Minggu, 18 Oktober 2026

Menghargai Allah

 Dipertemukan Allah dengan orang yang "nggak banget" , bukanlah untuk merendahkan dia walau hanya dalam hatimu, bukan pula untuk kesal.  Sadari memangnya siapa sih dia ? Allah juga yang menghadirkan dia dalam hidupmu kan?

Selalu ada maksud Allah dibalik segala peristiwa, salah satunya untuk bersyukur bahwa kau tidak dijadikan demikian oleh Allah.  

Merendahkan orang lain merupakan kesombongan, kamu kira kamu baik karena dirimu sendiri? Karena usahamu ? Tidaaaak, semua karena Allah yang menakdirkannya . Bersyukurlah. Segala peristiwa adalah untuk bersyukur.

Ketahuilah, mudah saja bagi Allah untuk menjadikanmu lebih buruk atau lebih menjengkelkan daripada orang yang kamu anggap buruk. Itu mudah saja bagi Allah, semudah kamu yang sehat mengedipkan mata.

Jadi hargailah setiap pemberian Allah. Melepaskan diri dari penilaian-penilaian, juga perbandingan-berbandingan adalah bagian dari menghargai setiap pemberian Allah.

Anggaplah peristiwa dan orang-orang adalah kehadiran Allah karena itulah hakekatnya, itulah kesejatian. Peluklah saja semuanya tanpa penilaian , karena yang berhak menilai hanyalah Allah.

Itulah caranya menghargai Allah.


Kamis, 15 Oktober 2026

Cara Menemukan Potret Utuh Kehidupan

 Aku jadi bertanya lagi, apa sih yang benar-benar bisa membebaskan manusia dari rasa takut, sedih, khawatir dan sebangsanya selain dari menyadari bila semua yang terjadi sudah tertulis.

Pertanyaan itu muncul ketika seorang temanku membagikan cerita di status Fb-nya.  Dia tinggal dengan ibu mertuanya yang sudah tua tetapi masih sehat.  Dia rawat sang ibu dengan penuh kasih, terpenuhi segala kebutuhan dengan sangat baik. Dikelilingi cucu yang baik-baik pula. Dibebaskan melakukan apa saja yang membuat beliau bahagia, dituruti semua permintaan yang membuat beliau bahagia. Intinya sang ibu hidup terjamin dan selalu dibagikan oleh anak, cucu dan menantu.

Tapi ternyata sang ibu masih sering galau dan sedih. Mungkin karena ketiadaan pasangan, mungkin karena terseret ke masa lalu, karena masa kini dan masa depan sudah tidak membuatnya khawatir.

Di situlah aku merenung. Kesadaran apa lagi yang dibutuhkan manusia agar benar-benar terbebas dari kesedihan?

Sampai aku bawa pertanyaan itu dengan membayangkan diriku sendiri seumpama di posisi itu.  Sampai aku menemukan jawabannya.

Selain kesadaran bila hidup ini sudah ada skenarionya. Ada satu ketentuan Allah yang sering sekali ditolak manusia, yaitu Allah menghadirkan segala sesuatu berpasang-pasangan.  Ada baik-buruk, sedih-senang, suka-duka, beruntung-buntung, siang-malam, gelap-terang,  dll , perbanyak sendiri kondisi yang berkebalikan itu.

Manusia memilih yang enak-enaknya saja kan? Menolak bagian yang tidak enak.  Padahal dua kondisi yang berbeda itu bisa berada di saat yang bersamaan, seperti mata uang.  

Atau lihat cahaya yang menimpa suatu benda, membentuk sisi gelap dan terang yang dengannya kita bisa membedakan satu benda dengan benda yang lain. Bila hanya memilih cahaya, tanpa sisi gelapnya ya tidak kelihatan bentuk suatu benda bukan?

Coba renungkan kehidupanmu sendiri, saat ini, saat membaca tulisan ini, ada apakah di hidupmu? Selalu ada dua hal yang berkebalikan bukan? Ketika kamu bahagia, ada hal-hal yang membuatmu tidak bahagia. Misalnya saja kamu punya keluarga yang selalu mensuportmu, tapi kamu punya tetangga yang nyinyir dengan pencapaianmu.  Seperti itulah gambarannya. Selalu dan selalu kehidupan ini membawa dua hal yang berkebalikan di saat yang bersamaan.

Bagaimana kamu bisa selalu bahagia menjalani kehidupan dengan hukum seperti ini? Kebanyakan orang akan mengatakan, abaikan sisi buruknya dan fokus pada sisi baiknya.  Betul 'kan? Namun ini bukan penyelesaian yang bijak, ini berarti sebuah penolakan akan suatu kondisi.  Ini tidak mengantarkanmu pada kesejatian atau kebahagiaan sejati yang tidak goyah oleh apapun.  Ini tidak bisa membuatmu melihat peristiwa secara utuh.

Lantas bagaimana? Menerima keduanya? Jawabannya iya dan tidak.  Menerima keduanya, tapi bukan berarti kamu sedih dan senang di saat yang bersamaan. Menerima keduanya tapi kamu melampaui (di atas) keduanya. Dengan demikian kamu akan melihat potret utuh dari peristiwa yang terjadi padamu, the complete picture of your life.

Aku ambil contoh dari kasus sahabatku yang saat ini sedang sedih banget karena lagi berselisih dengan anaknya. Karena perselisihan mereka, baik sang anak dan sang ibu sama-sama sedih kukira.  

Lantas aku katakan padanya bila segala sesuatu sudah tertulis sebelum peristiwa itu terjadi.  Tapi dia tak kunjung pulih dari penyesalannya.

Lantas aku katakan bila semua yang terjadi pasti berguna buat proses pendewasaan si anak, dan sekaligus proses spiritual sang ibu dalam memahami kebijaksanaan Allah.

Dia mengangguk-angguk, mengatakan bila aku benar, setelah peristiwa itu justru banyak hal baik terjadi di antara mereka berdua.  Nah, di sini rupanya maksud Allah memberi pengalaman buruk berupa pertengkaran, untuk hadirnya hal-hal baik yang diterima keduanya. Hukum dualitas itu terjadi.

Namun sahabatku masih sedih juga, mengatakan bila anaknya sekarang jadi berbeda, tak lagi seakrab dulu dengan dia sebagai ibunya.

Di situlah aku mengatakan padanya soal bagaimana menyikapi dualitas, agar kita tidak terus menerus terseret ke sini dan ke sana, kita musti melompat keluar dari kehidupan kita sendiri. Kita musti belajar menjadi penonton bagi kehidupan kita sendiri.

Ya, begitulah caranya, jadilah penonton! Penonton film kehidupan kita sendiri. Inilah salah satu cara melihat potret utuh kehidupan.  Endingnya adalah kita jadi takjub akan skenario Allah yang luar biasa indah untuk kehidupan kita.

Menjadi penonton bagi kehidupan kita sendiri itu memang tak semudah itu, perlu latihan dan pembiasaan.  Lain kali Innuri tulis di tulisan yang lain saja ya.

Kalau ada pertanyaan boleh.

Senin, 12 Oktober 2026

Semua Sudah Tertulis

 Apa sih yang benar-benar membebaskan manusia dari rasa takut, khawatir, sedih, gundah gulana, galau, patah hati dan sebangsanya? 

Pertanyaan itu muncul di hatiku ketika seorang pembaca Innuri blog mengatakan akan datang ke Malang.  Dia dari luar propinsi dan  sudah menabung sekian lama untuk tiket kereta api PP dari kotanya ke tempatku. Dia mau belajar energi murni langsung padaku.

Tentu aku menerimanya, aku senang bertemu pembaca blogku, apalagi pembaca  yang sudah mengikuti blogku sejak awal aku menulis di tahun 2011. 

Yang membuatku khawatir adalah semakin ke sini sebenarnya aku semakin "bodoh" , aku kehilangan kepekaanku,  juga kemampuan ESP-ku (extrasensory perception), bahkan aku sudah lama tidak melakukan transfer energi pada siapapun.

Aku khawatir dia sudah datang jauh-jauh, ternyata yang dia temui cuma wanita bodoh yang tidak bisa memberinya apa-apa. Aku khawatir dia pulang tanpa mendapatkan apa-apa.

Lalu tiba-tiba saja aku mendapatkan jawaban, bila segala sesuatu sudah tertulis, maka mengapa aku khawatir? Tentu sudah tertulis pula bagaimana aku menemui pembacaku , apa yang bakal aku omongkan pasti sudah tertulis. 

Setiap pertemuan atau perpisahan sudah tertulis.  Dia datang padaku karena skenarioNya, Allahlah  yang menghendaki pertemuannya denganku. 

Kesadaran ini membuat rasa khawatirku hilang seketika.

Yap! Aku mendapat jawaban dari pertanyaan yang aku tulis di awal. Apa hal yang bisa membebaskan manusia dari rasa takut, sedih, khawatir, dsb-nya ? 

Adalah kesadaran bila segala sesuatu sudah tertulis, kita hanyalah aktor dan artis kehidupan di dalam skenario Sang Maha Kasih Sayang. Karena Dia menulis dengan kasih sayang. Kasih sayang adalah dasar terwujudnya segala sesuatu.

Maka mengapa khawatir?

Banyak sekali hal yang membuat manusia jatuh dalam rasa sedih dan khawatir, bahkan untuk orang yang terlihatnya baik-baik saja.  Virus sedih dan khawatir itu seperti udara, ada terus dan sewaktu-waktu bisa masuk ke hatimu.

Sadarilah bila segala sesuatu sudah tertulis.  Al Qur'an menuliskan ini di beberapa ayat , salah satunya Al Hadid ayat 22.

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah".


Kamis, 08 Oktober 2026

Sisi Spiritual Diet

 Tak kusangka, dietku beberapa hari kemarin hingga hari ini bukan cuma mengatur pola makan dan apa yang boleh aku makan saja, tapi ini merupakan perjalanan spiritual.

Banyak manusia hanya memperhatikan makanan pada halal dan haramnya saja, termasuk diriku sendiri. Padahal ada ayat ini di dalam Al Qur'an.

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya (QS Abasa 24)

Hingga kusadari bila makan adalah ritual ibadah yang semakin memahamkan diri ini akan kasih sayang Allah.

Awalnya aku melakukan diet karena nyeri lutut yang disebabkan oleh asam urat yang mengkristal di persendianku.  Aku masih ingin naik gunung, makanya niatku bulat sekali dalam melakukan diet ini.

Aku mengulang pola diet asam urat yang dulu pernah aku jalani dan berhasil, minusnya aku tidak minum vitamin C dosis tinggi kayak dulu, aku ganti dengan buah-buahan saja. Yang mau lihat menu dietku bisa ditemukan di FB dengan hashtag #menudietinnuri , barangkali ada yang membutuhkannya.

Kembali ke sisi spiritual diet yang aku lakukan. Awalnya aku menyadari bila Allah memberikan tubuh ini untuk dirawat, jadi melakukan diet adalah bentuk tanggung jawab di hadapan Allah akan karunia tubuh yang sehat ini.

Aku juga menyadari bila kemampuan menahan diri dari menginginkan makanan enak adalah termasuk proses spiritual dalam mengendalikan keinginan/hawa nafsu, dan bukannya malah dikendalikan keinginan.  Kesabaran menempuh diet adalah kesabaran yang dipersembahkan kepada Allah.

Lalu aku menyadari bila kecanduan makanan pun merupakan kesalahan , bukan cuma kecanduan narkoba, miras, dll. Kecanduan makanan juga merupakan kesalahan serius karena mengakibatkan rusaknya tubuh  di kemudian hari.

Kemudian aku menjadi orang yang menghargai rasa original makanan alami dengan sedikit proses pengolahan , bagaimana enaknya wortel rebus atau sayuran rebus tanpa bumbu. Kurasa itu menghargai sang pencipta juga, walau Allah juga yang mengilhamkan pada manusia bagaimana membumbui makanan.

Lalu pada puncaknya pagi tadi aku menangis karena baru hari ini aku sadari sebenarnya Allah-lah yang "menyuapi" kita. Allah yang menyampaikan makanan itu hingga sampai ke mulutmu, lalu memrosesnya di dalam tubuhmu.  Semua itu karena kasih sayang Allah yang tak terdefinisi kan.

Aku diare tadi pagi, kusadari inilah jalan aku merasakan kedalaman makna.  Karena diare , aku terpaksa mengubah pola diet yang telah kujalani selama beberapa hari terakhir.  Aku utamakan memperbaiki pencernaan dulu.  Aku makan bubur bayi untuk memberi nutrisi tubuhku.  

Tepat di saat menatap semangkuk bubur bayi, tiba-tiba saja aku menangis terharu merasakan  bagaimana bubur ini sampai ke mulutku melewati tangan ke tangan yang sudah ditentukanNya. Aku seperti dilemparkan ke sebuah lembah yang membuatku terbuai  dalam perasaan dimanja dan disayang, dan Yang Maha Kasih Sayanglah yang melakukannya.

Aku seperti dibuat paham akan banyak hal tanpa kata-kata dan tanpa bisa diungkapkan dalam kata-kata pula.


MasyaAllah. I love You , Allah.


Rabu, 07 Oktober 2026

Pesan Mimpi

 Semalam ku bermimpi yang di dalam mimpi ada mimpi, ehm , jadi ingat film yang lupa judulnya yang diperankan Leonardo de Caprio. Tapi ini mimpi yang mengandung pesan Tuhan buat diriku dan kalian yang ketemu tulisan ini.

Aku tidur di rumah Pakis, kamarku di lantai atas.  Aku terbangun jam 2 pagi karena kebelet ke kamar kecil.  Aku turun dan menunaikan tugasku, tapi aku malas naik lagi, maka aku pun tidur di kamar bawah dengan santainya, meninggalkan suamiku sendirian di kamar atas.

Aku bermimpi dengan posisi tidur persis posisiku saat tidur tadi, membuat mimpi  itu terasa nyata sekali. 

Aku melihat ibuku di depan pintu ruang keluarga.  Aku membatin ,"Bukannya ibuku sudah meninggal? Mau apa kemari?"

Lalu dalam hatiku ada jawaban bahwa ibu mau menjemputku pulang ke Allah alias mati. Tiba-tiba saja ibu sudah berada di sisi tempat tidurku , tersenyum dengan wajah bahagia yang cantik sekali.

Aku mengucap kalimat syahadat dan kurasakan dua tarikan di tubuhku, aku nggak jadi mati.  Baru setelah aku mengubah posisi kepala kurasakan tiga tarikan dan aku pun mati. Kurasakan jiwaku melayang, tapi ada dua anak kecil berkulit hitam memegang kedua tanganku, aku merasa terbebani, tapi aku berusaha menerimanya. Lalu aku mendapat petunjuk bila kedua anak itu adalah hawa nafsu dan kehendakku (yang rupanya masih lengket dengan jiwaku).

Lalu kuputuskan untuk memberitahu suamiku bila aku sudah mati, maka aku pun melangkah turun dari tempat tidur, dengan kedua anak berkulit  hitam itu masih memegangi tanganku.  Di bawah tangga aku berdoa ,"Hanya kasih sayangMu ya Allah yang bisa melepaskan aku dari kehendak dan hawa nafsuku." Ajaib! Kedua anak itu menghilang.

Aku terbangun dalam mimpi, maksudku di dalam mimpi itu aku merasa terbangun, aku belum terbangun beneran, aku masih di dalam mimpi. Aku bilang ,"Oh, cuma mimpi." tapi bilang begitu di dalam mimpi.

Masih di dalam mimpiku, aku berpindah tempat entah di mana, aku melihat kebakaran hebat, aku berteriak dan apinya mengecil menjadi sekelas api kompor bersamaan dengan teriakanku. Orang-orang memadamkan api. Aku lalu bercerita kepada orang-orang tentang mimpiku ,"Hanya kasih sayang Allah yang bisa."

Aku pun terbangun beneran dan mengatakan dengan mulutku ini,"Oh, aku hanya bermimpi."

Mimpi yang pesannya terkesan jelas sekali, "Hanya kasih sayang Allah yang bisa."  

Namun perlu penjelasan panjang tentang dua anak berkulit hitam itu, bagaimana kasih sayang Allah bekerja, bagaimana pesan yang aku tangkap (bukan yang kalian tangkap) dari mimpi itu.  Aku akan tuliskan lebih jauh di tulisan yang lain ya.




Selasa, 06 Oktober 2026

Mengembalikan Rejeki

 Sahabatku bertanya, "Mbak In, gimana cara mengembalikan jatah rejeki yang dicuri orang? Musti tirakat yang bagaimana?"

Disadari dulu bila setiap jatah rejeki pasti sampai ke kita tanpa pernah dikurangi sedikit pun. Jadi tak ada jatah rejeki yang dicuri orang.

Misalnya kita pernah ditipu orang atau kemalingan misalnya, kelihatannya ada yang berkurang dari rejeki kita, tapi sebenarnya tidak.  Kehidupan ini seimbang , pernah kehilangan namun juga pernah mendapatkan. Jadi semua itu sudah sesuai takarannya, peristiwa apa pun  hanyalah peristiwa untuk menjadi pelajaran, apakah menjadi orang yang bersyukur ataukah kufur ? 

Menjadi orang kufur itu tidak harus orang yang keluar dari agama Islam ya, kufur itu kan maksudnya menutup, orang yang menutup diri dari kebenaran. Sedangkan kebenarannya adalah Allah melimpahi manusia dengan rejeki yang tak pernah putus bahkan mati itu pun rejeki dan sesudah mati pun dijamin rejekinya. 

Dalam agama, orang kufur itu orang yang mengingkari. Kufur nikmat berarti mengingkari nikmat. Sudah diberi nikmat yang banyak tetapi merasa tidak diberi apa-apa atau batinnya selalu merasa kurang.

Mengapa manusia bisa kufur? Karena manusia meletakkan semua hal pada dirinya, dia menganggap rejeki adalah hasil usahanya , kerja kerasnya.  Ingkar bila semuanya karena kasih sayang Allah semata-mata.  

Lebih dalam lagi karena manusia merasa dirinya  ada.  Itulah sumber penderitaan manusia di muka bumi ini.

Dunia ini ilusi, rejeki juga ilusi, jangan terpaku pada ilusinya, karena di balik ilusi yang tampak mata ini ada kesejatian.  Pandangan musti menembus ilusi.  Ilusi itu sesuatu yang tidak ada, pasti lenyap, sedangkan kesejatian itu selalu ada dan abadi.

Manusia yang merasa tidak ada, jauh sekali dari penderitaan. Justru manusia yang merasa tidak ada itulah manusia kaya raya yang sesungguhnya, dia tidak pernah merasa kehilangan karena tidak merasa memiliki.  Dalam keadaan 'tidak ada' justru dia menyatu dengan segala keberadaan.  Ini paradoks dalam dunia spiritual.  Kondisi yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata, hanya perlu dialami sendiri.

Musti tirakat yang bagaimana? Khalwat 40 hari, boleh khalwat dalam keramaian, bisa ditempuh sambil tetap beraktifitas seperti biasa. Karena dalam khalwat yang diniatkan murni karena Allah, Allah sendiri yang akan membimbing hambaNya langsung. 

Btw, rejeki yang paling besar bukanlah harta benda, melainkan dekatnya diri dengan Sang Maha Pemberi Rejeki.

Lalu sahabatku berkata lagi, "Rejeki yang menjadi jatah kita pasti datang ya, walau terlambat sampainya."

Maka aku katakan bila Allah tak pernah terlambat. Dia adalah Maha Perencana yang terbaik, pasti datang di waktu yang tepat.  Karena nafsu manusia yang suka tergesa-gesa dan berharap segera , maka menjadi terasa lambat.

Lepaskan diri dari penilaian-penilaian, karena itu menjauhkan diri dari kesejatian ya.

Kamis, 01 Oktober 2026

Laillahalillaana

 Sahabat Innuri itu lucu-lucu.  Gara-gara aku sering merekomendasikan channelnya Gus Mukhlason Rasyid, suatu hari dia bilang begini ,"Bunda, kalau zikirnya laillahalillaana, terus kedengaran orang gimana?"

Duh, Innuri jadi ikut bingung 'kan?  

Begini loh, biar nggak pada bingung.  Gus Son menerangkan soal perjalanan spiritual dari Laillahalillallah naik menjadi Laillahaillahuwa , lalu naik lagi menjadi Laillahaillaanta , lalu pada akhirnya menjadi Laillahaillaana , semua itu merupakan tahapan kedekatan hati dengan Sang Khaliq.  Jadi merupakan pemahaman demi pemahaman yang semakin mendalam, lebih ke kesadaran hati bila Allah sedekat itu.  Soal melafalkannya bagaimana ya itu rahasia saja antaramu dengan Allah, jangan kedengaran orang lain, ntar dicap sesat lagi.

Innuri sendiri tak pernah melafalkan zikir Laillahaillaana di bibir atau di ucapan, tapi kalau hati bunyi sendiri "Ini Allah bukan Innuri"  itu sering.  Innuri pernah menuliskan soal ini di pembahasan soal khalwat dan di tulisan tentang "Perjalanan ke Dalam".  Soal hati yang bunyi sendiri ini pun pas awal-awal mengalami terasa ragu, apa aku lagi disesatkan sama syetan ya?  Lalu aku mendapat jawaban dari channelnya Pak Hans.  Baru ketemu jawaban yang lebih jelas lagi di channelnya Gus Son di tahun 2026 ini.

Untuk sampai pada kesadaran laillahaillana itu pun tidak bisa dipaksakan, itu muncul dengan sendirinya saat diri terasa 'hilang' atau fana.  Kejadiannya murni karena karunia Allah saja.  Yang perlu kita lakukan hanyalah membersihkan diri.  

Membersihkan diri dari apa?  Selain dari hal-hal yang diharamkan Allah, memohon ampun untuk segala dosa dan kesalahan, juga membersihkan diri dari prasangka-prasangka, penilaian-penilaian, perbandingan-perbandingan, juga logika yang sering memenjarakan kita dari keajaiban hal-hal yang bersifat spiritual.

Adakah yang sama seperti sahabat Innuri dalam melafalkan zikirnya?


Rabu, 30 September 2026

Allah di Dalam dan di Luar

 Dulu aku melakukan meditasi untuk berbicara dengan Tuhan yang aku panggil Allah itu.  Caranya, aku merem, mengendapkan segala sesuatu yang bersliweran di pikiranku hingga bening, lalu arah perhatianku aku tujukan ke hati yang terdalam.  Aku menyebutnya 'klik dengan Allah'.  Setelah 'klik' , aku bicara apa pun yang ingin aku sampaikan.  Begitulah yang aku lakukan berpuluh tahun lamanya.

Lalu kemudian aku menyadari bila tak perlu seperti itu (walau cara seperti itu juga tidak salah), karena Dia Maha Mendengar, Maha Mengerti, Maha Memahami.  Setiap apa pun yang terbersit di hatiku, Dia tahu dan aku juga bisa mengerti jawaban yang Dia sampaikan padaku lewat alam dan peristiwa.

Lalu kemudian aku mengalami fana dan wushul, kesadaran bila diri ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah.  Ini adalah puncaknya, hal terindah yang bisa kucapai yang aslinya bukan aku, melainkan Allah yang mewujudkan semua ini.

Jadi, aku mengalami beberapa tingkat kesadaran yang pada puncaknya adalah wushul yang indah itu, diri sudah tidak terpisah dengan Tuhan.  Inilah makna "Allah meliputi segala sesuatu".  

Allah meliputi segala sesuatu itu berarti Allah berada di dalam dan juga di luar diri.  Sementara meditasi yang aku lakukan untuk berbicara dengan Allah itu berarti aku merasa Allah hanya bisa ditemui di dalam atau di diri yang terdalam.  Seperti halnya pelajaran spiritual yang sering aku dengar dan itu tidak salah, karena ada tahap demi tahap juga di dalam perjalanan spiritual setiap manusia.

Ada pula yang menganggap Allah itu di langit, dengan menyebut kata "Tuhan di atas sana".  Mereka berdoa dengan menengadahkan wajah (banyak kita saksikan di sinetron-sinetron), seolah mengemis pada Allah yang di atas sana sedangkan dirinya di bawah sini.  Berdoa seperti ini berdoa yang berlandaskan pada keterpisahan antara hamba dan khaliq.  Aku tidak bilang ini salah ya, sekali lagi kukatakan bila setiap orang punya tahapan spiritualnya masing-masing sesuai ketetapanNya, bukan soal salah atau benar.

Namun bila di dalam Al Quran disebutkan bila Allah itu lebih dekat daripada urat leher kita dan tertulis juga bila Allah meliputi segala sesuatu, maka alangkah indahnya bila kita mau membuka hati dan berhijrah dari "keterpisahan dengan Allah" menuju "kebersatuan dengan Allah".  Ini berarti selangkah naik ke level iman yang lebih tinggi.

Menyadari bila Allah berada di dalam dan di luar, membuat kita merasa selalu terhubung denganNya di setiap waktu.  Seluruh aktifitas hidup ini sudah merupakan meditasi dan percakapan dua arah antara hamba dengan Tuhannya, bahkan tak terpisah karena keduanya sudah berada di satu titik yang sama.  Bukan hanya pemahaman bila "Allah meliputi segala sesuatu", melainkan mempraktekkan, melakukannya setiap hari.  

Hasilnya adalah kehidupan yang indah, kebahagiaan sejati, dalam bahasa Yunani disebut eudamonia.


Sabtu, 26 September 2026

Pelajaran Dari Gunung ( 2 )

 Malam ini kunikmati rasa kemeng-kemeng alias njarem-njarem (apa sih bahasa Indonesianya?) di kakiku setelah sore tadi baru tiba dirumah setelah naik ke puncak Prawita Gunung Penanggungan.  

Kurasa Allah memberi nama gunungnya pas banget, Penanggungan, karena tak tertangungkan deh rute nanjak curam, ekstrim pula, dan tidak ada alat bantu berupa tali atau tangga seperti halnya di Gunung Kelud. Benar-benar mengandalkan kaki tangan cantik ini. 

Lah sudah tahu kalau ini gunung bukan buat manula ngapain ke sana Innuri?  Haha, jawabannya pasti karena kehendak Allah.

Kamis malam tgl 24 september 2026, sebelum berangkat naik, sebenarnya aku ragu banget, betulkah ini petunjuk Allah agar aku naik gunung Penanggungan yang katanya bukan untuk pemula?  Apakah ini hanya kehendak hawa nafsuku saja?  Manalah lagi kami berencana untuk nge-camp dan aku mulai berlatih membawa beban sambil mendaki. 

Pikiranku sudah macam-macam, bagaimana nanti bila terjadi sesuatu padaku?  Aku bakalan merepotkan orang banyak dan pasti ada komentar sinis dari teman-teman yang biasa sinis dengan kegemaran naik gunungku belakangan ini?  

Maka malam itu aku mengendapkan pikiranku lagi, menjernihkan diri lagi, agar lebih jelas, apakah kehendak Allah ataukah kehendak hawa nafsuku saja.  Bila ternyata ini bukan kehendak Allah, aku siap untuk tidak jadi berangkat.  Sampai akhirnya aku yakin bila ini adalah kehendak Allah.  

Biar tidak kaget, paginya aku melatih diri membawa beban.  Dengan ransel di punggung, aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menyiapkan perbekalan mendaki sampai aku merasa yakin dengan beban seberat ini aku bisa menempuh perjalanan ini.

Bila ini sudah kehendak Allah, aku pasti berangkat dan pulang dengan selamat.  Itulah keyakinanku.

"Kamu harus selalu merasa bersama Allah dalam keadaan apa pun," kata suamiku.  Aku mengangguk setuju.

"Kamu tahu bedanya menyuruh Allah dengan mengagungkan Allah?" tanya suamiku, aku terpana mendengar pertanyaannya.  Aku cuma melongo, maka dia jawab sendiri.

Ketika manusia berdoa, pada hakekatnya dia sedang 'menyuruh Allah' alias memerintah Allah. Pemahaman ini pemahaman yang halus banget.  Misal sebelum naik gunung, aku berdoa memohon pada Allah untuk memberiku keselamatan sampai pulang kembali dengan selamat.  Kebanyakan orang melakukan hal seperti ini 'kan? Buat orang seperti suamiku, dia tidak melakukannya, tapi dia selalu mengagungkan Allah.

Mengagungkan Allah yang dimaksud adalah perasaan Allah selalu membersamainya setiap saat hingga di hatinya selalu mengagungkan asmaNya di setiap detak jantungnya.  Allah menyatu, karena Allah lebih dekat dari urat leher.

Merasa menyatu dengan Allah itu sudah melampaui doa-doa, semuanya menjadi ringan saja dan semuanya menjadi indah saja.  KarenaNya juga aku berangkat naik gunung, menyelesaikan segala kesulitan di sana dan pulang dengan selamat.

( bersambung )


Kamis, 24 September 2026

Ahli Harta Dan Ahli Perbuatan Baik

 Pada Rabu 23 September 2026, Allah mempertemukanku dengan dua orang yang saling berkebalikan, aku seperti diperlihatkan pada dua dunia yang berbeda di atas bumi yang sama.  Dalam rangka menengok saudara yang sakit, ya dua orang itu, di dua kota yang berbeda, bersama mas Hary, bulik Tun, dan kakak iparku suami istri.

Yang seorang kondisinya kaya raya, mengelola perusahaan bersama anak dan menantunya.  Kaya rayanya itu rumahnya di kawasan elit di kota itu dan rumahnya dua deret ... haha. Aku melihat keluarga ini 'dipenjara' di dalam kekayaannya.  Secara mata awam mereka adalah keluarga yang berhasil dengan kesuksesan duniawi, tapi mata khusus bisa melihat bila mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama.  Mereka hanya jalan di tempat, dimana harta benda memenjarakan mereka, sementara mereka menyangka bila mereka telah sampai.

Padahal mereka mendapatkan materi secara halal, entah bagaimana dengan orang-orang yang mendapatkan harta secara haram seperti para koruptor misalnya.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah jangan merasa sudah selamat dunia akhirat ketika kita mendapatkan nafkah  secara halal.  Itu tidak cukup.  Ketika kamu merasa sukses berkat doa dan usaha kerasmu, kamu sudah meletakkan sebab pada doa dan usaha, bukan pada Allah sepenuhnya.  Doamu hanya kamu pakai sebagai 'alat tukar' untuk keberhasilan duniawi yang ingin kamu raih.  Kamu hanyalah penyembah materi,  Kamu tidak akan kemana-mana, kamu akan dibuat sibuk dengan materi yang kamu sangka itulah kebahagiaan.  Kamu merasa telah sampai padahal kamu jalan di tempat.

Kisah yang seorang lagi kondisinya berkecukupan, mantan pejabat yang pernah menawari aku atau suami jadi PNS tapi kami berdua nggak ada yang mau.  Beliau termasuk pejabat yang jujur dan lurus, makanya kayanya ya kaya yang biasa saja, rumahnya satu di perumahan,  Di masa pensiunnya beliau menjadi Pak RT dan menjadi bendahara masjid yang beliau kelola secara serius dan professional sampai masjidnya bisa berkembang memberi banyak manfaat untuk umat. 

Pak mantan pejabat ini hidupnya fokus di perbuatan baik, orangnya altruis dan melihat segala sesuatu dengan positif.  Usianya sudah 89 tahun tapi daya ingat masih kuat, masih mandiri dan termasuk sehat untuk orang seusianya.  Beliau habis kepleset di masjid dan patah tulang, dioperasi dan kondisinya terus membaik.

Apa yang aku lihat dari Bapak mantan pejabat ini adalah beliau dan istrinya adalah ahli surga! MasyaAllah.  Hati yang baik dan fokus hidupnya untuk beribadah kepada Allah dengan perbuatan baik, ternyata menjadikan seseorang dipilih surgaNya.

Semoga yang aku lihat Rabu kemarin bisa memotivasimu untuk selalu berbuat baik ya, sahabat Innuri.  Bagaimanapun juga kehidupan di dunia ini bakalan kita tinggalkan.

Selasa, 22 September 2026

Ketika Kasih Sayang Berbalas Rasa Sakit



Aku membagikan status begini di Facebook :
Setiap hari berdoa, "Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus." Tapi apakah tahu tandanya bila sudah berada di jalan yang lurus?
Adalah ketika hatimu berada di zona kasih sayang terus menerus.
Kamu berbuat sesuatu karena kasih sayang.
Kamu melihat segala hal dengan mata penuh kasih.
Kamu berkata-kata atau diam karena kasih sayang.
Sesederhana itu.


Gara-gara postingan itu ada yang bertanya begini. "Mbak In, aku sudah bertindak menolong orang karena kasih sayang, tapi kok balasannya tidak menghargai, jangankan ucapan terima kasih, malah diketusin, 'kan jadi sedih."

Kamu pasti sudah hapal dengan jawaban kayak gini, "Tugas kamu cuma berkasihsayang dan sudah, urusan balasan orang lain itu urusan dia dengan Tuhan." Itu jawaban klasik tapi nggak menghilangkan rasa tidak enak di hati gara-gara diketusin orang 'kan ya? Apalagi diketusin setelah kita nolong dia.


Ada dua cara untuk menyelesaikan hati yang tidak enak itu.


Cara pertama.
Sedihmu itu karena emosimu masuk ke dalam peristiwa, biar nggak sedih maka emosimu harus 'dipisahkan' dengan peristiwa. Kayak lagi nonton film itu loh, nonton film kan sedihnya pura-pura, wong tahu kalau filmnya bohong. Jadi tonton saja peristiwanya tanpa emosi kamu terseret ke dalamnya. Atau tonton juga perasaanmu yang gak enak itu sampai minggir sendiri.


Cara kedua.
Rasa tidak enakmu itu bisa jadi karena ketularan perasaan orang yang ketus sama kamu alias terpapar energi negatif orang toxic. Biasanya orang-orang yang peka mudah sekali tertular energi orang lain. Cara mengatasinya cukup dengan disadari saja. Maksudnya kamu sadar bila perasaan tidak enak ini bukanlah perasaanmu, ini adalah paparan energi negatif orang lain.  Sadari saja terus sampai perasaanmu netral lagi.


Nah, kedua cara yang aku tulis di atas endingnya sama, kamu jadi jatuh kasihan sama orang yang sudah ketus sama kamu, kamu bisa tahu betapa menderitanya dia. Kamu jadi bisa meneropong perasaan orang lain lalu muncul rasa kasih sayang.


Akan tetapi kedua cara di atas merupakan 'ketrampilan batin', maka perlu dilatih terus menerus. Awalnya bisa saja butuh waktu lama untuk sampai pada munculnya rasa kasih sayang, bila dilatih terus, maka akan semakin cepat untuk sampai pada rasa kasih sayang itu.


Ada pertanyaan lain?


Jumat, 18 September 2026

Pelajaran Dari Gunung (1)

 Ternyata mendaki gunungpun merupakan perjalanan spiritual, perjalanan suci, yang ketika di hati kita ada hal yang bengkok, maka akan diluruskan nggak pakai lama.

Kamis kemarin aku dan mas Hary naik ke bukit Budug Asu di Singosari, pakai sepatu baru, sepatu yang memang buat trekking.

Sebelumnya aku naik gunung pakai sepatu sepak bola karet lima puluh ribuan  ... haha, pasalnya sepatu bola seperti itu yang dipakai Cak Saidi dan Cak Siaman di kebun yang berbukit dan terjal itu.  Aku suka heran melihat mereka berdua naik turun kebun tanpa mengalami kepleset meski di musim hujan, aku mendapati rahasianya terletak pada  sepatu lima puluh ribuan.  Maka di benakku ide itulah yang muncul, mendaki pakai sepatu seperti sepatu mereka.

Suamiku sudah menganjurkanku pakai sepatu trekking yang tepat, tapi aku ngotot nggak mau. "Daripada beli tapi nggak aku pakai," kataku.

Lalu ketika aku mendaki gunung Kelud beberapa minggu kemarin, kakiku lecet karena sepatu karetnya kurang lembut untuk berjalan jarak jauh, makanya aku nyerah dan minta suamiku membelikanku sepatu trekking.

Di situlah pelajarannya.

(bersambung)

Ketika naik tanjakan demit yang kemiringannya sekitar  60 derajat dengan kontur tanah yang berdebu, aku menyadari ternyata sepatu ini amat membantuku tetap stabil, tidak kepleset di medan demikian.  Maka aku bilang, "Mas, sepatunya bagus nih, lihat aku berpijak di tanah tanpa kepleset."  Aku bilang begitu sambil memperagakan caraku berdiri di kemiringan tanah yang berdebu, merasa percaya diri sepatu ini bikin aku selamat melewati tanjakan demit.

Tak lama kemudian tanah yang kupijak runtuh dong, aku kepleset, tubuhku jatuh terduduk lalu berbalik ke belakang dan meluncur dengan manis ke bawah.  Aku cuma bisa bilang, "Allahu Akbar." sambil merem pasrah.  Debu beterbangan dan aku sudah berada di depan suamiku yang tadi di bawah.  Aku bangkit pelan-pelan dibantu suamiku, meneruskan perjalanan dan menyadari kesalahanku.  Lengan kiriku terasa perih, ternyata tegores baju selama meluncur bebas tadi.

Bukan sepatu yang menjamin keamanan seseorang, melainkan Allah.  Aku tidak boleh menaruh rasa amanku pada sepatu yang tepat.  Bukan berarti aku boleh pakai sandal waktu naik gunung, aku tetap pakai peralatan naik gunung yang tepat, yang tidak boleh adalah "meletakkan rasa aman pada alat".  Rasa aman itu hanya boleh diletakkan pada Allah saja.

Pelajaran kedua.

Sebelum mendaki Budug Asu, aku lihat reviewnya di YouTube dan aku merasa bukit ini bisa aku tempuh karena medannya lebih mudah  dibandingkan Kelud yang cukup menantang.  Ternyata perasaan seperti itu artinya 'meremehkan gunung', itu pantangan besar bagi para pendaki kukira.  Jangan meremehkan gunung, itu artinya di hati kita ada kesombongan yang halus.  Orang yang sombong pasti mendapat balasannya dan aku sudah dibalas tunai.

Yang membuat kita mampu melakukan apa pun adalah Allah, bukan pengalaman, bukan latihan, bukan kekuatan diri karena tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.

Bukan berarti kita tak perlu berlatih loh, kita berlatih juga, tapi dengan pemahaman 'Allah yang menggerakkan kita berlatih'.

Jadi ... 

Jangan meremehkan apa pun dan siapa pun, bukan hanya soal gunung.

Jangan sombong ya Innuri.  Goresan luka di siku kirimu itu semoga menjadi pengingat bila kamu pernah main perosotan di Budug Asu.



Minggu, 13 September 2026

Ketika Allah Menunjukkan KebesaranNya

Pada Sabtu 5 September 2026, dalam perjalanan dari Malang ke Ngantang, tiba-tiba saja aku ditelepon istri almarhum temanku dari Ngantang.  Telepon yang tidak biasa, karena orangnya jarang sekali menelepon, seingatku hanya sekali dia menelepon hanya untuk memberitahu dia sudah punya telepon genggam, lalu telepon kedua di hari itu hanya untuk berkabar.  Dia cerita soal anaknya yang naik Gunung Kelud, itulah awal kisah dua lansia naik ke puncak Gunung Kelud.

Sampai di Ngantang aku jadi kepikiran pingin naik Gunung Kelud juga ... haha, barangkali telepon temanku yang tidak biasa itu merupakan petunjuk Allah.  Lalu aku cari-cari review naik ke Gunung Kelud di internet, yang kesimpulannya jalur paling ramah pemula adalah via Karangrejo Blitar.  

Ketika aku sampaikan keinginanku pada suamiku, dia sempat ragu, tentu saja yang dia ragukan adalah aku.  Lalu aku bilang, " Allah mau menunjukkan kebesaranNya pada kita, Mas."  Itulah petunjuk yang aku terima di hatiku.  Suamiku setuju, maka kami berdua berangkat dari rumah Ngantang Sabtu 12 September , semingguan setelah ditelepon temanku itu. Berangkat dari Ngantang habis subuh, tektok, pulangnya ke rumah bandara, karena sudah dua mingguan tidak urusi rumah sana.

Sampai di Basecamp Karangrejo jam 7 lebih, kondisi jalan di depannya sedang dicor, jadi hanya bisa satu mobil yang lewat.  Lalu naik ojek sepeda trail ke POS 1, ini jadi petualangan tersendiri, seru!  Jalannya berbatu dan berdebu, yang tidak kusangka sama sekali, jadi di tengah jalan baru pakai masker, mana pak ojeknya ngebut lagi, jadi kayak dibonceng Valentino Rossy ... haha.

Singkat cerita, Allah menepati janjiNya, menunjukkan kebesaranNya padaku, pada kami berdua.  Sepanjang perjalanan ketemu sama kebesaran Allah, mendekati puncak dibuat terpukau oleh batu-batu super gede yang warna-warninya indah banget, bahkan puncaknya itu batu thok kurasa, setelah itu takjub dan syukur melihat kawah hijau yang amat indah di kedalaman yang amat dalam.  Menyaksikan sendiri memang jauh berbeda dengan melihatnya di foto atau video.  Rasanya aku seperti dimasukkan dalam lucid dream, padahal ini nyata.  Atau barangkali Allah sedang bicara padaku bila pemandangan indah seperti di dalam lucid dream yang pernah aku alami suatu saat akan jadi nyata, itu semua mudah bagi Allah.

Bukan hanya kebesaranNya yang tampak mata, tetapi juga proses yang terjadi di dalam tubuhku sendiri, yang sudah manula ini, bagaimana tubuhku belajar mengatur napas dan langkah kaki.  Betapa ajaib kekuatan tujuan "Allah mau menunjukkan kebesaranNya", itulah alasan paling kuat untuk terus melangkah.

Bagiku yang pendaki pemula ini adalah pendakian ekstrim, awal bertemu dengan jalur tangga dan jalur tali, kukira itu sudah paling berat, ternyata ada jalur tangga yang lebih berat dan ketika mendekati puncak kawah, ada jalur tali di atas bebatuan terjal, kemiringannya udah di kisaran 60-80 derajat.  Suamiku sampai memberiku 'kursus kilat' tehnik panjat tebing.

Pulangnya lebih sulit kukira, turun dari bebatuan terjal itu membutuhkan tehnik tertentu, banyak pendaki cewek jejeritan di fase ini, sampai suamiku ikut memberi arahan pada si mbak-mbak yang takut turun.  Salah tehnik bisa kebanting atau melorot atau meluncur tanpa ampun ke bawah.  Aku sempat ketemu pendaki yang keseleo sampai digendong temannya.  Pas di bawah aku juga dengar kabar ada yang cedera sampai perlu dievakuasi.

Kuncinya adalah merasa selalu bersama Allah, itu memberi ketenangan, rasa aman dan menyelesaikan rasa takut.  Dengan perasaan yang yakin, semua akan berjalan baik karena dituntun Allah.  Itulah kuncinya yang membuatku naik dan turun dengan selamat.   Sayangnya aku tak bisa membagikan tips ini kepada cewek-cewek seperjalanan yang bolak balik memujiku, bahkan mereka tak menyangka bila umurku 60 tahun.  Dikira 16 tahun barangkali .... haha.

Oleh-oleh perjalananku ke Kelud ini aku dokumentasikan di Youtube, bisa dibuka di sini  ya sekedar untuk menyimpan cerita buat diriku sendiri sih, jadi asal merangkai foto dan video saja, volume suaranya juga kecil banget, perlu naikkan volume sampai mendekati maksimal untuk bisa dengar suaranya. 

Sekian ceritaku.  Salam kasih dari dekat bandara Abd Saleh.

Kamis, 10 September 2026

2 Rahasia Untuk Menjadi Pasangan Bahagia

 Minggu kemarin ke Tumpak Sewu dan Gua Tetes.  Pas aku dan suami mencoba berswafoto,  serombongan anak muda lewat di depan kami.

"Saya fotoin, Bu," katanya. Lalu dia memotret kami berdua, setelah itu memvideo kami berdua sambil bilang,"Pasangan yang bahagia."  Kaget aku mendengar dia bilang begitu, kok tahu kalau kami pasangan yang bahagia?  Begitu mudahnya orang lain menangkap kesan bila kami pasangan yang bahagia, banyak orang bilang begitu.  

Dan sayangnya kebanyakan dari mereka bilang,"Bunda dapat suami yang sabar sih."  Jadi orang-orang meletakkan penyebab kebahagaiaan pada 'suami yang sabar'.  Padahal semuanya dari Allah saja.

Kebahagiaan dalam berumah tangga itu berproses, nggak ujug-ujug begitu menikah langsung happily ever after kayak cerita dongeng.  Proses penyesuaian diri dari dua individu yang berbeda itu butuh waktu dan butuh belajar, hingga ketemu resep yang paling cocok untuk kami berdua.  

Ada dua hal yang aku rasa perlu jadi perhatian bila kalian ingin bahagia bersama pasanganmu, hanya dua resep rahasia saja.

- Jangan berusaha mengubah pasanganmu - Ini adalah poin pertama.  Kamu capek sendiri bila ingin mengubah orang lain.  Bagaimana bila dia suka mabuk, judi, dan wanita? Ya jangan diubah, tinggalin saja, alias cerai.  Seumur hidup terlalu lama buat bersanding dengan pasangan toxic.  Jangan berusaha mengubah pasanganmu, ini berlaku bila pasanganmu tidak neko-neko tapi punya kebiasaan yang njengkelin atau ada sikap yang tidak sesuai dengan maumu.  Negur boleh, yang penting hatimu jangan berharap dia berubah, itu melelahkan.  Ubah dirimu sendiri, maka pasanganmu ikut berubah.

- Jangan berharap dia membahagiakanmu - Ini poin kedua. Berharap orang lain membahagiakanmu itu bikin capek, mau bahagia ya bahagia saja, gitu saja kok report ... hehe.  Bahagia itu dari dalam, bila hatimu damai, ya kamu bahagia, bila hatimu dekat dengan Allah, kamu pun bahagia.  Urusan bahagia adalah urusanmu dengan dirimu sendiri, bukan dengan orang lain, bukan pula dengan pasanganmu.  Tahukah kamu saat hatimu tidak berharap dibahagiakan oleh pasanganmu, justru dia menjelma jadi 'power rangers' yang mengusahakan apa pun untuk membahagiakanmu.  Ssttt ... ini rahasia ya, kalau tidak bolo tidak aku kasih tahu .

Begitulah ceritanya, aku jadi ingin dengar ceritamu setelah mempraktekkan dua hal di atas.


Rabu, 09 September 2026

Dihukum Oleh Dirinya Sendiri

 "Apa sih hukuman buat orang yang jahatnya ampun-ampunan?" tanyaku spontan.

"Ya menjadi jahat itulah hukumannya," jawab suamiku sambil tertawa.

"Hmm iya ya, jadi jahat 'kan nggak enak," kataku.  Bukan hanya nggak enak saja kurasa, menjadi jahat itu siksaan, semakin jahat semakin berat siksaannya.  

"Tapi mereka itu loh hidup enak, berlimpah materi, kerjaannya keliling dunia nengok aset-aset mereka di luar negri," mungkin begitu katamu.

Eh, siapa bilang orang berlimpah materi itu enak?  Innuri pernah tuh beberapa tahun dekat dengan keluarga super kaya Jawa Timur, hidupnya juga penuh persoalan tuh.  Karena berlimpahnya materi, persoalannya bukan soal kekurangan materi, bisa jadi rebutan materi atau apalah apalah, pokoknya jangan ukur enak dan tidaknya hidup itu dari materi.

Innuri pernah nonton film perang, lupa judulnya, tapi ada bagian yang menceritakan tentang penderitaan para tentara usai perang, penyebabnya bukan luka fisik, melainkan karena luka batin dikejar-kejar perasaan bersalah telah membunuh banyak orang.  Itu siksaan batin yang luar biasa sampai membutuhkan terapi khusus bertahun-tahun setelahnya.

Innuri juga pernah 'nonton' perasaan orang lain yang jahatnya masih di level tetangga, soalnya aku sering dijahatinya, jadi aku coba lihat gimana sih isi hatinya.  Ternyataaaa, hatinya itu penuh kabut hitam-hitam gitu deh, nggak pernah tenteram, dia selalu merasa terancam dengan apapun yang dilakukan orang lain.  Merasa terancam yang aneh dan tidak masuk akal, seperti tidak ada alasan untuk terancam tapi dia merasa terancam.  Bingung ya?  Contoh sederhananya kalau tetangganya terlihat lebih kaya dia gelisah, itu baru contoh sederhana, nah dia ini lebih kompleks dari itu.  Dia juga selalu sibuk mencari pengakuan dari orang lain, bahasa sekarang sibuk cari validasi, jadi repot banget 'kan?

Jadi ujung-ujungnya aku merasa kasihan banget sama dia.  Masak Innuri pelihara ayam hias yang kecil cantik dan lucu itu, ayam Kate ya namanya, dia protes dan marah-marah, katanya ada gurem yang masuk ke kamarnya dan membuatnya gatal-gatal.  Aneh nggak?  padahal di rumahku nggak ada gurem sama sekali. Dan banyak lagi persoalan yang dia ada-adakan demi bisa marah-marahin Innuri.  Sudah kebayang betapa menderitanya dia?

Jadi aslinya orang-orang jahat itu, dia sudah dihukum oleh dirinya sendiri.  Kalau sudah tahu akan hal ini, ketika dijahati orang, reaksi kita bukan marah kok, tapi malah kasihan banget, karena bisa melihat hatinya yang penuh rasa sakit sampai berusaha menyebarkan rasa sakit itu ke orang lain.  

Paham 'kan Innuri? Aku ngangguk-angguk sendiri ... hehe.

Bagaimana menurutmu?

Selasa, 08 September 2026

Mengapa Membersihkan Diri itu Penting?

 "Sulit untuk memaafkannya, Mbak.  Kok enak di dia ya, dia sudah membuat hidupku begini berantakan,"  katanya.

Bukan hanya sulit memaafkan, sulit untuk tidak marah, sulit untuk tidak mendendam, sulit untuk tidak membenci. 

Ehm ehm ... kok terdengarnya seperti minum racun tapi berharap orang lain yang mati.  Maaf kasar ya Innuri. 

Andai kalian tahu betapa enak dan ringannya perasaan yang sudah terbebas dari segala emosi negatif itu, pasti kalian akan tempuh perjalanannya walau mendaki dan sukar.

Kenapa sih membersihkan diri dari sampah emosi itu penting?  Mengapa berdamai dengan semua hal di masa lalu, sekarang atau masa depan itu penting?  Karena bila kamu pelihara segala kemarahan dendam dsb itu semua merugikan dirimu sendiri.  

Coba baca kerugian dari memelihara sampai emosi:

- menghijab dirimu dengan Tuhan, bikin kamu jauh dari Tuhan dan petunjukNya, katamu kamu mau dekat dengan Tuhan.

- merusak hari-harimu dan merusak suasana hatimu karena meningkatnya hormon penyebab stress

- menarik kejadian buruk dalam hidupmu, ingat LOA (law of attraction)

- membuatmu susah tidur, meningkatkan asam lambung sehingga kena sakit maag, belum lagi gangguan jantung dan bisa menurunkan imunitas tubuh loh.

- merusak hubungan sosial juga karena pendaman emosi itu memengaruhi perilakumu secara langsung tanpa kamu sadari

Sudah paham?

Lantas gimana caranya melepas semua emosi negatif itu? tanyamu.  

Penting niat dulu, niat banget ya, soal caranya sudah banyak Innuri tulis di blog ini.

Senin, 07 September 2026

Berada di Surga Tatkala Hidup di Dunia

Ketika kubilang pada Allah, bila aku nggak mau lama-lama hidup di dunia, rasanya aku mendapatkan jawaban lembut yang menyejukkan hati.

Bahwa hidup di dunia pun akan terasa seperti di surga bila jiwa selalu terkoneksi dengan Tuhan.  Tandanya apa, tandanya ya tidak ada kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, dsb.  Tandanya ya semua terasa indah saja.

Persoalannya adalah, menjaga perasaan selalu terkoneksi itulah yang susah. Saat kita sedang membicarakan Allah pun, belum tentu hati terkoneksi loh!  Karena bisa jadi hanya ucapan yang sudah kita hafalkan saja, seperti salat wajib yang tidak khusyu itu.  

Maka di keseharian aku coba rajin-rajin amati pikiranku ini, sedang berada di mana, di dunia atau di surgaNya? Sedang putus koneksi atau sedang terkoneksi?  Lalu aku temukan bila cara ini cukup efektif membuat hati lebih sering dan lebih lama terasa manis.  Ya, terkoneksi dengan Tuhan itu membuat hati terasa manis, mengembang, seperti kataku, semua terlihat indah saja.

Di dunia, kita bisa terlalu konsentrasi ke pekerjaan. Adakalanya sempatkan waktu diam sejenak untuk menghubungkan hati dengan Allah.  Bukan hanya pekerjaan yang mengalihkan kita dari Tuhan, bisa masa lalu, masa depan, seseorang yang kita sayangi, harta yang kita cintai , semua itulah dunia.  Terasanya di hati jadi berbeda bila terlalu lama berada di dunia.

Biarkan fisik kita saja yang di dunia, hati kita terus terhubung dengan Tuhan, jiwa kita di surgaNya.  Apakah bisa?  Bisa dengan kehendak Allah.  Jadi tatkala hati berusaha selalu terkoneksi dengan Tuhan, janganlah kamu merasa berusaha, karena sejatinya Allah yang menggerakkanmu berusaha.  Innuri sering ngingetin itu , berusaha tanpa merasa berusaha, berusaha tanpa berusaha.  Mengalir dalam kasih sayangNya.

Satu lagi, biasakan akrab dengan Allah, ngobrol tentang apa pun di hatimu dengan Allah, sampai kamu merasakan jawaban-jawaban atas segala obrolanmu, walau obrolan receh, walau obrolan tidak penting, walau obrolan absurd pun.  Tanyakan apa pun semua yang menjadi pertanyaanmu, pertanyaan receh atau serius atau guyon pun.  Sampai kamu bisa tertawa sendiri padahal sedang tertawa bareng sama Allah.  Sampai ... sampai kemudian kamu tidak merasakan dirimu lagi, karena begitu menyatunya Allah dengan dirimu.

Yuk hijrah ke surgaNya.


Kamis, 03 September 2026

Menatap Tragedi

 Di tulisanku yang berjudul "Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip"  Innuri bilang, kala diri ini sudah merasakan ketiadaan / fana, maka yang terlihat hanyalah Allah dan semua itu indah saja.  Lalu ketika tulisan itu aku bagikan ke Fb, ada komentar yang bila diringkas, bagaimana melihat keindahan dari bencana banjir di Nepal? Apakah semua itu Allah?

Bila dilanjutkan bisa lebih panjang lagi, bagaimana melihat kebakaran hutan, kebakaran pemukiman, gempa bumi, kecelakaan dsb, bagaimana bisa melihat semua itu Allah?  Mungkin maksudnya, bagaimana melihat tragedi itu bikinan Allah, masa sih Allah penebar tragedi? Memangnya ada keindahan dalam sebuah tragedi? 

Innuri tahu jawabannya tapi terlalu rumit untuk dijelaskan dalam bentuk kata-kata, tapi aku akan coba menyederhanakannya dengan pertolongan Allah.

Begini ya, orang yang dalam keadaan fana (ketiadaan diri) itu yang dilihat bukanlah fisik, yang dilihat bukanlah pemandangan yang ditangkap mata zahir ini. Lantas apa yang dilihat?  Kesejatian.

Sesuatu yang bisa berubah (impermanen)  dan tergantung pada sesuatu yang lain (interdependen) bukanlah kesejatian.  Jadi semua yang tampak mata ini bukanlah kesejatian.  Kesejatian melampaui itu semua.

Lantas, apa dong yang berada di balik tragedi yang dilihat orang-orang fana itu?  Kesejatian macam apa?

Bila kalian punya akses untuk menonton film V for Vandetta, ada bagian yang menceritakan tentang bagaimana V bersandiwara menyiksa Evey untuk mengeluarkan sisi kebijaksanaan di dalam diri Evey yang tersimpan dalam-dalam di jiwanya.  Setelah Evey tahu itu cuma sandiwara, marah dong Evey, lalu V berterus terang bila dia pun tak tega melakukan itu pada Evey, tapi terpaksa dia lakukan untuk tujuan itu.  Artinya V melakukan penyiksaan itu karena kasih sayang, demi kebaikan Evey sendiri, demi tujuan yang lebih besar dan lebih mulia.

Jadi itulah yang dilihat orang-orang fana, kasih sayang Allah.  Di dalam tragedi, sejatinya Allah sedang menyempurnakan jiwa seseorang.

Kamu boleh bertanya lagi, penyempurnaan macam apa bila seseorang sudah mati di usia muda, bahkan bayi atau anak-anak karena tersapu tragedi?  Pertanyaan itu terjawab bila kamu percaya reinkarnasi.  Reinkarnasi itu tertulis di Al Quran, bila ingin tahu lebih banyak penjelasan soal ini, silakan cari saja di blog ini, ada kolom pencarian di kanan atas ya.

Apakah ada pertanyaan lain? 

Rabu, 02 September 2026

Antara Usaha dan Anugerah

 "Apakah fana dan wushul itu sesuatu yang merupakan anugerah Tuhan semata-mata ataukah boleh diusahakan?" tanya seorang sahabat Innuri.

Jawabannya bisa berbeda tergantung pada pemahaman seseorang dan jawaban yang berbeda itu semuanya benar.  

Begini, untuk orang yang beranggapan bila manusia diberi free will, atau kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, maka jawabannya adalah bisa diusahakan.

Untuk orang yang beranggapan bila semuanya sudah tertulis di lauhulmahfuz dan manusia tinggal menjalani, jawabannya adalah semata-mata anugerah Allah.

Untuk orang yang beranggapan bila manusia punya kehendak bebas tetapi punya keterbatasan, maka jawabannya adalah 'manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan'.

Ketiga jawaban itu benar, karena ketiga sifat manusia yang aku sebut di atas itu memang diciptakan Tuhan, semuanya ada di masyarakat dunia ini, ketiganya juga punya landasan dalil dari Al Quran dengan penafsiran masing-masing.

Dari tiga yang benar itu, manakah yang paling benar?  tanyamu.  Maka jawabannya. yang paling benar adalah yang paling bisa menghargai pendapat yang berbeda, yang tetap berkasih sayang terhadap yang berbeda dan bisa memahami yang berbeda dengannya.

Kalau kalian ketemu orang yang menganggap bila pendapatnyalah yang paling benar dan suka menyalahkan orang yang tidak sependapat dengannya, maka saranku adalah, jangan ikuti dia dan jangan ikuti pendapatnya.

Alenia di atas aku cetak tebal dan cetak miring pula, karena itu sangat penting agar kalian selamat.  Ikutilah orang yang hatinya penuh kasih kepada siapapun dan apapun, karena Allah bersama orang yang hatinya penuh kasih sayang.

Sekarang,  Innuri sendiri pilih jawaban yang mana dari ketiga jawaban itu?

Bila yang jawab Innuri empat puluh tahun yang lalu, maka jawaban pertama itulah yang aku katakan, manusia punya kehendak bebas dan bisa menentukan nasibnya sendiri.

Bila yang jawab Innuri tiga puluh tahun yang lalu, maka jawaban ketiga itulah yang aku katakan, manusia punya free will tapi dibatasi kekuasaan Tuhan.

Bila Innuri dua tahun yang lalu yang ditanya, maka jawabannya adalah semua sudah tertulis dan manusia tinggal menjalani.

Jawaban Innuri sekarang masih sama seperti dua tahun yang lalu dan di sinilah aku merasa yakin karena hatiku bisa memahami semuanya, semua perbedaan itu, sekaligus pernah mengalami dan merasakan berada di ketiga 'kubu' itu.  Rasaku sekarang adalah damai dan hatiku bisa menyayangi semuanya, termasuk orang yang menudingku salah atau sesat.

Jadi pemahaman seseorang itu berproses, yang penting adalah menjalani setiap proses dengan penuh rasa syukur dan selalu terhubung dengan Allah.  Sebenarnyalah orang yang bersyukur itu adalah orang yang terhubung dengan Allah.

Jadi saranku adalah di posisi mana pun pemahaman kalian, yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu sampai menemukan kedamaian.  Yakin pada Allah, itulah yang terpenting.

Baik, muncul pertanyaan lagi, bila semua sudah dijalankan Allah, manusia tidak mau berusaha dong!

Bila kalian sudah berada di posisi wushul, maka kalian sangat menyadari bila segala usaha yang dilakukan manusia itu tidak pernah terlepas dari Allah.  Allahlah yang menggerakkanmu berusaha. Jadi manusia yang wushul itu tetap berusaha kok, tetapi batinnya tidak merasa berusaha, karena lahaulawala quwata illabillah, Allahlah yang menggerakkannya berusaha.  Berusaha tanpa berusaha, atau berusaha tanpa merasa berusaha.

Karena dia berusaha tanpa merasa berusaha, manusia wushul jauh sekali dari sifat sombong dan membanggakan diri.

Semoga penjelasan di atas bisa dipahami ya. Salam kasih.

Selasa, 01 September 2026

Marah yang Elegan

 "Bagaimana cara mengelola amarah dengan baik dalam konteks berumahtangga?" Tanya seorang sahabat Innuri. 

Innuri kasih 2 jawaban, yaitu jawaban klasik dan jawaban yang nggak klasik ya. 

Jawaban klasiknya begini : 

Salah satu ciri orang bertaqwa itu adalah menahan amarah, itu tertulis di dalam al quran. Jadi kalau lagi marah, jangan buru-buru dibrolkan atau jangan langsung dikeluarkan dalam bentuk kata-kata atau jadi tindakan. Marahnya pakai seni, pakai trik, pakai strategi, agar goalnya tercapai. 

Waktu marah, mikir dulu targetnya apa?  Bukan sekedar melepas emosi. Otomatis marahnya diredam dulu sampai jadi 'dingin', baru ngomong sesuai goalnya.  Mungkin itu maksudnya 'menahan amarah'. 

Yang aku ceritakan itu bukan teori, sudah dipraktekkan dan terbukti membuat suasana rumah tangga menjadi adem ayem, tapi dipraktekkan oleh suamiku ... hehe.  Innuri kalau marah bral brol saja, apa yang tersimpan di hati diledakkan saja, kalau yang dimarahi diam, tambah marah dong karena merasa diabaikan, kalau yang dimarahi membela diri, juga tambah marah karena merasa tidak dipahami perasaanku.  Kacau, kacau dah marah model Innuri, jangan dicontoh.  Tapi itu dulu ya, semakin tua aku semakin santai dan sudah lupa caranya marah.

Jawaban yang nggak klasiknya begini:

Innuri ajak ke pola berpikir yang mendalam, pola pikir spiritual yang membuatku lupa caranya marah.

Yang harus disadari duluan adalah "Kasih sayang adalah dasar dari segala sesuatu".  yang berarti, kasih sayang adalah dasar penciptaan, dasar segala kejadian atau peristiwa dalam hidup.  Itu adalah princip bismillah.

Bila di dalam keluarga ada kejadian pasangan berbuat salah sampai membangkitkan marah, di mana dong letak kasih sayangnya?  Katanya kasih sayang adalah dasar segala kejadian.  Ya inilah yang harus disadari, marah itu artinya ada kasih sayang yang hilang, berarti marah itu tidak 'menciptakan' apapun selain kehancuran.  Jadi hadirkan lagi kasih sayang itu di hatimu, barulah kamu boleh marah, jadi marahnya pakai kasih sayang.  

Kalau marahnya masih pakai emosi, ya siap-siap melihat orang-orang yang kamu sayangi hancur hatinya, kebayang bagaimana sikap orang yang hatinya sudah kamu hancurkan?  Permusuhan dong.  Mau musuhan sama orang yang katanya kamu sayangi?  Ada musuh di dalam rumah itu seperti resmi masuk neraka deh, pakai sertifikat pula ... haha.

Kasih sayang adalah dasar segala kejadian, iya benar itu.  Allah yang menurunkan kejadian, karena Allah tahu di hatimu masih ada ego yang membatu yang butuh dilunakkan.  Maka kejadian yang membuatmu marah hanyalah alat bantu untuk mengetahui ego macam apa yang tersembunyi di kedalaman hatimu yang harus diselesaikan, yang merupakan PR kehidupan.

Misal kamu marah karena anakmu mencorat coret mobilmu dengan cat permanen. Itu hanya menunjukkan kemelekatanmu dengan harta benda kok, yang lebih kamu sayangi daripada anakmu sendiri.

Misal kamu marah karena pasanganmu berselingkuh.  Memangnya nggak boleh marah untuk kasus seberat ini?  Boleh, tapi disadari dulu marahmu karena apa?  Karena ada orang lain merebut milikmu?  Memangnya apa sih yang kamu miliki di dunia ini?  Semua milik Allah loh, bahkan pasanganmu itu.  Kejadian itu hanya untuk menyadarkanmu bila di dunia ini yang kita miliki cuma Allah kok.  

Ego, itu adalah PR bagi banyak orang.  Segala sesuatu yang mengandung kata 'ku' itu menunjukkan ego.  Kebanyakan orang marah karena 'ku' nya terusik. Lenyapkan saja 'ku' itu, lihat bila semuanya digerakkan Allah, maka hati menjadi damai dan lupa caranya marah.

Ya, Innuri lupa caranya marah sejak mengalami fana dan wushul.  Menyadari sampai ke tulang sumsum dan aliran darah, bila segala sesuatu digerakkan Allah, nggak bisa gerak sendiri, lahaula wala quwata illabillah.  Ketika ada kejadian yang di mata orang awam bikin marah, ketika bisa melihat itu loh digerakkan Allah, ya tidak ada rasa marah itu.  

Rabu, 26 Agustus 2026

Sebuah Cubitan dari Allah

Ada sahabat Innuri yang sekarang kondisinya sedang terpuruk pakai banget, sebut saja dia dengan Delta. Dulu sekali Delta bagus banget pemahaman spiritualnya, jadi teman diskusi aku soal spiritual. Entah mengapa beberapa tahun lalu dia  terjatuh dalam judi online dan pemahamannya jadi 'error' semua, bahkan logikanya seperti tidak jalan. Diajak ngomong nggak nyambung. 

Pelajaran yang bisa diambil adalah minta perlindunganlah kalian semua kepada Allah dari sesuatu yang diharamkanNya, embuh itu judi, mabuk, maling / korupsi, zina, nipu, dsb. Karena efeknya bisa merusak logika, merusak otak dan akal sehat, belum efek berantainya pada orang-orang yang kalian sayangi. 

Nah. 
Dikasih Allah cubitan berupa terpuruk finansial, mental, dll adalah caraNya membangkitkan keimanan itu lagi yang sekian lama terkubur dalam sekali.  Merupakan panggilan untuk kembali kepada Allah, berharap kepadaNya saja. 

Bila tak ada yang bisa dilakukan lagi, ya diam, nyerah kepada Allah, seperti perahu kertas yang berlayar di atas sungai kecil, menyerah pada arus yang membawanya kemana pun, berhenti di mana pun atau terbawa ke lautan. 

Ketahuilah, Allah itu sebenarnya tak pernah tega melihat hambaNya menderita. Allah terpaksa lakukan itu agar hambaNya memahami sesuatu. Semuanya pasti ada akhirnya. 

Seperti V dalam film V for Vendetta, V tak pernah tega menyiksa Evey di dalam penjara palsunya, tetapi terpaksa dia lakukan agar di dalam diri Evey keluar pemahaman yang mendalam akan arti penderitaan, kebencian, keberanian, sampai makna kehidupan dan kematian. 

V telah menyadarkan Evey bila ada yang lebih berharga daripada nyawa, yaitu kebenaran.  Evey seperti terlahir kembali sebagai manusia baru yang bijak dan tak kenal takut. 

Allah pun tak pernah tega membuat Delta begitu menderita, tetapi Allah harus melakukannya agar di dalam diri Delta muncul pencerahan dan pemahaman-pemahaman baru. 

Penderitaan itu seperti membongkar tutup yang menyembunyikan berlian di dalam batinnya. Setelah berlian ini keluar, beres deh, keberlimpahan yang akan mendatangi. 

Maka langkah terbaik yang harus dilakukan adalah mendekat kembali kepadaNya. Berhenti menyalahkan apapun dan siapapun, pasrah kepadaNya. 

Banyak diam, menonton segala gejolak emosi, agar bisa melihat jernih diri sendiri. Meditasi, zikir, salat, untuk kembali merasakan betapa Allah itu begitu dekat. 

Semoga Delta segera mendapatkan pencerahan. Aamiin. 



Selasa, 25 Agustus 2026

Lepas dari Perbudakan Cinta

 Seorang sahabat Innuri bercerita soal cintanya yang kandas, semula orang tua si gadis menyetujui hubungan mereka. Namun di tengah perjalanan mengumpulkan modal untuk menikah, si gadis dipaksa bertunangan dengan lelaki lain. 

Apa yang aku nasehatkan padanya klasik banget, seputar menerima semua ini, Allah tahu yang terbaik, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu. 

Namun menyembuhkan luka patah hati itu butuh waktu, bisa cepat, bisa lama, dan bisa lama sekali.  Bisa jadi kehadiran orang baru sebagai pengganti bisa menjadi obat, akan tetapi memori itu tidak pernah terhapus dan bisa jadi cinta antara keduanya tidak pernah terhapus begitu saja. 

Begitulah isi dunia ini. Banyak yang mengalami hal semacam itu, cinta yang kandas namun tak pernah terhapus. Banyak sahabat Innuri mengalaminya. 

Nah, bila kamu pernah membaca tulisan Innuri tentang Semesta Paralel, atau baca saja deh di sini  dan lanjutannya ada 10-an tulisan tentang semesta paralel. Maka kamu akan memahami bila semua pengalaman putus cinta dan patah hati itu memang kamu perlu mengalaminya untuk memahami cinta kasih Allah kepadamu.  Pemahaman akan adanya semesta paralel itu akan menolongmu untuk berdamai dengan keadaan ini. 

Kamu akan paham bila ternyata cintamu tak pernah kandas.  Bila kalian saling mencintai, maka di semesta yang lain dia adalah pasanganmu.  Itulah kasih sayang Allah yang tak terbatas. 

"Mengapa bukan di kehidupan ini saja, saat ini saja cinta itu bersatu?" tanyamu. Karena pelajaran yang musti diambil harus lewat peristiwa perpisahan. Allah itu mengajari kita sesuatu dan memahamkan sesuatu bukan di depan kelas ya, Sayang, melainkan lewat peristiwa.

Kalau cintamu bersatu saat ini, bisa jadi kamu bukannya menyembah Allah,bisa jadi kamu malah menyembah kekasihmu itu. Ayahab jere arek Malang alias bahaya. Bisa jadi pula bila kalian bersatu saat ini, kalian malah saling menyakiti dan berakhir saling membenci. Ayahab lagi dong.  Allah yang Maha Tahu, maka terima saja apapun, karena itu untuk kebahagiaanmu dan dia juga. 

Bila Allah menggantinya dengan orang yang lebih baik, lalu kamu bisa mencintainya sepenuh hati, sementara di semesta yang lain kamu berpasangan dengan dia. Ada dua cinta dong, atau bahkan ada banyak cinta dalam kehidupanmu. Pertanyaannya, manakah cinta sejatimu? 

Cinta sejatimu adalah Allah. Titik. 

Sampai kamu paham bila Allah 'menjelma' menjadi apa saja dan siapa saja untuk membahagiakanmu. Sebegitu dalamnya cinta Allah. 

Ketika kamu menyadari bila di saat kamu mencintai seseorang, hakekatnya kamu sedang mencintai Allah, maka di titik inilah kamu bisa merasakan kebebasan dari perbudakan cinta yang menyakitkan. Kamu merdeka. 

Semoga cintamu segera sampai pada kemerdekaan. 





Mendaki Gunung

 Ramai di grup kuliah gara-gara aku naik gunung di usia lansia ini, padahal dulu bukan anak Impala (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam).  Padahal juga, aku pernah punya masalah lutut karena asam urat tinggi, juga kolesterol tinggi. 

Sepulang dari mendaki aku malah merasa lebih sehat. Biasanya kalau posisi duduk mau berdiri pakai pegangan dulu, ajaibnya sekarang malah gak perlu pegangan, langsung mak nyat berdiri. Aku syukuri kejutan indah ini. 

Aku belajar ternyata penyakit bukan untuk ditolak atau dibenci. Karena dia hanya sedang memberitahu kita sesuatu, mungkin karena tubuh yang kurang gerak atau karena makan yang terlalu rakus atau mungkin pola pikir dan pola perasaan kita yang salah. 

Jadi berterimakasihlah pada apapun yang terjadi pada tubuhmu, ajak ngobrol, dia lagi ngasih tahu soal apa sih? Dia mau ngomong apa sih? 

Kuingat jaman remaja dulu aku gampang sakit dan langganan pingsan di sekolah. Ternyata itu karena aku hidup dalam ketakutan. Aku sedang parah indigonya saat-saat itu. Kemampuan ESP (extra sensory perception) aku lagi tumbuh, hal menakutkan aku saksikan setiap hari.

Puluhan tahun kemudian aku masih bergelut dengan persoalan ESP-ku dan aku masih gampang sakit.  Hingga aku sadari semakin aku bisa menerima keadaan ini, aku jadi jarang sakit. 

Berdamai dengan apa pun dan siapa pun, menjadi hal yang berpengaruh signifikan pada kesehatan jasmani rohani kita. Itulah yang kurasakan. Namun semua itu juga karena Allah. 

Bukan usia, bukan gaya hidup, Allahlah yang memberi kita kesehatan dan Allah pula yang menuntun langkah kita ke sana. Diri ini cuma wayang, maka jadilah wayang yang pandai bersyukur. 



Senin, 24 Agustus 2026

Inti

 Pagi itu aku mandi dengan membawa perasaan gusar.

"Allah, pernahkah Engkau bingung mau ngapain? Sepertiku pagi ini? Mau cuci piring malas, mau bersih-bersih rumah capek, rasanya hidupku tidak berguna." kataku pada Allah.

"Allah, kalau lagi begini musti ngapain?"

"Aku sudah menyadari bila ini bukan aku, tapi Engkaulah yang mengendalikan aku. Maka mengapa musti bingung begini?  Kapankah aku bisa tahu musti melakukan apa dan yakin bila yang aku lakukan benar?"

Sambil menyiram badanku dengan air aku menangis, hanya gara-gara persoalan sepele, bingung mau ngapain karena malas ngapa-ngapain.

Akhirnya aku selesai mandi, ganti baju dan duduk di depan televisi, menyimak kuliah Pak Hans dari Youtube.

Tiba-tiba saja aku mendapat jawaban dari pertanyaan selama aku mandi, jawabannya sama seperti yang pernah kudapat, tetapi lebih mendalam.  Bila aku katakan jawabannya padamu, pasti kamu akan mengatakan, ah itu lagi, itu mah aku sudah tahu, mbak Innuri.  Ya, karena ini memang susah dikatakan, harus mengalami sendiri.

Bila bisa dikatakan walau kata-kata sudah terbatas sekali untuk menggambarkan ini, maka inilah yang bisa kukatakan.

Tuhan itu Maha Tunggal, kita semua adalah perwujudan dari Ketuhanan.  Namun posisi kita berbeda-beda.  Bayangkan sebuah atom, ada inti atom, lalu ada neutron dan proton, lalu elektron yang tak henti-hentinya bergetar mengitari inti atom.  Baik inti ataupun neutron, proton dan elektron, semuanya satu, semuanya atom. Akan tetapi inti itu stabil dan tenang, pergerakan di dekat inti pun lebih stabil dibandingkan dengan yang jauh dari inti. 

Manusiapun begitu. Semakin jauh dari inti, manusia akan semakin gelisah dan tidak tenang.  Manusia musti berada di inti untuk mencapai ketenangan.

Sesederhana itu penjelasannya tapi yang aku alami tidak sederhana, seperti mengalami alam semesta, di mana alam semesta ini pun punya struktur seperti atom, berputar mengelilingi inti masing-masing.   Tata surya punya inti yaitu matahari, galaksi juga punya inti yang merupakan poros galaksi. Lebih jelasnya googling saja deh, Innuri bukan ahlinya di sini. Hanya untuk menggambarkan pemahaman yang aku dapat. 

Karena di dunia batin pun demikian, kita semua berputar mengelilingi inti dan dikendalikan oleh inti, posisi manusia berbeda-beda dalam jarak terhadap inti.  Posisi itulah yang menentukan suasana jiwa masing-masing.

Semakin dekat dengan Tuhan membuat batin kita stabil. 

Jadi berterimakasihlah pada kegelisahan, karena dia hanya memberitahu sedang berada di posisi mana kita ini. 

Setelah memahami yang bisa aku pahami, hatiku menjadi tenang, Dia begitu dekat. Dekat yang tak terbayangkan dekatnya. 

Kamis, 20 Agustus 2026

Mikirin Indonesia

 Sampai mikirin Indonesia Innuri, ketika siangnya ngobrol dengan sahabat tentang kemiskinan ekstrim di negri ini.  Negeri di mana rakyatnya menjadi babu untuk orang-orang asing yang hidup mewah di tanah leluhur mereka sendiri. Negeri yang .... 

Mikirin Indonesia Innuri, ketika suara anak-anakku mahasiswa yang peduli pada nasib bangsa ini berusaha dibungkam atau manusianya ditiadakan. 

Mikirin Indonesia Innuri, ketika kebakaran hutan melanda, gempa dan bencana...  Sementara ada tangan rakus yang merampok kekayaan alamnya. 

Mikirin Indonesiaku ini ketika emas puluhan kilogram ditemukan di rumah pejabatnya. Oh Indonesia yang korup. 

Aku gelisah malam itu, mendoakan negri dengan perasaan yang tidak yakin. Sampai aku sadari bila kegelisahan adalah sebuah pertanda bila hati sedang terpisah dengan Tuhan, dan melihat semua kenyataan terpisah dengan Tuhan juga. 

Maka ketika aku kembali menyatu dengan Tuhan, disitulah aku merasa tenang.  Semua ini dibawah kendaliNya, tidak ada yang perlu disedihkan atau dikhawatirkan. Ujung-ujungnya bakalan mati, kehidupan dunia bagaimana pun indah atau nelangsanya, semuanya bakalan ditinggalkan. 

Tidak ada yang perlu dikasihani, tidak pula ada yang perlu "digemesin" saking serakah atau jahatnya. Kenapa? 

Karena semuanya hanya pembagian peran saja. Peranku peranmu perannya peran mereka, semua itu tidak sama. Ya jalani peran masing-masing dengan bersyukur saja. 





Jumat, 14 Agustus 2026

Membalut Kecewa

Sudah dua malam aku di Bandung. Ada peristiwa yang memberiku pelajaran. Kemarin ke Pengalengan, makan di sebuah resto yang terkenal. Eeh, makanan yang kupesan tidak sama dengan foto makanan di menu. Di foto isinya dia potong, ada sayuran yang banyak pula. Eh yang datang hanya sepotong dengan selembar daun selada. Manalah mahal lagi. 

Aku kecewa dong. Sakit hati dong. Kubawa rasa kecewaku sampai bikin status walau nama restonya kusamarkan.

Iqbal teman Aden sampai bilang, " Kalau di Jepang ini bisa didenda loh. "

Bahkan rasa kecewa itu terbawa sampai ke penginapan.

Malamnya baru kusadari bila semua itu yang menggerakkan Allah juga. Siapa sih yang menggerakkan orang-orang di resto? Siapa sih yang menggerakkan aku ke sana? Siapa coba yang bikin aku dan orang-orang itu dipertemukan? 

Itulah obat kecewa yang paling mujarab, menerima. Menerima apapun, sekecil dan sebesar apapun. 

Ya, aku masih belajar menerima ternyata. Belum expert, bila sudah bisa auto menerima, baru deh itu namanya keren. 

Terimakasih Allah untuk pelajaranMu kali ini. 

Senin, 10 Agustus 2026

Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip

 Pertama mendengar istilah ini dari tulisan eyang Syamsul'alam, kaya-kaya wes mati sajrone isih urip, itu bahasa Jawa yang artinya seolah-olah sudah mati di dalam kehidupan.  Itu juga merupakan salah satu ajaran tasawuf yang disebut fana atau ketiadaan diri.  Ini adalah hal paling indah dan membagikan saat bisa mengalaminya, rasanya tuh merdeka dari perbudakan, kayak punya sayap, ringan dan bebas.

Merdeka dari perbudakan siapa?  Dari pikiran dan logika kita sendiri, dari perasaan kita sendiri, dari persepsi dan persangkaan kita sendiri, merdeka dari emosi negatif, marah dendam benci dsb. 

Innuri lagi mempraktekkan ini dengan sengaja di dalam kehidupan.  Walau masih on of, semakin ke sini rasanya semakin lama on-nya.

Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak mengontrol orang-orang seperti apa yang aku mau.  Aku membiarkan mereka semua dikontrol Allah, berproses menurut kehendak Allah.  Ini membuat aku tidak pusing dengan segala hal yang dilakukan orang-orang di luaran sana atau orang-orang yang dekat denganku, hatiku menjadi damai sekali.

Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak lagi terpengaruh dengan perlakuan orang pada diriku, mau mereka membenci kek, menghujat, atau diam,  mengagumi, dll.  Ibarat mereka sedang menembak angin, tidak ada yang terluka, tidak juga ada yang merasa tersanjung. Perasaan sudah di atas itu, di atas suka duka, itu perasaan yang enak sekali.

Ketika aku merasa tidak ada, aku tidak lagi melekat pada makhluk.  Kehadiran atau pun ketidakhadiran mereka, kepergian atau pun kedatangan mereka, perasaan sudah di atas senang dan sedih, itu bukan perasaan biasa saja, itu perasaan yang indah karena bisa mencintai semuanya.  Justru tidak melekatlah yang menghadirkan perasaan menyatu.

"Melekat dalam ketidakmelekatan"  Ketemu paradoks ini dan masuk ke dalamnya lalu merasakan unconditional love itu. 

Ketika merasa tidak ada, maka yang terlihat hanyalah Allah, semua adalah keindahan.

Ketika merasa tidak ada, Allah adalah aku dan kamu, juga dia dan mereka, juga alam semesta utuh.

Ketika merasa tidak ada, aku sudah berada di surgaNya.

Rabu, 05 Agustus 2026

Mengapa Kosong Itu Penting?

 Banyak cerita kudengar, seseorang mendapatkan hidup yang luar biasa setelah mengalami kebuntuan lalu menyerah, seolah bilang,"Terserah Engkau, ya Tuhan."  Batinnya sudah kosong karena nggak tahu mau ngapain lagi untuk menolong dirinya sendiri, tetapi di titik itu dia justru mendapat solusi, seperti pembuka jalan.  Itulah 'fenomena kosong' yang mendatangkan pertolongan Allah.  Bila setelah itu si orang tadi bisa mempertahankan kekosongan itu, ya hidupnya bakalan dibanjiri dengan kejaiban demi keajaiban, kebahagiaan demi kebahagiaan.

Mengapa 'kosong' begitu penting?  Kosong dalam arti sudah 'berpasrah bongkokan' pada Allah, sudah tak lagi memikirkan bagaimana jalan keluar, bagaimana solusi, atau bagaimana usaha mencapai ini dan itu?  Kosong dalam arti mengalir saja, melangkah seperti wayang, terserah Sang Maha Dalang.

Mengapa kosong begitu penting?

Ketika kita kosong, Allah yang turun tangan memperbaiki kehidupan kita ini.  Sebaliknya ketika kita merasa bisa, Allah lepas tangan dong, wong kitanya merasa bisa.

Tapi manusia 'kan wajib berikhtiar, lalu hasilnya terserah Allah?  tanyamu.

Ikhtiarnya manusia itu bisa di level iman, di level pikiran, di level perbuatan.  Orang yang sudah kosong itu kebanyakan  sudah tidak bisa lagi berikhtiar di level pikiran dan perbuatan, jadi sudah menyerah alias secara iman dia sudah percaya bila hanya Allah yang bisa, manusia tidak bisa apa-apa.

Jadi bila ada orang yang terlihatnya seperti 'tidak ngapa-ngapain' sementara hatinya sedang menyerah kepada Allah, itulah ikhtiar di level iman.  Nanti Allahlah yang menggerakkan alam semesta ini, termasuk menggerakkan orang itu dalam mewujudkan kehendak Tuhan yang terindah.  Manusianya hanya menikmati setiap momen, mensyukuri setiap hal, sudah nggak tolah-toleh lagi.

Faham 'kan Sayang?

Minggu, 02 Agustus 2026

Pelajaran Dari Anak

 Ada curhatan dari beberapa sahabat Innuri tentang anak (herannya kok masalahnya sama, tentang anak) yang bikin aku jadi teringat dengan Tom Hanks dan Brad Pitt, sekaligus teringat Dr Masaru Emoto.  Karena aku begitu kagum pada ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button. 

Aku juga teringat Dr Masaru Emoto karena eksperimennya dengan kata-kata yang memengaruhi struktur air, karena mendidik anak itu berhubungan dengan kata-kata.

Bagaimana ibu Forrest Gump  mengatakan kalimat-kalimat yang mengagumkan tentang sang anak yang menderita disabilitas fisik dan kecerdasan rendah, sampai anaknya menjadi orang hebat di kemudian hari.  Sedangkan ibu angkatnya Benjamin Button menganggap kehadiran bayi aneh adalah sebuah keajaiban dan kemudian merawat bayi aneh tersebut dengan penuh cinta.  Pasti tahu 'kan kedua film itu dibintangi Tom Hanks dan Brad Pitt, itu film yang terkenal sekali.

Walau hanya film, walau film itu tak sama dengan dunia nyata yang kompleks ini, tetapi ada pelajaran yang bisa diambil dari kedua ibu hebat itu, ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button, yaitu 'menerima dengan penuh cinta' yang menghasilkan 'mukjizat'.  Kalimat-kalimat positif yang diucapkannya tentang si anak mengingatkanku pada Dr Masaru Emoto dengan percobaannya pada air.  Bila setiap kata memengaruhi struktur air, pasti memengaruhi manusia juga 'kan?

Aku sendiri bukanlah ibu yang baik dan aku sering sekali memperlakukan anak-anakku dengan salah, bahkan sampai setua ini, jadi tulisan ini bukan bermaksud menggurui ya, ini tulisan dari 'sesama pelajar'.  Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, makanya orang tua sering melakukan kesalahan sementara dia merasa itu untuk tujuan yang benar.  

Beberapa hal bodoh yang sering orang tua (nunjuk diri sendiri) lakukan terhadap anak:

- membandingkan anak dengan anak orang lain atau dengan saudaranya yang lebih hebat, ini bikin anak jadi minder.

- menyepelekan perasaan anak, misal 'gitu aja kok nangis', 'gitu aja takut' , dsb.

- merendahkan anak dengan harapan dia akan terpacu untuk bertumbuh

- mendidik dengan ego, merasa lebih tahu dan lebih pintar dari si anak

- jarang memberi apresiasi (kurang menghargai), seringnya mengoreksi dan menyalahkan.

- terlalu mengatur anak sehingga tidak memberi kesempatan anak untuk memilih.

- dll boleh tambahkan sendiri.

Kalau secara spiritual, orang-orang terdekat seperti anak dan pasangan, adalah "penyampai pesan Tuhan". Bahkan anak bisa jadi guru spiritual yang menyamar.  Ketika kamu semakin baik, maka kondisinya anak bakalan membaik.  Jadi yang dikoreksi bukannya si anak, melainkan dirimu sendiri itu loh, eh diriku sendiri juga ding.

 Jadi ketika ada masalah dengan anak, yang dipertanyakan duluan adalah ,"Apa sih pesan Allah lewat peristiwa ini?"  Setelah itu biarkan petunjuk Allah mengalir dan lakukan sesuai petunjuk itu.  Ini memang tidak sesederhana yang Innuri katakan.  Tapi minimal kamu menerima anak baik positif maupun negatifnya, kamu berdamai dengan kondisi anak, berprasangka baik pada Allah apa pun kondisinya dan terus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Intinya, kamu menerima anak dengan cinta dan mengajarinya untuk mencinta.  Ini aku cetak tebal ya, itulah yang aku pelajari dari dua film terkenal itu dan film hidupku sendiri.

Di level spiritual yang lebih dalam lagi, kamu akan menyadari bila segala sesuatu  di dalam kendali Allah, termasuk perasaanmu, perasaan anak, segala yang dilakukan olehmu dan anak, semua itu Allah yang menggerakkan.  Di sini sudah tidak ada yang salah atau benar, manusia hanyalah wayang di tangan sang Dalang.  Jadi segala usahamu untuk anak, kamu tidak merasa melakukan, tetapi Allahlah yang menggerakkanmu melakukannya.  Di level ini, batinmu sudah damai sekali, kamu tak lagi resah, kamu hanya percaya penuh pada Allah dan kemungkinan terjadi, anak-anakmu akan membaik seperti mukjizat!

Semoga tulisan ini membantu.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Menembus Logika

 "Mbak Innuri, gimana sih caranya agar bisa 100% menerima?  Aku terbiasa berpikir logis, jadi apa-apa kalau sudah masuk di pikiranku, baru aku bisa menerima."

Adakah yang punya masalah seperti si penanya?  Yuuk nikmati teh dan onde-ondenya.

Itu salah satu sisi kurang ajarnya pikiran, tapi tak perlu dibenci karena orang hidup butuh pikiran. 

Yang perlu diluruskan adalah tak semua hal bisa dilogikakan. 

Bagaimana bisa pikiran yang terbatas mampu memahami sesuatu yang tak terbatas, seperti kasih sayang Allah yang tidak terbatas atau alam semesta ini?

Karena pikiran itu terbatas, maka proses berpikir bukan satu-satunya cara memahami sesuatu. Letakkan semua pada tempatnya masing-masing. 

Untuk menerima sebuah kejadian di dalam hidup ini, maka diperlukan 'wawasan keimanan' yang mencakup bagaimana setiap kejadian diturunkan Allah padamu dengan kasih sayang. 

Kejadian ditipu orang misalnya. Secara materi kamu rugi, tapi ingat kamu bukan makhluk materi, kamu makhluk spiritual. Maka secara spiritual kamu beruntung karena mendapatkan kesempatan belajar bahwa di dunia ini tidak ada satupun yang kita miliki, materi bisa datang dan pergi sesuka takdir menuliskannya, atau kamu akan mendapatkan pelajaran / hikmah yang lain.  Itulah proses menerima peristiwa 'ditipu orang' dengan iman.  Kalau dengan logika pasti sulit, kamu pasti mendendam pada orang yang telah menipumu bertahun-tahun.

Bagaimana kalau menolak?  Marah, tidak terima atau mendendam itu tanda-tanda penolakan.  Kalau menolak ya kamu akan memelihara sampah kemarahan itu bertahun-tahun sampai kamu bisa menerima.  Atau kamu bakalan mengalami peristiwa yang mirip karena kamunya tak kunjung mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Jadi bagaimana menurutmu?  Pilih menerima walau tidak masuk di pikiranmu ataukah menolak karena tidak logis?  Atau kamu punya contoh peristiwa apa yang membuatmu susah untuk menerima? 

Senin, 27 Juli 2026

Cintai masalahmu

 "Jangan harap masalah bakalan selesai, selama masih berada di dunia ini, masalah bakalan datang silih berganti.  Semua masalah membawa pesan Tuhan.  Cara menyelesaikannya adalah mengambil pelajarannya," kataku pada sahabat Innuri yang curhat di telepon.  Itu intinya, tapi ngobrolnya panjang kali lebar kali tinggi.

Orang yang punya hutang bilang, andai hutang lunas, masalah selesai.  Orang yang sakit bilang, andai sudah sembuh, masalah selesai.  Orang yang terjerat hubungan toxic bilang, andai bisa mengakhiri hubungan ini, masalah selesai. Perpanjang sendiri contohnya ya.

Betul masalah hutang selesai bila sudah lunas, tapi masalah yang lain akan datang, Sayang.  Betul masalah kesehatan selesai, masalah lain sudah menunggu.  Hidup itu perpindahan dari satu masalah ke masalah lain, karena lewat masalahlah orang belajar.  Jadi cintai masalahmu.  Berterimakasihlah pada masalah karena itu adalah tools untuk menyempurnakanmu sebagai manusia.

Bagi orang yang menyengaja hidup di jalan Allah, dia menganggap masalah adalah anak tangga demi anak tangga untuk lebih mengenalNya.  Bahkan Dia menuntunmu saat menapaki anak tangga itu, bukankah itu indah? 

Ingatlah bila hidup selalu membawa satu paket yang berkebalikan, seperti mata uang, ada dua sisi yang berbeda, yang kalau bisa menerima keduanya, kita pasti kaya raya oleh kebahagiaan.  Yin-yang, itu adalah kepastian, sunatullahnya begitu.  Jangan melihat satu sisi muramnya saja, yang membuat hidupmu berasa kejepit pintu sambil tertabrak bulldozer.  

Jadi bagaimana?  Peluk keduanya, kedua hal yang sepaket itu.  Nikmati hidangan kehidupan ini.  

"Bagaimana cara mengatasi rasa deg-degan, takut dan khawatir menghadapi jatuh tempo bayar ini itu? Bukankah orang musti berikhtiar?" tanyamu.

Rasa takut dan khawatir itu artinya hatimu  meragukan Allah, wong semuanya itu mudah bagi Allah. Jadi ikhtiarmu adalah memperbaiki korslet di hatimu yang merendahkan Allah itu loh!  Bukan ikhtiar mikir sampai nggak bisa tidur dan sakit maag, bukan ikhtiar ke sana kemari yang ujung-ujungnya kamu malah kehilangan uang lebih banyak.  Jangan merasa bisa melunasi hutang, jangan merasa bisa berusaha, pasrahkan pada Allah dengan mengakui segala kelemahan diri.  Diam, selesaikan korsletmu itu, pertolongan Allah akan mendatangi, Allah yang akan menggerakkan semuanya.

Salam manis.

Rabu, 22 Juli 2026

V for Vendetta

Entah mengapa kusuka banget sama film jadul, channel yang rajin kubuka adalah Hits TV Dan Hits Movie.  Sebelumnya aku sering melewatkan film ini, V for Vendetta, sampai suatu kali tanpa sengaja nonton sudah di pertengahan film dan ternyata sebagus itu.  Lalu kutonton lagi dan lagi.

Ini film yang membuatku terlibat secara emosional karena relate dengan kondisi di Indonesia saat ini dan yang kusuka di sepanjang film bertebaran kata-kata bijak yang bahkan keluar dari sang penindas.  Film ini bercerita tentang bagaimana kekuasaan dibangun di atas ketakutan yang sengaja diciptakan di tengah-tengah masyarakat agar rakyat mudah dikendalikan.  Lalu muncul seorang pahlawan yang minta dipanggil V saja.

Film muram tapi punya cara sendiri menumbuhkan harapan di hati penontonnya, seperti sepercik cahaya yang dibawa dari kelam, Innuri jadi keluar kata-kata bijaknya juga, ketularan dah.

Dalam kelamnya, ada lucunya di aku sendiri karena merasa "Indonesia juga punya dong" haha.  Aku tak tega menceritakan soal ini, tonton sendiri saja ya.

Ini nih beberapa kata-kata bijak yang sempat aku catat waktu nonton: 

- Tak perlu menjadi muslim untuk menikmati keindahan isinya (maksufnya isi Al Quran) 

- Seniman berbohong untuk mengatakan kebenaran. Pemerintah berbohong untuk menutupi kebenaran

- Tuhan ada di dalam hujan

- Pemerintah mengendalikan rakyat dengan menggunakan rasa takut.

- Aku bukanlah topeng atau wajah atau tulang belulang di bawah kulit ini.

- Pemikiran tidak bisa dihentikan dengan peluru.

- Negara ini butuh bukan sekedar bangunan (Parlemen) tapi harapan

- Sebuah pemikiran bisa mengubah dunia.

- Bukan orangnya yang kita ingat tapi pemikirannya.

- Menutup kejahatan dengan lembaran kitab suci.

- Tidak ada yang kebetulan, yang ada adalah ilusi akan kebetulan

- Ada yang lebih berharga daripada nyawa, yaitu kebenaran.

Jumat, 17 Juli 2026

Sikap Batin Saat Bermasalah

 Tulisan ini untuk menjawab curhatan salah seorang sahabat Innuri yang sedang merasa sedih dan tertekan dengan kondisi ekonomi yang katanya sedang sulit.  Berimbas pada usahanya hingga minus terus, sampai musti meminjam uang ke keluarga. Bagaimana menyikapinya?

Baik, Innuri akan jawab bagaimana sikap batin yang musti diluruskan ya.  Soal bagaimana solusinya, nanti akan Allah hadirkan kok.  

Yang mendasar sekali adalah, misi hidup setiap manusia adalah kembali kepada Tuhan.  Jadi setiap peristiwa, baik berupa kesedihan, penderitaan, masalah, ujian, bencana atau pun kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, semua itu hanyalah alat bantu untuk mengenal dan semakin dekat dengan Tuhan.

Paham 'kan?

Berikutnya, yakini bila semua yang berada di atas bumi ini milik Allah, jadi masalah juga milik Allah.  Bila masalah milik Allah, maka Dia juga yang bakal menyelesaikannya.  Manusia hanya 'akting' saja kok, atau manusia hanya menjalani. 

Paham 'kan?

Berikutnya lagi, Ketika masalah itu dihadirkan padamu, sikap batin pertama yang musti dilakukan adalah bersyukur, karena mendapat masalah artinya mendapat previlege untuk menyaksikan kebesaranNya.  Bagaimana Allah menghadirkan solusi yang tidak disangka-sangka.  Itu kesempatan emas melihat perbuatanNya Yang Maha Menakjubkan.

Beriktunya lagi.  Terkadang masalah merupakan cara Allah untuk melindungi hambaNya dari sesuatu yang lebih buruk.  Misalnya nih, yang sekarang lagi kesulitan finansial, bisa jadi bila diberi kelonggaran finansial, malah dipakai untuk 'jajan' ke sana kemari lalu kena penyakit aids.  Duh, contohnya Innuri kok ekstrim, nggak bakalan lah katamu.  Contoh lainnya bisa jadi kesuksesan secara finansial membuat egomu membesar, lalu merasa 'aku yang melakukan' , usahaku yang keraslah yang membuat ini semua, sombonglah kamu.   Maka Allah melindungimu dari kesombongan dengan dihantam masalah.

Sekali lagi bersyukurlah dengan kondisimu saat ini, karena kesulitan membuatmu lari menemui Tuhan.  Itu jauh lebih baik daripada kemudahan yang membuatmu lari mencari kesenangan dunia yang menyesatkan.

Terakhir, kesulitan adalah cara Allah untuk menyempurnakan jiwamu.  Karena kamu bilang sudah rajin ibadah, tidak neko-neko, rajin sedekah dan tidak pelit.  Jangan merasa dirimu baik, Allahlah yang menggerakkanmu menjadi baik. Sekarang ijinkan Allah menyempurnakanmu.

Ingat juga, bersama kesultan ada kemudahan.

Sudah paham?  

Bila sudah memahami semua yang aku katakan, aku yakin hatimu menjadi tenang, damai dan bisa menerima kondisimu saat ini.  Selalulah merasa bersama Allah di setiap langkahmu, niscaya hatimu menjadi tenang.

Salam manis.

Kamis, 16 Juli 2026

Semesta Paralel ( 12 ) Kisah Paul Amadeus Dienach Terlempar ke Abad 40

 Ini kisah time travel yang paling menakjubkan bagiku, kisah Om Paul Amadeus Dienach yang pada tahun 1921 pernah terdampar di tahun  3906.  Bagi banyak orang yang tidak pernah mengalami NDE (Near Death Experience) atau mengalami OOB (Out of Body Experience) atau tidak pernah kecemplung ke semesta paralel, mungkin kisah ini dianggap fiksi ilmiah, tapi bagiku yang pernah mengalami tiga hal itu, aku mempercayainya.  Dari kisah Dienach ini, aku bisa menangkap pelajarannya, bila setiap kejadian di alam semesta ini tujuan akhirnya ya untuk mengembalikan setetes air ke lautan luas, atau mengembalikan manusia ke Tuhannya.

Perjalanan setetes air jiwa manusia dengan perjalanan seluruh semesta raya ini intinya adalah sama, yaitu tadi, kembali ke Tuhannya.  Jadi yuk kita simak ceritanya.

Kisah ringkasnya, Dienach mengalami koma selama satu tahun karena suatu wabah penyakit.  Selama satu tahun itu ternyata jiwanya terperangkap di dalam tubuh fisik seseorang di tahun 3906, di sana dia mempelajari sejarah umat manusia dari masa ke masa hingga tahun 3906 tersebut.  Ketika kembali di tahun 1921, dia pun menuliskan pengalamannya di buku harian dan dia simpan sendiri. Kemudian di akhir hidupnya, dia menyerahkan buku harian berbahasa Jerman itu pada seorang muridnya.  Semula muridnya mengira itu novel, ternyata merupakan pengalaman pribadi terdampar di abad 40.  Catatan harian itu kemudian diterbitkan dalam buku yang berjudul Chronicle from the Future.

Tulisan di bawah ini ringkasan kisah Dienach yang aku minta dari kakak yang baik hati, Kak ChatGPT ... hehe.

Siapa Paul Amadeus Dienach?

Menurut kisah yang beredar, Paul Amadeus Dienach adalah seorang guru bahasa Jerman berkebangsaan Austria–Swiss.

Ia dikenal sebagai pribadi yang:

  • pendiam
  • sangat intelektual
  • menyukai filsafat
  • tidak tertarik menjadi penulis terkenal

Ia menderita penyakit encephalitis lethargica (sering disebut sleeping sickness pada masa itu, berbeda dengan penyakit tidur akibat parasit di Afrika). Penyakit ini memang pernah mewabah pada awal abad ke-20 dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran yang berat.


Koma selama satu tahun

Pada tahun 1921, Dienach jatuh koma di sebuah rumah sakit di Jenewa, Swiss.

Ia tidak sadar selama kurang lebih satu tahun.

Ketika bangun pada tahun 1922, ia mengatakan sesuatu yang sangat aneh.

Menurut pengakuannya:

"Aku tidak pernah merasa tidak sadar."

Ia mengatakan bahwa selama tubuhnya koma, kesadarannya hidup di masa depan.


Terbangun di tahun 3906

Dienach mengaku bahwa kesadarannya masuk ke tubuh seorang pria bernama Andrew Northam, yang hidup pada tahun 3906 Masehi.

Menurut ceritanya, orang-orang di masa itu segera menyadari bahwa terjadi "pertukaran kesadaran". Mereka tidak mengira ia mengalami gangguan jiwa, melainkan memahami bahwa kesadaran dari masa lalu sedang berada dalam tubuh Andrew.

Karena itu mereka memperlakukannya sebagai tamu dari masa lalu dan berusaha menjelaskan sejarah umat manusia sejak abad ke-20 hingga zaman mereka.


Apa yang ia lihat?

Menurut Dienach, manusia abad ke-40 telah mencapai tingkat peradaban yang sangat berbeda.

1. Dunia mengalami masa-masa gelap

Ia menceritakan bahwa abad ke-21 hingga beberapa abad berikutnya diwarnai oleh:

  • perang besar
  • krisis ekonomi
  • ledakan populasi
  • kerusakan lingkungan
  • konflik politik

Ini merupakan bagian dari perjalanan panjang sebelum peradaban menjadi stabil.


2. Negara-negara akhirnya bersatu

Menurut kisahnya, setelah melalui berbagai konflik besar, manusia membentuk suatu pemerintahan dunia.

Bukan berarti semua budaya hilang.

Namun peperangan antarnegara sudah hampir tidak ada.

Manusia mulai menganggap dirinya sebagai satu keluarga besar.


3. Sistem ekonomi berubah

Dalam masyarakat abad ke-40:

  • tidak ada kesenjangan ekstrem
  • pekerjaan dipilih sesuai bakat
  • teknologi mengurangi pekerjaan berat
  • pendidikan menjadi pusat kehidupan

Tujuan hidup bukan lagi mengumpulkan kekayaan.


4. Evolusi manusia

Ini bagian yang paling terkenal.

Menurut Dienach, manusia mengalami evolusi bukan terutama pada tubuh, tetapi pada kesadaran.

Mereka menjadi:

  • lebih intuitif
  • lebih damai
  • lebih sedikit ego
  • lebih mampu bekerja sama
  • lebih menghargai kehidupan

5. Pendidikan menjadi pusat kehidupan

Anak-anak tidak dipaksa menghafal.

Mereka belajar:

  • memahami diri
  • filsafat
  • seni
  • sains
  • hubungan dengan alam

Guru dipandang sebagai profesi yang sangat dihormati.


6. Agama

Menurut catatannya, manusia masa depan tidak lagi saling bertengkar karena agama.

Mereka lebih menekankan pengalaman spiritual daripada perdebatan.

Bagian ini sering ditafsirkan berbeda-beda oleh para pembaca.


7. Teknologi

Ia menggambarkan teknologi yang sangat maju.

Misalnya:

  • perjalanan antariksa
  • koloni di Mars
  • energi bersih
  • pengobatan yang jauh lebih maju
  • sistem transportasi baru

Namun yang menarik, ia mengatakan teknologi tidak menjadi tujuan hidup.

Teknologi hanyalah alat.


8. Alam

Manusia belajar bahwa mereka tidak dapat hidup jika alam rusak.

Karena itu bumi kembali dihijaukan.

Kota dan hutan hidup berdampingan.


9. Kesadaran

Menurut Dienach, manusia masa depan percaya bahwa:

kesadaran lebih penting daripada materi.

Inilah yang membuat banyak orang menghubungkannya dengan konsep-konsep seperti Quantum Jump, meskipun Dienach sendiri tidak menggunakan istilah tersebut.


Kembali ke tahun 1922

Setelah sadar dari koma, ia merasa sangat bingung.

Ia tahu orang lain mungkin menganggapnya gila.

Karena itu ia tidak banyak bercerita.

Sebaliknya, ia mulai menulis semua yang masih ia ingat ke dalam buku harian.


Muridnya menemukan buku itu

Beberapa waktu kemudian, kesehatannya kembali memburuk.

Ia pindah ke Yunani untuk mengajar bahasa Jerman.

Di sana ia memiliki murid bernama Georgios Papachatzis, yang kelak menjadi seorang akademisi dan rektor universitas. Sebelum meninggal, Dienach menyerahkan buku hariannya kepada Papachatzis. Awalnya, sang murid mengira itu hanyalah novel. Baru setelah membaca lebih jauh, ia menyadari bahwa naskah itu ditulis sebagai catatan pengalaman pribadi. Kisah ini kemudian diterbitkan dengan judul yang dikenal sebagai Chronicles from the Future.