Bila mendengar kajian Gus Mukhlason Rasyid di youtube, kadang merasa begitu 'kafir' aku ini.
Mengatakan ibu yang memasak itu sudah tidak bertauhid. Allahlah yang memasak. Allahlah yang makan, Allahlah yang pup. Kedengaran gila dan membingungkan bukan? Tapi jangan mengatakan ini pada orang awam atau orang kebanyakan, bisa ditimpuk nasi pecel ... haha.
Tidak membingungkan bagi yang sudah merasakan kefanaan, atau ketiadaan diri, karena sudah melihat bila semuanya Allah. Diri sendiri dan semua yang dilihat di luar dirinya telah lenyap, yang dia saksikan hanyalah Allah.
Seorang penyaksi yang menyaksikan tarian semesta, itu kata Pak Hans. Tapi versi Pak Hans ini masih ada yang menyaksikan dan yang disaksikan, tapi sudah keren berada di tahap ini. Kalau versi Gus Son, sudah semuanya runtuh, semuanya hancur, yang tertinggal hanyalah Allah.
Itulah makna akhirat, kata Gus Son. Bukankah di Al Quran dilukiskan saat kiamat terjadi, alam semesta runtuh, hanya ada Allah saja, itulah akhirat. Jadi ketika batin manusia sudah sampai pada keruntuhan alam semesta dan seisinya, yang terlihat hanya Allah, saat itulah manusia sampai pada akhiratnya. Sampai pada akhirat semasih hidup di dunia ini, tanpa menunggu mati. Bahkan Gus Son menekankan betapa pentingnya ketemu akhirat sebelum mati.
Fanaul bashirah, mata hati melihat ketiadaan semua hal, termasuk dirinya sendiri, yang ada hanya Allah. Jadi bukan diri manusia melihat Allah, karena dirinya sudah tiada. tapi Allah yang melihat Allah.
Bingungkah? Gak apa-apa bingung, bila sudah mengalami sendiri, nanti tidak bingung lagi kok. Memang tidak bisa dipaksakan, karena pengalaman ketuhanan seperti itu Allahlah yang menghadirkan dengan kehendakNya pada jiwa yang sudah siap.
Yang penting adalah kamu menginginkan itu terjadi, itu penting.
Setelah itu tugasmu adalah menyiapkan diri tapi tanpa merasa menyiapkan. Ini basic, jangan merasa menyiapkan diri, tetapi Allahlah yang menyiapkanmu, kamu tidak bisa apa-apa tanpa fasilitas dariNya, bahkan bernapas pun tidak bisa. Paham 'kan, Sayang?
Sebagai latihan yang musti dilakukan setiap hari adalah membiasakan melihat tembus pandang. Pandangan mata seperti anak panah yang menembus ilusi tiga dimensi, melihat kebenaran dibalik pergerakan yang hanya permukaan, menyobeknya sampai lenyap, hingga menampak kesejatian.
Cara sederhana, belajar melihat segala hal kecil atau besar, Allahlah yang menggerakkannya. Misal, ketika ibu memasak di dapur, di pemahaman kita Allahlah yang menggerakkan ibu memasak di dapur. Lahaulawalaquwata illabillah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan atas ijin Allah. Ibu tidak bisa bergerak tanpa ijin dan kekuatan dari Allah. Jadi hakekatnya Allahlah yang menggerakkan, manusia ini tidak berdaya melakukan apa pun.
Tentu orang-orang yang dihadirkan dalam kehidupanku dan kehidupanmu semua digerakkan Allah. Kesadaran ini membuat batin kita tidak mudah komplain atas perlakuan orang yang barangkali tidak sesuai harapan. Kadang bertemu orang yang menjengkelkan hati, kadang orang yang membahagiakan hati, semua itu ilusi, itu permukaan, lihat siapa di balik orang-orang itu. Kita jadi senyum sendiri kok bila menyadari hal ini.
Hati yang tidak mudah komplain itu hati yang damai, mudah memahami kebijaksanaan Allah, dekat dengan kebahagiaan yang sejati Tunggu hingga merasakan akhirat semasih hidup di dunia ini. Itu indah banget, Saudara. Hatimu seperti burung yang melesat ke angkasa setelah sekian lama terpenjara di sangkar dunia ini, bayangkan betapa bahagianya, bahagia yang sejati yang disebut eudamonia kata orang stoic.