Ada sahabat Innuri yang hampir setiap hari chatting di WA, cerita macam-macam, dari spiritual sampai masalah pribadi. Teman yang asik untuk berdiskusi karena otaknya otak logika, apa-apa musti logis, sedangkan aku cenderung pakai feeling, saling melengkapi 'kan?
Dia sedang ada masalah di keluarga besarnya, masalah yang rumit sekali. Aku bantuin dengan cara apa pun, dari saran, nasehat, sampai ke transfer energi, tak ngefek sama sekali.
Oh ya, buat pembaca Innuri blog yang mengeluh dengan kondisi finansial, boleh lega ya, karena sahabat yang aku ceritakan ini dari keluarga kaya raya, tinggal di kota besar dengan rumah di tengah tanah ribuan meter di kawasan elit, plus ada kolam renangnya yang gedeeee. Itu baru satu rumah, rumah lainnya tersebar di beberapa kota dan pulau. Tajir melintir, tapi masalahnya jauh lebih kompleks dari kalian yang kena masalah finansial, jadi jangan merasa paling menderita sedunia ya.
Ini kali kedua Innuri ketemu keluarga tajir tapi masalahnya bejibun dan ruwet. Yang pertama pelanggan butikku dulu, orang kaya tingkat propinsi dah. Saking kayanya, kalau beliau bepergian keluar negri, bawa dokter pribadi, perawat, pembantu, serombongan deh. Tapi masalah yang dihadapi juga rombongan ... hmm.
Kembali ke cerita sahabatku itu ya.
Aku tidak bisa bercerita masalah yang dihadapinya apa, ya pokoknya masalahnya kompleks, itu saja. Lalu karena aku tak bisa membantunya sama sekali, aku coba terawang saja ... haha. Diterawang pun susah, tetapi kelihatan sesuatu, sesuatu yang bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Makanya aku tulis di sini.
Ada kebiasaan orang-orang yang suka berpikir logis, yaitu suka mengontrol ini itu. Misal, jadi anak harusnya begini, jadi suami harusnya begitu, jadi menantu mestinya titik-titik .... sampai mengontrol masalahnya harus selesai dengan ending seperti ini atau seperti itu. Jadi blunder.
Masalah malah semakin mengeras ketika terlalu 'digenggam', artinya tidak selesai-selesai atau malah semakin parah. Itulah yang terjadi pada sahabatku itu.
Masalah sudah dicari akarnya, tetapi lupa bila akarnya akar masalah adalah hawa nafsu. Ingin masalah cepat selesai itu pun hawa nafsu. Karena setiap masalah ada waktunya sendiri, ada targetnya sendiri, ada 'pesan Tuhan' dibalik masalah yang datang.
Mencari-cari apa pesan Tuhan, sudah merasa ketemu, sudah istighfar memohon ampun, tetapi batinnya selalu bergejolak,"Kami sudah beristighfar, kenapa masalah tak kunjung selesai?" Batinnya menuntut Tuhan untuk segera menyelesaikan masalahnya. Ya namanya demo sama Tuhan. Blunder lagi dong, Tuhan kok didemo.
Begini loh, Sayang. Masalah versi kamu dengan versi Tuhan itu beda. Misal nih, tidak punya uang itu masalah buat kamu, tapi menurut Tuhan masalahnya adalah kalau kamu punya uang, kamu akan beli rokok/narkoba/miras yang membahayakan bagi kesehatanmu, jadi dibuatlah kamu tidak punya uang biar nggak beli rokok. Pahamkah?
Masalahmu sekarang apa, bisa jadi itu untuk menyelamatkanmu dari masalah yang lebih besar. Bisa jadi begitu atau ada hal lain yang pikiran manusia ini nggak nyucuk alias nggak bisa menjangkaunya.
Berpihaklah pada Tuhan, artinya setujulah dengan segala kejadian yang dirancang Tuhan. Dalam Islam namanya percaya pada qada qadar, dalam stoic namanya amorfati.
Lantas masalahnya diapakan?
Dipasrahkan alias dikasihkan dan dipercayakan ke Allah. Wes ngono wae. Kalau kamu percaya Allah Maha ngasih solusi, Maha Kasih Sayang, Maha segala-galanya, kamu sudah tidak khawatir lagi. Masalahmu berada di tangan ahlinya, di tangan yang benar.
Lakukan apa yang bisa dilakukan, atau lakukan yang memang ada petunjuk untuk melakukan.
Allah membuat segalanya mudah dan sederhana, jadi jangan mempersulit diri, malah nambah penyakit nanti ya. I love you.