"Mbak Innuri, mungkin bagi orang yang sudah tak punya masalah, bisa menjalani seperti yang mbak Innuri tulis. Tapi bagi orang yang masih banyak masalah seperti saya, bagaimana caranya? "
Itu adalah pertanyaannya, jawabannya boleh disimak di bawah ini.
Pada umumnya orang, akan beranggapan bila hidupnya tak ada masalah, maka bisa bahagia.
Misal, kalau tak punya hutang aku akan bahagia. Kalau anak-anak sudah selesai kuliah semua, aku bahagia. Kalau istriku sembuh dari sakitnya aku bahagia, dll.
Bahagia yang mensyaratkan kondisi tertentu itu bukan bahagia namanya, itu senang, atau bahagia yang sementara.
Polanya seperti ini, kondisi di luar diriku lah yang membuat aku bahagia.
Begitu kan?
Pada kenyataannya itu terbalik, tapi tak banyak orang yang tahu. Kondisi di dalam yang bahagialah yang membuat kondisi di luar membaik. Atau dengan kata lain, kondisi di luar mengikuti apa yang ada di dalam batinmu itu.
Itulah makna dari 'bila kamu bersyukur maka Allah akan menambah nikmatmu.'
Justru memperbaiki yang di dalam itu yang lebih penting. Soal yang di luar Allah yang urus, bukan diri kita yang lemah ini.
Bagaimana memperbaiki yang di dalam? Loh 'kan sudah Innuri tulis di tulisan sebelumnya, tulisan dengan judul yang sama episode 1 dan 2. Dibaca lagi ya.
Nah, bahagia yang kamu dapat nanti adalah bahagia yang paten, bahagia yang sumbernya dari kedalaman batin yang paling dalam. Lebih tepat disebut suka cita atau dalam bahasa stoic disebut eudamonia.
"Itu kan semacam menipu otak, kondisi banyak masalah, tapi dibikin happy saja. " Pernah kudengar komentar seperti ini. Jawabannya bisa panjang. nanti di tulisan tersendiri saja ya, ingetin bila Innuri lupa.
Baik. Aku tambahkan satu lagi, yaitu kamu musti mencintai Allah. Itulah yang membuat hidupmu selalu sukacita, karena selalu ditemani oleh Dia yang mencintaimu dan kamu cintai. Kamu tak pernah merasa sendiri, karena selalu ada Dia. Tak pernah sedih, karena selalu dibahagiakanNya.
Ada yang nanya lagi?