Rabu, 22 April 2026

Mengapa Lepas Hijab?

 Kemarin Innuri posting nyanyi sambil gitaran di tiktok, tapi aku kasih filter negatif film, karena nggak pakai kerudung.  Seorang teman berkomentar dong, "Kok lepas hijab?"

Alasan sebenarnya karena malas ambil kerudung di lantai bawah, capek seharian naik turun tangga.  Kondisi sudah dasteran dan siap tidur lah kok pingin rekaman.  Seniman gitu soalnya ... ehm.  Tapi kalau aku jawab persis kondisi aslinya, jadinya nggak mencerminkan jiwa Innuri yang cerewet dan kadang suka cari perkara.  Ada alasan lain yang lebih dari sebenarnya, nanti aku tulis di bagian akhir ya.

Maka di tiktok aku jawab begini.

Maaf aku termasuk di kubu yang berpendapat bila hijab itu tidak wajib.  Di surat Al ahzab 59 dan An Nur 31 , tertulis "hendaklah" bukan "diwajibkan atas kamu". sedangkan pakaian yang paling baik adalah pakaian taqwa tertulis di Al Araf 26. 

Aku sendiri pakai lepas pakai lepas jilbab itu sejak SMP.  Aku SMP tahun 80 an, di jaman jilbab belum umum dan bahkan dilarang di sekolah umum, jadinya pakai di luar sekolah tapi lepas pakai lepas sampai aku SMA, karena tidak punya teman, tidak didukung orang tua pula.  Baru ketika kuliah, mulai konsisten berjilbab, karena beranggapan jilbab itu wajib. 

Jaman kuliah dulu jarang sekali mahasiswi berjilbab, se-fakultas bisa dihitung pakai jari tangan, seangkatan cuma tiga biji.  Itupun musti siap-siap dipantau kegiatannya, bahkan aku pernah dipanggil PR III untuk diinterogasi apa saja kegiatanku di luar kuliah.  Kala itu berjilbab sudah dicurigai anti pemerintah dan anti Pancasila dah.  Berat sekali, belum lagi orang-orang yang membuli dan berkomentar miring.

Dasar idealis, Innuri tempuh saja setiap tantangannya.  Lalu ketika pacaran dengan si Hary, dibuli lagi dong, ":Jilbaban kok pacaran."  Padahal pacarannya kayak apa siiiih, wong aku dan Hary  teman sekelas dan sering satu kelompok praktikum, jadi sering ngerjain tugas bareng, asistensi bareng, kuliah bareng.  Lalu Innuri diceramahi senior-senior, "Menikah saja."  Eh ketika sudah menikah, dibilang, "Hamil palingan, kok buru-buru menikah."  Wkwkwkwk.

Begitulah, jaman itu berjilbab = berat.  Sekarang kebalikannya,  sekarang tidak berjilbab = aneh, muslim kok tidak jilbaban?   

Aku terkenang istri eyang Syamsul'alam (guru tasawufku) dan putri beliau yang tidak berjilbab.  Dari situ aku mulai lunak, tidak ngotot banget dengan pendapatku bila jilbab itu wajib, pendapatku mulai terbuka.  Jadi setelah menikah aku juga lepas pakai lepas pakai karena pemahaman baruku itu.  

Sayangnya ketika aku lepas jilbab, aku mendapat pengalaman tidak enak, yaitu dikejar-kejar lelaki yang jatuh cinta, karena dikira masih gadis padahal anakku sudah dua saat itu.  Bukan sekali dua kali aku mengalami hal itu, sering, bahkan sampai anakku empat. Lalu aku mengambil kesimpulan sendiri, bila berjilbab dan kemana-mana selalu dengan suami, itu adalah bentuk penjagaan Allah pada wanita.

Saat ini aku sudah nenek-nenek dong, tidak perlu takut ada yang jatuh cinta lagi.  Seiring perjalanan jiwa yang semakin spiritual, aku semakin yakin bila berjilbab itu bukanlah kewajiban, tetapi anjuran atau himbauan.  Karena yang menganjurkan Allah, aku lebih suka memakai jilbab.  Logikanya, kalau kita sendiri menganjurkan sesuatu dan orang melakukannya, kita jadi seneng 'kan?

Jadi berjilbab atau tidak, yang penting adalah melakukannya karena Allah, titik.  Yang di level tertingginya yaitu di level orang-orang wushul, berjilban pun digerakkan Allah, tidak berjilbabpun digerakkan Allah, karena lahaulawala quwata illabillah, tidak ada daya dan kekutatan melainkan dari Allah.

Jadi jawaban yang tepat untuk pertanyaan, mengapa melepas jilbab?  Karena Allah menghendaki demikian alias Allah menjalankan aku demikian atau dijalankan Allah demikian. 

 Sekian cerita Innuri, selamat dijalankan Allah hari ini yaa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar