Kamis, 15 Oktober 2026

Cara Menemukan Potret Utuh Kehidupan

 Aku jadi bertanya lagi, apa sih yang benar-benar bisa membebaskan manusia dari rasa takut, sedih, khawatir dan sebangsanya selain dari menyadari bila semua yang terjadi sudah tertulis.

Pertanyaan itu muncul ketika seorang temanku membagikan cerita di status Fb-nya.  Dia tinggal dengan ibu mertuanya yang sudah tua tetapi masih sehat.  Dia rawat sang ibu dengan penuh kasih, terpenuhi segala kebutuhan dengan sangat baik. Dikelilingi cucu yang baik-baik pula. Dibebaskan melakukan apa saja yang membuat beliau bahagia, dituruti semua permintaan yang membuat beliau bahagia. Intinya sang ibu hidup terjamin dan selalu dibagikan oleh anak, cucu dan menantu.

Tapi ternyata sang ibu masih sering galau dan sedih. Mungkin karena ketiadaan pasangan, mungkin karena terseret ke masa lalu, karena masa kini dan masa depan sudah tidak membuatnya khawatir.

Di situlah aku merenung. Kesadaran apa lagi yang dibutuhkan manusia agar benar-benar terbebas dari kesedihan?

Sampai aku bawa pertanyaan itu dengan membayangkan diriku sendiri seumpama di posisi itu.  Sampai aku menemukan jawabannya.

Selain kesadaran bila hidup ini sudah ada skenarionya. Ada satu ketentuan Allah yang sering sekali ditolak manusia, yaitu Allah menghadirkan segala sesuatu berpasang-pasangan.  Ada baik-buruk, sedih-senang, suka-duka, beruntung-buntung, siang-malam, gelap-terang,  dll , perbanyak sendiri kondisi yang berkebalikan itu.

Manusia memilih yang enak-enaknya saja kan? Menolak bagian yang tidak enak.  Padahal dua kondisi yang berbeda itu bisa berada di saat yang bersamaan, seperti mata uang.  

Atau lihat cahaya yang menimpa suatu benda, membentuk sisi gelap dan terang yang dengannya kita bisa membedakan satu benda dengan benda yang lain. Bila hanya memilih cahaya, tanpa sisi gelapnya ya tidak kelihatan bentuk suatu benda bukan?

Coba renungkan kehidupanmu sendiri, saat ini, saat membaca tulisan ini, ada apakah di hidupmu? Selalu ada dua hal yang berkebalikan bukan? Ketika kamu bahagia, ada hal-hal yang membuatmu tidak bahagia. Misalnya saja kamu punya keluarga yang selalu mensuportmu, tapi kamu punya tetangga yang nyinyir dengan pencapaianmu.  Seperti itulah gambarannya. Selalu dan selalu kehidupan ini membawa dua hal yang berkebalikan di saat yang bersamaan.

Bagaimana kamu bisa selalu bahagia menjalani kehidupan dengan hukum seperti ini? Kebanyakan orang akan mengatakan, abaikan sisi buruknya dan fokus pada sisi baiknya.  Betul 'kan? Namun ini bukan penyelesaian yang bijak, ini berarti sebuah penolakan akan suatu kondisi.  Ini tidak mengantarkanmu pada kesejatian atau kebahagiaan sejati yang tidak goyah oleh apapun.  Ini tidak bisa membuatmu melihat peristiwa secara utuh.

Lantas bagaimana? Menerima keduanya? Jawabannya iya dan tidak.  Menerima keduanya, tapi bukan berarti kamu sedih dan senang di saat yang bersamaan. Menerima keduanya tapi kamu melampaui (di atas) keduanya. Dengan demikian kamu akan melihat potret utuh dari peristiwa yang terjadi padamu, the complete picture of your life.

Aku ambil contoh dari kasus sahabatku yang saat ini sedang sedih banget karena lagi berselisih dengan anaknya. Karena perselisihan mereka, baik sang anak dan sang ibu sama-sama sedih kukira.  

Lantas aku katakan padanya bila segala sesuatu sudah tertulis sebelum peristiwa itu terjadi.  Tapi dia tak kunjung pulih dari penyesalannya.

Lantas aku katakan bila semua yang terjadi pasti berguna buat proses pendewasaan si anak, dan sekaligus proses spiritual sang ibu dalam memahami kebijaksanaan Allah.

Dia mengangguk-angguk, mengatakan bila aku benar, setelah peristiwa itu justru banyak hal baik terjadi di antara mereka berdua.  Nah, di sini rupanya maksud Allah memberi pengalaman buruk berupa pertengkaran, untuk hadirnya hal-hal baik yang diterima keduanya. Hukum dualitas itu terjadi.

Namun sahabatku masih sedih juga, mengatakan bila anaknya sekarang jadi berbeda, tak lagi seakrab dulu dengan dia sebagai ibunya.

Di situlah aku mengatakan padanya soal bagaimana menyikapi dualitas, agar kita tidak terus menerus terseret ke sini dan ke sana, kita musti melompat keluar dari kehidupan kita sendiri. Kita musti belajar menjadi penonton bagi kehidupan kita sendiri.

Ya, begitulah caranya, jadilah penonton! Penonton film kehidupan kita sendiri. Inilah salah satu cara melihat potret utuh kehidupan.  Endingnya adalah kita jadi takjub akan skenario Allah yang luar biasa indah untuk kehidupan kita.

Menjadi penonton bagi kehidupan kita sendiri itu memang tak semudah itu, perlu latihan dan pembiasaan.  Lain kali Innuri tulis di tulisan yang lain saja ya.

Kalau ada pertanyaan boleh.