Selasa, 28 April 2026

Serambut Dibelah Tujuh

Seseorang memuji, bilang selalu membaca tulisanku. Aku jawab begini, "Makasih sudah menyukai tulisanku, aslinya bukan aku yang menulis, Allah yang menggerakkan aku untuk menulis. "  

Sebenarnya aku mau bilang, "Allah yang menulis. " Tapi kok kelihatannya terlalu 'ekstrim' untuk dia. 

Lalu dia menjawab, "Ya saya paham, saya juga seperti itu, hanya sebagai media. " 

Sekarang mari kita kupas dari ilmu Tauhid. Benarkah pernyataan 'manusia sebagai media' ?  Ingat ya, kita bahasnya dari sudut pandang ketauhidan alias keesaan Tuhan. 

Bila manusia sebagai media penyampai pesan Tuhan, berarti ada media dan ada Tuhan.  Ada Tuhan yang menggunakan manusia sebagai media untuk menyampaikan pesan ke masyarakat manusia. Begitu 'kan? 

Ada sisi manusia ada sisi Tuhan, berarti keduanya terpisah.  Sedangkan Tuhan itu lebih dekat dari urat leher manusia (Qaf 16), yang artinya menyatu.  Itulah maksud keesaan Tuhan, Tuhan tidak terpisah dengan makhluk.  Akan tetapi makhluk bukan Tuhan. 

Sering aku bilang, jangan pisahkan makhluk dengan Tuhan, itulah tauhid yang sebenarnya. Jadi .... 

Kalian yang belum sampai pada pemahaman ini pasti bingung. Berarti Tuhan banyak dong. 

Banyak tetapi satu. 

Begitulah kebenaran terdalam selalu menyimpan paradoks.  Membingungkan bagi yang masih awam, tetapi jelas bagi yang sudah mengalami.

Perasaan menyatu dengan Tuhan itulah kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai manusia.   Aku yang masih on of di perasaan itu sangat tahu bedanya.  Betapa tidak enaknya perasaan terpisah dengan Tuhan, selain mudah terseret emosi negatif, juga seperti turun ke frekwensi yang penuh kebisingan. 

Bersama Allah itu tenang, damai, melihat segalanya dengan bening. Seperti berada di ketinggian dan semuanya terasa indah dan jernih sekali.  Saat bersama Allah, seakan melihat makrokosmos di dalam mikrokosmosku.  Melihat lapisan-lapisan semesta di saat yang bersamaan dengan perasaan takjub. 

Surga itu tidak jauh, dia ada di tempat ini saat ini, hanya kalian tidak melihatnya. Kalau kalian melihatnya, kalian akan rela menukar apapun yang kalian miliki untuk berada di dalamnya. 

Ketika dunia ini runtuh di mata manusia, saat itulah diperlihatkan semesta surgaNya.  Makanya jangan terlalu memuja dunia, dunia ini ilusi yang kuat, tapi tetap harus ditempuh sampai tamat. 

Ketika semesta ilusi runtuh, yang tampak adalah semesta kesejatian.  Perjalanan ke sini memang penuh halangan dan rintangan, hanya kasih sayang Allah yang bisa menyampaikanmu ke sini. 

Kamu hanya perlu memilih, pilihlah Allah tanpa ragu sedikit pun.  Katakan kamu bersedia diperjalankan Allah menuju menyatu denganNya.  Bersandarlah terus padaNya.  Terima setiap hal sebagai langkah-langkahmu menujuNya. 

Pernahkah kamu mengalami lucid dream yang indah? Atau spiritual dream yang di dalamnya kamu melihat pemandangan yang tidak pernah kamu temukan di dunia ini? 

Surga itu terjadi saat bersamaNya, karena mataNya menjadi matamu, penglihatanNya menjadi penglihatanmu. Seperti sebuah lucid dream, tetapi dialami saat terjaga. 

Sekali saja kamu mengalami keindahanNya, kamu akan terus merindukanNya. 

"Ini Allah, bukan Innuri." itu berbeda sekali dengan "Ini bukan Innuri, tetapi Allah. "  Sekilas tampak sama, cuma kata yang dibolak-balik. Tetapi itu jauh berbeda. 

"Ini Allah, bukan Innuri, " Allah duluan yang disebut, makhluk Innuri sudah lebur di dalamNya, makhluk-makhluk lain pun lebur di dalamNya. 
"Ini bukan Innuri, tetapi Allah, " Innuri merasa sudah tiada, yang ada hanya Allah.  Ada ego yang setipis serambut dibelah tujuh.  Innuri merasa sudah berusaha untuk fana, ada "Innuri yang berusaha", ada potensi merasa lebih tinggi dari orang lain yang belum merasakan ketiadaan diri. 

Sejatinya manusia itu tidak bisa berusaha, lahaulawalaquwataillabillah. Jangan merasa sudah berusaha, kasih sayang Allahlah yang bekerja. 

Berusaha tanpa berusaha. Kembali bermain paradoks. 

Begitulah, semakin ke sini semakin halus, sehalus serambut dibelah tujuh. 

I love You. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar