Sabtu, 11 April 2026

Katarsis

 Innuri lagi dibombardir curhatan Pak R alias Pak Ruwet yang aku ceritakan di tulisan terdahulu.  Dia memprotes tulisanku yang Esa Itu Tak Terpisah  .  Katanya, tidak semudah itu memaafkan saudara yang sudah berlaku zalim, berikut membeberkan bukti-buktinya.  Sekarang ganti Innuri yang curhat ya berkaitan dengan itu.  

Jujur saja, Innuri itu nggak patheken, dia nurut saranku atau tidak, dia mau nyungsang njempalik atau tegak berdiri, atau silakan berhenti menganggap Innuri pembimbingmu.  Bukan aku yang minta, Pak R sendiri yang memintaku membimbing perjalanan spiritualnya.

Ini adalah tulisan terakhirku untuk Pak R, itupun mengingat pengalaman hidupnya relate dengan sahabat dekatku.  Yang membedakan keduanya adalah cara menyikapi masalah yang dihadapinya, karena masalahnya mirip, hanya saja sahabatku ini perempuan.

Sebut saja sahabatku itu Melati, Melati dari Indragiri, karena rumahnya di Jl Indragiri.  Melati anak nomer dua, persis dengan Pak R yang anak nomer dua.  Tapi aku hanya bercerita soal Melati, agar Pak R bisa belajar darinya, karena permasalahannya mirip banget. Semoga pembaca Innuri blog juga bisa belajar dari Melati, teristimewa anak nomer dua.

Kakak Melati, sebut saja Mawar. Mawar yang berduri, membenci Melati sejak kehadirannya di dunia ini.  Bayi yang nggak tahu apa-apa sudah dibenci, besarnya dibuli dan dipukuli dong!  

Karena perbedaan usia yang jauh.  Melati lahir ketika usia Mawar 9 tahun.  Secara logika masuk akal, selama 9 tahun Mawar menjadi anak tunggal yang segala perhatian dan kasih sayang tercurah kepadanya seorang.  Saat Melati lahir, tentu perhatian semua orang beralih pada si bayi yang cantik itu.  

Sayangnya kedua orang tua mereka bekerja, tidak tahu apa yang terjadi di rumah.  Malangnya lagi, selain sering dibuli dan dipukuli kakaknya, Melati juga diasuh oleh pengasuh yang suka berkata kasar, mengumpat, mencela, dan tidak membelanya. 

Pengalaman masa kecil yang seperti itulah yang membuat Melati tidak mau menjadi wanita karier, ketika berkeluarga, dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja, agar anak-anaknya tidak mengalami seperti yang dia alami. 

Mawar semakin leluasa berbuat jahat pada Melati ketika Melati SMP.  Dijambak rambutnya lalu kepalanya dibenturin ke tembok, itu cara Mawar melampiaskan sakit hatinya hanya karena kesalahan kecil yang dibuat Melati.  Melati yang sekolah siang, pernah berangkat sekolah dengan lengan yang berdarah sambil menangis karena habis dicakar kakaknya. 

Apakah Melati melawan? Iya dong, masak dipukuli diam saja.  Tetapi semakin melawan, semakin kejam perlakuan kakaknya.  Karena itulah Melati memilih mengalah saja, walau perlakuan Mawar lebih mirip ibu tiri yang kejam.  Di hadapan orang tua mereka dan di hadapan semua orang, Mawar berlaku amat manis pada Melati, tapi bila tak ada orang, Mawar mengeluarkan durinya. 

Beruntung Melati punya sahabat yang baik, di sekolah dia sering menangis bila dijahati Mawar dan teman-temannyalah yang menghiburnya.  Beruntung pula Melati punya tempat melarikan diri di loteng rumahnya, tempat dia melukis dan menuliskan semua perasaannya di buku harian.  

Beruntung Melati suka surat menyurat, dia punya sahabat pena dari seluruh nusantara yang menjadi hiburannya, bahkan ada yang menjadi pacarnya lalu putus, karena Melati tak mau diajak menikah.  Ya, Melati yang masih anak SMP diajak menikah sama "pacar penanya" lucu tapi nyata.

Beruntung Melati suka mengirimkan tulisannya ke majalah-majalah sehingga dia bisa mendapat honor dari tulisannya.  Walaupun Melati tak mengerti bahwa apa yang dilakukannya seperti menulis, melukis, surat menyurat,  itulah yang disebut katarsis, proses pelepasan emosi yang terpendam, yang membuatnya tetap waras menempuh hari-harinya yang berat.

Apakah Melati mengadukan perlakuan kakaknya pada orang tuanya?  Itu pasti, tetapi Mawar lebih pintar berbicara dan meyakinkan orang tuanya. Orang tuanya lebih mempercayai Mawar. Jadi Melati tidak punya pembela selain Allah.

Ketika SMA, Mawar masih suka membuli dengan kata-kata atau memukul, sampai Melati tak tahan lagi dan pergi dari rumah.  Beruntung saat SMA Melati punya kekasih beneran, yang bukan cuma kekasih pena, kakak kelasnya di SMA, yang  mengantarnya melarikan diri.  Setidaknya Melati punya tempat untuk menangis pada kekasih yang sayang padanya. 

Setelah kejadian melarikan diri itulah, orang tua Melati baru percaya akan perlakuan Mawar selama ini.  Ibunya Melati sering memberi nasehat untuk memaafkan, karena ternyata ibunya Melati juga punya kakak yang nakal juga, yaitu pakdenya Melati.  Ibunya sering bilang, kehidupanmu bakalan bahagia bila mudah memaafkan.  Begitulah, Melati menurut, selalu memaafkan kakaknya.

Tapi apakah Mawar berhenti membenci?  Tidak dong, berhenti memukuli Melati memang iya, tapi kebencian tetap jalan terus sampai tua, sampai mereka berdua beranak cucu. Wow!  Panjang bila diceritakan, bisa ngalahin cerita Pak R tentang saudaranya.

Barangkali seperti itulah nasib anak kedua, rentan dibenci anak pertama, walau tidak selalu ya.

Melati tidak menganggap hidupnya nelangsa, dia menikmati masa kecilnya, masa remajanya, dan ketika menikah, dia mendapat pernikahan yang bahagia, dengan suami yang tak pernah berkata kasar sekali pun selama puluhan tahun menjalani kehidupan rumah tangga. Seperti balasan bagi hati yang selalu memaafkan.

Sebaliknya Mawar, mungkin balasan bagi perlakuannya pada si adik, dia mengalami KDRT dalam pernikahan pertamanya, sampai bercerai, lalu menikah lagi dan lagi.  Menikah tiga kali dan tidak bahagia, sekarang Mawar menjanda.  Orang menyebutnya kena karma, siapa menabur, dia menuai.

Melihat Mawar seperti itu, membuat Melati memaklumi segala kelakuan kakaknya yang masih sering menyakitkan. Bagi Melati, perlakuan orang adalah cermin batinnya, ketika orang suka menyakiti, itu hanya ekspresi batin yang sakit.  Apa sih yang bisa diharap dari batin yang sakit?  Ada kata-kata Melati yang pantas menjadi bahan renungan.  Dia bilang,"Nek nuruti wong gendeng, yo melu gendeng."  maksudnya, kalau kata-kata orang gila dimasukkan ke hati, ya ikut gila. 

Katarsis, itu penting sekali agar tetap waras.  Seperti yang dilakukan Melati sejak kecil. Melepaskan emosi dengan cara yang disukai tanpa menyakiti orang lain.  

Apa pun kegiatan yang berguna untuk melepaskan emosi yang terpendam dan traumatis, yang membuat hati menjadi ringan dan lega, itulah katarsis.  Ada yang berolah raga, ada yang menjadi pecinta alam dengan mendaki gunung, sekedar berada di tengah alam dan hutan.  Ada yang melampiaskannya lewat seni, melukis, menari, menyanyi menjerit-jerit.  Ada yang lewat karya sastra, jadi tulisan cerpen, novel.  Apa pun itu.

Innuri sudah menyarankan Pak R untuk menulis di platform seperti wattpad, atau menulis jawaban di Quora.  Ada beberapa teman Innuri yang sengaja menulis jawaban di Quora untuk katarsis, pakai nama palsu dong agar tidak menimbulkan masalah.  Itu lebih baik daripada curhat ke Innuri yang sama aku cuma discrol-scroll doang lalu dihapus, saking panjangnya curhatannya Pak R.

Pak R harus menyadari bila dirinya punya hasrat ngomong yang tinggi dan ini harus dilampiaskan dalam bentuk apa pun juga.  Dia bilang tak sempat menulis, lah wong nulis ke Innuri sudah kayak cerpen gitu loh!  Lah yo mbok nurut saja.  

Innuri tak punya banyak waktu untuk melayani orang yang cuma menjadikan aku tempat sampahnya doang. Kutulis ini karena terlalu kasihan (Allah yang kasihan, bukan Innuri) pada kehidupan Pak R yang secara fisik tidak sehat, secara mental lebih tidak sehat lagi.  Beruntungnya dia masih sehat pikirannya.

Kehidupan yang kita terima ini seimbang kok.  Ada suka ada duka, ada sakit ada sembuh, dll.  Orang yang merasa hidupnya menderita itu cuma orang yang memandang dunia dari satu sisi saja, melupakan sisi beruntung yang Allah berikan padanya.

Oh ya, bila Pak R memandang hidupnya sebagai penderitaan, coba belajar dari Budhis deh.  Ada 4 kebenaran yang diajarkan Sidarta Gautama, yang pertama adalah hidup adalah derita, kedua derita disebabkan oleh nafsu, keinginan, dan keterikatan/ kemelekatan, ketiga untuk lepas dari derita ya harus melepaskan poin ke dua, keempat, jalan untuk melepaskan derita ada 8 jalan mulia.  Silakan digoogling saja, Innuri bukan ahlinya membahas ini ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar