Sahabatku bertanya, "Mbak In, gimana cara mengembalikan jatah rejeki yang dicuri orang? Musti tirakat yang bagaimana?"
Disadari dulu bila setiap jatah rejeki pasti sampai ke kita tanpa pernah dikurangi sedikit pun. Jadi tak ada jatah rejeki yang dicuri orang.
Misalnya kita pernah ditipu orang atau kemalingan misalnya, kelihatannya ada yang berkurang dari rejeki kita, tapi sebenarnya tidak. Kehidupan ini seimbang , pernah kehilangan namun juga pernah mendapatkan. Jadi semua itu sudah sesuai takarannya, peristiwa apa pun hanyalah peristiwa untuk menjadi pelajaran, apakah menjadi orang yang bersyukur ataukah kufur ?
Menjadi orang kufur itu tidak harus orang yang keluar dari agama Islam ya, kufur itu kan maksudnya menutup, orang yang menutup diri dari kebenaran. Sedangkan kebenarannya adalah Allah melimpahi manusia dengan rejeki yang tak pernah putus bahkan mati itu pun rejeki dan sesudah mati pun dijamin rejekinya.
Dalam agama, orang kufur itu orang yang mengingkari. Kufur nikmat berarti mengingkari nikmat. Sudah diberi nikmat yang banyak tetapi merasa tidak diberi apa-apa atau batinnya selalu merasa kurang.
Mengapa manusia bisa kufur? Karena manusia meletakkan semua hal pada dirinya, dia menganggap rejeki adalah hasil usahanya , kerja kerasnya. Ingkar bila semuanya karena kasih sayang Allah semata-mata.
Lebih dalam lagi karena manusia merasa dirinya ada. Itulah sumber penderitaan manusia di muka bumi ini.
Dunia ini ilusi, rejeki juga ilusi, jangan terpaku pada ilusinya, karena di balik ilusi yang tampak mata ini ada kesejatian. Pandangan musti menembus ilusi. Ilusi itu sesuatu yang tidak ada, pasti lenyap, sedangkan kesejatian itu selalu ada dan abadi.
Manusia yang merasa tidak ada, jauh sekali dari penderitaan. Justru manusia yang merasa tidak ada itulah manusia kaya raya yang sesungguhnya, dia tidak pernah merasa kehilangan karena tidak merasa memiliki. Dalam keadaan 'tidak ada' justru dia menyatu dengan segala keberadaan. Ini paradoks dalam dunia spiritual. Kondisi yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata, hanya perlu dialami sendiri.
Musti tirakat yang bagaimana? Khalwat 40 hari, boleh khalwat dalam keramaian, bisa ditempuh sambil tetap beraktifitas seperti biasa. Karena dalam khalwat yang diniatkan murni karena Allah, Allah sendiri yang akan membimbing hambaNya langsung.
Btw, rejeki yang paling besar bukanlah harta benda, melainkan dekatnya diri dengan Sang Maha Pemberi Rejeki.
Lalu sahabatku berkata lagi, "Rejeki yang menjadi jatah kita pasti datang ya, walau terlambat sampainya."
Maka aku katakan bila Allah tak pernah terlambat. Dia adalah Maha Perencana yang terbaik, pasti datang di waktu yang tepat. Karena nafsu manusia yang suka tergesa-gesa dan berharap segera , maka menjadi terasa lambat.
Lepaskan diri dari penilaian-penilaian, karena itu menjauhkan diri dari kesejatian ya.