Senin, 20 April 2026

Marah yang Disadari

 Di akhir tulisanku  Menantang Allah aku menjanjikan akan bercerita bagaimana hasilnya setelah kesadaran bila semuanya dikendalikan Allah sudah terinstal dalam diri kita.

Hidup jadi damai, bahagia, tanpa beban, seperti danau di bawah gunung, permukaannya tenang, tidak ada riak, di dalamnya pun tidak ada gejolak, sejuk dan menyejukkan.  Ketika ada tangan jahil melempar batu ke dalamnya, ada riak kecil keluar tapi segera tenang kembali.  Gambaran sempurna sebuah perasaan indah kesadaran.

Namun tak semudah itu, Sayang.  Ada ujiannya yang membuat kesadaranmu semakin kokoh dan kuat.

Ujian pertamaku.

Sudah beberapa kali Allah menggerakkanku untuk membagikan tulisan di 9 grup spiritual di Fb.  Di situlah aku sering merasa 'kok gini amat ya Allah' isinya orang-orang di grup tasawuf, makrifat dll.  Aku dikatain gila, bodoh, mati sana! dll, juga komentar panjang yang tidak aku baca sambil ketawa dalam hati. "Kapok kowe, dah nulis panjang-panjang aku cuekin."  

Dari awal aku merasa "kok gini amat" lalu menyadari "memangnya siapa yang menggerakkan?" sampai kemudian menyadari "itu pesan Allah" berarti hatiku yang harus dibersihkan, lalu merasa tidak terpisah "loh mereka kan refleksi dari sisi gelap aku sendiri"  setelah itu merasa semuanya Allah, melihat Allah di semua hal.

Ujian kedua, pelajaran yang berbeda.

Ceritanya di Ngantang ketemuan sama teman-teman SMP lalu rujakan di pinggir danau Selorejo diantar Mas Hary.  Maka lewatlah kami di depan rumah seorang teman SMP, rumah megah dengan pekarangan luas, tapi ternyata pekarangan kosong di samping rumahnya sudah berpagar, artinya sudah bukan milik dia lagi.

Melihat itu aku bertanya pada teman-temanku, "Loh dijual ta?"

"Iya, sudah laku dari lama," jawab beberapa teman.  Kepalaku langsung berdenyut memikirkan sesuatu, karena dia punya hutang padaku, tak kunjung dibayar dengan alasan lagi bankrut.  Eh, tanahnya laku nggak ingat bayar hutangnya padaku.

Aku marah dong, marah-marah lewat pesan di WA.  Kemarahanku terpicu karena hutang dia itu dalam bentuk lukisan.  Dia pesan lukisan potret kedua orang tuanya, aku mengerjakannya tiga bulan (walau tidak dikerjakan setiap hari) mana dia cerewetnya ampun-ampunan, yang kurang ini kurang itu, semua aku turuti.

Aku marah karena merasa tidak dihargai jerih payahku, padahal aku sudah kasih harga teman.

Sebelum pesan lukisan itu dia pernah mamerin uang tunainya di dompet ... haha, jadi aku percaya dia orang kaya ditambah penampilan rumahnya yang megah.  Jadi aku kerjakan pesanan itu tanpa kecurigaan apa pun, juga tanpa minta DP.  

Saat aku marah-marah itu sebenarnya aku sudah 'melihat Allah', tapi memang Allah menggerakkanku untuk marah-marah.  Jadi aku marah-marah sambil menyadari bila aku sedang digerakkan Allah untuk marah-marah.  Ini berbeda dengan marah-marah yang digerakkan emosi ya.  Memang ada emosinya, tetapi emosi itu aku sadari bila emosiku sedang digerakkan Allah.  Haduh, membingungkan ya?  

Jadi begini, ketika kita sadar bila sedang digerakkan Allah keseluruhan diri kita, hati kita ini mudah menjadi damai lagi.  Ketika hati damai, terbitlah pemahaman-pemahaman baru yang tadinya tertutup oleh pikiran kita.

Apa pemahaman baru dari ulah temanku yang nakal ini?

Allah tidak mengijinkan aku bersikap mengalah saja, biarin saja, alias gampang memaklumi orang.  Allah tidak rela ada orang berbuat semena-mena terhadapku dan terhadap kalian semua.  Marah itu boleh, asalkan marah dengan kesadaran.

Kesadaran yang bagaimana?  Kesadaran bila diri kita ini sedang digerakkan Allah untuk marah, karena marahnya bener, marahnya dengan sebab yang benar.  

Pikirkanlah, bila perbuatan orang-orang macam temanku itu dimaklumi saja, dia semakin seenaknya sendiri.  Tidak ada jeranya.  Dia bisa menzalimi orang lain.  Jadi marahnya untuk membela diri dan untuk mencegah dia dari menzalimi orang lain.  Jangan lupa marahnya disadari.

Begitulah ceritaku dari desa di ujung barat kabupaten Malang.