Innuri pernah diperlihatkan "film prekognisi", ada seorang lelaki dengan kepala berdarah-darah, digendong oleh seseorang, dengan banyak orang berdiri di belakangnya, suasana malam hari. "Film" itu menghantui aku berbulan-bulan, tentunya aku jadi mikir dong, yang berdarah-darah itu siapa, dan pasti aku hubungkan dengan 3 ganteng yang kumiliki, ganteng pertama suamiku, atau ganteng kedua dan ketiga, anak-anak lelakiku. Selama itu pula aku sering merasa cemas dan deg degan, karena wajah orang-orang di dalam film itu tidak jelas karena suasana malam yang gelap.
Kira-kira setelah 6 bulanan seingatku, kenyataannya terjadi. Suatu senja, aku pulang dari Ngantang ke rumah Pakis bersama suami, adikku Ida, anakku Insan dan Alni. Lewat maghrib ketika sampai di daerah Batu, dihadang sekumpulan anak muda, ketuk-ketuk kaca mobil, minta tolong membawa ke rumah sakit seorang temannya yang kecelakaan. Diantara mobil-mobil yang lewat yang mereka mintai tolong, hanya mobil kami yang mau berhenti dan menolong mereka. Adikku turun, Alni dan Insan duduk berdesakan di depan, suami nyetir, aku di belakang, jadi kursi tengah bisa memuat korban yang berbaring beralaskan paha dua temannya yang duduk.
Pemandangan itu benar-benar plek ketiplek dengan film prekognisi yang sudah menghantuiku selama berbulan-bulan. Suasana malam, saat itu kota Batu belum seramai dan seterang sekarang, lelaki yang digendong dengan kepala berdarah, orang-orang yang berdiri di later belakang. Benar-benar itulah yang kulihat enam bulan yang lalu. Setelah peristiwa itu, bayangan film prekognisi itu pergi dan tak menghantui aku lagi.
Pernahkah kalian mengalami hal yang mirip itu? Bisa membaca atau dikasih tahu Allah tentang peristiwa yang akan terjadi?
Otak kita sejak kecil sudah dikondisikan untuk memahami bila waktu adalah linier, ada masa lalu, masa kini dan masa depan. Baru-baru ini aku tersadarkan akan fenomena lain yang sudah lama diungkapkan para ahli fisika, bahwa waktu itu relatif (mekanika kuantum Einstein), bahkan ada ilmuwan yang mempunyai pengalaman NDE (Near Death Experience) dan menyimpulkan bila waktu itu simultan, beliau Dr. Lynda Cramer, silakan digoogling ya.
Selain mekanika quantum Einstein dan Dr Lynda Cramer, coba baca-baca tentang teori semesta Paralel dari ahli fisika Hugh Everett Dan Max Tegmark. Dari semua itu Innuri coba kaitkan dengan Al Quran dan beberapa pengalaman ESP (extrasensory perception) yang aku alami. Ternyata penjelasan sains itu membuatku paham akan kedalaman makna yang tertulis di kitab suci.
Sekarang mari renungkan bersama-sama, ketika Innuri diperlihatkan Allah film orang yang mengalami kecelakaan itu, apakah sebenarnya kecelakaan itu sudah terjadi ataukah masih rencana? Rencana Allah yang dibuka ke pandangan batin Innuri? Rencana Allah yang masih berupa film yang masih menunggu waktu menjadi nyata? Atau barangkali sebenarnya kecelakaan itu sudah terjadi pada detik Innuri melihatnya di prekognisi, tapi menjadi tertunda dialami karena kelambanan prosessor yang berupa tubuh fisik dan indra ini karena pengaruh grafitasi bumi atau variabel lain? Atau malahan kecelakaan itu sudah terjadi lama, tetapi Innuri terlambat melihatnya di prekognisi karena prosessor batin Innuri yang lemot? Waah, pusing 'kan kalian? Yuk kita pusing berjamaah.
Namun Innuri bukan bermaksud membuat kalian pusing, sungguh, Innuri hanya ingin merenungkan betapa Maha Besar Allah dengan segala KekuasaanNya. Aku hanya mencoba memahami kehidupan ini untuk lebih mengenalNya, dekat denganNya, menyatu denganNya dan mencintaiNya.
Seperti yang selama ini aku yakini bila segala sesuatu tertulis di lauhulmahfudz, semacam blueprint dari kehidupan alam semesta beserta segala penghuninya. Ataukah lauhulmahfudz itu bukanlah seperti yang aku dan kalian bayangkan?
Waktu aku kecil, kukira lauhulmahfudz itu sebuah buku raksasa yang terbuat dari kertas berlembar-lembar, menuliskan (pakai huruf-huruf seperti yang kita temui di dunia ini) nasib seluruh umat manusia. Ketika dewasa aku menertawakan pemikiran masa kecilku, pemahamanku berganti, itu mungkin semacam blueprint kehidupan seluruh alam dan manusia yang bentuknya tak kasat mata. Ketika tua, aku berubah pikiran lagi tentang lauhul mahfudz, terutama setelah mempelajari semesta paralel.
Apakah lauhulmahfudz itu sebenarnya alam semesta tersendiri yang memuat rencana-rencana Allah dari yang gede-gede sampai ke yang sekecil-kecilnya, yang bisa jadi itu lebih gede dari alam semesta fisik yang kita tempati ini? Yang merupakan pusat data multiverse? Rencana-rencana dari lauhulmahfudz terproyeksi ke dalam kenyataan di dunia manusia dan di semesta-semesta lain yang kita tidak tahu. Jadi dunia ini hanyalah proyeksi dari sesuatu yang benar-benar nyata di alam lauhulmahfudz, makanya di Al Quran disebutkan bahwa dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya, ternyata cumak proyeksi!
Cuma proyeksi, tapi kalau itu buatan Tuhan, ya terasa nyata sekali sampai banyak orang tertipu olehnya dan menumpuk kekayaan seolah-olah hidup selamanyadi dunia. Dari sini ketika sudah dipahamkan Allah bila dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya, kita bisa mengambil sikap santai saja, mengalir saja mengikuti peran yang harus kita mainkan. Oh ya, kita juga bisa mengucap. "Selamat datang ke dunia proyeksi," pada bayi yang baru lahir di atas bumi ... haha.
Selain menyebut dunia ini bukan kehidupan yang sebenarnya, Al Quran juga bilang, dunia ini adalah permainan dan senda gurau. Coba hubungkan dengan perkataan Ellon Musk yang bilang kita hidup di dunia simulasi yang dikendalikan entitas Maha Cerdas. Tolong kasih tahu Ellon Musk ya, bila yang Maha Cerdas itulah Tuhan semesta alam yang bahkan mengendalikan segala pergerakan di alam semesta ini sampai ke bagian terkecilnya, termasuk isi otak dan isi hati si Ellon Musk itu.
Soal waktu itu relatif tertulis di beberapa ayat Al Quran, seperti di Surat Al Hajj 47, sehari di sisi Tuhan sama dengan seribu tahun versi manusia. Di ayat yang lain dikatakan saat hari kebangkitan, manusia merasa hidup di dunia hanya sebentar saja. Di Surat Al Maarij, sehari kadarnya sama dengan lima puluh tahun.
Waktu itu relatif, itulah kebenaran yang musti kita telan. Bahkan waktu itu kadang tidak berjalan linier, bisa simultan, itu pun tak terbantahkan bagi yang pernah mengalami OOB (out of body experience) atau NDE (Near Death Experience), Innuri pernah mengalami keduanya. Jadi ... apa yang harus kita lakukan di kehidupan yang hanya proyeksi, permainan dan senda gurau, yang bukan kehidupan sebenarnya ini?
Adalah menemukan kehidupan sejati kita alias menemukan kesejatian, karena itulah kehidupan yang sebenarnya.
Bagaimana caranya? Mungkin di tulisan berikutnya atau di tulisan sebelumnya Innuri sudah menuliskannya, eh bukan Innuri, tapi Allah.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar