Kamis, 03 September 2026

Menatap Tragedi

 Di tulisanku yang berjudul "Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip"  Innuri bilang, kala diri ini sudah merasakan ketiadaan / fana, maka yang terlihat hanyalah Allah dan semua itu indah saja.  Lalu ketika tulisan itu aku bagikan ke Fb, ada komentar yang bila diringkas, bagaimana melihat keindahan dari bencana banjir di Nepal? Apakah semua itu Allah?

Bila dilanjutkan bisa lebih panjang lagi, bagaimana melihat kebakaran hutan, kebakaran pemukiman, gempa bumi, kecelakaan dsb, bagaimana bisa melihat semua itu Allah?  Mungkin maksudnya, bagaimana melihat tragedi itu bikinan Allah, masa sih Allah penebar tragedi? Memangnya ada keindahan dalam sebuah tragedi? 

Innuri tahu jawabannya tapi terlalu rumit untuk dijelaskan dalam bentuk kata-kata, tapi aku akan coba menyederhanakannya dengan pertolongan Allah.

Begini ya, orang yang dalam keadaan fana (ketiadaan diri) itu yang dilihat bukanlah fisik, yang dilihat bukanlah pemandangan yang ditangkap mata zahir ini. Lantas apa yang dilihat?  Kesejatian.

Sesuatu yang bisa berubah (impermanen)  dan tergantung pada sesuatu yang lain (interdependen) bukanlah kesejatian.  Jadi semua yang tampak mata ini bukanlah kesejatian.  Kesejatian melampaui itu semua.

Lantas, apa dong yang berada di balik tragedi yang dilihat orang-orang fana itu?  Kesejatian macam apa?

Bila kalian punya akses untuk menonton film V for Vandetta, ada bagian yang menceritakan tentang bagaimana V bersandiwara menyiksa Evey untuk mengeluarkan sisi kebijaksanaan di dalam diri Evey yang tersimpan dalam-dalam di jiwanya.  Setelah Evey tahu itu cuma sandiwara, marah dong Evey, lalu V berterus terang bila dia pun tak tega melakukan itu pada Evey, tapi terpaksa dia lakukan untuk tujuan itu.  Artinya V melakukan penyiksaan itu karena kasih sayang, demi kebaikan Evey sendiri, demi tujuan yang lebih besar dan lebih mulia.

Jadi itulah yang dilihat orang-orang fana, kasih sayang Allah.  Di dalam tragedi, sejatinya Allah sedang menyempurnakan jiwa seseorang.

Kamu boleh bertanya lagi, penyempurnaan macam apa bila seseorang sudah mati di usia muda, bahkan bayi atau anak-anak karena tersapu tragedi?  Pertanyaan itu terjawab bila kamu percaya reinkarnasi.  Reinkarnasi itu tertulis di Al Quran, bila ingin tahu lebih banyak penjelasan soal ini, silakan cari saja di blog ini, ada kolom pencarian di kanan atas ya.

Apakah ada pertanyaan lain? 

Rabu, 02 September 2026

Antara Usaha dan Anugerah

 "Apakah fana dan wushul itu sesuatu yang merupakan anugerah Tuhan semata-mata ataukah boleh diusahakan?" tanya seorang sahabat Innuri.

Jawabannya bisa berbeda tergantung pada pemahaman seseorang dan jawaban yang berbeda itu semuanya benar.  

Begini, untuk orang yang beranggapan bila manusia diberi free will, atau kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, maka jawabannya adalah bisa diusahakan.

Untuk orang yang beranggapan bila semuanya sudah tertulis di lauhulmahfuz dan manusia tinggal menjalani, jawabannya adalah semata-mata anugerah Allah.

Untuk orang yang beranggapan bila manusia punya kehendak bebas tetapi punya keterbatasan, maka jawabannya adalah 'manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan'.

Ketiga jawaban itu benar, karena ketiga sifat manusia yang aku sebut di atas itu memang diciptakan Tuhan, semuanya ada di masyarakat dunia ini, ketiganya juga punya landasan dalil dari Al Quran dengan penafsiran masing-masing.

Dari tiga yang benar itu, manakah yang paling benar?  tanyamu.  Maka jawabannya. yang paling benar adalah yang paling bisa menghargai pendapat yang berbeda, yang tetap berkasih sayang terhadap yang berbeda dan bisa memahami yang berbeda dengannya.

Kalau kalian ketemu orang yang menganggap bila pendapatnyalah yang paling benar dan suka menyalahkan orang yang tidak sependapat dengannya, maka saranku adalah, jangan ikuti dia dan jangan ikuti pendapatnya.

Alenia di atas aku cetak tebal dan cetak miring pula, karena itu sangat penting agar kalian selamat.  Ikutilah orang yang hatinya penuh kasih kepada siapapun dan apapun, karena Allah bersama orang yang hatinya penuh kasih sayang.

Sekarang,  Innuri sendiri pilih jawaban yang mana dari ketiga jawaban itu?

Bila yang jawab Innuri empat puluh tahun yang lalu, maka jawaban pertama itulah yang aku katakan, manusia punya kehendak bebas dan bisa menentukan nasibnya sendiri.

Bila yang jawab Innuri tiga puluh tahun yang lalu, maka jawaban ketiga itulah yang aku katakan, manusia punya free will tapi dibatasi kekuasaan Tuhan.

Bila Innuri dua tahun yang lalu yang ditanya, maka jawabannya adalah semua sudah tertulis dan manusia tinggal menjalani.

Jawaban Innuri sekarang masih sama seperti dua tahun yang lalu dan di sinilah aku merasa yakin karena hatiku bisa memahami semuanya, semua perbedaan itu, sekaligus pernah mengalami dan merasakan berada di ketiga 'kubu' itu.  Rasaku sekarang adalah damai dan hatiku bisa menyayangi semuanya, termasuk orang yang menudingku salah atau sesat.

Jadi pemahaman seseorang itu berproses, yang penting adalah menjalani setiap proses dengan penuh rasa syukur dan selalu terhubung dengan Allah.  Sebenarnyalah orang yang bersyukur itu adalah orang yang terhubung dengan Allah.

Jadi saranku adalah di posisi mana pun pemahaman kalian, yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu sampai menemukan kedamaian.  Yakin pada Allah, itulah yang terpenting.

Baik, muncul pertanyaan lagi, bila semua sudah dijalankan Allah, manusia tidak mau berusaha dong!

Bila kalian sudah berada di posisi wushul, maka kalian sangat menyadari bila segala usaha yang dilakukan manusia itu tidak pernah terlepas dari Allah.  Allahlah yang menggerakkanmu berusaha. Jadi manusia yang wushul itu tetap berusaha kok, tetapi batinnya tidak merasa berusaha, karena lahaulawala quwata illabillah, Allahlah yang menggerakkannya berusaha.  Berusaha tanpa berusaha, atau berusaha tanpa merasa berusaha.

Karena dia berusaha tanpa merasa berusaha, manusia wushul jauh sekali dari sifat sombong dan membanggakan diri.

Semoga penjelasan di atas bisa dipahami ya. Salam kasih.

Selasa, 01 September 2026

Marah yang Elegan

 "Bagaimana cara mengelola amarah dengan baik dalam konteks berumahtangga?" Tanya seorang sahabat Innuri. 

Innuri kasih 2 jawaban, yaitu jawaban klasik dan jawaban yang nggak klasik ya. 

Jawaban klasiknya begini : 

Salah satu ciri orang bertaqwa itu adalah menahan amarah, itu tertulis di dalam al quran. Jadi kalau lagi marah, jangan buru-buru dibrolkan atau jangan langsung dikeluarkan dalam bentuk kata-kata atau jadi tindakan. Marahnya pakai seni, pakai trik, pakai strategi, agar goalnya tercapai. 

Waktu marah, mikir dulu targetnya apa?  Bukan sekedar melepas emosi. Otomatis marahnya diredam dulu sampai jadi 'dingin', baru ngomong sesuai goalnya.  Mungkin itu maksudnya 'menahan amarah'. 

Yang aku ceritakan itu bukan teori, sudah dipraktekkan dan terbukti membuat suasana rumah tangga menjadi adem ayem, tapi dipraktekkan oleh suamiku ... hehe.  Innuri kalau marah bral brol saja, apa yang tersimpan di hati diledakkan saja, kalau yang dimarahi diam, tambah marah dong karena merasa diabaikan, kalau yang dimarahi membela diri, juga tambah marah karena merasa tidak dipahami perasaanku.  Kacau, kacau dah marah model Innuri, jangan dicontoh.  Tapi itu dulu ya, semakin tua aku semakin santai dan sudah lupa caranya marah.

Jawaban yang nggak klasiknya begini:

Innuri ajak ke pola berpikir yang mendalam, pola pikir spiritual yang membuatku lupa caranya marah.

Yang harus disadari duluan adalah "Kasih sayang adalah dasar dari segala sesuatu".  yang berarti, kasih sayang adalah dasar penciptaan, dasar segala kejadian atau peristiwa dalam hidup.  Itu adalah princip bismillah.

Bila di dalam keluarga ada kejadian pasangan berbuat salah sampai membangkitkan marah, di mana dong letak kasih sayangnya?  Katanya kasih sayang adalah dasar segala kejadian.  Ya inilah yang harus disadari, marah itu artinya ada kasih sayang yang hilang, berarti marah itu tidak 'menciptakan' apapun selain kehancuran.  Jadi hadirkan lagi kasih sayang itu di hatimu, barulah kamu boleh marah, jadi marahnya pakai kasih sayang.  

Kalau marahnya masih pakai emosi, ya siap-siap melihat orang-orang yang kamu sayangi hancur hatinya, kebayang bagaimana sikap orang yang hatinya sudah kamu hancurkan?  Permusuhan dong.  Mau musuhan sama orang yang katanya kamu sayangi?  Ada musuh di dalam rumah itu seperti resmi masuk neraka deh, pakai sertifikat pula ... haha.

Kasih sayang adalah dasar segala kejadian, iya benar itu.  Allah yang menurunkan kejadian, karena Allah tahu di hatimu masih ada ego yang membatu yang butuh dilunakkan.  Maka kejadian yang membuatmu marah hanyalah alat bantu untuk mengetahui ego macam apa yang tersembunyi di kedalaman hatimu yang harus diselesaikan, yang merupakan PR kehidupan.

Misal kamu marah karena anakmu mencorat coret mobilmu dengan cat permanen. Itu hanya menunjukkan kemelekatanmu dengan harta benda kok, yang lebih kamu sayangi daripada anakmu sendiri.

Misal kamu marah karena pasanganmu berselingkuh.  Memangnya nggak boleh marah untuk kasus seberat ini?  Boleh, tapi disadari dulu marahmu karena apa?  Karena ada orang lain merebut milikmu?  Memangnya apa sih yang kamu miliki di dunia ini?  Semua milik Allah loh, bahkan pasanganmu itu.  Kejadian itu hanya untuk menyadarkanmu bila di dunia ini yang kita miliki cuma Allah kok.  

Ego, itu adalah PR bagi banyak orang.  Segala sesuatu yang mengandung kata 'ku' itu menunjukkan ego.  Kebanyakan orang marah karena 'ku' nya terusik. Lenyapkan saja 'ku' itu, lihat bila semuanya digerakkan Allah, maka hati menjadi damai dan lupa caranya marah.

Ya, Innuri lupa caranya marah sejak mengalami fana dan wushul.  Menyadari sampai ke tulang sumsum dan aliran darah, bila segala sesuatu digerakkan Allah, nggak bisa gerak sendiri, lahaula wala quwata illabillah.  Ketika ada kejadian yang di mata orang awam bikin marah, ketika bisa melihat itu loh digerakkan Allah, ya tidak ada rasa marah itu.  

Rabu, 26 Agustus 2026

Sebuah Cubitan dari Allah

Ada sahabat Innuri yang sekarang kondisinya sedang terpuruk pakai banget, sebut saja dia dengan Delta. Dulu sekali Delta bagus banget pemahaman spiritualnya, jadi teman diskusi aku soal spiritual. Entah mengapa beberapa tahun lalu dia  terjatuh dalam judi online dan pemahamannya jadi 'error' semua, bahkan logikanya seperti tidak jalan. Diajak ngomong nggak nyambung. 

Pelajaran yang bisa diambil adalah minta perlindunganlah kalian semua kepada Allah dari sesuatu yang diharamkanNya, embuh itu judi, mabuk, maling / korupsi, zina, nipu, dsb. Karena efeknya bisa merusak logika, merusak otak dan akal sehat, belum efek berantainya pada orang-orang yang kalian sayangi. 

Nah. 
Dikasih Allah cubitan berupa terpuruk finansial, mental, dll adalah caraNya membangkitkan keimanan itu lagi yang sekian lama terkubur dalam sekali.  Merupakan panggilan untuk kembali kepada Allah, berharap kepadaNya saja. 

Bila tak ada yang bisa dilakukan lagi, ya diam, nyerah kepada Allah, seperti perahu kertas yang berlayar di atas sungai kecil, menyerah pada arus yang membawanya kemana pun, berhenti di mana pun atau terbawa ke lautan. 

Ketahuilah, Allah itu sebenarnya tak pernah tega melihat hambaNya menderita. Allah terpaksa lakukan itu agar hambaNya memahami sesuatu. Semuanya pasti ada akhirnya. 

Seperti V dalam film V for Vendetta, V tak pernah tega menyiksa Evey di dalam penjara palsunya, tetapi terpaksa dia lakukan agar di dalam diri Evey keluar pemahaman yang mendalam akan arti penderitaan, kebencian, keberanian, sampai makna kehidupan dan kematian. 

V telah menyadarkan Evey bila ada yang lebih berharga daripada nyawa, yaitu kebenaran.  Evey seperti terlahir kembali sebagai manusia baru yang bijak dan tak kenal takut. 

Allah pun tak pernah tega membuat Delta begitu menderita, tetapi Allah harus melakukannya agar di dalam diri Delta muncul pencerahan dan pemahaman-pemahaman baru. 

Penderitaan itu seperti membongkar tutup yang menyembunyikan berlian di dalam batinnya. Setelah berlian ini keluar, beres deh, keberlimpahan yang akan mendatangi. 

Maka langkah terbaik yang harus dilakukan adalah mendekat kembali kepadaNya. Berhenti menyalahkan apapun dan siapapun, pasrah kepadaNya. 

Banyak diam, menonton segala gejolak emosi, agar bisa melihat jernih diri sendiri. Meditasi, zikir, salat, untuk kembali merasakan betapa Allah itu begitu dekat. 

Semoga Delta segera mendapatkan pencerahan. Aamiin. 



Selasa, 25 Agustus 2026

Lepas dari Perbudakan Cinta

 Seorang sahabat Innuri bercerita soal cintanya yang kandas, semula orang tua si gadis menyetujui hubungan mereka. Namun di tengah perjalanan mengumpulkan modal untuk menikah, si gadis dipaksa bertunangan dengan lelaki lain. 

Apa yang aku nasehatkan padanya klasik banget, seputar menerima semua ini, Allah tahu yang terbaik, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu. 

Namun menyembuhkan luka patah hati itu butuh waktu, bisa cepat, bisa lama, dan bisa lama sekali.  Bisa jadi kehadiran orang baru sebagai pengganti bisa menjadi obat, akan tetapi memori itu tidak pernah terhapus dan bisa jadi cinta antara keduanya tidak pernah terhapus begitu saja. 

Begitulah isi dunia ini. Banyak yang mengalami hal semacam itu, cinta yang kandas namun tak pernah terhapus. Banyak sahabat Innuri mengalaminya. 

Nah, bila kamu pernah membaca tulisan Innuri tentang Semesta Paralel, atau baca saja deh di sini  dan lanjutannya ada 10-an tulisan tentang semesta paralel. Maka kamu akan memahami bila semua pengalaman putus cinta dan patah hati itu memang kamu perlu mengalaminya untuk memahami cinta kasih Allah kepadamu.  Pemahaman akan adanya semesta paralel itu akan menolongmu untuk berdamai dengan keadaan ini. 

Kamu akan paham bila ternyata cintamu tak pernah kandas.  Bila kalian saling mencintai, maka di semesta yang lain dia adalah pasanganmu.  Itulah kasih sayang Allah yang tak terbatas. 

"Mengapa bukan di kehidupan ini saja, saat ini saja cinta itu bersatu?" tanyamu. Karena pelajaran yang musti diambil harus lewat peristiwa perpisahan. Allah itu mengajari kita sesuatu dan memahamkan sesuatu bukan di depan kelas ya, Sayang, melainkan lewat peristiwa.

Kalau cintamu bersatu saat ini, bisa jadi kamu bukannya menyembah Allah,bisa jadi kamu malah menyembah kekasihmu itu. Ayahab jere arek Malang alias bahaya. Bisa jadi pula bila kalian bersatu saat ini, kalian malah saling menyakiti dan berakhir saling membenci. Ayahab lagi dong.  Allah yang Maha Tahu, maka terima saja apapun, karena itu untuk kebahagiaanmu dan dia juga. 

Bila Allah menggantinya dengan orang yang lebih baik, lalu kamu bisa mencintainya sepenuh hati, sementara di semesta yang lain kamu berpasangan dengan dia. Ada dua cinta dong, atau bahkan ada banyak cinta dalam kehidupanmu. Pertanyaannya, manakah cinta sejatimu? 

Cinta sejatimu adalah Allah. Titik. 

Sampai kamu paham bila Allah 'menjelma' menjadi apa saja dan siapa saja untuk membahagiakanmu. Sebegitu dalamnya cinta Allah. 

Ketika kamu menyadari bila di saat kamu mencintai seseorang, hakekatnya kamu sedang mencintai Allah, maka di titik inilah kamu bisa merasakan kebebasan dari perbudakan cinta yang menyakitkan. Kamu merdeka. 

Semoga cintamu segera sampai pada kemerdekaan. 





Mendaki Gunung

 Ramai di grup kuliah gara-gara aku naik gunung di usia lansia ini, padahal dulu bukan anak Impala (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam).  Padahal juga, aku pernah punya masalah lutut karena asam urat tinggi, juga kolesterol tinggi. 

Sepulang dari mendaki aku malah merasa lebih sehat. Biasanya kalau posisi duduk mau berdiri pakai pegangan dulu, ajaibnya sekarang malah gak perlu pegangan, langsung mak nyat berdiri. Aku syukuri kejutan indah ini. 

Aku belajar ternyata penyakit bukan untuk ditolak atau dibenci. Karena dia hanya sedang memberitahu kita sesuatu, mungkin karena tubuh yang kurang gerak atau karena makan yang terlalu rakus atau mungkin pola pikir dan pola perasaan kita yang salah. 

Jadi berterimakasihlah pada apapun yang terjadi pada tubuhmu, ajak ngobrol, dia lagi ngasih tahu soal apa sih? Dia mau ngomong apa sih? 

Kuingat jaman remaja dulu aku gampang sakit dan langganan pingsan di sekolah. Ternyata itu karena aku hidup dalam ketakutan. Aku sedang parah indigonya saat-saat itu. Kemampuan ESP (extra sensory perception) aku lagi tumbuh, hal menakutkan aku saksikan setiap hari.

Puluhan tahun kemudian aku masih bergelut dengan persoalan ESP-ku dan aku masih gampang sakit.  Hingga aku sadari semakin aku bisa menerima keadaan ini, aku jadi jarang sakit. 

Berdamai dengan apa pun dan siapa pun, menjadi hal yang berpengaruh signifikan pada kesehatan jasmani rohani kita. Itulah yang kurasakan. Namun semua itu juga karena Allah. 

Bukan usia, bukan gaya hidup, Allahlah yang memberi kita kesehatan dan Allah pula yang menuntun langkah kita ke sana. Diri ini cuma wayang, maka jadilah wayang yang pandai bersyukur. 



Senin, 24 Agustus 2026

Inti

 Pagi itu aku mandi dengan membawa perasaan gusar.

"Allah, pernahkah Engkau bingung mau ngapain? Sepertiku pagi ini? Mau cuci piring malas, mau bersih-bersih rumah capek, rasanya hidupku tidak berguna." kataku pada Allah.

"Allah, kalau lagi begini musti ngapain?"

"Aku sudah menyadari bila ini bukan aku, tapi Engkaulah yang mengendalikan aku. Maka mengapa musti bingung begini?  Kapankah aku bisa tahu musti melakukan apa dan yakin bila yang aku lakukan benar?"

Sambil menyiram badanku dengan air aku menangis, hanya gara-gara persoalan sepele, bingung mau ngapain karena malas ngapa-ngapain.

Akhirnya aku selesai mandi, ganti baju dan duduk di depan televisi, menyimak kuliah Pak Hans dari Youtube.

Tiba-tiba saja aku mendapat jawaban dari pertanyaan selama aku mandi, jawabannya sama seperti yang pernah kudapat, tetapi lebih mendalam.  Bila aku katakan jawabannya padamu, pasti kamu akan mengatakan, ah itu lagi, itu mah aku sudah tahu, mbak Innuri.  Ya, karena ini memang susah dikatakan, harus mengalami sendiri.

Bila bisa dikatakan walau kata-kata sudah terbatas sekali untuk menggambarkan ini, maka inilah yang bisa kukatakan.

Tuhan itu Maha Tunggal, kita semua adalah perwujudan dari Ketuhanan.  Namun posisi kita berbeda-beda.  Bayangkan sebuah atom, ada inti atom, lalu ada neutron dan proton, lalu elektron yang tak henti-hentinya bergetar mengitari inti atom.  Baik inti ataupun neutron, proton dan elektron, semuanya satu, semuanya atom. Akan tetapi inti itu stabil dan tenang, pergerakan di dekat inti pun lebih stabil dibandingkan dengan yang jauh dari inti. 

Manusiapun begitu. Semakin jauh dari inti, manusia akan semakin gelisah dan tidak tenang.  Manusia musti berada di inti untuk mencapai ketenangan.

Sesederhana itu penjelasannya tapi yang aku alami tidak sederhana, seperti mengalami alam semesta, di mana alam semesta ini pun punya struktur seperti atom, berputar mengelilingi inti masing-masing.   Tata surya punya inti yaitu matahari, galaksi juga punya inti yang merupakan poros galaksi. Lebih jelasnya googling saja deh, Innuri bukan ahlinya di sini. Hanya untuk menggambarkan pemahaman yang aku dapat. 

Karena di dunia batin pun demikian, kita semua berputar mengelilingi inti dan dikendalikan oleh inti, posisi manusia berbeda-beda dalam jarak terhadap inti.  Posisi itulah yang menentukan suasana jiwa masing-masing.

Semakin dekat dengan Tuhan membuat batin kita stabil. 

Jadi berterimakasihlah pada kegelisahan, karena dia hanya memberitahu sedang berada di posisi mana kita ini. 

Setelah memahami yang bisa aku pahami, hatiku menjadi tenang, Dia begitu dekat. Dekat yang tak terbayangkan dekatnya. 

Kamis, 20 Agustus 2026

Mikirin Indonesia

 Sampai mikirin Indonesia Innuri, ketika siangnya ngobrol dengan sahabat tentang kemiskinan ekstrim di negri ini.  Negeri di mana rakyatnya menjadi babu untuk orang-orang asing yang hidup mewah di tanah leluhur mereka sendiri. Negeri yang .... 

Mikirin Indonesia Innuri, ketika suara anak-anakku mahasiswa yang peduli pada nasib bangsa ini berusaha dibungkam atau manusianya ditiadakan. 

Mikirin Indonesia Innuri, ketika kebakaran hutan melanda, gempa dan bencana...  Sementara ada tangan rakus yang merampok kekayaan alamnya. 

Mikirin Indonesiaku ini ketika emas puluhan kilogram ditemukan di rumah pejabatnya. Oh Indonesia yang korup. 

Aku gelisah malam itu, mendoakan negri dengan perasaan yang tidak yakin. Sampai aku sadari bila kegelisahan adalah sebuah pertanda bila hati sedang terpisah dengan Tuhan, dan melihat semua kenyataan terpisah dengan Tuhan juga. 

Maka ketika aku kembali menyatu dengan Tuhan, disitulah aku merasa tenang.  Semua ini dibawah kendaliNya, tidak ada yang perlu disedihkan atau dikhawatirkan. Ujung-ujungnya bakalan mati, kehidupan dunia bagaimana pun indah atau nelangsanya, semuanya bakalan ditinggalkan. 

Tidak ada yang perlu dikasihani, tidak pula ada yang perlu "digemesin" saking serakah atau jahatnya. Kenapa? 

Karena semuanya hanya pembagian peran saja. Peranku peranmu perannya peran mereka, semua itu tidak sama. Ya jalani peran masing-masing dengan bersyukur saja. 





Jumat, 14 Agustus 2026

Membalut Kecewa

Sudah dua malam aku di Bandung. Ada peristiwa yang memberiku pelajaran. Kemarin ke Pengalengan, makan di sebuah resto yang terkenal. Eeh, makanan yang kupesan tidak sama dengan foto makanan di menu. Di foto isinya dia potong, ada sayuran yang banyak pula. Eh yang datang hanya sepotong dengan selembar daun selada. Manalah mahal lagi. 

Aku kecewa dong. Sakit hati dong. Kubawa rasa kecewaku sampai bikin status walau nama restonya kusamarkan.

Iqbal teman Aden sampai bilang, " Kalau di Jepang ini bisa didenda loh. "

Bahkan rasa kecewa itu terbawa sampai ke penginapan.

Malamnya baru kusadari bila semua itu yang menggerakkan Allah juga. Siapa sih yang menggerakkan orang-orang di resto? Siapa sih yang menggerakkan aku ke sana? Siapa coba yang bikin aku dan orang-orang itu dipertemukan? 

Itulah obat kecewa yang paling mujarab, menerima. Menerima apapun, sekecil dan sebesar apapun. 

Ya, aku masih belajar menerima ternyata. Belum expert, bila sudah bisa auto menerima, baru deh itu namanya keren. 

Terimakasih Allah untuk pelajaranMu kali ini. 

Senin, 10 Agustus 2026

Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip

 Pertama mendengar istilah ini dari tulisan eyang Syamsul'alam, kaya-kaya wes mati sajrone isih urip, itu bahasa Jawa yang artinya seolah-olah sudah mati di dalam kehidupan.  Itu juga merupakan salah satu ajaran tasawuf yang disebut fana atau ketiadaan diri.  Ini adalah hal paling indah dan membagikan saat bisa mengalaminya, rasanya tuh merdeka dari perbudakan, kayak punya sayap, ringan dan bebas.

Merdeka dari perbudakan siapa?  Dari pikiran dan logika kita sendiri, dari perasaan kita sendiri, dari persepsi dan persangkaan kita sendiri, merdeka dari emosi negatif, marah dendam benci dsb. 

Innuri lagi mempraktekkan ini dengan sengaja di dalam kehidupan.  Walau masih on of, semakin ke sini rasanya semakin lama on-nya.

Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak mengontrol orang-orang seperti apa yang aku mau.  Aku membiarkan mereka semua dikontrol Allah, berproses menurut kehendak Allah.  Ini membuat aku tidak pusing dengan segala hal yang dilakukan orang-orang di luaran sana atau orang-orang yang dekat denganku, hatiku menjadi damai sekali.

Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak lagi terpengaruh dengan perlakuan orang pada diriku, mau mereka membenci kek, menghujat, atau diam,  mengagumi, dll.  Ibarat mereka sedang menembak angin, tidak ada yang terluka, tidak juga ada yang merasa tersanjung. Perasaan sudah di atas itu, di atas suka duka, itu perasaan yang enak sekali.

Ketika aku merasa tidak ada, aku tidak lagi melekat pada makhluk.  Kehadiran atau pun ketidakhadiran mereka, kepergian atau pun kedatangan mereka, perasaan sudah di atas senang dan sedih, itu bukan perasaan biasa saja, itu perasaan yang indah karena bisa mencintai semuanya.  Justru tidak melekatlah yang menghadirkan perasaan menyatu.

"Melekat dalam ketidakmelekatan"  Ketemu paradoks ini dan masuk ke dalamnya lalu merasakan unconditional love itu. 

Ketika merasa tidak ada, maka yang terlihat hanyalah Allah, semua adalah keindahan.

Ketika merasa tidak ada, Allah adalah aku dan kamu, juga dia dan mereka, juga alam semesta utuh.

Ketika merasa tidak ada, aku sudah berada di surgaNya.

Rabu, 05 Agustus 2026

Mengapa Kosong Itu Penting?

 Banyak cerita kudengar, seseorang mendapatkan hidup yang luar biasa setelah mengalami kebuntuan lalu menyerah, seolah bilang,"Terserah Engkau, ya Tuhan."  Batinnya sudah kosong karena nggak tahu mau ngapain lagi untuk menolong dirinya sendiri, tetapi di titik itu dia justru mendapat solusi, seperti pembuka jalan.  Itulah 'fenomena kosong' yang mendatangkan pertolongan Allah.  Bila setelah itu si orang tadi bisa mempertahankan kekosongan itu, ya hidupnya bakalan dibanjiri dengan kejaiban demi keajaiban, kebahagiaan demi kebahagiaan.

Mengapa 'kosong' begitu penting?  Kosong dalam arti sudah 'berpasrah bongkokan' pada Allah, sudah tak lagi memikirkan bagaimana jalan keluar, bagaimana solusi, atau bagaimana usaha mencapai ini dan itu?  Kosong dalam arti mengalir saja, melangkah seperti wayang, terserah Sang Maha Dalang.

Mengapa kosong begitu penting?

Ketika kita kosong, Allah yang turun tangan memperbaiki kehidupan kita ini.  Sebaliknya ketika kita merasa bisa, Allah lepas tangan dong, wong kitanya merasa bisa.

Tapi manusia 'kan wajib berikhtiar, lalu hasilnya terserah Allah?  tanyamu.

Ikhtiarnya manusia itu bisa di level iman, di level pikiran, di level perbuatan.  Orang yang sudah kosong itu kebanyakan  sudah tidak bisa lagi berikhtiar di level pikiran dan perbuatan, jadi sudah menyerah alias secara iman dia sudah percaya bila hanya Allah yang bisa, manusia tidak bisa apa-apa.

Jadi bila ada orang yang terlihatnya seperti 'tidak ngapa-ngapain' sementara hatinya sedang menyerah kepada Allah, itulah ikhtiar di level iman.  Nanti Allahlah yang menggerakkan alam semesta ini, termasuk menggerakkan orang itu dalam mewujudkan kehendak Tuhan yang terindah.  Manusianya hanya menikmati setiap momen, mensyukuri setiap hal, sudah nggak tolah-toleh lagi.

Faham 'kan Sayang?

Minggu, 02 Agustus 2026

Pelajaran Dari Anak

 Ada curhatan dari beberapa sahabat Innuri tentang anak (herannya kok masalahnya sama, tentang anak) yang bikin aku jadi teringat dengan Tom Hanks dan Brad Pitt, sekaligus teringat Dr Masaru Emoto.  Karena aku begitu kagum pada ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button. 

Aku juga teringat Dr Masaru Emoto karena eksperimennya dengan kata-kata yang memengaruhi struktur air, karena mendidik anak itu berhubungan dengan kata-kata.

Bagaimana ibu Forrest Gump  mengatakan kalimat-kalimat yang mengagumkan tentang sang anak yang menderita disabilitas fisik dan kecerdasan rendah, sampai anaknya menjadi orang hebat di kemudian hari.  Sedangkan ibu angkatnya Benjamin Button menganggap kehadiran bayi aneh adalah sebuah keajaiban dan kemudian merawat bayi aneh tersebut dengan penuh cinta.  Pasti tahu 'kan kedua film itu dibintangi Tom Hanks dan Brad Pitt, itu film yang terkenal sekali.

Walau hanya film, walau film itu tak sama dengan dunia nyata yang kompleks ini, tetapi ada pelajaran yang bisa diambil dari kedua ibu hebat itu, ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button, yaitu 'menerima dengan penuh cinta' yang menghasilkan 'mukjizat'.  Kalimat-kalimat positif yang diucapkannya tentang si anak mengingatkanku pada Dr Masaru Emoto dengan percobaannya pada air.  Bila setiap kata memengaruhi struktur air, pasti memengaruhi manusia juga 'kan?

Aku sendiri bukanlah ibu yang baik dan aku sering sekali memperlakukan anak-anakku dengan salah, bahkan sampai setua ini, jadi tulisan ini bukan bermaksud menggurui ya, ini tulisan dari 'sesama pelajar'.  Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, makanya orang tua sering melakukan kesalahan sementara dia merasa itu untuk tujuan yang benar.  

Beberapa hal bodoh yang sering orang tua (nunjuk diri sendiri) lakukan terhadap anak:

- membandingkan anak dengan anak orang lain atau dengan saudaranya yang lebih hebat, ini bikin anak jadi minder.

- menyepelekan perasaan anak, misal 'gitu aja kok nangis', 'gitu aja takut' , dsb.

- merendahkan anak dengan harapan dia akan terpacu untuk bertumbuh

- mendidik dengan ego, merasa lebih tahu dan lebih pintar dari si anak

- jarang memberi apresiasi (kurang menghargai), seringnya mengoreksi dan menyalahkan.

- terlalu mengatur anak sehingga tidak memberi kesempatan anak untuk memilih.

- dll boleh tambahkan sendiri.

Kalau secara spiritual, orang-orang terdekat seperti anak dan pasangan, adalah "penyampai pesan Tuhan". Bahkan anak bisa jadi guru spiritual yang menyamar.  Ketika kamu semakin baik, maka kondisinya anak bakalan membaik.  Jadi yang dikoreksi bukannya si anak, melainkan dirimu sendiri itu loh, eh diriku sendiri juga ding.

 Jadi ketika ada masalah dengan anak, yang dipertanyakan duluan adalah ,"Apa sih pesan Allah lewat peristiwa ini?"  Setelah itu biarkan petunjuk Allah mengalir dan lakukan sesuai petunjuk itu.  Ini memang tidak sesederhana yang Innuri katakan.  Tapi minimal kamu menerima anak baik positif maupun negatifnya, kamu berdamai dengan kondisi anak, berprasangka baik pada Allah apa pun kondisinya dan terus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Intinya, kamu menerima anak dengan cinta dan mengajarinya untuk mencinta.  Ini aku cetak tebal ya, itulah yang aku pelajari dari dua film terkenal itu dan film hidupku sendiri.

Di level spiritual yang lebih dalam lagi, kamu akan menyadari bila segala sesuatu  di dalam kendali Allah, termasuk perasaanmu, perasaan anak, segala yang dilakukan olehmu dan anak, semua itu Allah yang menggerakkan.  Di sini sudah tidak ada yang salah atau benar, manusia hanyalah wayang di tangan sang Dalang.  Jadi segala usahamu untuk anak, kamu tidak merasa melakukan, tetapi Allahlah yang menggerakkanmu melakukannya.  Di level ini, batinmu sudah damai sekali, kamu tak lagi resah, kamu hanya percaya penuh pada Allah dan kemungkinan terjadi, anak-anakmu akan membaik seperti mukjizat!

Semoga tulisan ini membantu.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Menembus Logika

 "Mbak Innuri, gimana sih caranya agar bisa 100% menerima?  Aku terbiasa berpikir logis, jadi apa-apa kalau sudah masuk di pikiranku, baru aku bisa menerima."

Adakah yang punya masalah seperti si penanya?  Yuuk nikmati teh dan onde-ondenya.

Itu salah satu sisi kurang ajarnya pikiran, tapi tak perlu dibenci karena orang hidup butuh pikiran. 

Yang perlu diluruskan adalah tak semua hal bisa dilogikakan. 

Bagaimana bisa pikiran yang terbatas mampu memahami sesuatu yang tak terbatas, seperti kasih sayang Allah yang tidak terbatas atau alam semesta ini?

Karena pikiran itu terbatas, maka proses berpikir bukan satu-satunya cara memahami sesuatu. Letakkan semua pada tempatnya masing-masing. 

Untuk menerima sebuah kejadian di dalam hidup ini, maka diperlukan 'wawasan keimanan' yang mencakup bagaimana setiap kejadian diturunkan Allah padamu dengan kasih sayang. 

Kejadian ditipu orang misalnya. Secara materi kamu rugi, tapi ingat kamu bukan makhluk materi, kamu makhluk spiritual. Maka secara spiritual kamu beruntung karena mendapatkan kesempatan belajar bahwa di dunia ini tidak ada satupun yang kita miliki, materi bisa datang dan pergi sesuka takdir menuliskannya, atau kamu akan mendapatkan pelajaran / hikmah yang lain.  Itulah proses menerima peristiwa 'ditipu orang' dengan iman.  Kalau dengan logika pasti sulit, kamu pasti mendendam pada orang yang telah menipumu bertahun-tahun.

Bagaimana kalau menolak?  Marah, tidak terima atau mendendam itu tanda-tanda penolakan.  Kalau menolak ya kamu akan memelihara sampah kemarahan itu bertahun-tahun sampai kamu bisa menerima.  Atau kamu bakalan mengalami peristiwa yang mirip karena kamunya tak kunjung mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Jadi bagaimana menurutmu?  Pilih menerima walau tidak masuk di pikiranmu ataukah menolak karena tidak logis?  Atau kamu punya contoh peristiwa apa yang membuatmu susah untuk menerima? 

Senin, 27 Juli 2026

Cintai masalahmu

 "Jangan harap masalah bakalan selesai, selama masih berada di dunia ini, masalah bakalan datang silih berganti.  Semua masalah membawa pesan Tuhan.  Cara menyelesaikannya adalah mengambil pelajarannya," kataku pada sahabat Innuri yang curhat di telepon.  Itu intinya, tapi ngobrolnya panjang kali lebar kali tinggi.

Orang yang punya hutang bilang, andai hutang lunas, masalah selesai.  Orang yang sakit bilang, andai sudah sembuh, masalah selesai.  Orang yang terjerat hubungan toxic bilang, andai bisa mengakhiri hubungan ini, masalah selesai. Perpanjang sendiri contohnya ya.

Betul masalah hutang selesai bila sudah lunas, tapi masalah yang lain akan datang, Sayang.  Betul masalah kesehatan selesai, masalah lain sudah menunggu.  Hidup itu perpindahan dari satu masalah ke masalah lain, karena lewat masalahlah orang belajar.  Jadi cintai masalahmu.  Berterimakasihlah pada masalah karena itu adalah tools untuk menyempurnakanmu sebagai manusia.

Bagi orang yang menyengaja hidup di jalan Allah, dia menganggap masalah adalah anak tangga demi anak tangga untuk lebih mengenalNya.  Bahkan Dia menuntunmu saat menapaki anak tangga itu, bukankah itu indah? 

Ingatlah bila hidup selalu membawa satu paket yang berkebalikan, seperti mata uang, ada dua sisi yang berbeda, yang kalau bisa menerima keduanya, kita pasti kaya raya oleh kebahagiaan.  Yin-yang, itu adalah kepastian, sunatullahnya begitu.  Jangan melihat satu sisi muramnya saja, yang membuat hidupmu berasa kejepit pintu sambil tertabrak bulldozer.  

Jadi bagaimana?  Peluk keduanya, kedua hal yang sepaket itu.  Nikmati hidangan kehidupan ini.  

"Bagaimana cara mengatasi rasa deg-degan, takut dan khawatir menghadapi jatuh tempo bayar ini itu? Bukankah orang musti berikhtiar?" tanyamu.

Rasa takut dan khawatir itu artinya hatimu  meragukan Allah, wong semuanya itu mudah bagi Allah. Jadi ikhtiarmu adalah memperbaiki korslet di hatimu yang merendahkan Allah itu loh!  Bukan ikhtiar mikir sampai nggak bisa tidur dan sakit maag, bukan ikhtiar ke sana kemari yang ujung-ujungnya kamu malah kehilangan uang lebih banyak.  Jangan merasa bisa melunasi hutang, jangan merasa bisa berusaha, pasrahkan pada Allah dengan mengakui segala kelemahan diri.  Diam, selesaikan korsletmu itu, pertolongan Allah akan mendatangi, Allah yang akan menggerakkan semuanya.

Salam manis.

Rabu, 22 Juli 2026

V for Vendetta

Entah mengapa kusuka banget sama film jadul, channel yang rajin kubuka adalah Hits TV Dan Hits Movie.  Sebelumnya aku sering melewatkan film ini, V for Vendetta, sampai suatu kali tanpa sengaja nonton sudah di pertengahan film dan ternyata sebagus itu.  Lalu kutonton lagi dan lagi.

Ini film yang membuatku terlibat secara emosional karena relate dengan kondisi di Indonesia saat ini dan yang kusuka di sepanjang film bertebaran kata-kata bijak yang bahkan keluar dari sang penindas.  Film ini bercerita tentang bagaimana kekuasaan dibangun di atas ketakutan yang sengaja diciptakan di tengah-tengah masyarakat agar rakyat mudah dikendalikan.  Lalu muncul seorang pahlawan yang minta dipanggil V saja.

Film muram tapi punya cara sendiri menumbuhkan harapan di hati penontonnya, seperti sepercik cahaya yang dibawa dari kelam, Innuri jadi keluar kata-kata bijaknya juga, ketularan dah.

Dalam kelamnya, ada lucunya di aku sendiri karena merasa "Indonesia juga punya dong" haha.  Aku tak tega menceritakan soal ini, tonton sendiri saja ya.

Ini nih beberapa kata-kata bijak yang sempat aku catat waktu nonton: 

- Tak perlu menjadi muslim untuk menikmati keindahan isinya (maksufnya isi Al Quran) 

- Seniman berbohong untuk mengatakan kebenaran. Pemerintah berbohong untuk menutupi kebenaran

- Tuhan ada di dalam hujan

- Pemerintah mengendalikan rakyat dengan menggunakan rasa takut.

- Aku bukanlah topeng atau wajah atau tulang belulang di bawah kulit ini.

- Pemikiran tidak bisa dihentikan dengan peluru.

- Negara ini butuh bukan sekedar bangunan (Parlemen) tapi harapan

- Sebuah pemikiran bisa mengubah dunia.

- Bukan orangnya yang kita ingat tapi pemikirannya.

- Menutup kejahatan dengan lembaran kitab suci.

- Tidak ada yang kebetulan, yang ada adalah ilusi akan kebetulan

- Ada yang lebih berharga daripada nyawa, yaitu kebenaran.

Jumat, 17 Juli 2026

Sikap Batin Saat Bermasalah

 Tulisan ini untuk menjawab curhatan salah seorang sahabat Innuri yang sedang merasa sedih dan tertekan dengan kondisi ekonomi yang katanya sedang sulit.  Berimbas pada usahanya hingga minus terus, sampai musti meminjam uang ke keluarga. Bagaimana menyikapinya?

Baik, Innuri akan jawab bagaimana sikap batin yang musti diluruskan ya.  Soal bagaimana solusinya, nanti akan Allah hadirkan kok.  

Yang mendasar sekali adalah, misi hidup setiap manusia adalah kembali kepada Tuhan.  Jadi setiap peristiwa, baik berupa kesedihan, penderitaan, masalah, ujian, bencana atau pun kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, semua itu hanyalah alat bantu untuk mengenal dan semakin dekat dengan Tuhan.

Paham 'kan?

Berikutnya, yakini bila semua yang berada di atas bumi ini milik Allah, jadi masalah juga milik Allah.  Bila masalah milik Allah, maka Dia juga yang bakal menyelesaikannya.  Manusia hanya 'akting' saja kok, atau manusia hanya menjalani. 

Paham 'kan?

Berikutnya lagi, Ketika masalah itu dihadirkan padamu, sikap batin pertama yang musti dilakukan adalah bersyukur, karena mendapat masalah artinya mendapat previlege untuk menyaksikan kebesaranNya.  Bagaimana Allah menghadirkan solusi yang tidak disangka-sangka.  Itu kesempatan emas melihat perbuatanNya Yang Maha Menakjubkan.

Beriktunya lagi.  Terkadang masalah merupakan cara Allah untuk melindungi hambaNya dari sesuatu yang lebih buruk.  Misalnya nih, yang sekarang lagi kesulitan finansial, bisa jadi bila diberi kelonggaran finansial, malah dipakai untuk 'jajan' ke sana kemari lalu kena penyakit aids.  Duh, contohnya Innuri kok ekstrim, nggak bakalan lah katamu.  Contoh lainnya bisa jadi kesuksesan secara finansial membuat egomu membesar, lalu merasa 'aku yang melakukan' , usahaku yang keraslah yang membuat ini semua, sombonglah kamu.   Maka Allah melindungimu dari kesombongan dengan dihantam masalah.

Sekali lagi bersyukurlah dengan kondisimu saat ini, karena kesulitan membuatmu lari menemui Tuhan.  Itu jauh lebih baik daripada kemudahan yang membuatmu lari mencari kesenangan dunia yang menyesatkan.

Terakhir, kesulitan adalah cara Allah untuk menyempurnakan jiwamu.  Karena kamu bilang sudah rajin ibadah, tidak neko-neko, rajin sedekah dan tidak pelit.  Jangan merasa dirimu baik, Allahlah yang menggerakkanmu menjadi baik. Sekarang ijinkan Allah menyempurnakanmu.

Ingat juga, bersama kesultan ada kemudahan.

Sudah paham?  

Bila sudah memahami semua yang aku katakan, aku yakin hatimu menjadi tenang, damai dan bisa menerima kondisimu saat ini.  Selalulah merasa bersama Allah di setiap langkahmu, niscaya hatimu menjadi tenang.

Salam manis.

Kamis, 16 Juli 2026

Semesta Paralel ( 12 ) Kisah Paul Amadeus Dienach Terlempar ke Abad 40

 Ini kisah time travel yang paling menakjubkan bagiku, kisah Om Paul Amadeus Dienach yang pada tahun 1921 pernah terdampar di tahun  3906.  Bagi banyak orang yang tidak pernah mengalami NDE (Near Death Experience) atau mengalami OOB (Out of Body Experience) atau tidak pernah kecemplung ke semesta paralel, mungkin kisah ini dianggap fiksi ilmiah, tapi bagiku yang pernah mengalami tiga hal itu, aku mempercayainya.  Dari kisah Dienach ini, aku bisa menangkap pelajarannya, bila setiap kejadian di alam semesta ini tujuan akhirnya ya untuk mengembalikan setetes air ke lautan luas, atau mengembalikan manusia ke Tuhannya.

Perjalanan setetes air jiwa manusia dengan perjalanan seluruh semesta raya ini intinya adalah sama, yaitu tadi, kembali ke Tuhannya.  Jadi yuk kita simak ceritanya.

Kisah ringkasnya, Dienach mengalami koma selama satu tahun karena suatu wabah penyakit.  Selama satu tahun itu ternyata jiwanya terperangkap di dalam tubuh fisik seseorang di tahun 3906, di sana dia mempelajari sejarah umat manusia dari masa ke masa hingga tahun 3906 tersebut.  Ketika kembali di tahun 1921, dia pun menuliskan pengalamannya di buku harian dan dia simpan sendiri. Kemudian di akhir hidupnya, dia menyerahkan buku harian berbahasa Jerman itu pada seorang muridnya.  Semula muridnya mengira itu novel, ternyata merupakan pengalaman pribadi terdampar di abad 40.  Catatan harian itu kemudian diterbitkan dalam buku yang berjudul Chronicle from the Future.

Tulisan di bawah ini ringkasan kisah Dienach yang aku minta dari kakak yang baik hati, Kak ChatGPT ... hehe.

Siapa Paul Amadeus Dienach?

Menurut kisah yang beredar, Paul Amadeus Dienach adalah seorang guru bahasa Jerman berkebangsaan Austria–Swiss.

Ia dikenal sebagai pribadi yang:

  • pendiam
  • sangat intelektual
  • menyukai filsafat
  • tidak tertarik menjadi penulis terkenal

Ia menderita penyakit encephalitis lethargica (sering disebut sleeping sickness pada masa itu, berbeda dengan penyakit tidur akibat parasit di Afrika). Penyakit ini memang pernah mewabah pada awal abad ke-20 dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran yang berat.


Koma selama satu tahun

Pada tahun 1921, Dienach jatuh koma di sebuah rumah sakit di Jenewa, Swiss.

Ia tidak sadar selama kurang lebih satu tahun.

Ketika bangun pada tahun 1922, ia mengatakan sesuatu yang sangat aneh.

Menurut pengakuannya:

"Aku tidak pernah merasa tidak sadar."

Ia mengatakan bahwa selama tubuhnya koma, kesadarannya hidup di masa depan.


Terbangun di tahun 3906

Dienach mengaku bahwa kesadarannya masuk ke tubuh seorang pria bernama Andrew Northam, yang hidup pada tahun 3906 Masehi.

Menurut ceritanya, orang-orang di masa itu segera menyadari bahwa terjadi "pertukaran kesadaran". Mereka tidak mengira ia mengalami gangguan jiwa, melainkan memahami bahwa kesadaran dari masa lalu sedang berada dalam tubuh Andrew.

Karena itu mereka memperlakukannya sebagai tamu dari masa lalu dan berusaha menjelaskan sejarah umat manusia sejak abad ke-20 hingga zaman mereka.


Apa yang ia lihat?

Menurut Dienach, manusia abad ke-40 telah mencapai tingkat peradaban yang sangat berbeda.

1. Dunia mengalami masa-masa gelap

Ia menceritakan bahwa abad ke-21 hingga beberapa abad berikutnya diwarnai oleh:

  • perang besar
  • krisis ekonomi
  • ledakan populasi
  • kerusakan lingkungan
  • konflik politik

Ini merupakan bagian dari perjalanan panjang sebelum peradaban menjadi stabil.


2. Negara-negara akhirnya bersatu

Menurut kisahnya, setelah melalui berbagai konflik besar, manusia membentuk suatu pemerintahan dunia.

Bukan berarti semua budaya hilang.

Namun peperangan antarnegara sudah hampir tidak ada.

Manusia mulai menganggap dirinya sebagai satu keluarga besar.


3. Sistem ekonomi berubah

Dalam masyarakat abad ke-40:

  • tidak ada kesenjangan ekstrem
  • pekerjaan dipilih sesuai bakat
  • teknologi mengurangi pekerjaan berat
  • pendidikan menjadi pusat kehidupan

Tujuan hidup bukan lagi mengumpulkan kekayaan.


4. Evolusi manusia

Ini bagian yang paling terkenal.

Menurut Dienach, manusia mengalami evolusi bukan terutama pada tubuh, tetapi pada kesadaran.

Mereka menjadi:

  • lebih intuitif
  • lebih damai
  • lebih sedikit ego
  • lebih mampu bekerja sama
  • lebih menghargai kehidupan

5. Pendidikan menjadi pusat kehidupan

Anak-anak tidak dipaksa menghafal.

Mereka belajar:

  • memahami diri
  • filsafat
  • seni
  • sains
  • hubungan dengan alam

Guru dipandang sebagai profesi yang sangat dihormati.


6. Agama

Menurut catatannya, manusia masa depan tidak lagi saling bertengkar karena agama.

Mereka lebih menekankan pengalaman spiritual daripada perdebatan.

Bagian ini sering ditafsirkan berbeda-beda oleh para pembaca.


7. Teknologi

Ia menggambarkan teknologi yang sangat maju.

Misalnya:

  • perjalanan antariksa
  • koloni di Mars
  • energi bersih
  • pengobatan yang jauh lebih maju
  • sistem transportasi baru

Namun yang menarik, ia mengatakan teknologi tidak menjadi tujuan hidup.

Teknologi hanyalah alat.


8. Alam

Manusia belajar bahwa mereka tidak dapat hidup jika alam rusak.

Karena itu bumi kembali dihijaukan.

Kota dan hutan hidup berdampingan.


9. Kesadaran

Menurut Dienach, manusia masa depan percaya bahwa:

kesadaran lebih penting daripada materi.

Inilah yang membuat banyak orang menghubungkannya dengan konsep-konsep seperti Quantum Jump, meskipun Dienach sendiri tidak menggunakan istilah tersebut.


Kembali ke tahun 1922

Setelah sadar dari koma, ia merasa sangat bingung.

Ia tahu orang lain mungkin menganggapnya gila.

Karena itu ia tidak banyak bercerita.

Sebaliknya, ia mulai menulis semua yang masih ia ingat ke dalam buku harian.


Muridnya menemukan buku itu

Beberapa waktu kemudian, kesehatannya kembali memburuk.

Ia pindah ke Yunani untuk mengajar bahasa Jerman.

Di sana ia memiliki murid bernama Georgios Papachatzis, yang kelak menjadi seorang akademisi dan rektor universitas. Sebelum meninggal, Dienach menyerahkan buku hariannya kepada Papachatzis. Awalnya, sang murid mengira itu hanyalah novel. Baru setelah membaca lebih jauh, ia menyadari bahwa naskah itu ditulis sebagai catatan pengalaman pribadi. Kisah ini kemudian diterbitkan dengan judul yang dikenal sebagai Chronicles from the Future.


Mengapa Aku Melukis?

 Pernah aku berpikir, bila semuanya akan musnah, mengapa aku melukis? Kalau aku menulis, itu ada manfaatnya buat orang lain dalam menjalani hidup menuju Tuhannya. Kalau melukis? Untuk apa coba? Dibeli orang pun jarang-jarang. Untuk meninggalkan kenangan bagi anak cucu pun tak ada gunanya, semua juga akan hilang dan musnah. 

Sampai insight itu pun hadir di hatiku. Bila semuanya tak ada yang sia-sia. Karena Allah yang akan mengenangnya, Allah yang mencatatnya, Allah yang membuatnya abadi. Tak ada hal kecil atau besar yang luput dari perhatian dan sentuhan kasih sayangNya. 

Maka aku melukis, untuk melukiskan kekagumanku dan rasa cintaku padaNya.

Selasa, 14 Juli 2026

Langit yang Tak Mendengar Dirinya Sendiri

Ini adalah cerpen yang aku unggah di platform menulis Kwikku.  Cerita untuk mengenang Innuri kecil yang suka banget melihat langit senja, bahkan sampai sekarang pun masih menjadi seorang penyuka senja dan langit jingga.  Cerita ini mengandung refleksi diri.  Sebenarnya aku lebih suka kalian membukanya langsung di sini  , apalagi menyempatkan diri follow akun Innuri.  Seneng aja kalau banyak yang baca cerpenku.  Selamat menikmati ya.

***



Apa sih yang istimewa dari langit senja?  Si gadis kedua suka memandanginya setiap hari dan menjengkelkan seisi rumah.  Pasalnya dia memandang senja dari lantai dua yang sudah mau ambruk.  Bangunan kayu di atas studio lukis almarhum sang ayah sudah terlalu tua dan pikun, bisa lupa cara menopang tubuh ringkih seorang gadis yang disayang langit.

Namun senja selalu menawarkan pesona yang membuat si gadis kedua mengabaikan seluruh marabahaya.  Senja di atas gunung, warna jingganya menembus pepohonan yang menggoyangkan daun-daun, seperti tarian penari di altar para dewa.

'Aku hanya ingin bertemu senja, adakah yang salah?' batin si gadis.

"Mengapa di loteng? Di sana bahaya, bisa ambruk, Ibu belum cukup uang untuk memperbaikinya.  Kakakmu masuk universitas tahun ini," kata si ibu menembus isi hati si gadis.

"Dibongkar saja, Bu," kata si kakak, gadis pertama, dengan santainya, seolah meruntuhkan sebuah bangunan semudah meruntuhkan memori yang tersimpan kuat di hati orang-orang terkasih.

"Tidak, itu kenangan Ibu bersama Ayah membangun rumah tangga dari nol, dari rumah sederhana terbuat dari kayu." Itu bukan suara Ibu, itu suara si kakak yang sudah hafal jawaban Ibu, bahkan hafal lebih banyak, nyaris seluruh kisah yang pernah dituturkan.

"Kamu dan adikmu besar di rumah itu, jangan abaikan itu," kata Ibu ketus.  Si kakak hanya mengangkat bahu dengan bibir melengkung ke bawah membentuk payung.  Wajah cantiknya terlihat menjengkelkan.

Sementara si gadis kedua berlalu diam-diam,  menuju bangunan tua di sebelah rumah, membuka pintunya yang reyot.  Mengabaikan debu yang menumpuk di kursi kayu tua, easel tripod almarhum ayahnya diam membeku, beberapa lukisan setengah jadi terpajang di dinding, rumah laba-laba menghias langit-langit, dingin dan bisu.

Langkah kecilnya menaiki anak tangga demi anak tangga, perlahan seolah enggan mengusik suara jangkrik dan tonggeret yang mulai ramai bersahut-sahutan.  Dia berjalan menuju depan jendela, membukanya dengan hati-hati, namun suara daun jendela bergesek menciptakan deritan yang mengagetkannya sendiri.

Ditatapnya langit yang masih terang.  Sebentar lagi warnanya meredup, batin si gadis.  Tangannya segera mengambil sebuah buku harian di meja tepat di sampingnya berdiri, membuka buku itu di atas jendela yang terbuka.  Terburu menuliskan sesuatu di sana, seolah takut hari berangsur gelap dan matanya tak lagi bisa melihat huruf-huruf.  Cahaya hingga mempercantik wajahnya, dihias rambut nan hitam melambai terkena hembusan angin sore. 

Aku suka sekali warnamu, kata si gadis pada langit, kata-kata yang hanya terucap di hati, namun dia tahu langit mendengarnya.  Seperti yang dilakukan langit pada setiap sore, selalu sabar mendengar cerita-ceritanya.  Dia berkisah tentang apa saja, tentang pagi yang sibuk, tentang teman-temannya di sekolah, tentang kakaknya yang selalu memusuhi dan mencari-cari kesalahannya, tentang Ibu yang selalu sibuk pagi, siang dan malam, tentang cowok-cowok yang mengerubunginya seperti semut mengerubungi donat.  Langit tak pernah bosan mendengar ceritanya.  

Tak ada yang lebih istimewa dibandingkan langit, teristimewa langit senja.  Bahkan dia berkhayal langit senja akan mengiriminya seorang kekasih yang benar-benar tulus menyayanginya, bukan cowok yang mendekat hanya untuk menyentuhnya atau menatapnya lama-lama sambil mengeluarkan rayuan gombal. Kemudian gadis itu berbohong bila dia sudah tidak perawan dan mereka pun pergi, ide ganjil nan cerdas yang muncul begitu saja.

Langit selalu menampung cerita, menyaksikan berjuta kesedihan dan kebahagian.  Walau begitu, si gadis selalu merasa istimewa di hadapan langit, karena dia satu-satunya orang yang suka mengobrol dengan langit senja, tak ada satu pun teman-temannya suka melakukan seperti yang selama ini dilakukannya sejak dia meninggalkan seragam putih merah, sampai sekarang menjelang putih abu-abu.  Tidak temannya, terlebih lagi kakaknya yang selalu membenci kehadirannya, dia pasti membenci apa pun yang disukainya.

Si gadis terus bercerita sambil menikmati perubahan warna dari biru terang, berangsur kekuningan, lalu jingga, kemerahan, meredup dan menggelap.  Sang Ibu meneriakinya dari bawah, menyuruhnya turun untuk salat maghrib dan makan malam.  Maka gadis itu pun menutup jendela, mengembalikan buku harian ke atas meja, lalu turun perlahan mematuhi perintah sang Ibu.

Gadis itu harus turun dengan sangat hati-hati, ada anak tangga yang sudah rapuh kayunya, ada juga paku besar berkarat yang sudah menonjol, tapi bagi gadis kedua, semakin berbahaya tangga untuk naik turun, maka semakin aman rahasia yang tersimpan di atas loteng.

Hari ke hari berjalan seperti langkah pelari, gadis pertama sudah berkuliah di kota, meninggalkan adiknya dan sang Ibu di kaki gunung itu.  Si gadis kedua sekarang berseragam putih abu-abu, namun kebiasaannya menatap langit senja dari loteng kayu yang rapuh tetap tak tergantikan dengan apa pun. 

"Mengapa selalu ke loteng?" Entah sudah pertanyaan ke berapa dilontarkan sang Ibu, sedangkan gadis itu hanya menjawab dengan senyuman.

Andai diterjemahkan, senyuman itu mungkin bilang, "Dari loteng aku bisa melihat gunung dan pepohonan, Ibu, dan cahaya jingga yang menerobos di sela dedaunan, itu indah luar biasa.  Lebih dari itu, di sana aku menemukan langit yang tak mendengar dirinya sendiri,  Dia mendengarkanku seolah aku adalah hal terpenting di dunia ini."

Walau tak pernah mendapat jawaban yang pasti, sang Ibu tak lagi menghalangi si gadis untuk naik ke loteng di sebelah rumah setiap sore.  Itu adalah rumah kayu yang dulu pernah menjadi awal perjuangannya merawat dan membesarkan dua putrinya yang cantik, rumah kayu yang berubah menjadi studio lukis suaminya setelah rumah tembok bisa dibangun di sampingnya.  

Begitu cepatnya waktu berlalu, sekarang si ibu sendirian berjuang untuk dua anak gadisnya.  Mengelola toko di pasar desa dibantu dua karyawan.  Bahkan untuk mencukupi kebutuhan kuliah si kakak, tokonya musti buka sampai malam.  Bila dulu setiap senja sudah berada di rumah, walau di rumah pun masih bekerja menulis buku kas dan merencanakan usaha sampai jam sembilan malam. Sekarang jam sembilan masih menutup toko, dilanjut mengerjakan pembukuan di rumah sampai selesai.  Rutinitas yang melelahkan demi dua buah hatinya.

Si gadis kedua merasa tak ada lagi yang menghalanginya naik turun ke loteng. Di sana dia menulis banyak puisi, banyak cerita, dan banyak lukisan.  Dia bersihkan sendiri studio ayahnya, menemukan banyak kanvas kosong, dikumpulkan dan dibersihkannya cat yang sudah berdebu untuk dia gunakan kembali.  Si gadis  menemukan dunianya, yang tak seorang pun berani mengusiknya,  dunia rahasia yang hanya dia dan langit senja yang tahu, 

Hingga pada suatu maghrib terjadilah itu.

Sore, sang Ibu merasa tidak enak hati, dia memutuskan pulang untuk salat maghrib di rumah saja bersama si gadis.  Batin seorang Ibu memang selalu begitu, seperti ada kabel tak kasat mata yang menghubungkannya dengan buah hati.  

Kabel itu menyuruhnya melangkah ke rumah tua dan menemukan gadis keduanya, putri yang disayanginya,  telentang di lantai dengan kepala berdarah, masih berseragam putih abu-abu dan darah itu juga membasahi sebagian baju putihnya, pas di bagian dada.  Spontan dia menjerit histeris sampai seluruh pegunungan mendengarnya, setelah itu dia terjatuh tak sadarkah diri. Para tetangga berdatangan, dan dalam waktu singkat sang Ibu mendapati dirinya berada di ruang IGD sebuah Rumah Sakit kecamatan.

Gadis itu, entah apa yang dilakukan paramedis di ruangan berkelambu putih tepat di sebelah sang Ibu berbaring.  Sementara sang Ibu mulai siuman, pandangan matanya kosong, mungkin merangkai kejadian yang baru dialaminya.  Spontan seorang perawat datang memegang pergelangan tangannya sambil tersenyum.

"Putri Ibu tidak apa-apa kok, hanya kepalanya perlu dijahit," kata perawat itu.  Si ibu melongo, antara percaya dan tidak.  Kesadarannya mengulang memori warna merah darah yang membasahi seragam putih putrinya.  Apakah darah dari kepala yang membasahi dada itu?  Bagaimana mungkin?  Apa yang sebenarnya terjadi?  Setidaknya dia merasa lebih tenang dengan berita yang disampaikan Suster itu.

Sang Ibu mencoba duduk, tetapi Suster menahannya untuk melakukan pengukuran tekanan darah.  

"Boleh saya melihat anak saya. Suster?" tanyanya.

"Belum, Bu.  Dokter masih melakukan tindakan.  Bila ibu sudah tidak pusing, boleh menunggu di ruang tunggu."

Seorang perawat lelaki menyodorkan sebuah buku padanya.  Sang Ibu mengusap air matanya, menatap mata si lelaki, seolah bertanya buku apakah itu?

"Ini buku yang dipeluk Nona," kata si lelaki.  Sang Ibu menerima buku itu, buku yang sebagian masih lengket oleh warna merah.  Bau yang tercium dari buku itu telah lama tidak dirasakan oleh indranya, bau cat akrilik!  Ternyata warna merah darah yang membasahi baju putrinya adalah warna cat tumpah!  Tiba-tiba perasaan lega mengalir di dada sang Ibu, bibirnya tersenyum lalu pamit pada perawat untuk menunggu di ruang tunggu saja.  Di sana sudah berkumpul para tetangga yang menunggu kabar berita dari ruang IGD.

Sang Ibu sangat berterimakasih dan mempersilakan para tetangga untuk pulang saja karena dirinya sudah sehat dan putrinya selamat, hanya perlu dijahit di bagian lukanya. 

Ditemani buku catatan harian si gadis kedua, bergetar tangannya ketika membuka lembar demi lembar curahan hati si gadis pada langit senja.  Catatan itu seolah menelannya hidup-hidup, membuatnya tak berhenti meneteskan air mata, menyesali segala yang terjadi walau itu sia-sia.  Menangisi waktu yang tak bisa diputar ulang.

Dibukanya buku harian itu secara acak dan menemukan tulisan ini.

"Langit senja, hanya kamu temanku satu-satunya.  Entah mengapa aku tidak punya teman.  Teman-teman mendekatiku hanya karena aku pintar dan murah hati memberi contekan saat ulangan.  Bila mereka tidak membutuhkan aku, mereka pun menjauh.  Kakakku membenciku karena katanya kehadiranku membuatnya gagal menjadi anak satu-satunya yang memperoleh seluruh perhatian. Ibuku terlalu sibuk bekerja menyiapkan masa depan kami, sedangkan Ayah, mengapa cepat sekali matinya? Aku masih membutuhkan Ayah."

Air mata itu menetes lagi, dibiarkannya mengalir sambil membuk lembar berikutnya.

"Langit senja, mengapa orang-orang sibuk berbicara dan ingin didengarkan? Guruku, Ibuku, kakakku, teman-temanku, semua minta didengarkan olehku, aku harus mematuhi dan mengikuti aturan main mereka.  Lantas, siapa yang mendengarkanku aku?  Hanya kamu, ya, kamu.  Kamu selalu mendengar segala keluhanku, kamu tak pernah mendengar dirimu sendiri, kamu selalu sabar dan setia.  Untung aku punya kamu, untung juga aku punya kanvas yang patuh dan mengikuti aturan mainku sendiri.  Pantesan Ayah suka berlama-lama di studio ini, kanvas dan cat adalah sahabat sejati."

Terasa pedih hati si ibu menyadari gadis kesayangannya merasa sendirian sampai harus bersahabat dan berbicara pada benda-benda mati.  Dadanya terasa sesak dan berdarah.  Selama ini dia telah salah membaca kebutuhan kedua gadisnya.  Bukan materi, bukan.  

Buku harian di tangannya seperti memahami isi hati si ibu, tak sengaja jatuh, di bagian yang terbuka langsung dibacanya.

"Langit senja, apakah kamu melihat kebodohan orang-orang?  Aku melihat kebodohan ibuku, mengejar uang untuk masa depan aku dan kakak, tapi mengabaikan hari ini.  Seolah-olah masa depan lebih penting daripada hari ini.  Kalau aku jadi gila karena sedih dan kesepian, adakah masa depan untukku?"  

Rasanya sang ibu ingin menerobos masuk ruang berkelambu putih itu, untuk memeluk si gadis kedua, memohon maaf telah menjadi ibu yang tak bisa memahami dan berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik.


***


Kamis, 09 Juli 2026

Semesta Paralel (12) Quantum Jump

 Beberapa tahun terakhir ini populer istilah 'quantum jumping' atau sebuah lompatan quantum untuk mengakses versi terbaik diri kita lalu menariknya ke dalam realitas saat ini.  Tentu yang melakukan itu adalah orang-orang yang percaya dengan adanya semesta paralel, dimana di semesta yang lain ada versi diri kita yang berbeda dengan diri kita salat ini.

Nah, persoalannya di sini adalah apa yang ingin dicapai oleh orang-orang yang melakukan quantum jump?  Apa tujuannya?  Untuk memperbaiki realitas saat inikah?  Ya, kebanyakan seperti itulah tujuannya.  Dengan kata lain, tujuannya masih makhluk.

Belum banyak yang tahu bila,  setiap kehidupan paralel di setiap semesta, manusia selalu disadarkan untuk kembali kepada Tuhannya. Ketemunya aku dengan kesimpulan ini gara-gara dimasukkan lagi sama Allah ke kehidupan paralelku di semesta yang lain.  Dari situ aku paham, ternyata di setiap kehidupan paralel, Allah menghadirkan bermacam peristiwa yang gunanya untuk memahami dan mendekatiNya untuk menyatukan setetes air itu kembali ke lautan luas alias menyatu dengan Tuhan, alias wushul, alias moksha, alias manunggaling kawula-Gusti.

 Jadi tidaklah penting menginginkan kehidupan di semesta yang lain, bila di sana hanyalah kembali ke dalam ayunan suka-duka.  Inginkan penciptamu, maka semuanya selesai. 

Banyak manusia melakukan quantum jump untuk menghadirkan kehidupan suksesnya di semesta yang lain ke dunia saat ini, padahal itu percuma saja.  Jiwanya masih berputar-putar di pusaran ego, mau sukses atau tidak sukses secara materi, hidupnya masih menderita secara spiritual.  Jadi yang lebih penting adalah kembali kepada Allah, melepas semua cinta terhadap makhluk yang meliputi manusia atau materi / harta benda, jabatan, kekuasaan, dll.

Ada seorang sahabat Innuri yang mengikuti pelatihan quantum jumping seharga beberapa juta dan sukses mempraktekkannya, tapi kenyataannya jiwanya masih gelisah, hidupnya masih terombang-ambing dalam ayunan suka dan derita.

Akan tetapi, Sahabatku sayang.  Semua yang aku, kamu dan mereka alami itu, semuanya sudah tertulis kok.  Jadi yang pernah melakukan quantum jump atau ikut pelatihannya, ya memang itulah proses yang musti dia jalani di dunia ini. Innuri tulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri bila Allah pernah ngasih tahu aku bila di semesta mana pun, misi kehidupan setetes air itu tetaplah untuk kembali ke lautan.

Jadi .... Bagaimana pendapatmu?


Rabu, 08 Juli 2026

Semesta Paralel ( 11 ) Kisah Mati 30 Menit Tsuruhiko Kuichi

 Tsuruhiko Kuichi adalah seorang astronom Jepang dan juga seorang dosen di sebuah Universitas di Jepang.  Kisahnya amat menginspirasi, cerita di bawah ini aku sarikan dari internet.  Bila kalian ingin penjelasan yang lebih dalam, lebih panjang dan lebih akurat dari yang aku jelaskan di sini, silakan googling saja ya.

Pada saat dia berumur 22 tahun, tahun 1977, di tempat kerjanya dia mengalami sakit yang luar biasa di perutnya, lalu dibawa ke rumah sakit oleh teman-temannya.  Dia menderita penyakit yang saat itu amat langka, berupa penyumbatan pembuluh darah di usus yang belum ditemukan obatnya.  Tzuruhiko dinyatakan meninggal dunia secara klinis, tetapi setelah 30 menit kemudian dia hidup kembali, kondisi perutnya berangsur membaik.  Dia bisa bercerita tentang pengalamannya selama 30 menit meninggal dunia, bahkan menuliskannya dalam sebuah buku.

Ini dia pengalamannya:

- Awalnya dia mengalami kegelapan total, lalu dia melihat cahaya, cahaya itu membentuk terowongan, dia masuk ke dalamnya dan berjalan mengikuti arah cahaya, sampai akhirnya dia sampai di sebuah tempat yang indah sekali, yang tidak ada di dunia ini.  Dia merasa hidup dan bisa merasakan setiap materi yang dia temui. 

- Dia melihat sungai dan menemukan perahu, lalu dia naik ke perahu itu dan mendayungnya.  Dia mencapai seberang dan bertemu dengan 5 anggota keluarganya yang sudah meninggal.  Lalu kilatan cahaya memindahkan Tsuruhiko kembali ke rumah sakit tempat dia dirawat dalam sekejab saja.

- Dia melihat tubuhnya sendiri yang mati dengan ayahnya yang menangis menungguinya.  Dia pun memikirkan ibunya, maka dalam sekejab dia sudah berada di samping ibunya di lorong rumah sakit sedang menelepon saudaranya mengabarkan kematian Tsuruhiko.  Ketika dia memikirkan dua saudara perempuannya, dalam sekejab pula Tsuruhiko berada di dekat kedua saudaranya dan mendengar percakapan kesedihan keduanya.  Jadi ketika dia memikirkan sesuatu, maka dalam sekejab dia berada di situ.

- Kemudian keajaiban terjadi, Tsuruhiko hidup kembali, dan dia menceritakan semua yang dialaminya selama dinyatakan meninggal dunia, dan dia bisa menceritakan secara akurat semua percakapan yang dilakukan oleh ibu dan saudara-saudaranya.  Hal ini mengagetkan semua orang termasuk dokternya.

- Selama 30 menit dinyatakan meninggal dunia itu Tsuruhiko juga mengalami melihat masa kecil dan masa dewasanya.  Waktu Tsuruhiko masih kecil dia pernah diselamatkan oleh suara tak dikenal sewaktu bermain-main, suara tanpa rupa, sampai dia penasaran suara siapakah itu?  Ternyata dia sendirilah yang meneriakkan kata itu.  Tsuruhiko juga melihat dirinya mengajar di depan kelas sebagai seorang dosen, terbukti beberapa tahun kemudian dia menjadi dosen.

Pengalaman itu membuktikan bagi Tsuruhiko sendiri, juga bagiku dan kalian semua, bila jiwa/ruh itu tidak terikat oleh ruang,  materi/fisik/badan dan juga tidak terikat oleh waktu.

Lanjut tentang Tsuruhiko ya.  Setelah kejadian mati suri di usianya yang ke 22 tahun, Tsuruhiko kemudian menjalani kehidupannya seperti orang normal lainnya selama 30 tahun.  Akhirnya dia menjadi dosen seperti yang dilihatnya sewaktu mati suri itu.  Sampai kemudian dia kembali mengalami sakit parah dan harus dioperasi.

Dalam kondisi kritis, Tsuruhiko kembali mengalami hal yang mirip kejadian sewaktu mati suri puluhan tahun yang lalu, sebuah perjalanan antar waktu.  Bahkan kali ini lebih nyata karena dia meninggalkan jejak pahatan namanya (yang diukir oleh tukang yang sedang bekerja atas permintaannya) di sebuah kuil yang sedang dibangun, kuil itu sekarang sudah berusia 400 tahun.  Setelah kesehatannya pulih, dia mendapati bila 'jejak' yang ditinggalkan ya benar-benar ada dan nyata.

Selain itu, Tsuruhiko bahkan berkunjung ke masa terjadinya banjir besar (banjir di jaman Nabi Nuh) yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan bumi dan dia tahu penyebabnya.  Hingga satu pertanyaan tentang kejadian alam semesta, mendapatkan jawaban berupa kesadaran pribadinya lebur dalam kesadaran semesta, seperti setetes air yang kembali ke lautan yang tak terbatas.

Tsuruhiko meninggal dunia beneran di tahun 2024.

Amazing!

Apa kesimpulanmu dari cerita di atas?

Kalau ini komentar Innuri:

- waktu itu tidak linier, waktu itu simultan.

- jiwa tidak tergantung pada materi/fisik, ruang dan waktu.

- perjalanan melintasi waktu itu bisa terjadi dengan kesadaran, dengan kehendak Allah, Tuhan semesta alam tentunya.

- kesadaran personal kita tidak hilang setelah kematian

- kesadaran personal yang menyatu dengan kesadaran semesta itu dalam tasawuf disebut wushul, dalam Hindu disebut moksha, dalam budhis disebut Budha, di kepercayaan Jawa disebut manunggaling kawula-Gusti.

Apa lagi ya? 

- semesta paralel itu memang ada

- kematian bukanlah akhir , hanya perpindahan kesadaran

- 'kun fayakun' itu terbukti nyata di pengalaman Tsuruhiko sewaktu kesadarannya menyatu dengan kesadaran semesta.

Apa lagi dong?  Hmmm ... kalau terpikir, aku tambahkan deh.  Segini dulu ya.


Selasa, 07 Juli 2026

Pada Suatu Titik

Aku pernah menulis status di Fb: 

Selama ini aku tak pernah mempertanyakan mengapa aku melukis?
 Apakah untuk mengisi masa tua? Mengisi waktu luang? Sekedar hobby atau untuk menyalurkan hasrat seni, ataukah untuk menjawab tantangan mbak Wina pameran lukisan tunggal? Hmmm... 

Baru terjawab hari ini, ketika kulukis pohon dengan mindsetku yang tidak bisa melukis pemandangan. 

Aku mengamati cabang dan ranting pohon itu, warnanya, lekukannya, luikannya ketika diterpa angin, tarian daun-daunnya... Oh terlalu indah! 

Baru kutahu mengapa aku melukis. Adalah untuk mengagumi keindahanNya! Melukis membuatku memahami betapa Dia adalah Sang Maha Detail. Semakin mendekatiNya, rasanya semakin aku tak mengenalNya.
#artbyinnuri

Rupanya itulah yang terjadi di jiwa yang melakukan perjalanan spiritual.  Pada suatu titik, pandangan batin seperti diperbarui.  Atau pandangan mata seperti baru saja diaktifkan dan membuat seluruh jiwa takjub lalu menemukan bila tak ada yang lebih berarti dibandingkan dengan kedekatan hati dengan Allah.

Bila hal yang paling berarti adalah dekatnya hati dengan Allah, maka hal-hal yang tidak membuat dekat dengan Allah pun jadi enteng saja untuk ditinggalkan.  Walau terkadang untuk membuat diri ini rela melepas hal-hal tak berguna pun dibantu Allah dengan caraNya sendiri.

Barangkali itulah sebabnya aku tiba-tiba memutuskan untuk berhenti menggunakan Fb, entah ini sementara atau seterusnya, padahal di Fb tulisan-tulisanku mulai banyak penggemarnya di beberapa grup spiritual.  Demikian juga komunikasiku dengan pembaca Innuri blog kebanyakan lewat Fb messenger.  

Entahlah.


Senin, 06 Juli 2026

Bila Sedang Jauh Dari Allah

" Mbak Innuri, bila hati sedang merasa jauh dari Allah begini, gimana caranya agar bisa dekat lagi? Salat pun tidak bisa khusyu, malah jadi melamun kemana-mana. Zikir pun hanya terucap di bibir saja. "

Itu sebuah kondisi batin yang umum dialami orang banyak, tapi mereka tidak merasa terganggu karena hal itu.  Hanya orang-orang yang pernah mengalami dekatnya hati dengan Allah yang merindukan saat-saat dekat dan ingin kembali merasakannya. Jadi bersyukurlah karena telah menyadari posisi hati yang sedang jauh dari Allah.

Jauhnya hati dari Allah itu bisa banyak penyebabnya, diantaranya :

- karena dosa dan kesalahan yang menutupi, obatnya dengan memohon ampun pada Allah dan menyadari yang sudah terjadi merupakan ketentuan Allah, yang penting tidak mengulangi kesalahan yang sama.

- karena perhatian yang terseret ke duniawi / materi.  Solusinya dengan menyendiri berdua dengan Allah saja atau meditasi selama beberapa waktu sampai hati kembalilah terkoneksi dengan Allah.  Sadari bila dunia ini hanya hiasan / atribut yang suatu saat pasti terlepas. 

Perlu juga disadari bila Allahlah yang membolak-balik hati manusia, jadi bermohonlah kepada Allah agar selalu menetapkan hatimu kepadaNya saja.

Selain itu jalin hubungan yang akrab dengan Allah setiap hair, selalu 'ngobrol' dan bicara pada Allah dalam urusan kecil sekali pun.

Juga ingatlah, Allah itu lebih dekat dari urat lehermu, segala bisikan hati yang terhalus sekalipun, Dia mendengarnya.  Dia pasti tahu kerinduanmu dan Dia pasti menjawabnya, dan menuntunmu untuk kembalilah dekat denganNya.

Semoga jawaban ini membantu ya.  Salam Manis.

Senin, 29 Juni 2026

Memperbaiki Hidup Dengan Mengubah Pola (2)

 Kejadiannya sehabis ngrasani teman sama teman-teman, lalu tiba-tiba saja aku melihat (Allah yang memperlihatkannya padaku) bila ada pola yang nempel di setiap orang, yang membuat orang-orang itu mengalami segala kejadian di dalam hidupnya.  Namun pola itu bisa diubah dengan kesadaran orang itu sendiri dan dengan kehendak Allah tentunya.  Lalu kulihat juga ada 'manusia tanpa pola'.

Di tulisan kemarin aku bercerita tentang orang yang polanya 'nolak rejeki' yang membuat orang tersebut mengalami kesulitan demi kesulitan di dalam hidupnya.  Padahal orangnya sendiri sangat menginginkan kemudahan. Siapa sih yang mau kesulitan 'kan?  Tapi dalam hidup ini apa yang kita mau tidak akan datang bila 'setelan' atau pola kita tidak selaras dengan itu

Bukan hanya orang yang tidak pandai bersyukur yang polanya 'menolak rejeki', ada orang yang merasa sudah bersyukur, tapi kenyataannya tidak.  Misalnya orang yang hobi bertengkar dengan pasangannya, itu pun pola 'menolak rejeki'.  Pasangan pun rejeki dari Allah, bertengkar terkadang karena kurang menerima pasangan apa adanya, yang artinya ya tidak bersyukur.  Lalu kariernya jadi tersendat-sendat deh.

Bersyukur itu adalah menerima segala hal di dalam hidup tanpa komplain, menerima seutuhnya, menerima bulat-bulat.

Ada juga orang yang polanya 'menolak cinta' , dikasih Allah pasangan yang baik, tapi hatinya selalu terikat pada orang lain, lalu akibatnya dipisahkan Allah dengan pasangannya itu.  Harus disadari bila segala bentuk cinta pada hakekatnya adalah cinta Allah kepadanya, hargai Allah, maka hidup akan berkelimpahan cinta.

Ada orang yang polanya 'tidak mau berubah', dia melakukan kebiasaan yang sama dari waktu ke waktu, hidupnya seperti jalan di tempat.  Menghadapi orang seperti ini, kamu tidak bisa memotivasinya untuk berubah' menjadi lebih baik, didoakan saja.

Nah, kadang saat ingin mengubah kehidupan menjadi lebih baik, ada jebakan yang cukup halus dan sulit dilalui.  Jebakannya ada di 'perasaan yang paling kuat'.  Misal ingin kariernya berkembang, lalu mengubah pola pikir dan kebiasaannya menjadi lebih positif, tapi perasaan yang paling kuat adalah nelangsa karena teman-teman sudah melaju, aku kok tetap disini, maka hidup akan mengikuti perasaan yang paling kuat ini.

Jebakan perasaan yang paling kuat ini powerful banget.  Jadi musti gimana dong?

Mengubah pola itu juga berarti mengubah perasaan yang paling kuat melalui perubahan kesadaran.  Kesadaran bahwa kita ini makhluk spiritual, bukan makhluk materi,  Sadari bila segala kejadian yang menimpa hidupmu adalah perjalananmu untuk lebih mengenal dan lebih dekat dengan Allah.  Maknai setiap tahap kehidupanmu dari 'isi'nya , bukan bungkusnya, maksudku ada pesan Tuhan yang tersembunyi dibalik peristiwa, tangkap pesanNya.

Biarkan Dia menata hidupmu, terima segalanya sebagai tanda cintaNya.  Syukuri setiap hal dengan meniadakan komplain hingga nol.

Nah, pada suatu titik, dengan kehendak dan kasih sayang Allah, kamu bisa menjadi 'manusia tanpa pola'.  Bagaimana itu bisa terjadi?  Ketika Tuhan sudah 'masuk' sepenuhnya di dalam hidupmu, lalu kamu menjadi tidak terikat lagi pada sebab-akibat.  Ketika orang lain musti berusaha keras meraih sesuatu, itulah sebab-akibat, yang kamu sudah tak perlu lagi melaluinya.  Hidupmu sudah di luar aturan main di dunia manusia, sementara kamu masih berwujud manusia.

Bagaimana?  Tertarik?  Ehm ... bila kamu masih tertarik pada kondisi diluar sebab-akibat, maka kamu tak akan kunjung sampai ke sana.  Tertariklah pada Allah, terpesonalah pada Allah, serahkanlah pada Dia bagaimana saja hidupmu ini.

(selesai)


Jumat, 26 Juni 2026

Memperbaiki Hidup Dengan Mengubah Pola ( 1 )

 Bila ingin hidupmu berubah menjadi lebih baik, ubah hambatan yang menahanmu di posisimu saat ini.  Karena ternyata kehidupan seseorang itu ada "pola"nya.  Bila mau keluar dari pusaran masalah kehidupan yang seringkali melilitmu, maka polanya juga harus diubah. 

Misal kamu selalu terperangkap dalam hubungan percintaan yang toxic, atau masalah keluarga yang itu lagi dan itu lagi, atau masalah finansial yang makin lama kok makin sulit. Apapun masalahnya, itu cuma mengikuti pola di dalamnya kamu. Jadi ya rombak polanya agar kehidupan membaik. 

Setiap orang punya pola masing-masing, termasuk kamu dan aku. 

Aku mau kasih contoh yang mudah dipahami, tentang masalah finansial. 

Ada seorang teman sekolah yang sekarang kondisinya sedang jatuh dalam kesulitan. Kusebut saja dia dengan S. Dan aku tahu apa yang membuatnya berada di posisi itu, yaitu dia mempertahankan pola yang selama ini dia jalani. Apa pola yang dia pegang? 

Yaitu pola "menolak keberlimpahan" atau "menolak rejeki". 

Ceritanya, pas awal-awal ketemu dulu, aku bagi-bagi daster buat teman-temanku cewek, termasuk S.  Lalu tak berapa lama dia komentar di grup WA, katanya dia nggak suka pakai daster, dia sukanya pakai piyama.  Waah, aku jadi merasa gimana gitu deh. 

Lalu suatu saat aku mau ngurangi baju di lemari, aku fotoin satu-satu dan aku tawarkan ke grup sekolah itu, barangkali ada yang mau. Banyak yang mau, sampai semua habis. S mau salah satu baju yang aku tawarkan, lalu aku kasih. Tak lama dia komentar di grup bila bajunya kegedean.

Sudah jelas 'kan itu adalah pola menolak rejeki. Dengan reaksinya yang seperti itu aku jadi enggan ngasih baju dia lagi walau orangnya minta. 

Oh ada satu lagi. Pernah aku mengundang teman-teman di Ngantang ke kebunku di Malang Selatan plus rekreasi ke pantai Gua Cina rencananya. Tapi rencana berubah karena ada pantai yang lagi populer yang namanya pantai Teluk Penyu.  Nah, setelah itu dia sering 'ngundat-undat'... duh apa ya bahasa Indonesianya, oh, mengungkit-ungkit, kenapa kok gak jadi ke Gua Cina, kenapa ke Teluk Penyu. Padahal menurutku Teluk Penyu pantainya lebih indah dinikmati.  Padahal ke Teluk Penyu juga aku yang bayarin tiketnya. Jadi S ini orangnya cukup njengkelin dan kurang berterimakasih. Yang auto bikin orang males berbuat baik ke dia. 

Seperti itulah pola 'menolak rejeki' yang kalau tidak diubah dengan kesadarannya sendiri, ya hidupnya jadi muter-muter dalam permasalahan yang sama. 

S musti menjadi orang yang mudah berterimakasih pada orang yang berniat baik kepadanya. Renungkan, manusia saja malas berbuat baik pada orang seperti ini, bagaimana dengan Tuhan ya? 

Beda masalah tentu beda polanya. Mau contoh lain? Atau mau diterawang Innuri tentang masalah kamu? 

Sampaikan di komentar ya. 

( bersambung ) 


Jumat, 19 Juni 2026

Melihat Wajah Allah (2)

Masih di pengalaman khalwat tahun 2024, saat aku melihat wajah Allah dari pengertian yang berbeda. 

Juga masih tentang kebiasaanku setiap hari meditasi dan zikir di lantai dua yang masih berantakan. 

Dari lantai dua itu aku bisa melihat pemandangan indah, gunung, danau, pepohonan, juga langit yang selalu berubah setiap detiknya. 

Namanya gunung Selokurung, gunung yang memberiku pengajaran ini.   Pernah sewaktu aku mengagumi keindahannya, gunung itu mengingatkan aku pada suatu ketika di masa remajaku, seseorang pernah menuliskan namanya dan namaku di sana. Ya, aku dan dia pacaran. Sejenak aku terbawa dalam kenangan dan berterimakasih kepada Allah untuk masa remaja yang indah.  Walau hubungan itu berakhir, aku mensyukurinya karena Allah jua yang menuliskan takdir itu. 

Tiba-tiba saja ada sebuah pengertian yang halus sekali, sebuah kesimpulan hati bila "Allah hanya berubah wujud".  Penjelasannya, bila kekasih masa remajaku adalah A, kemudian kekasih masa dewasaku adalah B, itu bukan berarti kekasihku berbeda, itu hanyalah Allah yang menyamar menjadi A, kemudian menjadi B. Allah hanya berubah wujud, kekasih sejatiku ya Allah itu.  Atau dengan kata lain, Allah sedang memahamkan aku, bila Dia ingin hadir sebagai kekasih.  Bukan Dia yang ditakuti karena punya neraka, Dia yang Maha Menghukum, yang untuk meraih surgaNya musti ngumpulin pahala bertumpuk-tumpuk.

Kekasih itu berarti yang terdekat dan terintim.  Saking dekatnya, kata orang Jawa 'sigarane nyowo' atau belahan jiwa, bagian tak terpisahkan dari diri kita ini. Sedangkan Allah malah nyawa kita sendiri, sudah melebihi kekasih, Dia adalah diri kita sendiri. 

Kekasih itu selalu tahu apa pun yang kita inginkan tanpa mengatakannya.  Apa pun yang tersirat di hati kita, yang terhalus sekalipun, bahkan bisikan yang diri kita sendiri tak mendengar, Allah mendengar. 

Maka maukah kita menerimaNya sebagai Sang Maha Kekasih? 

Bahkan Dia amat paham kebutuhan hambaNya, type kekasih seperti apa, maka seperti itulah dia menjelma. Ketika aku membutuhkan figur A, Dia pun mewujud, lalu ketika kebutuhanku berbeda, Allah 'ganti wujud' menjadi B. 

Apakah masih susah dimengerti? 

Karena diri sudah mengalami bila yang terlihat adalah Allah semua, orang datang dan pergi juga Allah. Jadi tidak ada yang benar-benar pergi. Aku tidak pernah kehilangan kekasih, hanya berubah tampilan, hakekatnya Allah.  Dialah Sang Maha Kekasih. 

Ketika kamu sudah memposisikan Allah sebagai kekasih, kamu otomatis merasa tak perlu berdoa minta ini itu, termasuk berdoa minta perlindungan, karena kamu yakin Sang Maha Kekasih pasti tahu semua harapanmu tanpa kamu mengatakannya. Sang Maha Kekasih pasti memenuhi semua kebutuhanmu tanpa kamu memintanya. Sang Maha Kekasih pasti membahagiakanmu dengan segala cara. Keyakinanmu utuh dan bulat, tak tergoyahkan. 

Inilah makna terdalam dari ucapan basmallah yang mengawali Surat di dalam Al Quran, atas nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itu adalah sebuah bisikan cinta dari penciptamu yang melamarmu menjadi kekasihNya. Sambutlah, jadikan Dia kekasih hatimu satu-satunya. Jangan sampai Dia merasa cintaNya bertepuk sebelah tangan.

Apakah ada pertanyaan? Yang introvert boleh inbox saja kok, hmm... banyak pembaca Innuri blog yang introvert ternyata. 


Kamis, 18 Juni 2026

Melihat Wajah Allah ( 1 )

Padahal melihat wajah Allah itu sudah bisa dialami di dunia ini (Al Baqarah 115) tapi entah mengapa ajaran yang paling terkenal adalah : "Kenikmatan yang paling tinggi di surga adalah melihat wajah Allah." Ya berarti nunggu mati dulu dong? Makanya tak banyak orang menempuh jalan ini, jalan untuk bisa melihat wajah Allah di sini, di dunia ini. 

Inilah kebenarannya, tak usah menunggu mati. Semasih hidup di dunia ini pun bisa melihat wajah Allah dan itulah kenikmatan tertinggi, keindahan terindah, kebahagiaan terbahagia. 

Ketika melihat semuanya Allah, sudah tak melihat makhluk lagi. Itu luar biasa, tak terdefinisikan rasanya.  Sampai sering nangis karena terharu akan keindahanNya. Perasaan yang susah dilukiskan dengan kata-kata.

Kalian yang menganggap Innuri salah atau sesat dalam mengartikan "melihat wajah Allah", aku berani bilang kalian pasti belum pernah melakukan khalwat 40 hari.  Nah, ketimbang nyalah-nyalahin orang, coba deh lakukan seperti yang Nabi Muhammad lakukan, khalwat 40 hari full, baru boleh menilai sesat atau tidaknya Innuri. 

Awalnya melihat 'semuanya Allah' itu waktu melakukan khalwat 40 hari yang pertama di tahun 2024. Pernah aku tulis, maka yang aku tulis sekarang yang belum pernah saja ya.

 Awalnya aku tidak berani menuliskan ini, terlalu susah dipahami orang umum dan terlalu rahasia.  Lalu aku bertemu Gus Mukhlason Rasyid di Youtube, yang membuat aku punya keberanian bercerita sampai sedetail sekarang. Ternyata itu penting  untuk menjadi referensi orang lain yang pernah mengalami atau pun belum. 

Saat khalwat di 2024 itu aku sering duduk di lantai dua rumah Ngantang yang masih berupa strukturnya saja.  Dengan tumpukan bata ringan yang aku pakai bersandar.  Aku melakukan zikir dan meditasi di situ. Dari situ aku juga bisa melihat jalan ke arah rumah masa kecilku. 

Terbayang di benakku, suasana rumah, kamarku, benda-benda kesayangan, majalah, buku, kaset, loteng tempat aku menikmati senja dengan memandang gunung dan pepohonan.  Banyak hal manis aku alami di sana, membentuk kenangan yang kurindukan.  Walau rumahnya sudah berubah, kenangan itu masih hangat seperti baru terjadi sore kemarin. 

Lalu tiba-tiba saja aku melihat itu semua Allah! Ada kesimpulan batin yang amat jelas "Allah menjelma menjadi apa saja untuk membahagiakanku." Kamarku, tumpukan majalah Gadis kesayanganku, lemari ku, jendela itu, semuanya. 

Aku sempat ragu dengan kesimpulan ini, sampai aku menelepon suamiku dan suamiku membenarkan apa yang aku rasakan. Kami berdua khalwat bareng, dia khalwat dalam keramaian. Dia di rumah Pakis, aku di Ngantang. Pelajaran yang kami terima sama. 

Aku mencari dan mencari jawaban atas pengalamanku ini. Lalu kutemukan di channel Pak Hans "Eling lan Awas" yang saat itu malah membahas kitab Tao te Ching. Aku bersyukur sekali mendapat jawaban di situ.  Berarti apa yang aku alami benar, pernah dialami oleh manusia bijak di masa lalu, bahkan lama sebelum masa Nabi Muhammad. 

Jawaban di Surat Al Baqarah 115 itu belum terpikirkan olehku saat itu. Ayat yang jarang dibahas oleh para ulama, entah mengapa, padahal jelas sekali maknanya, tak perlu tafsir yang belibet.

"Kepunyaan Allahlah Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. " 

Jadi wajah Allah itu ya semua ciptaanNya ini.  Orang yang bilang penafsiran Innuri sesat pasti belum pernah khalwat 40 hari.  Dan sebenarnya Innuri bukan menafsirkan, ayat sejelas itu tak perlu ditafsirkan. 

Kemanapun kamu menghadap, atau dengan kata lain, apa pun yang kamu hadapi, apa pun yang kamu lihat, itulah wajah Allah. Perwujudan Allah, wujude Gusti Allah kata Gus Son. Aku dan kamu itu adalah wujudnya Allah, tapi bukan Allah dan jangan ngaku-ngaku Allah. 

Allah yang sebenarnya ya tidak bisa dilihat mata fisik.  Wujudnya Allah dengan Allah itu berbeda.  Seperti wujudnya Innuri dengan Innuri itu beda, Innuri yang sebenarnya bukanlah fisik yang menua dan bakalan musnah ini.  Innuri yang sebenarnya adalah ruh / jiwa yang akan tetap hidup meskipun fisiknya tiada. 

Wujudnya Allah adalah alam semesta ini yang bisa runtuh, tetapi Allah abadi. Ruh manusialah yang bisa menyaksikan Allah. Sedangkan mata fisik manusia hanya bisa menyaksikan wujudnya Allah. 

Paham kan? 

(bersambung) 

Rabu, 17 Juni 2026

Cara Hidup Tanpa Takut dan Khawatir (3)

 "Mbak Innuri, mungkin bagi orang yang sudah tak punya masalah, bisa menjalani seperti yang mbak Innuri tulis. Tapi bagi orang yang masih banyak masalah seperti saya, bagaimana caranya? " 

Itu adalah pertanyaannya, jawabannya boleh disimak di bawah ini. 

Pada umumnya orang, akan beranggapan bila hidupnya tak ada masalah, maka bisa bahagia.

Misal, kalau tak punya hutang aku akan bahagia. Kalau anak-anak sudah selesai kuliah semua,  aku bahagia. Kalau istriku sembuh dari sakitnya aku bahagia, dll. 

Bahagia yang mensyaratkan kondisi tertentu itu bukan bahagia namanya, itu senang, atau bahagia yang sementara. 

Polanya seperti ini 'kondisi di luar diriku lah yang membuat aku bahagia'. 

Begitu kan?

Pada kenyataannya itu terbalik, tapi tak banyak orang yang tahu. Kondisi di dalam yang bahagialah yang membuat kondisi di luar membaik. Atau dengan kata lain, kondisi di luar mengikuti apa yang ada di dalam batinmu itu. 

Itulah makna dari 'bila kamu bersyukur maka Allah akan menambah nikmatmu.' 

Justru memperbaiki yang di dalam itu yang lebih penting.  Soal yang di luar Allah yang urus, bukan diri kita yang lemah ini. 

Bagaimana memperbaiki yang di dalam? Loh 'kan sudah Innuri tulis di tulisan sebelumnya, tulisan dengan judul yang sama episode 1 dan 2. Tulisan lainnya di blog ini juga mengandung tujuan itu.  Dicari saja di blog dan dibaca lagi ya. 

Nah, bahagia yang kamu dapat nanti adalah bahagia yang paten, bahagia yang sumbernya dari kedalaman batin yang paling dalam. Lebih tepat disebut suka cita atau dalam bahasa stoic disebut eudamonia. 

"Itu kan semacam menipu otak, kondisi banyak masalah, tapi dibikin happy saja. " Pernah kudengar komentar seperti ini. Jawabannya bisa panjang. nanti di tulisan tersendiri saja ya, ingetin bila Innuri lupa. 

Baik. Aku tambahkan satu lagi, yaitu kamu musti mencintai Allah.  Itulah yang membuat hidupmu selalu sukacita, karena selalu ditemani oleh Dia yang mencintaimu dan kamu cintai. Kamu tak pernah merasa sendiri, karena selalu ada Dia. Tak pernah sedih, karena selalu dibahagiakanNya. 

Dan satu lagi (dua dong ya), kamu harus kehilangan semua berhala di hatimu. Apa sih berhala di hati itu? Segala sesuatu yang membuatmu galau, itulah berhalamu. Ketika kamu percaya penuh (beriman) bahwa Dia mengendalikan segala urusanmu dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya, kamu telah menuhankan Allah dan menghambakan persoalan, kamu kehilangan berhalamu. 

Ada yang nanya lagi? 

Senin, 15 Juni 2026

Cara Hidup Tanpa Takut dan Khawatir (2)

 Apa yang akan aku sampaikan di bawah ini rentan untuk didebat dengan berbagai argumen dan dalil, bahkan rentan dituduh kafir musyrik sesat. Aku tak apa-apa, aku maklumi karena yang mendebat belum pernah mengalami. 

Tapi aku harus mengatakannya, teristimewa bagi kalian yang pernah atau bakalan mengalami kejadian yang mirip, maka kalian punya referensi pengalaman orang lain, agar tidak bingung atau takut tersesat. 

Pengalaman ini aku alami saat khalwat 40 hari di 2024, semakin nyata dan semakin dalam setelah mengalami insomnia yang aku ceritakan di blog dan di Fb. 

Pengalaman itu menjelaskan tentang wujudnya Allah tapi bukan Allah. Yang bila diambil kesimpulannya beginilah penjelasanku. 

***  Allah menjelma menjadi apa saja untuk membuat aku dan kamu bahagia. 

Allah juga menjelma menjadi apa saja dan siapa saja untuk melindungi kamu dari bahaya dan kehancuran. 

Masa lalu masa kini dan masa depan itu simultan, karena Allah juga menjelma menjadi waktu. 

Kamu dan aku abadi, karena aku dan kamu tersusun dari cinta kasih Allah. 

Bila kamu menyadari semua ini, maka kamu bakalan lupa caranya gelisah dan khawatir. 

Allah adalah masa lalu, masa kini dan masa depan, kamu dan aku selalu terayun-ayun dalam cinta kasihNya. Maka kamu tak akan sempat mengkhawatirkan ini itu, kamu menikmati hidup ini dan kamu bahagia menjalaninya. ***

Bila aku ceritakan bagaimana ketemunya aku dengan pengertian yang aku uraikan di atas, panjang sekali ceritanya. Barangkali di judul yang lain saja ya. 

Ada pertanyaan?