Ketika Innuri bilang bila seluruh pergerakan kehidupan ini dikendalikan Allah, termasuk gerakan tanganmu menggaruk rasa gatal di lehermu itu. Apakah kalian percaya?
Apakah kalian lebih percaya bila manusia itu punya free will, alias kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, menentukan dia mau ke mana, mau ngapain saja.
Kalian team yang mana? Apa buktinya? Pernah membuktikan sendiri? Pernah menantang Allah? Menantang Allah bagaimana?
Ya menantang Allah untuk membuktikan siapa yang mengendalikan hidupmu, dirimu sendiri ataukah Allah mutlak.
Karena aku pernah, sering malah, menantang Allah.
Dulu pun aku termasuk orang yang percaya bila manusia diberi kehendak bebas memutuskan jalan hidupnya sendiri. Bahkan sampai benjut-benjut dan berdarah-darah pun belum tersadarkan juga bila jalan hidup ini sudah ditulis secara detail skenarionya. Makanya aku paham banget dengan orang-orang yang berpandangan seperti itu.
Bahkan aku yang Allah beri kelebihan prekognisi, atau punya kepekaan melihat sesuatu yang belum terjadi, masih merasa bila manusia sendirilah yang menentukan masa depannya. Walau Allah banyak menurunkan peristiwa yang mestinya menyadarkanku bila manusia tak punya kekuatan apa-apa, hanya kekuatan dari Allah yang menggerakkannya.
Peristiwa yang paling aku ingat, karena amat berkesan buatku, adalah cerita ke pasar krempyeng semasih tinggal di Negara, Bali. Kayaknya aku sudah sering ceritakan ini di blog, tapi aku akan ceritakan lagi.
Suatu pagi di Negara, bangun tidur aku merasa bila aku nanti bakalan ke pasar krempyeng, entah namanya apa kalau di Bali, aku sudah lupa, pasar yang sudah bubar di jam tujuh pagi.
Perasaan 'aku nanti bakalan ke pasar' itu begitu kuat dan aku sengaja melawannya. Aku mau mematahkan prekognisiku, jadi aku pilih bermalas-malasan nggak bangun-bangun. Aku berasa memenangkan taruhan ketika pagi itu bangun lewat jam pasar dan lanjut memasak ke dapur.
Ketika memasak itulah, ada bahan yang kurang yang mengharuskan aku berbelanja ke pasar. Tapi sudah terlambat, pikirku, salahku sendiri melawan prekognisi. Tapi segera aku sadari bila hari itu hari Minggu, kalau hari Minggu, pasar buka sampai jam 9.00 WITA. Akupun tak menyia-nyiakan waktu, segera berangkat ke pasar, tak peduli "kalah taruhan" ... haha. Aku gagal melawan takdir.
Jodoh, rejeki dan ajal, itu katanya sesuatu yang sudah ditentukan Allah, yang tidak bisa diubah manusia. Tapi ternyata bukan hanya jodoh, rejeki dan ajal, wong aku ke pasar atau tidak saja ditentukan olehNya kok. Kalau tidak percaya, cobalah menantang Allah.
Caranya bagaimana?
Bilang saja,"Allah, aku ingin bukti bila segala sesuatu sampai hal yang sekecil-kecilnya, Engkaulah yang mengendalikannya. Maka berikanlah aku bukti sampai aku yakin."
Innuri sudah di taraf yakin seyakin-yakinnya bila hidup ini seperti detak jantung, di luar kontrol kita, Allah yang memegangnya. Tapi Allah mengendalikan hidup ini dengan kasih sayang, Maha Kasih Sayang. Hidupmu dan hidupku terbuat dari kasih sayangNya.
Pada awalnya kenyataan ini cukup membingungkan, karena berbenturan dengan keyakinan yang lama bila manusia punya kehendak bebas. Bahkan seperti bertentangan dengan potongan ayat al Quran Surat Ar Rad 11 "... Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada di diri mereka ...."
Orang umumnya memaknai potongan ayat itu sebagai 'manusia harus berusaha keras mengubah nasibnya agar Allah mengubahnya." padahal bukan itu maksudnya. Coba baca utuh keseluruhan ayatnya.
"Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran di depan dan di belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
Bila ayat itu dibaca lengkap dan dimaknai secara keseluruhan, nggak dipotong di tengah-tengahnya saja, maka pemahaman menjadi lebih utuh. Sebenarnya bukan perubahan nasib yang bisa dilakukan manusia, melainkan perubahan kesadaran, kesadaran bahwa apabila 'Allah menghendaki keburukan, tidak ada yang dapat menolaknya', juga kesadaran bahwa 'tidak ada pelindung selain Allah'. Maksudnya, kita manusia ini loh nggak bisa apa-apa bila tidak dilindungi Allah dari keburukan. Artinya manusia itu nggak berdaya, tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah.
Ada malaikat penjaga yang menjaga manusia dari segala arah, itulah Maha Kasih SayangNya. Manusia nggak bisa hidup tanpa dijaga oleh sistem yang dibuat Allah, artinya manusia itu lemah dan tidak berdaya. Ini harus disadari.
"Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." Di kalimat ini memuat keburukan dan perlingungan, lagi-lagi manusia disuruh menyadari betapa Maha Kasih SayangNya yang memberikan perlindungan kepada manusia dan hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan. Jangan mengandalkan yang lain maksudnya, termasuk mengandalkan diri sendiri, termasuk mengandalkan kekuatanmu sendiri, karena kamu itu lemah, begicuuuu.
Bila sudah di kesadaran seperti itu, masih bisakah manusia berpikir bisa mengubah keadaannya agar Allah mengubah nasibnya? Ehm ... ehm.
Pemahaman menjadi lebih lengkap lagi bila keseluruhan Surat Ar Rad dibaca semuanya. Intinya pada perubahan kesadaran mengenai berbagai hal. Indah sekali Allah bernarasi di dalam Surat Ar Rad. Semoga lain kali bisa membahasnya lebih mendalam ya.
Begitupun yang terjadi padaku ketika tidak berhasil menantang Allah, yang terjadi adalah perubahan kesadaran. Sudahlah Innuri gagal mulu menantang Allah, kok nyuruh-nyuruh orang menantang Allah pula. Soalnya mau nyari teman sesama gagal ... hahaha.
Baiklah, ketika perubahan kesadaran sudah terjadi, apa yang terjadi setelahnya? Di tulisan selanjutnya yaa. mata dah pedes nih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar