Taawudz
Taawudz merupakan doa perlindungan dari godaan syetan yang terkutuk.
Ada hadits yang mengatakan bila syetan itu mengikuti aliran darah, renungkan apa artinya ini? Artinya syetan itu bukan makhluk ghaib di luar sana yang selalu menggodamu, tapi dia menyatu denganmu, dalam psikologi transpersonal disebut ego. Carl Gustav Jung menyebutnya shadow, sisi gelap yang setiap orang punya.
Bagaimana lolos dari syetan bila dia menyatu dengan kita? Langkah paling efektif adalah menyatu dengan Tuhan. Bila sudah menyatu dengan Tuhan, ya otomatis setannya tak berkutik, alias egonya masuk lemari dan terkunci tujuh lapis gembok. Shadow kita hilang karena ketiadaan diri.
Bagaimana menyatu dengan Tuhan? Innuri sudah menuliskannya di seri Perjalanan ke Dalam
Akan tetapi, orang yang sudah pernah mengalami menyatu dengan Tuhan pun masih harus menempuh perjalanan lagi atau masih harus berjuang agar menyatunya tidak on of.
Perlu mengoreksi diri terus menerus, apakah sedang menyatu dengan Tuhan ataukah dengan syetan / ego / shadow. Tapi kuingatkan lagi agar jangan merasa berusaha, Allah yang menggerakkanmu berusaha. Jangan merasa terpisah dengan Allah.
Al Fatihah
Al Fatihah merupakan inti sari Al quran. Poin-poinnya, melakukan segala sesuatu atas nama Allah yang Maha Kasih Sayang, memuji / bersyukur, penekanan pada kasih sayang lagi, Allah yang menguasai hari pembalasan (mempercayai karma), penyembahan hanya kepada Allah disertai doa memohon pertolongan, hati yang selalu mohon petunjuk ke arah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi kebahagiaan dan bukan jalan orang yang sesat dan dimurkaiNya.
Indah sekali makna Al Fatihah, biarkan dia memperindah hidupmu dengan menginstal nya ke dalam jiwamu sampai menjadi kepribadianmu. Dengan demikian kamu sudah menjalankan salat daim.
Ar-Rahman Ar rahiim sampai diulang dua kali, menunjukkan betapa pentingnya kasih sayang dan betapa pentingnya memahami bila Allah Maha Kasih Sayang. Itulah basicnya kehidupan ini.
Melakukan apapun musti niat melakukannya karena digerakkan Allah yang penuh kasih sayang. Ini susah sekali di jaman media sosial ini. Niat upload foto atau video karena pamer, karena biar dapat gaji dari medsos, atau untuk dapat like, entah karena apa lagi. Halus sekali masuknya niat-niat itu.
Harus disadari bila niat yang dilakukan bukan karena Allah itu endingnya ngenes! Misal nih karena uang, kalau nggak tercapai ya kecewa. Karena pamer, nggak ada yang merespon ya kecewa lagi. Kalau niatnya karena Allah yang Maha Kasih Sayang ya enteng saja, Allah yang menggerakkanku dan atas dasar kasih sayang, mau hasilnya bagaimana bisa auto santai, tanpa berharap apapun. Hidup hanya mengalir saja di dalam aliran kasih sayangNya.
Siapa sih yang tidak bahagia dikasih sayangi Allah? Persoalannya adalah Allah sudah melimpahkan kasih sayangNya, manusianya yang gak notice alias hatinya lalai. Lalai karena ketutupan ego, keinginan, kehendak, hasrat duniawi yang serakah. Semua tutup itu harus disingkirkan untuk bisa salat daim yang "sekedar" merasakan kasih sayang Allah, tanpa jungkat-jungkit, tanpa komat-kamit.
Mendasari segala sesuatu dengan kasih sayang ini bukan melulu soal perbuatan, tapi juga membatin apapun musti atas dasar kasih sayang. Misal dihadapanmu ada seseorang yang perilakunya jelek sekali, hatimu musti memahami itu pakai kasih sayang, nonjudgemental. Bukannya membatin orang ini kok begini banget ya, dll. Hati selalu dikondisikan berada di zona kasih sayang.
Tentang maaliki yaumuddin, yang artinya yang menguasai hari pembalasan. Umumnya orang memaknai hari pembalasan itu nanti di akhirat, padahal di dunia ini sudah ada pembalasan, yang banyak orang menyebutnya karma. Ada karma baik ada karma buruk. Percaya pembalasan ini bikin hati-hati, tapi jangan melakukan sesuatu karena takut karma, lakukan karena Allah saja, kembali ke poin awal.
Ayat berikutnya kepadaMu aku menyembah dan kepadaMu aku mohon pertolongan. Ini tauhid lagi, jangan berharap pertolongan pada makhluk. Misal minta tolong Pak X untuk diterima bekerja. Yakinlah Allah pasti menolong kehidupanmu. Terkadang kita ditolong oleh seseorang, batinmu harus memandang Allahlah yang menolong via orang itu.
Ayat selanjutnya mohon petunjuk selalu dijalankan di jalan yang lurus, yaitu jalan Tuhan, jalan orang-orang yang berbahagia. Jadi kalau kamu sudah berada di jalan yang lurus, jangan merasa itu karena usahamu, karena Allahlah yang menjalankanmu di situ. Bersyukur saja.
Jadikanlah Al Fatihah sebagai kepribadianmu. Itu lebih penting daripada salat fisik yang tidak membekas di jiwa.
(bersambung)