Pertama mendengar istilah ini dari tulisan eyang Syamsul'alam, kaya-kaya wes mati sajrone isih urip, itu bahasa Jawa yang artinya seolah-olah sudah mati di dalam kehidupan. Itu juga merupakan salah satu ajaran tasawuf yang disebut fana atau ketiadaan diri. Ini adalah hal paling indah dan membagikan saat bisa mengalaminya, rasanya tuh merdeka dari perbudakan, kayak punya sayap, ringan dan bebas.
Merdeka dari perbudakan siapa? Dari pikiran dan logika kita sendiri, dari perasaan kita sendiri, dari persepsi dan persangkaan kita sendiri, merdeka dari emosi negatif, marah dendam benci dsb.
Innuri lagi mempraktekkan ini dengan sengaja di dalam kehidupan. Walau masih on of, semakin ke sini rasanya semakin lama on-nya.
Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak mengontrol orang-orang seperti apa yang aku mau. Aku membiarkan mereka semua dikontrol Allah, berproses menurut kehendak Allah. Ini membuat aku tidak pusing dengan segala hal yang dilakukan orang-orang di luaran sana, juga orang-orang yang aku sayangi, hatiku menjadi damai sekali.
Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak lagi terpengaruh dengan perlakuan orang pada diriku, mau mereka membenci kek, menghujat, atau diam, suka, mencinta, mendamba, dll. Ibarat mereka sedang menembak angin, tidak ada yang terluka, tidak juga ada yang merasa tersanjung. Perasaan sudah di atas itu, di atas suka duka, itu perasaan yang enak sekali.
Ketika aku merasa tidak ada, aku tidak lagi melekat pada makhluk. Kehadiran atau pun ketidakhadiran mereka, kepergian atau pun kedatangan mereka, perasaan sudah di atas senang dan sedih, itu bukan perasaan biasa saja, itu perasaan yang indah karena bisa mencintai semuanya. Justru tidak melekatlah yang menghadirkan perasaan menyatu.
Ketika merasa tidak ada, maka yang terlihat hanyalah Allah, semua adalah keindahan, semua terlihat indah saja.
Ketika merasa tidak ada, Allah adalah aku dan kamu, juga dia dan mereka, juga alam semesta utuh.
Ketika merasa tidak ada, aku sudah berada di surgaNya.
Semua menjadi indah saja.