Senin, 09 Februari 2026

Tuhan dalam Pikiran

 Ternyata lama sekali aku menyembah Tuhan dalam pikiranku, atau Tuhan seperti yang aku pikirkan, atau lebih tepatnya Tuhan yang aku bentuk sendiri pakai pikiranku, yang aku memanggilnya Allah.

Seandainya aku bilang padamu bila aku punya gaun baru berwarna pink dengan renda berwarna putih, apakah yang terbayang di pikiranmu?  Bisa jadi pikiranmu membayangkan gaun pink panjang  dengan lengan pandek, renda putih itu letaknya di pinggang dan di lengan.  Lalu ketika aku tunjukkan gaun pink yang aku maksudkan, ternyata itu gaun tanpa lengan dengan renda mengelilingi leher, lengan dan bagian bawah gaun.  

Aku hanya mau bilang bahwa pikiran itu bisa salah, padahal cuma soal gaun.  

Namun pikiran memang hobi membayangkan ini itu ketika sebuah kata didengar oleh telinga kita.  Coba jangan pikirkan gajah berwarna pink.  Nah 'kan? Pikiran otomatis membayangkannya 'kan?

Begitu pun ketika kata Tuhan disampaikan pada kita semasih kecil hingga dewasa, otomatis di pikiran ini terbentuk konsep yang kita beri nama Tuhan atau Allah atau apa pun menurut keyakinan masing-masing dan itulah yang selama ini kita puja dan sembah lima kali sehari, yang kepadaNya doa-doa kita panjatkan.

Aku baru sadar bila selama ini aku telah menyembah Tuhan yang aku bentuk sendiri di pikiranku alias Tuhan versi aku.  Aku juga baru sadar bila selama ini aku telah menutup semua pintu bagi Tuhan untuk memperkenalkan diriNya padaku apa adanya, Tuhan versi Tuhan sendiri.

Sadarnya aku walau sudah di usia yang sudah bau tanah ini, tapi inilah momen yang tepat, tak ada kata terlambat untuk menyadari segalanya tentang Tuhan yang aku memanggilNya Allah.

Kapan kesadaran ini muncul dan bagaimana Tuhan versi Tuhan sendiri?

Karena yang suka bikin konsep ini itu adalah pikiran, maka kesadaran itu muncul ketika pikiran "lenyap".  Lenyapnya aku kasih tanda kutip karena lenyapnya bukan lenyap menjadi mati' atau tiada, tetapi minggir dengan sendirinya atau menyepi, istirahat atau non aktif.

Ketika pikiran nonaktif, maka hati menjadi aktif atau hidup, ketika hati hidup, maka di situlah kesejatian (Ketuhanan) bisa ditangkap maknanya, karena Tuhan lebih bisa dikenali oleh hati, sebagaimana iman itu pun pekerjaan hati.

Lantas bagaimana dong cara menonaktifkan pikiran?

Sebelumnya aku pakai cara meditasi / tahannuts, tapi karena meditasiku tidak cukup intensif maka aku putuskan (tepatnya Allah yang putuskan) khalwat 40 hari sendirian di vila terpencil di tengah kebun.  Momen itulah yang membuatku sadar akan perbedaan Tuhan versi aku dan Tuhan versi Tuhan sendiri, atau bisa dibilang adalah momenku bertemu Tuhan sebagaimana adanya Dia (ketika aku mengetik Tuhan sebagaimana adanya Dia, air mataku menitik karena keharuan yang luar biasa).

Bila selama ini aku menganggap bahwa khalwat 40 hari itu adalah ritual yang merupakan wilayahnya para Nabi dan orang-orang bijak, kini aku menganggap itu penting sekali buat kalian yang rindu bertemu Tuhan, atau kalian yang ingin mengenal Tuhan versi aslinya, atau kalian yang sudah bosan salat tidak khusyu' (karena kalian kurang mengenal Tuhan yang kamu sembah).

Bagaimana Tuhan versi Tuhan sendiri?  Itu tidak bisa dilukiskan pakai kata-kata, yang mewakili adalah getaran hati.  Simak ayat ini : 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang apabila disebut asma Allah, gemetarlah hatinya, .... ( QS. Al Anfal : 2)

Bila kita sudah mengenal Allah versi Allah sendiri, kita jadi tidak merasa sedih dan khawatir, coba buka sendiri  QS. Yunus : 62.

Khalwat yang dilakukan dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah, pasti akan dibimbing Allah langsung, karena Allah itu lebih dekat dari urat lehermu (QS Qoof :16)  Itu karena saking sayangnya Allah padamu, Dia sangat dekat untuk memberimu bimbingan dan melayanimu dengan segenap kasih sayangNya.

Begitulah ceritaku malam ini, sudah capek ngetik Innuri. Wassalam.