Minggu, 15 Februari 2026

Perjalanan ke Dalam (1)

 Aku membagikan tulisan dari Innuri blog ke beberapa grup Wattsapp dan mendapat pertanyaan bejibun, terimakasih, aku sayang kalian.

Kemarin aku menulis soal lapisan-lapisan batin yang semakin ke dalam semakin halus dan di lapisan terdalamnya kita bisa menyaksikan Allah dan pertanyaannya adalah bagaimana cara / tehnik menempuh perjalanan menuju batin  terdalam hingga bersyahadat (menyaksikan Allah) ?

Untuk menembus lapisan-lapisan batin itu, kita musti menerobos berbagai halangan, butuh effort tentu, niat dan kemauan kuat, tak ubahnya perjalanan fisik orang berhaji ke Mekah, butuh persiapan matang.  

Apakah butuh pemandu / guru?  Butuh, tapi kita tak perlu mencarinya, karena ketika kita sudah berniat ingin bertemu denganNya, maka Allahlah yang akan mendatangkan pemandu / guru  kepadamu.  Yang penting di dalam hatimu kamu berguru langsung kepada Allah.  Allah hadirkan panduanNya bisa lewat siapa saja, lewat media apa saja, tinggal mengalir saja, pasti akan sampai bila niatnya murni untuk bertemu Allah / bersyahadat.

Kesimpulannya, guru itu didatangkan atau dikirimkan Allah kepadamu, kamu tak perlu mencarinya.

Lanjut pembahasan soal caranya, mengingat ini adalah perjalanan batin yang tak kelihatan, selain pemandu (Allah), tujuan (bertemu Allah) serta niat yang kuat, kita butuh perbekalan sabar dan konsisten.

Dalam perjalanan batin ini, yang pertama kita lewati adalah  hutan belantara pikiran yang sibuk, tidak bisa diam dan suka melompat ke sana kemari.  Pikiran itu mutlak harus ditenangkan, agar batin kita bisa sampai ke lapisan yang lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Cara yang umum dilakukan untuk menenangkan pikiran adalah meditasi / tahanuts / khalwat / uzlah / i'tikaf di masjid.  Itu dilakukan oleh para Nabi dan orang-orang bijak dari berbagai keyakinan.  Aku akan menceritakan cara yang aku lakukan yang ini mudah diikuti oleh semua orang.

Awalnya aku melakukan meditasi mensyukuri napas, ini cukup efektif menenangkan pikiran yang sibuk dan ketika berhasil, kita akan bertemu dengan pengalaman indah Sang Pemberi Napas.  Tapi kusarankan, jangan menargetkan apa-apa, yang penting sebelum memulai harus mengucap niat di hati untuk mendekatkan diri pada Allah.

Cara yang ideal adalah dilakukan dengan duduk bersila dengan punggung tegak, tapi boleh posisi lain senyamannya saja, misal sambil berbaring, yang penting fokus perhatian di napas saja, keluar masuknya udara dari hidung.  Rasakan udara masuk melalui hidung lalu bergerak ke dada (paru-paru), tahan sebentar lalu rasakan udara keluar melalui hidung, hembuskan pelan-pelan. Jeda sejenak sebelum menarik napas lagi, terus perhatikan dan rasakan.  Begitu terus sampai hati merasa damai  

Tidak perlu berzikir, hanya memerhatikan dan merasakan keluar masuknya napas.

Bagaimana bila pikiran mengganggu dengan memikirkan ini itu?  Biarkan saja, cuekin, kembali perhatikan napas.  Diganggu lagi, cuekin lagi, kembali ke napas.  Begitu terus sampai hati damai.  Pada suatu titik akan muncul perasaan wow, hati akan menemukan sendiri rasa syukur yang tak terhingga akan anugerah kehidupan ini, membuat hati terpaut dengan Allah dengan sendirinya.  Menjadi zikir tanpa kata tanpa suara.  Lakukan sesering mungkin sampai hati menjadi meditatif, kedamaian dari dalam.

Berapa lama dan berapa kali dalam sehari?  

Kusarankan minimal luangkan waktu 20 menit minimal satu kali sehari, bagi muslim, bagus sekali bila bisa lima kali sehari setelah salat lima waktu.  

Bagaimana dengan aku?  Aku terlalu pemalas, jangan dicontoh, aku hanya sekali sehari, itu pun kulakukan sambil tiduran sebelum tidur malam, jadi aku melakukan meditasi napas menjelang tidur sampai tertidur yang durasinya kadang tak sampai 20 menit sudah bablas.  Tapi kadang aku terlalu niat sampai menyepi di rumahku yang di Graha Bandara, sendirian salama 3-4 hari dan fokus mendekatkan diri pada Allah dengan salat dan meditasi.  Pernah terlalu sangat niat sampai khalwat 40 hari di villa Aden  di tengah kebun, itu di tahun 2024, aku pernah menuliskannya di Innuri blog pengalaman khalwat ini, juga pengalaman 40 hari khalwat berikutnya di tahun 2025.  Menurutku khalwat 40 hari adalah kelas akselerasi dalam menempuh perjalanan ke dalam diri, itu pengalaman luar biasa banget, seperti masuk kawah candradimuka.

Meditasi mensyukuri napas ini hanya salah satu cara menenangkan pikiran untuk sampai ke lapisan batin yang lebih dalam, Sedangkan dalam perjalanan nanti, hutan belantara yang musti kita lewati bukan hanya pikiran, ada bermacam jebakan lagi, insyaAllah di tulisan selanjutnya. 

Bagi kamu yang tidak punya tempat bercerita tentang pengalaman meditasi yang kamu lakukan, boleh bercerita kepada Innuri, bisa lewat inbox di medsosnya Innuri Sulamono, lewat WA juga boleh. Gratis kok ... hehe.

Salam manis.

(bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar