Jangan memisahkan makhluk dengan Tuhan, aku sering bilang begini, juga pada diriku sendiri yang sering lupa bila ada Allah dibalik orang-orang yang datang, pergi atau menetap dalam kehidupanku. Ada Allah dibalik kata-kata dan perbuatan mereka. Aku masih sering melupakan ini, jadi terseret emosi, seperti hari ini.
Aku menulis sambil menangis. Seorang pembacaku terusir dari rumahnya karena tidak mampu membayar kontrakan, suaminya 'membuangnya'. Anak-anak dan keluarganya juga tidak peduli dengannya. Entah mengapa aku menangis sampai terisak-isak, membayangkan dia berjalan sendirian tak punya tujuan, lalu berhenti di rumah seorang kenalan. Aku sampai menyarankannya ke kantor polisi bila terpaksa tidak ada tempat menginap.
Aku juga membantunya (bukan aku, tetapi Allah yang menggerakkan aku) dengan menulis status dan membagikannya ke grup Tasikmalaya, tempat pembacaku itu berada saat ini.
Sudah beberapa lama aku kontak dengan pembacaku ini, setiap hal yang aku katakan, dia nurut. Dia cukup kooperatif dan aku merasa dia sudah bisa tenang menghadapi segala persoalan hidupnya. Aku kira kondisinya bakalan membaik, tetapi aku salah. Salahku adalah meletakkan harapan pada keadaan yang membaik. Mempercayai bila ketenangan batin akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Ini halus sekali, karena semestinya yang aku yakini hanya Allah yang bisa membuat perubahan, Allah adalah satu-satunya penyebab.
Orang-orang bertindak, berkata-kata, sampai berpikiran dan berperasaan tertentu, karena Allah yang menggerakkannya. Menerima segala kelakuan mereka tanpa kecewa dan protes, meski pun di dalam hati,
Jadi aku katakan pada pembacaku itu dan diriku sendiri.
Perlakuan apa pun dari orang-orang, lihatlah yang dibalik itu. Pada hakekatnya Allah, itu semua Allah. Dengan keyakinan seperti ini kamu tidak perlu sedih, juga tak perlu berharap pada manusia, langsung pada Allah saja. Juga tak perlu menyalahkan Allah, karena setiap perbuatanNya adalah kasih sayang.
Manusia itu hanya tahu di permukaannya saja, memelas melihat seorang wanita terusir dari rumahnya. Padahal siapa tahu dibalik itu Allah sedang 'memprosesnya' menjadi kekasihNya, bila demikian dia adalah wanita yang sangat beruntung.
***
Setelah aku menulis tulisan di atas, aku berangkat tidur, karena ngantuk sekali, masih jam 7 malam, habis isya. Terbangun jam 12 malam, aku merasa ada sesuatu yang mendorongku membuka komputer, kupikir aku mau melanjutkan tulisanku di blog, sambil membuka Fb.
MasyaAllah, aku diinbox seorang wanita yang tak kukenal, di add pertemanan, isinya menanyakan soal pembacaku itu. Dia juga bercerita bila dia punya rumah kosong dengan 6 kamar yang bisa ditempati gratis asalkan mau bersih-bersih. Aku nangis lagi dong, dasarnya nangisan. Kali ini aku menangis karena terharu menyaksikan ketulusan hati wanita yang hanya kenal aku di Fb.
Kembali aku harus melihat Allah, Allah yang bertindak dengan kasih sayangNya. Allah yang menggerakkan wanita itu untuk menolong pembacaku.
Aku yakin sekali kasih sayangNya, semoga pembacaku itu demikian juga. Rasanya aku dan dia sudah menempuh perjalanan bersama menyaksikan kebesaranNya.
***
Aku tidur lagi setelah menulis di jam 12 malam itu. Pagi ini, subuh aku bangun. Ketika membuka Fb ada inbox dari pembacaku itu, bercerita dia ditawari pekerjaan menjahit daster tapi tidak ada messnya. Sungguh kebetulan yang tidak kebetulan bukan? Dia mendapat tawaran pekerjaan yang tidak ada fasilitas menginap, sementara ada yang menawari tempat menginap gratis asalkan tempatnya dibersihkan. Sungguh Allah itu Maha Pembuat skenario terindah. Alhamdulillah.
Pembacaku juga belajar, selama kita bersama Allah, semua akan baik-baik saja.
Selamat menempuh hidup baru, Teh. Allah selalu bersamamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar