Malam ini kunikmati rasa kemeng-kemeng alias njarem-njarem (apa sih bahasa Indonesianya?) di kakiku setelah sore tadi baru tiba dirumah setelah naik ke puncak Prawita Gunung Penanggungan.
Kurasa Allah memberi nama gunungnya pas banget, Penanggungan, karena tak tertangungkan deh rute nanjak curam, ekstrim pula, dan tidak ada alat bantu berupa tali atau tangga seperti halnya di Gunung Kelud. Benar-benar mengandalkan kaki tangan cantik ini.
Lah sudah tahu kalau ini gunung bukan buat manula ngapain ke sana Innuri? Haha, jawabannya pasti karena kehendak Allah.
Kamis malam tgl 24 september 2026, sebelum berangkat naik, sebenarnya aku ragu banget, betulkah ini petunjuk Allah agar aku naik gunung Penanggungan yang katanya bukan untuk pemula? Apakah ini hanya kehendak hawa nafsuku saja? Manalah lagi kami berencana untuk nge-camp dan aku mulai berlatih membawa beban sambil mendaki.
Pikiranku sudah macam-macam, bagaimana nanti bila terjadi sesuatu padaku? Aku bakalan merepotkan orang banyak dan pasti ada komentar sinis dari teman-teman yang biasa sinis dengan kegemaran naik gunungku belakangan ini?
Maka malam itu aku mengendapkan pikiranku lagi, menjernihkan diri lagi, agar lebih jelas, apakah kehendak Allah ataukah kehendak hawa nafsuku saja. Bila ternyata ini bukan kehendak Allah, aku siap untuk tidak jadi berangkat. Sampai akhirnya aku yakin bila ini adalah kehendak Allah.
Biar tidak kaget, paginya aku melatih diri membawa beban. Dengan ransel di punggung, aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menyiapkan perbekalan mendaki sampai aku merasa yakin dengan beban seberat ini aku bisa menempuh perjalanan ini.
Bila ini sudah kehendak Allah, aku pasti berangkat dan pulang dengan selamat.
"Kamu harus selalu merasa bersama Allah dalam keadaan apa pun," kata suamiku. Aku mengangguk setuju.
"Kamu tahu bedanya menyuruh Allah dengan mengagungkan Allah?" tanya suamiku, aku terpana mendengar pertanyaannya. Aku cuma melongo, maka dia jawab sendiri.
Ketika manusia berdoa, pada hakekatnya dia sedang 'menyuruh Allah' alias memerintah Allah. Pemahaman ini pemahaman yang halus banget. Misal sebelum naik gunung, aku berdoa memohon pada Allah untuk memberiku keselamatan sampai pulang kembali dengan selamat. Kebanyakan orang melakukan hal seperti ini 'kan? Buat orang seperti suamiku, dia tidak melakukannya, tapi dia selalu mengagungkan Allah.
Mengagungkan Allah yang dimaksud adalah perasaan Allah selalu membersamainya setiap saat hingga di hatinya selalu mengagungkan asmaNya di setiap detak jantungnya. Allah menyatu, karena Allah lebih dekat dari urat leher.
Merasa menyatu dengan Allah itu sudah melampaui doa-doa, semuanya menjadi ringan saja dan semuanya menjadi indah saja. KarenaNya juga aku berangkat naik gunung, menyelesaikan segala kesulitan di sana dan pulang dengan selamat.
( bersambung )