Kamis, 23 April 2026

Ketika Badan Bicara Kematian

 Kemarin dalam perjalanan dari Ngantang ke Pakis, aku tertidur di daerah Batu, lalu terbangun di Dinoyo.  Saat terbangun, terdiam beberapa saat, tiba-tiba ada yang berbisik di hatiku, "Aku bukanlah badan ini."  Bisikan yang kuat sekali, sampai aku seperti merasa, "Apa sudah dekat waktuku untuk mati?"

Jujurly suka banget kalau dapat isyarat kematian, membayangkan lepas dari penjara materi dan jiwa bebas lepas mengangkasa menuju ketidakberhinggaan.  Siapa pun kalian, bila pernah diperlihatkan ketidakberhinggaan sepertiku, pasti merindukan mati.

Badanku ngomong begini, "Aku unsur dari Tuhan juga, tetapi kamu punya unsur yang lebih indah, yang lebih cantik dan penuh warna, yang lebih ringan tapi sangat kuat.  Kamu bebas bila sudah tidak terpenjara dari badan ini.  Kamu bisa menyatu dengan semuanya tanpa terkotori oleh itu semua. Kamu bersama Tuhan untuk seterusnya tanpa terganggu dengan urusan ilusi. Itulah kesejatian dirimu, itulah kamu yang sebenarnya.  Kamu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, keindahanmu, kebebasanmu, juga penyatuanmu dengan Tuhan."

 Aku jawab,"Kalau begitu terima kasih sudah menemani perjalananku di dunia selama ini."

Badanku tertawa lalu bilang,"Itulah kamu, kamu merasa terpisah, seperti kebanyakan manusia. Badanmu ini tidak pernah berpisah denganmu walaupun kamu mati.  Jiwa kamu lepas dari tubuh, tapi pada saat itulah kamu benar-benar menyatu dengan tubuhmu."

"Kan sudah dikubur dan hancur jadi tanah?" bantahku.

"Nah, lagi-lagi kamu memisahkan dunia fisik dengan dunia batin," kata badanku.

"Ya, bingung dong aku.  Mati jadi tanah, tapi tak terpisah.  Jelas-jelas nyawaku melayang meninggalkan fisikku, tapi katamu tak pernah terpisah.  Bagaimana memahaminya?"

Pertanyaan terakhir itu bukan pertanyaanku, tapi pertanyaanmu, pertanyaan kalian pembaca Innuri blog. Karena aku sudah tahu gambarannya.

Di dunia spiritual sering sekali ketemu paradoks seperti kalimat di atas.  Ini badanku tapi aku bukan badan ini, berusaha tanpa berusaha, sekarang ketemu "terpisah tetapi menyatu".

Baiklah, untuk 'terpisah tetapi menyatu'  ini aku umpamakan dengan sepasang kekasih yang begitu saling mencintai, tetapi takdir memisahkan mereka.  Mereka tak pernah berhenti mencintai walau berjauhan, bahkan tak tahu kekasihnya di mana, mereka berdua terhubung oleh doa-doa dan kerinduan.  Kalian yang menganggap mereka terpisah, adalah kalian yang memandang ilusi sebagai kesejatian. Karena yang sejati adalah jiwa.  Sedangkan kalian yang memandang mereka tidak terpisah, berarti kalian sudah bisa memandang kesejatian. 

Di mata fisik, mereka terpisah, tetapi batin mereka tetap menyatu.  Gamblang 'kan contohnya?  

Nah dalam kasus kematian, nyawa meninggalkan fisik, fisik hancur, ruh menghadap Ilahi.

Bayangan manusia, Yang Ilahi itu di atas sana, di langit yang lapisan paling atasnya atas dah. Ruh naik ke langit, jasad yang mati ada di dalam bumi.  Pasti terpisah bila pandangan masih seperti ini. 

Tetapi Allah menyebutkan bila Dia dekat melebihi dekatnya kita dengan urat leher kita sendiri, artinya Dia lebih dekat daripada jazad kita sendiri dong. Berarti tempat pulangnya ruh itu lebih dekat daripada jazad kita sendiri. Nah, dari sini sudah jelas sekali, kita tidak pernah terpisah dengan jazad walau ruh sudah tidak ada di tubuh. Karena pulangnya ruh itu ke Tuhan yang lebih dekat daripada jazad kita sendiri. 

Paham 'kan Sayang?  Atau masih bingung? Gapapa bingung dan gapapa tidak paham, itu bukan keharusan.  Hanya Allah yang bisa memahamkanmu. 

Tuhan itu meliputi segala sesuatu, ketika kamu pulang ke Tuhan, berarti kamu pulang ke ketakberhinggaan, kamu tak terdefinisikan. Tidak bisa aku jelaskan ya, karena tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

Apakah setiap kematian itu indahnya seperti yang digambarkan oleh omongan tubuhku itu? Tidak dong.  Hanya untuk orang yang sudah kembali seutuhnya kepada Tuhannya semasih hidup di dunia saja. 

Lantas, orang-orang yang belum kembali kepada Tuhan bagaimana? Ya masih mengalami siklus hidup mati hidup mati seperti dilukiskan di Al quran, orang menyebutnya reinkarnasi.  Entah di semesta mana dihidupkan lagi untuk mendapatkan pelajaran agar bisa kembali seutuhnya kepada Tuhan. Artinya jiwanya masih harus menghadapi penderitaan seperti halnya kehidupan kita di muka bumi ini. 

Kalian pilih yang mana?  Bagaimana caranya? 

Pilih dulu, lalu inginkan itu dengan amat sangat, soal caranya dan jalannya nanti Allah yang akan menunjukkan. 

Innuri akan terus flexing alias pamer keindahan berada di ketidakberhinggaan itu.  Beruntunglah kalian yang menginginkannya, karena itulah doa yang Allah pasti akan kabulkan seperti janjiNya.