Kemarin malam aku susah tidur, tak biasa, biasanya habis isya sudah pamitan mataku ini. Aku gelisah karena seperti kehilangan kontak dengan Allah. Aku kehilangan rasa itu, rasa dibersamai Allah, rasa selalu dijaga, disayang di dalam lautan kasihNya. Juga rasa dibersamai suami karena lagi sendirian di Ngantang, kalau dekat mah sudah minta dininabobokan lah si istri yang manja ini.
Aku berusaha menemukan rasa itu kembali dengan zikir sirrur asror, tapi tidak bisa, hanya bisa mengingat Allah di kepalaku, itu tidak enak sama sekali. Aku selesaikan kegelisahanku dengan nyanyi-nyanyi dan mengunggahnya di Fb. Tak kunjung bisa tidur juga.
Eh, kebelet pipis, aku turun karena di lantai dua tempatku tidur belum ada toiletnya. Ya ampun, diganggu makhluk halus dong. Aku merasa semakin aneh saja.
Aku mencari-cari di dalam batinku ini, ada apa gerangan dengan diriku? Bukan aku yang mencari, tapi Allah yang menjalankan aku mencari, aku harus menyadari ini sampai ke sumsum tulang. Aku menemukannya, Allah membuatku menemukannya.
Ternyata siang tadi batinku ini, hanya membatin loh, aku merendahkan seseorang dan aku merasa lebih tinggi dalam spiritual darinya. Aku pun menyadari kesalahanku, setelah itu perlahan rasa itu kembali. Aku bersyukur sekali.
Halus sekali ya.
Baiklah aku jelaskan.
Kalian pernah jatuh cinta 'kan? Kalian cinta 'kan sama kekasih kalian? Gimana rasanya dicintai kekasih hati? Ya begitu itu 'kan? Sedangkan rasa dicintai Allah itu sudah 'genre' yang berbeda, sudah melampaui itu, sudah "cukuplah Allah bagiku". Ketika rasa dicintai Allah itu pudar, sudah kayak orang patah hati, gelisah, susah tidur. Untungnya Allah tak membiarkanku patah hati berlama-lama.
Merendahkan siapa pun, bahkan merendahkan orang yang telah merendahkan kalian, bila dilihat dari kacamata hakekat, adalah merendahkan Allah. Karena Allahlah yang berada di balik orang-orang itu, Allahlah yang membuat skenarionya, Allahlah yang mengendalikannya. Pandang siapapun sebagai Allah.
Bila ingin disayang Allah, maka batin ini harus selalu di dalam kasih sayang kepada siapa pun. Batin musti dijaga selalu kasih sayang.
Gimana caranya kasih sayang pada orang yang petantang petenteng, sombongnya setinggi puncak Everest?
Bila memandang semuanya Allah, nanti batin ini tertuntun, akan auto memahami bila orang yang petantang petenteng itu orang yang jiwanya gelisah, butuh pengakuan dari luar. Jadi auto kasihan, lalu jadi kasih sayang saja hati itu.
Penting banget menyadari bila hati dan pikiran ini digerakkan oleh Allah juga, buktinya apa? Buktinya kamu tidak bisa mengendalikan hati dan pikiranmu sendiri. Kadang antara hati dan pikiran tidak sinkron, padahal kepinginnya sinkron 'kan?
Inginnya pikiran, hati tidak jatuh cinta pada dia, karena dia milik orang, tapi hati benar-benar tidak mau diajak kompromi, tetap saja gak bisa move on. Ada nggak yang kayak gini? Itulah buktinya bila bukan kamu yang mengendalikan isi hatimu, Allah tersangkanya.
Pikiran pun begitu, suka liar mengomentari sana sini, menilai ini itu.
Obatnya disadari saja, alias kembali ke kesadaran, alias kembali ke ketuhanan, kembali ke Allah. Pasrahkan hati dan pikiranmu ke Allah.
Begitupun ketika batin ini merendahkan orang lain, segera sadari, biar tidak mengalami kegelisahan yang kamu tak tahu apa penyebabnya.
Sebab perasaan disayang Allah itu adalah segala-galanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar