Amor fati, sebuah ajaran Stoisisme, yang artinya mencintai takdir. Dulu kupahami sebagai mencintai takdirku sendiri. Aku menerima apa pun, yang sudah, sedang, dan akan terjadi, tidak menginginkan sesuatu berbeda dari yang aku alami. Aku sadar semua itu penting dalam proses spiritualku. Tidak ada penyesalan atas apa yang sudah berlalu, tidak ada kekhawatiran akan masa depan, dan menikmati hari ini dengan bahagia.
Aku merasa sudah di titik itu, sampai aku sadari bila itu belum cukup.
Ketika batinku menangis melihat seorang kakek tua mendorong gerobak jualan, tanpa tahu bagaimana menolongnya. Aku menyalahkan sistem, yang di dalam UUD 45 tertulis 'fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara', tapi .... Batinku protes pada keadaan. Ketika melihat bayi-bayi itu diikat di tempat penitipan anak, ketika kecelakaan kereta api merenggut nyawa ...
Kuingat ajaran stoic yang lain, fokus pada hal yang bisa kita kendalikan, bukan pada yang tidak bisa kita kendalikan. Masuk akal, daripada memboroskan energi untuk sesuatu yang tidak bisa kita ubah.
Bila di dalam Al quran, semua yang terjadi adalah skenario Allah, maka apakah aku merasa lebih tahu dan lebih pintar dari Dia sampai protes ini itu?
Sesungguhnya yang aku lihat hanyalah permukaannya, hakekatnya aku sungguh tidak tahu. Ingat kisah Nabi Musa dan Nabi Khaidir di dalam Al quran. Kesalahan Nabi Musa dibuka dengan gamblang. Mengingatkan manusia bila penilaian dari sesuatu yang terlihat mata itu bukanlah kebenaran.
Hidup, mati, cara hidup, dan cara mati, semua sudah dalam rancangan terbaikNya. Inilah makna iman itu.
Setelah merenungkan itu, pemahamanku mengembang, setelah mencintati takdir diriku, aku mencintai takdir orang-orang yang kucintai. Lalu mencintai takdir semua orang, berkembang lagi mencintai takdir negri ini dan takdir dunia ini. Setelah selesai, aku seperti punya sayap, terbang mengangkasa, pandanganku menjadi luas. Pemahaman-pemahaman baru bermunculan di hatiku.
Apa pun yang terjadi di dalam atau di luar diriku, di alam semesta ini, adalah sebuah orkestra kehidupan. Kini aku memeluk semuanya, aku mencintai semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar