Jumat, 26 Juni 2026

Memperbaiki Hidup Dengan Mengubah Pola ( 1 )

 Bila ingin hidupmu berubah menjadi lebih baik, ubah hambatan yang menahanmu di posisimu saat ini.  Karena ternyata kehidupan seseorang itu ada "pola"nya.  Bila mau keluar dari pusaran masalah kehidupan yang seringkali melilitmu, maka polanya juga harus diubah. 

Misal kamu selalu terperangkap dalam hubungan percintaan yang toxic, atau masalah keluarga yang itu lagi dan itu lagi, atau masalah finansial yang makin lama kok makin sulit. Apapun masalahnya, itu cuma mengikuti pola di dalamnya kamu. Jadi ya rombak polanya agar kehidupan membaik. 

Setiap orang punya pola masing-masing, termasuk kamu dan aku. 

Aku mau kasih contoh yang mudah dipahami, tentang masalah finansial. 

Ada seorang teman sekolah yang sekarang kondisinya sedang jatuh dalam kesulitan. Kusebut saja dia dengan S. Dan aku tahu apa yang membuatnya berada di posisi itu, yaitu dia mempertahankan pola yang selama ini dia jalani. Apa pola yang dia pegang? 

Yaitu pola "menolak keberlimpahan" atau "menolak rejeki". 

Ceritanya, pas awal-awal ketemu dulu, aku bagi-bagi daster buat teman-temanku cewek, termasuk S.  Lalu tak berapa lama dia komentar di grup WA, katanya dia nggak suka pakai daster, dia sukanya pakai piyama.  Waah, aku jadi merasa gimana gitu deh. 

Lalu suatu saat aku mau ngurangi baju di lemari, aku fotoin satu-satu dan aku tawarkan ke grup sekolah itu, barangkali ada yang mau. Banyak yang mau, sampai semua habis. S mau salah satu baju yang aku tawarkan, lalu aku kasih. Tak lama dia komentar di grup bila bajunya kegedean.

Sudah jelas 'kan itu adalah pola menolak rejeki. Dengan reaksinya yang seperti itu aku jadi enggan ngasih baju dia lagi walau orangnya minta. 

Oh ada satu lagi. Pernah aku mengundang teman-teman di Ngantang ke kebunku di Malang Selatan plus rekreasi ke pantai Gua Cina rencananya. Tapi rencana berubah karena ada pantai yang lagi populer yang namanya pantai Teluk Penyu.  Nah, setelah itu dia sering 'ngundat-undat'... duh apa ya bahasa Indonesianya, oh, mengungkit-ungkit, kenapa kok gak jadi ke Gua Cina, kenapa ke Teluk Penyu. Padahal menurutku Teluk Penyu pantainya lebih indah dinikmati.  Padahal ke Teluk Penyu juga aku yang bayarin tiketnya. Jadi S ini orangnya cukup njengkelin dan kurang berterimakasih. Yang auto bikin orang males berbuat baik ke dia. 

Seperti itulah pola 'menolak rejeki' yang kalau tidak diubah dengan kesadarannya sendiri, ya hidupnya jadi muter-muter dalam permasalahan yang sama. 

S musti menjadi orang yang mudah berterimakasih pada orang yang berniat baik kepadanya. Renungkan, manusia saja malas berbuat baik pada orang seperti ini, bagaimana dengan Tuhan ya? 

Beda masalah tentu beda polanya. Mau contoh lain? Atau mau diterawang Innuri tentang masalah kamu? 

Sampaikan di komentar ya. 

( bersambung )