Selasa, 07 April 2026

Berhala Keinginan dan Harapan

 Harapan dan keinginan itu sumber penderitaan.  Bila harapan dan keinginan terpenuhi, maka muncul harapan dan keinginan yang baru. Begitu terus tidak ada habis-habisnya. 

Misal begini, kamu punya anak yang rajin main game saja sampai sering bolos sekolah, berharap dia jadi rajin sekolah.  Ketika dia rajin sekolah, muncul harapan baru, mbok ya rajin ibadah juga nak, nak.  Sudah rajin sekolah dan rajin ibadah,  berharap dia rajin bantu pekerjaan rumah juga ... hehe. Itu contoh kecil saja ya.  Mau contoh besarnya boleh dicari di kehidupan kalian masing-masing.

Berharap itu berteman dengan menunggu, menunggu perubahan, menunggu hasil, menunggu harapan menjadi nyata, menunggu doa-doa dikabulkan, dll. Lalu ketika harapan yang satu terjawab, muncul harapan baru lagi yang melahirkan penantian lagi. Bukankah itu melelahkan? 

Tidakkah lebih damai di hati bila membiarkan semua terjadi atas keinginan Allah saja? Bukan keinginan ego kita? 

Bukankah kita menyembah Allah? Bukan penyembah harapan dan keinginan kita? 

Seperti yang kubilang tadi, harapan dan keinginan itu bila tak tercapai jadi kecewa dan sedih. Bila tercapai, tumbuh harapan baru, begitu terus tidak ada habisnya sampai kita menutup mata. 

Ada hadits yang mengatakan bila manusia diberi satu lembah berisi emas, maka dia ingin dua lembah, bila diberi dua, dia mau tiga, begitu seterusnya. 

Begini, Sayang. 

Perilaku orang-orang terkasih itu sebenarnya mengandung pesan Tuhan kepadamu, bukan pada orang-orang itu, tapi kepadamu. 

Misal soal anak yang hobby main game itu, pesan apa yang dibawanya? Barangkali hobimu yang suka mengontrol segala sesuatu harus sesuai dengan maumu itu yang harus dikoreksi.  Harus disadari manusia tidak bisa mengubah manusia lain, hanya Allah yang bisa. Setelah kesadaran ini muncul, nanti akan ada petunjukNya di hatimu musti ngapain. Dan kamu bisa bertindak atas dasar petunjuk Tuhan, bukan atas dasar hawa nafsumu yang suka memaksa semua harus sesuai keinginanmu. Kamu sendiri juga bebas dari rasa nyesek di hati sampai pingin elus dadanya Lee Min Ho... haha.

Betapa pentingnya mencerabut harapan dari orang-orang yang kita sayangi atau orang mana pun demi kedamaian hati sendiri. 

Ketika kita berharap seseorang menjadi seperti yang kita mau, harapan ini menetap, maksudku terus kita gendong kemana-mana.  Tersimpan di ketidaksadaran, menjadi beban mental yang tidak kita sadari. Ketika suatu saat kita menemukan harapan ini tidak sesuai kenyataan, maka bisa meledaklah kita. 

Misalnya kita berharap punya pasangan  yang setia, suatu saat ketemu pasangan kita selingkuh.  Bayangkan betapa sakitnya ledakan perasaan kecewa dan marah itu. 

Mungkin ada yang bertanya, "Wajar 'kan pingin punya pasangan setia?  Yang nggak wajar itu pingin punya pasangan yang tidak setia."  

Ini bukan soal wajar atau tidaknya, ini soal menata keinginan agar hidup kita damai.

"Lah mbak Innuri nggak pernah mengalami punya pasangan selingkuh sih," katamu.

Eeeeh, bukan cuma selingkuh, tapi punya empat istri, coba baca di sini Poligami Ala Suamiku .  Terjawab 'kan mengapa tak perlu berharap pasangan kita setia?

Logikanya begini, ketika kita berharap, bawah sadar nangkepnya "kita tidak punya" , ya terwujud seperti doa.  Ketika kita santai saja, bawah sadar nangkepnya "aku sudah memiliki".  

Mencerabut harapan dari orang-orang yang kita sayangi itu sebuah cara mengamankan diri sendiri dari rasa sakit dan kecewa, juga melindungi diri kita sendiri dari penantian yang tidak ada ujungnya.  Yang semua itu sia-sia, memboroskan energi dan waktu yang berharga, lebih baik dipakai untuk mendekat pada Allah saja.

Akan tetapi, tak semudah itu mencerabut harapan dari hati kita, pasrahkan Allah, jangan merasa berusaha, karena hanya Allah yang bisa melakukannya.  Yang penting ada niat untuk mengenolkan keinginan dan harapan.  Allahlah yang menggenggam hati dan pikiran kita, biarkan Allah yang membersihkan kita dari berhala keinginan dan harapan.

Biarkan semuanya mengalir menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak ego kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar