Kukira pembahasan tentang semesta paralel sudah selesai di bagian ke 7, sampai pagi tadi sambil masak kok bermunculan pemahaman-pemahaman baru yang Allah berikan ke otakku ini. Padahal mauku hari ini mau melukis, tapi ngerjain lukisan malah berantakan, sebuah pertanda bila aku harus menuliskan pemahaman-pemahaman yang Allah berikan pagi tadi.
Baiklah. Monggo duduk santai dan nikmati kopinya ... hehe.
Dari tulisan-tulisan sebelumnya, sudah paham bila setelah mati di dunia, ruh/jiwa kita akan pindah channel atau pindah semesta. Semesta-semesta itu sudah ada saat ini dan 'turunan jiwa' kita sudah berada di sana, yang disebut satu jiwa multidimensi.
Untuk lebih jelas soal satu jiwa multidimensi, bayangkan seperti Naruto dengan jurus seribu bayangan itu loh, yang disebut kage bunshin. Nah, kita juga punya kage bunshin di semesta-semesta yang lain itu, saat ini kita berada di bumi, dunia manusia, karena jiwa yang asli ditempatkan di sini. Sedangkan di semesta yang lain, itu jiwa turunan / jiwa bayangan, kita sebut saja kage bunshin biar gampang ya.
Adapun semesta-semesta yang lain itu di dalam agama ada disebut: alam kubur, alam barzah, alam penantian, padang maghsyar, surga, neraka,dll. Semesta-semesta itu pun bertingkat dalam keabadian, dunia adalah semesta yang tidak abadi, surga (semesta kesenangan) dan neraka (semesta penderitaan) pun ada yang tidak abadi dan ada yang abadi, seperti itulah yang tertulis di kitab suci (maaf belum sempat nyari ayatnya)
Sampai di sini paham 'kan?
1. ada jiwa multidimensi yang hidup dan tinggal di multisemesta, semua terjadi secara simultan (serentak)
2. kita merasakan hidup di dunia, karena Allah naruh jiwa yang asli di sini, di semesta yang lain hanya kagebunshin.
3. setelah mati di dunia, jiwa asli kita nanti pindah semesta, ke semesta yang mana itu tergantung dari amal perbuatan kita di dunia.
4. ada semesta abadi yang merupakan tingkat tertinggi, yang ketika berada di sana, sudah nggak mbalik lagi ke semesta yang tidak abadi. Ini semestanya orang yang sudah manunggaling kawula Gusti, sudah menyatu dengan Tuhan, sudah moksha. Di sini keindahannya tak terbayangkan oleh kita.
Nah, pilihan ada di tangan kalian, mumpung masih hidup di dunia, ntar nanti setelah mati mau lompat ke mana? Ke semesta yang masih sementara (tidak abadi) atau ke semesta yang abadi?
Aku kasih tahu ya. Perjuangan untuk sampai ke semesta abadi itu berat, berat, dan sangat berat. Sulit, sulit dan sangat sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa. Sulitnya seperti meniti jembatan serambut dibelah tujuh, sesulit itu. Makanya kita tak pernah bisa tanpa pertolongan Allah, hanya kasih sayangNya yang membuat kita bisa sampai ke sana.
Kenapa berat dan kenapa sulit? Karena yang kita hadapi dan yang harus kita selesaikan ada di dalam diri kita sendiri, musuhnya ada di dalam diri sendiri, musuh yang sudah menyatu, seolah-olah teman, berlaku sebagai sahabat padahal njlomprongke alias menyesatkan.
Kabar baiknya, sebenarnya kita tinggal memilih saja, nanti Allah yang akan jalankan. Bila pilihanmu adalah semesta abadi yang tanpa penderitaan, katakan pilihanmu kepada Allah. Katakan saja pakai bahasa hatimu, bila kamu memilih Allah dan siap dijalankan Allah di situ. Urusan nanti bagaimana menempuhnya, serahkan Allah. Itu namanya pasrah, itulah Islam, orangnya disebut muslim.
Tidak gampang tetapi gampang ya. Percaya Allah saja nanti Allah yang kasih petunjuk dan jalannya, percaya itu namanya iman.
Apa tanda-tandanya bila kita adalah calon penghuni semesta keabadian? Buka Surat Yunus 62 , kamu tidak pernah sedih, takut atau khawatir, apalagi galau. Surat Al Fajr 27-30 , jiwanya tenang.
Untuk sampai ke Yunus 62 Dan Al Fajr 27 itu perjuangannya panjang. Innuri sudah sering menulisnya, tapi insyaAllah aku bahas lagi di tulisan yang lain dengan pendekatan yang lain agar mudah dipahami..
Jadi sampai di sini dulu ya, Innuri mau olah raga, soalnya masih di dunia, butuh olah raga biar sehat dan awet cantik... haha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar