Ketika diri telah kehilangan keakuan / ego, mati sebelum mati, maka Allah merasakan dalam dirinya sebuah proses keakuan menjadi keilahian.
Allah mengambil alih segalanya, fisikmu, emosi, pikiran dan hatimu. Kesadaran itu berproses perlahan, dimulai dari kesadaran fisik, saat gerakan-gerakan yang kamu lakukan kamu sadari bila itu digerakkan Allah. Ingat tulisan Innuri sewaktu menantang Allah untuk membuktikan bila gerakan yang aku lakukan dikendalikan olehNya? Sekarang aku tambah ceritanya.
Sewaktu khalwat 40 hari, aku punya kebiasaan menutup pintu hanya ketika menjelang maghrib, atau ketika cuaca mendung dan hujan yang membuat aku tidak bisa berada di luar rumah. Aku memang lebih suka berada di luar menikmati pemandangan sambil membaca Al Quran atau meditasi daripada di dalam rumah yang saat itu masih banyak hantunya.
Nah, suatu sore cuaca cerah, aku memegang pegangan pintu sambil menantang Allah, "Allah, ayo gerakkan aku, menutup atau membiarkan pintu terbuka. Tapi bila saat ini aku menutup pintu, cuaca harus segera mendung dan hujan. Kalau cuaca tetap cerah, Kau harus gerakkan aku tetap membiarkan pintu terbuka." Aku pun bergerak menutup pintu, aku masuk kamar dan belum lama duduk, cuaca segera berubah mendung dan hujan lebat. Allah benar lagi. Hari itu aku menantang Allah sampai empat kali dan Allah menang terus.
Tertarik menantang Allah? Silakan saja, mengalir saja mengikuti kata hatimu.
Itulah proses yang aku lalui hingga satu tahun kemudian aku melakukan khalwat 40 hari lagi, dan di dalam khalwatku yang kedua ini, aku mendapat pelajaran bila perasaan dan pikiran pun dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. Sebenarnya sudah ada pemahaman ini di khalwat pertama, tapi belum begitu mendalam.
Bagaimana proses Allah mengambil alih semuanya? Prosesnya berjalan perlahan mengikuti kesadaranku dari waktu ke waktu, dengan mengamati diri sendiri, segala yang bergejolak di dalam. Semula dengan menyadari manasku sedang berada di ego atau Allah. Manas itu istilah yang kukenal dari Pak Hans yang mewakili emosi, pikiran dan perasaan.
Begitulah, aku mengamati manasku hingga lama kelamaan aku menyadari, kok susah amat ternyata mengendalikan ego. Diriku sudah kayak bandul saja, kadang bergerak ke ego, lalu ke Allah, mbalik ego lagi, Allah lagi, masih on dan of.
Lalu mikir, bila semua yang ada di diriku milik Allah, berarti egoku juga dong? Berarti aku gak punya ego, bukankah pada hakekatnya semua ini tidak ada karena yang ada hanya Allah? Berarti manasku punya Allah dan yang menggerakkannya Allah juga 'kan? Selengkapnya aku tulis di Ngeles Cantik ,silakan klik saja.
Dari situlah aku memproses diriku sendiri (Allah yang memprosesnya), setiap kali ada gejolak apa pun di batinku, aku menyadari bila itu gejolak dari Allah. Cukup disadari saja, respon yang muncul pun digerakkan Allah. Misal ada perasaan sedih, disadari itu kesedihan Allah, bukan kesedihan Innuri, respon yang muncul menangis, ya disadari lagi itu pada hakekatnya tangisan Allah. Aku lakukan ini terus menerus sepanjang waktu. Hasilnya membuka pemahaman baru mengapa Allah menggerakkan manas dan lahiriahku sedemikian itu.
Contoh kecilnya, ketika aku merindukan seseorang, aku menyadari itu kerinduan Allah, aku mendoakan kebaikan-kebaikan bagi dia tetapi tanpa merasa diriku yang berdoa, karena yang berdoa Allah dan terwujudlah. Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang lewat diriku yang sudah tiada ini.
Lantas bagaimana rasanya ketika Allah mengambil alih semuanya? Kosong dong diri kita ini.
Ya, diri kita kosong tapi isi, pinjam istilah Budhism boleh 'kan? Kalau dihubungkan dengan ajaran Islam, ada minadzulumati ilannur, dari kegelapan menuju cahaya. Karena kegelapan sudah pada pergi, jadi kosong, maka terbukalah ruang untuk terisi cahaya.
Kegelapan ego dan manas yang bergejolak (alias tidak tenang), itu rasanya berat dan tidak enak sama sekali. Innuri sering melihat kegelapan ini berbentuk hitam-hitam di tubuh rohani seseorang, kalau kegelapannya gelap sekali, bentuknya malah berupa plat yang lebar gitu deh, bukan bulat-bulat lagi, duh rasanya pasti berat dan tidak enak.
Nah, ketika kegelapan itu menghilang, perasaan ringan pun muncul, ringan sekali, tubuh rohani menjadi bersih teraliri cahaya. Rasanya enak, amat sangat enak sekali. Namun prosesnya terjadi perlahan, tidak instant, seperti orang mengisi batre, tidak langsung terisi 100% , tapi berjalan perlahan sesuai kondisi kejiwaan seseorang.
Orang-orang yang baik biasanya cahaya di dalam dirinya sudah di atas 60%, jadi dia tinggal menyelesaikan yang 40% nya. Ada yang mulainya sudah di 80%, jadi tinggal sedikit lagi. Tapi perlu dicatat, orang baik dengan orang yang terlihat baik itu berbeda. Ada orang yang terlihat religius dengan ucapan religius pula, tapi kegelapan dalam dirinya malah 60 %, itu berat sekali sebenarnya, tapi karena dia sudah terbiasa dengan itu, jadi ya terlihat biasa saja.
Ada orang yang selama 24 jam selalu 100% , tidak hanya para Nabi yang kondisi batinnya seperti ini, orang biasa juga bisa, tapi bukan Innuri, belum ding ... hehe. Ada yang naik turun prosentasenya, ini aku banget.
Bagaimana dengan kalian? Mau Innuri terawang? ... haha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar