Apakah yang langsung muncul di perasaanmu ketika kata ini disebutkan? Mulai simak ya :
Tetangga ....
Mantan ....
Ibu (dan anggota keluarga yang lain) ....
Sakit ....
Darah ....
Mati ....
Silakan menambahkan kata-katamu sendiri sebanyak mungkin dan amati reaksi batinmu.
Ketika satu kata kamu dengar, apakah ada perasaan yang intens? semacam emosi yang kuat ataukah perasaan biasa saja/netral? Adakah kata yang bikin hatimu bergetar atau darahmu mendidih atau serasa ingin melempar sandal? Hmm ... coba renungkan sejenak sebelum lanjut membaca.
Itu adalah sebuah cara mengenali kompleks di dalam diri. Bukan kompleks perumahan ya, kompleks yang aku maksudkan adalah kumpulan perasaan, pemikiran, persepsi dan memori yang memiliki intensitas emosional yang kuat.
Yap! Itu kompleks ala Carl Gustav Jung, seorang tokoh piskologi yang terkenal dengan teori ketidaksadarannya. Tapi aku bukan mau membahas Carl Jung secara mendalam, itu bukan keahlianku, itu hanya sebuah caraku memakai asosiasi kata Jung untuk mengenali kegelapan di dalam diriku, kamu boleh memakainya bila suka.
Aku hendak membicarakan soal hutan belantara berikutnya yang harus kita lalui dalam perjalanan ke dalam diri, yaitu kegelapan batin.
Apa itu kegelapan batin?
Rasa kecewa pada kehidupan, marah, iri dengki, dendam dan banyak jenis penyakit hati dengan berbagai kadarnya, itu kegelapan batin. Segala sesuatu yang mengganggu pikiran dan perasaanmu itu kegelapan batin. Semua itu membuat kita terhalang dari memasuki lapisan rohani terdalam yang indah dan luas itu.
Bagaimana cara melintasi kegelapan batin?
Langkah pertama adalah mengenali kegelapan apa saja yang kamu simpan di dalam dadamu, yang bahkan sudah kamu lupakan. Sayangnya ketika kamu lupakan, kegelapan itu tenggelam ke dalam ketidaksadaran pribadimu alias masih ada dan berenergi. Itulah gunanya asosiasi kata Jung, untuk mengenali kompleks yang terpendam di dalam ketidaksadaran pribadi.
Aku akan menjelaskan lagi pelan-pelan.
Ketika hari ini kamu marah pada seseorang, kamu lebih mudah untuk mengenali kegelapan batinmu yang berupa marah, karena itu terjadi hari ini. Kamu lebih mudah untuk menyelesaikan kegelapan emosimu itu, dengan memaafkan, beristighfar memohon ampun pada Allah dan minta kekuatan dari Allah untuk sabar, lalu dengan ijin dan pertolonganNya hatimu menjadi damai, selesai.
Namun ketika kemarahanmu terjadi di masa lalu dan kamu melupakannya sebelum sempat memaafkan, kemarahan itu masih tersimpan di memori 'ketidaksadaran pribadi' yang disebut kompleks. Kompleks ini masih ada energinya dan mengganggu perjalanan batinmu menuju diri yang terdalam. Kompleks ini harus dikenali agar bisa diselesaikan.
Nah, salah satu cara mengenali kompleks itu adalah dengan asosiasi kata yang aku tuliskan di awal. Cara lainnya dengan mencermati batin kita setiap waktu. Misal suatu hari kamu tak sengaja mendengar lagu nostalgia yang membuatmu teringat masa lalu ketika dikhianati seseorang, perasaan sedih, kecewa dan marah pun hadir lagi, saat itulah kompleks itu muncul ke permukaan, rayakanlah! ini adalah kesempatanmu berdamai dengan peristiwa dari masa lalu.
Setiap hari berbagai peristiwa dihadirkan Allah, semuanya punya makna dan membawa pesan dari Penciptamu. Peristiwa / kejadian itu hanyalah bungkusnya, isinya itulah yang harus kau ambil.
Pertanyaan selanjutnya, setelah kegelapan batin itu dikenali, bagaimana cara berdamai / menyelesaikannya?
Jawabannya ada banyak cara, tapi aku hanya menuliskan cara yang pernah aku jalani saja.
Pertama-tama latih batin untuk menerima, menyadari apa yang terjadi, disadari thok dulu. Misal marah ya disadari marahnya. Penerimaan dan kesadaran ini sudah mengurangi energi emosinya.
Selanjutnya adalah membuat jarak dengan emosi. Kamu memang marah, tapi kamu bukan marah itu, diri sejatimu bukanlah emosimu. Perlahan-lahan cobalah tarik mundur ke belakang diri sejatimu itu, sampai bisa menonton emosimu sendiri (menonton emosimu ya, bukan fisikmu). Tonton saja berbagai atraksi yang dilakukan emosimu, diri sejatimu hanya diam menonton, jangan bereaksi, jangan berkomentar, hanya menonton dan sudah.
Proses berjarak dengan emosi itu suatu ketrampilan batin yang bisa dilatih, awalnya sulit, tetapi ketika sudah terbiasa, jadi mudah dan enak sekali. Ketika sudah terlatih, jadi eman-eman bila melihat diri sendiri dipermainkan emosi yang mencabik-cabik dari dalam.
Ketika sudah berjarak dengan emosi, biasanya muncul insight dari dalam yang menandakan bila batin mulai peka akan tuntunan Tuhan di hati. Ada pemahaman-pemahaman baru yang membuatmu ngeh dengan peristiwa yang terjadi, inilah yang aku maksud isi / makna / pesan yang dikirim Tuhan. Kita juga jadi paham bila peristiwa hanyalah bungkusnya, tapi isinya itulah berlian, jadi jangan fokus pada peristiwa, ambil berliannya.
Agar lebih jelas, aku kasih contoh kasus. Misal saat mendengar lagi nostalgia, itu membuatmu teringat pernah dikhianati seseorang di masa lalu. Muncul rasa marah dan kecewa yang sekian lama terpendam di ketidaksadaran.
Pertama terima dan sadari bila ada kecewa dan marah yang belum terselesaikan, lalu ambil jarak dengan emosi itu. Biasanya muncul insight dari dalam dan kamupun memahami bila itu pertanda kasih sayang Allah, karena peristiwa itu sebenarnya untuk melindungimu dari bahaya yang lebih besar.
Ketika kamu semakin spiritual, kamu akan semakin paham bila kehilangan seseorang atau pun harta adalah cara Allah untuk membuat dirimu mendekat kepadaNya, maka batinmu akan sepenuhnya memaafkan dan berterima kasih pada peristiwa itu. Kamu menyadari bila kedekatanmu dengan Tuhan lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Amarahmu selesai dan kamu berdamai dengan peristiwa itu, jiwamu dibersihkan Allah.
Yang perlu dicetak tebal adalah, hanya Allah yang bisa membersihkan kegelapan di batinmu, bukan usahamu.
Itulah yang aku lakukan selama bertahun-tahun, kukira aku sudah tidak menyimpan kompleks lagi, tapi aku kecele ... haha (Innuri masih banyak kegelapannya, bangga pula). Sampai ketika aku khalwat 40 hari, sekian lama dalam kesunyian, memori luka itu bermunculan ke permukaan seperti mantan menagih janji. Mereka bermunculan seperti parade.
Baru ketahuan kalau aku masih menyimpan luka masa kecil pada pengasuhku. Dulu waktu aku kecil, suka ditakut-takuti," Jangan menangis, itu lihat orang bawa glangsi, isinya kepala anak-anak." Banyak sekali ucapan-ucapan pengasuhku yang membuat aku kecil ngeri dan ketakutan. Aku sakit hati pada pengasuhku begitu tahu kalau aku dibohongi dan aku membencinya. Aku tidak terima, kenapa dia tega sekali memberiku kengerian seperti itu. Rasa sakit itu tertinggal di ketidaksadaran, membentuk lapisan kegelapan yang belum hilang sampai aku tua, sampai aku berdamai dengan pengalaman itu.
Berdamai dengan pengalaman luka itu tak membuat memorinya hilang, tapi membuat energinya tidak membebanimu lagi, tidak menjadi lapisan kegelapan yang menghalangimu menempuh perjalanan ke dalam.
Tandanya bila muatan energi emosi itu sudah netral adalah ketika kamu mengingat peristiwa itu, batinmu biasa saja. Sepertiku yang ketika mengingat pengasuhku itu, bukannya sebal, tapi malah tertawa geli, kreatif sekali orang jaman dulu ngarang cerita horor.
Begitulah caraku melintasi kegelapan batin, tapi aku tak berani bilang sudah tidak ada kegelapan lagi, karena bisa kecele lagi ... haha.
Bicara soal kegelapan itu sebenarnya banyak sekali 'wajah'nya, semoga Allah mengijinkanku menuliskannya di lain waktu.
Selamat mencoba asosiasi kata Jung atau mencermati diri sendiri. Semoga jiwa kita semua dibersihkanNya.