Rabu, 08 April 2026

Kisah Pak Ruwet

 Beberapa hari lalu, aku kedatangan tamu seorang bapak-bapak yang menurutku hidupnya merana.  Sudah sakit fisik, gembolan (beban) batinnya banyak banget. Kenal aku dari buku EMAS (Energi Murni Alam Semesta) yang dia temukan di scribd, lah kok ternyata kami satu alumni, UB.  Kita sebut saja beliau, Pak R alias Pak Ruwet ... hmm, maaf yo, Pak, jangan tersinggung, nanti aku kasih tahu maksudku.

Sudah fisiknya sakit, beban batin sudah sekontainer, pikirannya sibuk pula untuk hal-hal yang tidak perlu. Komplit untuk PR kehidupan, kok kuat men tho Pak, Pak. 

Mengaku dibully sejak kecil, lahir prematur, pas ibunya hamil, ibunya mimpi buruk yang mengisyaratkan si jabang bayi tumbuh jadi orang yang kurang beruntung. Kedengarannya dapat paket komplit kesengsaraan.   Tapi nyatanya dia bisa berkuliah di UB yang di jaman itu susah banget masuknya.  Menikah dengan dokter, punya satu anak lalu bercerai.

Dari satu bingkai kehidupannya itu, aku ambil kesimpulan dia itu hidupnya gak sengsara-sengsara amat, cuma kurang bisa mengambil sikap yang tepat.  Contoh, bisa memperistri dokter itu salah satu yang dibanggakannya, tapi dia nggak cintai katanya, cintanya sama yang lain.  Nah, perempuan mana coba yang nyaman bersanding dengan lelaki model begini?  Istri pintar hanya untuk melengkapi statusnya sebagai lelaki yang berprestasi (prestasi punya istri dokter katanya).  Hanya sebagai pelengkap, bukan untuk dicintai dan dibahagiakan.  

Wanita yang rela menjadi istri itu sudah mempercayakan kebahagiaannya pada sosok yang disebut suami.  Embuh cintamu kepada siapa, yang ditakdirkan Allah itulah semestinya yang dicintai dan dibahagiakan.  Ini malah mengangan-angankan yang lain.  Seorang istri itu peka perasaannya.  Tapi nasi sudah terlanjur basi.

Singkat cerita, Pak R aku bantu transfer energi. Bukan aku, tetapi Allah.  Aku suruh duduk diam dan mengamati napasnya saja.  Yang aku lihat, banyak panah tertancap di tubuh rohani (tubuh bioplasmik) Pak R.  Aku bantu lepaskan saja panah-panah itu, entah betapa menit, agak lama juga.  Selesai aku bantu, aku biarkan dia bengong sendiri.  Dia bilang, tubuhnya lebih enteng sekarang, aku lihat wajahnya lebih cerah juga.

Begini loh Pak R dan sahabat Innuri semua.

Tentang dibully. Kita tidak bisa mengendalikan mulut orang, tapi kita bisa mengendalikan reaksi diri kita sendiri.  Oke dibully sejak kecil, tentunya anak kecil belum tahu cara bereaksi yang benar, tapi jangan dibawa rasa sakit itu sampai tua.  Itu jadi terlihat sebagai anak panah yang tertancap ke seluruh tubuh, makanya berimbas pada kesehatan.

PR utama Pak R adalah memaafkan semua orang dan berdamai dengan rasa sakit yang dia derita sejak kecil.  Itu akar masalah utama.  Menyimpan dendam hanya menyakiti diri sendiri dan membuat kondisi fisik semakin memburuk.

Juga netralkan semua informasi negatif dan kesimpulan-kesimpulan negatif yang sudah dianggap sebagai kebenaran, seperti mimpi ibunya waktu mengandung itu.  Ibunya dosen di PTN loh, wanita cerdas kukira.  Mimpi itu macam-macam penyebabnya, bisa ekspresi ketakutan, bisa harapan, bisa juga petunjuk Tuhan.  Makna yang disematkan pada mimpi itulah yang memengaruhi kehidupan, bukan mimpi itu sendiri.  Jadi jangan lagi dihantui oleh mimpi yang terjadinya sudah puluhan tahun yang lalu, apa nggak capek?

Pak R juga harus bisa menerima semua takdirnya (amorfati) karena itu semua yang mengantarnya mendekat pada Allah.  Aku bilang,"Sakit yang membawamu ingin ketemu aku, dan tugasku adalah menjebloskanmu ke Allah."  Jadi berterimakasihlah pada rasa sakit yang dideritanya selama ini, ini penting, agar bisa mencintai takdir.  Ketika manusia sudah bisa mencintai takdir, hidupnya bakalan aman dan damai, masalah akan terselesaikan dengan sendirinya (Allah yang menyelesaikan masalahnya)

Sementara itu yang aku katakan pada Pak R. Setiap hari Pak R berkomunikasi denganku via WA, ini membantu banget buatku untuk tahu progressnya, beliau sangat komunikatif dan punya keinginan untuk berubah.  Nanti kalau Pak R sudah membaik, aku ganti deh namanya, bukan Pak Ruwet lagi, bila perlu dijenangabangi ... haha.