Pada suatu negri yang hampir tenggelam, memaksa rakyatnya berpindah ke negri antah berantah yang tak pernah diketahui bagaimana kondisinya. Rakyat negri itu pun menyiapkan perbekalan untuk tinggal di negri antah berantah itu. Namun ada rahasia umum yang semua orang tahu, siapa pun yang datang ke negri antah berantah itu, asal kenal sama Sang Raja, hidupnya bakal terjamin berkelimpahan tak kekurangan suatu apa karena Sang Raja menjaminnya selama apa pun dia hidup di negri antah berantah.
Rakyat negri itu pun terbagi dalam tiga kelompok. Ada kelompok besar yang menyiapkan perbekalan berupa sarana hidup untuk tinggal di tempat baru yang tidak dia ketahui kondisinya. Ada kelompok besar lagi yang cuek dan acuh tak acuh dengan kehidupan di negri antah berantah, apa yang dilakukannya hanya bersenang-senang di negrinya sendiri, lupa negrinya bakalan tenggelam dalam waktu tak lama. Ada kelompok yang jumlahnya kecil sekali yang menempuh jalan dan cara untuk kenal dengan Sang Raja agar hidupnya terjamin di negri antah berantah.
Ketiga kelompok itu mendapat semua yang diusahakannya.
Kelompok yang membawa perbekalan, hidup dengan bekal yang dibawanya, lama-lama bekalnya habis juga, bingung dong ketika perbekalannya habis. Kelompok cuek, tak ada perbekalan apapun, terbayang bagaimana hidupnya 'kan? Sedangkan kelompok yang mengenal Sang Raja, hidup dengan nyaman terpenuhi segala kebutuhannya.
Renungkan, siapa yang paling beruntung?
Kisah itu hanyalah perumpamaan kehidupan kita di dunia ini, mati itu pasti dan kita semua pasti pindah ke akhirat. Yang pindah ke akhirat adalah jiwa kita, raga kita menyatu dengan bumi. Sedangkan dunia atau pun akhirat adalah milik Sang Maha Raja, Allah swt.
Ada yang menyiapkan berbekalan akhirat dengan ibadah, menjadi ahli salat, ahli puasa, ahli zakat, ahli baca al quran, ahli haji, ahli umrah, demi bekal mati. Tapi di kelompok ini kebanyakan (aku bilang kebanyakan ya, berarti tidak semuanya) kebanyakan orang melakukan ritual-ritual itu tanpa membekas di jiwa. Salat dinilai dari jumlah rekaatnya, membaca al quran dinilai dari berapa kali khatamnya, zikir dinilai dari jumlahnya dll. Sementara jiwanya masih merasa lebih baik dari orang lain (=sombong), masih merendahkan orang lain (=sombong lagi), suka menilai orang ini itu seolah-olah dirinya paling suci dan paling benar (=sombong lagi), suka ghibah, jiwa yang gelisah mengkhawatirkan ini itu, jiwa yang marah, dendam, iri, dsb.
Aku sering melihat orang berzikir setelah salat, tapi hanya bibirnya yang komat-kamit, matanya jelalatan kemana-mana. Aku kenal dengan penghafal Quran, yang kalau dia tilawah bikin pendengarnya menitikkan air mata saking syahdunya, tapi zalim pada istri dan anaknya.
Ingatlah, yang nanti tinggal di akhirat itu adalah jiwa/ruh kita. Bila ibadah tidak membekas di jiwamu, itu sia-sia saja.
Ingatlah pula, sebanyak apapun perbekalan yang kamu siapkan, tak akan cukup untuk membeli kehidupan akhirat. Bila kamu menyangka akhirat bisa ditukar dengan bekal ibadah yang kamu siapkan di dunia, maka ibadah yang kamu lakukan terus menerus selama seribu tahun pun tak akan cukup untuk itu.
Cukup dekatilah Allah, Sang pemilik akhirat, hanya kasih sayangNyalah yang membuatmu selamat di akhirat nanti.
Sedangkan Allah itu sendiri lebih dekat dari urat lehermu loh! Jadi kamu sudah dekat, hanya kamu tidak menyadarinya. Jadi sadarilah bila Allah lebih dekat dari dirimu sendiri.
Salam manis.