Rabu, 11 Februari 2026

Menempuh Lapisan Indra

 Sebagaimana jasmani yang punya panca indra, badan rohani kita pun punya indra, barangkali bukan panca atau  lima lagi, bisa lebih, bahkan tak terdefinisikan, nanti aku jelaskan, semoga kamu memahami hal penting ini. 

Buktinya ruhani kita punya indra adalah saat bermimpi, di dalam mimpi kita bisa merasakan, mendengar, melihat, berbicara, berlari, terpeleset, dll yang itu semua kita rasakan seolah-olah nyata.  Lalu kita terbangun dan menyadari bila semua itu hanya mimpi.  Hanya mimpi yang sebesarnya bukan 'hanya', itu bisa dijelaskan dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu.  Penjelasannya bisa luas, dalam dan panjang pula.  Namun aku bukan mau menjelaskan soal mimpi ya, kalian bisa cari sendiri di internet.  

Rohani kita itu berlapis-lapis yang semakin dalam semakin halus, rohani yang bermimpi itu masih berada di lapisan permukaan yang masih terhubung dengan otak sebagai tempat menyimpan memori.

 Memangnya semakin dalam lapisannya semakin tidak terhubung dengan otak? Lantas terhubung dengan apa dong? 

Kalau kita mati, otak kita mati, tapi rohani kita hidup dan bisa mengingat memori saat kita hidup di dunia (banyak ayatnya soal ini di Al Quran), itu berarti ada bagian dari rohani kita yang bisa mengingat tanpa terhubung dengan otak sebagai penyimpan memori.  

Kembali ke soal rohani kita yang berlapis-lapis, dalam perjalanan spiritual seseorang, dia menempuh lapisan demi lapisan ini sampai di lapisan paling dalam, yang disinilah indra rohani sudah tak terdefinisikan lagi, tidak mendengar tetapi mendengar, tidak melihat tetapi melihat, tidak merasa tetapi merasakan, tidak belajar tetapi tiba-tiba mengerti banyak hal, bingung 'kan?  Bandingkan dengan mimpi yang masih bisa melihat seolah nyata.  Akan tetapi, di lapisan yang paling dalam inilah letak kenyataan yang lebih nyata daripada kenyataan panca indra jasmani kita. Ya, disinilah letak kenyataan yang sebenarnya kenyataan, ada yang menyebutnya kesejatian.  

Di kesejatian, ruhani kita sudah tidak terikat lagi dengan fisik seperti otak dan perangkat lainnya, terikatnya dengan Rabb atau Tuhan atau Allah atau kamu menyebutnya apa dengan asma yang baik-baik.  Di kesejatian inilah rohani kita menyaksikan Allah sampai muncul kesadaran bila yang nyata di dunia ini cuma Allah.  Yap! Yang nyata cuma Allah! 

Menyaksikan Tuhan itu hal paling luar biasa yang bisa dialami manusia, inilah hakekatnya syahadat dan itulah syahadat yang sesungguhnya.  Syahadat yang bersumber dari penyaksian batin yang terdalam.  Ini indahnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, hanya bisa dimengerti dengan dialami sendiri.  Bila diumpamakan,  ibarat orang yang berada dalam gelap gulita perlahan dibawa ke tempat yang penuh cahaya sehingga dia bisa melihat berbagai keindahan yang di dalam Al Quran disebut minadzulumati ilannur.

Menakjubkan bila Allah memberi kesempatan kita untuk memasuki luasnya dunia batin kita sendiri, karena itu seluas alam semesta.  Semoga Allah menuntun kamu ke sana.  Aamin.

InsyaAllah tulisan mendatang tentang bagaimana cara menempuh lapisan-lapisan indra sampai ke indra terdalam yang takterdefinisikan itu.

Salam Manis.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar