Kamis, 30 April 2026

Amor Fati

Rukun iman yang ke enam adalah percaya pada takdir atau ketentuan Allah. Bila iman itu mendamaikan dan membahagiakan manusia, maka kutemukan makna yang lebih mendalam dari rukun iman yang ke enam ini pada amor fati. 

 Amor fati, sebuah ajaran Stoisisme, yang artinya mencintai takdir.  Dulu kupahami sebagai mencintai takdirku sendiri.  Aku menerima apa pun, yang sudah, sedang, dan akan terjadi, tidak menginginkan sesuatu berbeda dari yang aku alami.  Aku sadar semua itu penting dalam proses spiritualku.  Tidak ada penyesalan atas apa yang sudah berlalu, tidak ada kekhawatiran akan masa depan, dan menikmati hari ini dengan bahagia.

Aku merasa sudah di titik itu, sampai aku sadari bila itu belum cukup.

Ketika batinku menangis melihat seorang kakek tua mendorong gerobak jualan, tanpa tahu bagaimana menolongnya.  Aku menyalahkan sistem, yang di dalam UUD 45 tertulis 'fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara', tapi ....  Batinku protes pada keadaan.  Juga ketika hukuman pada Pak Nadhim Makarim ditetapkan yang menurutku amat dibuat-buat. 

Kuingat ajaran stoic yang lain, fokus pada hal yang bisa kita kendalikan, bukan pada yang tidak bisa kita kendalikan.  Masuk akal, daripada memboroskan energi untuk sesuatu yang tidak bisa kita ubah. 

Bila di dalam Al quran, semua yang terjadi adalah skenario Allah, maka apakah aku merasa lebih tahu dan lebih pintar dari Dia sampai protes ini itu?   

Sesungguhnya yang aku lihat hanyalah permukaannya, hakekatnya aku sungguh tidak tahu.  Ingat kisah Nabi Musa dan Nabi Khaidir di dalam Al quran. Kesalahan Nabi Musa dibuka dengan gamblang. Mengingatkan manusia bila penilaian dari sesuatu yang terlihat mata itu bukanlah kebenaran.

Hidup, mati, cara hidup, dan cara mati, semua sudah dalam rancangan terbaikNya.  Inilah makna iman itu.

Setelah merenungkan itu, pemahamanku mengembang, setelah mencintati takdir diriku, aku mencintai takdir orang-orang yang kucintai.  Lalu mencintai takdir semua orang, berkembang lagi mencintai takdir negri ini dan takdir dunia ini.  Setelah selesai, aku seperti punya sayap, terbang mengangkasa, pandanganku menjadi luas.  Pemahaman-pemahaman baru bermunculan di hatiku.

Apa pun yang terjadi di dalam atau di luar diriku, di alam semesta ini, adalah sebuah orkestra kehidupan.  Kini aku memeluk semuanya, aku mencintai semuanya. Batinku damai karena menyandarkan hati padaNya. Aku percaya penuh kebijaksanaanNya. 

Rabu, 29 April 2026

Kapan Dunia Ini Runtuh?

 Kapan dunia ini runtuh? Kapan kehancuran alam semesta terjadi?

Di kitab suci dikatakan bila  kehidupan akhirat itu terjadi setelah dunia ini runtuh kan?  Kalau secara sains terjadinya bisa milyaran sampai trilyunan tahun ke depan.

Akan tetapi, di kitab suci sudah diceritakan tentang kehidupan akhirat, juga tentang kiamat. Bahkan secara rinci diceritakan tentang surga dan neraka. Ulama menafsirkan bila semua sudah ada saat ini, 

Ingat salah satu hukum di dalam fisika quantum, teori block universe, bahwa waktu tidak mengalir, melainkan seperti roll film yang semuanya sudah terjadi di dalam sebuah "file".  Innuri sudah menuliskan ini di seri Semesta Paralel.  Yang berarti apa yang tertulis di kitab suci memang benar, akhirat sudah ada saat ini.

Dalam kajian Gus Mukhlason Rasyid, beliau mengatakan  ketika dunia sudah runtuh di hati seseorang,  maka orang itu sudah bertemu dengan akhirat dan memasuki surgaNya.  Itu bisa terjadi di dunia saat ini.

Pertanyaannya adalah kapan nih dunia kita runtuh selagi masih hidup saat ini? Ceritanya aku sedang mencari cara bagaimana kesadaran ini bisa 'on' terus.

Untuk itulah Innuri mau bocorin cerita yang malu-maluin ini. 

Kan Innuri cukup sering tuh dicemplungin ke semesta lain yang indah-indah. Ujung-ujungnya jadi ketagihan masuk ke sana lagi. Jadi sedih ketika tidak bisa melihat hal-hal indah itu, sampai kubertanya pada Allah,"Bagaimana sih caranya menjaga perasaan terus bersamaMu saja, ya Allah?"  Pertanyaannya seperti itu, tapi Allah tahu saja bila sebenarnya di hatiku ada tersembunyi rasa ingin  selalu bisa melihat segala keindahan itu, yang disebut surga itu.

Tanpa aku sadari, arah batinku telah bergeser, dari ingin bersama Tuhan untuk Tuhan, menjadi ingin bersama Tuhan untuk surgaNya.   

Innuri salah arah. 

Bahkan orang yang pernah mengalami wushul pun bisa kena jebakan betmen. 

Betapa halus jebakan ini. Super halus sekali. 

Jadi. 

Paradoks di dunia spiritual itu nyata.  

"Ketika kamu menginginkan, kamu akan kehilangan.  Ketika kamu kehilangan, maka kamu memiliki"  Paham 'kan maksud dua kalimat ini?  Seperti yang terjadi pada Innuri, ketika Allah yang diinginkan, keindahan itu Allah hadirkan.  Namun ketika keindahan itu yang diinginkan, keduanya melayang.

Sudahlah Innuri, saat bersama Allah apakah kamu merasakan kedamaian? Iya 'kan?  Apakah rasa damai itu tidak cukup bagimu?  Cukup.  Cukuplah Allah bagiku.

Ketika aku merasa cukup dengan Allah, rasanya aku mendengar sesuatu yang sangat indah, sesaat, hanya sesaat.  Itu nyanyian surga, nyanyian yang tidak pernah terdengar di dunia ini.  Lagi-lagi Innuri mengalami 'mendengar tapi tidak mendengar'.  Hore!  Aku kecemplung lagi!

Tapi bukankah Innuri sudah tiada?  Jadi bukan Innuri yang mendengar, tapi Allah. Oh, akhirnyaaa ... perasaan indah itu hadir lagi.

Kembali ke pertanyaan, kapan dunia ini runtuh?  

Jawabannya adalah, tak perlu dipikirin! Fokus saja ke Allah, jangan mau diiming-imingi apa pun selain Allah walau Innuri yang ngiming-imingi.

Salam kasih. 

Selasa, 28 April 2026

Serambut Dibelah Tujuh

Seseorang memuji, bilang selalu membaca tulisanku. Aku jawab begini, "Makasih sudah menyukai tulisanku, aslinya bukan aku yang menulis, Allah yang menggerakkan aku untuk menulis. "  

Sebenarnya aku mau bilang, "Allah yang menulis. " Tapi kok kelihatannya terlalu 'ekstrim' untuk dia. 

Lalu dia menjawab, "Ya saya paham, saya juga seperti itu, hanya sebagai media. " 

Sekarang mari kita kupas dari ilmu Tauhid. Benarkah pernyataan 'manusia sebagai media' ?  Ingat ya, kita bahasnya dari sudut pandang ketauhidan alias keesaan Tuhan. 

Bila manusia sebagai media penyampai pesan Tuhan, berarti ada media dan ada Tuhan.  Ada Tuhan yang menggunakan manusia sebagai media untuk menyampaikan pesan ke masyarakat manusia. Begitu 'kan? 

Ada sisi manusia ada sisi Tuhan, berarti keduanya terpisah.  Sedangkan Tuhan itu lebih dekat dari urat leher manusia (Qaf 16), yang artinya menyatu.  Itulah maksud keesaan Tuhan, Tuhan tidak terpisah dengan makhluk.  Akan tetapi makhluk bukan Tuhan. 

Sering aku bilang, jangan pisahkan makhluk dengan Tuhan, itulah tauhid yang sebenarnya. Jadi .... 

Kalian yang belum sampai pada pemahaman ini pasti bingung. Berarti Tuhan banyak dong. 

Banyak tetapi satu. 

Begitulah kebenaran terdalam selalu menyimpan paradoks.  Membingungkan bagi yang masih awam, tetapi jelas bagi yang sudah mengalami.

Perasaan menyatu dengan Tuhan itulah kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai manusia.   Aku yang masih on of di perasaan itu sangat tahu bedanya.  Betapa tidak enaknya perasaan terpisah dengan Tuhan, selain mudah terseret emosi negatif, juga seperti turun ke frekwensi yang penuh kebisingan. 

Bersama Allah itu tenang, damai, melihat segalanya dengan bening. Seperti berada di ketinggian dan semuanya terasa indah dan jernih sekali.  Saat bersama Allah, seakan melihat makrokosmos di dalam mikrokosmosku.  Melihat lapisan-lapisan semesta di saat yang bersamaan dengan perasaan takjub. 

Surga itu tidak jauh, dia ada di tempat ini saat ini, hanya kalian tidak melihatnya. Kalau kalian melihatnya, kalian akan rela menukar apapun yang kalian miliki untuk berada di dalamnya. 

Ketika dunia ini runtuh di mata manusia, saat itulah diperlihatkan semesta surgaNya.  Makanya jangan terlalu memuja dunia, dunia ini ilusi yang kuat, tapi tetap harus ditempuh sampai tamat. 

Ketika semesta ilusi runtuh, yang tampak adalah semesta kesejatian.  Perjalanan ke sini memang penuh halangan dan rintangan, hanya kasih sayang Allah yang bisa menyampaikanmu ke sini. 

Kamu hanya perlu memilih, pilihlah Allah tanpa ragu sedikit pun.  Katakan kamu bersedia diperjalankan Allah menuju menyatu denganNya.  Bersandarlah terus padaNya.  Terima setiap hal sebagai langkah-langkahmu menujuNya. 

Pernahkah kamu mengalami lucid dream yang indah? Atau spiritual dream yang di dalamnya kamu melihat pemandangan yang tidak pernah kamu temukan di dunia ini? 

Surga itu terjadi saat bersamaNya, karena mataNya menjadi matamu, penglihatanNya menjadi penglihatanmu. Seperti sebuah lucid dream, tetapi dialami saat terjaga. 

Sekali saja kamu mengalami keindahanNya, kamu akan terus merindukanNya. 

"Ini Allah, bukan Innuri." itu berbeda sekali dengan "Ini bukan Innuri, tetapi Allah. "  Sekilas tampak sama, cuma kata yang dibolak-balik. Tetapi itu jauh berbeda. 

"Ini Allah, bukan Innuri, " Allah duluan yang disebut, makhluk Innuri sudah lebur di dalamNya, makhluk-makhluk lain pun lebur di dalamNya. 
"Ini bukan Innuri, tetapi Allah, " Innuri merasa sudah tiada, yang ada hanya Allah.  Ada ego yang setipis serambut dibelah tujuh.  Innuri merasa sudah berusaha untuk fana, ada "Innuri yang berusaha", ada potensi merasa lebih tinggi dari orang lain yang belum merasakan ketiadaan diri. 

Sejatinya manusia itu tidak bisa berusaha, lahaulawalaquwataillabillah. Jangan merasa sudah berusaha, kasih sayang Allahlah yang bekerja. 

Berusaha tanpa berusaha. Kembali bermain paradoks. 

Begitulah, semakin ke sini semakin halus, sehalus serambut dibelah tujuh. 

I love You. 

Senin, 27 April 2026

Menampar Rasa Iri

 Seorang sahabat memintaku menulis untuk menampar rasa iri dan dengkinya terhadap seseorang.  Bukan kali ini saja dan bukan dia saja dengan kasus serupa. Jadi mari kita nikmati teh dan gorengannya ya.

Dari mana datangnya iri dan dengki itu?  Yuk pintunya ditutup dulu ah, biar mereka nggak masuk. 

Pintu pertama.

Adalah suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. " Aku yang soleh dan lurus-lurus saja kok dikasih kesulitan, sana yang sombong dan begajulan hidupnya begitu mudah."  Mungkin begitulah kira-kira.

Bagaimana bila membandingkan dalam konteks bersyukur?  Maksudnya melihat ke bawah lalu merasa bersyukur dengan kemudahan yang diberikan Allah?  Bersyukur di atas penderiaan orang lain dong. Oh kejamnya dikau, teganya dikau ... (baca sambil nyanyi ya, itu lagunya Diana Nasution, you know?)

Jadi tak perlu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain, masing-masing punya PR sendiri-sendiri. 

Pintu Kedua.

Kurang kerjaan.  Karena terlalu nganggur pikirannya, jadi kemana-mana deh.  Tapi menyibukkan diri biar nggak ngurusi orang lain juga cuma jadi pengalihan sesaat, tapi bisa membantu untuk sementara. Jadi kalau nganggur, pakai zikir sirrur asror saja atau zikir fana.

Pintu Ketiga. 

Merasa memiliki.  Ini milikku, itu milikmu, sini miliknya, dsb.  Semuanya itu milik Allah.  Merasa dipinjami Allah juga kurang tepat, ntar jadi membandingkan lagi, kok sana dipinjami banyak, aku sedikit, kambuh iri lagi.  Yang benar merasa apa dong?

 Pintu Keempat.

Merasa ada.  Inilah akarnya akar masalah dari semua masalah.  Merasa dirinya ada dan hidup, itulah masalahnya.  Yang ada dan hidup hanya Allah.  Bila sudah bisa merasa tidak ada, yang ada hanya Allah, sudah beres kalau begini, semua masalah juga beres.

Jurus Pamungkas. 

Saat hati merasa iri, disadari saja, manusia tidak bisa mengelola perasaan dan pikirannya sendiri. Allahlah yang membolak balik hati manusia.  Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.  Sadari dan pasrahkan, agar Allah menata hatimu.  Bila hatimu sudah damai dan tidak ada lagi rasa negatif, sadari bila itu bukan usahamu, itu karunia dari Allah.  

Begicuuuu. 

 

Minggu, 26 April 2026

Semesta Paralel ( 9 )

 Seorang sahabat memberiku link video tiktok tentang semesta paralel yang penjelasan di dalamnya amat sederhana dan mudah dipahami.

Disclaimer dulu ya, apa yang Innuri tulis di bawah ini sudah aku cocokkan dengan ayat-ayat Al quran, dipadukan dengan pengalaman ESP (extra sensory perception).  Ini bukan tulisan ilmiah.  Semata-mata bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.  Untuk memahami tulisan ini, sebaiknya baca di tulisan sebelumnya tentang semesta paralel.

Bayangkan kehidupan ini seperti roll film, masa lalu, masa sekarang dan masa depan sudah lengkap berada di dalamnya.  Yang berarti masa lalu, masa sekarang dan masa depan itu sudah ada di 'tempat' yang sama.  Hanya saja kita sedang menonton masa sekarang saja, tanpa bisa mem-pause (menghentikan beberapa saat), me-rewind (memutar balik) atau me-fast forward (memutar maju ke dapan dengan cepat).  

Seperti saat kita sedang menonton film di televisi, tak ada yang bisa kita lakukan, karena programnya sudah disetel dari stasiun televisi sono dan kita hanya bisa menikmatinya saja. Itulah ibarat kehidupan kita di dunia ini.  

Di dalam Al quran disebut semua kejadian di muka bumi ini sudah tertulis, buka sendiri ayatnya ya. Al Qamar 53, Al Hadid 22, Al An'am 59. 

Sekarang bandingkan dengan saat menonton film di youtube yang dengan remote kontrol di tangan, kita bisa memutar balik, menghentikan lalu keluar dari film dan memutar film lain, atau memutar ke depan dengan cepat ke bagian akhirnya langsung.  Dengan remote kontrol di tangan, kita bisa menikmati adegan yang kita mau, yang paling kita sukai.  Banyak pilihan tersedia, jenis film apa saja ada.  Cara menikmatinya pun bebas, mau diputar sampai selesai, mau berhenti di tengah-tengah, mau pilih adegan ciumannya doang ... haha.  Pokoknya bebas. 

Sudah terbayang 'kan?  Sekarang bayangkan bila kita bisa seenaknya sendiri memutar kehidupan kita, memilih mau hidup di mana, dengan siapa, berapa lama hidup di situ.  Lalu bisa keluar dari semesta kehidupan yang satu untuk berkunjung di semesta yang lain.  

Sekarang renungkan tentang Al Quran. Tertulis bila di dalam Al quran Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.  Kenapa Allah membuat perumpamaan?  Agar manusia mengerti.  Lantas apakah perumpamaan itu sama dengan yang diumpamakan?  Tidak sama tetapi sama, sama tetapi sangat berbeda. Bermain paradoks lagi,

Bila kehidupan di dunia ini adalah permainan dan senda gurau, sedangkan kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.  Maka itulah makna kehidupan yang sebenarnya, ketika remote kontrol sudah berada di tangan kita.  Lalu tersedia "channel-channel" semesta surga yang bisa kita masuki. 

Berapa channel yang Allah berikan ke tangan kita? itu tergantung dari perbuatan kita di dunia.  Ada yang bisa masuk ke semesta surga mana saja, ada yang tidak.

Itu semua menjawab pernyataan ini : 

Badanku tertawa lalu bilang,"Itulah kamu, kamu merasa terpisah. Badanmu ini tidak pernah berpisah denganmu walaupun kamu mati.  Jiwa kamu lepas dari tubuh, tapi pada saat itulah kamu benar-benar menyatu dengan tubuhmu."  kutipan dari tulisan Ketika Badan Bicara Kematian

Jiwa lepas dari tubuh, yang di saat bersamaan keduanya benar-benar menyatu.  Membingungkan sekali 'kan?  Maksudnya adalah, ketika kita mati fisik dan matinya dalam keadaan menyatu dengan Allah alias wushul, maka kita auto dapat akses "remote kontrol akhirat"  Kita bebas mau memilih tubuh di semesta mana pun, di waktu mana pun, di lakon kehidupan mana pun.

Innuri bisa ngomong begini karena pengalaman dimasukkan ke semesta-semesta yang lain itu, yang pernah aku tuliskan di tulisan terdahulu.  Itu indahnya tidak terkira yaa teman-teman.  

Kehidupan di dunia ini dengan segala permasalahannya itu tidak usah dipikirin deh! Karena skenarionya sudah tertulis secara utuh sampai kita nanti mati.  Kamu tidak bisa lepas dari skenario itu, jadi tak ada gunanya dipusingkan.  Diterima, dinikmati saja setiap momennya.  Yang bisa kamu usahakan adalah kembali seutuhnya kepada Allah, itulah yang terpenting!  Kamu wushul, kamu mati sebelum mati beneran. Sudah tahu kan apa itu wushul?  Dirimu tiada, yang ada hanya Allah.

(bersambung) 

 

Sabtu, 25 April 2026

Kejadian Batin Penyingkap Rahasia

Kesan kamu pada perilaku seseorang, bukan mencerminkan orang itu sepenuhnya, itu lebih mencerminkan dirimu sendiri.

Lima orang jomblowati melihat seorang lelaki yang cukup menarik lewat di depan mereka.

Yang pertama bereaksi cepat dengan mata yang berbinar-binar lalu ngomong, "Ganteng amat." 

Yang kedua menimpali, "Ganteng kalau nggak ada duitnya mah buat apa."  

Yang ketiga ngomong,"Kulihat dia penyayang, kebapakan, type family man."

Setelah mengobservasi sosok itu lebih lama, yang keempat ngomong,"Sorot matanya menunjukkan dia orang yang cerdas, kusuka."

Yang kelima melihat sekilas, terkesan cuek, lalu bilang,"Kayaknya orangnya nggak religius, jangan-jangan sukanya ...." 

Nah, kalian bisa menyimpulkan sendiri 'kan? Siapa yang sedang mereka bicarakan, aslinya tidak membicarakan lelaki itu, tapi sedang membicarakan diri mereka sendiri.  Paham 'kan?

Yang bilang ganteng menggambarkan dirinya yang suka penampilan fisik. Yang ngomongin uang menunjukkan dirinya matre. Yang bilang family man dan cerdas menunjukkan seleranya akan pasangan idaman. Yang bilang tidak religius menunjukkan dangkalnya pemahaman akan ukuran religius dari penampilan dan mudahnya dia menuduh orang suka berbuat negatif hanya dari penglihatan sesaat. 

Begitupun yang terjadi pada diri kita setiap hari.  Ada orang datang dalam kehidupanmu, kesan kamu terhadapnya bukan mencerminkan orang itu apa adanya, melainkan cerminan dirimu sendiri.

Kejadian di dalam batin saat ada orang atau peristiwa terjadi, itu penting banget untuk disadari, dari situ kita bisa 'bersih-bersih' dengan kasih sayangNya.

Misal, ketika ada seseorang datang, kamu mencurigainya, jangan-jangan dia mau nipu aku.  Ini berarti ada peristiwa 'ditipu orang' yang belum kamu maafkan, belum direlease istilah populernya, jadi ada yang membebani hati, ada ketakutan tertentu yang minta untuk diselesaikan.

Bagaimana cara menyelesaikan isyarat dari batin ini? 

Amati saja setiap "kejadian batin" secara jujur, disadari, sampai menemukan O dalam diri kita. 

"O, ternyata aku ini matre yo?" 

"O, ternyata aku masih ketempatan rasa iri dan dengki to?" 

"O, ternyata aku masih gampang terseret emosi. " 

dll. 

Semua itu cukup disadari, lalu pasrahkan Allah agar Allah yang mengarahkan isi hati dan pikiranmu. 

Mudah bukan? Simple but not easy ... hehe. Harus menyadari bila kita manusia selemah itu, tidak bisa mengendalikan hati dan pikiran kita sendiri, makanya harus dipasrahkan Allah.  Nanti lihat dan rasakan saja, perubahan di hati dan pikiranmu, lebih ringan dan tertata.  Ikuti saja prosesnya, kadang perubahan ini cepat, kadang juga perlu waktu berhari-hari, berbulan-bulan.  Kadang perlu ada kejadian batin lagi dengan pengulanan yang sama, menandakan bila batin belum sepenuhnya bersih, terus disadari dan dipasrahkan Allah, itu saja sampai seterusnya, selama hidup di dunia ini.

 

 

Kamis, 23 April 2026

Link E-book Energi Murni Alam Semesta

 Silakan bisa diunduh gratis link di bawah ini.Energi Murni Alam Semesta

Semoga bermanfaat.

Ketika Badan Bicara Kematian

 Kemarin dalam perjalanan dari Ngantang ke Pakis, aku tertidur di daerah Batu, lalu terbangun di Dinoyo.  Saat terbangun, terdiam beberapa saat, tiba-tiba ada yang berbisik di hatiku, "Aku bukanlah badan ini."  Bisikan yang kuat sekali, sampai aku seperti merasa, "Apa sudah dekat waktuku untuk mati?"

Jujurly suka banget kalau dapat isyarat kematian, membayangkan lepas dari penjara materi dan jiwa bebas lepas mengangkasa menuju ketidakberhinggaan.  Siapa pun kalian, bila pernah diperlihatkan ketidakberhinggaan sepertiku, pasti merindukan mati.

Badanku ngomong begini, "Aku unsur dari Tuhan juga, tetapi kamu punya unsur yang lebih indah, yang lebih cantik dan penuh warna, yang lebih ringan tapi sangat kuat.  Kamu bebas bila sudah tidak terpenjara dari badan ini.  Kamu bisa menyatu dengan semuanya tanpa terkotori oleh itu semua. Kamu bersama Tuhan untuk seterusnya tanpa terganggu dengan urusan ilusi. Itulah kesejatian dirimu, itulah kamu yang sebenarnya.  Kamu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, keindahanmu, kebebasanmu, juga penyatuanmu dengan Tuhan."

 Aku jawab,"Kalau begitu terima kasih sudah menemani perjalananku di dunia selama ini."

Badanku tertawa lalu bilang,"Itulah kamu, kamu merasa terpisah, seperti kebanyakan manusia. Badanmu ini tidak pernah berpisah denganmu walaupun kamu mati.  Jiwa kamu lepas dari tubuh, tapi pada saat itulah kamu benar-benar menyatu dengan tubuhmu."

"Kan sudah dikubur dan hancur jadi tanah?" bantahku.

"Nah, lagi-lagi kamu memisahkan dunia fisik dengan dunia batin," kata badanku.

"Ya, bingung dong aku.  Mati jadi tanah, tapi tak terpisah.  Jelas-jelas nyawaku melayang meninggalkan fisikku, tapi katamu tak pernah terpisah.  Bagaimana memahaminya?"

Pertanyaan terakhir itu bukan pertanyaanku, tapi pertanyaan kalian pembaca Innuri blog. Karena aku sudah tahu gambarannya.

Di dunia spiritual sering sekali ketemu paradoks seperti kalimat di atas.  Ini badanku tapi aku bukan badan ini, berusaha tanpa berusaha, mati dalam kehidupan, sekarang ketemu "terpisah tetapi menyatu".

Baiklah, untuk 'terpisah tetapi menyatu'  ini aku umpamakan dengan sepasang kekasih yang begitu saling mencintai, tetapi takdir memisahkan mereka.  Mereka tak pernah berhenti mencintai walau berjauhan, bahkan tak tahu kekasihnya di mana, mereka berdua terhubung oleh doa-doa dan kerinduan.  Kalian yang menganggap mereka terpisah, adalah kalian yang memandang ilusi sebagai kesejatian. Karena yang sejati adalah jiwa.  Sedangkan kalian yang memandang mereka tidak terpisah, berarti kalian sudah bisa memandang kesejatian. 

Di mata fisik, mereka terpisah, tetapi batin mereka tetap menyatu.  Gamblang 'kan contohnya?  

Nah dalam kasus kematian, nyawa meninggalkan fisik, fisik hancur, ruh menghadap Ilahi, lalu dikatakan bahwa dalam kondisi inilah jiwa benar-benar menyatu dengan tubuhnya.  Bagaimana bisa?  Bagaimana penjelasannya?

Bayangan manusia kebanyakan, Yang Ilahi itu di atas sana, di langit yang lapisan paling atasnya atas dah. Ruh naik ke langit, jasad yang mati ada di dalam bumi.  Pasti terpisah bila pandangan masih seperti itu. 

Tetapi Allah menyebutkan bila Dia dekat melebihi dekatnya kita dengan urat leher kita sendiri, artinya Dia lebih dekat daripada jazad kita sendiri dong. Berarti tempat pulangnya ruh itu lebih dekat daripada jazad kita sendiri. Nah, dari sini sudah jelas sekali, kita tidak pernah terpisah dengan jazad walau secara penglihatan mata ruh sudah tidak ada di tubuh. Karena pulangnya ruh itu ke Tuhan yang lebih dekat daripada jazad kita sendiri. 

Paham 'kan Sayang?  Atau masih bingung? Gapapa bingung dan gapapa tidak paham, itu bukan keharusan.  Hanya Allah yang bisa memahamkanmu. 

Tuhan itu meliputi segala sesuatu, ketika kamu pulang ke Tuhan, berarti kamu pulang ke ketidakberhinggaan, kamu tak terdefinisikan. Tidak bisa aku jelaskan ya, karena tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

Apakah setiap kematian itu indahnya seperti yang digambarkan oleh omongan tubuhku itu? Tidak dong.  Hanya untuk orang yang sudah kembali seutuhnya kepada Tuhannya semasih hidup di dunia saja. 

Lantas, orang-orang yang belum kembali kepada Tuhan bagaimana? Ya masih mengalami siklus hidup mati hidup mati seperti dilukiskan di Al quran, orang menyebutnya reinkarnasi.  Entah di semesta mana dihidupkan lagi untuk mendapatkan pelajaran agar bisa kembali seutuhnya kepada Tuhan. Artinya jiwanya masih harus menghadapi penderitaan seperti halnya kehidupan kita di muka bumi ini. 

 Kalian pilih yang mana? Pulang seutuhnya kepada Allah atau kembali hidup di dunia ilusi?  Bagaimana caranya kembali kepada Allah sebelum mati? 

Pilih Allah dulu, lalu inginkan Allah melebihi keinginanmu pada selain Allah, soal caranya dan jalannya nanti Allah yang akan menunjukkan. 

Innuri akan terus flexing keindahan berada di ketidakberhinggaan itu.  Beruntunglah kalian yang menginginkan Allah, karena itulah doa yang Allah pasti akan kabulkan seperti janjiNya. 


Rabu, 22 April 2026

Mengapa Lepas Hijab?

 Kemarin Innuri posting nyanyi sambil gitaran di tiktok, tapi aku kasih filter negatif film, karena nggak pakai kerudung.  Seorang teman berkomentar dong, "Kok lepas hijab?"

Alasan sebenarnya karena malas ambil kerudung di lantai bawah, capek seharian naik turun tangga.  Kondisi sudah dasteran dan siap tidur lah kok pingin rekaman.  Seniman gitu soalnya ... ehm.  Tapi kalau aku jawab persis kondisi aslinya, jadinya nggak mencerminkan jiwa Innuri yang cerewet dan kadang suka cari perkara.  Ada alasan lain yang lebih dari sebenarnya, nanti aku tulis di bagian akhir ya.

Maka di tiktok aku jawab begini.

Maaf aku termasuk di kubu yang berpendapat bila hijab itu tidak wajib.  Di surat Al ahzab 59 dan An Nur 31 , tertulis "hendaklah" bukan "diwajibkan atas kamu". sedangkan pakaian yang paling baik adalah pakaian taqwa tertulis di Al Araf 26. 

Aku sendiri pakai lepas pakai lepas jilbab itu sejak SMP.  Aku SMP tahun 80 an, di jaman jilbab belum umum dan bahkan dilarang di sekolah umum, jadinya pakai di luar sekolah tapi lepas pakai lepas sampai aku SMA, karena tidak punya teman, tidak didukung orang tua pula.  Baru ketika kuliah, mulai konsisten berjilbab, karena beranggapan jilbab itu wajib. 

Jaman kuliah dulu jarang sekali mahasiswi berjilbab, se-fakultas bisa dihitung pakai jari tangan, seangkatan cuma tiga biji.  Itupun musti siap-siap dipantau kegiatannya, bahkan aku pernah dipanggil PR III untuk diinterogasi apa saja kegiatanku di luar kuliah.  Kala itu berjilbab sudah dicurigai anti pemerintah dan anti Pancasila dah.  Berat sekali, belum lagi orang-orang yang membuli dan berkomentar miring.

Dasar idealis, Innuri tempuh saja setiap tantangannya.  Lalu ketika pacaran dengan si Hary, dibuli lagi dong, ":Jilbaban kok pacaran."  Padahal pacarannya kayak apa siiiih, wong aku dan Hary  teman sekelas dan sering satu kelompok praktikum, jadi sering ngerjain tugas bareng, asistensi bareng, kuliah bareng.  Lalu Innuri diceramahi senior-senior, "Menikah saja."  Eh ketika sudah menikah, dibilang, "Hamil palingan, kok buru-buru menikah."  Wkwkwkwk.

Begitulah, jaman itu berjilbab = berat.  Sekarang kebalikannya,  sekarang tidak berjilbab = aneh, muslim kok tidak jilbaban?   

Aku terkenang istri eyang Syamsul'alam (guru tasawufku) dan putri beliau yang tidak berjilbab.  Dari situ aku mulai lunak, tidak ngotot banget dengan pendapatku bila jilbab itu wajib, pendapatku mulai terbuka.  Jadi setelah menikah aku juga lepas pakai lepas pakai karena pemahaman baruku itu.  

Sayangnya ketika aku lepas jilbab, aku mendapat pengalaman tidak enak, yaitu dikejar-kejar lelaki yang jatuh cinta, karena dikira masih gadis padahal anakku sudah dua saat itu.  Bukan sekali dua kali aku mengalami hal itu, sering, bahkan sampai anakku empat. Lalu aku mengambil kesimpulan sendiri, bila berjilbab dan kemana-mana selalu dengan suami, itu adalah bentuk penjagaan Allah pada wanita.

Saat ini aku sudah nenek-nenek dong, tidak perlu takut ada yang jatuh cinta lagi.  Seiring perjalanan jiwa yang semakin spiritual, aku semakin yakin bila berjilbab itu bukanlah kewajiban, tetapi anjuran atau himbauan.  Karena yang menganjurkan Allah, aku lebih suka memakai jilbab.  Logikanya, kalau kita sendiri menganjurkan sesuatu dan orang melakukannya, kita jadi seneng 'kan?

Jadi berjilbab atau tidak, yang penting adalah melakukannya karena Allah, titik.  Yang di level tertingginya yaitu di level orang-orang wushul, berjilban pun digerakkan Allah, tidak berjilbabpun digerakkan Allah, karena lahaulawala quwata illabillah, tidak ada daya dan kekutatan melainkan dari Allah.

Jadi jawaban yang tepat untuk pertanyaan, mengapa melepas jilbab?  Karena Allah menghendaki demikian alias Allah menjalankan aku demikian atau dijalankan Allah demikian. 

 Sekian cerita Innuri, selamat dijalankan Allah hari ini yaa.

Senin, 20 April 2026

Marah yang Disadari

 Di akhir tulisanku  Menantang Allah aku menjanjikan akan bercerita bagaimana hasilnya setelah kesadaran bila semuanya dikendalikan Allah sudah terinstal dalam diri kita.

Hidup jadi damai, bahagia, tanpa beban, seperti danau di bawah gunung, permukaannya tenang, tidak ada riak, di dalamnya pun tidak ada gejolak, sejuk dan menyejukkan.  Ketika ada tangan jahil melempar batu ke dalamnya, ada riak kecil keluar tapi segera tenang kembali.  Gambaran sempurna sebuah perasaan indah kesadaran.

Namun tak semudah itu, Sayang.  Ada ujiannya yang membuat kesadaranmu semakin kokoh dan kuat.

Ujian pertamaku.

Sudah beberapa kali Allah menggerakkanku untuk membagikan tulisan di 9 grup spiritual di Fb.  Di situlah aku sering merasa 'kok gini amat ya Allah' isinya orang-orang di grup tasawuf, makrifat dll.  Aku dikatain gila, bodoh, mati sana! dll, juga komentar panjang yang tidak aku baca sambil ketawa dalam hati. "Kapok kowe, dah nulis panjang-panjang aku cuekin."  

Dari awal aku merasa "kok gini amat" lalu menyadari "memangnya siapa yang menggerakkan?" sampai kemudian menyadari "itu pesan Allah" berarti hatiku yang harus dibersihkan, lalu merasa tidak terpisah "loh mereka kan refleksi dari sisi gelap aku sendiri"  setelah itu merasa semuanya Allah, melihat Allah di semua hal.

Ujian kedua, pelajaran yang berbeda.

Ceritanya di Ngantang ketemuan sama teman-teman SMP lalu rujakan di pinggir danau Selorejo diantar Mas Hary.  Maka lewatlah kami di depan rumah seorang teman SMP, rumah megah dengan pekarangan luas, tapi ternyata pekarangan kosong di samping rumahnya sudah berpagar, artinya sudah bukan milik dia lagi.

Melihat itu aku bertanya pada teman-temanku, "Loh dijual ta?"

"Iya, sudah laku dari lama," jawab beberapa teman.  Kepalaku langsung berdenyut memikirkan sesuatu, karena dia punya hutang padaku, tak kunjung dibayar dengan alasan lagi bankrut.  Eh, tanahnya laku nggak ingat bayar hutangnya padaku.

Aku marah dong, marah-marah lewat pesan di WA.  Kemarahanku terpicu karena hutang dia itu dalam bentuk lukisan.  Dia pesan lukisan potret kedua orang tuanya, aku mengerjakannya tiga bulan (walau tidak dikerjakan setiap hari) mana dia cerewetnya ampun-ampunan, yang kurang ini kurang itu, semua aku turuti.

Aku marah karena merasa tidak dihargai jerih payahku, padahal aku sudah kasih harga teman.

Sebelum pesan lukisan itu dia pernah mamerin uang tunainya di dompet ... haha, jadi aku percaya dia orang kaya ditambah penampilan rumahnya yang megah.  Jadi aku kerjakan pesanan itu tanpa kecurigaan apa pun, juga tanpa minta DP.  

Saat aku marah-marah itu sebenarnya aku sudah 'melihat Allah', tapi memang Allah menggerakkanku untuk marah-marah.  Jadi aku marah-marah sambil menyadari bila aku sedang digerakkan Allah untuk marah-marah.  Ini berbeda dengan marah-marah yang digerakkan emosi ya.  Memang ada emosinya, tetapi emosi itu aku sadari bila emosiku sedang digerakkan Allah.  Haduh, membingungkan ya?  

Jadi begini, ketika kita sadar bila sedang digerakkan Allah keseluruhan diri kita, hati kita ini mudah menjadi damai lagi.  Ketika hati damai, terbitlah pemahaman-pemahaman baru yang tadinya tertutup oleh pikiran kita.

Apa pemahaman baru dari ulah temanku yang nakal ini?

Allah tidak mengijinkan aku bersikap mengalah saja, biarin saja, alias gampang memaklumi orang.  Allah tidak rela ada orang berbuat semena-mena terhadapku dan terhadap kalian semua.  Marah itu boleh, asalkan marah dengan kesadaran.

Kesadaran yang bagaimana?  Kesadaran bila diri kita ini sedang digerakkan Allah untuk marah, karena marahnya bener, marahnya dengan sebab yang benar.  

Pikirkanlah, bila perbuatan orang-orang macam temanku itu dimaklumi saja, dia semakin seenaknya sendiri.  Tidak ada jeranya.  Dia bisa menzalimi orang lain.  Jadi marahnya untuk membela diri dan untuk mencegah dia dari menzalimi orang lain.  Jangan lupa marahnya disadari.

Begitulah ceritaku dari desa di ujung barat kabupaten Malang.

Kamis, 16 April 2026

Menantang Allah

 Ketika Innuri bilang bila seluruh pergerakan kehidupan ini dikendalikan Allah, termasuk gerakan tanganmu menggaruk rasa gatal di lehermu itu.  Apakah kalian percaya?

Apakah kalian lebih percaya bila manusia itu punya free will, alias kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, menentukan dia mau ke mana, mau ngapain saja.

Kalian team yang mana? Apa buktinya?  Pernah membuktikan sendiri?  Pernah menantang Allah?  Menantang Allah bagaimana?

Ya menantang Allah untuk membuktikan siapa yang mengendalikan hidupmu, dirimu sendiri ataukah Allah mutlak.  

Karena aku pernah, sering malah, menantang Allah.

Dulu pun aku termasuk orang yang percaya bila manusia diberi kehendak bebas memutuskan jalan hidupnya sendiri.  Bahkan sampai benjut-benjut dan berdarah-darah pun belum tersadarkan juga bila jalan hidup ini sudah ditulis secara detail skenarionya.  Makanya aku paham banget dengan orang-orang yang berpandangan seperti itu.

Bahkan aku yang Allah beri kelebihan prekognisi, atau punya kepekaan melihat sesuatu yang belum terjadi, masih merasa bila manusia sendirilah yang menentukan masa depannya.  Walau Allah banyak menurunkan peristiwa yang mestinya menyadarkanku bila manusia tak punya kekuatan apa-apa, hanya kekuatan dari Allah yang menggerakkannya.

Peristiwa yang paling aku ingat, karena amat berkesan buatku, adalah cerita ke pasar krempyeng semasih tinggal di Negara, Bali.  Kayaknya aku sudah sering ceritakan ini di blog, tapi aku akan ceritakan lagi. 

Suatu pagi di Negara, bangun tidur aku merasa bila aku nanti bakalan ke pasar krempyeng, entah namanya apa kalau di Bali, aku sudah lupa, pasar yang sudah bubar di jam tujuh pagi.

Perasaan 'aku nanti bakalan ke pasar' itu begitu kuat dan aku sengaja melawannya.  Aku mau mematahkan prekognisiku, jadi aku pilih bermalas-malasan nggak bangun-bangun.  Aku berasa memenangkan taruhan ketika pagi itu bangun lewat jam pasar dan lanjut memasak ke dapur.

Ketika memasak itulah, ada bahan yang kurang yang mengharuskan aku berbelanja ke pasar.  Tapi sudah terlambat, pikirku, salahku sendiri melawan prekognisi.  Tapi segera aku sadari bila hari itu hari Minggu, kalau hari Minggu, pasar buka sampai jam 9.00 WITA.  Akupun tak menyia-nyiakan waktu, segera berangkat ke pasar, tak peduli "kalah taruhan" ... haha.  Aku gagal melawan takdir.

Jodoh, rejeki dan ajal, itu katanya sesuatu yang sudah ditentukan Allah, yang tidak bisa diubah manusia.  Tapi ternyata bukan hanya jodoh, rejeki dan ajal, wong aku ke pasar atau tidak saja ditentukan olehNya kok.  Kalau tidak percaya, cobalah menantang Allah.

Caranya bagaimana?

Bilang saja,"Allah, aku ingin bukti bila segala sesuatu sampai hal yang sekecil-kecilnya, Engkaulah yang mengendalikannya.  Maka berikanlah aku bukti sampai aku yakin."

Innuri sudah di taraf yakin seyakin-yakinnya bila hidup ini seperti detak jantung, di luar kontrol kita, Allah yang memegangnya.  Tapi Allah mengendalikan hidup ini dengan kasih sayang, Maha Kasih Sayang.  Hidupmu dan hidupku terbuat dari kasih sayangNya.

Pada awalnya kenyataan ini cukup membingungkan, karena berbenturan dengan keyakinan yang lama bila manusia punya kehendak bebas.  Bahkan seperti bertentangan dengan potongan ayat al Quran Surat Ar Rad 11 "... Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada di diri mereka ...."  

Orang umumnya memaknai potongan ayat itu sebagai 'manusia harus berusaha keras mengubah nasibnya agar Allah mengubahnya."  padahal bukan itu maksudnya.  Coba baca utuh keseluruhan ayatnya.

"Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran di depan dan di belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah.  Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Bila ayat itu dibaca lengkap dan dimaknai secara keseluruhan, nggak dipotong di tengah-tengahnya saja, maka pemahaman menjadi lebih utuh.  Sebenarnya bukan perubahan nasib yang bisa dilakukan manusia, melainkan perubahan kesadaran, kesadaran bahwa apabila 'Allah menghendaki keburukan, tidak ada yang dapat menolaknya', juga kesadaran bahwa 'tidak ada pelindung selain Allah'.  Maksudnya, kita manusia ini loh nggak bisa apa-apa bila tidak dilindungi Allah dari keburukan. Artinya manusia itu nggak berdaya, tidak ada daya dan kekuatan selain dari Allah.

Ada malaikat penjaga yang menjaga manusia dari segala arah, itulah Maha Kasih SayangNya.  Manusia nggak bisa hidup tanpa dijaga oleh sistem yang dibuat Allah, artinya manusia itu lemah dan tidak berdaya.  Ini harus disadari.

"Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."  Di kalimat ini memuat keburukan dan perlingungan, lagi-lagi manusia disuruh menyadari betapa Maha Kasih SayangNya yang memberikan perlindungan kepada manusia dan hanya Allah yang bisa memberikan perlindungan.  Jangan mengandalkan yang lain maksudnya, termasuk mengandalkan diri sendiri, termasuk mengandalkan kekuatanmu sendiri, karena kamu itu lemah, begicuuuu.

Bila sudah di kesadaran seperti itu, masih bisakah manusia berpikir bisa mengubah keadaannya agar Allah mengubah nasibnya?  Ehm ... ehm.  

Pemahaman menjadi lebih lengkap lagi bila keseluruhan Surat Ar Rad dibaca semuanya. Intinya pada perubahan kesadaran mengenai berbagai hal.  Indah sekali  Allah bernarasi di dalam Surat Ar Rad.  Semoga lain kali bisa membahasnya lebih mendalam ya.

Begitupun yang terjadi padaku ketika tidak berhasil menantang Allah, yang terjadi adalah perubahan kesadaran.  Sudahlah Innuri gagal mulu menantang Allah, kok nyuruh-nyuruh orang menantang Allah pula.  Soalnya mau nyari teman sesama gagal ... hahaha.

Baiklah, ketika perubahan kesadaran sudah terjadi, apa yang terjadi setelahnya?  Di tulisan selanjutnya yaa.  mata dah pedes nih.

Rabu, 15 April 2026

Melihat Tembus Pandang

 Bila mendengar kajian Gus Mukhlason Rasyid di youtube, kadang merasa begitu 'kafir' aku ini.

Mengatakan ibu yang memasak itu sudah tidak bertauhid.  Allahlah yang memasak.  Allahlah yang makan, Allahlah yang pup.  Kedengaran gila dan membingungkan bukan?  Tapi jangan mengatakan ini pada orang awam atau orang kebanyakan, bisa ditimpuk nasi pecel ... haha.

Tidak membingungkan bagi yang sudah merasakan kefanaan, atau ketiadaan diri, karena sudah melihat bila semuanya Allah.  Diri sendiri dan semua yang dilihat di luar dirinya telah lenyap, yang dia saksikan hanyalah Allah.  

Seorang penyaksi yang menyaksikan tarian semesta, itu kata Pak Hans.  Tapi versi Pak Hans ini masih ada yang menyaksikan dan yang disaksikan, tapi sudah keren berada di tahap ini.  Kalau versi Gus Son, sudah semuanya runtuh, semuanya hancur, yang tertinggal hanyalah Allah.  

Itulah makna akhirat, kata Gus Son.  Bukankah di Al Quran dilukiskan saat kiamat terjadi, alam semesta runtuh, hanya ada Allah saja, itulah akhirat.  Jadi ketika batin manusia sudah sampai pada keruntuhan alam semesta dan seisinya, yang terlihat hanya Allah, saat itulah manusia sampai pada akhiratnya.  Sampai pada akhirat semasih hidup di dunia ini, tanpa menunggu mati.  Bahkan Gus Son menekankan betapa pentingnya ketemu akhirat sebelum mati.

Fanaul bashirah, mata hati melihat ketiadaan semua hal, termasuk dirinya sendiri, yang ada hanya Allah.  Jadi bukan diri manusia melihat Allah, karena dirinya sudah tiada.  tapi Allah yang melihat Allah.  

Bingungkah?  Gak apa-apa bingung, bila sudah mengalami sendiri, nanti tidak bingung lagi kok. Memang tidak bisa dipaksakan, karena pengalaman ketuhanan seperti itu Allahlah yang menghadirkan dengan kehendakNya pada jiwa yang sudah siap.  

Yang penting adalah kamu menginginkan itu terjadi, itu penting.

Setelah itu tugasmu adalah menyiapkan diri tapi tanpa merasa menyiapkan.  Ini basic, jangan merasa menyiapkan diri, tetapi Allahlah yang menyiapkanmu, kamu tidak bisa apa-apa tanpa fasilitas dariNya, bahkan bernapas pun tidak bisa.  Paham 'kan, Sayang?

Sebagai latihan yang musti dilakukan setiap hari adalah membiasakan melihat tembus pandang.  Pandangan mata seperti anak panah yang menembus ilusi tiga dimensi, melihat kebenaran dibalik pergerakan yang hanya permukaan, menyobeknya sampai lenyap, hingga menampak kesejatian.

Cara sederhana, belajar melihat segala hal kecil atau besar, Allahlah yang menggerakkannya.  Misal, ketika ibu memasak di dapur, di pemahaman kita Allahlah yang menggerakkan ibu memasak di dapur.  Lahaulawalaquwata illabillah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan atas ijin Allah.  Ibu tidak bisa bergerak tanpa ijin dan kekuatan dari Allah.  Jadi hakekatnya Allahlah yang menggerakkan, manusia ini tidak berdaya melakukan apa pun.

Tentu orang-orang yang dihadirkan dalam kehidupanku dan kehidupanmu semua digerakkan Allah.  Kesadaran ini membuat batin kita tidak mudah komplain atas perlakuan orang yang barangkali tidak sesuai harapan.  Kadang bertemu orang yang menjengkelkan hati, kadang orang yang membahagiakan hati, semua itu ilusi, itu permukaan, lihat siapa di balik orang-orang itu.  Kita jadi senyum sendiri kok bila menyadari hal ini.

Hati yang tidak mudah komplain itu hati yang damai, mudah memahami kebijaksanaan Allah, dekat dengan kebahagiaan yang sejati  Tunggu hingga merasakan akhirat semasih hidup di dunia ini.  Itu indah banget, Saudara.  Hatimu seperti burung yang melesat ke angkasa setelah sekian lama terpenjara di sangkar dunia ini, bayangkan betapa bahagianya, bahagia yang sejati yang disebut eudamonia kata orang stoic.

Selasa, 14 April 2026

Bila Tersisa Satu Keinginan.

 Apakah yang kamu inginkan dalam hidupmu bila hanya boleh mengucap satu keinginan saja dan pasti dikabulkan Tuhan?

Catat baik-baik jawabanmu di hati ya lalu bacalah ceritaku. 

Seorang teman menulis status begini :

Ternyata apa yang kita bayangkan tak semudah dan seindah yang kita inginkan.

Dia pakai kata 'kita' , mestinya aku, karena itu kesimpulan dia sendiri 'kan?

Itu cerita tentang keinginan, yang ternyata tak semudah itu mencapainya, sudah tidak mudah, hasilnya pun tidak indah, artinya mengecewakan.  Dia sedang kecewa akan kehidupan yang tidak mudah dan sudah menjalani yang tidak mudah itu tetapi hasilnya mengecewakan.

Keinginan adalah sumber penderitaan, atau to the point saja,  keinginan adalah penderitaan.  

Agar tidak menjadi penderitaan, keinginan itu dipasrahkan Allah saja, agar menjadi keinginan Allah, kamu tidak punya keinginan itu lagi, hidupmu ringan, tinggal mengikuti aliran takdir seperti perahu kertas yang dilempar ke sungai berair jernih di tengah hutan yang teduh.  Selain cara itu, ada jurus lain yang lebih indah.

Yaitu merasakan bila semua yang ada di bumi ini adalah milik Allah, keinginanmu juga milik Allah.  Sudah selesai,  kamu tidak memiliki keinginan itu lagi.  Apa yang kamu lakukan di dunia ini hanyalah melangkah selaras dengan keinginan Allah.  Keinginan yang tertinggal di hatimu hanyalah keinginan untuk bersamaNya saja.

Selaras dengan Allah itu indah sekali, kamu bisa menikmati setiap momen dan bisa melihat sisi indah yang orang kebanyakan tidak bisa melihatnya.  

Orang kebanyakan yang aku maksud adalah orang-orang yang masih dibungkus oleh keinginannya.  Keinginannya itulah yang menghalanginya dari melihat hal indah yang semestinya dia bisa saksikan.

 Selaras dengan Tuhan juga menghentikan kekhawatiran akan ini dan itu, karena hati membiarkan semuanya dalam konrol Allah.  Selaras dengan Allah membuat hati kita menjadi netral, tidak merasa rugi dan kecewa.

Aku akan cerita tentang diriku.  Pernah suatu waktu, ada orang yang memesan batik tulis dengan harga yang aku tinggal njeplak alias tinggl ngomong, dia nggak nawar, jumlahnya banyak dan bakalan memesan secara kontinyu. Padahal aku sudah menutup butikku.  Aku tergoda dong, merasa aku lebih berarti dengan memproduksi batik tulis lagi, bisa membuka pekerjaan lagi untuk orang banyak.  Aku pun minta dimodalin suamiku membeli segala perlengkapan yang aku butuhkan sampai nominalnya banyak sekali.

ART-ku aku jadikan karyawan pertama ditambah memanggil seorang mantan karyawanku lagi yang nganggur di rumah.  Aku sudah merasa bakal bangkit lagi.  Tapi apa yang terjadi, di tengah jalan aku kehilangan mood, aku berhenti di tengah pesanan yang masih mengalir.  Sebagian sudah aku penuhi, tersisa satu potong belum aku kerjakan sampai sekarang, untung yang ini pesanan teman baikku sendiri yang paham akan situasiku.

Berhari-hari aku merasa berdosa pada suamiku dan pada Allah.  Merasa sudah rugi berbelanja begitu banyak yang akhirnya mangkrak. Suamiku tidak mempermasalahkan, dia memang lebih suka aku mengerjakan hobi melukisku.  Akulah yang tak bisa berhenti merasa bersalah.

Lalu kemudian aku menyadari bila semua itu Allahlah yang menggerakkan dan Allahlah yang menghentikan gerakanku.  Tidak ada yang rugi karena semua milik Allah dan terserah Allah bagaimana mengalirkan rezekinya.

Selaras dengan Tuhan dan mengalir bersama kehidupan, membuat hidupku lebih damai,  Satu-satunya keinginanku adalah selalu bersama Allah, dibimbingNya, merasakan kasih sayangNya setiap saat.  

Bagaimana denganmu? 

 

Senin, 13 April 2026

Ketulusan yang Menggetarkan Hati

 Jangan memisahkan makhluk dengan Tuhan, aku sering bilang begini, juga pada diriku sendiri yang sering lupa bila ada Allah dibalik orang-orang yang datang, pergi atau menetap dalam kehidupanku. Ada Allah dibalik kata-kata dan perbuatan mereka.  Aku masih sering melupakan ini, jadi terseret emosi, seperti hari ini.

Aku menulis sambil menangis.  Seorang pembacaku terusir dari rumahnya karena tidak mampu membayar kontrakan, suaminya 'membuangnya'.  Anak-anak dan keluarganya juga tidak peduli dengannya.  Entah mengapa aku menangis sampai terisak-isak, membayangkan dia berjalan sendirian tak punya tujuan, lalu berhenti di rumah seorang kenalan.  Aku sampai menyarankannya ke kantor polisi bila terpaksa tidak ada tempat menginap.

Aku juga membantunya (bukan aku, tetapi Allah yang menggerakkan aku) dengan menulis status dan membagikannya ke grup Tasikmalaya, tempat pembacaku itu berada saat ini. 

Sudah beberapa lama aku kontak dengan pembacaku ini, setiap hal yang aku katakan, dia nurut.  Dia cukup kooperatif dan aku merasa dia sudah bisa tenang menghadapi segala persoalan hidupnya.  Aku kira kondisinya bakalan membaik, tetapi aku salah. Salahku adalah meletakkan harapan pada keadaan yang membaik.  Mempercayai bila ketenangan batin akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.  Ini halus sekali, karena semestinya yang aku yakini hanya Allah yang bisa membuat perubahan, Allah adalah satu-satunya penyebab.

Orang-orang bertindak, berkata-kata, sampai berpikiran dan berperasaan tertentu, karena Allah yang menggerakkannya.  Menerima segala kelakuan mereka tanpa kecewa dan protes, meski pun di dalam hati, 

Jadi aku katakan pada pembacaku itu dan diriku sendiri. 

Perlakuan apa pun dari orang-orang, lihatlah yang dibalik itu.  Pada hakekatnya Allah, itu semua Allah.  Dengan keyakinan seperti ini kamu tidak perlu sedih, juga tak perlu berharap pada manusia, langsung pada Allah saja.  Juga tak perlu menyalahkan Allah, karena setiap perbuatanNya adalah kasih sayang.

Manusia itu hanya tahu di permukaannya saja, memelas melihat seorang wanita terusir dari rumahnya.  Padahal siapa tahu dibalik itu Allah sedang 'memprosesnya' menjadi kekasihNya, bila demikian dia adalah wanita yang sangat beruntung. 

***

Setelah aku menulis tulisan di atas, aku berangkat tidur, karena ngantuk sekali, masih jam 7 malam, habis isya. Terbangun jam 12 malam, aku merasa ada sesuatu yang mendorongku membuka komputer, kupikir aku mau melanjutkan tulisanku di blog, sambil membuka Fb.

MasyaAllah, aku diinbox seorang wanita yang tak kukenal, di add pertemanan, isinya menanyakan soal pembacaku itu.  Dia juga bercerita bila dia punya rumah kosong dengan 6 kamar yang bisa ditempati gratis asalkan mau bersih-bersih. Aku nangis lagi dong, dasarnya nangisan.  Kali ini aku menangis karena terharu menyaksikan ketulusan hati wanita yang hanya kenal aku di Fb.

Kembali aku harus melihat Allah,  Allah yang bertindak dengan kasih sayangNya.  Allah yang menggerakkan wanita itu  untuk menolong pembacaku.  

Aku yakin sekali kasih sayangNya, semoga pembacaku itu demikian juga.  Rasanya aku dan dia sudah menempuh perjalanan bersama menyaksikan kebesaranNya.   

*** 

Aku tidur lagi setelah menulis di jam 12 malam itu.  Pagi ini, subuh aku bangun. Ketika membuka Fb ada inbox dari pembacaku itu, bercerita dia ditawari pekerjaan menjahit daster tapi tidak ada messnya.  Sungguh kebetulan yang tidak kebetulan bukan? Dia mendapat tawaran pekerjaan yang tidak ada fasilitas menginap, sementara ada yang menawari tempat menginap gratis asalkan tempatnya dibersihkan.  Sungguh Allah itu Maha Pembuat skenario terindah.  Alhamdulillah.  

Pembacaku juga belajar, selama kita bersama Allah, semua akan baik-baik saja.

Selamat menempuh hidup baru, Teh. Allah selalu bersamamu. 

Sabtu, 11 April 2026

Katarsis

 Innuri lagi dibombardir curhatan Pak R alias Pak Ruwet yang aku ceritakan di tulisan terdahulu.  Dia memprotes tulisanku yang Esa Itu Tak Terpisah  .  Katanya, tidak semudah itu memaafkan saudara yang sudah berlaku zalim, berikut membeberkan bukti-buktinya.  Sekarang ganti Innuri yang curhat ya berkaitan dengan itu.  

Jujur saja, Innuri itu nggak patheken, dia nurut saranku atau tidak, dia mau nyungsang njempalik atau tegak berdiri, atau silakan berhenti menganggap Innuri pembimbingmu.  Bukan aku yang minta, Pak R sendiri yang memintaku membimbing perjalanan spiritualnya.

Ini adalah tulisan terakhirku untuk Pak R, itupun mengingat pengalaman hidupnya relate dengan sahabat dekatku.  Yang membedakan keduanya adalah cara menyikapi masalah yang dihadapinya, karena masalahnya mirip, hanya saja sahabatku ini perempuan.

Sebut saja sahabatku itu Melati, Melati dari Indragiri, karena rumahnya di Jl Indragiri.  Melati anak nomer dua, persis dengan Pak R yang anak nomer dua.  Tapi aku hanya bercerita soal Melati, agar Pak R bisa belajar darinya, karena permasalahannya mirip banget. Semoga pembaca Innuri blog juga bisa belajar dari Melati, teristimewa anak nomer dua.

Kakak Melati, sebut saja Mawar. Mawar yang berduri, membenci Melati sejak kehadirannya di dunia ini.  Bayi yang nggak tahu apa-apa sudah dibenci, besarnya dibuli dan dipukuli dong!  

Karena perbedaan usia yang jauh.  Melati lahir ketika usia Mawar 9 tahun.  Secara logika masuk akal, selama 9 tahun Mawar menjadi anak tunggal yang segala perhatian dan kasih sayang tercurah kepadanya seorang.  Saat Melati lahir, tentu perhatian semua orang beralih pada si bayi yang cantik itu.  

Sayangnya kedua orang tua mereka bekerja, tidak tahu apa yang terjadi di rumah.  Malangnya lagi, selain sering dibuli dan dipukuli kakaknya, Melati juga diasuh oleh pengasuh yang suka berkata kasar, mengumpat, mencela, dan tidak membelanya. 

Pengalaman masa kecil yang seperti itulah yang membuat Melati tidak mau menjadi wanita karier, ketika berkeluarga, dia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja, agar anak-anaknya tidak mengalami seperti yang dia alami. 

Mawar semakin leluasa berbuat jahat pada Melati ketika Melati SMP.  Dijambak rambutnya lalu kepalanya dibenturin ke tembok, itu cara Mawar melampiaskan sakit hatinya hanya karena kesalahan kecil yang dibuat Melati.  Melati yang sekolah siang, pernah berangkat sekolah dengan lengan yang berdarah sambil menangis karena habis dicakar kakaknya. 

Apakah Melati melawan? Iya dong, masak dipukuli diam saja.  Tetapi semakin melawan, semakin kejam perlakuan kakaknya.  Karena itulah Melati memilih mengalah saja, walau perlakuan Mawar lebih mirip ibu tiri yang kejam.  Di hadapan orang tua mereka dan di hadapan semua orang, Mawar berlaku amat manis pada Melati, tapi bila tak ada orang, Mawar mengeluarkan durinya. 

Beruntung Melati punya sahabat yang baik, di sekolah dia sering menangis bila dijahati Mawar dan teman-temannyalah yang menghiburnya.  Beruntung pula Melati punya tempat melarikan diri di loteng rumahnya, tempat dia melukis dan menuliskan semua perasaannya di buku harian.  

Beruntung Melati suka surat menyurat, dia punya sahabat pena dari seluruh nusantara yang menjadi hiburannya, bahkan ada yang menjadi pacarnya lalu putus, karena Melati tak mau diajak menikah.  Ya, Melati yang masih anak SMP diajak menikah sama "pacar penanya" lucu tapi nyata.

Beruntung Melati suka mengirimkan tulisannya ke majalah-majalah sehingga dia bisa mendapat honor dari tulisannya.  Walaupun Melati tak mengerti bahwa apa yang dilakukannya seperti menulis, melukis, surat menyurat,  itulah yang disebut katarsis, proses pelepasan emosi yang terpendam, yang membuatnya tetap waras menempuh hari-harinya yang berat.

Apakah Melati mengadukan perlakuan kakaknya pada orang tuanya?  Itu pasti, tetapi Mawar lebih pintar berbicara dan meyakinkan orang tuanya. Orang tuanya lebih mempercayai Mawar. Jadi Melati tidak punya pembela selain Allah.

Ketika SMA, Mawar masih suka membuli dengan kata-kata atau memukul, sampai Melati tak tahan lagi dan pergi dari rumah.  Beruntung saat SMA Melati punya kekasih beneran, yang bukan cuma kekasih pena, kakak kelasnya di SMA, yang  mengantarnya melarikan diri.  Setidaknya Melati punya tempat untuk menangis pada kekasih yang sayang padanya. 

Setelah kejadian melarikan diri itulah, orang tua Melati baru percaya akan perlakuan Mawar selama ini.  Ibunya Melati sering memberi nasehat untuk memaafkan, karena ternyata ibunya Melati juga punya kakak yang nakal juga, yaitu pakdenya Melati.  Ibunya sering bilang, kehidupanmu bakalan bahagia bila mudah memaafkan.  Begitulah, Melati menurut, selalu memaafkan kakaknya.

Tapi apakah Mawar berhenti membenci?  Tidak dong, berhenti memukuli Melati memang iya, tapi kebencian tetap jalan terus sampai tua, sampai mereka berdua beranak cucu. Wow!  Panjang bila diceritakan, bisa ngalahin cerita Pak R tentang saudaranya.

Barangkali seperti itulah nasib anak kedua, rentan dibenci anak pertama, walau tidak selalu ya.

Melati tidak menganggap hidupnya nelangsa, dia menikmati masa kecilnya, masa remajanya, dan ketika menikah, dia mendapat pernikahan yang bahagia, dengan suami yang tak pernah berkata kasar sekali pun selama puluhan tahun menjalani kehidupan rumah tangga. Seperti balasan bagi hati yang selalu memaafkan.

Sebaliknya Mawar, mungkin balasan bagi perlakuannya pada si adik, dia mengalami KDRT dalam pernikahan pertamanya, sampai bercerai, lalu menikah lagi dan lagi.  Menikah tiga kali dan tidak bahagia, sekarang Mawar menjanda.  Orang menyebutnya kena karma, siapa menabur, dia menuai.

Melihat Mawar seperti itu, membuat Melati memaklumi segala kelakuan kakaknya yang masih sering menyakitkan. Bagi Melati, perlakuan orang adalah cermin batinnya, ketika orang suka menyakiti, itu hanya ekspresi batin yang sakit.  Apa sih yang bisa diharap dari batin yang sakit?  Ada kata-kata Melati yang pantas menjadi bahan renungan.  Dia bilang,"Nek nuruti wong gendeng, yo melu gendeng."  maksudnya, kalau kata-kata orang gila dimasukkan ke hati, ya ikut gila. 

Katarsis, itu penting sekali agar tetap waras.  Seperti yang dilakukan Melati sejak kecil. Melepaskan emosi dengan cara yang disukai tanpa menyakiti orang lain.  

Apa pun kegiatan yang berguna untuk melepaskan emosi yang terpendam dan traumatis, yang membuat hati menjadi ringan dan lega, itulah katarsis.  Ada yang berolah raga, ada yang menjadi pecinta alam dengan mendaki gunung, sekedar berada di tengah alam dan hutan.  Ada yang melampiaskannya lewat seni, melukis, menari, menyanyi menjerit-jerit.  Ada yang lewat karya sastra, jadi tulisan cerpen, novel.  Apa pun itu.

Innuri sudah menyarankan Pak R untuk menulis di platform seperti wattpad, atau menulis jawaban di Quora.  Ada beberapa teman Innuri yang sengaja menulis jawaban di Quora untuk katarsis, pakai nama palsu dong agar tidak menimbulkan masalah.  Itu lebih baik daripada curhat ke Innuri yang sama aku cuma discrol-scroll doang lalu dihapus, saking panjangnya curhatannya Pak R.

Pak R harus menyadari bila dirinya punya hasrat ngomong yang tinggi dan ini harus dilampiaskan dalam bentuk apa pun juga.  Dia bilang tak sempat menulis, lah wong nulis ke Innuri sudah kayak cerpen gitu loh!  Lah yo mbok nurut saja.  

Innuri tak punya banyak waktu untuk melayani orang yang cuma menjadikan aku tempat sampahnya doang. Kutulis ini karena terlalu kasihan (Allah yang kasihan, bukan Innuri) pada kehidupan Pak R yang secara fisik tidak sehat, secara mental lebih tidak sehat lagi.  Beruntungnya dia masih sehat pikirannya.

Kehidupan yang kita terima ini seimbang kok.  Ada suka ada duka, ada sakit ada sembuh, dll.  Orang yang merasa hidupnya menderita itu cuma orang yang memandang dunia dari satu sisi saja, melupakan sisi beruntung yang Allah berikan padanya.

Oh ya, bila Pak R memandang hidupnya sebagai penderitaan, coba belajar dari Budhis deh.  Ada 4 kebenaran yang diajarkan Sidarta Gautama, yang pertama adalah hidup adalah derita, kedua derita disebabkan oleh nafsu, keinginan, dan keterikatan/ kemelekatan, ketiga untuk lepas dari derita ya harus melepaskan poin ke dua, keempat, jalan untuk melepaskan derita ada 8 jalan mulia.  Silakan digoogling saja, Innuri bukan ahlinya membahas ini ya.

Kamis, 09 April 2026

Terjerat Cinta yang Salah

 Kali ini aku mau cerita soal Pak RM, bukan inisial nama, aku yang kasih nama, singkatan dari Pak Rada Mending ... hehe.  Ini entah kali ke berapa Innuri dihadapkan pada orang yang susah move on dari cinta yang salah.  Bagi yang mengalami hal yang sama, kumpul sini, nikmati pisang gorengnya.

Ceritanya, Pak RM menikah dengan seorang wanita yang merupakan kakak dari wanita yang dicintainya alias yang dibidik adiknya yang didapat kakaknya.  Sampai Pak RM berpisah dengan istrinya,  masih juga belum bisa melupakan cintanya pada si adik.

Cinta model begini banyaaak dan aslinya ini cinta yang menyiksa, bukan cinta yang membahagiakan.  Tapi siapa sih yang bisa menyalahkan hati yang kadung mencinta, yang tak kenal logika, sampai tempe busuk rasa pizza.

Innuri bukan mau membahas soal perselingkuhan ya, ini soal cinta yang menyiksa hati pada orang yang salah, mungkin ada yang menamakannya selingkuh hati, terserah deh mau diberi nama apa.  

Cinta seperti ini memiliki banyak pola.  Pola pertama yang cintanya bertepuk sebelah tangan, si pecinta tak bisa berhenti mencintai sampai puluhan tahun, sementara yang dicintai tidak merasakannya. Pola kedua, keduanya saling cinta tapi takdir memisahkan, mereka pun tidak bisa berhenti saling mencintai sampai ratusan tahun juga ... wkwkwk.

Yang pola pertama aku alami sendiri beberapa kali, bukan aku yang mencinta, tapi lelaki lain yang mencintaiku sampai puluhan tahun tanpa aku mencintainya.  Dia pun mengaku cinta bukan untuk mengajak selingkuh, hanya untuk mengungkapkan perasaan dan selesai.  Semula aku tak tahu kenapa, kok Allah membuat aku mudah dicintai secara mendalam, aku juga nggak bisa bangga dengan kondisi ini, jatuhnya malah kasihan pada istri lelaki itu.  Sekarang aku sudah tahu jawabannya, jadi terus membaca ya, jangan pindah channel ... hehe. 

Persolannya sekarang adalah bagaimana cara mengatasi siksaan cinta yang salah itu?  Sengaja aku pakai kata 'siksaan cinta' biar ada yang ketampar.  Mencinta tanpa bisa memiliki itu rasanya sakit nggak?  Sakit kan?  Sudah tahu sakit masih dipertahankan pula.  Bodoh apa bodoh? 

Yang penting sekarang bagaimana solusinya.

Cara pertama, kamu wushul dan selesai. Caranya bisa dipelajari di tulisanku seri  Perjalanan ke Dalam . Itupun kalau wushulnya on of kayak Innuri, ya bisa kumat-kumatan lagi.  Jadi cara pertama ini tidak mudah.

Cara kedua, ini lebih mudah, agak panjang penjelasannya.

Kamu melihat dia yang kamu cintai itu jangan sebagai dia, lihat yang dibaliknya dia itu siapa, Allah 'kan?  Yang menciptakan dia Allah, yang menggerakkan dia Allah, yang membuat dia begitu memesona menggetarkan hati ya Allah juga.  Jadi lihat dia sebagai Allah.  Pandanganmu tembus gitu loh.  Kalau sudah menyadari bila dia itu sebenarnya "jelmaan" Allah, hati kamu jadi paham bahwa sebenarnya kamu itu loh jatuh cintanya kepada Allah.  Kalau sudah paham kamu lagi jatuh cinta pada Allah, kamu bilang "Oooo" yang panjang.  Selesai sudah siksaan cintamu itu.

Innuri pernah tulis, jangan pisahkan makhluk dengan Allah, Allah itu melingkupi si makhluk, di dalam dan di luarnya.

Di sinilah aku ketemu jawabannya, kenapa aku banyak sekali mengalami dicintai secara mendalam, ternyata aku saja yang GR.  Orang-orang itu jatuh cinta sama Allah kok, bukan sama Innuri.  Kecele parah aku tuh.

Manusia itu defaultnya atau fitrahnya mencari Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri mengatakan bahwa diriNya adalah Kasih Sayang (Al An'am 12).  Ketika manusia sudah di posisi menyatu dengan Tuhan, maka dia menjadi kasih sayang itu sendiri dan kamu menyatu dengan semuanya.

Cara ketiga.  Ini ada hubungannya dengan semesta paralel yang pernah kutulis berseri di blog ini.  Pengalaman Dr Lynda Creamer, bahwa di kesadaran yang lebih tinggi, aku bisa menjadi kamu, kamu bisa menjadi aku, aku bisa menjadi dia atau mereka.  Intinya ada kesadaran kolektif, kesadaran yang saling terhubung.  Apa hubungannya dengan siksaan cinta? Ya ketika kamu menjadi dia, siksaan itu selesai.

Cara keempat.  Cinta menjadi siksaan ketika ada rasa ingin memiliki, ingin dekat dia, dan ingin ingin yang lain.  Ini cinta nafsu, atau ini bukan cinta tapi nafsu, atau cinta yang kecampur nafsu.  Tinggal pisahin saja itu nafsu dari cinta, kamu mencintai tanpa syarat, dan selesai.  Itu tidak mudah mbak Innuri!  Ya siapa bilang mudah? 

Cara kelima.  Pasrahkan perasaanmu kepada Allah. Mudah bukan?

Sudah dulu ya, aku mau ke pasar, kalau bingung boleh nanya di komentar.

Rabu, 08 April 2026

Kisah Pak Ruwet

 Beberapa hari lalu, aku kedatangan tamu seorang bapak-bapak yang menurutku hidupnya merana.  Sudah sakit fisik, gembolan (beban) batinnya banyak banget. Kenal aku dari buku EMAS (Energi Murni Alam Semesta) yang dia temukan di scribd, lah kok ternyata kami satu alumni, UB.  Kita sebut saja beliau, Pak R alias Pak Ruwet ... hmm, maaf yo, Pak, jangan tersinggung, nanti aku kasih tahu maksudku.

Sudah fisiknya sakit, beban batin sudah sekontainer, pikirannya sibuk pula untuk hal-hal yang tidak perlu. Komplit untuk PR kehidupan, kok kuat men tho Pak, Pak. 

Mengaku dibully sejak kecil, lahir prematur, pas ibunya hamil, ibunya mimpi buruk yang mengisyaratkan si jabang bayi tumbuh jadi orang yang kurang beruntung. Kedengarannya dapat paket komplit kesengsaraan.   Tapi nyatanya dia bisa berkuliah di UB yang di jaman itu susah banget masuknya.  Menikah dengan dokter, punya satu anak lalu bercerai.

Dari satu bingkai kehidupannya itu, aku ambil kesimpulan dia itu hidupnya gak sengsara-sengsara amat, cuma kurang bisa mengambil sikap yang tepat.  Contoh, bisa memperistri dokter itu salah satu yang dibanggakannya, tapi dia nggak cintai katanya, cintanya sama yang lain.  Nah, perempuan mana coba yang nyaman bersanding dengan lelaki model begini?  Istri pintar hanya untuk melengkapi statusnya sebagai lelaki yang berprestasi (prestasi punya istri dokter katanya).  Hanya sebagai pelengkap, bukan untuk dicintai dan dibahagiakan.  

Wanita yang rela menjadi istri itu sudah mempercayakan kebahagiaannya pada sosok yang disebut suami.  Embuh cintamu kepada siapa, yang ditakdirkan Allah itulah semestinya yang dicintai dan dibahagiakan.  Ini malah mengangan-angankan yang lain.  Seorang istri itu peka perasaannya.  Tapi nasi sudah terlanjur basi.

Singkat cerita, Pak R aku bantu transfer energi. Bukan aku, tetapi Allah.  Aku suruh duduk diam dan mengamati napasnya saja.  Yang aku lihat, banyak panah tertancap di tubuh rohani (tubuh bioplasmik) Pak R.  Aku bantu lepaskan saja panah-panah itu, entah betapa menit, agak lama juga.  Selesai aku bantu, aku biarkan dia bengong sendiri.  Dia bilang, tubuhnya lebih enteng sekarang, aku lihat wajahnya lebih cerah juga.

Begini loh Pak R dan sahabat Innuri semua.

Tentang dibully. Kita tidak bisa mengendalikan mulut orang, tapi kita bisa mengendalikan reaksi diri kita sendiri.  Oke dibully sejak kecil, tentunya anak kecil belum tahu cara bereaksi yang benar, tapi jangan dibawa rasa sakit itu sampai tua.  Itu jadi terlihat sebagai anak panah yang tertancap ke seluruh tubuh, makanya berimbas pada kesehatan.

PR utama Pak R adalah memaafkan semua orang dan berdamai dengan rasa sakit yang dia derita sejak kecil.  Itu akar masalah utama.  Menyimpan dendam hanya menyakiti diri sendiri dan membuat kondisi fisik semakin memburuk.

Juga netralkan semua informasi negatif dan kesimpulan-kesimpulan negatif yang sudah dianggap sebagai kebenaran, seperti mimpi ibunya waktu mengandung itu.  Ibunya dosen di PTN loh, wanita cerdas kukira.  Mimpi itu macam-macam penyebabnya, bisa ekspresi ketakutan, bisa harapan, bisa juga petunjuk Tuhan.  Makna yang disematkan pada mimpi itulah yang memengaruhi kehidupan, bukan mimpi itu sendiri.  Jadi jangan lagi dihantui oleh mimpi yang terjadinya sudah puluhan tahun yang lalu, apa nggak capek?

Pak R juga harus bisa menerima semua takdirnya (amorfati) karena itu semua yang mengantarnya mendekat pada Allah.  Aku bilang,"Sakit yang membawamu ingin ketemu aku, dan tugasku adalah menjebloskanmu ke Allah."  Jadi berterimakasihlah pada rasa sakit yang dideritanya selama ini, ini penting, agar bisa mencintai takdir.  Ketika manusia sudah bisa mencintai takdir, hidupnya bakalan aman dan damai, masalah akan terselesaikan dengan sendirinya (Allah yang menyelesaikan masalahnya)

Sementara itu yang aku katakan pada Pak R. Setiap hari Pak R berkomunikasi denganku via WA, ini membantu banget buatku untuk tahu progressnya, beliau sangat komunikatif dan punya keinginan untuk berubah.  Nanti kalau Pak R sudah membaik, aku ganti deh namanya, bukan Pak Ruwet lagi, bila perlu dijenangabangi ... haha.


Selasa, 07 April 2026

Berhala Keinginan dan Harapan

 Harapan dan keinginan itu sumber penderitaan.  Bila harapan dan keinginan terpenuhi, maka muncul harapan dan keinginan yang baru. Begitu terus tidak ada habis-habisnya. 

Misal begini, kamu punya anak yang rajin main game saja sampai sering bolos sekolah, berharap dia jadi rajin sekolah.  Ketika dia rajin sekolah, muncul harapan baru, mbok ya rajin ibadah juga nak, nak.  Sudah rajin sekolah dan rajin ibadah,  berharap dia rajin bantu pekerjaan rumah juga ... hehe. Itu contoh kecil saja ya.  Mau contoh besarnya boleh dicari di kehidupan kalian masing-masing.

Berharap itu berteman dengan menunggu, menunggu perubahan, menunggu hasil, menunggu harapan menjadi nyata, menunggu doa-doa dikabulkan, dll. Lalu ketika harapan yang satu terjawab, muncul harapan baru lagi yang melahirkan penantian lagi. Bukankah itu melelahkan? 

Tidakkah lebih damai di hati bila membiarkan semua terjadi atas keinginan Allah saja? Bukan keinginan ego kita? 

Bukankah kita menyembah Allah? Bukan penyembah harapan dan keinginan kita? 

Seperti yang kubilang tadi, harapan dan keinginan itu bila tak tercapai jadi kecewa dan sedih. Bila tercapai, tumbuh harapan baru, begitu terus tidak ada habisnya sampai kita menutup mata. 

Ada hadits yang mengatakan bila manusia diberi satu lembah berisi emas, maka dia ingin dua lembah, bila diberi dua, dia mau tiga, begitu seterusnya. 

Begini, Sayang. 

Perilaku orang-orang terkasih itu sebenarnya mengandung pesan Tuhan kepadamu, bukan pada orang-orang itu, tapi kepadamu. 

Misal soal anak yang hobby main game itu, pesan apa yang dibawanya? Barangkali hobimu yang suka mengontrol segala sesuatu harus sesuai dengan maumu itu yang harus dikoreksi.  Harus disadari manusia tidak bisa mengubah manusia lain, hanya Allah yang bisa. Setelah kesadaran ini muncul, nanti akan ada petunjukNya di hatimu musti ngapain. Dan kamu bisa bertindak atas dasar petunjuk Tuhan, bukan atas dasar hawa nafsumu yang suka memaksa semua harus sesuai keinginanmu. Kamu sendiri juga bebas dari rasa nyesek di hati sampai pingin elus dadanya Lee Min Ho... haha.

Betapa pentingnya mencerabut harapan dari orang-orang yang kita sayangi atau orang mana pun demi kedamaian hati sendiri. 

Ketika kita berharap seseorang menjadi seperti yang kita mau, harapan ini menetap, maksudku terus kita gendong kemana-mana.  Tersimpan di ketidaksadaran, menjadi beban mental yang tidak kita sadari. Ketika suatu saat kita menemukan harapan ini tidak sesuai kenyataan, maka bisa meledaklah kita. 

Misalnya kita berharap punya pasangan  yang setia, suatu saat ketemu pasangan kita selingkuh.  Bayangkan betapa sakitnya ledakan perasaan kecewa dan marah itu. 

Mungkin ada yang bertanya, "Wajar 'kan pingin punya pasangan setia?  Yang nggak wajar itu pingin punya pasangan yang tidak setia."  

Ini bukan soal wajar atau tidaknya, ini soal menata keinginan agar hidup kita damai.

"Lah mbak Innuri nggak pernah mengalami punya pasangan selingkuh sih," katamu.

Eeeeh, bukan cuma selingkuh, tapi punya empat istri, coba baca di sini Poligami Ala Suamiku .  Terjawab 'kan mengapa tak perlu berharap pasangan kita setia?

Logikanya begini, ketika kita berharap, bawah sadar nangkepnya "kita tidak punya" , ya terwujud seperti doa.  Ketika kita santai saja, bawah sadar nangkepnya "aku sudah memiliki".  

Mencerabut harapan dari orang-orang yang kita sayangi itu sebuah cara mengamankan diri sendiri dari rasa sakit dan kecewa, juga melindungi diri kita sendiri dari penantian yang tidak ada ujungnya.  Yang semua itu sia-sia, memboroskan energi dan waktu yang berharga, lebih baik dipakai untuk mendekat pada Allah saja.

Akan tetapi, tak semudah itu mencerabut harapan dari hati kita, pasrahkan Allah, jangan merasa berusaha, karena hanya Allah yang bisa melakukannya.  Yang penting ada niat untuk mengenolkan keinginan dan harapan.  Allahlah yang menggenggam hati dan pikiran kita, biarkan Allah yang membersihkan kita dari berhala keinginan dan harapan.

Biarkan semuanya mengalir menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak ego kita.

Senin, 06 April 2026

Obat Gelisah dan Patah Hati

 Kemarin malam aku susah tidur, tak biasa, biasanya habis isya sudah pamitan mataku ini.  Aku gelisah karena seperti kehilangan kontak dengan Allah.  Aku kehilangan rasa itu, rasa dibersamai Allah, rasa selalu dijaga, disayang di dalam lautan kasihNya.  Juga rasa dibersamai suami karena lagi sendirian di Ngantang, kalau dekat mah sudah minta dininabobokan lah si istri yang manja ini.

Aku berusaha menemukan rasa itu kembali dengan zikir sirrur asror, tapi tidak bisa, hanya bisa mengingat Allah di kepalaku, itu tidak enak sama sekali.  Aku selesaikan kegelisahanku dengan nyanyi-nyanyi dan mengunggahnya di Fb.  Tak kunjung bisa tidur juga.

Eh, kebelet pipis, aku turun karena di lantai dua tempatku tidur belum ada toiletnya.  Ya ampun, diganggu makhluk halus dong.  Aku merasa semakin aneh saja.

Aku mencari-cari di dalam batinku ini, ada apa gerangan dengan diriku?  Bukan aku yang mencari, tapi Allah yang menjalankan aku mencari, aku harus menyadari ini sampai ke sumsum tulang.  Aku menemukannya, Allah membuatku menemukannya.

Ternyata siang tadi batinku ini, hanya membatin loh, aku merendahkan seseorang dan aku merasa lebih tinggi dalam spiritual darinya.  Aku pun menyadari kesalahanku, setelah itu perlahan rasa itu kembali.  Aku bersyukur sekali.

Halus sekali ya.  

Baiklah aku jelaskan.

Kalian pernah jatuh cinta 'kan?  Kalian cinta 'kan sama kekasih kalian?  Gimana rasanya dicintai kekasih hati?  Ya begitu itu 'kan?  Sedangkan rasa dicintai Allah itu sudah 'genre' yang berbeda, sudah melampaui itu, sudah "cukuplah Allah bagiku".  Ketika rasa dicintai Allah itu pudar, sudah kayak orang patah hati, gelisah, susah tidur.  Untungnya Allah tak membiarkanku patah hati berlama-lama.

Merendahkan siapa pun, bahkan merendahkan orang yang telah merendahkan kalian, bila dilihat dari kacamata hakekat, adalah merendahkan Allah.  Karena Allahlah yang berada di balik orang-orang itu,  Allahlah yang membuat skenarionya, Allahlah yang mengendalikannya.  Pandang siapapun sebagai Allah.

Bila ingin disayang Allah, maka batin ini harus selalu di dalam kasih sayang kepada siapa pun.  Batin musti dijaga selalu kasih sayang.

Gimana caranya kasih sayang pada orang yang petantang petenteng, sombongnya setinggi puncak Everest?

Bila memandang semuanya Allah, nanti batin ini tertuntun, akan auto memahami bila orang yang petantang petenteng itu orang yang jiwanya gelisah, butuh pengakuan dari luar.  Jadi auto kasihan, lalu jadi kasih sayang saja hati itu.

Penting banget menyadari bila hati dan pikiran ini digerakkan oleh Allah juga, buktinya apa?  Buktinya kamu tidak bisa mengendalikan hati dan pikiranmu sendiri.  Kadang antara hati dan pikiran tidak sinkron, padahal kepinginnya sinkron 'kan?  

Inginnya pikiran, hati tidak jatuh cinta pada dia, karena dia milik orang, tapi hati benar-benar tidak mau diajak kompromi, tetap saja gak bisa move on.  Ada nggak yang kayak gini?  Itulah buktinya bila bukan kamu yang mengendalikan isi hatimu,  Allah tersangkanya.

Pikiran pun begitu, suka liar mengomentari sana sini, menilai ini itu.

Obatnya disadari saja, alias kembali ke kesadaran, alias kembali ke ketuhanan, kembali ke Allah.  Pasrahkan hati dan pikiranmu ke Allah.  

Begitupun ketika batin ini merendahkan orang lain, segera sadari, biar tidak mengalami kegelisahan yang kamu tak tahu apa penyebabnya.  

Sebab perasaan disayang Allah itu adalah segala-galanya.


Minggu, 05 April 2026

Masalah Itu Ilusi

 Bukan hanya masalah, dunia ini ilusi, harta, jabatan, orang-orang yang kita sayangi, semua itu ilusi. Seperti fatamorgana, kita sangka ada, padahal hakekatnya tidak ada, atau pada saatnya nanti bakalan tidak ada.  Orang yang bisa melihat semua itu tidak ada saat hidup di dunia ini, itu manusia keren. 

Teristimewa masalah, yang lagi bermasalah boleh kumpul di sini, nikmati chiffon cake-nya. 

Masalah adalah ilusi. 

Renungkan ini ya.

Saat Innuri chatting sama sahabat yang lagi curhat, aku membayangkannya dia sedang duduk santai dengan handphone di tangan, atau sedang selonjoran di sofa, atau lagi males-malesan di tempat tidur.  Ada juga sih yang dalam keadaan lapar, susah makan dan susah tidur karena pikirannya kalut. Yang dia keluhkan orang-orang yang tidak sedang bersamanya, yang tidak sedang menzaliminya di saat dia mengetik keluhannya.  Yang dia keluhkan ketakutannya pada suaminya yang bahkan tidak sedang menyakitinya.  Atau debt kolektor yang baru mau datang besok.

Bahkan untuk bersyukur didudukkan Allah dalam keadaan sehat dengan handphone yang senantiasa membersamainya saja tidak sempat. Yang dikeluhkan adalah "tidak ada" atau tidak sedang berlangsung saat ini.

Ibarat terluka satu menit, sakitnya bertahun-tahun.  Dalam keadaan tidak disakiti pun rasa sakitnya bertahan.   Sungguh manusia itu pemelihara rasa sakit paling canggih!  Atau sakit karena memikirkan yang belum terjadi, tidak masuk akal 'kan?

Sudahkah kalian renungkan bahwa manusia sering memasalahkan masalah yang sedang tidak berlangsung?

Sedang tidak berlangsung artinya tidak ada.

Benarkah?

Baiklah, sampai di sini, pembaca Innuri yang pikirannya aktif banget, pasti ngomong di hatinya tuh, memangnya nggak boleh memikirkan sesuatu yang kemungkinan terjadi untuk berjaga-jaga agar tidak terulang? Memangnya nggak boleh mikirin solusi?  Memangnya nggak boleh antisipasi?  Memangnya nggak boleh curhat sama mbak Innuri? 

Silakan ngomong semau-maunya pikiranmu, tapi coba disadari, ditonton saja itu pikiran biar bosen jadi artis di kepalamu. 

Sudah puaskah pikiranmu ngomong? Aku teruskan ya.

Bila kamu sedang mempermasalahkan masalah yang sedang tidak berlangsung, alias tidak ada, berarti masalah itu hanya berada di kepalamu.

Untuk membuat masalah itu selesai, ya selesaikan di kepalamu.  Namanya menyelesaikan masalah di luar dari dalam.  Yang terkenal di blog ini namanya ho'oponopono, sebuah istilah cara berdoa ala orang Hawai.  Itu cara yang mudah sekali, boleh dipelajari di Keajaiban Berawal dari Cinta Kasih.  Tapi kalian boleh pakai cara apa saja kok, yang penting, selesaikan yang di dalamnya kamu itu loh.

Nggak boleh curhat sama Innuri?  Boleh asal tujuannya nyari solusi, bukan untuk buang sampah ya. Soalnya ada pembaca Innuri yang curhatnya cuma untuk mencari dukungan atas sikap-sikapnya, nggak menjalankan apa yang aku sarankan, dengan kata lain dia hanya menganggap aku tempat sampah saja.  Orang kayak gini pasti ketahuan kok dan pasti didamprat sama Beliau.

Ada cara agar masalah selesai dalam satu detik saja.  Dengan pola pikir seperti ini:

Bila semua ini milik Allah, maka masalah juga milik Allah, dan Dia pasti menyelesaikannya.

Sudah bisa tenang? 

Ada lagi jurus lain untuk melenyapkan masalah, yaitu dengan berbahagia di sini saat ini, populer disebut mindfullness. Sebagai muslim, aku menyebutnya mensyukuri di sini dan saat ini.  Pikiran nggak kemana-mana, hanya fokus di kondisi di sini dan saat ini, memunculkan rasa syukur yang luar biasa.

Prakteknya begini, dalam keadaan apa saja, pikiran tidak kemana-mana, tapi fokus di keadaan saat ini dan di sini.  Misal saat nyapu rumah, pikiranmu hanya terfokus pada dirimu, gerakanmu yang menyapu itu dan posisi kamu menyapu.  Pikiran yang ke mana-mana tarik ke keadaanmu yang saat ini menyapu.  Sesederhana itu, tapi lihat betapa efeknya yang tidak sederhana. 

Innuri sering tiba-tiba jadi mbrebes mili kalau di posisi di sini saat ini.  Terasa banget betapa Allah yang memosisikan aku dengan kasih sayangNya di keadaan saat ini, di tempat duduk ini, di depan komputer ini, di rumah yang damai, dengan udara yang bisa aku hirup gratis, dengan anggota tubuh yang disetel normal olehNya, sehingga aku bisa melakukan aktifitasku dengan bahagia. Aku menulis dengan digerakkan olehNya, oleh kasih sayangNya.  Aku berada di lautan kasih sayangNya, menuliskan kata demi kata yang menggambarkan kasih sayangNya.  

Tulisan ini pun hadir di hadapanmu, terbaca olehmu, dengan matamu yang sehat, di posisimu saat ini, Allah lah yang memosisikanmu, dengan kasih sayangNya.  Karena Allah peduli dengan hidupmu, dengan masa depanmu, bahkan selalu menjagamu tetap bahagia.

Maka jangan berpaling lagi dariNya.  Beradalah di sini, saat ini. Karena Dia yang akan menyelesaikan segala kekhawatiran dan ketakutanmu karena semua itu juga ilusi, ilusi yang membawamu kepadaNya. 


Rabu, 01 April 2026

Blunder Masalah

 Ada sahabat Innuri yang hampir setiap hari chatting di WA, cerita macam-macam, dari spiritual sampai masalah pribadi.  Teman yang asik untuk berdiskusi karena otaknya otak logika, apa-apa musti logis, sedangkan aku cenderung pakai feeling, saling melengkapi 'kan?

Dia sedang ada masalah di keluarga besarnya, masalah yang rumit sekali.  Aku bantuin dengan cara apa pun, dari saran, nasehat, sampai ke transfer energi, tak ngefek sama sekali.

Oh ya, buat pembaca Innuri blog yang mengeluh dengan kondisi finansial, boleh lega ya, karena sahabat yang aku ceritakan ini dari keluarga kaya raya, tinggal di kota besar dengan rumah di tengah tanah ribuan meter di kawasan elit, plus ada kolam renangnya yang gedeeee. Itu baru satu rumah, rumah lainnya tersebar di beberapa kota dan pulau.  Tajir melintir, tapi masalahnya jauh lebih kompleks dari kalian yang kena masalah finansial, jadi jangan merasa paling menderita sedunia ya.

Ini kali kedua Innuri ketemu keluarga tajir tapi masalahnya bejibun dan ruwet.  Yang pertama pelanggan butikku dulu, orang kaya tingkat propinsi dah. Saking kayanya, kalau beliau bepergian keluar negri, bawa dokter pribadi, perawat, pembantu, serombongan deh.  Tapi masalah yang dihadapi juga rombongan ... hmm.

Kembali ke cerita sahabatku itu ya.

Aku tidak bisa bercerita masalah yang dihadapinya apa, ya pokoknya masalahnya kompleks, itu saja. Lalu karena aku tak bisa membantunya sama sekali, aku coba terawang saja ... haha.  Diterawang pun susah, tetapi kelihatan sesuatu, sesuatu yang bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.  Makanya aku tulis di sini.

Ada kebiasaan orang-orang yang suka berpikir logis, yaitu suka mengontrol ini itu.  Misal, jadi anak harusnya begini, jadi suami harusnya begitu, jadi menantu mestinya titik-titik .... sampai mengontrol masalahnya harus selesai dengan ending seperti ini atau seperti itu.  Jadi blunder.

Masalah malah semakin mengeras ketika terlalu 'digenggam', artinya tidak selesai-selesai atau malah semakin parah.  Itulah yang terjadi pada sahabatku itu.

Masalah sudah dicari akarnya, tetapi lupa bila akarnya akar masalah adalah hawa nafsu.  Ingin masalah cepat selesai itu pun hawa nafsu.  Karena setiap masalah ada waktunya sendiri, ada targetnya sendiri, ada 'pesan Tuhan' dibalik masalah yang datang.

Mencari-cari apa pesan Tuhan, sudah merasa ketemu, sudah istighfar memohon ampun, tetapi batinnya selalu bergejolak,"Kami sudah beristighfar, kenapa masalah tak kunjung selesai?" Batinnya menuntut Tuhan untuk segera menyelesaikan masalahnya.  Ya namanya demo sama Tuhan. Blunder lagi dong, Tuhan kok didemo.

Begini loh, Sayang. Masalah versi kamu dengan versi Tuhan itu beda.  Misal nih, tidak punya uang itu masalah buat kamu, tapi menurut Tuhan masalahnya adalah kalau kamu punya uang, kamu akan beli rokok/narkoba/miras yang membahayakan bagi kesehatanmu, jadi dibuatlah kamu tidak punya uang biar nggak beli rokok.  Pahamkah?

Masalahmu sekarang apa, bisa jadi itu untuk menyelamatkanmu dari masalah yang lebih besar.  Bisa jadi begitu atau ada hal lain yang pikiran manusia ini nggak nyucuk alias nggak bisa menjangkaunya.

Berpihaklah pada Tuhan, artinya setujulah dengan segala kejadian yang dirancang Tuhan.  Dalam Islam namanya percaya pada qada qadar, dalam stoic namanya amorfati.

Lantas masalahnya diapakan?

Dipasrahkan alias dikasihkan dan dipercayakan ke Allah.  Wes ngono wae.  Kalau kamu percaya Allah Maha ngasih solusi, Maha Kasih Sayang, Maha segala-galanya, kamu sudah tidak khawatir lagi.  Masalahmu berada di tangan ahlinya, di tangan yang benar.

Lakukan apa yang bisa dilakukan, atau lakukan yang memang ada petunjuk untuk melakukan.

Allah membuat segalanya mudah dan sederhana, jadi jangan mempersulit diri, malah nambah penyakit nanti ya.  I love you.

Semesta Paralel (8)

 Kukira pembahasan tentang semesta paralel sudah selesai di bagian ke 7, sampai pagi tadi sambil masak kok bermunculan pemahaman-pemahaman baru yang Allah berikan ke otakku ini.  Padahal mauku hari ini mau melukis, tapi ngerjain lukisan malah berantakan, sebuah pertanda bila aku harus menuliskan pemahaman-pemahaman yang Allah berikan pagi tadi.

Baiklah. Monggo duduk santai dan nikmati kopinya ... hehe. 

Dari tulisan-tulisan sebelumnya, sudah paham bila setelah mati di dunia, ruh/jiwa kita akan pindah channel atau pindah semesta.  Semesta-semesta itu sudah ada saat ini dan 'turunan jiwa' kita sudah berada di sana, yang disebut satu jiwa multidimensi.  

Untuk lebih jelas soal satu jiwa multidimensi, bayangkan seperti Naruto dengan jurus seribu bayangan itu loh, yang disebut kage bunshin.  Nah, kita juga punya kage bunshin di semesta-semesta yang lain itu, saat ini kita berada di bumi, dunia manusia, karena jiwa yang asli ditempatkan di sini.  Sedangkan di semesta yang lain, itu jiwa turunan / jiwa bayangan,  kita sebut saja kage bunshin biar gampang ya.

Adapun semesta-semesta yang lain itu di dalam agama ada disebut: alam kubur, alam barzah, alam penantian, padang maghsyar, surga, neraka,dll.  Semesta-semesta  itu pun bertingkat dalam keabadian, dunia adalah semesta yang tidak abadi, surga (semesta kesenangan) dan neraka (semesta penderitaan) pun ada yang tidak abadi dan ada yang abadi, seperti itulah yang tertulis di kitab suci (maaf belum sempat nyari ayatnya)

Sampai di sini paham 'kan?  

1. ada jiwa multidimensi yang hidup dan tinggal di multisemesta, semua terjadi secara simultan (serentak)

2. kita merasakan hidup di dunia, karena Allah naruh jiwa yang asli di sini, di semesta yang lain hanya kagebunshin.

3. setelah mati di dunia, jiwa asli kita nanti pindah semesta, ke semesta yang mana itu tergantung dari amal perbuatan kita di dunia.

4. ada semesta abadi yang merupakan tingkat tertinggi, yang ketika berada di sana, sudah nggak mbalik lagi ke semesta yang tidak abadi.  Ini semestanya orang yang sudah manunggaling kawula Gusti, sudah menyatu dengan Tuhan, sudah moksha.  Di sini keindahannya tak terbayangkan oleh kita.

Nah, pilihan ada di tangan kalian, mumpung masih hidup di dunia, ntar nanti setelah mati mau lompat ke mana?  Ke semesta yang masih sementara (tidak abadi) atau ke semesta yang abadi? 

Aku kasih tahu ya.  Perjuangan untuk sampai ke semesta abadi itu berat, berat, dan sangat berat.  Sulit, sulit dan sangat sulit.  Tapi bukan berarti tidak bisa.  Sulitnya seperti meniti jembatan serambut dibelah tujuh, sesulit itu.  Makanya kita tak pernah bisa tanpa pertolongan Allah, hanya kasih sayangNya yang membuat kita bisa sampai ke sana.

Kenapa berat dan kenapa sulit? Karena yang kita hadapi dan yang harus kita selesaikan ada di dalam diri kita sendiri, musuhnya ada di dalam diri sendiri, musuh yang sudah menyatu, seolah-olah teman, berlaku sebagai sahabat padahal njlomprongke alias menyesatkan.

Kabar baiknya, sebenarnya kita tinggal memilih saja, nanti Allah yang akan jalankan. Bila pilihanmu adalah semesta abadi yang tanpa penderitaan, katakan pilihanmu kepada Allah. Katakan saja pakai bahasa hatimu, bila kamu memilih Allah dan siap dijalankan Allah di situ.  Urusan nanti bagaimana menempuhnya, serahkan Allah. Itu namanya pasrah, itulah Islam, orangnya disebut muslim. 

Tidak gampang tetapi gampang ya.  Percaya Allah saja nanti Allah yang kasih petunjuk dan jalannya, percaya itu namanya iman. 

Apa tanda-tandanya bila kita adalah calon penghuni semesta keabadian?  Buka Surat Yunus 62 , kamu tidak pernah sedih, takut atau khawatir, apalagi galau.  Surat Al Fajr 27-30 , jiwanya tenang.

Untuk sampai ke Yunus 62 Dan Al Fajr 27 itu perjuangannya panjang.  Innuri sudah sering menulisnya, tapi insyaAllah aku bahas lagi di tulisan yang lain dengan pendekatan yang lain agar mudah dipahami..

Jadi sampai di sini dulu ya, Innuri mau olah raga, soalnya masih di dunia, butuh olah raga biar sehat dan awet cantik... haha.