Apakah yang kamu inginkan dalam hidupmu bila hanya boleh mengucap satu keinginan saja dan pasti dikabulkan Tuhan?
Catat baik-baik jawabanmu di hati ya lalu bacalah ceritaku.
Seorang teman menulis status begini :
Ternyata apa yang kita bayangkan tak semudah dan seindah yang kita inginkan.
Dia pakai kata 'kita' , mestinya aku, karena itu kesimpulan dia sendiri 'kan?
Itu cerita tentang keinginan, yang ternyata tak semudah itu mencapainya, sudah tidak mudah, hasilnya pun tidak indah, artinya mengecewakan. Dia sedang kecewa akan kehidupan yang tidak mudah dan sudah menjalani yang tidak mudah itu tetapi hasilnya mengecewakan.
Keinginan adalah sumber penderitaan, atau to the point saja, keinginan adalah penderitaan.
Agar tidak menjadi penderitaan, keinginan itu dipasrahkan Allah saja, agar menjadi keinginan Allah, kamu tidak punya keinginan itu lagi, hidupmu ringan, tinggal mengikuti aliran takdir seperti perahu kertas yang dilempar ke sungai berair jernih di tengah hutan yang teduh. Selain cara itu, ada jurus lain yang lebih indah.
Yaitu merasakan bila semua yang ada di bumi ini adalah milik Allah, keinginanmu juga milik Allah. Sudah selesai, kamu tidak memiliki keinginan itu lagi. Apa yang kamu lakukan di dunia ini hanyalah melangkah selaras dengan keinginan Allah. Keinginan yang tertinggal di hatimu hanyalah keinginan untuk bersamaNya saja.
Selaras dengan Allah itu indah sekali, kamu bisa menikmati setiap momen dan bisa melihat sisi indah yang orang kebanyakan tidak bisa melihatnya.
Orang kebanyakan yang aku maksud adalah orang-orang yang masih dibungkus oleh keinginannya. Keinginannya itulah yang menghalanginya dari melihat hal indah yang semestinya dia bisa saksikan.
Selaras dengan Tuhan juga menghentikan kekhawatiran akan ini dan itu, karena hati membiarkan semuanya dalam konrol Allah. Selaras dengan Allah membuat hati kita menjadi netral, tidak merasa rugi dan kecewa.
Aku akan cerita tentang diriku. Pernah suatu waktu, ada orang yang memesan batik tulis dengan harga yang aku tinggal njeplak alias tinggl ngomong, dia nggak nawar, jumlahnya banyak dan bakalan memesan secara kontinyu. Padahal aku sudah menutup butikku. Aku tergoda dong, merasa aku lebih berarti dengan memproduksi batik tulis lagi, bisa membuka pekerjaan lagi untuk orang banyak. Aku pun minta dimodalin suamiku membeli segala perlengkapan yang aku butuhkan sampai nominalnya banyak sekali.
ART-ku aku jadikan karyawan pertama ditambah memanggil seorang mantan karyawanku lagi yang nganggur di rumah. Aku sudah merasa bakal bangkit lagi. Tapi apa yang terjadi, di tengah jalan aku kehilangan mood, aku berhenti di tengah pesanan yang masih mengalir. Sebagian sudah aku penuhi, tersisa satu potong belum aku kerjakan sampai sekarang, untung yang ini pesanan teman baikku sendiri yang paham akan situasiku.
Berhari-hari aku merasa berdosa pada suamiku dan pada Allah. Merasa sudah rugi berbelanja begitu banyak yang akhirnya mangkrak. Suamiku tidak mempermasalahkan, dia memang lebih suka aku mengerjakan hobi melukisku. Akulah yang tak bisa berhenti merasa bersalah.
Lalu kemudian aku menyadari bila semua itu Allahlah yang menggerakkan dan Allahlah yang menghentikan gerakanku. Tidak ada yang rugi karena semua milik Allah dan terserah Allah bagaimana mengalirkan rezekinya.
Selaras dengan Tuhan dan mengalir bersama kehidupan, membuat hidupku lebih damai, Satu-satunya keinginanku adalah selalu bersama Allah, dibimbingNya, merasakan kasih sayangNya setiap saat.
Bagaimana denganmu?