Inilah bukti bila rencana Allah lebih kuat sekaligus lebih indah dari rencana manusia. Itulah yang membuatku berpikir untuk mengalir saja dan berhenti menyusun rencana ini itu. Kalau ada terbersit keinginan, pasrahkan Allah dan Allahlah yang akan mengurus dan merencanakannya. Sesederhana itu hidup ini.
Aslinya aku memang mau ke Rinjani, rasanya Allah menghendaki begitu. Aku katakan itu pada suamiku dan dia percaya feeling-ku. Lalu kami merencanakan latihan dulu mendaki gunung Welirang atau gunung yang lain yang tinggi dan melatih diri menghadapi suhu dingin dengan ngecamp di Ranupane, karena aku belum pernah mendaki gunung di atas 2000 MDPL dan belum pernah berada di suhu di bawah 10°C.
Dari gunung setinggi 1000 an MDPL masak langsung lompat ke 3700 MDPL ? Jadi rencanaku untuk latihan dulu adalah rencana yang paling masuk akal.
Tetapi bagi Allah, tak butuh masuk akal untuk mewujudkan kehendakNya.
Tanpa rencana, aku tiba-tiba ditelepon Sirkula Indonesia, memintaku ke Sumbawa memberi pelatihan produk oleh-oleh buat ibu-ibu di desa Saritatanga Dompu. Tentu aku mengiyakan tawaran ini, karena bisa jalan-jalan gratis plus dapat honor lumayan pula.
Suamiku bilang, "Pulangnya ke rumah kakak di Lombok saja, aku jemput di sana, nanti kita mendaki ke Rinjani sekalian."
Awalnya aku meragukan diriku sendiri, bagaimana mungkin lututku ini menggapai Rinjani yang terkenal dengan medannya yang sulit, sementara aku tidak ada bekal persiapan apa pun.
Aku hubungkan batinku dengan Allah lalu aku merasa ini adalah kehendak Allah, aku tinggal menjalaninya saja. Maka akupun bilang pada suamiku, "Iyaaa! Okey!"
Dari situlah kisahku tentang Rinjani berawal. Tgl 23 aku ke Sumbawa, tgl 24 dan 25 pelatihan, tgl 26 aku pulang dari Sumbawa ke Lombok, dijemput keponakan di bandara. Tgl 29 mas Hary sampai ke Lombok. Lalu tgl 31 Oktober 2026 kami berdua naik ke Rinjani.
Keajaiban terjadi di Lombok saat melakukan registrasi online di web Rinjani. Ternyata harus dilakukan H-14, alias dua minggu sebelumnya. Aku merasa itu tak mungkin bagiku menunggu dua minggu di Lombok, itu terlalu lama. Masih banyak urusan di Malang.
Tapi kok ndilalah kata orang Jawa, sinchronicity kata Carl Gustav Jung, coincidence kata Inggrisnya, kebetulan yang diatur Allah. Di rumah kakak di Lombok sedang menginap seseorang yang menjadi 'dewa penolongku' . Namanya Mas Aris yang cukup berpengalaman naik gunung, mas Aris pun bisa mengurus keberangkatanku ke Rinjani di H-2 . MasyaAllah, pertolongan Allah itu dekat sekali bila itu memang kehendakNya. Keajaiban banget karena keluarga di Lombok benar-benar tak tahu prosedur ke Rinjani jalur cepat via private trip begini.
Aku semakin yakin bila ini semua adalah rencana Allah, bukan kehendak hawa nafsuku sendiri.
Ini adalah pelajaran pertamaku dari Rinjani, berhenti merencana, rencana Allah lebih baik. Percayakan semua pada Allah , maka semua akan mengalir indah.
Bila ada terbersit keinginan di hati, pasrahkan dan biar Allah yang mengurusnya. Jangan khawatirkan apapun, karena Allah Maha Ahli dalam mengurus hambaNya.
Banyak pelajaran kutemui selama di Rinjani, kutulis kemudian yaa.
( bersambung )
