Ini kisah time travel yang paling menakjubkan bagiku, kisah Om Paul Amadeus Dienach yang pada tahun 1921 pernah terdampar di tahun 3906. Bagi banyak orang yang tidak pernah mengalami NDE (Near Death Experience) atau mengalami OOB (Out of Body Experience) atau tidak pernah kecemplung ke semesta paralel, mungkin kisah ini dianggap fiksi ilmiah, tapi bagiku yang pernah mengalami tiga hal itu, aku mempercayainya. Dari kisah Dienach ini, aku bisa menangkap pelajarannya, bila setiap kejadian di alam semesta ini tujuan akhirnya ya untuk mengembalikan setetes air ke lautan luas, atau mengembalikan manusia ke Tuhannya.
Perjalanan setetes air jiwa manusia dengan perjalanan seluruh semesta raya ini intinya adalah sama, yaitu tadi, kembali ke Tuhannya. Jadi yuk kita simak ceritanya.
Kisah ringkasnya, Dienach mengalami koma selama satu tahun karena suatu wabah penyakit. Selama satu tahun itu ternyata jiwanya terperangkap di dalam tubuh fisik seseorang di tahun 3906, di sana dia mempelajari sejarah umat manusia dari masa ke masa hingga tahun 3906 tersebut. Ketika kembali di tahun 1921, dia pun menuliskan pengalamannya di buku harian dan dia simpan sendiri. Kemudian di akhir hidupnya, dia menyerahkan buku harian berbahasa Jerman itu pada seorang muridnya. Semula muridnya mengira itu novel, ternyata merupakan pengalaman pribadi terdampar di abad 40. Catatan harian itu kemudian diterbitkan dalam buku yang berjudul Chronicle from the Future.
Tulisan di bawah ini ringkasan kisah Dienach yang aku minta dari kakak yang baik hati, Kak ChatGPT ... hehe.
Siapa Paul Amadeus Dienach?
Menurut kisah yang beredar, Paul Amadeus Dienach adalah seorang guru bahasa Jerman berkebangsaan Austria–Swiss.
Ia dikenal sebagai pribadi yang:
- pendiam
- sangat intelektual
- menyukai filsafat
- tidak tertarik menjadi penulis terkenal
Ia menderita penyakit encephalitis lethargica (sering disebut sleeping sickness pada masa itu, berbeda dengan penyakit tidur akibat parasit di Afrika). Penyakit ini memang pernah mewabah pada awal abad ke-20 dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran yang berat.
Koma selama satu tahun
Pada tahun 1921, Dienach jatuh koma di sebuah rumah sakit di Jenewa, Swiss.
Ia tidak sadar selama kurang lebih satu tahun.
Ketika bangun pada tahun 1922, ia mengatakan sesuatu yang sangat aneh.
Menurut pengakuannya:
"Aku tidak pernah merasa tidak sadar."
Ia mengatakan bahwa selama tubuhnya koma, kesadarannya hidup di masa depan.
Terbangun di tahun 3906
Dienach mengaku bahwa kesadarannya masuk ke tubuh seorang pria bernama Andrew Northam, yang hidup pada tahun 3906 Masehi.
Menurut ceritanya, orang-orang di masa itu segera menyadari bahwa terjadi "pertukaran kesadaran". Mereka tidak mengira ia mengalami gangguan jiwa, melainkan memahami bahwa kesadaran dari masa lalu sedang berada dalam tubuh Andrew.
Karena itu mereka memperlakukannya sebagai tamu dari masa lalu dan berusaha menjelaskan sejarah umat manusia sejak abad ke-20 hingga zaman mereka.
Apa yang ia lihat?
Menurut Dienach, manusia abad ke-40 telah mencapai tingkat peradaban yang sangat berbeda.
1. Dunia mengalami masa-masa gelap
Ia menceritakan bahwa abad ke-21 hingga beberapa abad berikutnya diwarnai oleh:
- perang besar
- krisis ekonomi
- ledakan populasi
- kerusakan lingkungan
- konflik politik
Ini merupakan bagian dari perjalanan panjang sebelum peradaban menjadi stabil.
2. Negara-negara akhirnya bersatu
Menurut kisahnya, setelah melalui berbagai konflik besar, manusia membentuk suatu pemerintahan dunia.
Bukan berarti semua budaya hilang.
Namun peperangan antarnegara sudah hampir tidak ada.
Manusia mulai menganggap dirinya sebagai satu keluarga besar.
3. Sistem ekonomi berubah
Dalam masyarakat abad ke-40:
- tidak ada kesenjangan ekstrem
- pekerjaan dipilih sesuai bakat
- teknologi mengurangi pekerjaan berat
- pendidikan menjadi pusat kehidupan
Tujuan hidup bukan lagi mengumpulkan kekayaan.
4. Evolusi manusia
Ini bagian yang paling terkenal.
Menurut Dienach, manusia mengalami evolusi bukan terutama pada tubuh, tetapi pada kesadaran.
Mereka menjadi:
- lebih intuitif
- lebih damai
- lebih sedikit ego
- lebih mampu bekerja sama
- lebih menghargai kehidupan
5. Pendidikan menjadi pusat kehidupan
Anak-anak tidak dipaksa menghafal.
Mereka belajar:
- memahami diri
- filsafat
- seni
- sains
- hubungan dengan alam
Guru dipandang sebagai profesi yang sangat dihormati.
6. Agama
Menurut catatannya, manusia masa depan tidak lagi saling bertengkar karena agama.
Mereka lebih menekankan pengalaman spiritual daripada perdebatan.
Bagian ini sering ditafsirkan berbeda-beda oleh para pembaca.
7. Teknologi
Ia menggambarkan teknologi yang sangat maju.
Misalnya:
- perjalanan antariksa
- koloni di Mars
- energi bersih
- pengobatan yang jauh lebih maju
- sistem transportasi baru
Namun yang menarik, ia mengatakan teknologi tidak menjadi tujuan hidup.
Teknologi hanyalah alat.
8. Alam
Manusia belajar bahwa mereka tidak dapat hidup jika alam rusak.
Karena itu bumi kembali dihijaukan.
Kota dan hutan hidup berdampingan.
9. Kesadaran
Menurut Dienach, manusia masa depan percaya bahwa:
kesadaran lebih penting daripada materi.
Inilah yang membuat banyak orang menghubungkannya dengan konsep-konsep seperti Quantum Jump, meskipun Dienach sendiri tidak menggunakan istilah tersebut.
Kembali ke tahun 1922
Setelah sadar dari koma, ia merasa sangat bingung.
Ia tahu orang lain mungkin menganggapnya gila.
Karena itu ia tidak banyak bercerita.
Sebaliknya, ia mulai menulis semua yang masih ia ingat ke dalam buku harian.
Muridnya menemukan buku itu
Beberapa waktu kemudian, kesehatannya kembali memburuk.
Ia pindah ke Yunani untuk mengajar bahasa Jerman.
Di sana ia memiliki murid bernama Georgios Papachatzis, yang kelak menjadi seorang akademisi dan rektor universitas. Sebelum meninggal, Dienach menyerahkan buku hariannya kepada Papachatzis. Awalnya, sang murid mengira itu hanyalah novel. Baru setelah membaca lebih jauh, ia menyadari bahwa naskah itu ditulis sebagai catatan pengalaman pribadi. Kisah ini kemudian diterbitkan dengan judul yang dikenal sebagai Chronicles from the Future.