Senin, 30 Maret 2026

Menembus Ilusi Tiga Dimensi

 Persoalan yang sering menjegal manusia dalam memahami kesejatian adalah dia seolah abstrak, padahal itu lebih nyata dari yang terlihat.  Sesuatu yang nyata tapi abstrak, membuat manusia yang sudah sejak bayi terjebak di dunia tiga dimensi ini susah yakin dan percaya.  Ditunjang oleh pergaulan dengan sesama manusia dengan pandangan yang sama. 

Manusia yang tidak terjebak dalam ilusi tiga dimensi itu manusia langka, karena jumlahnya sedikit sekali. Bila kamu menemukannya, jadikanlah dia temanmu atau sahabatmu.

Ketika manusia bisa menemukan kesejatian, walau masih baru masuk sejengkal. Lalu dia membaur dengan keramaian, itu menariknya lagi dalam ilusi tiga dimensi yang kerap menyesatkan. Terjadi proses tarik ulur yang melelahkan.  Sesulit itu memang, tetapi worth it untuk ditempuh.

 Pikiran dan perasaan pun abstrak, tak terlihat atau teraba, tapi ,manusia mempercayainya karena berada di dalam dirinya dan dia merasakan gerakan dan gejolaknya.  Tuhan pun ada di dalam diri manusia, tetapi kebanyakan manusia sulit merasakannya, padahal Dia adalah sumber gerakannya. Pertanyaannya adalah ada apa?

Bagaimana saya yakin akan Allah?  Itu pertanyaan yang sering aku dengar dari pembacaku yang tengah terlilit masalah. 

Yang kamu butuhkan adalah keheningan, agar kamu bisa menembus ilusi tiga dimensi itu. 

Allah hanya bisa kamu temui ketika batinmu hening. 

Kamu harus merobohkan dinding ilusi dengan keheningan. 

Nah, yang sering Innuri temui dari orang-orang yang bermasalah dengan tubuh fisik dan batinnya adalah pikiran yang susah hening.  Pikiran yang semrawut, sana dikomentari, sini dibenci, situ dihakimi, sono dianalisa, pikiran yang terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak penting tapi dianggap penting.  Ada kegagalan dalam memilah informasi di dalam batinnya.

Saranku, rajin-rajinlah bermeditasi. Walau tak semudah itu bagi pikiran yang terbiasa meloncat ke sana ke mari. Bila tidak dilatih, selamanya kamu akan terpenjara dalam ilusi tiga dimensi. 

Diamlah, duduk diam, atau berbaring.  Bernapaslah seperti biasa tetapi sadari napasmu, sadari saja masuk dan keluarnya napas dari hidungmu. Sampai lama kelamaan, napasmu yang semula bergerak cepat, ritmenya melambat, terus melambat sampai napas terasa panjang dan lembut. Teruslah memerhatikan napasmu sampai hatimu terasa begitu damai. 

Dalam kedamaian kamu akan menemukan inti dirimu. Kamu akan temukan jawaban-jawaban, atau apa yang kamu butuhkan.  Kamu akan bertemu dengan yang dulunya kamu anggap abstrak, menjadi nyata.  Dalam dirimu terjadi 'pengalaman ketuhanan'. 

"Sudah mbak In, aku sudah meditasi. Tapi tidak bisa ketemu Allah."

Ya kamu harus meyakini, Allah melihatmu, melihat usahamu, Dia selalu ada di hatimu. Allah juga yang menggerakkanmu kepadaNya. Kamu hanya perlu percaya. 

Bermeditasilah tanpa merasa bermeditasi. Maksudku, kamu jangan merasa berusaha bermeditasi, tetapi kamu sedang digerakkan Allah untuk bermeditasi. Begicuu yaa. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar