"Bagaimana cara mengelola amarah dengan baik dalam konteks berumahtangga?" Tanya seorang sahabat Innuri.
Innuri kasih 2 jawaban, yaitu jawaban klasik dan jawaban yang nggak klasik ya.
Jawaban klasiknya begini :
Salah satu ciri orang bertaqwa itu adalah menahan amarah, itu tertulis di dalam al quran. Jadi kalau lagi marah, jangan buru-buru dibrolkan atau jangan langsung dikeluarkan dalam bentuk kata-kata atau jadi tindakan. Marahnya pakai seni, pakai trik, pakai strategi, agar goalnya tercapai.
Waktu marah, mikir dulu targetnya apa? Bukan sekedar melepas emosi. Otomatis marahnya diredam dulu sampai jadi 'dingin', baru ngomong sesuai goalnya. Mungkin itu maksudnya 'menahan amarah'.
Yang aku ceritakan itu bukan teori, sudah dipraktekkan dan terbukti membuat suasana rumah tangga menjadi adem ayem, tapi dipraktekkan oleh suamiku ... hehe. Innuri kalau marah bral brol saja, apa yang tersimpan di hati diledakkan saja, kalau yang dimarahi diam, tambah marah dong karena merasa diabaikan, kalau yang dimarahi membela diri, juga tambah marah karena merasa tidak dipahami perasaanku. Kacau, kacau dah marah model Innuri, jangan dicontoh. Tapi itu dulu ya, semakin tua aku semakin santai dan sudah lupa caranya marah.
Jawaban yang nggak klasiknya begini:
Innuri ajak ke pola berpikir yang mendalam, pola pikir spiritual yang membuatku lupa caranya marah.
Yang harus disadari duluan adalah "Kasih sayang adalah dasar dari segala sesuatu". yang berarti, kasih sayang adalah dasar penciptaan, dasar segala kejadian atau peristiwa dalam hidup. Itu adalah princip bismillah.
Bila di dalam keluarga ada kejadian pasangan berbuat salah sampai membangkitkan marah, di mana dong letak kasih sayangnya? Katanya kasih sayang adalah dasar segala kejadian. Ya inilah yang harus disadari, marah itu artinya ada kasih sayang yang hilang, berarti marah itu tidak 'menciptakan' apapun selain kehancuran. Jadi hadirkan lagi kasih sayang itu di hatimu, barulah kamu boleh marah, jadi marahnya pakai kasih sayang.
Kalau marahnya masih pakai emosi, ya siap-siap melihat orang-orang yang kamu sayangi hancur hatinya, kebayang bagaimana sikap orang yang hatinya sudah kamu hancurkan? Permusuhan dong. Mau musuhan sama orang yang katanya kamu sayangi? Ada musuh di dalam rumah itu seperti resmi masuk neraka deh, pakai sertifikat pula ... haha.
Kasih sayang adalah dasar segala kejadian, iya benar itu. Allah yang menurunkan kejadian, karena Allah tahu di hatimu masih ada ego yang membatu yang butuh dilunakkan. Maka kejadian yang membuatmu marah hanyalah alat bantu untuk mengetahui ego macam apa yang tersembunyi di kedalaman hatimu yang harus diselesaikan, yang merupakan PR kehidupan.
Misal kamu marah karena anakmu mencorat coret mobilmu dengan cat permanen. Itu hanya menunjukkan kemelekatanmu dengan harta benda kok, yang lebih kamu sayangi daripada anakmu sendiri.
Misal kamu marah karena pasanganmu berselingkuh. Memangnya nggak boleh marah untuk kasus seberat ini? Boleh, tapi disadari dulu marahmu karena apa? Karena ada orang lain merebut milikmu? Memangnya apa sih yang kamu miliki di dunia ini? Semua milik Allah loh, bahkan pasanganmu itu. Kejadian itu hanya untuk menyadarkanmu bila di dunia ini yang kita miliki cuma Allah kok.
Ego, itu adalah PR bagi banyak orang. Segala sesuatu yang mengandung kata 'ku' itu menunjukkan ego. Kebanyakan orang marah karena 'ku' nya terusik. Lenyapkan saja 'ku' itu, lihat bila semuanya digerakkan Allah, maka hati menjadi damai dan lupa caranya marah.
Ya, Innuri lupa caranya marah sejak mengalami fana dan wushul. Menyadari sampai ke tulang sumsum dan aliran darah, bila segala sesuatu digerakkan Allah, nggak bisa gerak sendiri, lahaula wala quwata illabillah. Ketika ada kejadian yang di mata orang awam bikin marah, ketika bisa melihat itu loh digerakkan Allah, ya tidak ada rasa marah itu.