Bagaimana kamu memaknai thawaf?
Itu adalah gambaran perjalanan batin manusia menuju Tuhannya. Seperti pusaran elektron proton dan inti atom. Seperti pusaran alam semesta, tata surya, galaksi, dan entah apa lagi namanya.
Inti diri manusia itu dipenuhi sifat-sifat yang baik. Semakin jauh dari inti semakin kacau. Kesedihan, kemarahan, galau, itu karena jauh dari inti. Sedangkan kejahatan terjadi karena terlepas dari inti, walau tak pernah terlepas sama sekali, seperti layang layang putus, tak punya arah tujuan, tapi tetap terhubung dengan grafitasi.
Bila hidupmu terasa kacau, obatnya cuma kembali ke inti. Caranya diam dan masuk ke dalam dirimu. Ini tidak mudah bila kamu terbiasa jauh, maka kamu harus meringankan diri dengan menyerah pada grafitasi inti.
Banyak pikiran dan kekhawatiran itu beban, memberatkan perjalananmu ke inti. Lepaskan semua, maka perjalananmu akan lebih ringan, sampai kamu merasa bukan kamu yang melakukan perjalanan, melainkan grafitasi inti yang menarikmu ke dalam. Bila begini semuanya akan mudah.
Nikmatilah perjalananmu dan pertemuanmu dengan inti, di dalam inti dirimu itulah kesejatian, orang-orang menyebutnya Tuhan, Allah, Sang Hyang Widi Wasa, Tao, Teos, Ar Rahman, ... terserah kamu menyebutnya, Dia punya nama yang indah-indah.
Bagaimana kamu memaknai mabrur haji?
Mabrur adalah kondisi batinmu saat bertemu inti, pertemuanmu dengan Allah. Haji hakekatnya adalah perjalanan ke dalam diri untuk menemui inti.
Kamu boleh ke Mekah untuk berhaji, tidak ke Mekah juga boleh, karena yang wajib adalah menempuh perjalanan ke dalam. Mekah hanya simbol, jangan sampai kamu malah menuhankan simbol.
Yang penting adalah mabrur-nya, menemukan inti dirimu. Ingatlah bila Allah lebih dekat dari urat lehermu. Bertemu Allah, itulah yang penting, dan Dia tidak berada di Mekah sana, di mana pun di bumiNya, kamu bisa menemuiNya.