Meletakkan harapan pada makhluk itu bikin berat di hati, tercabik-cabik dari dalam, gloomy alias suram, ibarat mendung cumulus nimbus dah itu. Nggak enak banget 'kan? Dipermainkan oleh diri sendiri.
Kalau kepingin bahagia ya kita harus mencerabut harapan pada orang-orang yang kita sayangi, biarkan saja mereka apa adanya, Allah juga yang mendampingi mereka semua walaupun mereka tak menyadari.
Bila dipikir lebih dalam, mengharap sesuatu menjadi seperti yang kita mau. itu 'kan sama artinya kita nggak puas dengan keadaan, Kita seperti ingin mengendalikan manusia, padahal siapa sih dibalik semua manusia itu? Allah 'kan? Jadi di kedalaman yang dalam sekali, berharap itu sama saja dengan meragukan kemampuan Allah.
Persoalannya adalah mencerabut harapan dari dalam hati kita itu tak semudah menjadi gendut di usia enampuluhan...haha. Innuri sering menulis metode berjarak dengan emosi, atau hanya menatap emosi tanpa bereaksi. Masih susah juga katanya. Lalu aku tulis cara 'ngeles cantik'. itu juga ternyata susah bagi yang belum wushul (menyatu dengan Allah)/
Di cara ngeles cantik itu 'kan gini prosesnya, kita merasa tiada, keakuan lenyap, ego mati, yang ada hanya Allah. Karena yang ada hanya Allah, jadi segala harapan itu miliknya Allah Nah, ketika ego belum lenyap, tapi menganggap yang punya harapan itu Allah. ya artinya belum berhasil lolos dari permainan emosi, karena egonya masih ada.
Siapa yang pusing sekarang?
Begini saja deh, Innuri mau jelaskan per kasus, nanti kamu bisa melatih hatimu per kasus juga.
Misalnya nih, kasus sederhana saja ya. Ada istri yang berharap suaminya yang buang sampah setiap hari. Tapi kadang suaminya lupa, hasilnya hati si istri jadi jengkel 'kan? Nggak enak 'kan menyimpan jengkel di hati? Menolak rasa jengkel malah membuatnya semakin kuat mencengkeram hati. Jadi si istri harus menyadari itu dulu, jengkel itu tidak enak, si istri diam saja untuk merasakan rasa jengkel yang tidak enak itu sampai hatinya sendiri bosan ketempelan rasa jengkel. Istilahku "disadari sampai eneg".
Tips ini, seandainya tidak bisa menghilangkan harapan sama sekali, setidaknya bisa mengurangi muatan emosinya. Bila rajin dilakukan, hasilnya cukup signifikan dalam mengatasi hati yang berat karena berharap pada orang lain.
Lama kelamaan bisa menyadari, intinya bukan pada orang lain berubah jadi orang yang sesuai dengan harapan kita atau tidak, tetapi bagaimana hati ini berdamai dan bersyukur dengan semua itu.
Dicoba ya, Sahabat.