Entah kapan aku menonton film di tivi tentang dunia paralel, seseorang yang punya kehidupan di tempat lain di samping kehidupan aslinya, kehidupan yang sama sekali berbeda. Aku lupa bagaimana alurnya, tapi sekarang aku merasa film itu berguna pernah kutonton, pasti Allah sudah merencanakannya dengan teliti, walau sekedar menonton film.
Kemarin malam tgl 28 februari 2026, pas tidur di pondok di kebun Sitiarjo, di bulan puasa ini, dengan suami tidur di sampingku, aku mengalami "dimasukkan" ke kehidupanku di belahan semesta yang lain, walau sebentar banget, telah berhasil menjawab satu pertanyaan yang masih tersisa tentang hidupku ini.
Tadinya sempat tertegun setelah tahu kehidupan paralelku di semesta yang lain, itu tempat yang indah dan damai, yang sama sekali berbeda dengan dunia yang penuh kebisingan di atas bumi ini. Di sana aku hidup bersama suami yang menyayangiku dan dua orang anak, yang pertama cewek yang mirip aku waktu kecil dulu, berambut panjang, berkulit kuning langsat dan cantik, kira-kira berusia lima tahunan, sedangkan anak nomor dua cowok dan masih bayi. Aku melihat (bukan melihat, tepatnya mengalami/merasakan) diriku seperti belum lama melahirkan dan suami melayaniku.
Suami di kehidupan paralelku bukanlah suami yang aku miliki di sini, tetapi orang lain yang pernah hadir di kehidupanku. Di sana aku jauh lebih muda dibandingkan aku sekarang, masih usia tigapuluhan gitu deh, separuhnya aku sekarang.
Tertegun aku begitu dipahamkan Allah akan semua itu, terjawab sudah rangkaian pertanyaan tentang hidupku ini, seperti menyaksikan versi utuh, the complete picture of my life. Lega sekali walau sempat terseret ke kehidupan paralelku, dengan mudah (Allah yang memudahkan) aku kembali ke duniaku yang di sini.
Pertanyaannya sekarang, mengapa ada kehidupan paralel dan bagaimana memasukinya?
Sepemahamanku, itu karena dunia ini sudah semakin mendekati akhir, sementara tugas-tugas kehidupan yang musti dilalui seseorang masih banyak. Dengan adanya semesta paralel, itu memungkinkan seseorang menjalankan beberapa tugas sekaligus untuk menyelesaikan misinya di muka bumi.
Bagaimana cara mengetahui dan memasuki dunia paralel? Aku tidak tahu caranya, tapi kurasa dibutuhkan jiwa yang siap (tepatnya disiapkan Allah) untuk menyaksikan kehidupan parelelnya sendiri. Ini tidak bisa dilatih, terjadinya menurut kehendak Allah mutlak. Yang bisa dilatih adalah permurnian jiwa seperti yang aku tulis di seri Perjalanan ke Dalam di blog ini, karena hanya jiwa yang siap yang bisa masuk. Jiwa yang belum bersih / belum siap, amat rawan terjadi guncangan dan overlapping (tumpang tindih) antara kehidupan di sini dan di sana, ini tidak mudah dihandle.
Bukan aku saja yang punya kehidupan paralel, kalian juga mungkin, hanya saja tak semua orang bisa masuk ke kehidupan paralelnya, semua atas ijin Tuhan tentunya.
Lantas mengapa aku menuliskan ini untuk publik?
Kalau berdasar kemauanku sendiri sih ya enakan disimpen sendiri, aman, tidak perlu menghadapi hujatan orang yang tidak percaya dunia paralel dan tidak percaya padaku. Bila dibaca sekilas 'kan itu lebih mirip khayalan orang yang memimpikan kehidupan yang damai dan berbeda. Aku tidak menyalahkan, memang begitulah kalau tidak mengalami sendiri. Tapi kalau dipikir lebih jauh, hidupku di sini sudah bahagia, ngapain repot cari kebahagiaan di semesta yang lain?
Aku sendiri pun dulu juga menganggap dunia paralel itu cuma fiksi, pemikiran orang yang super kreatif saja kukira. Tapi begitu mengalami sendiri, pemikiranku jadi beda. Ini sebuah cara cantik untuk 'selesai' dengan kehidupan, hidupku ringan, ringan banget, seperti sudah menyelesaikan semua misi dan tugas yang harus aku selesaikan, aku siap mati kapan saja Allah kehendaki.
Aku juga tidak boleh egois dengan menyimpan cerita ini untukku sendiri, ada kehendak Allah agar orang yang mengalami hal yang sama denganku punya referensi pengalaman orang lain, biar nggak bingung sendirian. Karena sedikit sekali informasi yang tersedia mengenai dunia paralel yang berdasarkan pengalaman nyata dan bisa dipercaya pula. Oh tentunya kalian boleh percaya boleh tidak dengan cerita Innuri, hanya satu yang harus kalian percaya yaitu kasih sayang Allah lah yang membuat segala kemungkinan terjadi di semesta mana pun, baik semesta tunggal atau semesta paralel. Allah Maha Menghendaki segala sesuatu. Sesuatu yang ada tidak harus bisa dibuktikan sendiri, karena keterbatasan makhluk.
Di dalam Al Quran sendiri ada banyak ayat yang mengisyaratkan adanya semesta paralel, penyebutan tujuh lapis langit (salah satunya di Surat Al Mulk 3), itu bisa ditafsirkan sebagai semesta paralel. Di samping itu ada istilah Tuhan semesta alam, yang artinya bukan hanya satu alam, tetapi beberapa alam. Juga ada di Surat Asy-syura 29 yang menyebutkan kehidupan di antara langit dan bumi, yang mengisyaratkan bila kehidupan ini bukan hanya terjadi di atas bumi.
Percaya atau tidak, ini adalah hal yang menarik bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar