang menjadi pacarnya lalu putus, karena Melati tak mau diajak menikah.  Ya, Melati yang masih anak SMP diajak menikah sama "pacar penanya" lucu tapi nyata.

Beruntung Melati suka mengirimkan tulisannya ke majalah-majalah sehingga dia bisa mendapat honor dari tulisannya.  Walaupun Melati tak mengerti bahwa apa yang dilakukannya seperti menulis, melukis, surat menyurat,  itulah yang disebut katarsis, proses pelepasan emosi yang terpendam, yang membuatnya tetap waras menempuh hari-harinya yang berat.

Apakah Melati mengadukan perlakuan kakaknya pada orang tuanya?  Itu pasti, tetapi Mawar lebih pintar berbicara dan meyakinkan orang tuanya. Orang tuanya lebih mempercayai Mawar. Jadi Melati tidak punya pembela selain Allah.

Ketika SMA, Mawar masih suka membuli dengan kata-kata atau memukul, sampai Melati tak tahan lagi dan pergi dari rumah.  Beruntung saat SMA Melati punya kekasih beneran, yang bukan cuma kekasih pena, kakak kelasnya di SMA, yang  mengantarnya melarikan diri.  Setidaknya Melati punya tempat untuk menangis pada kekasih yang sayang padanya. 

Setelah kejadian melarikan diri itulah, orang tua Melati baru percaya akan perlakuan Mawar selama ini.  Ibunya Melati sering memberi nasehat untuk memaafkan, karena ternyata ibunya Melati juga punya kakak yang nakal juga, yaitu pakdenya Melati.  Ibunya sering bilang, kehidupanmu bakalan bahagia bila mudah memaafkan.  Begitulah, Melati menurut, selalu memaafkan kakaknya.

Tapi apakah Mawar berhenti membenci?  Tidak dong, berhenti memukuli Melati memang iya, tapi kebencian tetap jalan terus sampai tua, sampai mereka berdua beranak cucu. Wow!  Panjang bila diceritakan, bisa ngalahin cerita Pak R tentang saudaranya.

Barangkali seperti itulah nasib anak kedua, rentan dibenci anak pertama, walau tidak selalu ya.

Melati tidak menganggap hidupnya nelangsa, dia menikmati masa kecilnya, masa remajanya, dan ketika menikah, dia mendapat pernikahan yang bahagia, dengan suami yang tak pernah berkata kasar sekali pun selama puluhan tahun menjalani kehidupan rumah tangga. Seperti balasan bagi hati yang selalu memaafkan.

Sebaliknya Mawar, mungkin balasan bagi perlakuannya pada si adik, dia mengalami KDRT dalam pernikahan pertamanya, sampai bercerai, lalu menikah lagi dan lagi.  Menikah tiga kali dan tidak bahagia, sekarang Mawar menjanda.  Orang menyebutnya kena karma, siapa menabur, dia menuai.

Melihat Mawar seperti itu, membuat Melati memaklumi segala kelakuan kakaknya yang masih sering menyakitkan. Bagi Melati, perlakuan orang adalah cermin batinnya, ketika orang suka menyakiti, itu hanya ekspresi batin yang sakit.  Apa sih yang bisa diharap dari batin yang sakit?  Ada kata-kata Melati yang pantas menjadi bahan renungan.  Dia bilang,"Nek nuruti wong gendeng, yo melu gendeng."  maksudnya, kalau kata-kata orang gila dimasukkan ke hati, ya ikut gila. 

Katarsis, itu penting sekali agar tetap waras.  Seperti yang dilakukan Melati sejak kecil. Melepaskan emosi dengan cara yang disukai tanpa menyakiti orang lain.  

Apa pun kegiatan yang berguna untuk melepaskan emosi yang terpendam dan traumatis, yang membuat hati menjadi ringan dan lega, itulah katarsis.  Ada yang berolah raga, ada yang menjadi pecinta alam dengan mendaki gunung, sekedar berada di tengah alam dan hutan.  Ada yang melampiaskannya lewat seni, melukis, menari, menyanyi menjerit-jerit.  Ada yang lewat karya sastra, jadi tulisan cerpen, novel.  Apa pun itu.

Innuri sudah menyarankan Pak R untuk menulis di platform seperti wattpad, atau menulis jawaban di Quora.  Ada beberapa teman Innuri yang sengaja menulis jawaban di Quora untuk katarsis, pakai nama palsu dong agar tidak menimbulkan masalah.  Itu lebih baik daripada curhat ke Innuri yang sama aku cuma discrol-scroll doang lalu dihapus, saking panjangnya curhatannya Pak R.

Pak R harus menyadari bila dirinya punya hasrat ngomong yang tinggi dan ini harus dilampiaskan dalam bentuk apa pun juga.  Dia bilang tak sempat menulis, lah wong nulis ke Innuri sudah kayak cerpen gitu loh!  Lah yo mbok nurut saja.  

Innuri tak punya banyak waktu untuk melayani orang yang cuma menjadikan aku tempat sampahnya doang. Kutulis ini karena terlalu kasihan (Allah yang kasihan, bukan Innuri) pada kehidupan Pak R yang secara fisik tidak sehat, secara mental lebih tidak sehat lagi.  Beruntungnya dia masih sehat pikirannya.

Kehidupan yang kita terima ini seimbang kok.  Ada suka ada duka, ada sakit ada sembuh, dll.  Orang yang merasa hidupnya menderita itu cuma orang yang memandang dunia dari satu sisi saja, melupakan sisi beruntung yang Allah berikan padanya.

Oh ya, bila Pak R memandang hidupnya sebagai penderitaan, coba belajar dari Budhis deh.  Ada 4 kebenaran yang diajarkan Sidarta Gautama, yang pertama adalah hidup adalah derita, kedua derita disebabkan oleh nafsu, keinginan, dan keterikatan/ kemelekatan, ketiga untuk lepas dari derita ya harus melepaskan poin ke dua, keempat, jalan untuk melepaskan derita ada 8 jalan mulia.  Silakan digoogling saja, Innuri bukan ahlinya membahas ini ya.

Kamis, 09 April 2026

Terjerat Cinta yang Salah

 Kali ini aku mau cerita soal Pak RM, bukan inisial nama, aku yang kasih nama, singkatan dari Pak Rada Mending ... hehe.  Ini entah kali ke berapa Innuri dihadapkan pada orang yang susah move on dari cinta yang salah.  Bagi yang mengalami hal yang sama, kumpul sini, nikmati pisang gorengnya.

Ceritanya, Pak RM menikah dengan seorang wanita yang merupakan kakak dari wanita yang dicintainya alias yang dibidik adiknya yang didapat kakaknya.  Sampai Pak RM berpisah dengan istrinya,  masih juga belum bisa melupakan cintanya pada si adik.

Cinta model begini banyaaak dan aslinya ini cinta yang menyiksa, bukan cinta yang membahagiakan.  Tapi siapa sih yang bisa menyalahkan hati yang kadung mencinta, yang tak kenal logika, sampai tempe busuk rasa pizza.

Innuri bukan mau membahas soal perselingkuhan ya, ini soal cinta yang menyiksa hati pada orang yang salah, mungkin ada yang menamakannya selingkuh hati, terserah deh mau diberi nama apa.  

Cinta seperti ini memiliki banyak pola.  Pola pertama yang cintanya bertepuk sebelah tangan, si pecinta tak bisa berhenti mencintai sampai puluhan tahun, sementara yang dicintai tidak merasakannya. Pola kedua, keduanya saling cinta tapi takdir memisahkan, mereka pun tidak bisa berhenti saling mencintai sampai ratusan tahun juga ... wkwkwk.

Yang pola pertama aku alami sendiri beberapa kali, bukan aku yang mencinta, tapi lelaki lain yang mencintaiku sampai puluhan tahun tanpa aku mencintainya.  Dia pun mengaku cinta bukan untuk mengajak selingkuh, hanya untuk mengungkapkan perasaan dan selesai.  Semula aku tak tahu kenapa, kok Allah membuat aku mudah dicintai secara mendalam, aku juga nggak bisa bangga dengan kondisi ini, jatuhnya malah kasihan pada istri lelaki itu.  Sekarang aku sudah tahu jawabannya, jadi terus membaca ya, jangan pindah channel ... hehe. 

Persolannya sekarang adalah bagaimana cara mengatasi siksaan cinta yang salah itu?  Sengaja aku pakai kata 'siksaan cinta' biar ada yang ketampar.  Mencinta tanpa bisa memiliki itu rasanya sakit nggak?  Sakit kan?  Sudah tahu sakit masih dipertahankan pula.  Bodoh apa bodoh? 

Yang penting sekarang bagaimana solusinya.

Cara pertama, kamu wushul dan selesai. Caranya bisa dipelajari di tulisanku seri  Perjalanan ke Dalam . Itupun kalau wushulnya on of kayak Innuri, ya bisa kumat-kumatan lagi.  Jadi cara pertama ini tidak mudah.

Cara kedua, ini lebih mudah, agak panjang penjelasannya.

Kamu melihat dia yang kamu cintai itu jangan sebagai dia, lihat yang dibaliknya dia itu siapa, Allah 'kan?  Yang menciptakan dia Allah, yang menggerakkan dia Allah, yang membuat dia begitu memesona menggetarkan hati ya Allah juga.  Jadi lihat dia sebagai Allah.  Pandanganmu tembus gitu loh.  Kalau sudah menyadari bila dia itu sebenarnya "jelmaan" Allah, hati kamu jadi paham bahwa sebenarnya kamu itu loh jatuh cintanya kepada Allah.  Kalau sudah paham kamu lagi jatuh cinta pada Allah, kamu bilang "Oooo" yang panjang.  Selesai sudah siksaan cintamu itu.

Innuri pernah tulis, jangan pisahkan makhluk dengan Allah, Allah itu melingkupi si makhluk, di dalam dan di luarnya.

Di sinilah aku ketemu jawabannya, kenapa aku banyak sekali mengalami dicintai secara mendalam, ternyata aku saja yang GR.  Orang-orang itu jatuh cinta sama Allah kok, bukan sama Innuri.  Kecele parah aku tuh.

Manusia itu defaultnya atau fitrahnya mencari Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri mengatakan bahwa diriNya adalah Kasih Sayang (Al An'am 12).  Ketika manusia sudah di posisi menyatu dengan Tuhan, maka dia menjadi kasih sayang itu sendiri dan kamu menyatu dengan semuanya.

Cara ketiga.  Ini ada hubungannya dengan semesta paralel yang pernah kutulis berseri di blog ini.  Pengalaman Dr Lynda Creamer, bahwa di kesadaran yang lebih tinggi, aku bisa menjadi kamu, kamu bisa menjadi aku, aku bisa menjadi dia atau mereka.  Intinya ada kesadaran kolektif, kesadaran yang saling terhubung.  Apa hubungannya dengan siksaan cinta? Ya ketika kamu menjadi dia, siksaan itu selesai.

Cara keempat.  Cinta menjadi siksaan ketika ada rasa ingin memiliki, ingin dekat dia, dan ingin ingin yang lain.  Ini cinta nafsu, atau ini bukan cinta tapi nafsu, atau cinta yang kecampur nafsu.  Tinggal pisahin saja itu nafsu dari cinta, kamu mencintai tanpa syarat, dan selesai.  Itu tidak mudah mbak Innuri!  Ya siapa bilang mudah? 

Cara kelima.  Pasrahkan perasaanmu kepada Allah. Mudah bukan?

Sudah dulu ya, aku mau ke pasar, kalau bingung boleh nanya di komentar.

Rabu, 08 April 2026

Kisah Pak Ruwet

 Beberapa hari lalu, aku kedatangan tamu seorang bapak-bapak yang menurutku hidupnya merana.  Sudah sakit fisik, gembolan (beban) batinnya banyak banget. Kenal aku dari buku EMAS (Energi Murni Alam Semesta) yang dia temukan di scribd, lah kok ternyata kami satu alumni, UB.  Kita sebut saja beliau, Pak R alias Pak Ruwet ... hmm, maaf yo, Pak, jangan tersinggung, nanti aku kasih tahu maksudku.

Sudah fisiknya sakit, beban batin sudah sekontainer, pikirannya sibuk pula untuk hal-hal yang tidak perlu. Komplit untuk PR kehidupan, kok kuat men tho Pak, Pak. 

Mengaku dibully sejak kecil, lahir prematur, pas ibunya hamil, ibunya mimpi buruk yang mengisyaratkan si jabang bayi tumbuh jadi orang yang kurang beruntung. Kedengarannya dapat paket komplit kesengsaraan.   Tapi nyatanya dia bisa berkuliah di UB yang di jaman itu susah banget masuknya.  Menikah dengan dokter, punya satu anak lalu bercerai.

Dari satu bingkai kehidupannya itu, aku ambil kesimpulan dia itu hidupnya gak sengsara-sengsara amat, cuma kurang bisa mengambil sikap yang tepat.  Contoh, bisa memperistri dokter itu salah satu yang dibanggakannya, tapi dia nggak cintai katanya, cintanya sama yang lain.  Nah, perempuan mana coba yang nyaman bersanding dengan lelaki model begini?  Istri pintar hanya untuk melengkapi statusnya sebagai lelaki yang berprestasi (prestasi punya istri dokter katanya).  Hanya sebagai pelengkap, bukan untuk dicintai dan dibahagiakan.  

Wanita yang rela menjadi istri itu sudah mempercayakan kebahagiaannya pada sosok yang disebut suami.  Embuh cintamu kepada siapa, yang ditakdirkan Allah itulah semestinya yang dicintai dan dibahagiakan.  Ini malah mengangan-angankan yang lain.  Seorang istri itu peka perasaannya.  Tapi nasi sudah terlanjur basi.

Singkat cerita, Pak R aku bantu transfer energi. Bukan aku, tetapi Allah.  Aku suruh duduk diam dan mengamati napasnya saja.  Yang aku lihat, banyak panah tertancap di tubuh rohani (tubuh bioplasmik) Pak R.  Aku bantu lepaskan saja panah-panah itu, entah betapa menit, agak lama juga.  Selesai aku bantu, aku biarkan dia bengong sendiri.  Dia bilang, tubuhnya lebih enteng sekarang, aku lihat wajahnya lebih cerah juga.

Begini loh Pak R dan sahabat Innuri semua.

Tentang dibully. Kita tidak bisa mengendalikan mulut orang, tapi kita bisa mengendalikan reaksi diri kita sendiri.  Oke dibully sejak kecil, tentunya anak kecil belum tahu cara bereaksi yang benar, tapi jangan dibawa rasa sakit itu sampai tua.  Itu jadi terlihat sebagai anak panah yang tertancap ke seluruh tubuh, makanya berimbas pada kesehatan.

PR utama Pak R adalah memaafkan semua orang dan berdamai dengan rasa sakit yang dia derita sejak kecil.  Itu akar masalah utama.  Menyimpan dendam hanya menyakiti diri sendiri dan membuat kondisi fisik semakin memburuk.

Juga netralkan semua informasi negatif dan kesimpulan-kesimpulan negatif yang sudah dianggap sebagai kebenaran, seperti mimpi ibunya waktu mengandung itu.  Ibunya dosen di PTN loh, wanita cerdas kukira.  Mimpi itu macam-macam penyebabnya, bisa ekspresi ketakutan, bisa harapan, bisa juga petunjuk Tuhan.  Makna yang disematkan pada mimpi itulah yang memengaruhi kehidupan, bukan mimpi itu sendiri.  Jadi jangan lagi dihantui oleh mimpi yang terjadinya sudah puluhan tahun yang lalu, apa nggak capek?

Pak R juga harus bisa menerima semua takdirnya (amorfati) karena itu semua yang mengantarnya mendekat pada Allah.  Aku bilang,"Sakit yang membawamu ingin ketemu aku, dan tugasku adalah menjebloskanmu ke Allah."  Jadi berterimakasihlah pada rasa sakit yang dideritanya selama ini, ini penting, agar bisa mencintai takdir.  Ketika manusia sudah bisa mencintai takdir, hidupnya bakalan aman dan damai, masalah akan terselesaikan dengan sendirinya (Allah yang menyelesaikan masalahnya)

Sementara itu yang aku katakan pada Pak R. Setiap hari Pak R berkomunikasi denganku via WA, ini membantu banget buatku untuk tahu progressnya, beliau sangat komunikatif dan punya keinginan untuk berubah.  Nanti kalau Pak R sudah membaik, aku ganti deh namanya, bukan Pak Ruwet lagi, bila perlu dijenangabangi ... haha.


Selasa, 07 April 2026

Berhala Keinginan dan Harapan

 Harapan dan keinginan itu sumber penderitaan.  Bila harapan dan keinginan terpenuhi, maka muncul harapan dan keinginan yang baru. Begitu terus tidak ada habis-habisnya. 

Misal begini, kamu punya anak yang rajin main game saja sampai sering bolos sekolah, berharap dia jadi rajin sekolah.  Ketika dia rajin sekolah, muncul harapan baru, mbok ya rajin ibadah juga nak, nak.  Sudah rajin sekolah dan rajin ibadah,  berharap dia rajin bantu pekerjaan rumah juga ... hehe. Itu contoh kecil saja ya.  Mau contoh besarnya boleh dicari di kehidupan kalian masing-masing.

Berharap itu berteman dengan menunggu, menunggu perubahan, menunggu hasil, menunggu harapan menjadi nyata, menunggu doa-doa dikabulkan, dll. Lalu ketika harapan yang satu terjawab, muncul harapan baru lagi yang melahirkan penantian lagi. Bukankah itu melelahkan? 

Tidakkah lebih damai di hati bila membiarkan semua terjadi atas keinginan Allah saja? Bukan keinginan ego kita? 

Bukankah kita menyembah Allah? Bukan penyembah harapan dan keinginan kita? 

Seperti yang kubilang tadi, harapan dan keinginan itu bila tak tercapai jadi kecewa dan sedih. Bila tercapai, tumbuh harapan baru, begitu terus tidak ada habisnya sampai kita menutup mata. 

Ada hadits yang mengatakan bila manusia diberi satu lembah berisi emas, maka dia ingin dua lembah, bila diberi dua, dia mau tiga, begitu seterusnya. 

Begini, Sayang. 

Perilaku orang-orang terkasih itu sebenarnya mengandung pesan Tuhan kepadamu, bukan pada orang-orang itu, tapi kepadamu. 

Misal soal anak yang hobby main game itu, pesan apa yang dibawanya? Barangkali hobimu yang suka mengontrol segala sesuatu harus sesuai dengan maumu itu yang harus dikoreksi.  Harus disadari manusia tidak bisa mengubah manusia lain, hanya Allah yang bisa. Setelah kesadaran ini muncul, nanti akan ada petunjukNya di hatimu musti ngapain. Dan kamu bisa bertindak atas dasar petunjuk Tuhan, bukan atas dasar hawa nafsumu yang suka memaksa semua harus sesuai keinginanmu. Kamu sendiri juga bebas dari rasa nyesek di hati sampai pingin elus dadanya Lee Min Ho... haha.

Betapa pentingnya mencerabut harapan dari orang-orang yang kita sayangi atau orang mana pun demi kedamaian hati sendiri. 

Ketika kita berharap seseorang menjadi seperti yang kita mau, harapan ini menetap, maksudku terus kita gendong kemana-mana.  Tersimpan di ketidaksadaran, menjadi beban mental yang tidak kita sadari. Ketika suatu saat kita menemukan harapan ini tidak sesuai kenyataan, maka bisa meledaklah kita. 

Misalnya kita berharap punya pasangan  yang setia, suatu saat ketemu pasangan kita selingkuh.  Bayangkan betapa sakitnya ledakan perasaan kecewa dan marah itu. 

Mungkin ada yang bertanya, "Wajar 'kan pingin punya pasangan setia?  Yang nggak wajar itu pingin punya pasangan yang tidak setia."  

Ini bukan soal wajar atau tidaknya, ini soal menata keinginan agar hidup kita damai.

"Lah mbak Innuri nggak pernah mengalami punya pasangan selingkuh sih," katamu.

Eeeeh, bukan cuma selingkuh, tapi punya empat istri, coba baca di sini Poligami Ala Suamiku .  Terjawab 'kan mengapa tak perlu berharap pasangan kita setia?

Logikanya begini, ketika kita berharap, bawah sadar nangkepnya "kita tidak punya" , ya terwujud seperti doa.  Ketika kita santai saja, bawah sadar nangkepnya "aku sudah memiliki".  

Mencerabut harapan dari orang-orang yang kita sayangi itu sebuah cara mengamankan diri sendiri dari rasa sakit dan kecewa, juga melindungi diri kita sendiri dari penantian yang tidak ada ujungnya.  Yang semua itu sia-sia, memboroskan energi dan waktu yang berharga, lebih baik dipakai untuk mendekat pada Allah saja.

Akan tetapi, tak semudah itu mencerabut harapan dari hati kita, pasrahkan Allah, jangan merasa berusaha, karena hanya Allah yang bisa melakukannya.  Yang penting ada niat untuk mengenolkan keinginan dan harapan.  Allahlah yang menggenggam hati dan pikiran kita, biarkan Allah yang membersihkan kita dari berhala keinginan dan harapan.

Biarkan semuanya mengalir menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak ego kita.

Senin, 06 April 2026

Obat Gelisah dan Patah Hati

 Kemarin malam aku susah tidur, tak biasa, biasanya habis isya sudah pamitan mataku ini.  Aku gelisah karena seperti kehilangan kontak dengan Allah.  Aku kehilangan rasa itu, rasa dibersamai Allah, rasa selalu dijaga, disayang di dalam lautan kasihNya.  Juga rasa dibersamai suami karena lagi sendirian di Ngantang, kalau dekat mah sudah minta dininabobokan lah si istri yang manja ini.

Aku berusaha menemukan rasa itu kembali dengan zikir sirrur asror, tapi tidak bisa, hanya bisa mengingat Allah di kepalaku, itu tidak enak sama sekali.  Aku selesaikan kegelisahanku dengan nyanyi-nyanyi dan mengunggahnya di Fb.  Tak kunjung bisa tidur juga.

Eh, kebelet pipis, aku turun karena di lantai dua tempatku tidur belum ada toiletnya.  Ya ampun, diganggu makhluk halus dong.  Aku merasa semakin aneh saja.

Aku mencari-cari di dalam batinku ini, ada apa gerangan dengan diriku?  Bukan aku yang mencari, tapi Allah yang menjalankan aku mencari, aku harus menyadari ini sampai ke sumsum tulang.  Aku menemukannya, Allah membuatku menemukannya.

Ternyata siang tadi batinku ini, hanya membatin loh, aku merendahkan seseorang dan aku merasa lebih tinggi dalam spiritual darinya.  Aku pun menyadari kesalahanku, setelah itu perlahan rasa itu kembali.  Aku bersyukur sekali.

Halus sekali ya.  

Baiklah aku jelaskan.

Kalian pernah jatuh cinta 'kan?  Kalian cinta 'kan sama kekasih kalian?  Gimana rasanya dicintai kekasih hati?  Ya begitu itu 'kan?  Sedangkan rasa dicintai Allah itu sudah 'genre' yang berbeda, sudah melampaui itu, sudah "cukuplah Allah bagiku".  Ketika rasa dicintai Allah itu pudar, sudah kayak orang patah hati, gelisah, susah tidur.  Untungnya Allah tak membiarkanku patah hati berlama-lama.

Merendahkan siapa pun, bahkan merendahkan orang yang telah merendahkan kalian, bila dilihat dari kacamata hakekat, adalah merendahkan Allah.  Karena Allahlah yang berada di balik orang-orang itu,  Allahlah yang membuat skenarionya, Allahlah yang mengendalikannya.  Pandang siapapun sebagai Allah.

Bila ingin disayang Allah, maka batin ini harus selalu di dalam kasih sayang kepada siapa pun.  Batin musti dijaga selalu kasih sayang.

Gimana caranya kasih sayang pada orang yang petantang petenteng, sombongnya setinggi puncak Everest?

Bila memandang semuanya Allah, nanti batin ini tertuntun, akan auto memahami bila orang yang petantang petenteng itu orang yang jiwanya gelisah, butuh pengakuan dari luar.  Jadi auto kasihan, lalu jadi kasih sayang saja hati itu.

Penting banget menyadari bila hati dan pikiran ini digerakkan oleh Allah juga, buktinya apa?  Buktinya kamu tidak bisa mengendalikan hati dan pikiranmu sendiri.  Kadang antara hati dan pikiran tidak sinkron, padahal kepinginnya sinkron 'kan?  

Inginnya pikiran, hati tidak jatuh cinta pada dia, karena dia milik orang, tapi hati benar-benar tidak mau diajak kompromi, tetap saja gak bisa move on.  Ada nggak yang kayak gini?  Itulah buktinya bila bukan kamu yang mengendalikan isi hatimu,  Allah tersangkanya.

Pikiran pun begitu, suka liar mengomentari sana sini, menilai ini itu.

Obatnya disadari saja, alias kembali ke kesadaran, alias kembali ke ketuhanan, kembali ke Allah.  Pasrahkan hati dan pikiranmu ke Allah.  

Begitupun ketika batin ini merendahkan orang lain, segera sadari, biar tidak mengalami kegelisahan yang kamu tak tahu apa penyebabnya.  

Sebab perasaan disayang Allah itu adalah segala-galanya.


Minggu, 05 April 2026

Masalah Itu Ilusi

 Bukan hanya masalah, dunia ini ilusi, harta, jabatan, orang-orang yang kita sayangi, semua itu ilusi. Seperti fatamorgana, kita sangka ada, padahal hakekatnya tidak ada, atau pada saatnya nanti bakalan tidak ada.  Orang yang bisa melihat semua itu tidak ada saat hidup di dunia ini, itu manusia keren. 

Teristimewa masalah, yang lagi bermasalah boleh kumpul di sini, nikmati chiffon cake-nya. 

Masalah adalah ilusi. 

Renungkan ini ya.

Saat Innuri chatting sama sahabat yang lagi curhat, aku membayangkannya dia sedang duduk santai dengan handphone di tangan, atau sedang selonjoran di sofa, atau lagi males-malesan di tempat tidur.  Ada juga sih yang dalam keadaan lapar, susah makan dan susah tidur karena pikirannya kalut. Yang dia keluhkan orang-orang yang tidak sedang bersamanya, yang tidak sedang menzaliminya di saat dia mengetik keluhannya.  Yang dia keluhkan ketakutannya pada suaminya yang bahkan tidak sedang menyakitinya.  Atau debt kolektor yang baru mau datang besok.

Bahkan untuk bersyukur didudukkan Allah dalam keadaan sehat dengan handphone yang senantiasa membersamainya saja tidak sempat. Yang dikeluhkan adalah "tidak ada" atau tidak sedang berlangsung saat ini.

Ibarat terluka satu menit, sakitnya bertahun-tahun.  Dalam keadaan tidak disakiti pun rasa sakitnya bertahan.   Sungguh manusia itu pemelihara rasa sakit paling canggih!  Atau sakit karena memikirkan yang belum terjadi, tidak masuk akal 'kan?

Sudahkah kalian renungkan bahwa manusia sering memasalahkan masalah yang sedang tidak berlangsung?

Sedang tidak berlangsung artinya tidak ada.

Benarkah?

Baiklah, sampai di sini, pembaca Innuri yang pikirannya aktif banget, pasti ngomong di hatinya tuh, memangnya nggak boleh memikirkan sesuatu yang kemungkinan terjadi untuk berjaga-jaga agar tidak terulang? Memangnya nggak boleh mikirin solusi?  Memangnya nggak boleh antisipasi?  Memangnya nggak boleh curhat sama mbak Innuri? 

Silakan ngomong semau-maunya pikiranmu, tapi coba disadari, ditonton saja itu pikiran biar bosen jadi artis di kepalamu. 

Sudah puaskah pikiranmu ngomong? Aku teruskan ya.

Bila kamu sedang mempermasalahkan masalah yang sedang tidak berlangsung, alias tidak ada, berarti masalah itu hanya berada di kepalamu.

Untuk membuat masalah itu selesai, ya selesaikan di kepalamu.  Namanya menyelesaikan masalah di luar dari dalam.  Yang terkenal di blog ini namanya ho'oponopono, sebuah istilah cara berdoa ala orang Hawai.  Itu cara yang mudah sekali, boleh dipelajari di Keajaiban Berawal dari Cinta Kasih.  Tapi kalian boleh pakai cara apa saja kok, yang penting, selesaikan yang di dalamnya kamu itu loh.

Nggak boleh curhat sama Innuri?  Boleh asal tujuannya nyari solusi, bukan untuk buang sampah ya. Soalnya ada pembaca Innuri yang curhatnya cuma untuk mencari dukungan atas sikap-sikapnya, nggak menjalankan apa yang aku sarankan, dengan kata lain dia hanya menganggap aku tempat sampah saja.  Orang kayak gini pasti ketahuan kok dan pasti didamprat sama Beliau.

Ada cara agar masalah selesai dalam satu detik saja.  Dengan pola pikir seperti ini:

Bila semua ini milik Allah, maka masalah juga milik Allah, dan Dia pasti menyelesaikannya.

Sudah bisa tenang? 

Ada lagi jurus lain untuk melenyapkan masalah, yaitu dengan berbahagia di sini saat ini, populer disebut mindfullness. Sebagai muslim, aku menyebutnya mensyukuri di sini dan saat ini.  Pikiran nggak kemana-mana, hanya fokus di kondisi di sini dan saat ini, memunculkan rasa syukur yang luar biasa.

Prakteknya begini, dalam keadaan apa saja, pikiran tidak kemana-mana, tapi fokus di keadaan saat ini dan di sini.  Misal saat nyapu rumah, pikiranmu hanya terfokus pada dirimu, gerakanmu yang menyapu itu dan posisi kamu menyapu.  Pikiran yang ke mana-mana tarik ke keadaanmu yang saat ini menyapu.  Sesederhana itu, tapi lihat betapa efeknya yang tidak sederhana. 

Innuri sering tiba-tiba jadi mbrebes mili kalau di posisi di sini saat ini.  Terasa banget betapa Allah yang memosisikan aku dengan kasih sayangNya di keadaan saat ini, di tempat duduk ini, di depan komputer ini, di rumah yang damai, dengan udara yang bisa aku hirup gratis, dengan anggota tubuh yang disetel normal olehNya, sehingga aku bisa melakukan aktifitasku dengan bahagia. Aku menulis dengan digerakkan olehNya, oleh kasih sayangNya.  Aku berada di lautan kasih sayangNya, menuliskan kata demi kata yang menggambarkan kasih sayangNya.  

Tulisan ini pun hadir di hadapanmu, terbaca olehmu, dengan matamu yang sehat, di posisimu saat ini, Allah lah yang memosisikanmu, dengan kasih sayangNya.  Karena Allah peduli dengan hidupmu, dengan masa depanmu, bahkan selalu menjagamu tetap bahagia.

Maka jangan berpaling lagi dariNya.  Beradalah di sini, saat ini. Karena Dia yang akan menyelesaikan segala kekhawatiran dan ketakutanmu karena semua itu juga ilusi, ilusi yang membawamu kepadaNya. 


Rabu, 01 April 2026

Blunder Masalah

 Ada sahabat Innuri yang hampir setiap hari chatting di WA, cerita macam-macam, dari spiritual sampai masalah pribadi.  Teman yang asik untuk berdiskusi karena otaknya otak logika, apa-apa musti logis, sedangkan aku cenderung pakai feeling, saling melengkapi 'kan?

Dia sedang ada masalah di keluarga besarnya, masalah yang rumit sekali.  Aku bantuin dengan cara apa pun, dari saran, nasehat, sampai ke transfer energi, tak ngefek sama sekali.

Oh ya, buat pembaca Innuri blog yang mengeluh dengan kondisi finansial, boleh lega ya, karena sahabat yang aku ceritakan ini dari keluarga kaya raya, tinggal di kota besar dengan rumah di tengah tanah ribuan meter di kawasan elit, plus ada kolam renangnya yang gedeeee. Itu baru satu rumah, rumah lainnya tersebar di beberapa kota dan pulau.  Tajir melintir, tapi masalahnya jauh lebih kompleks dari kalian yang kena masalah finansial, jadi jangan merasa paling menderita sedunia ya.

Ini kali kedua Innuri ketemu keluarga tajir tapi masalahnya bejibun dan ruwet.  Yang pertama pelanggan butikku dulu, orang kaya tingkat propinsi dah. Saking kayanya, kalau beliau bepergian keluar negri, bawa dokter pribadi, perawat, pembantu, serombongan deh.  Tapi masalah yang dihadapi juga rombongan ... hmm.

Kembali ke cerita sahabatku itu ya.

Aku tidak bisa bercerita masalah yang dihadapinya apa, ya pokoknya masalahnya kompleks, itu saja. Lalu karena aku tak bisa membantunya sama sekali, aku coba terawang saja ... haha.  Diterawang pun susah, tetapi kelihatan sesuatu, sesuatu yang bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.  Makanya aku tulis di sini.

Ada kebiasaan orang-orang yang suka berpikir logis, yaitu suka mengontrol ini itu.  Misal, jadi anak harusnya begini, jadi suami harusnya begitu, jadi menantu mestinya titik-titik .... sampai mengontrol masalahnya harus selesai dengan ending seperti ini atau seperti itu.  Jadi blunder.

Masalah malah semakin mengeras ketika terlalu 'digenggam', artinya tidak selesai-selesai atau malah semakin parah.  Itulah yang terjadi pada sahabatku itu.

Masalah sudah dicari akarnya, tetapi lupa bila akarnya akar masalah adalah hawa nafsu.  Ingin masalah cepat selesai itu pun hawa nafsu.  Karena setiap masalah ada waktunya sendiri, ada targetnya sendiri, ada 'pesan Tuhan' dibalik masalah yang datang.

Mencari-cari apa pesan Tuhan, sudah merasa ketemu, sudah istighfar memohon ampun, tetapi batinnya selalu bergejolak,"Kami sudah beristighfar, kenapa masalah tak kunjung selesai?" Batinnya menuntut Tuhan untuk segera menyelesaikan masalahnya.  Ya namanya demo sama Tuhan. Blunder lagi dong, Tuhan kok didemo.

Begini loh, Sayang. Masalah versi kamu dengan versi Tuhan itu beda.  Misal nih, tidak punya uang itu masalah buat kamu, tapi menurut Tuhan masalahnya adalah kalau kamu punya uang, kamu akan beli rokok/narkoba/miras yang membahayakan bagi kesehatanmu, jadi dibuatlah kamu tidak punya uang biar nggak beli rokok.  Pahamkah?

Masalahmu sekarang apa, bisa jadi itu untuk menyelamatkanmu dari masalah yang lebih besar.  Bisa jadi begitu atau ada hal lain yang pikiran manusia ini nggak nyucuk alias nggak bisa menjangkaunya.

Berpihaklah pada Tuhan, artinya setujulah dengan segala kejadian yang dirancang Tuhan.  Dalam Islam namanya percaya pada qada qadar, dalam stoic namanya amorfati.

Lantas masalahnya diapakan?

Dipasrahkan alias dikasihkan dan dipercayakan ke Allah.  Wes ngono wae.  Kalau kamu percaya Allah Maha ngasih solusi, Maha Kasih Sayang, Maha segala-galanya, kamu sudah tidak khawatir lagi.  Masalahmu berada di tangan ahlinya, di tangan yang benar.

Lakukan apa yang bisa dilakukan, atau lakukan yang memang ada petunjuk untuk melakukan.

Allah membuat segalanya mudah dan sederhana, jadi jangan mempersulit diri, malah nambah penyakit nanti ya.  I love you.

Semesta Paralel (8)

 Kukira pembahasan tentang semesta paralel sudah selesai di bagian ke 7, sampai pagi tadi sambil masak kok bermunculan pemahaman-pemahaman baru yang Allah berikan ke otakku ini.  Padahal mauku hari ini mau melukis, tapi ngerjain lukisan malah berantakan, sebuah pertanda bila aku harus menuliskan pemahaman-pemahaman yang Allah berikan pagi tadi.

Baiklah. Monggo duduk santai dan nikmati kopinya ... hehe. 

Dari tulisan-tulisan sebelumnya, sudah paham bila setelah mati di dunia, ruh/jiwa kita akan pindah channel atau pindah semesta.  Semesta-semesta itu sudah ada saat ini dan 'turunan jiwa' kita sudah berada di sana, yang disebut satu jiwa multidimensi.  

Untuk lebih jelas soal satu jiwa multidimensi, bayangkan seperti Naruto dengan jurus seribu bayangan itu loh, yang disebut kage bunshin.  Nah, kita juga punya kage bunshin di semesta-semesta yang lain itu, saat ini kita berada di bumi, dunia manusia, karena jiwa yang asli ditempatkan di sini.  Sedangkan di semesta yang lain, itu jiwa turunan / jiwa bayangan,  kita sebut saja kage bunshin biar gampang ya.

Adapun semesta-semesta yang lain itu di dalam agama ada disebut: alam kubur, alam barzah, alam penantian, padang maghsyar, surga, neraka,dll.  Semesta-semesta  itu pun bertingkat dalam keabadian, dunia adalah semesta yang tidak abadi, surga (semesta kesenangan) dan neraka (semesta penderitaan) pun ada yang tidak abadi dan ada yang abadi, seperti itulah yang tertulis di kitab suci (maaf belum sempat nyari ayatnya)

Sampai di sini paham 'kan?  

1. ada jiwa multidimensi yang hidup dan tinggal di multisemesta, semua terjadi secara simultan (serentak)

2. kita merasakan hidup di dunia, karena Allah naruh jiwa yang asli di sini, di semesta yang lain hanya kagebunshin.

3. setelah mati di dunia, jiwa asli kita nanti pindah semesta, ke semesta yang mana itu tergantung dari amal perbuatan kita di dunia.

4. ada semesta abadi yang merupakan tingkat tertinggi, yang ketika berada di sana, sudah nggak mbalik lagi ke semesta yang tidak abadi.  Ini semestanya orang yang sudah manunggaling kawula Gusti, sudah menyatu dengan Tuhan, sudah moksha.  Di sini keindahannya tak terbayangkan oleh kita.

Nah, pilihan ada di tangan kalian, mumpung masih hidup di dunia, ntar nanti setelah mati mau lompat ke mana?  Ke semesta yang masih sementara (tidak abadi) atau ke semesta yang abadi? 

Aku kasih tahu ya.  Perjuangan untuk sampai ke semesta abadi itu berat, berat, dan sangat berat.  Sulit, sulit dan sangat sulit.  Tapi bukan berarti tidak bisa.  Sulitnya seperti meniti jembatan serambut dibelah tujuh, sesulit itu.  Makanya kita tak pernah bisa tanpa pertolongan Allah, hanya kasih sayangNya yang membuat kita bisa sampai ke sana.

Kenapa berat dan kenapa sulit? Karena yang kita hadapi dan yang harus kita selesaikan ada di dalam diri kita sendiri, musuhnya ada di dalam diri sendiri, musuh yang sudah menyatu, seolah-olah teman, berlaku sebagai sahabat padahal njlomprongke alias menyesatkan.

Kabar baiknya, sebenarnya kita tinggal memilih saja, nanti Allah yang akan jalankan. Bila pilihanmu adalah semesta abadi yang tanpa penderitaan, katakan pilihanmu kepada Allah. Katakan saja pakai bahasa hatimu, bila kamu memilih Allah dan siap dijalankan Allah di situ.  Urusan nanti bagaimana menempuhnya, serahkan Allah. Itu namanya pasrah, itulah Islam, orangnya disebut muslim. 

Tidak gampang tetapi gampang ya.  Percaya Allah saja nanti Allah yang kasih petunjuk dan jalannya, percaya itu namanya iman. 

Apa tanda-tandanya bila kita adalah calon penghuni semesta keabadian?  Buka Surat Yunus 62 , kamu tidak pernah sedih, takut atau khawatir, apalagi galau.  Surat Al Fajr 27-30 , jiwanya tenang.

Untuk sampai ke Yunus 62 Dan Al Fajr 27 itu perjuangannya panjang.  Innuri sudah sering menulisnya, tapi insyaAllah aku bahas lagi di tulisan yang lain dengan pendekatan yang lain agar mudah dipahami..

Jadi sampai di sini dulu ya, Innuri mau olah raga, soalnya masih di dunia, butuh olah raga biar sehat dan awet cantik... haha. 

Senin, 30 Maret 2026

Menembus Ilusi Tiga Dimensi

 Persoalan yang sering menjegal manusia dalam memahami kesejatian adalah dia seolah abstrak, padahal itu lebih nyata dari yang terlihat.  Sesuatu yang nyata tapi abstrak, membuat manusia yang sudah sejak bayi terjebak di dunia tiga dimensi ini susah yakin dan percaya.  Ditunjang oleh pergaulan dengan sesama manusia dengan pandangan yang sama. 

Manusia yang tidak terjebak dalam ilusi tiga dimensi itu manusia langka, karena jumlahnya sedikit sekali. Bila kamu menemukannya, jadikanlah dia temanmu atau sahabatmu.

Ketika manusia bisa menemukan kesejatian, walau masih baru masuk sejengkal. Lalu dia membaur dengan keramaian, itu menariknya lagi dalam ilusi tiga dimensi yang kerap menyesatkan. Terjadi proses tarik ulur yang melelahkan.  Sesulit itu memang, tetapi worth it untuk ditempuh.

 Pikiran dan perasaan pun abstrak, tak terlihat atau teraba, tapi ,manusia mempercayainya karena berada di dalam dirinya dan dia merasakan gerakan dan gejolaknya.  Tuhan pun ada di dalam diri manusia, tetapi kebanyakan manusia sulit merasakannya, padahal Dia adalah sumber gerakannya. Pertanyaannya adalah ada apa?

Bagaimana saya yakin akan Allah?  Itu pertanyaan yang sering aku dengar dari pembacaku yang tengah terlilit masalah. 

Yang kamu butuhkan adalah keheningan, agar kamu bisa menembus ilusi tiga dimensi itu. 

Allah hanya bisa kamu temui ketika batinmu hening. 

Kamu harus merobohkan dinding ilusi dengan keheningan. 

Nah, yang sering Innuri temui dari orang-orang yang bermasalah dengan tubuh fisik dan batinnya adalah pikiran yang susah hening.  Pikiran yang semrawut, sana dikomentari, sini dibenci, situ dihakimi, sono dianalisa, pikiran yang terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak penting tapi dianggap penting.  Ada kegagalan dalam memilah informasi di dalam batinnya.

Saranku, rajin-rajinlah bermeditasi. Walau tak semudah itu bagi pikiran yang terbiasa meloncat ke sana ke mari. Bila tidak dilatih, selamanya kamu akan terpenjara dalam ilusi tiga dimensi. 

Diamlah, duduk diam, atau berbaring.  Bernapaslah seperti biasa tetapi sadari napasmu, sadari saja masuk dan keluarnya napas dari hidungmu. Sampai lama kelamaan, napasmu yang semula bergerak cepat, ritmenya melambat, terus melambat sampai napas terasa panjang dan lembut. Teruslah memerhatikan napasmu sampai hatimu terasa begitu damai. 

Dalam kedamaian kamu akan menemukan inti dirimu. Kamu akan temukan jawaban-jawaban, atau apa yang kamu butuhkan.  Kamu akan bertemu dengan yang dulunya kamu anggap abstrak, menjadi nyata.  Dalam dirimu terjadi 'pengalaman ketuhanan'. 

"Sudah mbak In, aku sudah meditasi. Tapi tidak bisa ketemu Allah."

Ya kamu harus meyakini, Allah melihatmu, melihat usahamu, Dia selalu ada di hatimu. Allah juga yang menggerakkanmu kepadaNya. Kamu hanya perlu percaya. 

Bermeditasilah tanpa merasa bermeditasi. Maksudku, kamu jangan merasa berusaha bermeditasi, tetapi kamu sedang digerakkan Allah untuk bermeditasi. Begicuu yaa. 


Minggu, 29 Maret 2026

Buku Harian

Seorang pembacaku bilang, membaca bukunya mbak Innuri itu kayak membaca buku harian.  Awalnya aku merasa agak gimana gitu, jadi teringat pesan anak-anakku, "Ibuk jangan memosting kehidupan pribadi ke media sosial ya."

Rasanya pingin membela diri, aku (bukan aku, tapi Allah yang menggerakkan) hanya memosting sesuatu yang bermanfaat yang bisa diambil hikmahnya oleh orang banyak, termasuk cerita receh pun bila itu menghibur, itu pun bermanfaat 'kan?  Aslinya biar linimasaku nggak terisi tulisan spiritual thok, biar aku terlihat manusia, bukan allien ... haha.  Poinnya adalah bermanfaat, bukan untuk pamer atau mengumbar kehidupan pribadi, ya walau kadang hanya untuk menyimpan kenangan sih (Allah, boleh nyimpen kenangan 'kan?)

Sejujurnya sudah terserah Allah saja hidupku ini mau diapakan. Bukankah para Nabi dan orang-orang bijak pun kehidupannya sudah nggak privat lagi, seperti buku harian yang terbuka, kesalahan-kesalahannya malah dibuka di kitab suci.

Di dunia ini tidak ada cerita tanpa makna, semua dihadirkan Allah untuk maksud tertentu, cerita hidupku, hidupmu, hidupnya, hidup mereka. 

Soal buku harian itu, memang tidak salah apa yang dikatakan pembacaku, aku menulis di blog terlihat seperti menulis buku harian. Kadang berupa renungan-renungan, kadang yo curhat, tapi tidak semua hal yang aku tulis aku publikasikan, sebatas yang bermanfaat bila dibaca orang saja.  Walau kadang malu-maluin, bila bermanfaat, it's oke, Allah.

Mungkin karena kebiasaan menulis buku harian sejak SMP. 

Ulang tahunku jatuh di bulan Januari, dan Bapak selalu memberi hadiah ulang tahun berupa buku harian.  Barangkali maksud Bapak agar aku punya kebiasaan menulis.  Waktu SMP, buku harianku yang pertama, aku masih belum rajin menulis, banyak halaman kosong, baru ketika SMA mulai banyak tulisan, terutama tentang kegiatanku sehari-hari, segala peristiwa dan juga perasaan aku tumpahkan di situ.  Itu berlangsung sampai aku kuliah dan menikah.  



Nah, saat aku ikut suami ke mana-mana, setumpuk buku harian itu aku tinggalkan di Ngantang, di rumah ibu.  Aku lebih suka membawa setumpuk buku resep masakan karena aku tidak bisa memasak dan tentu saja buku harian yang baru.  Baru ketika pindah ke Malang lagi, aku menemukan kembali buku harianku yang setumpuk itu, utuh tak berkurang sehelai pun di rak perpustakaan keluarga, bergabung dengan diktat kuliah sampai buku tulisku sewaktu SD. Seteliti itu ibuku, orang Jawa bilang primpen, aku sudah beranak pinak, ibu masih menyimpan buku tulisku waktu SD! Terima kasih Ibu, rupanya begitulah cara ibuku mencintai kami, anak-anaknya.

Sudah Allah kehendaki demikian, dari buku harian yang disimpan ibu itu aku jadi mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi dalam hidupku. Kutulis jadi novel dari buku harian juga, walau aku dramatisir biar manis, jadi aku minta maaf kepada siapa pun yang pernah berada di masa lalu, karena telah menuliskanmu tanpa ijin. 

Banyak yang aku pelajari dari buku harianku.  Orang-orang datang dan pergi dari hidupku, semua membawa makna.  Manusia dipertemukan satu sama lain untuk saling belajar, dipisahkan pun demikian.  Berpisah dengan orang yang aku cintai adalah sebuah latihan bagi jiwa untuk mengelola rasa sakit.  Aku heran juga dengan pemikiranku saat masih remaja, sudah spiritual sekali.

Suka dan duka datang silih berganti, hidup tidak banyak memberi pilihan, memaksa kita mengikuti 'rule'nya.  Tak bisa memilih pengalaman manis saja yang datang.  Kita tak bisa merasakan senang bila tidak pernah merasakan sedih.  Kita tidak bisa menghargai kesetiaan bila tak pernah dikhianati.  Kita tak bisa merasakan kelonggaran bila tak pernah mengalami kesempitan.  Tambahkan sendiri sesuai dengan kondisimu saat ini.
 
Selamanya dalam hidup selalu terjadi dua hal yang seolah bertentangan, tetapi mereka bersahabat, membentuk diri kita hingga hari ini.  Berterimakasihlah pada keduanya. 
 
Ada juga pembaca yang memuji-mujiku (ngasih makan egoku nih), mbak Innuri itu pengalaman spiritualnya luar biasa. Aku harus katakan, di luar sana banyak orang mengalami hal yang lebih luar biasa, tetapi mereka diam. Bisa jadi pembaca Innuri blog ini lebih dalam pengalaman spiritualnya, tetapi tak menulis.  Innuri bersuara karena aku memang punya tugas menulis, aslinya bukan aku, tapi Allah.  Aku menulis karena ada perintah untuk menulis, karena Allah yang menggerakkanku menulis.  Jadi Innuri tak seluarbiasa itu ya, dia mah sudah tiada.
 
Sekarang menjadi penulis itu mudah, tinggal ngepromt ke AI,  tulisan sudah auto bagus sekali, tetapi tidak ada 'ruh'nya.  Jadi biar saja Innuri hadir dengan tulisan yang sederhana tetapi jujur lahir dari manusia, bukan mesin.  Manusia butuh disentuh manusia, kukira rasanya pasti beda.   

Inilah catatan harianku hari ini ... hmm.

Mulai Dari Mana?

 "Hubungkan saja hati dengan Allah."

"Bagaimana caranya?" 

"Rasakan saja kehadiran Allah, hanya diam untuk merasakan."  Dia bingung tak tahu caranya dan tak tahu hendak mulai dari mana.  Adakah kalian yang merasa begitu?

"Aku sudah menulisnya, coba search di blog atau di Fb di album Innuri Inspirasi," kataku.

"Tulisan Bunda banyak sekali, bingung mana yang musti tak baca."

Belakangan ini aku sering dihadapkan pada situasi itu, saking seringnya sampai terpikirkan olehku mungkin perlu menyusun buku lagi, semacam panduan untuk mempermudah perjalanan bertemu Allah.  Menyusun buku, bukan menulis buku, karena sebenarnya aku sudah sering menuliskannya, tinggal merangkainya jadi buku.

Mungkin sudah waktunya.  Bukuku yang pertama Menciptakan Keajaiban Finansial, sebenarnya mengajak orang agar hidup untuk Allah, sementara materi akan mengikuti.  Sukses membuat anakku Zeli bilang, ini buku bikin orang jadi matre, tapi di sisi lain dengan ijin Allah banyak yang bisa punya rumah setelah sebelumnya merasa sangat sulit untuk punya, juga lunas hutang, dll.  Aku menilai itu buku yang "benar tapi salah", karena ujung-ujungnnya seperti dikatakan Zeli.

Lalu terbit buku kedua Energi Murni Alam Semesta (EMAS) yang di dalamnya ada tuntunan untuk mengakses energi murni alam untuk kesehatan dan kebahagiaan, tapi juga mengajak orang menempuh hidup dengan cinta kasih.  Aku menilai buku itu "salah tapi benar".  Salahnya aku menganggap semua orang bisa melakukan transfer energi sepertiku, padahal itu karomah namanya, tidak semua orang bisa.

Perasaan kok tidak ada yang benar-benar salah atau benar-benar benar ... hehe, tapi mungkin buku ketigaku adalah buku yang "benar tapi benar".  Kok bisa seyakin itu?  Karena aku tidak merasa menulis, Allahlah yang menulis atau Allah yang menggerakkanku menulis.  Inilah yang membuatnya benar tapi benar.

'Benar tapi benar' di hadapan Allah itu berbeda dengan versi manusia.  Di mata manusia bisa jadi 'salah tapi salah' dan bisa dihukumi sesat, murtad, gila, dsb, Innuri dah wareg dikatain begitu.  Innuri jangan nangis ya ... puk puk puk!

Innuri harus jujur pada kalian, dua bukuku yang sudah terbit itu masih berbau ego, aku masih merasa menulis, nah 'kan Innuri jadi malu sama Allah sekarang.  Tapi nggak apa-apa kata Allah, karena setiap orang menempuh langkah demi langkah untuk sampai kepada Allah.  Langkahnya Innuri ya buku itu, step pertama masih berkutat pada materi, step kedua sudah lebih mending, sudah bicara soal kedamaian, kebahagiaan hakiki dan cinta kasih, step ketiganya adalah puncak spiritual, memandu orang untuk menyatu dengan  Allah.

Entah kapan buku itu terwujud, Innuri belum memulainya, baru terpikirkan setelah dihadapkan pada masalah yang aku ceritakan di awal.  

Sementara ini, buat yang bingung memulai dari mana dan bagaimana caranya, berikut ini tips dari Innuri:

- pelajari mulai dari tulisan ini Tuhan dalam Pikiran  lanjut tulisan selanjutnya Menempuh Lapisan Indra  lalu lanjut ke seri  Perjalanan ke Dalam 1  

- ada 7 artikel di Perjalanan ke Dalam, sampai Perjalanan ke Dalam 7 , untuk yang ke dua sampai ke enam cari sendiri di blog ya.

- selanjutnya pelajari Zikir Sirrur Asror  

- bila sudah paham semuanya, boleh pelajari Salat Daim 1 sampai Salat Daim 4, cari sendiri di blog.

Sudah itu saja, bila ada pertanyaan di tengah-tengah mempraktekkan yang tertulis di sini, boleh inbox di Fb Innuri atau di IG atau yang tahu nomor WA-ku boleh juga. 


Jumat, 27 Maret 2026

Family yang Toxic

 Ada teman dari Quora yang bertanya begini (beliau sudah mengijinkan kisah ini aku tulis di blog) :

Maaf bu, keluar dari topik. Saya ingin bertanya. Dari sudut pandang ibu yg sangat saya kagumi, saya ingin ibu memberi saran kepada saya🙏

Saya usia 25 tahun belum menikah. Saya punya kakak dan orang tua yang menurut saya sangat toxic. Orang tua saya seringkali mendoakan kesuksesan saya tapi dengan embel-embel ingin saya menopang hidup beliau seumur hidupnya. Ketika saya punya uang, dia mengatai saya dengan kata2 pelit, eprhitungan, dll. Padahal nyatanya saya pernah habis-habisan tidak punya tabungan untuk mencukupi kebutuhan rumah. Padahal gaji saya gede waktu itu.

Sedangkan kakak saya ketika saya punya uang selalu berusaha supaya uang saya keluar untuk sesuatu yg sia-sia. Dia tidak terima ketika saya punya tabungan, tambah cantik, dan semakin maju. Ketika saya tidak menurutinya, saya difitnah kesana kemari katanya saya perhitungan dengan keluarga, sangat pelit, dll. Sehingga banyak yg diam2 membenci saya. Padahal saya hanya belajar dari pengalaman sebelumnya kalau membantu keluarga itu seperlunya saja tanpa mengesampingkan diri saya sendiri. Karena kalau ingat saya dulu yg mengutamakan keluarga saya malah saya sendiri kurus kering, gak terawat, dan selalu kurang. Kakak saya dulu seringkali bilang "hee, kamu gak akan bisa ada diatasku. Kamu dari dulu cuma babuku. Kamu itu akan selalu melarat. Aku gini dapatnya PNS. Kalau kmu dapat kuli atau gak buruh pabrik udah bagus banget hahaha. Palingan nikah bentar udah dicerai soalnya jijik liat wajah jelekmu". Sakit sekali dengarnya.

Saya bahagia dengan perubahan saya saat ini tapi saya sakit sekali dengan perlakuan keluarga.

Rasanya sangat lelah, Bu🥹🥹😭


Lalu aku minta mbak Eka, panggil saja begitu,  untuk berkirim pesan pribadi saja, aku minta foto mereka bertiga, Ibu, kakaknya dan mbak Eka sendiri, berikut nama asli mereka bertiga.


Kenapa aku minta foto dan nama asli?  Untuk 'diterawang' ya?  Iya dong, karena dalam kasus seperti ini aku tidak bisa berbicara dengan tiga belah pihak.  Bisa jadi omongan mbak Eka gak bener 'kan?  Nggak bisa 'kan melihat masalah dari satu sudut pandang saja?  Aku memang harus 'nerawang' untuk melihat masalah secara jernih.


Kembali ke masalah ya.

Akhirnya setelah aku lihat fotonya, memang karakter ibunya setoxic itu ditambah menekan, egois dan keras hati, makanya mba Eka merasa tertekan.  Kakaknya juga sejahat itu, kejam dan ingin menguasai, padahal wajahnya cantik dan lembut loh, tapi kebaca saja sisi gelapnya.  Sementara mba Eka punya wajah cantik dan positiv vibes orangnya, tapi karena punya pengalaman pahit sehubungan dengan membantu keluarga secara financial, orangnya jadi perhitungan dan ada hitam-hitamnya dendam yang harus diselesaikan.


Aku sarankan untuk menjauh dari keduanya, tidak tinggal serumah, ngekost atau ngontrak saja, kalau perlu membantu keluarga, ya membantu semampunya dan seikhlasnya. Sesederhana itu, yang tidak sederhana adalah apa maksud Allah dibalik situasi yang tidak enak itu?


Waktu aku membaca foto mbak Eka, aku langsung nangkep, bila dendam dan kemarahan yang masih terpendam di hatinya itu bisa diselesaikan, hidupnya bakal luar biasa, bisa melejit entah secara karier atau spiritual, dengan kehendak Allah.  Aku bilang padanya untuk mensyukuri ujian yang berupa ibu dan kakak, karena itu cara Allah menaikan levelnya.


Di masyarakat manusia memang sering terjadi pola seperti ini, diberikan ujian, setelah lulus mendapat anugerah yang indah.  Tinggal manusianya saja, mau nggak mengerjakan soal ujiannya?


Yang harus dikerjakan mbak Eka adalah menyelesaikan dendam dan kemarahan yang  masih tersimpan di batinnya sampai bersih dengan memaafkan, memaklumi.  Tandanya sudah bersih muncul perasaan damai, kasih sayang kepada Ibu dan kakaknya.


Bagaimana cara memaafkan sampai bisa berdamai dengan semuanya? Banyak caranya, Salah satunya bisa  mencoba Ho'oponopono , itu cara mudah.


Mbak Eka juga bertanya tentang sikap apa yang harus diambil sehubungan dengan kakaknya yang sering memfitnahnya?  Bila sudah bisa berdamai dengan perasaan marah dan dendam itu, otomatis nanti akan muncul petunjukNya musti ngapain.


Semoga mbak Eka bisa menyelesaikan PR-nya.  Aamiin.

Keajaiban Tahajud

 Beberapa pembaca Innuri mencurigai ada 'sesuatu' yang tidak beres dalam dirinya dan orang-orang terkasihnya, yang dia curiga itu guna-guna.  Aku jadi teringat tulisanku di Quora, ini aku copas jawaban atas pertanyaan,"Apakah keajaiban tahajud yang kamu alami?"

Semoga jawabanku bermanfaat buat orang-orang yang kena guna-guna atau siapa pun yang merasa ada yang tidak beres di tubuhnya.

Semasih remaja, masa-masa SMA, aku adalah gadis yang gampang membuat cowok jatuh cinta, entah karena apa. Tetapi tentunya aku nggak bisa menerima semua cinta itu bukan? Nah, di sinilah letak persoalannya, barangkali ada yang begitu sakit hati dengan penolakanku, maka aku dikirimi guna-guna.

Bagaimana rasanya kena guna-guna? Benar-benar mengerikan. Aku mengalami ketakutan sekitar 4 tahun, jadi guna-guna itu "bekerja" sampai aku kuliah dan menikah (untungnya guna-guna itu tak sampai 'menutup' jodohku).

Aku menduga, guna-guna itu ditargetkan untuk membuat aku gila.

Jadi ceritanya begini. Semula setiap malam aku merasa tidur ditunggui seorang nenek-nenek, lalu ketika terbangun, aku melihat banyak makhluk-makhluk aneh berwarna hitam berada di dekat kakiku dan memasukkan 'sesuatu' melewati telapak kakiku, aku merasa ada yang memasuki tubuhku. Lalu bisa aku atasi dengan doa-doa.

Ketika doa-doa selesai kupanjatkan, maka aku merasa ada 'asap hitam' keluar dari kepalaku. Jadi 'asap' itu dimasukkan lewat kakiku, keluarnya lewat kepalaku.

Kejadian itu berulang setiap malam sampai aku tidak berani tidur sendiri. Masa SMA, aku tinggal di rumah bulik, jadi kalau paklik lagi tidak ada di rumah, aku pindah ke kamar bulik. Kalau paklik sedang ada di rumah, maka sepupuku yang cowok aku minta tidur di sofa, akunya tidur di kamarku sendiri dengan pintu kamar yang terbuka.

Begitulah setiap malam aku mengalami ketakutan yang luar biasa, siangnya bayangan wajah seorang cowok yang pernah kutolak cintanya membayangiku terus. Hanya membayangi, tetapi cintaku tetap masih untuk cowokku sendiri.

Hari-hari yang berat aku lalui sambil memikirkan sekolah. Di sekolah aku jadi sering lemas dan pingsan karena malamnya susah tidur, aku langganan masuk ruang UKS sampai dekat dengan guru BK, nama beliau Pak Hanan, aku pajang di PP Quoraku, itu fotoku dengan beliau, alhamdulillah Pak Hanan masih sehat sampai saat ini, beliau hafal denganku gara-gara langganan pingsan dan kram di sekolah.

Foto aku dan Pak Hanan tahun 2019 lalu.

Puncak dari guna-guna itu terjadi pada suatu malam, mungkin karena tak berhasil dengan cara yang kemarin, malam itu guna-gunanya dimasukkan lewat mimpi. Aku bermimpi buruk sekali yang puncak dari mimpiku, aku merasa ada 'sesuatu' yang dimasukkan ke kepalaku bagian atas, masuk dengan 'dijejalkan', rasanya seperti dimasuki sebongkah batu berbentuk silinder tetapi tumpul di sisi-sisinya (berbentuk kapsul super gede).

Aku terbangun, kepalaku rasanya berat sekali dan berusaha menyelesaikannya dengan doa-doa seperti malam-malam sebelumnya, namun 'sesuatu' itu tidak bisa keluar, dia menetap di kepalaku sejak malam itu, kejadiannya aku kelas 2 SMA sampai aku kuliah dan menikah. Sudahlah kepalaku ini terasa berat, kadang merasa otakku seperti diremas-remas, membuatku susah berkonsentrasi. Itulah penderitaan beratku selama 4 tahun, sakit kepala yang bukan sakit kepala biasa ditambah penampakan makhluk-makhluk mengerikan hampir setiap malam. Bila bukan karena kasih sayang Allah, mungkin aku sudah depresi dan gila.

Singkat cerita, saat aku kuliah aku punya pembimbing spiritual, nama pena beliau Syamsul'alam, seorang penulis rubrik Tasawuf di majalah Jawa Panjebar Semangat. Aku memanggilnya Eyang Syamsul'alam. Beliau menyarankan aku untuk:

  • selalu dalam keadaan suci (menjaga wudu, kalau batal berwudu lagi)
  • tahajud
  • zikir setelah tahajud sampai tenggelam dalam asma Allah

Aku melakukan nasehat beliau, saat itu aku sudah menikah. Entah berapa lama aku melakukannya, keajaiban pun datang di sebuah malam.

Aku bermimpi, bertemu makhluk hitam dengan kepala pelontos (lebih mengerikan dibandingkan dengan gambaran tentang jin di film-film), lalu setelah itu aku seperti mendapat sebuah catatan di atas sebuah kertas tebal kira-kira lebih besar dari pada buku tulis biasa tetapi lebih kecil dari kertas folio. Ada sederet tulisan yang aku baca di kertas itu, tetapi yang aku ingat cuma tulisan "Aslam" (artinya selamat). Setelah itu aku merasa ada 'sesuatu' yang keluar dengan kuat, seperti angin yang kencang tetapi sumbernya dari kepaku, berhembus keluar kepala. Keluarnya sampai beberapa saat yang menurutku lama (padahal dulu masuknya sangat cepat). Setelah keluar semua, aku terbangun dan merasakan kepalaku ringan, sakit kepalaku sembuh seketika, saat itu juga sampai hari ini tak pernah lagi merasakan otak seperti diremas-remas.

Oh ya, selama masa-masa sakit kepala itu, tak terhitung sudah upaya dari orang tua, guruku, suamiku dan sahabarku untuk menyembuhkanku, ke dokter iya, ke kiai, ke orang pintar, sudah kemana-mana pokoknya, tetapi tak ada yang berhasil membuatku benar-benar sembuh, kalau meringankan sih iya.

Jadi rupanya untuk sembuh total, musti dari diri sendiri, kata kuncinya : selalu suci, tahajud, zikir sampai terbenam dalam asma Allah. Sudah 3 itu saja dan dengan ijin Allah aku sembuh.

Semoga bermanfaat, salam manis.

Kamis, 26 Maret 2026

Jatuh Cinta Pada Allah

 Banyak sekali orang yang mendoakanku panjang umur, membuatku ingin berteriak,"Tidaaaak! Aku tidak mau panjang umur!".  

Aku ingin segera pindah channel, ke channel yang lebih indah daripada dunia ini, mau ikut? ... haha.  

Seandainya orang-orang itu melihat apa yang pernah Allah perlihatkan padaku, barangkali mereka sendiri pun tak mau tinggal lama-lama di dunia. 

Kadang aku merasa terjebak di dunia hologram, kerinduanku setiap hari adalah berada di kesejatian dimana aku bisa bertemu Allah tanpa terdistraksi dengan urusan dunia. 

Itu semesta yang indah sekali, yang di sana Tao Ming Se pun kehilangan pesonanya, emas permata tak berarti, istana megah lebih kecil dari sebutir debu. 

Aku tidak mau panjang umur, mauku meninggalkan dunia ini sebelum usia 60 tahun dan aku harus mati duluan sebelum suamiku.  Aku pernah punya feeling seperti ini dan suamiku pernah sedih banget.

Tapi bukankah itu egois namanya?  Tak ada bedanya dengan orang-orang yang ingin panjang umur.  Aku hanya perindu surga dan bukan perindu Allah. Kalau aku perindu Allah, aku pasti bahagia saja di mana pun ditempatkan olehNya, meski di neraka sekali pun asal bersama Allah. Ini cuma dunia, masak aku sudah ingin buru-buru pindah channel, sedangkan di dunia ini ada Allah yang senantiasa membersamaiku.

Halus sekali jebakannya, jebakan mukasyafah. 

Orang-orang yang hanya melihat keindahan dunia, ingin panjang umur agar terus menetap di sini. Orang yang sudah Allah perlihatkan keindahan surga ingin segera mati. Keduanya sama saja, memuja tempat.

Lalu pemahaman baru diterbitkan Allah di hatiku, seperti sebuah penghiburan.  Pemahaman yang susah sekali diterangkan dengan kata-kata.  Ketika Allah menghadirkan diriNya ke hatimu, itu bukan lagi surga tempat yang kamu saksikan, itu bukan tempat tapi lebih indah.  Surga yang terjadi tanpa perlu mati fisik, tinggal kun fayakun. 

Itu terjadi ketika aku mengalami jatuh cinta pada Allah.

Ini hal yang luar biasa, aku seperti dimasukkan dalam pusaran waktu yang di dalamnya aku dipahamkan akan makna dibalik setiap hal yang aku alami sepanjang hidupku. 

Lalu aku menyadari (disadarkan Allah) bahwa momen-momen yang aku anggap luar biasa hanyalah sepercik saja dari pengalaman bahagia yang diberikan Allah, karena Allah sudah menyiapkan momen bahagia yang tak terbatas sebagai hadiah untukku. 

Allah membawaku ke masa lalu, masa kecilku yang bahagia, masa remajaku yang penuh warna. Momen jatuh cinta yang membahagiakan. Lalu Allah perlihatkan berjuta cinta yang disediakanNya sebagai anugerahNya.  Aku bisa jatuh cinta pada sebutir sel yang tak berarti di mata dunia, atau pada hembusan angin dan air yang mengalir seindah aku jatuh cinta pada kekasih. 

Lalu aku merasa sebagai setitik air dalam lautan kasih sayangNya. Itu lautan akhirat yang indah tiada tara, airnya ringan yang hampir-hampir tak membasahi kulitku, aku basah tetapi tidak basah, lautan itu berwarna pelangi yang berkilauan tapi tidak menyilaukan. 

Ketika aku jatuh cinta pada Allah, aku merasa kecil dalam kebesaranNya, aku kecil tanpa merasa dikecilkan, aku si kecil yang berharga dalam pandangNya. Aku kecil yang dipuja dan dimanjaNya.  

Allah menempatkanku di ketinggian dengan seluruh penjagaanNya sehingga aku bisa melihat dengan mata facet (sungguh Allah sudah memberikan perumpamaan dalam diri serangga).

Pengalaman itu ada istilahnya sendiri dalam psikologi transpersonal, tapi aku lupa apa di kuliah Pak Hans, jadi aku namakan saja pengalaman jatuh cinta pada Allah. 

Banyak orang yang berjalan di jalan spiritual (dalam Islam disebut jalan makrifatullah), mengalami hal yang mirip dengan yang aku alami.  Salah satunya dialami Jim Carey.  Coba buka tautan Pengalaman spiritual Jim Carey .

Seperti haknya Jim Carey, aku pun ingin mengalaminya lagi dan lagi.  Kalau kalian mengalaminya, certain ke Innuri dong! 

Apa Innuri masih pinging cepat mati?  Masih kadang-kadang (Allah, ampuni aku) ... sudah sering pamitan sama ojob tapi nggak mati-mati .... hahaha.  Sekarang dia malah menertawakanku, katanya aku cuma mati egonya.   

Tapi aku masih punya kesempatan beberapa bulan untuk tahu mana yang benar, suamiku atau aku, mati ego atau mati beneran, sebelum usiaku genap 60 tahun.   Waah, egoku bangkit lagi tuh, kepingin buktikan kalau aku yang benar.  Halus banget 'kan permainan ego itu?

Kadang egoku bermain-main di keinginan, ingin pameran lukisan tunggal.  Tapi kupikir lagi, apa yang dipuaskan dari pameran lukisan tunggal yang tidak memberi kontribusi apa pun pada dunia?  Ego lagi, terkecuali lukisanku laku milyaran dan aku pakai untuk berbuat baik.

Yang bener itu ya pasrah saja sama Allah, mati kapan pun selama bersama Allah dalam hidup dan mati, bahagia saja mestinya.