"Apakah fana dan wushul itu sesuatu yang merupakan anugerah Tuhan semata-mata ataukah boleh diusahakan?" tanya seorang sahabat Innuri.
Jawabannya bisa berbeda tergantung pada pemahaman seseorang dan jawaban yang berbeda itu semuanya benar.
Begini, untuk orang yang beranggapan bila manusia diberi free will, atau kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, maka jawabannya adalah bisa diusahakan.
Untuk orang yang beranggapan bila semuanya sudah tertulis di lauhulmahfuz dan manusia tinggal menjalani, jawabannya adalah semata-mata anugerah Allah.
Untuk orang yang beranggapan bila manusia punya kehendak bebas tetapi punya keterbatasan, maka jawabannya adalah 'manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan'.
Ketiga jawaban itu benar, karena ketiga sifat manusia yang aku sebut di atas itu memang diciptakan Tuhan, semuanya ada di masyarakat dunia ini, ketiganya juga punya landasan dalil dari Al Quran dengan penafsiran masing-masing.
Dari tiga yang benar itu, manakah yang paling benar? tanyamu. Maka jawabannya. yang paling benar adalah yang paling bisa menghargai pendapat yang berbeda, yang tetap berkasih sayang terhadap yang berbeda dan bisa memahami yang berbeda dengannya.
Kalau kalian ketemu orang yang menganggap bila pendapatnyalah yang paling benar dan suka menyalahkan orang yang tidak sependapat dengannya, maka saranku adalah, jangan ikuti dia dan jangan ikuti pendapatnya.
Alenia di atas aku cetak tebal dan cetak miring pula, karena itu sangat penting agar kalian selamat. Ikutilah orang yang hatinya penuh kasih kepada siapapun dan apapun, karena Allah bersama orang yang hatinya penuh kasih sayang.
Sekarang, Innuri sendiri pilih jawaban yang mana dari ketiga jawaban itu?
Bila yang jawab Innuri empat puluh tahun yang lalu, maka jawaban pertama itulah yang aku katakan, manusia punya kehendak bebas dan bisa menentukan nasibnya sendiri.
Bila yang jawab Innuri tiga puluh tahun yang lalu, maka jawaban ketiga itulah yang aku katakan, manusia punya free will tapi dibatasi kekuasaan Tuhan.
Bila Innuri dua tahun yang lalu yang ditanya, maka jawabannya adalah semua sudah tertulis dan manusia tinggal menjalani.
Jawaban Innuri sekarang masih sama seperti dua tahun yang lalu dan di sinilah aku merasa yakin karena hatiku bisa memahami semuanya, semua perbedaan itu, sekaligus pernah mengalami dan merasakan berada di ketiga 'kubu' itu. Rasaku sekarang adalah damai dan hatiku bisa menyayangi semuanya, termasuk orang yang menudingku salah atau sesat.
Jadi pemahaman seseorang itu berproses, yang penting adalah menjalani setiap proses dengan penuh rasa syukur dan selalu terhubung dengan Allah. Sebenarnyalah orang yang bersyukur itu adalah orang yang terhubung dengan Allah.
Jadi saranku adalah di posisi mana pun pemahaman kalian, yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu sampai menemukan kedamaian. Yakin pada Allah, itulah yang terpenting.
Baik, muncul pertanyaan lagi, bila semua sudah dijalankan Allah, manusia tidak mau berusaha dong!
Bila kalian sudah berada di posisi wushul, maka kalian sangat menyadari bila segala usaha yang dilakukan manusia itu tidak pernah terlepas dari Allah. Allahlah yang menggerakkanmu berusaha. Jadi manusia yang wushul itu tetap berusaha kok, tetapi batinnya tidak merasa berusaha, karena lahaulawala quwata illabillah, Allahlah yang menggerakkannya berusaha. Berusaha tanpa berusaha, atau berusaha tanpa merasa berusaha.
Karena dia berusaha tanpa merasa berusaha, manusia wushul jauh sekali dari sifat sombong dan membanggakan diri.
Semoga penjelasan di atas bisa dipahami ya. Salam kasih.