Jumat, 14 Agustus 2026

Membalut Kecewa

Sudah dua malam aku di Bandung. Ada peristiwa yang memberiku pelajaran. Kemarin ke Pengalengan, makan di sebuah resto yang terkenal. Eeh, makanan yang kupesan tidak sama dengan foto makanan di menu. Di foto isinya dia potong, ada sayuran yang banyak pula. Eh yang datang hanya sepotong dengan selembar daun selada. Manalah mahal lagi. 

Aku kecewa dong. Sakit hati dong. Kubawa rasa kecewaku sampai bikin status walau nama restonya kusamarkan.

Iqbal teman Aden sampai bilang, " Kalau di Jepang ini bisa didenda loh. "

Bahkan rasa kecewa itu terbawa sampai ke penginapan.

Malamnya baru kusadari bila semua itu yang menggerakkan Allah juga. Siapa sih yang menggerakkan orang-orang di resto? Siapa sih yang menggerakkan aku ke sana? Siapa coba yang bikin aku dan orang-orang itu dipertemukan? 

Itulah obat kecewa yang paling mujarab, menerima. Menerima apapun, sekecil dan sebesar apapun. 

Ya, aku masih belajar menerima ternyata. Belum expert, bila sudah bisa auto menerima, baru deh itu namanya keren. 

Terimakasih Allah untuk pelajaranMu kali ini.