Jumat, 17 Juli 2026

Sikap Batin Saat Bermasalah

 Tulisan ini untuk menjawab curhatan salah seorang sahabat Innuri yang sedang merasa sedih dan tertekan dengan kondisi ekonomi yang katanya sedang sulit.  Berimbas pada usahanya hingga minus terus, sampai musti meminjam uang ke keluarga. Bagaimana menyikapinya?

Baik, Innuri akan jawab bagaimana sikap batin yang musti diluruskan ya.  Soal bagaimana solusinya, nanti akan Allah hadirkan kok.  

Yang mendasar sekali adalah, misi hidup setiap manusia adalah kembali kepada Tuhan.  Jadi setiap peristiwa, baik berupa kesedihan, penderitaan, masalah, ujian, bencana atau pun kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, semua itu hanyalah alat bantu untuk mengenal dan semakin dekat dengan Tuhan.

Paham 'kan?

Berikutnya, yakini bila semua yang berada di atas bumi ini milik Allah, jadi masalah juga milik Allah.  Bila masalah milik Allah, maka Dia juga yang bakal menyelesaikannya.  Manusia hanya 'akting' saja kok, atau manusia hanya menjalani. 

Paham 'kan?

Berikutnya lagi, Ketika masalah itu dihadirkan padamu, sikap batin pertama yang musti dilakukan adalah bersyukur, karena mendapat masalah artinya mendapat previlege untuk menyaksikan kebesaranNya.  Bagaimana Allah menghadirkan solusi yang tidak disangka-sangka.  Itu kesempatan emas melihat perbuatanNya Yang Maha Menakjubkan.

Beriktunya lagi.  Terkadang masalah merupakan cara Allah untuk melindungi hambaNya dari sesuatu yang lebih buruk.  Misalnya nih, yang sekarang lagi kesulitan finansial, bisa jadi bila diberi kelonggaran finansial, malah dipakai untuk 'jajan' ke sana kemari lalu kena penyakit aids.  Duh, contohnya Innuri kok ekstrim, nggak bakalan lah katamu.  Contoh lainnya bisa jadi kesuksesan secara finansial membuat egomu membesar, lalu merasa 'aku yang melakukan' , usahaku yang keraslah yang membuat ini semua, sombonglah kamu.   Maka Allah melindungimu dari kesombongan dengan dihantam masalah.

Sekali lagi bersyukurlah dengan kondisimu saat ini, karena kesulitan membuatmu lari menemui Tuhan.  Itu jauh lebih baik daripada kemudahan yang membuatmu lari mencari kesenangan dunia yang menyesatkan.

Terakhir, kesulitan adalah cara Allah untuk menyempurnakan jiwamu.  Karena kamu bilang sudah rajin ibadah, tidak neko-neko, rajin sedekah dan tidak pelit.  Jangan merasa dirimu baik, Allahlah yang menggerakkanmu menjadi baik. Sekarang ijinkan Allah menyempurnakanmu.

Ingat juga, bersama kesultan ada kemudahan.

Sudah paham?  

Bila sudah memahami semua yang aku katakan, aku yakin hatimu menjadi tenang, damai dan bisa menerima kondisimu saat ini.  Selalulah merasa bersama Allah di setiap langkahmu, niscaya hatimu menjadi tenang.

Salam manis.

Kamis, 16 Juli 2026

Semesta Paralel ( 12 ) Kisah Paul Amadeus Dienach Terlempar ke Abad 40

 Ini kisah time travel yang paling menakjubkan bagiku, kisah Om Paul Amadeus Dienach yang pada tahun 1921 pernah terdampar di tahun  3906.  Bagi banyak orang yang tidak pernah mengalami NDE (Near Death Experience) atau mengalami OOB (Out of Body Experience) atau tidak pernah kecemplung ke semesta paralel, mungkin kisah ini dianggap fiksi ilmiah, tapi bagiku yang pernah mengalami tiga hal itu, aku mempercayainya.  Dari kisah Dienach ini, aku bisa menangkap pelajarannya, bila setiap kejadian di alam semesta ini tujuan akhirnya ya untuk mengembalikan setetes air ke lautan luas, atau mengembalikan manusia ke Tuhannya.

Perjalanan setetes air jiwa manusia dengan perjalanan seluruh semesta raya ini intinya adalah sama, yaitu tadi, kembali ke Tuhannya.  Jadi yuk kita simak ceritanya.

Kisah ringkasnya, Dienach mengalami koma selama satu tahun karena suatu wabah penyakit.  Selama satu tahun itu ternyata jiwanya terperangkap di dalam tubuh fisik seseorang di tahun 3906, di sana dia mempelajari sejarah umat manusia dari masa ke masa hingga tahun 3906 tersebut.  Ketika kembali di tahun 1921, dia pun menuliskan pengalamannya di buku harian dan dia simpan sendiri. Kemudian di akhir hidupnya, dia menyerahkan buku harian berbahasa Jerman itu pada seorang muridnya.  Semula muridnya mengira itu novel, ternyata merupakan pengalaman pribadi terdampar di abad 40.  Catatan harian itu kemudian diterbitkan dalam buku yang berjudul Chronicle from the Future.

Tulisan di bawah ini ringkasan kisah Dienach yang aku minta dari kakak yang baik hati, Kak ChatGPT ... hehe.

Siapa Paul Amadeus Dienach?

Menurut kisah yang beredar, Paul Amadeus Dienach adalah seorang guru bahasa Jerman berkebangsaan Austria–Swiss.

Ia dikenal sebagai pribadi yang:

  • pendiam
  • sangat intelektual
  • menyukai filsafat
  • tidak tertarik menjadi penulis terkenal

Ia menderita penyakit encephalitis lethargica (sering disebut sleeping sickness pada masa itu, berbeda dengan penyakit tidur akibat parasit di Afrika). Penyakit ini memang pernah mewabah pada awal abad ke-20 dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran yang berat.


Koma selama satu tahun

Pada tahun 1921, Dienach jatuh koma di sebuah rumah sakit di Jenewa, Swiss.

Ia tidak sadar selama kurang lebih satu tahun.

Ketika bangun pada tahun 1922, ia mengatakan sesuatu yang sangat aneh.

Menurut pengakuannya:

"Aku tidak pernah merasa tidak sadar."

Ia mengatakan bahwa selama tubuhnya koma, kesadarannya hidup di masa depan.


Terbangun di tahun 3906

Dienach mengaku bahwa kesadarannya masuk ke tubuh seorang pria bernama Andrew Northam, yang hidup pada tahun 3906 Masehi.

Menurut ceritanya, orang-orang di masa itu segera menyadari bahwa terjadi "pertukaran kesadaran". Mereka tidak mengira ia mengalami gangguan jiwa, melainkan memahami bahwa kesadaran dari masa lalu sedang berada dalam tubuh Andrew.

Karena itu mereka memperlakukannya sebagai tamu dari masa lalu dan berusaha menjelaskan sejarah umat manusia sejak abad ke-20 hingga zaman mereka.


Apa yang ia lihat?

Menurut Dienach, manusia abad ke-40 telah mencapai tingkat peradaban yang sangat berbeda.

1. Dunia mengalami masa-masa gelap

Ia menceritakan bahwa abad ke-21 hingga beberapa abad berikutnya diwarnai oleh:

  • perang besar
  • krisis ekonomi
  • ledakan populasi
  • kerusakan lingkungan
  • konflik politik

Ini merupakan bagian dari perjalanan panjang sebelum peradaban menjadi stabil.


2. Negara-negara akhirnya bersatu

Menurut kisahnya, setelah melalui berbagai konflik besar, manusia membentuk suatu pemerintahan dunia.

Bukan berarti semua budaya hilang.

Namun peperangan antarnegara sudah hampir tidak ada.

Manusia mulai menganggap dirinya sebagai satu keluarga besar.


3. Sistem ekonomi berubah

Dalam masyarakat abad ke-40:

  • tidak ada kesenjangan ekstrem
  • pekerjaan dipilih sesuai bakat
  • teknologi mengurangi pekerjaan berat
  • pendidikan menjadi pusat kehidupan

Tujuan hidup bukan lagi mengumpulkan kekayaan.


4. Evolusi manusia

Ini bagian yang paling terkenal.

Menurut Dienach, manusia mengalami evolusi bukan terutama pada tubuh, tetapi pada kesadaran.

Mereka menjadi:

  • lebih intuitif
  • lebih damai
  • lebih sedikit ego
  • lebih mampu bekerja sama
  • lebih menghargai kehidupan

5. Pendidikan menjadi pusat kehidupan

Anak-anak tidak dipaksa menghafal.

Mereka belajar:

  • memahami diri
  • filsafat
  • seni
  • sains
  • hubungan dengan alam

Guru dipandang sebagai profesi yang sangat dihormati.


6. Agama

Menurut catatannya, manusia masa depan tidak lagi saling bertengkar karena agama.

Mereka lebih menekankan pengalaman spiritual daripada perdebatan.

Bagian ini sering ditafsirkan berbeda-beda oleh para pembaca.


7. Teknologi

Ia menggambarkan teknologi yang sangat maju.

Misalnya:

  • perjalanan antariksa
  • koloni di Mars
  • energi bersih
  • pengobatan yang jauh lebih maju
  • sistem transportasi baru

Namun yang menarik, ia mengatakan teknologi tidak menjadi tujuan hidup.

Teknologi hanyalah alat.


8. Alam

Manusia belajar bahwa mereka tidak dapat hidup jika alam rusak.

Karena itu bumi kembali dihijaukan.

Kota dan hutan hidup berdampingan.


9. Kesadaran

Menurut Dienach, manusia masa depan percaya bahwa:

kesadaran lebih penting daripada materi.

Inilah yang membuat banyak orang menghubungkannya dengan konsep-konsep seperti Quantum Jump, meskipun Dienach sendiri tidak menggunakan istilah tersebut.


Kembali ke tahun 1922

Setelah sadar dari koma, ia merasa sangat bingung.

Ia tahu orang lain mungkin menganggapnya gila.

Karena itu ia tidak banyak bercerita.

Sebaliknya, ia mulai menulis semua yang masih ia ingat ke dalam buku harian.


Muridnya menemukan buku itu

Beberapa waktu kemudian, kesehatannya kembali memburuk.

Ia pindah ke Yunani untuk mengajar bahasa Jerman.

Di sana ia memiliki murid bernama Georgios Papachatzis, yang kelak menjadi seorang akademisi dan rektor universitas. Sebelum meninggal, Dienach menyerahkan buku hariannya kepada Papachatzis. Awalnya, sang murid mengira itu hanyalah novel. Baru setelah membaca lebih jauh, ia menyadari bahwa naskah itu ditulis sebagai catatan pengalaman pribadi. Kisah ini kemudian diterbitkan dengan judul yang dikenal sebagai Chronicles from the Future.


Mengapa Aku Melukis?

 Pernah aku berpikir, bila semuanya akan musnah, mengapa aku melukis? Kalau aku menulis, itu ada manfaatnya buat orang lain dalam menjalani hidup menuju Tuhannya. Kalau melukis? Untuk apa coba? Dibeli orang pun jarang-jarang. Untuk meninggalkan kenangan bagi anak cucu pun tak ada gunanya, semua juga akan hilang dan musnah. 

Sampai insight itu pun hadir di hatiku. Bila semuanya tak ada yang sia-sia. Karena Allah yang akan mengenangnya, Allah yang mencatatnya, Allah yang membuatnya abadi. Tak ada hal kecil atau besar yang luput dari perhatian dan sentuhan kasih sayangNya. 

Maka aku melukis, untuk melukiskan kekagumanku dan rasa cintaku padaNya.

Selasa, 14 Juli 2026

Langit yang Tak Mendengar Dirinya Sendiri

Ini adalah cerpen yang aku unggah di platform menulis Kwikku.  Cerita untuk mengenang Innuri kecil yang suka banget melihat langit senja, bahkan sampai sekarang pun masih menjadi seorang penyuka senja dan langit jingga.  Cerita ini mengandung refleksi diri.  Sebenarnya aku lebih suka kalian membukanya langsung di sini  , apalagi menyempatkan diri follow akun Innuri.  Seneng aja kalau banyak yang baca cerpenku.  Selamat menikmati ya.

***



Apa sih yang istimewa dari langit senja?  Si gadis kedua suka memandanginya setiap hari dan menjengkelkan seisi rumah.  Pasalnya dia memandang senja dari lantai dua yang sudah mau ambruk.  Bangunan kayu di atas studio lukis almarhum sang ayah sudah terlalu tua dan pikun, bisa lupa cara menopang tubuh ringkih seorang gadis yang disayang langit.

Namun senja selalu menawarkan pesona yang membuat si gadis kedua mengabaikan seluruh marabahaya.  Senja di atas gunung, warna jingganya menembus pepohonan yang menggoyangkan daun-daun, seperti tarian penari di altar para dewa.

'Aku hanya ingin bertemu senja, adakah yang salah?' batin si gadis.

"Mengapa di loteng? Di sana bahaya, bisa ambruk, Ibu belum cukup uang untuk memperbaikinya.  Kakakmu masuk universitas tahun ini," kata si ibu menembus isi hati si gadis.

"Dibongkar saja, Bu," kata si kakak, gadis pertama, dengan santainya, seolah meruntuhkan sebuah bangunan semudah meruntuhkan memori yang tersimpan kuat di hati orang-orang terkasih.

"Tidak, itu kenangan Ibu bersama Ayah membangun rumah tangga dari nol, dari rumah sederhana terbuat dari kayu." Itu bukan suara Ibu, itu suara si kakak yang sudah hafal jawaban Ibu, bahkan hafal lebih banyak, nyaris seluruh kisah yang pernah dituturkan.

"Kamu dan adikmu besar di rumah itu, jangan abaikan itu," kata Ibu ketus.  Si kakak hanya mengangkat bahu dengan bibir melengkung ke bawah membentuk payung.  Wajah cantiknya terlihat menjengkelkan.

Sementara si gadis kedua berlalu diam-diam,  menuju bangunan tua di sebelah rumah, membuka pintunya yang reyot.  Mengabaikan debu yang menumpuk di kursi kayu tua, easel tripod almarhum ayahnya diam membeku, beberapa lukisan setengah jadi terpajang di dinding, rumah laba-laba menghias langit-langit, dingin dan bisu.

Langkah kecilnya menaiki anak tangga demi anak tangga, perlahan seolah enggan mengusik suara jangkrik dan tonggeret yang mulai ramai bersahut-sahutan.  Dia berjalan menuju depan jendela, membukanya dengan hati-hati, namun suara daun jendela bergesek menciptakan deritan yang mengagetkannya sendiri.

Ditatapnya langit yang masih terang.  Sebentar lagi warnanya meredup, batin si gadis.  Tangannya segera mengambil sebuah buku harian di meja tepat di sampingnya berdiri, membuka buku itu di atas jendela yang terbuka.  Terburu menuliskan sesuatu di sana, seolah takut hari berangsur gelap dan matanya tak lagi bisa melihat huruf-huruf.  Cahaya hingga mempercantik wajahnya, dihias rambut nan hitam melambai terkena hembusan angin sore. 

Aku suka sekali warnamu, kata si gadis pada langit, kata-kata yang hanya terucap di hati, namun dia tahu langit mendengarnya.  Seperti yang dilakukan langit pada setiap sore, selalu sabar mendengar cerita-ceritanya.  Dia berkisah tentang apa saja, tentang pagi yang sibuk, tentang teman-temannya di sekolah, tentang kakaknya yang selalu memusuhi dan mencari-cari kesalahannya, tentang Ibu yang selalu sibuk pagi, siang dan malam, tentang cowok-cowok yang mengerubunginya seperti semut mengerubungi donat.  Langit tak pernah bosan mendengar ceritanya.  

Tak ada yang lebih istimewa dibandingkan langit, teristimewa langit senja.  Bahkan dia berkhayal langit senja akan mengiriminya seorang kekasih yang benar-benar tulus menyayanginya, bukan cowok yang mendekat hanya untuk menyentuhnya atau menatapnya lama-lama sambil mengeluarkan rayuan gombal. Kemudian gadis itu berbohong bila dia sudah tidak perawan dan mereka pun pergi, ide ganjil nan cerdas yang muncul begitu saja.

Langit selalu menampung cerita, menyaksikan berjuta kesedihan dan kebahagian.  Walau begitu, si gadis selalu merasa istimewa di hadapan langit, karena dia satu-satunya orang yang suka mengobrol dengan langit senja, tak ada satu pun teman-temannya suka melakukan seperti yang selama ini dilakukannya sejak dia meninggalkan seragam putih merah, sampai sekarang menjelang putih abu-abu.  Tidak temannya, terlebih lagi kakaknya yang selalu membenci kehadirannya, dia pasti membenci apa pun yang disukainya.

Si gadis terus bercerita sambil menikmati perubahan warna dari biru terang, berangsur kekuningan, lalu jingga, kemerahan, meredup dan menggelap.  Sang Ibu meneriakinya dari bawah, menyuruhnya turun untuk salat maghrib dan makan malam.  Maka gadis itu pun menutup jendela, mengembalikan buku harian ke atas meja, lalu turun perlahan mematuhi perintah sang Ibu.

Gadis itu harus turun dengan sangat hati-hati, ada anak tangga yang sudah rapuh kayunya, ada juga paku besar berkarat yang sudah menonjol, tapi bagi gadis kedua, semakin berbahaya tangga untuk naik turun, maka semakin aman rahasia yang tersimpan di atas loteng.

Hari ke hari berjalan seperti langkah pelari, gadis pertama sudah berkuliah di kota, meninggalkan adiknya dan sang Ibu di kaki gunung itu.  Si gadis kedua sekarang berseragam putih abu-abu, namun kebiasaannya menatap langit senja dari loteng kayu yang rapuh tetap tak tergantikan dengan apa pun. 

"Mengapa selalu ke loteng?" Entah sudah pertanyaan ke berapa dilontarkan sang Ibu, sedangkan gadis itu hanya menjawab dengan senyuman.

Andai diterjemahkan, senyuman itu mungkin bilang, "Dari loteng aku bisa melihat gunung dan pepohonan, Ibu, dan cahaya jingga yang menerobos di sela dedaunan, itu indah luar biasa.  Lebih dari itu, di sana aku menemukan langit yang tak mendengar dirinya sendiri,  Dia mendengarkanku seolah aku adalah hal terpenting di dunia ini."

Walau tak pernah mendapat jawaban yang pasti, sang Ibu tak lagi menghalangi si gadis untuk naik ke loteng di sebelah rumah setiap sore.  Itu adalah rumah kayu yang dulu pernah menjadi awal perjuangannya merawat dan membesarkan dua putrinya yang cantik, rumah kayu yang berubah menjadi studio lukis suaminya setelah rumah tembok bisa dibangun di sampingnya.  

Begitu cepatnya waktu berlalu, sekarang si ibu sendirian berjuang untuk dua anak gadisnya.  Mengelola toko di pasar desa dibantu dua karyawan.  Bahkan untuk mencukupi kebutuhan kuliah si kakak, tokonya musti buka sampai malam.  Bila dulu setiap senja sudah berada di rumah, walau di rumah pun masih bekerja menulis buku kas dan merencanakan usaha sampai jam sembilan malam. Sekarang jam sembilan masih menutup toko, dilanjut mengerjakan pembukuan di rumah sampai selesai.  Rutinitas yang melelahkan demi dua buah hatinya.

Si gadis kedua merasa tak ada lagi yang menghalanginya naik turun ke loteng. Di sana dia menulis banyak puisi, banyak cerita, dan banyak lukisan.  Dia bersihkan sendiri studio ayahnya, menemukan banyak kanvas kosong, dikumpulkan dan dibersihkannya cat yang sudah berdebu untuk dia gunakan kembali.  Si gadis  menemukan dunianya, yang tak seorang pun berani mengusiknya,  dunia rahasia yang hanya dia dan langit senja yang tahu, 

Hingga pada suatu maghrib terjadilah itu.

Sore, sang Ibu merasa tidak enak hati, dia memutuskan pulang untuk salat maghrib di rumah saja bersama si gadis.  Batin seorang Ibu memang selalu begitu, seperti ada kabel tak kasat mata yang menghubungkannya dengan buah hati.  

Kabel itu menyuruhnya melangkah ke rumah tua dan menemukan gadis keduanya, putri yang disayanginya,  telentang di lantai dengan kepala berdarah, masih berseragam putih abu-abu dan darah itu juga membasahi sebagian baju putihnya, pas di bagian dada.  Spontan dia menjerit histeris sampai seluruh pegunungan mendengarnya, setelah itu dia terjatuh tak sadarkah diri. Para tetangga berdatangan, dan dalam waktu singkat sang Ibu mendapati dirinya berada di ruang IGD sebuah Rumah Sakit kecamatan.

Gadis itu, entah apa yang dilakukan paramedis di ruangan berkelambu putih tepat di sebelah sang Ibu berbaring.  Sementara sang Ibu mulai siuman, pandangan matanya kosong, mungkin merangkai kejadian yang baru dialaminya.  Spontan seorang perawat datang memegang pergelangan tangannya sambil tersenyum.

"Putri Ibu tidak apa-apa kok, hanya kepalanya perlu dijahit," kata perawat itu.  Si ibu melongo, antara percaya dan tidak.  Kesadarannya mengulang memori warna merah darah yang membasahi seragam putih putrinya.  Apakah darah dari kepala yang membasahi dada itu?  Bagaimana mungkin?  Apa yang sebenarnya terjadi?  Setidaknya dia merasa lebih tenang dengan berita yang disampaikan Suster itu.

Sang Ibu mencoba duduk, tetapi Suster menahannya untuk melakukan pengukuran tekanan darah.  

"Boleh saya melihat anak saya. Suster?" tanyanya.

"Belum, Bu.  Dokter masih melakukan tindakan.  Bila ibu sudah tidak pusing, boleh menunggu di ruang tunggu."

Seorang perawat lelaki menyodorkan sebuah buku padanya.  Sang Ibu mengusap air matanya, menatap mata si lelaki, seolah bertanya buku apakah itu?

"Ini buku yang dipeluk Nona," kata si lelaki.  Sang Ibu menerima buku itu, buku yang sebagian masih lengket oleh warna merah.  Bau yang tercium dari buku itu telah lama tidak dirasakan oleh indranya, bau cat akrilik!  Ternyata warna merah darah yang membasahi baju putrinya adalah warna cat tumpah!  Tiba-tiba perasaan lega mengalir di dada sang Ibu, bibirnya tersenyum lalu pamit pada perawat untuk menunggu di ruang tunggu saja.  Di sana sudah berkumpul para tetangga yang menunggu kabar berita dari ruang IGD.

Sang Ibu sangat berterimakasih dan mempersilakan para tetangga untuk pulang saja karena dirinya sudah sehat dan putrinya selamat, hanya perlu dijahit di bagian lukanya. 

Ditemani buku catatan harian si gadis kedua, bergetar tangannya ketika membuka lembar demi lembar curahan hati si gadis pada langit senja.  Catatan itu seolah menelannya hidup-hidup, membuatnya tak berhenti meneteskan air mata, menyesali segala yang terjadi walau itu sia-sia.  Menangisi waktu yang tak bisa diputar ulang.

Dibukanya buku harian itu secara acak dan menemukan tulisan ini.

"Langit senja, hanya kamu temanku satu-satunya.  Entah mengapa aku tidak punya teman.  Teman-teman mendekatiku hanya karena aku pintar dan murah hati memberi contekan saat ulangan.  Bila mereka tidak membutuhkan aku, mereka pun menjauh.  Kakakku membenciku karena katanya kehadiranku membuatnya gagal menjadi anak satu-satunya yang memperoleh seluruh perhatian. Ibuku terlalu sibuk bekerja menyiapkan masa depan kami, sedangkan Ayah, mengapa cepat sekali matinya? Aku masih membutuhkan Ayah."

Air mata itu menetes lagi, dibiarkannya mengalir sambil membuk lembar berikutnya.

"Langit senja, mengapa orang-orang sibuk berbicara dan ingin didengarkan? Guruku, Ibuku, kakakku, teman-temanku, semua minta didengarkan olehku, aku harus mematuhi dan mengikuti aturan main mereka.  Lantas, siapa yang mendengarkanku aku?  Hanya kamu, ya, kamu.  Kamu selalu mendengar segala keluhanku, kamu tak pernah mendengar dirimu sendiri, kamu selalu sabar dan setia.  Untung aku punya kamu, untung juga aku punya kanvas yang patuh dan mengikuti aturan mainku sendiri.  Pantesan Ayah suka berlama-lama di studio ini, kanvas dan cat adalah sahabat sejati."

Terasa pedih hati si ibu menyadari gadis kesayangannya merasa sendirian sampai harus bersahabat dan berbicara pada benda-benda mati.  Dadanya terasa sesak dan berdarah.  Selama ini dia telah salah membaca kebutuhan kedua gadisnya.  Bukan materi, bukan.  

Buku harian di tangannya seperti memahami isi hati si ibu, tak sengaja jatuh, di bagian yang terbuka langsung dibacanya.

"Langit senja, apakah kamu melihat kebodohan orang-orang?  Aku melihat kebodohan ibuku, mengejar uang untuk masa depan aku dan kakak, tapi mengabaikan hari ini.  Seolah-olah masa depan lebih penting daripada hari ini.  Kalau aku jadi gila karena sedih dan kesepian, adakah masa depan untukku?"  

Rasanya sang ibu ingin menerobos masuk ruang berkelambu putih itu, untuk memeluk si gadis kedua, memohon maaf telah menjadi ibu yang tak bisa memahami dan berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik.


***


Kamis, 09 Juli 2026

Semesta Paralel (12) Quantum Jump

 Beberapa tahun terakhir ini populer istilah 'quantum jumping' atau sebuah lompatan quantum untuk mengakses versi terbaik diri kita lalu menariknya ke dalam realitas saat ini.  Tentu yang melakukan itu adalah orang-orang yang percaya dengan adanya semesta paralel, dimana di semesta yang lain ada versi diri kita yang berbeda dengan diri kita salat ini.

Nah, persoalannya di sini adalah apa yang ingin dicapai oleh orang-orang yang melakukan quantum jump?  Apa tujuannya?  Untuk memperbaiki realitas saat inikah?  Ya, kebanyakan seperti itulah tujuannya.  Dengan kata lain, tujuannya masih makhluk.

Belum banyak yang tahu bila,  setiap kehidupan paralel di setiap semesta, manusia selalu disadarkan untuk kembali kepada Tuhannya. Ketemunya aku dengan kesimpulan ini gara-gara dimasukkan lagi sama Allah ke kehidupan paralelku di semesta yang lain.  Dari situ aku paham, ternyata di setiap kehidupan paralel, Allah menghadirkan bermacam peristiwa yang gunanya untuk memahami dan mendekatiNya untuk menyatukan setetes air itu kembali ke lautan luas alias menyatu dengan Tuhan, alias wushul, alias moksha, alias manunggaling kawula-Gusti.

 Jadi tidaklah penting menginginkan kehidupan di semesta yang lain, bila di sana hanyalah kembali ke dalam ayunan suka-duka.  Inginkan penciptamu, maka semuanya selesai. 

Banyak manusia melakukan quantum jump untuk menghadirkan kehidupan suksesnya di semesta yang lain ke dunia saat ini, padahal itu percuma saja.  Jiwanya masih berputar-putar di pusaran ego, mau sukses atau tidak sukses secara materi, hidupnya masih menderita secara spiritual.  Jadi yang lebih penting adalah kembali kepada Allah, melepas semua cinta terhadap makhluk yang meliputi manusia atau materi / harta benda, jabatan, kekuasaan, dll.

Ada seorang sahabat Innuri yang mengikuti pelatihan quantum jumping seharga beberapa juta dan sukses mempraktekkannya, tapi kenyataannya jiwanya masih gelisah, hidupnya masih terombang-ambing dalam ayunan suka dan derita.

Akan tetapi, Sahabatku sayang.  Semua yang aku, kamu dan mereka alami itu, semuanya sudah tertulis kok.  Jadi yang pernah melakukan quantum jump atau ikut pelatihannya, ya memang itulah proses yang musti dia jalani di dunia ini. Innuri tulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri bila Allah pernah ngasih tahu aku bila di semesta mana pun, misi kehidupan setetes air itu tetaplah untuk kembali ke lautan.

Jadi .... Bagaimana pendapatmu?


Rabu, 08 Juli 2026

Semesta Paralel ( 11 ) Kisah Mati 30 Menit Tsuruhiko Kuichi

 Tsuruhiko Kuichi adalah seorang astronom Jepang dan juga seorang dosen di sebuah Universitas di Jepang.  Kisahnya amat menginspirasi, cerita di bawah ini aku sarikan dari internet.  Bila kalian ingin penjelasan yang lebih dalam, lebih panjang dan lebih akurat dari yang aku jelaskan di sini, silakan googling saja ya.

Pada saat dia berumur 22 tahun, tahun 1977, di tempat kerjanya dia mengalami sakit yang luar biasa di perutnya, lalu dibawa ke rumah sakit oleh teman-temannya.  Dia menderita penyakit yang saat itu amat langka, berupa penyumbatan pembuluh darah di usus yang belum ditemukan obatnya.  Tzuruhiko dinyatakan meninggal dunia secara klinis, tetapi setelah 30 menit kemudian dia hidup kembali, kondisi perutnya berangsur membaik.  Dia bisa bercerita tentang pengalamannya selama 30 menit meninggal dunia, bahkan menuliskannya dalam sebuah buku.

Ini dia pengalamannya:

- Awalnya dia mengalami kegelapan total, lalu dia melihat cahaya, cahaya itu membentuk terowongan, dia masuk ke dalamnya dan berjalan mengikuti arah cahaya, sampai akhirnya dia sampai di sebuah tempat yang indah sekali, yang tidak ada di dunia ini.  Dia merasa hidup dan bisa merasakan setiap materi yang dia temui. 

- Dia melihat sungai dan menemukan perahu, lalu dia naik ke perahu itu dan mendayungnya.  Dia mencapai seberang dan bertemu dengan 5 anggota keluarganya yang sudah meninggal.  Lalu kilatan cahaya memindahkan Tsuruhiko kembali ke rumah sakit tempat dia dirawat dalam sekejab saja.

- Dia melihat tubuhnya sendiri yang mati dengan ayahnya yang menangis menungguinya.  Dia pun memikirkan ibunya, maka dalam sekejab dia sudah berada di samping ibunya di lorong rumah sakit sedang menelepon saudaranya mengabarkan kematian Tsuruhiko.  Ketika dia memikirkan dua saudara perempuannya, dalam sekejab pula Tsuruhiko berada di dekat kedua saudaranya dan mendengar percakapan kesedihan keduanya.  Jadi ketika dia memikirkan sesuatu, maka dalam sekejab dia berada di situ.

- Kemudian keajaiban terjadi, Tsuruhiko hidup kembali, dan dia menceritakan semua yang dialaminya selama dinyatakan meninggal dunia, dan dia bisa menceritakan secara akurat semua percakapan yang dilakukan oleh ibu dan saudara-saudaranya.  Hal ini mengagetkan semua orang termasuk dokternya.

- Selama 30 menit dinyatakan meninggal dunia itu Tsuruhiko juga mengalami melihat masa kecil dan masa dewasanya.  Waktu Tsuruhiko masih kecil dia pernah diselamatkan oleh suara tak dikenal sewaktu bermain-main, suara tanpa rupa, sampai dia penasaran suara siapakah itu?  Ternyata dia sendirilah yang meneriakkan kata itu.  Tsuruhiko juga melihat dirinya mengajar di depan kelas sebagai seorang dosen, terbukti beberapa tahun kemudian dia menjadi dosen.

Pengalaman itu membuktikan bagi Tsuruhiko sendiri, juga bagiku dan kalian semua, bila jiwa/ruh itu tidak terikat oleh ruang,  materi/fisik/badan dan juga tidak terikat oleh waktu.

Lanjut tentang Tsuruhiko ya.  Setelah kejadian mati suri di usianya yang ke 22 tahun, Tsuruhiko kemudian menjalani kehidupannya seperti orang normal lainnya selama 30 tahun.  Akhirnya dia menjadi dosen seperti yang dilihatnya sewaktu mati suri itu.  Sampai kemudian dia kembali mengalami sakit parah dan harus dioperasi.

Dalam kondisi kritis, Tsuruhiko kembali mengalami hal yang mirip kejadian sewaktu mati suri puluhan tahun yang lalu, sebuah perjalanan antar waktu.  Bahkan kali ini lebih nyata karena dia meninggalkan jejak pahatan namanya (yang diukir oleh tukang yang sedang bekerja atas permintaannya) di sebuah kuil yang sedang dibangun, kuil itu sekarang sudah berusia 400 tahun.  Setelah kesehatannya pulih, dia mendapati bila 'jejak' yang ditinggalkan ya benar-benar ada dan nyata.

Selain itu, Tsuruhiko bahkan berkunjung ke masa terjadinya banjir besar (banjir di jaman Nabi Nuh) yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan bumi dan dia tahu penyebabnya.  Hingga satu pertanyaan tentang kejadian alam semesta, mendapatkan jawaban berupa kesadaran pribadinya lebur dalam kesadaran semesta, seperti setetes air yang kembali ke lautan yang tak terbatas.

Tsuruhiko meninggal dunia beneran di tahun 2024.

Amazing!

Apa kesimpulanmu dari cerita di atas?

Kalau ini komentar Innuri:

- waktu itu tidak linier, waktu itu simultan.

- jiwa tidak tergantung pada materi/fisik, ruang dan waktu.

- perjalanan melintasi waktu itu bisa terjadi dengan kesadaran, dengan kehendak Allah, Tuhan semesta alam tentunya.

- kesadaran personal kita tidak hilang setelah kematian

- kesadaran personal yang menyatu dengan kesadaran semesta itu dalam tasawuf disebut wushul, dalam Hindu disebut moksha, dalam budhis disebut Budha, di kepercayaan Jawa disebut manunggaling kawula-Gusti.

Apa lagi ya? 

- semesta paralel itu memang ada

- kematian bukanlah akhir , hanya perpindahan kesadaran

- 'kun fayakun' itu terbukti nyata di pengalaman Tsuruhiko sewaktu kesadarannya menyatu dengan kesadaran semesta.

Apa lagi dong?  Hmmm ... kalau terpikir, aku tambahkan deh.  Segini dulu ya.


Selasa, 07 Juli 2026

Pada Suatu Titik

Aku pernah menulis status di Fb: 

Selama ini aku tak pernah mempertanyakan mengapa aku melukis?
 Apakah untuk mengisi masa tua? Mengisi waktu luang? Sekedar hobby atau untuk menyalurkan hasrat seni, ataukah untuk menjawab tantangan mbak Wina pameran lukisan tunggal? Hmmm... 

Baru terjawab hari ini, ketika kulukis pohon dengan mindsetku yang tidak bisa melukis pemandangan. 

Aku mengamati cabang dan ranting pohon itu, warnanya, lekukannya, luikannya ketika diterpa angin, tarian daun-daunnya... Oh terlalu indah! 

Baru kutahu mengapa aku melukis. Adalah untuk mengagumi keindahanNya! Melukis membuatku memahami betapa Dia adalah Sang Maha Detail. Semakin mendekatiNya, rasanya semakin aku tak mengenalNya.
#artbyinnuri

Rupanya itulah yang terjadi di jiwa yang melakukan perjalanan spiritual.  Pada suatu titik, pandangan batin seperti diperbarui.  Atau pandangan mata seperti baru saja diaktifkan dan membuat seluruh jiwa takjub lalu menemukan bila tak ada yang lebih berarti dibandingkan dengan kedekatan hati dengan Allah.

Bila hal yang paling berarti adalah dekatnya hati dengan Allah, maka hal-hal yang tidak membuat dekat dengan Allah pun jadi enteng saja untuk ditinggalkan.  Walau terkadang untuk membuat diri ini rela melepas hal-hal tak berguna pun dibantu Allah dengan caraNya sendiri.

Barangkali itulah sebabnya aku tiba-tiba memutuskan untuk berhenti menggunakan Fb, entah ini sementara atau seterusnya, padahal di Fb tulisan-tulisanku mulai banyak penggemarnya di beberapa grup spiritual.  Demikian juga komunikasiku dengan pembaca Innuri blog kebanyakan lewat Fb messenger.  

Entahlah.


Senin, 06 Juli 2026

Bila Sedang Jauh Dari Allah

" Mbak Innuri, bila hati sedang merasa jauh dari Allah begini, gimana caranya agar bisa dekat lagi? Salat pun tidak bisa khusyu, malah jadi melamun kemana-mana. Zikir pun hanya terucap di bibir saja. "

Itu sebuah kondisi batin yang umum dialami orang banyak, tapi mereka tidak merasa terganggu karena hal itu.  Hanya orang-orang yang pernah mengalami dekatnya hati dengan Allah yang merindukan saat-saat dekat dan ingin kembali merasakannya. Jadi bersyukurlah karena telah menyadari posisi hati yang sedang jauh dari Allah.

Jauhnya hati dari Allah itu bisa banyak penyebabnya, diantaranya :

- karena dosa dan kesalahan yang menutupi, obatnya dengan memohon ampun pada Allah dan menyadari yang sudah terjadi merupakan ketentuan Allah, yang penting tidak mengulangi kesalahan yang sama.

- karena perhatian yang terseret ke duniawi / materi.  Solusinya dengan menyendiri berdua dengan Allah saja atau meditasi selama beberapa waktu sampai hati kembalilah terkoneksi dengan Allah.  Sadari bila dunia ini hanya hiasan / atribut yang suatu saat pasti terlepas. 

Perlu juga disadari bila Allahlah yang membolak-balik hati manusia, jadi bermohonlah kepada Allah agar selalu menetapkan hatimu kepadaNya saja.

Selain itu jalin hubungan yang akrab dengan Allah setiap hair, selalu 'ngobrol' dan bicara pada Allah dalam urusan kecil sekali pun.

Juga ingatlah, Allah itu lebih dekat dari urat lehermu, segala bisikan hati yang terhalus sekalipun, Dia mendengarnya.  Dia pasti tahu kerinduanmu dan Dia pasti menjawabnya, dan menuntunmu untuk kembalilah dekat denganNya.

Semoga jawaban ini membantu ya.  Salam Manis.

Senin, 29 Juni 2026

Memperbaiki Hidup Dengan Mengubah Pola (2)

 Kejadiannya sehabis ngrasani teman sama teman-teman, lalu tiba-tiba saja aku melihat (Allah yang memperlihatkannya padaku) bila ada pola yang nempel di setiap orang, yang membuat orang-orang itu mengalami segala kejadian di dalam hidupnya.  Namun pola itu bisa diubah dengan kesadaran orang itu sendiri dan dengan kehendak Allah tentunya.  Lalu kulihat juga ada 'manusia tanpa pola'.

Di tulisan kemarin aku bercerita tentang orang yang polanya 'nolak rejeki' yang membuat orang tersebut mengalami kesulitan demi kesulitan di dalam hidupnya.  Padahal orangnya sendiri sangat menginginkan kemudahan. Siapa sih yang mau kesulitan 'kan?  Tapi dalam hidup ini apa yang kita mau tidak akan datang bila 'setelan' atau pola kita tidak selaras dengan itu

Bukan hanya orang yang tidak pandai bersyukur yang polanya 'menolak rejeki', ada orang yang merasa sudah bersyukur, tapi kenyataannya tidak.  Misalnya orang yang hobi bertengkar dengan pasangannya, itu pun pola 'menolak rejeki'.  Pasangan pun rejeki dari Allah, bertengkar terkadang karena kurang menerima pasangan apa adanya, yang artinya ya tidak bersyukur.  Lalu kariernya jadi tersendat-sendat deh.

Bersyukur itu adalah menerima segala hal di dalam hidup tanpa komplain, menerima seutuhnya, menerima bulat-bulat.

Ada juga orang yang polanya 'menolak cinta' , dikasih Allah pasangan yang baik, tapi hatinya selalu terikat pada orang lain, lalu akibatnya dipisahkan Allah dengan pasangannya itu.  Harus disadari bila segala bentuk cinta pada hakekatnya adalah cinta Allah kepadanya, hargai Allah, maka hidup akan berkelimpahan cinta.

Ada orang yang polanya 'tidak mau berubah', dia melakukan kebiasaan yang sama dari waktu ke waktu, hidupnya seperti jalan di tempat.  Menghadapi orang seperti ini, kamu tidak bisa memotivasinya untuk berubah' menjadi lebih baik, didoakan saja.

Nah, kadang saat ingin mengubah kehidupan menjadi lebih baik, ada jebakan yang cukup halus dan sulit dilalui.  Jebakannya ada di 'perasaan yang paling kuat'.  Misal ingin kariernya berkembang, lalu mengubah pola pikir dan kebiasaannya menjadi lebih positif, tapi perasaan yang paling kuat adalah nelangsa karena teman-teman sudah melaju, aku kok tetap disini, maka hidup akan mengikuti perasaan yang paling kuat ini.

Jebakan perasaan yang paling kuat ini powerful banget.  Jadi musti gimana dong?

Mengubah pola itu juga berarti mengubah perasaan yang paling kuat melalui perubahan kesadaran.  Kesadaran bahwa kita ini makhluk spiritual, bukan makhluk materi,  Sadari bila segala kejadian yang menimpa hidupmu adalah perjalananmu untuk lebih mengenal dan lebih dekat dengan Allah.  Maknai setiap tahap kehidupanmu dari 'isi'nya , bukan bungkusnya, maksudku ada pesan Tuhan yang tersembunyi dibalik peristiwa, tangkap pesanNya.

Biarkan Dia menata hidupmu, terima segalanya sebagai tanda cintaNya.  Syukuri setiap hal dengan meniadakan komplain hingga nol.

Nah, pada suatu titik, dengan kehendak dan kasih sayang Allah, kamu bisa menjadi 'manusia tanpa pola'.  Bagaimana itu bisa terjadi?  Ketika Tuhan sudah 'masuk' sepenuhnya di dalam hidupmu, lalu kamu menjadi tidak terikat lagi pada sebab-akibat.  Ketika orang lain musti berusaha keras meraih sesuatu, itulah sebab-akibat, yang kamu sudah tak perlu lagi melaluinya.  Hidupmu sudah di luar aturan main di dunia manusia, sementara kamu masih berwujud manusia.

Bagaimana?  Tertarik?  Ehm ... bila kamu masih tertarik pada kondisi diluar sebab-akibat, maka kamu tak akan kunjung sampai ke sana.  Tertariklah pada Allah, terpesonalah pada Allah, serahkanlah pada Dia bagaimana saja hidupmu ini.

(selesai)


Jumat, 26 Juni 2026

Memperbaiki Hidup Dengan Mengubah Pola ( 1 )

 Bila ingin hidupmu berubah menjadi lebih baik, ubah hambatan yang menahanmu di posisimu saat ini.  Karena ternyata kehidupan seseorang itu ada "pola"nya.  Bila mau keluar dari pusaran masalah kehidupan yang seringkali melilitmu, maka polanya juga harus diubah. 

Misal kamu selalu terperangkap dalam hubungan percintaan yang toxic, atau masalah keluarga yang itu lagi dan itu lagi, atau masalah finansial yang makin lama kok makin sulit. Apapun masalahnya, itu cuma mengikuti pola di dalamnya kamu. Jadi ya rombak polanya agar kehidupan membaik. 

Setiap orang punya pola masing-masing, termasuk kamu dan aku. 

Aku mau kasih contoh yang mudah dipahami, tentang masalah finansial. 

Ada seorang teman sekolah yang sekarang kondisinya sedang jatuh dalam kesulitan. Kusebut saja dia dengan S. Dan aku tahu apa yang membuatnya berada di posisi itu, yaitu dia mempertahankan pola yang selama ini dia jalani. Apa pola yang dia pegang? 

Yaitu pola "menolak keberlimpahan" atau "menolak rejeki". 

Ceritanya, pas awal-awal ketemu dulu, aku bagi-bagi daster buat teman-temanku cewek, termasuk S.  Lalu tak berapa lama dia komentar di grup WA, katanya dia nggak suka pakai daster, dia sukanya pakai piyama.  Waah, aku jadi merasa gimana gitu deh. 

Lalu suatu saat aku mau ngurangi baju di lemari, aku fotoin satu-satu dan aku tawarkan ke grup sekolah itu, barangkali ada yang mau. Banyak yang mau, sampai semua habis. S mau salah satu baju yang aku tawarkan, lalu aku kasih. Tak lama dia komentar di grup bila bajunya kegedean.

Sudah jelas 'kan itu adalah pola menolak rejeki. Dengan reaksinya yang seperti itu aku jadi enggan ngasih baju dia lagi walau orangnya minta. 

Oh ada satu lagi. Pernah aku mengundang teman-teman di Ngantang ke kebunku di Malang Selatan plus rekreasi ke pantai Gua Cina rencananya. Tapi rencana berubah karena ada pantai yang lagi populer yang namanya pantai Teluk Penyu.  Nah, setelah itu dia sering 'ngundat-undat'... duh apa ya bahasa Indonesianya, oh, mengungkit-ungkit, kenapa kok gak jadi ke Gua Cina, kenapa ke Teluk Penyu. Padahal menurutku Teluk Penyu pantainya lebih indah dinikmati.  Padahal ke Teluk Penyu juga aku yang bayarin tiketnya. Jadi S ini orangnya cukup njengkelin dan kurang berterimakasih. Yang auto bikin orang males berbuat baik ke dia. 

Seperti itulah pola 'menolak rejeki' yang kalau tidak diubah dengan kesadarannya sendiri, ya hidupnya jadi muter-muter dalam permasalahan yang sama. 

S musti menjadi orang yang mudah berterimakasih pada orang yang berniat baik kepadanya. Renungkan, manusia saja malas berbuat baik pada orang seperti ini, bagaimana dengan Tuhan ya? 

Beda masalah tentu beda polanya. Mau contoh lain? Atau mau diterawang Innuri tentang masalah kamu? 

Sampaikan di komentar ya. 

( bersambung ) 


Jumat, 19 Juni 2026

Melihat Wajah Allah (2)

Masih di pengalaman khalwat tahun 2024, saat aku melihat wajah Allah dari pengertian yang berbeda. 

Juga masih tentang kebiasaanku setiap hari meditasi dan zikir di lantai dua yang masih berantakan. 

Dari lantai dua itu aku bisa melihat pemandangan indah, gunung, danau, pepohonan, juga langit yang selalu berubah setiap detiknya. 

Namanya gunung Selokurung, gunung yang memberiku pengajaran ini.   Pernah sewaktu aku mengagumi keindahannya, gunung itu mengingatkan aku pada suatu ketika di masa remajaku, seseorang pernah menuliskan namanya dan namaku di sana. Ya, aku dan dia pacaran. Sejenak aku terbawa dalam kenangan dan berterimakasih kepada Allah untuk masa remaja yang indah.  Walau hubungan itu berakhir, aku mensyukurinya karena Allah jua yang menuliskan takdir itu. 

Tiba-tiba saja ada sebuah pengertian yang halus sekali, sebuah kesimpulan hati bila "Allah hanya berubah wujud".  Penjelasannya, bila kekasih masa remajaku adalah A, kemudian kekasih masa dewasaku adalah B, itu bukan berarti kekasihku berbeda, itu hanyalah Allah yang menyamar menjadi A, kemudian menjadi B. Allah hanya berubah wujud, kekasih sejatiku ya Allah itu.  Atau dengan kata lain, Allah sedang memahamkan aku, bila Dia ingin hadir sebagai kekasih.  Bukan Dia yang ditakuti karena punya neraka, Dia yang Maha Menghukum, yang untuk meraih surgaNya musti ngumpulin pahala bertumpuk-tumpuk.

Kekasih itu berarti yang terdekat dan terintim.  Saking dekatnya, kata orang Jawa 'sigarane nyowo' atau belahan jiwa, bagian tak terpisahkan dari diri kita ini. Sedangkan Allah malah nyawa kita sendiri, sudah melebihi kekasih, Dia adalah diri kita sendiri. 

Kekasih itu selalu tahu apa pun yang kita inginkan tanpa mengatakannya.  Apa pun yang tersirat di hati kita, yang terhalus sekalipun, bahkan bisikan yang diri kita sendiri tak mendengar, Allah mendengar. 

Maka maukah kita menerimaNya sebagai Sang Maha Kekasih? 

Bahkan Dia amat paham kebutuhan hambaNya, type kekasih seperti apa, maka seperti itulah dia menjelma. Ketika aku membutuhkan figur A, Dia pun mewujud, lalu ketika kebutuhanku berbeda, Allah 'ganti wujud' menjadi B. 

Apakah masih susah dimengerti? 

Karena diri sudah mengalami bila yang terlihat adalah Allah semua, orang datang dan pergi juga Allah. Jadi tidak ada yang benar-benar pergi. Aku tidak pernah kehilangan kekasih, hanya berubah tampilan, hakekatnya Allah.  Dialah Sang Maha Kekasih. 

Ketika kamu sudah memposisikan Allah sebagai kekasih, kamu otomatis merasa tak perlu berdoa minta ini itu, termasuk berdoa minta perlindungan, karena kamu yakin Sang Maha Kekasih pasti tahu semua harapanmu tanpa kamu mengatakannya. Sang Maha Kekasih pasti memenuhi semua kebutuhanmu tanpa kamu memintanya. Sang Maha Kekasih pasti membahagiakanmu dengan segala cara. Keyakinanmu utuh dan bulat, tak tergoyahkan. 

Inilah makna terdalam dari ucapan basmallah yang mengawali Surat di dalam Al Quran, atas nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itu adalah sebuah bisikan cinta dari penciptamu yang melamarmu menjadi kekasihNya. Sambutlah, jadikan Dia kekasih hatimu satu-satunya. Jangan sampai Dia merasa cintaNya bertepuk sebelah tangan.

Apakah ada pertanyaan? Yang introvert boleh inbox saja kok, hmm... banyak pembaca Innuri blog yang introvert ternyata. 


Kamis, 18 Juni 2026

Melihat Wajah Allah ( 1 )

Padahal melihat wajah Allah itu sudah bisa dialami di dunia ini (Al Baqarah 115) tapi entah mengapa ajaran yang paling terkenal adalah : "Kenikmatan yang paling tinggi di surga adalah melihat wajah Allah." Ya berarti nunggu mati dulu dong? Makanya tak banyak orang menempuh jalan ini, jalan untuk bisa melihat wajah Allah di sini, di dunia ini. 

Inilah kebenarannya, tak usah menunggu mati. Semasih hidup di dunia ini pun bisa melihat wajah Allah dan itulah kenikmatan tertinggi, keindahan terindah, kebahagiaan terbahagia. 

Ketika melihat semuanya Allah, sudah tak melihat makhluk lagi. Itu luar biasa, tak terdefinisikan rasanya.  Sampai sering nangis karena terharu akan keindahanNya. Perasaan yang susah dilukiskan dengan kata-kata.

Kalian yang menganggap Innuri salah atau sesat dalam mengartikan "melihat wajah Allah", aku berani bilang kalian pasti belum pernah melakukan khalwat 40 hari.  Nah, ketimbang nyalah-nyalahin orang, coba deh lakukan seperti yang Nabi Muhammad lakukan, khalwat 40 hari full, baru boleh menilai sesat atau tidaknya Innuri. 

Awalnya melihat 'semuanya Allah' itu waktu melakukan khalwat 40 hari yang pertama di tahun 2024. Pernah aku tulis, maka yang aku tulis sekarang yang belum pernah saja ya.

 Awalnya aku tidak berani menuliskan ini, terlalu susah dipahami orang umum dan terlalu rahasia.  Lalu aku bertemu Gus Mukhlason Rasyid di Youtube, yang membuat aku punya keberanian bercerita sampai sedetail sekarang. Ternyata itu penting  untuk menjadi referensi orang lain yang pernah mengalami atau pun belum. 

Saat khalwat di 2024 itu aku sering duduk di lantai dua rumah Ngantang yang masih berupa strukturnya saja.  Dengan tumpukan bata ringan yang aku pakai bersandar.  Aku melakukan zikir dan meditasi di situ. Dari situ aku juga bisa melihat jalan ke arah rumah masa kecilku. 

Terbayang di benakku, suasana rumah, kamarku, benda-benda kesayangan, majalah, buku, kaset, loteng tempat aku menikmati senja dengan memandang gunung dan pepohonan.  Banyak hal manis aku alami di sana, membentuk kenangan yang kurindukan.  Walau rumahnya sudah berubah, kenangan itu masih hangat seperti baru terjadi sore kemarin. 

Lalu tiba-tiba saja aku melihat itu semua Allah! Ada kesimpulan batin yang amat jelas "Allah menjelma menjadi apa saja untuk membahagiakanku." Kamarku, tumpukan majalah Gadis kesayanganku, lemari ku, jendela itu, semuanya. 

Aku sempat ragu dengan kesimpulan ini, sampai aku menelepon suamiku dan suamiku membenarkan apa yang aku rasakan. Kami berdua khalwat bareng, dia khalwat dalam keramaian. Dia di rumah Pakis, aku di Ngantang. Pelajaran yang kami terima sama. 

Aku mencari dan mencari jawaban atas pengalamanku ini. Lalu kutemukan di channel Pak Hans "Eling lan Awas" yang saat itu malah membahas kitab Tao te Ching. Aku bersyukur sekali mendapat jawaban di situ.  Berarti apa yang aku alami benar, pernah dialami oleh manusia bijak di masa lalu, bahkan lama sebelum masa Nabi Muhammad. 

Jawaban di Surat Al Baqarah 115 itu belum terpikirkan olehku saat itu. Ayat yang jarang dibahas oleh para ulama, entah mengapa, padahal jelas sekali maknanya, tak perlu tafsir yang belibet.

"Kepunyaan Allahlah Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. " 

Jadi wajah Allah itu ya semua ciptaanNya ini.  Orang yang bilang penafsiran Innuri sesat pasti belum pernah khalwat 40 hari.  Dan sebenarnya Innuri bukan menafsirkan, ayat sejelas itu tak perlu ditafsirkan. 

Kemanapun kamu menghadap, atau dengan kata lain, apa pun yang kamu hadapi, apa pun yang kamu lihat, itulah wajah Allah. Perwujudan Allah, wujude Gusti Allah kata Gus Son. Aku dan kamu itu adalah wujudnya Allah, tapi bukan Allah dan jangan ngaku-ngaku Allah. 

Allah yang sebenarnya ya tidak bisa dilihat mata fisik.  Wujudnya Allah dengan Allah itu berbeda.  Seperti wujudnya Innuri dengan Innuri itu beda, Innuri yang sebenarnya bukanlah fisik yang menua dan bakalan musnah ini.  Innuri yang sebenarnya adalah ruh / jiwa yang akan tetap hidup meskipun fisiknya tiada. 

Wujudnya Allah adalah alam semesta ini yang bisa runtuh, tetapi Allah abadi. Ruh manusialah yang bisa menyaksikan Allah. Sedangkan mata fisik manusia hanya bisa menyaksikan wujudnya Allah. 

Paham kan? 

(bersambung) 

Rabu, 17 Juni 2026

Cara Hidup Tanpa Takut dan Khawatir (3)

 "Mbak Innuri, mungkin bagi orang yang sudah tak punya masalah, bisa menjalani seperti yang mbak Innuri tulis. Tapi bagi orang yang masih banyak masalah seperti saya, bagaimana caranya? " 

Itu adalah pertanyaannya, jawabannya boleh disimak di bawah ini. 

Pada umumnya orang, akan beranggapan bila hidupnya tak ada masalah, maka bisa bahagia.

Misal, kalau tak punya hutang aku akan bahagia. Kalau anak-anak sudah selesai kuliah semua,  aku bahagia. Kalau istriku sembuh dari sakitnya aku bahagia, dll. 

Bahagia yang mensyaratkan kondisi tertentu itu bukan bahagia namanya, itu senang, atau bahagia yang sementara. 

Polanya seperti ini 'kondisi di luar diriku lah yang membuat aku bahagia'. 

Begitu kan?

Pada kenyataannya itu terbalik, tapi tak banyak orang yang tahu. Kondisi di dalam yang bahagialah yang membuat kondisi di luar membaik. Atau dengan kata lain, kondisi di luar mengikuti apa yang ada di dalam batinmu itu. 

Itulah makna dari 'bila kamu bersyukur maka Allah akan menambah nikmatmu.' 

Justru memperbaiki yang di dalam itu yang lebih penting.  Soal yang di luar Allah yang urus, bukan diri kita yang lemah ini. 

Bagaimana memperbaiki yang di dalam? Loh 'kan sudah Innuri tulis di tulisan sebelumnya, tulisan dengan judul yang sama episode 1 dan 2. Tulisan lainnya di blog ini juga mengandung tujuan itu.  Dicari saja di blog dan dibaca lagi ya. 

Nah, bahagia yang kamu dapat nanti adalah bahagia yang paten, bahagia yang sumbernya dari kedalaman batin yang paling dalam. Lebih tepat disebut suka cita atau dalam bahasa stoic disebut eudamonia. 

"Itu kan semacam menipu otak, kondisi banyak masalah, tapi dibikin happy saja. " Pernah kudengar komentar seperti ini. Jawabannya bisa panjang. nanti di tulisan tersendiri saja ya, ingetin bila Innuri lupa. 

Baik. Aku tambahkan satu lagi, yaitu kamu musti mencintai Allah.  Itulah yang membuat hidupmu selalu sukacita, karena selalu ditemani oleh Dia yang mencintaimu dan kamu cintai. Kamu tak pernah merasa sendiri, karena selalu ada Dia. Tak pernah sedih, karena selalu dibahagiakanNya. 

Dan satu lagi (dua dong ya), kamu harus kehilangan semua berhala di hatimu. Apa sih berhala di hati itu? Segala sesuatu yang membuatmu galau, itulah berhalamu. Ketika kamu percaya penuh (beriman) bahwa Dia mengendalikan segala urusanmu dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya, kamu telah menuhankan Allah dan menghambakan persoalan, kamu kehilangan berhalamu. 

Ada yang nanya lagi? 

Senin, 15 Juni 2026

Cara Hidup Tanpa Takut dan Khawatir (2)

 Apa yang akan aku sampaikan di bawah ini rentan untuk didebat dengan berbagai argumen dan dalil, bahkan rentan dituduh kafir musyrik sesat. Aku tak apa-apa, aku maklumi karena yang mendebat belum pernah mengalami. 

Tapi aku harus mengatakannya, teristimewa bagi kalian yang pernah atau bakalan mengalami kejadian yang mirip, maka kalian punya referensi pengalaman orang lain, agar tidak bingung atau takut tersesat. 

Pengalaman ini aku alami saat khalwat 40 hari di 2024, semakin nyata dan semakin dalam setelah mengalami insomnia yang aku ceritakan di blog dan di Fb. 

Pengalaman itu menjelaskan tentang wujudnya Allah tapi bukan Allah. Yang bila diambil kesimpulannya beginilah penjelasanku. 

***  Allah menjelma menjadi apa saja untuk membuat aku dan kamu bahagia. 

Allah juga menjelma menjadi apa saja dan siapa saja untuk melindungi kamu dari bahaya dan kehancuran. 

Masa lalu masa kini dan masa depan itu simultan, karena Allah juga menjelma menjadi waktu. 

Kamu dan aku abadi, karena aku dan kamu tersusun dari cinta kasih Allah. 

Bila kamu menyadari semua ini, maka kamu bakalan lupa caranya gelisah dan khawatir. 

Allah adalah masa lalu, masa kini dan masa depan, kamu dan aku selalu terayun-ayun dalam cinta kasihNya. Maka kamu tak akan sempat mengkhawatirkan ini itu, kamu menikmati hidup ini dan kamu bahagia menjalaninya. ***

Bila aku ceritakan bagaimana ketemunya aku dengan pengertian yang aku uraikan di atas, panjang sekali ceritanya. Barangkali di judul yang lain saja ya. 

Ada pertanyaan? 

Cara Hidup Tanpa Takut dan Khawatir (1)

 Apakah kamu ingin hidup tanpa rasa takut, sedih dan khawatir? 

Bila ya, boleh simak tulisanku. Aku akan sampaikan dua cara. 

Cara pertama. 

Kamu harus sadari bila di dalam dirimu Allah memberikan 2 hal yang berpasangan. Sering disebut di dalam Al Quran, Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan. Dalam Taoisme disebut yin-yang. Contohnya  panas-dingin, cemas-harap, ada kebenaran ada kepalsuan, ada kejujuran ada kebohongan. Semua di alam ini berpasangan. 

Setelah itu sadari lagi bila setiap perasaan munculnya dari dua hal, ego (hawa nafsu) atau Tuhan.   Itu sesuai dengan Al quran yang mengatakan Allah mengilhamkan ke dalam jiwa dua jalan. 

Ego mengarah pada kesedihan, kerusakan dan penderitaan, Tuhan mengarah pada kebahagiaan. 

Maka kenali lagi apa yang muncul di dalam hatimu itu nanti mengarah ke mana, jenis yang merusak atau yang membahagiakan. 

Bila jenis yang merusak, maka perlu disadari lagi lalu abaikan, kata orang Jawa 'ojok direken' alias jangan dihiraukan, cuekin, dia akan minggir sendiri sehingga yang dominan adalah yang membahagiakan. 

Ikuti terus jalan Allah, walau terasa berat dan sakit, jalan Allah pasti membawa pada kebahagiaan sampai akhirnya kamu tidak ada rasa sedih, takut dan khawatir lagi 

Itu berarti kamu harus pandai-pandai memilah isi di jiwamu, mana yang harus diikuti mana yang diabaikan saja. 

Nah, kadang sesuatu yang merusak itu menyamar menjadi sebuah kebaikan, kepekaanmu diuji di sini, namun Allah selalu menuntunmu asalkan hatimu selalu terhubung denganNya.

Semoga bisa dipahami ya. 

(bersambung) 

Jumat, 12 Juni 2026

Penolakan Hanya Menghasilkan Kesulitan

Malam ini aku begitu merasa bersalah telah menciptakan kesulitan bagi seorang Bapak sopir yang telah mengantar  barang elektronik ke rumah Ngantang.  Lalu aku mencoba melihat jernih masalah dengan menganalisa kejadian di dalam batinku sendiri, dan betapa menakjubkan ketika aku saksikan interaksi pikiran perasaan antar manusia. 

Ceritanya kami membeli beberapa barang elektronik, diantaranya mesin cuci, kulkas dan televisi untuk dikirim ke rumah Ngantang.  Pembelian di tgl 30 Mei 2026, kami minta dikirim tgl 7 Juni.  Pihak toko sudah bilang, pengiriman dilakukan oleh rekanan karena lokasinya di luar kota, jadi kami dikenakan ongkos kirim yang setara nyarter mobil pikep.

Saat pengiriman, aku sendirian di rumah, jadi aku minta tolong Pak tukang buat bantu mengangkat barang-barang itu. Kulkas di lantai satu, langsung dibuka dan aku cek kondisi normal dan baik.  Televisi di lantai dua, tetap di dalam kardus dan aku juga tidak minta dicek (salahnya aku), mesin cuci di lantai tiga, aku juga tidak ngecek karena percaya saja, tapi ternyata telah dibuka sama sopir dan pak tukang. 

Nah, tgl 11 Juni malam, suamiku dan adik iparku membuka televisi dan menyetelnya, ternyata ada retak di bagian kiri atas.  Retaknya baru kelihatan ketika televisi menyala.  Dipotret suamiku agar bisa komplain ke toko.  Tapi malam itu aku tidak bisa menghubungi customer service toko.  Kesalahan yang aneh, karena nomornya sudah benar, aku cek dua kali, aku sudah benar mengetik nomor WA itu, tapi tidak bisa dihubungi.  Maka aku menghubungi si bapak sopir yang mengantar pada 7 Juni kemarin.

Bapak sopir itu menyalahkan kami, intinya dia membela diri dan merasa sudah melakukan prosedur pengiriman dengan benar.  Dia memintaku untuk tidak lapor ke toko dan aku iyakan saja karena mungkin bapak ini takut disalahkan.   Kemudian bapak ini menelepon lagi, agar aku lapor ke asuransi saja, yang kemungkinan akan mendapat ganti 80% dari nilai barang.  Waah, kupikir rugi jutaan dong, dan ini bukan kesalahan kami.

Maka keesokkan harinya, alias hari ini tgl 12 Juni, akupun melapor ke toko, menemui costumer service dan menjelaskan kronologinya.  Kata si mbak CS, nanti bakalan dapat ganti.  Alhamdulillah.  Kupikir masalah selesai.

Ternyata masalahnya ganti, si bapak sopir kirim pesan WA untuk ketemuan sama aku.  Kerasa banget getaran rasa kecewa, sedih, galau si bapak sopir.  Salahnya jadi orang kok peka gini (Oh Allah, ampuni) Nah, disinilah aku merasa bersalah telah menjebloskan orang dalam kesulitan, padahal bukan salahku juga.  Tapi aku merasa jadi orang berhati kejam, oh!

Aku diam mengendapkan pikiranku agar bisa memandang jernih persoalan ini.  

Ternyataaa...

 Itulah aksi reaksi yang terjadi di dunia interaksi antar manusia.  Pelajaran pentingnya adalah, penolakan hanya menghasilkan kesulitan.  

Si bapak sopir menolak salah (mekanisme defensif proyeksi), melimpahkan kesalahan pada pihakku.  Terjadi mekanisme defensif pula di bawah sadarku untuk tak peduli dengan nasib si bapak yang enak saja nyalah-nyalahin dan menimbulkan kerugian pada orang lain.  Di kasus ini, aku dimenangkan walau aku tak merasa menang, malah merasa dikejar-kejar sama si bapak sopir.

Itulah kejadian tak kasat mata dibalik yang terjadi di depan mata.  Kalau terjadi di dalam mata itu namanya kelilipan ya.

Bisa beda cerita kalau si bapak mau menerima informasi dari orang lain alias mau dengerin orang lain dan berusaha membantu agar win-win solution.  Kalau mau win sendiri, malah jadi lose.  Nah !

Pikiran itu menular, membentuk proyeksi.  Seperti si bapak sopir yang mikirnya cenderung ngeles, gak ada empatinya, nular ke aku, jadi aku juga tidak berempati padanya.  Aku yang tadinya sempat mikirin nasibnya, malah jadi cuek.

Jadi kesimpulan dari ceritaku ini adalah: pertama,  penolakan hanya menghasilkan kesulitan, jadi terima apa pun.  Kedua, jangan mau win sendiri ya. Ketiga, pikiran itu menular membentuk proyeksi, jadi berhati-hatilah dengan pikiranmu.

Btw, Win itu nama temanku, dipanggil Mbah Win sejak masih kuliah, gara-gara peran dukun di drama waktu maba ... haha.

Lima Cara Menyikapi Situasi Sulit.

 Berurai air mataku menyaksikan mahasiswa demo di televisi, rasanya seperti melihat anak-anakku sendiri menyuarakan kepedihan hati rakyat.  

Aku jadi mikir, sikap batin seperti apa yang paling pas menghadapi situasi saat ini? 

Pertama musti tenang, Allah selalu membersamai, jadi merasalah dibersamai Allah. Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Dengan hati yang tenang, mudah terkoneksi dengan petunjukNya musti ngapain. Begicu ya!

Kedua harus disadari siapapun presidennya, penguasa Indonesia tetap Allah, sutradara sekaligus penulis skenario Indonesia yo Dia lagi Dia lagi, tetap Allah. Bahkan bagi orang-orang khusus yang sudah bisa melihat kesejatian, semuanya Allah, aku, kamu, Indonesia dengan segala dramanya, dunia dengan segala leluconnya. Semua itu Allah, bagi orang-orang spesial itu, batinnya sudah gak bisa goyah oleh peristiwa.

Ketiga. Terima apapun, karena semua terbuat dari kasih sayang Allah. Menolak sekecil apa pun akan membuat situasi semakin buruk.  Itulah makna bersyukur itu, setiap peristiwa, kata yang pertama terucap adalah 'Alhamdulillah' dan Allah yang akan menambah nikmatnya.  Menerima dengan suka cita setiap apa pun yang telah, sedang dan akan terjadi.

Keempat. Pahami filosofi bungkus dan isi.  Bungkus tak selalu mencerminkan isinya.  Kita manusia tidak tahu isi didalam bungkus kesempitan dan penderitaan, terima dulu nanti baru ketemu hakekatnya.  

Kelima, Innuri lupa ... haha. Sudah terpikir saat mau tidur, tapi malas menuliskannya, jadi lupa deh.

Tertulis di Al quran, bersama kesulitan ada kemudahan, jadi berbahagialah.  Apa ini yang kelima ya? Atau apa ya yang kelima?  Oh, mungkin soal jangan tenggelam dalam situasi, coba lihat situasi ini dari angkasa, jiwamu yang mengangkasa.  Jadilah penonton dari drama kehidupanmu sendiri, agar bisa melihat jernih.  

Semoga tulisan ini membantu ya.


Rabu, 10 Juni 2026

Insomnia

 Karena suatu sebab, aku berada di rumah terpencil di tengah kebun sendirian.  Berhubung lama nggak uzlah (menyendiri), maka aku sempat mengalami insomnia di tiga hari pertama dan itu pelajaran banget.

Pelajaran pertama.  

Biasanya aku menyalahkan kolesterol bila susah tidur, menganalisa aku habis makan apa ya?  Itu kalau susah tidurnya pas kondisi normal, maksudku ada suami di rumah.  Berhubung susah tidurnya pas sendirian, maka aku menganggap ini karena tidak ada suami di sampingku.  Coba cermati kalimatku di atas :

"Berhubung lama nggak uzlah (menyendiri), maka aku sempat mengalami insomnia di tiga hari pertama."

Aku menyalahkan 'lama tidak uzlah' , lalu menyalahkan kesendirian sehingga rasa takut menimbulkan ketegangan di syaraf yang membuatku susah tidur.

Itu semua adalah hubungan sebab-akibat yang masuk akal, itu bila dilihat dari kacamata orang kebanyakan.  Akan tetapi bila melihatnya dari kacamata spiritual, itu sudah menyimpang dari tauhid alias musyrik.  Kok bisa?

Karena satu-satunya sebab dari segala yang terjadi adalah Allah, itu adalah salah satu makna keesaan Tuhan.  Bila menjadikan makhluk sebagai penyebab, maka ini sudah menyalahi tauhid.  Ambil contoh yang populer, kamu berobat ke dokter, lalu sembuh, maka kamu menganggap dokter dan obat yang kamu minum itulah yang menyembuhkan, padahal di dalam Al Quran dikatakan Allahlah yang menyembuhkan.  Jadi kamu sudah menyalahi tauhid ketika menganggap obat adalah penyebab kesembuhanmu, alias kamu sudah musyrik.

Paham 'kan, Sayang?  

Bahkan aku sendiri pun harus dipahamkan dengan pengalaman.  Karena menganggap ketegangan syarat adalah penyebabnya, maka aku melakukan relaksasi dan meditasi, tapi hasilnya aku tetap tidak bisa tidur,  nah! 

Ketika aku insomnia dan menyalahkan kesendirian, ketegangan syaraf atau kolesterol sebagai penyebabnya.  Sudah musyriklah aku ini.  Inilah pelajarannya.  Harus segera disadari, bertaubat dan kembali ke Allah, bersyahadat lagi biar jadi muslim lagi.

Alhamdulillah akhirnya aku bisa tidur, walau di atas jam 12 malam.  Bagiku yang biasa tidur di bawah jam 9 malam, ini sudah insomnia dan membuat kepalaku pusing.

Pelajaran Kedua.

Di hari kedua kesendirianku, aku sudah paham bila Allahlah yang membuatku tidur, bukan penyebab apa pun.  Maka aku berangkat tidur dengan yakin sekali bila aku bakalan segera pulas.

Tapi aku masih belum bisa tidur, sampai larut malam, padahal berbaringnya sudah sejak habis isya!  Tuh bayangkan berapa jam aku glundang-glundung dan gelisah di atas tempat tidur, sebentar lihat Hp, buka Fb, IG, blog, Kwikku, beralih buka YouTube, lihat Gus Son, Pak Hans dan menyetel musik klasik Ernesto Cortazar.  Relaksasi dan meditasi.  Tetap tidak bisa tidur!

Apa sih ya Allah pelajarannya?  tanyaku pada Allah berulang-ulang.

Ternyata inilah pelajarannya.  Bila aku bersama suami, aku merasa nyaman dan aman, perasaan itu kayak sudah nyatu di jiwaku, pokoknya ada suami maka auto tenang dan tidak overthinking.  

Coba pikir.  Aku merasa tenang oleh makhluk yang hakekatnya tidak ada dan tidak memiliki kekuatan apa-apa, sedangkan bersama Allah yang selalu ada dan Maha Melindungi, yang Maha Dekat,  aku malah merasa gelisah.  Bukankah ini kebalik?  Bukankah semestinya aku merasa tenang bila bersama Allah melebihi ketenanganku bersama makhluk?  Bukankah ini berarti aku merasa makhluk lebih hebat dari Allah?  Bukankah ini berarti ketika aku bersama makhluk, aku menganggap makhluk itu ada padahal aslinya tidak ada?  Bukankah ini berarti aku menganggap ketika bersama makhluk, posisi Allah hanya sebagi 'pelengkap penderita' ?

Ohalah!  Rupanya aku memang pantas dihajar dengan insomnia yang membuat kepalaku pening.  Setelah semua itu aku sadari, Allah pun membuatku tidur setelah lewat tengah malam.

Pelajaran Ketiga.

Setelah dua pelajaran itu aku ambil, aku yakin sekali bakalan bisa tidur di malam ketiga, ternyata sampai malam menjadi sunyi sepi pun aku belum juga bisa tidur,  Sudah tidak terdengar kendaraan lewat di jalan propindi di depan sana, sudah tidak terdengar suara musik dari orang hajatan di kejauhan sana, bahkan bunyi binatang pun sudah tidak kedengaran lagi.  Kepalaku pusing tak karuan.  Sampai aku protes pada Allah.

"Ya Allah, bukankah untuk bisa membuatku tidur itu mudah saja bagiMu?  Tinggal 'kun' dan tidur, mengapa tidak Kau lakukan padaku?  Mengapa Kau siksa aku dengan kepala yang pusing begini?  Besok aku musti bangun, ke pasar dan nyiapin makanan buat tukang, tolong tidurkan aku ya Allah."

Aku sampai nangis memohon-mohon pada Allah, sampai menghabiskan tisu berlembar-lembar.

Tubuh yang lelah, kepala yang pening, mata yang pedas, membuatku terkulai lemas di titik terendahku malam itu.  Lalu kurasakan ada pijatan lembut di keningku, nyaris seperti belaian, seperti yang suamiku lakukan bila aku minta ditemani tidur.  Jadi tidur kami tidak sama jamnya, dia tidurnya jam 11 malam, tapi aku sering minta dininabobokan duluan, setelah aku tidur, dia bangun lagi melanjutkan nonton tivi atau ngapain aku tak tahu.  Ya istri yang aleman manja tak karuan aku ini.

Aku terus merasakan belaian itu sampai kepala dan mataku merasa rileks dan nyaman sekali.  Dan siapa sebenarnya yang memijatku malam itu?  Tanganku sendiri! yang bergerak sendiri tanpa aku sadari, karena aku sudah terlalu lemas untuk menggerakkan tangan.  Allahlah yang menggerakkan tanganku ini sampai aku merasa Allahlah tangan ini, Allahlah aku ini.  Aku merasa sedekat-dekatnya dengan Allah, aku merasakan ketiadaan, wushul di level yang lebih dalam dari yang pernah aku alami sebelumnya.

Anehnya, badanku tiba-tiba jadi segar, mataku melek, aku melihat kipas angin di samping tempat tidurku, itu kipas angin hadiah. Ngantang yang dingin tidak perlu kipas angin, jadi dia hanya diam saja di situ.  Dan aku melihat kipas angin itu diposisikan di tempat ini dengan perencanaan Allah mulai dulu, lalu aku melihat kipas angin itu Allah.  Aku melihat seluruh ruangan ini Allah.  Semua tiada, yang nyata hanya Allah.

Akupun menangis lagi menyadari semua ini, aku kenal siapa yang memanjakan aku selama ini, lewat suamiku, lewat rumah, kebun, mobil, lukisan, gunung, senja, apa pun dan siapapun yang membuatku bahagia dan menikmati hidup ini.  Semua itu Allah, Allah menjelma menjadi apa saja untuk membahagiakanku, bahkan Allah menjelma menjadi wujudku ini untuk membahagiakanku.  

Aku ingat, orang-orang mengalami keajaiban spiritual lewat sakit keras atau mati suri, ketika tubuh fisik dilemahkan sedemikian rupa, maka jiwa menjadi nyata dan hadirlah pengalaman yang hanya bisa diakses oleh jiwa.  Sedangkan aku, tubuh fisikku dilemahkan oleh insomnia, maka Allah hadirkan pengalaman dan kesadaran itu.

Puasa juga bentuk pelemahan fisik yang semestinya membuat jiwa lebih kuat, akan tetapi orang banyak yang salah dalam menyikapi puasa, saat berbuka menjadi momen memuaskan nafsu, sehingga penguatan jiwa tak terjadi.

Begitulah kisahku dengan insomnia.

Pada malam keempat aku sudah bisa tidur nyenyak mulai sore.  Ini hari kelima,  suamiku nanti nyusul ke Ngantang, horey!

Terimakasih Allah.

Selasa, 09 Juni 2026

Tanda Cinta Allah

 Bersliweran di beranda Fb-ku, tentang afirmasi, tentang manifestasi, yang intinya sebuah cara untuk menggapai keinginan duniawi. Dan aku tiba-tiba merasa aneh dengan diriku yang tidak seperti orang-orang itu sejak lama. 

Betapa orang-orang suka banget dipermainkan fatamorgana. Bukan salah mereka, bukan pula salahku. Hanya dua posisi yang berseberangan. 

Aku pernah di posisi itu dahulu sekali, sampai lupa itu kapan. Dan aku tak pernah sebahagia ini, ketika menyeberang dan hanya menginginkan Allah. 

Tanda cinta Allah bukan berarti terkabulnya segala keinginan. Bisa jadi sebaliknya. Maka berhentilah merasa orang-orang yang berkelimpahan materi itu orang yang beruntung. Berhentilah memandang mereka. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang sedang tertipu. 

Nyata sekali tipuan dunia. Semua akan kita tinggalkan, tapi lucunya itulah yang kita kejar. Mengejar sesuatu yang bakalan lenyap. 

Kembalilah kepada Tuhanmu wahai jiwa yang letih mengejar dunia. Kau pikir di sisi Allah tidak ada dunia. Sedangkan di sisi Allahlah akhirat dan dunia. Maka kembali kepada Allah adalah memiliki semuanya. 

Tapi bila kau ingin kembali kepada Allah untuk memiliki dunia, maka kamu tertipu lagi. Murnikanlah niatmu. Inginkanlah Dia di atas segalanya, maka Dia akan membimbingmu demi sebuah pertemuan indah denganNya. 

Aku bersama Allah, dan dunia bersamaku, akhirat juga bersamaku. Tidaklah kau iri padaku? 

Senin, 08 Juni 2026

Mensyukuri Tua

 Berapa usiamu?  Apakah kamu merasa tua?  Apakah kamu bersyukur merasa tua?  Apa yang kamu syukuri di ketuaanmu?

Tiba-tiba saja aku merenungkan pertanyaan di atas untuk diriku sendiri.  Kalian boleh menanyakan itu untuk diri kalian sendiri dan silakan jawab sendiri, analisa sendiri ... hehe.

Aku merasa tua, menjelang 60 tahun, sudah bercucu. 

Yang paling aku syukuri dari proses menua ini adalah aku semakin mengenal Allah.

Lalu aku sadari bila hidupku sudah tidak lama lagi di dunia ini, berarti waktuku untuk lepas dari penjara dunia tinggal sebentar lagi.  Bisa bertemu Allah setelah mati beneran, itu membuatku bersuka cita seperti anak SD diajak tamasya, selalu menantikan datangnya saat itu.

Kenapa begitu merindukan mati?  Bukan mati yang aku rindukan, tetapi bertemu Allah, lepas dari dunia yang sering mengalihkan aku dari Allah, itulah kerinduanku.

Apakah hidupku tidak bahagia?  Bahagia banget dong, Allah melimpahiku dengan kebahagian lahir dan batin, punya suami dan anak-anak yang membahagiakan aku.

Apakah aku tidak mencintai keluargaku kok ingin cepat mati?  Cinta dong, tapi sama Allah lebih cinta, dan anak-anakku juga sudah dewasa semua.  Suamiku?  Ehm .... suamiku juga sudah dewasa ... haha.

Itulah obrolanku dengan diriku sendiri usai maghrib hari ini.

Kamis, 04 Juni 2026

Salat Tanpa Kata ( 4 )

Adakah yang mempertanyakan meski hanya dalam hati, mengapa di dalam Al Quran tidak disebutkan tata cara salat secara rinci, gerakannya bagaimana, bacaannya juga apa saja?

Menurut Innuri nih, karena yang menurunkan Al Quran adalah Tuhan semesta alam dan Al Quran juga diturunkan untuk seluruh umat manusia.  Jadi yang menurunkan Al Quran bukan Tuhannya umat Islam saja loh ya dan Al Quran adalah kitab suci umat manusia, bukan hanya kitab sucinya umat Islam.

Karena Al Quran diturunkan untuk semuanya, maka tata cara salat pun tidak diuraikan secara rinci, mengingat beraneka ragamnya tata cara salat yang dipraktekkan manusia di muka bumi ini.  Dengan kata lain, tata cara salat itu terserah keyakinanmu, yang penting adalah jangan keluar dari hakekatnya salat, yaitu untuk bertemu Tuhan dan membentuk jiwa yang tenang.  

Faktanya adalah banyak orang melakukan salat yang sesuai syariat, tetapi tidak mendapatkan apa pun, hanya olah raga jungkat-jungkit, saat salat pikirannya kemana-mana, sedikit sekali pikirannya ke Tuhan, alih-alih bertemu Tuhan, di luar salat jiwanya juga masih gelisah. Untuk khusyu' satu detik saja susahnya minta ampun. Jangan tersinggung, aku sedang membicarakan diriku sendiri.  Kalau tersinggung, bagus juga.

Jadi banyak orang melakukan salat secara fisik saja, yang akibatnya, salat tidak mencegah dari perbuatan keji dan munkar.  Rajin salat tapi masih galau dan berkeluh kesah tentang berbagai hal.  Salat tapi maling uang rakyat, itu contoh lainnya.

Inilah beberapa catatan tentang salat di dalam Al Quran yang penting untuk diketahui agar tidak melenceng dari hakekat salat:

- jangan lalai dari salat , itu orang yang mendustakan agama (Surat Al Ma'un)

- salat untuk mengingat Allah (Surat Thaha 14)

- khusyu' dalam salat (Al Mukminun 2)

- salat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar (Al Ankabut 45)

- sabar dan salat adalah cara mohon pertolongan Allah, salat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Al Baqarah 45)

- orang yang salat tidak suka berkeluh kesah dan kikir (Al Maarij 19-23)

Poin-poin itulah yang mestinya dipertanyakan kepada diri sendiri.  Apakah masih merasa berat menjalankan salat? Apakah sudah mengingat Allah sepenuhnya saat salat? Apakah masih kikir dan suka berkeluh kesah? Apakah bisa khusyu' saat salat? 

Apakah masih menganggap salat hanya sebagai kewajiban dan jauh di bawah sadar merasa itu sebagai beban? 

Carilah cara agar bisa menjadikan salat sebagai "pertemuan yang menyenangkan" dengan Tuhan.  Kalian boleh memakai cara apa saja.  Kalau kalian memakai cara syariat bisa sekaligus hakekatnya, itu bagus.  Kalau gak bisa boleh nyontek Innuri.  Dan itulah caraku, sudah aku tulis 'kan? Kalau takut melanggar syariat, ya kerjakan diluar salat wajib.

Dengan salat tanpa kata, hati dan pikiran menjadi lebih terkoneksi dengan Tuhan.  Ada yang bilang caraku ini tidak sah walau salatnya salat sunah, dan aku jawab ra patheken, yang penting aku bertemu Tuhan dan bisa jatuh cinta padaNya dan selalu rindu berdiri, ruku' dan sujud tanpa merasa berat sama sekali.

Ingat masa remaja pas dikunjungi pacar, aduh senengnya minta ampun sampai kepingin meloncat menemui dia.  Seperti itulah gambarannya.  Suka cita saat waktu salat datang karena itu artinya ketemu dengan Sang Kekasih.

Salat dengan pikiran yang terikat pada aturan sampai takut tidak sah, itu malah menghijab hati dari Allah. Itu pengalaman Innuri, kalau pengalaman kalian beda ya tak apa-apa.

 Aku tidak mau menyembah aturan, aturan salat yang dirumuskan ulama, yang di Indonesia saja terdapat berbagai tata cara salat, golongan satu merasa lebih benar daripada yang lain.

Mengapa tidak mencari persamaannya saja yang tertulis di Al Quran?  Bukankah ini lebih damai dan lebih dekat dengan Tuhan?

Hmm.... Itu memang sudah dikehendaki Allah kok, manusia dengan segala perbedaannya. Santai saja, bersyukurlah kalian yang sudah menemukan hakekat salat yang memperindah jiwa. 

Selasa, 02 Juni 2026

Salat Tanpa Kata (3) Menemukan Cinta

Seperti menemukan sumber mata air hikmah yang tidak habis-habisnya digali dan membuatku terpana, itulah yang kurasakan saat rajin melakukan salat tanpa kata. 

Ketika tangan terangkat pertanda menyerah pada Allahu Akbar, kamu sudah terjerat dalam kebesaranNya. Rasakan dan resapi kemahabesaranNya hingga kamu tak merasakan persoalan yang memberatkan kehidupanmu lagi. Semua itu terangkat dan kamu merasa ringan. 

Letakkan kedua tanganmu bersedekap di atas pusar.  Aku bilang di atas pusar karena pusar menyimpan rahasia yang akan mempertautkanmu dengan dua ibu, ibu kandungmu dan ibu alam semesta. 

Lakukan saja ini dengan penuh penghayatan akan makna bacaan Al Fatihah yang akan kamu baca di jiwamu. Biarkan makna bacaan al fatihah bergema di dalam jiwa ragamu. 

Lalu ketika jiwamu turut tunduk ruku' dan sujud, jiwamu menghormatiNya, menyerah dalam kasih sayangNya, lalu sujud mencium bumi,  

Kamu akan merasakan cinta, betapa Dia mengurungmu dalam jeratan cinta dari segenap penjuru.  Tidak ada titik yang kosong dari cinta kasihNya.

Maka kamu pun mencium bumi dengan sepenuh cinta. Cinta yang menyatu antaramu dan penciptamu, kamu kehilangan dirimu karena terlalu menempel padaNya. Kamu bagaikan sebuah molekul air yang terbuai dalam kasih sayang lautan. Kemana saja molekul airmu bergerak, kamu akan bertemu dengan Sang Maha Cinta. 

Cinta kasih adalah dasar penciptaan langit dan bumi. Menemukan kembali cinta kasih dalam ibadah tanpa kata adalah pulang kepada kebahagiaan yang asli, aslinya dirimu yang terbuat dari cinta kasih. 

Itulah hal terindah yang kebanyakan manusia lalai dari salatnya.

Mencapai apa yang aku lukiskan di atas itu perlu proses.  Yang penting selama melakukan salat jaga terus ikatan hati, pikiran dan jiwa selalu tertaut dengan Allah yang lebih dekat dari urat lehermu itu.  Merasakan kehadirannya sepanjang salat, lalu di luar salat pun kamu tetap terpaut dengan Allah, itulah makna dari 'tidak lalai dari salat'.

Jangan mengharap sesuatu selain Allah dari salatmu, misal demi masuk surga, karena surga pun makhluk.  Apalagi berharap hal-hal yang sifatnya duniawi.  Lurus untuk Allah saja, tidak usah tolah-toleh. 

( bersambung )

Senin, 01 Juni 2026

Salat Tanpa Kata (2) Raja di Kerajaan Batin

 Kamu akan mendapatkan hikmah dan pengalaman yang begitu berbeda saat melakukan salat tanpa kata, hingga kamu akan selalu rindu melakukannya.

Di antara hikmah yang aku alami adalah merasakan di dalam diriku ini ada sebuah kerajaan kecil tapi sebesar alam semesta.  Yang namanya kerajaan ya ada rajanya dan ada rakyatnya.  Persoalannya adalah siapa rajanya dan siapa rakyatnya?  Itu terjawab ketika kita salat tanpa kata.

Baiklah untuk memperjelas, di dalam dirimu itu ada apa saja sih?  Di bagian luar ada raga, sel-sel tubuh, anggota tubuh yang menggerakkanmu, ada panca indra.  Di bagian dalam ada pikiran dengan segenap 'pasukannya', ada gudang memori tempat menyimpan 'file' kejadian di masa lalu, ada perasaan, ada keinginan, ada hawa nafsu, dan ada Allah yang lebih dekat daripada urat lehermu.  Anggaplah semua itu sebagai penghuni atau penduduk di dalam kerajaan kecilmu.

Pertanyaannya adalah, siapa yang memimpin? Siapa raja di dalam dirimu?

Ketika kamu jawab, Allah pemimpinnya.  Eits, tunggu dulu!  Bila itu hanya ucapan di bibir saja, itu bukan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Salat tanpa kata adalah salah satu cara mengenali siapa pemimpinmu, siapa raja di kerajaan batinmu yang sebenarnya.

Bila selama salat, yang berputar-putar di dalam dirimu adalah pikiranmu yang melancong kesana kemari, berarti itulah rajanya.  Biasanya sih hidupmu masih terasa tegang dan banyak kecemasan.  Pikiran suka banget mengombang-ambingkan perasaan mencemaskan berbagai hal.  Pikiran pula yang menjadikan Allah di bawah 'perintah'nya, berupa doa-doa yang bersumber dari kehendak ego.  Doa yang ngotot sampai memaksa Allah mengabulkannya. 

Nah, salat tanpa kata itulah yang akan memproses batinmu dari kerajaan batin yang dipimpin oleh selain Allah menuju kepemimpinan Allah.  Pemahaman-pemahaman yang mendalam akan makna bacaan salat akan mengantarmu ke sana, dengan bimbingan Allah tentunya.

Perlu digarisbawahi sebelum melakukan salat tanpa kata, jaga hatimu dari 'merasa melakukan salat' menjadi ' Allahlah yang menggerakkan aku salat' .  

Kenali siapa raja di kerajaan batinmu dan rasakan pergantian kekuasaan dari selain Allah menjadi Allah saja. 

Dicoba ya. 

Semoga Allah selalu membimbingmu, Sahabat.

Salat Tanpa Kata (1)

 Untuk melatih hati agar semakin peka dalam memahamiNya dan semakin dekatnya diri dengan sifat-sifatNya, cobalah salat tanpa kata, maksudku bacaan salat diucapkan di hati, bukan di bibir.  Bila kalian masih belum berani meninggalkan tata cara syariat, lakukan salat wajib seperti biasa, tapi coba lakukan salat sunah dua rekaat tapi tanpa kata yang terucapkan di bibirmu.  Ucapkan bacaan salat di hati saja disertai pemahaman yang mendalam akan makna bacaan itu.

Misalnya, saat membaca takbiratul ihram, ucap Allahu Akbar di dalam hati sampai meresap betul hingga sampai ke setiap sel-sel tubuhmu akan kemahabesaranNya.  Dalam kondisi badan yang 'dirasuki' kemahabesaranNya, kamu akan merasa kecil, persoalan-persoalanmu juga menjadi kecil, hingga kamu merasa tidak membutuhkan siapa pun selainNya.

Begitu pun saat membaca Al fatihah dan bacaan salat yang lain.  Rasakan Maha Kasih SayangNya menerangi setiap sel-sel tubuhmu, sampai seluruh raga dan jiwamu bisa merasakan kasih sayangNya.

Bacaan salat itu bacaan yang terpilih, maknanya mendalam, menyangkut kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Lakukan gerakan salat bukan hanya fisik, ruku' dan sujud dengan mengajak serta jiwamu melakukan ruku' dan sujud.  Kepatuhan, tunduk, menghamba, lakukan itu semua di dengan segenap jiwa ragamu.

Salatmu jadi lama, tapi akan sangat terasa indahnya, karena yang menggema di hatimu hanyalah bacaan salat, bukan pikiranmu yang sibuk memikirkan dunia sementara bibirmu melantunkan bacaan salat.

Gema makna bacaan salat akan terpateri di jiwamu dan itu membentuk kekuatan baru, keyakinan yang semakin dalam dan kuat.  Kamu akan merasakan salatmu menggerakkan semesta, membentuk harmoni, seperti orkestra kehidupan.  

Bagaimana bila pikiran masih kemana-mana?  Tak apa-apa, karena ini sebuah ketrampilan batin, teruslah berlatih melakukannya.  Kamu harus belajar untuk hening, memasrahkan segalanya kepada Allah, kamu harus belajar meditatif di kehidupan sehari-hari, agar bisa meditatif saat salat.  Boleh simak tulisanku yang berjudul "Perjalanan ke Dalam", di situ ada caranya.

(bersambung)

Sabtu, 30 Mei 2026

Menasehati tanpa Menasehati

"Mbak Innuri, kalau anak kita butuh nasehat karena hidupnya nggak beres, apakah perlu kita nasehati berkali-kali, atau cukup sekali saja dan serahkan pada Allah, karena hakekatnya keadaan itu hanya jalan pulang untuk pandang Allah.  Rasa gak sabar dan mahu dia berubah, " tulis seorang pembacaku dari Malaysia.  Ini pertanyaan ke sekian masalah anak dan kurasa perlu membahas soal anak lagi dari perspektif yang berbeda.

Begini sahabat, kadang orang-orang yang kita sayangi itu seperti "guru yang menyamar" dengan pelajaran yang tersembunyi dari perilakunya.  Jadi mari nikmati kopi dan pisang gorengnya sambil menjawab pertanyaan di atas satu per satu.

Apakah anak butuh nasehat?  Versi orang tua, anak butuh nasehat, tapi coba duduk sebagai anak, apakah anak butuh nasehat?  Tidak!  Anak cuma butuh dipahami, disayangi dan didukung sepenuhnya.  

Kalau pun anda begitu merasa anak butuh nasehat, sampaikan tanpa 'menasehati'. Bagaimana caranya? Nanti ya, jangan pindah channel dulu... hmm. 

Ada juga type anak yang kalau butuh nasehat dia akan datang sendiri ke orang tuanya, gurunya atau temannya, biasanya sih ke orang yang membuatnya nyaman. Jadi kalau ingin anak yang datang meminta nasehat, ya buatlah dia nyaman denganmu sebagai orang tuanya. 

Kembali ke pertanyaan di atas ya. 

Apakah anak merasa hidupnya nggak beres?  Belum tentu, orang tuanyalah yang merasa hidup anak tidak beres.  Barangkali anak malah merasa orang tuanyalah yang tidak beres.  Jadi coba berpikir sebagai anak, atau coba kembali ke masa lalu ketika diri kita masih seusia anak. 

Ada juga anak yang merasa dirinya tidak beres, bicaralah padanya sebagai teman yang banyak mendengar, bukan sebagai orang tua yang merasa lebih tahu dan banyak bicara. Bila perlu ajak anak ke psikolog bila sebagai orang tua anda merasa tidak bisa memahami ketidakberesan di dalam diri anak. 

Bagaimana cara menasehati tanpa menasehati? Banyak caranya, misal nonton film yang satu tema dengan permasalahan anak, nonton berdua dengan anak ya.  Pancing obrolan biar dia mau mengomentari film tersebut, anda bisa memasukkan nasehat di sini, tapi berdasarkan film tersebut.  Cara ini pernah kulakukan, bahkan aku nggak perlu mengajaknya nonton bareng, dia sudah duduk manis di sampingku dan membahas film tersebut.  Aku nggak menasehati, tapi aku mengemukakan perasaanku.  Tiba-tiba saja kami berdua punya kesepakatan yang sama.

Sebenarnya banyak film dan serial yang mendidik di Youtube atau di Netflix.  Yang aku tahu semacam Linttle House in the Prairie, The Walton Family, ada beberapa award winning movie.  Kalau ada yang bisa menambahkan silakan tulis di komentar atau inbox Innuri ya.

Orang tua musti kreatif nyari cara agar bisa 'menasehati tanpa menasehati'  yang bisa disesuaikan dengan kesukaan anak, love language anak (silakan googling 'love language Chapman').  

Jangan lupa berajar ilmu parenting dan psikologi, banyak di Youtube.  Yang aku tahu dari Dr Aisah Dahlan dan Prof YF La Kahija di channel Eling lan Awas.

Di atas itu semua, anak bisa jadi 'guru spiritual yang menyamar',  Bila tidak sabar menunggu perubahan pada diri anak, berarti PR-nya ya sabar.  Terima anak apa adanya, menerima kelebihan sekaligus kekurangannya.  Bersyukurlah dengan segala kelakuan anak, karena disitu ada pesan Tuhan yang penuh kasih padamu. 

Jumat, 22 Mei 2026

Memaknai Thawaf

 Bagaimana kamu memaknai thawaf? 

Itu adalah gambaran perjalanan batin manusia menuju Tuhannya. Seperti pusaran elektron proton dan inti atom. Seperti pusaran alam semesta, tata surya, galaksi, dan entah apa lagi namanya. 

Inti diri manusia itu dipenuhi sifat-sifat yang baik. Semakin jauh dari inti semakin kacau. Kesedihan, kemarahan, galau, itu karena jauh dari inti. Sedangkan kejahatan terjadi karena terlepas dari inti, walau tak pernah terlepas sama sekali, seperti layang layang putus, tak punya arah tujuan, tapi tetap terhubung dengan grafitasi. 

Bila hidupmu terasa kacau, obatnya cuma kembali ke inti. Caranya diam dan masuk ke dalam dirimu. Ini tidak mudah bila kamu terbiasa jauh, maka kamu harus meringankan diri dengan menyerah pada grafitasi inti. 

Banyak pikiran dan kekhawatiran itu beban, memberatkan perjalananmu ke inti. Lepaskan semua, maka perjalananmu akan lebih ringan, sampai kamu merasa bukan kamu yang melakukan perjalanan, melainkan grafitasi inti yang menarikmu ke dalam. Bila begini semuanya akan mudah. 

Nikmatilah perjalananmu dan pertemuanmu dengan inti, di dalam inti dirimu itulah kesejatian, orang-orang menyebutnya Tuhan, Allah, Sang Hyang Widi Wasa, Tao, Teos, Ar Rahman, ... terserah kamu menyebutnya, Dia punya nama yang indah-indah.

Bagaimana kamu memaknai mabrur haji? 

Mabrur adalah kondisi batinmu saat bertemu inti, pertemuanmu dengan Allah. Haji hakekatnya adalah perjalanan ke dalam diri untuk menemui inti. 

Kamu boleh ke Mekah untuk berhaji, tidak ke Mekah juga boleh, karena yang wajib adalah menempuh perjalanan ke dalam. Mekah hanya simbol, jangan sampai kamu malah menuhankan simbol.

Yang penting adalah mabrur-nya, menemukan inti dirimu. Ingatlah bila Allah lebih dekat dari urat lehermu.  Bertemu Allah, itulah yang penting, dan Dia tidak berada di Mekah sana, di mana pun di bumiNya, kamu bisa menemuiNya. 

Minggu, 17 Mei 2026

Apa yang Membuatmu Resah?

 Apa yang kamu resahkan saat ini? 

Apa yang sering membuatmu gelisah? 

Jawab di hati saja ya. 

Tahukah kamu, apa yang membuatmu resah dan gelisah itu menunjukkan prioritas hidupmu. 

Dan aku bisiki pelan-pelan ya, "Bisa jadi itulah sembahanmu selain Allah. "

Ini hal yang halus sekali.

Keresahan atau kegelisahan itu menunjukkan hati kita masih berpaling dari Allah, ada penolakan terkait sebuah keadaan atau seseorang yang membuatmu  resah.

Selain itu, ada ketidakpercayaan di hatimu bahwa Allahlah yang akan membuat semuanya membaik.  Imanmu lagi turun, Sayang.  

Akan tetapi kamu sudah menemukan hal yang meresahkan hatimu, itu satu langkah maju untuk menyelesaikannya, karena kamu sudah mengenali biang keroknya.  Setelah menyadari hal itu, segera kembalilah kepada Allah, sadari bila hal besar atau kecil sudah tertulis, kembalikan hatimu untuk percaya pada kasih sayangNya.  Bila ini masih sulit, mohon pertolonganNya untuk membuat keimananmu kuat lagi, tak berpaling lagi dari Dia dan agar kasih sayangNya menyentuh hatimu.

Galau dan resah bisa jadi disebabkan oleh hawa nafsu yang menyelinap dan mempermainkanmu.  Disadari dan kembali kepada Allah, Allahlah yang menggenggam hatimu dan mengembalikan hatimu pada kedamaian.  Jangan merasa berusaha, karena bisa kecele.

Cara Melepas Cinta Pada Makhluk

 Bagaimana mencintai pasangan yang sah dan mencintai anak-anak kita sendiri menjadi salah?  Memang di mata syariah itu tidak salah, yang salah ya mencintai suami / istri orang lain dan malah tidak mencintai anak-anak kita sendiri, itu baru salah.  

Kadang belajar spiritual itu membagongkan juga, tapi coba renungkan.  

Tujuan orang menempuh perjalanan spiritual itu 'kan menyaksikan Allah (bersyahadat) lalu menyatu dengan Allah (wushul, manunggaling kawula-Gusti).  Nah, kecintaan kita pada segala sesuatu selain Allah itu menghijab (menutup) antara kita dengan Allah.  Begitu deh. 

Intinya cinta kita pada makhluk jangan melebihi cinta kita pada Allah.  Kalau bahasa Innuri sih boleh cinta tapi jangan melekat, jangan lengket kayak prangko, ntar kalau dipisah jadi sobek alias terluka. Dari sini sudah mulai paham betapa bahayanya mencintai makhluk itu, sampai muncul istilah 'selingkuh dari Allah', istilahnya Gus Mukhlason Rasyid.  Padahal itulah cara Allah melindungi kita dari terluka hati yang amat dalam.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya biar nggak melekat pada cinta makhluk?  Prakteknya bagaimana? 

Caranya ya dipasrahkan Allah saja semua perasaan cinta itu.  Innuri bilang,"Allah, aku hanya ingin mencintaiMu saja, jadi tolong bantu aku memperbaiki hatiku ini."  Hati musti punya keinginan yang kuat untuk melepas semua cinta pada makhluk untuk memilih Allah saja.  Lakukan ini dengan sengaja, sebuah pilihan yang diputuskan dengan yakin dan penuh kesadaran, memilih Allah di atas makhlukNya.  

Terkadang aku pakai cara ngeles cantik, aku bilang,"Allah, ini bukan perasaanku loh ya, ini adalah perasaanMu, Allah."

Nah, ketika perasaan cinta yang melekat pada makhluk itu terlepas, perasaan jadi indah sekalil, digantikan rasa cinta yang lebih tinggi, compassion mungkin ya namanya.  Melekatnya hati sudah pada Allah saja.

Aku sendiri masih on of di rasa ini, tapi hatiku sudah tidak menginginkan melekat pada makhluk lagi, hatiku sudah mantab memilih Allah.  Kemantaban hati inilah yang aku syukuri karena tidak mudah sampai di titik ini, datangnya pelan-pelan sekali, perlu waktu lama Allah memproses diriku, saking lengketnya hatiku ini pada orang-orang yang aku cintai.


Selama puluhan tahun hidup bersama dalam sebuah happy married, bayangkan betapa susahnya untuk tidak melekat pada makhluk yang berjudul suami itu.  Terkadang aku pilih sendirian beberapa hari, pisah rumah dengan suami, tapi ternyata bukan begitu caranya.  Fisik yang berjauhan belum tentu bisa menghapus kemelekatan, karena melekat itu letaknya di hati.

Saat perasaan lagi of dan kumat kerinduan dan kecintaanku pada pesona makhluk, aku mengembalikan hatiku pada penglihatan tembus, aku harus melihat Allah dominan sampai melihat dia adalah Allah.  Lalu hatiku spontan berucap,"Oh, ternyata yang aku cintai adalah Allah."

Di tingkat yang lebih tinggi lagi, ketika kemelekatan sudah terlepas, aku bisa merasakan bila sebenarnya aku tidak pernah terpisah dengan orang-orang yang aku cintai.  Bagaimana menjelaskan perasaan ini ya? Susah dijelaskan, tapi kayak perasaan Tuhan deh, diri sudah kecemplung di alam ilahiyah yang luasnya tak terperi itu, indah sekali.  Ya indahnya tak bisa dikatakan.  Kalau istilahnya Gus Son, itu alam akhirat, aku lebih suka menyebut alam ilahiyah.

Pokoknya kalian jangan mati dulu deh sebelum merasakan kecemplung alam ilahiyah ini.