Minggu, 29 Maret 2026

Buku Harian

Seorang pembacaku bilang, membaca bukunya mbak Innuri itu kayak membaca buku harian.  Awalnya aku merasa agak gimana gitu, jadi teringat pesan anak-anakku, "Ibuk jangan memosting kehidupan pribadi ke media sosial ya."

Rasanya pingin membela diri, aku (bukan aku, tapi Allah yang menggerakkan) hanya memosting sesuatu yang bermanfaat yang bisa diambil hikmahnya oleh orang banyak, termasuk cerita receh pun bila itu menghibur, itu pun bermanfaat 'kan?  Aslinya biar linimasaku nggak terisi tulisan spiritual thok, biar aku terlihat manusia, bukan allien ... haha.  Poinnya adalah bermanfaat, bukan untuk pamer atau mengumbar kehidupan pribadi, ya walau kadang hanya untuk menyimpan kenangan sih (Allah, boleh nyimpen kenangan 'kan?)

Sejujurnya sudah terserah Allah saja hidupku ini mau diapakan. Bukankah para Nabi dan orang-orang bijak pun kehidupannya sudah nggak privat lagi, seperti buku harian yang terbuka, kesalahan-kesalahannya malah dibuka di kitab suci.

Di dunia ini tidak ada cerita tanpa makna, semua dihadirkan Allah untuk maksud tertentu, cerita hidupku, hidupmu, hidupnya, hidup mereka. 

Soal buku harian itu, memang tidak salah apa yang dikatakan pembacaku, aku menulis di blog terlihat seperti menulis buku harian. Kadang berupa renungan-renungan, kadang yo curhat, tapi tidak semua hal yang aku tulis aku publikasikan, sebatas yang bermanfaat bila dibaca orang saja.  Walau kadang malu-maluin, bila bermanfaat, it's oke, Allah.

Mungkin karena kebiasaan menulis buku harian sejak SMP. 

Ulang tahunku jatuh di bulan Januari, dan Bapak selalu memberi hadiah ulang tahun berupa buku harian.  Barangkali maksud Bapak agar aku punya kebiasaan menulis.  Waktu SMP, buku harianku yang pertama, aku masih belum rajin menulis, banyak halaman kosong, baru ketika SMA mulai banyak tulisan, terutama tentang kegiatanku sehari-hari, segala peristiwa dan juga perasaan aku tumpahkan di situ.  Itu berlangsung sampai aku kuliah dan menikah.  



Nah, saat aku ikut suami ke mana-mana, setumpuk buku harian itu aku tinggalkan di Ngantang, di rumah ibu.  Aku lebih suka membawa setumpuk buku resep masakan karena aku tidak bisa memasak dan tentu saja buku harian yang baru.  Baru ketika pindah ke Malang lagi, aku menemukan kembali buku harianku yang setumpuk itu, utuh tak berkurang sehelai pun di rak perpustakaan keluarga, bergabung dengan diktat kuliah sampai buku tulisku sewaktu SD. Seteliti itu ibuku, orang Jawa bilang primpen, aku sudah beranak pinak, ibu masih menyimpan buku tulisku waktu SD! Terima kasih Ibu, rupanya begitulah cara ibuku mencintai kami, anak-anaknya.

Sudah Allah kehendaki demikian, dari buku harian yang disimpan ibu itu aku jadi mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi dalam hidupku. Kutulis jadi novel dari buku harian juga, walau aku dramatisir biar manis, jadi aku minta maaf kepada siapa pun yang pernah berada di masa lalu, karena telah menuliskanmu tanpa ijin. 

Banyak yang aku pelajari dari buku harianku.  Orang-orang datang dan pergi dari hidupku, semua membawa makna.  Manusia dipertemukan satu sama lain untuk saling belajar, dipisahkan pun demikian.  Berpisah dengan orang yang aku cintai adalah sebuah latihan bagi jiwa untuk mengelola rasa sakit.  Aku heran juga dengan pemikiranku saat masih remaja, sudah spiritual sekali.

Suka dan duka datang silih berganti, hidup tidak banyak memberi pilihan, memaksa kita mengikuti 'rule'nya.  Tak bisa memilih pengalaman manis saja yang datang.  Kita tak bisa merasakan senang bila tidak pernah merasakan sedih.  Kita tidak bisa menghargai kesetiaan bila tak pernah dikhianati.  Kita tak bisa merasakan kelonggaran bila tak pernah mengalami kesempitan.  Tambahkan sendiri sesuai dengan kondisimu saat ini.
 
Selamanya dalam hidup selalu terjadi dua hal yang seolah bertentangan, tetapi mereka bersahabat, membentuk diri kita hingga hari ini.  Berterimakasihlah pada keduanya. 
 
Ada juga pembaca yang memuji-mujiku (ngasih makan egoku nih), mbak Innuri itu pengalaman spiritualnya luar biasa. Aku harus katakan, di luar sana banyak orang mengalami hal yang lebih luar biasa, tetapi mereka diam. Bisa jadi pembaca Innuri blog ini lebih dalam pengalaman spiritualnya, tetapi tak menulis.  Innuri bersuara karena aku memang punya tugas menulis, aslinya bukan aku, tapi Allah.  Aku menulis karena ada perintah untuk menulis, karena Allah yang menggerakkanku menulis.  Jadi Innuri tak seluarbiasa itu ya, dia mah sudah tiada.
 
Sekarang menjadi penulis itu mudah, tinggal ngepromt ke AI,  tulisan sudah auto bagus sekali, tetapi tidak ada 'ruh'nya.  Jadi biar saja Innuri hadir dengan tulisan yang sederhana tetapi jujur lahir dari manusia, bukan mesin.  Manusia butuh disentuh manusia, kukira rasanya pasti beda.   

Inilah catatan harianku hari ini ... hmm.