Jumat, 18 September 2026

Pelajaran Dari Gunung

 Ternyata mendaki gunungpun merupakan perjalanan spiritual, perjalanan suci, yang ketika di hati kita ada hal yang bengkok, maka akan diluruskan nggak pakai lama.

Kamis kemarin aku dan mas Hary naik ke bukit Budug Asu di Singosari, pakai sepatu baru, sepatu yang memang buat trekking.

Sebelumnya aku naik gunung pakai sepatu sepak bola karet lima puluh ribuan  ... haha, pasalnya sepatu bola seperti itu yang dipakai Cak Saidi dan Cak Siaman di kebun yang berbukit dan terjal itu.  Aku suka heran melihat mereka berdua naik turun kebun tanpa mengalami kepleset meski di musim hujan, aku mendapati rahasianya terletak pada  sepatu lima puluh ribuan.  Maka di benakku ide itulah yang muncul, mendaki pakai sepatu seperti sepatu mereka.

Suamiku sudah menganjurkanku pakai sepatu trekking yang tepat, tapi aku ngotot nggak mau. "Daripada beli tapi nggak aku pakai," kataku.

Lalu ketika aku mendaki gunung Kelud beberapa minggu kemarin, kakiku lecet karena sepatu karetnya kurang lembut untuk berjalan jarak jauh, makanya aku nyerah dan minta suamiku membelikanku sepatu trekking.

Di situlah pelajarannya.

Ketika naik tanjakan demit yang kemiringannya sekitar  60 derajat dengan kontur tanah yang berdebu, aku menyadari ternyata sepatu ini amat membantuku tetap stabil, tidak kepleset di medan demikian.  Maka aku bilang, "Mas, sepatunya bagus nih, lihat aku berpijak di tanah tanpa kepleset."  Aku bilang begitu sambil memperagakan caraku berdiri di kemiringan tanah yang berdebu, merasa percaya diri sepatu ini bikin aku selamat melewati tanjakan demit.

Tak lama kemudian tanah yang kupijak runtuh dong, aku kepleset, tubuhku jatuh terduduk lalu berbalik ke belakang dan meluncur dengan manis ke bawah.  Aku cuma bisa bilang, "Allahu Akbar." sambil merem pasrah.  Debu beterbangan dan aku sudah berada di depan suamiku yang tadi di bawah.  Aku bangkit pelan-pelan dibantu suamiku, meneruskan perjalanan dan menyadari kesalahanku.  Lengan kiriku terasa perih, ternyata tegores baju selama meluncur bebas tadi.

Bukan sepatu yang menjamin keamanan seseorang, melainkan Allah.  Aku tidak boleh menaruh rasa amanku pada sepatu yang tepat.  Bukan berarti aku boleh pakai sandal waktu naik gunung, aku tetap pakai peralatan naik gunung yang tepat, yang tidak boleh adalah "meletakkan rasa aman pada alat".  Rasa aman itu hanya boleh diletakkan pada Allah saja.

Pelajaran kedua.

Sebelum mendaki Budug Asu, aku lihat reviewnya di YouTube dan aku merasa bukit ini bisa aku tempuh karena medannya lebih mudah  dibandingkan Kelud yang cukup menantang.  Ternyata perasaan seperti itu artinya 'meremehkan gunung', itu pantangan besar bagi para pendaki kukira.  Jangan meremehkan gunung, itu artinya di hati kita ada kesombongan yang halus.  Orang yang sombong pasti mendapat balasannya dan aku sudah dibalas tunai.

Yang membuat kita mampu melakukan apa pun adalah Allah, bukan pengalaman, bukan latihan, bukan kekuatan diri karena tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.

Bukan berarti kita tak perlu berlatih loh, kita berlatih juga, tapi dengan pemahaman 'Allah yang menggerakkan kita berlatih'.

Jadi ... 

Jangan meremehkan apa pun dan siapa pun, bukan hanya soal gunung.

Jangan sombong ya Innuri.  Goresan luka di siku kirimu itu semoga menjadi pengingat bila kamu pernah main perosotan di Budug Asu.