Kamis, 26 Maret 2026

Jatuh Cinta Pada Allah

 Banyak sekali orang yang mendoakanku panjang umur, padahal aku tidak suka panjang umur.  Aku ingin segera pindah channel, ke channel yang lebih indah daripada dunia ini, mau ikut? ... haha.  

Seandainya orang-orang itu melihat apa yang pernah Allah perlihatkan padaku, barangkali mereka sendiri pun tak mau tinggal lama-lama di dunia. 

Kadang aku merasa terjebak di dunia hologram ini, kerinduanku setiap hari adalah berada di kesejatian dimana aku bisa bertemu Allah tanpa terdistraksi dengan urusan dunia. 

Itu semesta yang indah sekali, yang di sana Tao Ming Se pun kehilangan pesonanya, Emas permata tak berarti, istana megah lebih kecil dari sebutir debu. 

Aku tidak mau panjang umur, mauku meninggalkan dunia ini sebelum usia 60 tahun dan aku harus mati duluan sebelum suamiku. 

Tapi bukankah itu egois namanya?  Tak ada bedanya dengan orang-orang yang ingin panjang umur.  Aku hanya perindu surga dan bukan perindu Allah. Kalau aku perindu Allah, aku pasti bahagia saja di mana pun ditempatkan olehNya, meski di neraka sekali pun asal bersama Allah. Ini cuma dunia, masak aku sudah ingin buru-buru pindah channel, sedangkan di dunia ini ada Allah yang senantiasa membersamaiku.

Halus sekali jebakannya, jebakan mukasyafah. 

Orang-orang yang hanya melihat keindahan dunia, ingin panjang umur agar terus menetap di sini. Orang yang sudah Allah perlihatkan keindahan surga ingin segera mati. Keduanya sama saja, memuja tempat.

Lalu pemahaman baru diterbitkan Allah di hatiku.  Pemahaman yang susah sekali diterangkan dengan kata-kata.  Ketika Allah menghadirkan diriNya ke hatimu, itu bukan lagi surga tempat yang kamu saksikan, itu bukan tempat tapi lebih indah.  Surga yang terjadi tanpa perlu mati fisik, tinggal kun fayakun. 

Itu terjadi ketika aku mengalami jatuh cinta pada Allah.

Ini hal yang luar biasa, aku seperti dimasukkan dalam pusaran waktu yang di dalamnya aku dipahamkan akan makna dibalik setiap hal yang aku alami sepanjang hidupku. 

Lalu aku menyadari (disadarkan Allah) bahwa momen-momen yang aku anggap luar biasa hanyalah sepercik saja dari pengalaman bahagia yang diberikan Allah, karena Allah sudah menyiapkan momen bahagia yang tak terbatas sebagai hadiah untukku. 

Allah membawaku ke masa lalu, masa kecilku yang bahagia, masa remajaku yang penuh warna. Momen jatuh cinta yang membahagiakan. Lalu Allah perlihatkan berjuta cinta yang disediakanNya sebagai anugerahNya.  Aku bisa jatuh cinta pada sebutir sel yang tak berarti di mata dunia, atau pada hembusan angin dan air yang mengalir seindah aku jatuh cinta pada kekasih. 

Pada puncak jatuh cintaku pada Allah adalah aku merasa sebagai setitik air dalam lautan kasih sayangNya. Itu lautan akhirat yang indah tiada tara, airnya ringan yang hampir-hampir tak membasahi kulitku, aku basah tetapi tidak basah, lautan itu berwarna pelangi yang berkilauan tapi tidak menyilaukan. 

Ketika aku jatuh cinta pada Allah, aku merasa kecil dalam kebesaranNya, aku kecil tanpa merasa dikecilkan, aku si kecil yang berharga dalam pandangNya. Aku kecil yang dipuja dan dimanjaNya.  

Allah menempatkanku di ketinggian dengan seluruh penjagaanNya sehingga aku bisa melihat dengan mata facet (sungguh Allah sudah memberikan perumpamaan dalam diri serangga).

Pengalaman itu ada istilahnya sendiri dalam psikologi transpersonal, tapi aku lupa apa di kuliah Pak Hans, jadi aku namakan saja pengalaman jatuh cinta pada Allah. 

Banyak orang yang berjalan di jalan spiritual (dalam Islam disebut jalam makrifatullah), mengalami hal yang mirip dengan yang aku alami.  Salah satunya dialami Jim Carey.  Coba buka tautan Pengalaman spiritual Jim Carey .

Seperti haknya Jim Carey, aku pun ingin mengalaminya lagi dan lagi.  Kalau kalian mengalaminya, certain ke Innuri dong! 

Apa Innuri masih pinging cepat mati?  Masih kadang-kadang (Allah, ampuni aku)... bahkan sudah pamitan sama ojob tapi nggak mati-mati .... hahaha.  Kata suamiku aku cuma mati egonya.  Tapi aku masih punya kesempatan beberapa bulan untuk tahu mana yang benar, mati beneran atau mati ego, sebelum usiaku genap 60 tahun.   Waah, egoku bangkit lagi tuh, yang bener itu ya pasrah saja sama Allah, mati kapan pun selama bersama Allah dalam hidup dan mati, bahagia saja mestinya.