Senin, 11 Mei 2026

Penyakit Bangga

Pernah merasa bangga pada diri sendiri? Merasa sudah bisa melewati berbagai hal berat, merasa pencapaian-pencapaian dalam hidup sudah begitu luar biasa?  Atau bangga pada orang-orang yang kamu sayangi?  

Ada sesuatu yang tersembunyi dari bangga, yaitu keakuan, merasa aku yang melakukan.  Padahal tanpa Allah, apa sih yang bisa kamu  dan aku lakukan?  

Rasa bangga itu dekat dengan kesombongan dan berpotensi merendahkan orang lain.

Kadang bangga juga dibungkus kata-kata yang religius, "Alhamdulillah, telah sampai di titik ini, semua berkat perjuangan yang tak kenal lelah, juga doa yang dilantunkan setiap malam."  Adakah yang janggal dari kata-kata itu?  Bagi orang awam mungkin tidak, tapi bagi orang spiritual, pasti tahu apa yang tersembunyi di balik kalimat itu.

Merasa telah berjuang / berusaha dan merasa telah berdoa hingga doa-doa dikabulkan.  Allah letaknya dimana? Di pengabul doa dan keinginan?  Allah bukan lagi Tuhan yang berperan di dalam seluruh kehidupan manusia.  Manusia dengan keinginannya yang dominan, Tuhan hanya sebagai 'mesin' pengabul keinginan.  Manusia merasa sebagai tokoh utama, padahal aslinya dia hanya wayang yang digerakkan sang dalang.

Bangga itu penyakit serius bagi seorang yang ingin selamat kehidupan akhiratnya.  Segeralah sadari bila kita manusia ini tak punya daya dan kekuatan selain dari Allah.

Terkadang rasa bangga itu menyusup begitu halusnya, dalam bentuk merasa diri lebih baik dari orang lain.  Ingat iblis terjerumus dalam kesesatan karena merasa lebih baik dari Adam. 

Cara melenyapkan rasa bangga yang paling efektif adalah dengan wushul, meniadakan diri, yang ada hanya Allah.  Lahaulawala quwataillabillah.