Senin, 29 Juni 2026

Memperbaiki Hidup Dengan Mengubah Pola (2)

 Kejadiannya sehabis ngrasani teman sama teman-teman, lalu tiba-tiba saja aku melihat (Allah yang memperlihatkannya padaku) bila ada pola yang nempel di setiap orang, yang membuat orang-orang itu mengalami segala kejadian di dalam hidupnya.  Namun pola itu bisa diubah dengan kesadaran orang itu sendiri dan dengan kehendak Allah tentunya.  Lalu kulihat juga ada 'manusia tanpa pola'.

Di tulisan kemarin aku bercerita tentang orang yang polanya 'nolak rejeki' yang membuat orang tersebut mengalami kesulitan demi kesulitan di dalam hidupnya.  Padahal orangnya sendiri sangat menginginkan kemudahan. Siapa sih yang mau kesulitan 'kan?  Tapi dalam hidup ini apa yang kita mau tidak akan datang bila 'setelan' atau pola kita tidak selaras dengan itu

Bukan hanya orang yang tidak pandai bersyukur yang polanya 'menolak rejeki', ada orang yang merasa sudah bersyukur, tapi kenyataannya tidak.  Misalnya orang yang hobi bertengkar dengan pasangannya, itu pun pola 'menolak rejeki'.  Pasangan pun rejeki dari Allah, bertengkar terkadang karena kurang menerima pasangan apa adanya, yang artinya ya tidak bersyukur.  Lalu kariernya jadi tersendat-sendat deh.

Bersyukur itu adalah menerima segala hal di dalam hidup tanpa komplain, menerima seutuhnya, menerima bulat-bulat.

Ada juga orang yang polanya 'menolak cinta' , dikasih Allah pasangan yang baik, tapi hatinya selalu terikat pada orang lain, lalu akibatnya dipisahkan Allah dengan pasangannya itu.  Harus disadari bila segala bentuk cinta pada hakekatnya adalah cinta Allah kepadanya, hargai Allah, maka hidup akan berkelimpahan cinta.

Ada orang yang polanya 'tidak mau berubah', dia melakukan kebiasaan yang sama dari waktu ke waktu, hidupnya seperti jalan di tempat.  Menghadapi orang seperti ini, kamu tidak bisa memotivasinya untuk berubah' menjadi lebih baik, didoakan saja.

Nah, kadang saat ingin mengubah kehidupan menjadi lebih baik, ada jebakan yang cukup halus dan sulit dilalui.  Jebakannya ada di 'perasaan yang paling kuat'.  Misal ingin kariernya berkembang, lalu mengubah pola pikir dan kebiasaannya menjadi lebih positif, tapi perasaan yang paling kuat adalah nelangsa karena teman-teman sudah melaju, aku kok tetap disini, maka hidup akan mengikuti perasaan yang paling kuat ini.

Jebakan perasaan yang paling kuat ini powerful banget.  Jadi musti gimana dong?

Mengubah pola itu juga berarti mengubah perasaan yang paling kuat melalui perubahan kesadaran.  Kesadaran bahwa kita ini makhluk spiritual, bukan makhluk materi,  Sadari bila segala kejadian yang menimpa hidupmu adalah perjalananmu untuk lebih mengenal dan lebih dekat dengan Allah.  Maknai setiap tahap kehidupanmu dari 'isi'nya , bukan bungkusnya, maksudku ada pesan Tuhan yang tersembunyi dibalik peristiwa, tangkap pesanNya.

Biarkan Dia menata hidupmu, terima segalanya sebagai tanda cintaNya.  Syukuri setiap hal dengan meniadakan komplain hingga nol.

Nah, pada suatu titik, dengan kehendak dan kasih sayang Allah, kamu bisa menjadi 'manusia tanpa pola'.  Bagaimana itu bisa terjadi?  Ketika Tuhan sudah 'masuk' sepenuhnya di dalam hidupmu, lalu kamu menjadi tidak terikat lagi pada sebab-akibat.  Ketika orang lain musti berusaha keras meraih sesuatu, itulah sebab-akibat, yang kamu sudah tak perlu lagi melaluinya.  Hidupmu sudah di luar aturan main di dunia manusia, sementara kamu masih berwujud manusia.

Bagaimana?  Tertarik?  Ehm ... bila kamu masih tertarik pada kondisi diluar sebab-akibat, maka kamu tak akan kunjung sampai ke sana.  Tertariklah pada Allah, terpesonalah pada Allah, serahkanlah pada Dia bagaimana saja hidupmu ini.

(selesai)


Jumat, 26 Juni 2026

Memperbaiki Hidup Dengan Mengubah Pola ( 1 )

 Bila ingin hidupmu berubah menjadi lebih baik, ubah hambatan yang menahanmu di posisimu saat ini.  Karena ternyata kehidupan seseorang itu ada "pola"nya.  Bila mau keluar dari pusaran masalah kehidupan yang seringkali melilitmu, maka polanya juga harus diubah. 

Misal kamu selalu terperangkap dalam hubungan percintaan yang toxic, atau masalah keluarga yang itu lagi dan itu lagi, atau masalah finansial yang makin lama kok makin sulit. Apapun masalahnya, itu cuma mengikuti pola di dalamnya kamu. Jadi ya rombak polanya agar kehidupan membaik. 

Setiap orang punya pola masing-masing, termasuk kamu dan aku. 

Aku mau kasih contoh yang mudah dipahami, tentang masalah finansial. 

Ada seorang teman sekolah yang sekarang kondisinya sedang jatuh dalam kesulitan. Kusebut saja dia dengan S. Dan aku tahu apa yang membuatnya berada di posisi itu, yaitu dia mempertahankan pola yang selama ini dia jalani. Apa pola yang dia pegang? 

Yaitu pola "menolak keberlimpahan" atau "menolak rejeki". 

Ceritanya, pas awal-awal ketemu dulu, aku bagi-bagi daster buat teman-temanku cewek, termasuk S.  Lalu tak berapa lama dia komentar di grup WA, katanya dia nggak suka pakai daster, dia sukanya pakai piyama.  Waah, aku jadi merasa gimana gitu deh. 

Lalu suatu saat aku mau ngurangi baju di lemari, aku fotoin satu-satu dan aku tawarkan ke grup sekolah itu, barangkali ada yang mau. Banyak yang mau, sampai semua habis. S mau salah satu baju yang aku tawarkan, lalu aku kasih. Tak lama dia komentar di grup bila bajunya kegedean.

Sudah jelas 'kan itu adalah pola menolak rejeki. Dengan reaksinya yang seperti itu aku jadi enggan ngasih baju dia lagi walau orangnya minta. 

Oh ada satu lagi. Pernah aku mengundang teman-teman di Ngantang ke kebunku di Malang Selatan plus rekreasi ke pantai Gua Cina rencananya. Tapi rencana berubah karena ada pantai yang lagi populer yang namanya pantai Teluk Penyu.  Nah, setelah itu dia sering 'ngundat-undat'... duh apa ya bahasa Indonesianya, oh, mengungkit-ungkit, kenapa kok gak jadi ke Gua Cina, kenapa ke Teluk Penyu. Padahal menurutku Teluk Penyu pantainya lebih indah dinikmati.  Padahal ke Teluk Penyu juga aku yang bayarin tiketnya. Jadi S ini orangnya cukup njengkelin dan kurang berterimakasih. Yang auto bikin orang males berbuat baik ke dia. 

Seperti itulah pola 'menolak rejeki' yang kalau tidak diubah dengan kesadarannya sendiri, ya hidupnya jadi muter-muter dalam permasalahan yang sama. 

S musti menjadi orang yang mudah berterimakasih pada orang yang berniat baik kepadanya. Renungkan, manusia saja malas berbuat baik pada orang seperti ini, bagaimana dengan Tuhan ya? 

Beda masalah tentu beda polanya. Mau contoh lain? Atau mau diterawang Innuri tentang masalah kamu? 

Sampaikan di komentar ya. 

( bersambung ) 


Jumat, 19 Juni 2026

Melihat Wajah Allah (2)

Masih di pengalaman khalwat tahun 2024, saat aku melihat wajah Allah dari pengertian yang berbeda. 

Juga masih tentang kebiasaanku setiap hari meditasi dan zikir di lantai dua yang masih berantakan. 

Dari lantai dua itu aku bisa melihat pemandangan indah, gunung, danau, pepohonan, juga langit yang selalu berubah setiap detiknya. 

Namanya gunung Selokurung, gunung yang memberiku pengajaran ini.   Pernah sewaktu aku mengagumi keindahannya, gunung itu mengingatkan aku pada suatu ketika di masa remajaku, seseorang pernah menuliskan namanya dan namaku di sana. Ya, aku dan dia pacaran. Sejenak aku terbawa dalam kenangan dan berterimakasih kepada Allah untuk masa remaja yang indah.  Walau hubungan itu berakhir, aku mensyukurinya karena Allah jua yang menuliskan takdir itu. 

Tiba-tiba saja ada sebuah pengertian yang halus sekali, sebuah kesimpulan hati bila "Allah hanya berubah wujud".  Penjelasannya, bila kekasih masa remajaku adalah A, kemudian kekasih masa dewasaku adalah B, itu bukan berarti kekasihku berbeda, itu hanyalah Allah yang menyamar menjadi A, kemudian menjadi B. Allah hanya berubah wujud, kekasih sejatiku ya Allah itu.  Atau dengan kata lain, Allah sedang memahamkan aku, bila Dia ingin hadir sebagai kekasih.  Bukan Dia yang ditakuti karena punya neraka, Dia yang Maha Menghukum, yang untuk meraih surgaNya musti ngumpulin pahala bertumpuk-tumpuk.

Kekasih itu berarti yang terdekat dan terintim.  Saking dekatnya, kata orang Jawa 'sigarane nyowo' atau belahan jiwa, bagian tak terpisahkan dari diri kita ini. Sedangkan Allah malah nyawa kita sendiri, sudah melebihi kekasih, Dia adalah diri kita sendiri. 

Kekasih itu selalu tahu apa pun yang kita inginkan tanpa mengatakannya.  Apa pun yang tersirat di hati kita, yang terhalus sekalipun, bahkan bisikan yang diri kita sendiri tak mendengar, Allah mendengar. 

Maka maukah kita menerimaNya sebagai Sang Maha Kekasih? 

Bahkan Dia amat paham kebutuhan hambaNya, type kekasih seperti apa, maka seperti itulah dia menjelma. Ketika aku membutuhkan figur A, Dia pun mewujud, lalu ketika kebutuhanku berbeda, Allah 'ganti wujud' menjadi B. 

Apakah masih susah dimengerti? 

Karena diri sudah mengalami bila yang terlihat adalah Allah semua, orang datang dan pergi juga Allah. Jadi tidak ada yang benar-benar pergi. Aku tidak pernah kehilangan kekasih, hanya berubah tampilan, hakekatnya Allah.  Dialah Sang Maha Kekasih. 

Ketika kamu sudah memposisikan Allah sebagai kekasih, kamu otomatis merasa tak perlu berdoa minta ini itu, termasuk berdoa minta perlindungan, karena kamu yakin Sang Maha Kekasih pasti tahu semua harapanmu tanpa kamu mengatakannya. Sang Maha Kekasih pasti memenuhi semua kebutuhanmu tanpa kamu memintanya. Sang Maha Kekasih pasti membahagiakanmu dengan segala cara. Keyakinanmu utuh dan bulat, tak tergoyahkan. 

Inilah makna terdalam dari ucapan basmallah yang mengawali Surat di dalam Al Quran, atas nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itu adalah sebuah bisikan cinta dari penciptamu yang melamarmu menjadi kekasihNya. Sambutlah, jadikan Dia kekasih hatimu satu-satunya. Jangan sampai Dia merasa cintaNya bertepuk sebelah tangan.

Apakah ada pertanyaan? Yang introvert boleh inbox saja kok, hmm... banyak pembaca Innuri blog yang introvert ternyata. 


Kamis, 18 Juni 2026

Melihat Wajah Allah ( 1 )

Padahal melihat wajah Allah itu sudah bisa dialami di dunia ini (Al Baqarah 115) tapi entah mengapa ajaran yang paling terkenal adalah : "Kenikmatan yang paling tinggi di surga adalah melihat wajah Allah." Ya berarti nunggu mati dulu dong? Makanya tak banyak orang menempuh jalan ini, jalan untuk bisa melihat wajah Allah di sini, di dunia ini. 

Inilah kebenarannya, tak usah menunggu mati. Semasih hidup di dunia ini pun bisa melihat wajah Allah dan itulah kenikmatan tertinggi, keindahan terindah, kebahagiaan terbahagia. 

Ketika melihat semuanya Allah, sudah tak melihat makhluk lagi. Itu luar biasa, tak terdefinisikan rasanya.  Sampai sering nangis karena terharu akan keindahanNya. Perasaan yang susah dilukiskan dengan kata-kata.

Kalian yang menganggap Innuri salah atau sesat dalam mengartikan "melihat wajah Allah", aku berani bilang kalian pasti belum pernah melakukan khalwat 40 hari.  Nah, ketimbang nyalah-nyalahin orang, coba deh lakukan seperti yang Nabi Muhammad lakukan, khalwat 40 hari full, baru boleh menilai sesat atau tidaknya Innuri. 

Awalnya melihat 'semuanya Allah' itu waktu melakukan khalwat 40 hari yang pertama di tahun 2024. Pernah aku tulis, maka yang aku tulis sekarang yang belum pernah saja ya.

 Awalnya aku tidak berani menuliskan ini, terlalu susah dipahami orang umum dan terlalu rahasia.  Lalu aku bertemu Gus Mukhlason Rasyid di Youtube, yang membuat aku punya keberanian bercerita sampai sedetail sekarang. Ternyata itu penting  untuk menjadi referensi orang lain yang pernah mengalami atau pun belum. 

Saat khalwat di 2024 itu aku sering duduk di lantai dua rumah Ngantang yang masih berupa strukturnya saja.  Dengan tumpukan bata ringan yang aku pakai bersandar.  Aku melakukan zikir dan meditasi di situ. Dari situ aku juga bisa melihat jalan ke arah rumah masa kecilku. 

Terbayang di benakku, suasana rumah, kamarku, benda-benda kesayangan, majalah, buku, kaset, loteng tempat aku menikmati senja dengan memandang gunung dan pepohonan.  Banyak hal manis aku alami di sana, membentuk kenangan yang kurindukan.  Walau rumahnya sudah berubah, kenangan itu masih hangat seperti baru terjadi sore kemarin. 

Lalu tiba-tiba saja aku melihat itu semua Allah! Ada kesimpulan batin yang amat jelas "Allah menjelma menjadi apa saja untuk membahagiakanku." Kamarku, tumpukan majalah Gadis kesayanganku, lemari ku, jendela itu, semuanya. 

Aku sempat ragu dengan kesimpulan ini, sampai aku menelepon suamiku dan suamiku membenarkan apa yang aku rasakan. Kami berdua khalwat bareng, dia khalwat dalam keramaian. Dia di rumah Pakis, aku di Ngantang. Pelajaran yang kami terima sama. 

Aku mencari dan mencari jawaban atas pengalamanku ini. Lalu kutemukan di channel Pak Hans "Eling lan Awas" yang saat itu malah membahas kitab Tao te Ching. Aku bersyukur sekali mendapat jawaban di situ.  Berarti apa yang aku alami benar, pernah dialami oleh manusia bijak di masa lalu, bahkan lama sebelum masa Nabi Muhammad. 

Jawaban di Surat Al Baqarah 115 itu belum terpikirkan olehku saat itu. Ayat yang jarang dibahas oleh para ulama, entah mengapa, padahal jelas sekali maknanya, tak perlu tafsir yang belibet.

"Kepunyaan Allahlah Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. " 

Jadi wajah Allah itu ya semua ciptaanNya ini.  Orang yang bilang penafsiran Innuri sesat pasti belum pernah khalwat 40 hari.  Dan sebenarnya Innuri bukan menafsirkan, ayat sejelas itu tak perlu ditafsirkan. 

Kemanapun kamu menghadap, atau dengan kata lain, apa pun yang kamu hadapi, apa pun yang kamu lihat, itulah wajah Allah. Perwujudan Allah, wujude Gusti Allah kata Gus Son. Aku dan kamu itu adalah wujudnya Allah, tapi bukan Allah dan jangan ngaku-ngaku Allah. 

Allah yang sebenarnya ya tidak bisa dilihat mata fisik.  Wujudnya Allah dengan Allah itu berbeda.  Seperti wujudnya Innuri dengan Innuri itu beda, Innuri yang sebenarnya bukanlah fisik yang menua dan bakalan musnah ini.  Innuri yang sebenarnya adalah ruh / jiwa yang akan tetap hidup meskipun fisiknya tiada. 

Wujudnya Allah adalah alam semesta ini yang bisa runtuh, tetapi Allah abadi. Ruh manusialah yang bisa menyaksikan Allah. Sedangkan mata fisik manusia hanya bisa menyaksikan wujudnya Allah. 

Paham kan? 

(bersambung) 

Rabu, 17 Juni 2026

Cara Hidup Tanpa Takut dan Khawatir (3)

 "Mbak Innuri, mungkin bagi orang yang sudah tak punya masalah, bisa menjalani seperti yang mbak Innuri tulis. Tapi bagi orang yang masih banyak masalah seperti saya, bagaimana caranya? " 

Itu adalah pertanyaannya, jawabannya boleh disimak di bawah ini. 

Pada umumnya orang, akan beranggapan bila hidupnya tak ada masalah, maka bisa bahagia.

Misal, kalau tak punya hutang aku akan bahagia. Kalau anak-anak sudah selesai kuliah semua,  aku bahagia. Kalau istriku sembuh dari sakitnya aku bahagia, dll. 

Bahagia yang mensyaratkan kondisi tertentu itu bukan bahagia namanya, itu senang, atau bahagia yang sementara. 

Polanya seperti ini 'kondisi di luar diriku lah yang membuat aku bahagia'. 

Begitu kan?

Pada kenyataannya itu terbalik, tapi tak banyak orang yang tahu. Kondisi di dalam yang bahagialah yang membuat kondisi di luar membaik. Atau dengan kata lain, kondisi di luar mengikuti apa yang ada di dalam batinmu itu. 

Itulah makna dari 'bila kamu bersyukur maka Allah akan menambah nikmatmu.' 

Justru memperbaiki yang di dalam itu yang lebih penting.  Soal yang di luar Allah yang urus, bukan diri kita yang lemah ini. 

Bagaimana memperbaiki yang di dalam? Loh 'kan sudah Innuri tulis di tulisan sebelumnya, tulisan dengan judul yang sama episode 1 dan 2. Tulisan lainnya di blog ini juga mengandung tujuan itu.  Dicari saja di blog dan dibaca lagi ya. 

Nah, bahagia yang kamu dapat nanti adalah bahagia yang paten, bahagia yang sumbernya dari kedalaman batin yang paling dalam. Lebih tepat disebut suka cita atau dalam bahasa stoic disebut eudamonia. 

"Itu kan semacam menipu otak, kondisi banyak masalah, tapi dibikin happy saja. " Pernah kudengar komentar seperti ini. Jawabannya bisa panjang. nanti di tulisan tersendiri saja ya, ingetin bila Innuri lupa. 

Baik. Aku tambahkan satu lagi, yaitu kamu musti mencintai Allah.  Itulah yang membuat hidupmu selalu sukacita, karena selalu ditemani oleh Dia yang mencintaimu dan kamu cintai. Kamu tak pernah merasa sendiri, karena selalu ada Dia. Tak pernah sedih, karena selalu dibahagiakanNya. 

Dan satu lagi (dua dong ya), kamu harus kehilangan semua berhala di hatimu. Apa sih berhala di hati itu? Segala sesuatu yang membuatmu galau, itulah berhalamu. Ketika kamu percaya penuh (beriman) bahwa Dia mengendalikan segala urusanmu dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya, kamu telah menuhankan Allah dan menghambakan persoalan, kamu kehilangan berhalamu. 

Ada yang nanya lagi? 

Senin, 15 Juni 2026

Cara Hidup Tanpa Takut dan Khawatir (2)

 Apa yang akan aku sampaikan di bawah ini rentan untuk didebat dengan berbagai argumen dan dalil, bahkan rentan dituduh kafir musyrik sesat. Aku tak apa-apa, aku maklumi karena yang mendebat belum pernah mengalami. 

Tapi aku harus mengatakannya, teristimewa bagi kalian yang pernah atau bakalan mengalami kejadian yang mirip, maka kalian punya referensi pengalaman orang lain, agar tidak bingung atau takut tersesat. 

Pengalaman ini aku alami saat khalwat 40 hari di 2024, semakin nyata dan semakin dalam setelah mengalami insomnia yang aku ceritakan di blog dan di Fb. 

Pengalaman itu menjelaskan tentang wujudnya Allah tapi bukan Allah. Yang bila diambil kesimpulannya beginilah penjelasanku. 

***  Allah menjelma menjadi apa saja untuk membuat aku dan kamu bahagia. 

Allah juga menjelma menjadi apa saja dan siapa saja untuk melindungi kamu dari bahaya dan kehancuran. 

Masa lalu masa kini dan masa depan itu simultan, karena Allah juga menjelma menjadi waktu. 

Kamu dan aku abadi, karena aku dan kamu tersusun dari cinta kasih Allah. 

Bila kamu menyadari semua ini, maka kamu bakalan lupa caranya gelisah dan khawatir. 

Allah adalah masa lalu, masa kini dan masa depan, kamu dan aku selalu terayun-ayun dalam cinta kasihNya. Maka kamu tak akan sempat mengkhawatirkan ini itu, kamu menikmati hidup ini dan kamu bahagia menjalaninya. ***

Bila aku ceritakan bagaimana ketemunya aku dengan pengertian yang aku uraikan di atas, panjang sekali ceritanya. Barangkali di judul yang lain saja ya. 

Ada pertanyaan? 

Cara Hidup Tanpa Takut dan Khawatir (1)

 Apakah kamu ingin hidup tanpa rasa takut, sedih dan khawatir? 

Bila ya, boleh simak tulisanku. Aku akan sampaikan dua cara. 

Cara pertama. 

Kamu harus sadari bila di dalam dirimu Allah memberikan 2 hal yang berpasangan. Sering disebut di dalam Al Quran, Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan. Dalam Taoisme disebut yin-yang. Contohnya  panas-dingin, cemas-harap, ada kebenaran ada kepalsuan, ada kejujuran ada kebohongan. Semua di alam ini berpasangan. 

Setelah itu sadari lagi bila setiap perasaan munculnya dari dua hal, ego (hawa nafsu) atau Tuhan.   Itu sesuai dengan Al quran yang mengatakan Allah mengilhamkan ke dalam jiwa dua jalan. 

Ego mengarah pada kesedihan, kerusakan dan penderitaan, Tuhan mengarah pada kebahagiaan. 

Maka kenali lagi apa yang muncul di dalam hatimu itu nanti mengarah ke mana, jenis yang merusak atau yang membahagiakan. 

Bila jenis yang merusak, maka perlu disadari lagi lalu abaikan, kata orang Jawa 'ojok direken' alias jangan dihiraukan, cuekin, dia akan minggir sendiri sehingga yang dominan adalah yang membahagiakan. 

Ikuti terus jalan Allah, walau terasa berat dan sakit, jalan Allah pasti membawa pada kebahagiaan sampai akhirnya kamu tidak ada rasa sedih, takut dan khawatir lagi 

Itu berarti kamu harus pandai-pandai memilah isi di jiwamu, mana yang harus diikuti mana yang diabaikan saja. 

Nah, kadang sesuatu yang merusak itu menyamar menjadi sebuah kebaikan, kepekaanmu diuji di sini, namun Allah selalu menuntunmu asalkan hatimu selalu terhubung denganNya.

Semoga bisa dipahami ya. 

(bersambung) 

Jumat, 12 Juni 2026

Penolakan Hanya Menghasilkan Kesulitan

Malam ini aku begitu merasa bersalah telah menciptakan kesulitan bagi seorang Bapak sopir yang telah mengantar  barang elektronik ke rumah Ngantang.  Lalu aku mencoba melihat jernih masalah dengan menganalisa kejadian di dalam batinku sendiri, dan betapa menakjubkan ketika aku saksikan interaksi pikiran perasaan antar manusia. 

Ceritanya kami membeli beberapa barang elektronik, diantaranya mesin cuci, kulkas dan televisi untuk dikirim ke rumah Ngantang.  Pembelian di tgl 30 Mei 2026, kami minta dikirim tgl 7 Juni.  Pihak toko sudah bilang, pengiriman dilakukan oleh rekanan karena lokasinya di luar kota, jadi kami dikenakan ongkos kirim yang setara nyarter mobil pikep.

Saat pengiriman, aku sendirian di rumah, jadi aku minta tolong Pak tukang buat bantu mengangkat barang-barang itu. Kulkas di lantai satu, langsung dibuka dan aku cek kondisi normal dan baik.  Televisi di lantai dua, tetap di dalam kardus dan aku juga tidak minta dicek (salahnya aku), mesin cuci di lantai tiga, aku juga tidak ngecek karena percaya saja, tapi ternyata telah dibuka sama sopir dan pak tukang. 

Nah, tgl 11 Juni malam, suamiku dan adik iparku membuka televisi dan menyetelnya, ternyata ada retak di bagian kiri atas.  Retaknya baru kelihatan ketika televisi menyala.  Dipotret suamiku agar bisa komplain ke toko.  Tapi malam itu aku tidak bisa menghubungi customer service toko.  Kesalahan yang aneh, karena nomornya sudah benar, aku cek dua kali, aku sudah benar mengetik nomor WA itu, tapi tidak bisa dihubungi.  Maka aku menghubungi si bapak sopir yang mengantar pada 7 Juni kemarin.

Bapak sopir itu menyalahkan kami, intinya dia membela diri dan merasa sudah melakukan prosedur pengiriman dengan benar.  Dia memintaku untuk tidak lapor ke toko dan aku iyakan saja karena mungkin bapak ini takut disalahkan.   Kemudian bapak ini menelepon lagi, agar aku lapor ke asuransi saja, yang kemungkinan akan mendapat ganti 80% dari nilai barang.  Waah, kupikir rugi jutaan dong, dan ini bukan kesalahan kami.

Maka keesokkan harinya, alias hari ini tgl 12 Juni, akupun melapor ke toko, menemui costumer service dan menjelaskan kronologinya.  Kata si mbak CS, nanti bakalan dapat ganti.  Alhamdulillah.  Kupikir masalah selesai.

Ternyata masalahnya ganti, si bapak sopir kirim pesan WA untuk ketemuan sama aku.  Kerasa banget getaran rasa kecewa, sedih, galau si bapak sopir.  Salahnya jadi orang kok peka gini (Oh Allah, ampuni) Nah, disinilah aku merasa bersalah telah menjebloskan orang dalam kesulitan, padahal bukan salahku juga.  Tapi aku merasa jadi orang berhati kejam, oh!

Aku diam mengendapkan pikiranku agar bisa memandang jernih persoalan ini.  

Ternyataaa...

 Itulah aksi reaksi yang terjadi di dunia interaksi antar manusia.  Pelajaran pentingnya adalah, penolakan hanya menghasilkan kesulitan.  

Si bapak sopir menolak salah (mekanisme defensif proyeksi), melimpahkan kesalahan pada pihakku.  Terjadi mekanisme defensif pula di bawah sadarku untuk tak peduli dengan nasib si bapak yang enak saja nyalah-nyalahin dan menimbulkan kerugian pada orang lain.  Di kasus ini, aku dimenangkan walau aku tak merasa menang, malah merasa dikejar-kejar sama si bapak sopir.

Itulah kejadian tak kasat mata dibalik yang terjadi di depan mata.  Kalau terjadi di dalam mata itu namanya kelilipan ya.

Bisa beda cerita kalau si bapak mau menerima informasi dari orang lain alias mau dengerin orang lain dan berusaha membantu agar win-win solution.  Kalau mau win sendiri, malah jadi lose.  Nah !

Pikiran itu menular, membentuk proyeksi.  Seperti si bapak sopir yang mikirnya cenderung ngeles, gak ada empatinya, nular ke aku, jadi aku juga tidak berempati padanya.  Aku yang tadinya sempat mikirin nasibnya, malah jadi cuek.

Jadi kesimpulan dari ceritaku ini adalah: pertama,  penolakan hanya menghasilkan kesulitan, jadi terima apa pun.  Kedua, jangan mau win sendiri ya. Ketiga, pikiran itu menular membentuk proyeksi, jadi berhati-hatilah dengan pikiranmu.

Btw, Win itu nama temanku, dipanggil Mbah Win sejak masih kuliah, gara-gara peran dukun di drama waktu maba ... haha.

Lima Cara Menyikapi Situasi Sulit.

 Berurai air mataku menyaksikan mahasiswa demo di televisi, rasanya seperti melihat anak-anakku sendiri menyuarakan kepedihan hati rakyat.  

Aku jadi mikir, sikap batin seperti apa yang paling pas menghadapi situasi saat ini? 

Pertama musti tenang, Allah selalu membersamai, jadi merasalah dibersamai Allah. Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Dengan hati yang tenang, mudah terkoneksi dengan petunjukNya musti ngapain. Begicu ya!

Kedua harus disadari siapapun presidennya, penguasa Indonesia tetap Allah, sutradara sekaligus penulis skenario Indonesia yo Dia lagi Dia lagi, tetap Allah. Bahkan bagi orang-orang khusus yang sudah bisa melihat kesejatian, semuanya Allah, aku, kamu, Indonesia dengan segala dramanya, dunia dengan segala leluconnya. Semua itu Allah, bagi orang-orang spesial itu, batinnya sudah gak bisa goyah oleh peristiwa.

Ketiga. Terima apapun, karena semua terbuat dari kasih sayang Allah. Menolak sekecil apa pun akan membuat situasi semakin buruk.  Itulah makna bersyukur itu, setiap peristiwa, kata yang pertama terucap adalah 'Alhamdulillah' dan Allah yang akan menambah nikmatnya.  Menerima dengan suka cita setiap apa pun yang telah, sedang dan akan terjadi.

Keempat. Pahami filosofi bungkus dan isi.  Bungkus tak selalu mencerminkan isinya.  Kita manusia tidak tahu isi didalam bungkus kesempitan dan penderitaan, terima dulu nanti baru ketemu hakekatnya.  

Kelima, Innuri lupa ... haha. Sudah terpikir saat mau tidur, tapi malas menuliskannya, jadi lupa deh.

Tertulis di Al quran, bersama kesulitan ada kemudahan, jadi berbahagialah.  Apa ini yang kelima ya? Atau apa ya yang kelima?  Oh, mungkin soal jangan tenggelam dalam situasi, coba lihat situasi ini dari angkasa, jiwamu yang mengangkasa.  Jadilah penonton dari drama kehidupanmu sendiri, agar bisa melihat jernih.  

Semoga tulisan ini membantu ya.


Rabu, 10 Juni 2026

Insomnia

 Karena suatu sebab, aku berada di rumah terpencil di tengah kebun sendirian.  Berhubung lama nggak uzlah (menyendiri), maka aku sempat mengalami insomnia di tiga hari pertama dan itu pelajaran banget.

Pelajaran pertama.  

Biasanya aku menyalahkan kolesterol bila susah tidur, menganalisa aku habis makan apa ya?  Itu kalau susah tidurnya pas kondisi normal, maksudku ada suami di rumah.  Berhubung susah tidurnya pas sendirian, maka aku menganggap ini karena tidak ada suami di sampingku.  Coba cermati kalimatku di atas :

"Berhubung lama nggak uzlah (menyendiri), maka aku sempat mengalami insomnia di tiga hari pertama."

Aku menyalahkan 'lama tidak uzlah' , lalu menyalahkan kesendirian sehingga rasa takut menimbulkan ketegangan di syaraf yang membuatku susah tidur.

Itu semua adalah hubungan sebab-akibat yang masuk akal, itu bila dilihat dari kacamata orang kebanyakan.  Akan tetapi bila melihatnya dari kacamata spiritual, itu sudah menyimpang dari tauhid alias musyrik.  Kok bisa?

Karena satu-satunya sebab dari segala yang terjadi adalah Allah, itu adalah salah satu makna keesaan Tuhan.  Bila menjadikan makhluk sebagai penyebab, maka ini sudah menyalahi tauhid.  Ambil contoh yang populer, kamu berobat ke dokter, lalu sembuh, maka kamu menganggap dokter dan obat yang kamu minum itulah yang menyembuhkan, padahal di dalam Al Quran dikatakan Allahlah yang menyembuhkan.  Jadi kamu sudah menyalahi tauhid ketika menganggap obat adalah penyebab kesembuhanmu, alias kamu sudah musyrik.

Paham 'kan, Sayang?  

Bahkan aku sendiri pun harus dipahamkan dengan pengalaman.  Karena menganggap ketegangan syarat adalah penyebabnya, maka aku melakukan relaksasi dan meditasi, tapi hasilnya aku tetap tidak bisa tidur,  nah! 

Ketika aku insomnia dan menyalahkan kesendirian, ketegangan syaraf atau kolesterol sebagai penyebabnya.  Sudah musyriklah aku ini.  Inilah pelajarannya.  Harus segera disadari, bertaubat dan kembali ke Allah, bersyahadat lagi biar jadi muslim lagi.

Alhamdulillah akhirnya aku bisa tidur, walau di atas jam 12 malam.  Bagiku yang biasa tidur di bawah jam 9 malam, ini sudah insomnia dan membuat kepalaku pusing.

Pelajaran Kedua.

Di hari kedua kesendirianku, aku sudah paham bila Allahlah yang membuatku tidur, bukan penyebab apa pun.  Maka aku berangkat tidur dengan yakin sekali bila aku bakalan segera pulas.

Tapi aku masih belum bisa tidur, sampai larut malam, padahal berbaringnya sudah sejak habis isya!  Tuh bayangkan berapa jam aku glundang-glundung dan gelisah di atas tempat tidur, sebentar lihat Hp, buka Fb, IG, blog, Kwikku, beralih buka YouTube, lihat Gus Son, Pak Hans dan menyetel musik klasik Ernesto Cortazar.  Relaksasi dan meditasi.  Tetap tidak bisa tidur!

Apa sih ya Allah pelajarannya?  tanyaku pada Allah berulang-ulang.

Ternyata inilah pelajarannya.  Bila aku bersama suami, aku merasa nyaman dan aman, perasaan itu kayak sudah nyatu di jiwaku, pokoknya ada suami maka auto tenang dan tidak overthinking.  

Coba pikir.  Aku merasa tenang oleh makhluk yang hakekatnya tidak ada dan tidak memiliki kekuatan apa-apa, sedangkan bersama Allah yang selalu ada dan Maha Melindungi, yang Maha Dekat,  aku malah merasa gelisah.  Bukankah ini kebalik?  Bukankah semestinya aku merasa tenang bila bersama Allah melebihi ketenanganku bersama makhluk?  Bukankah ini berarti aku merasa makhluk lebih hebat dari Allah?  Bukankah ini berarti ketika aku bersama makhluk, aku menganggap makhluk itu ada padahal aslinya tidak ada?  Bukankah ini berarti aku menganggap ketika bersama makhluk, posisi Allah hanya sebagi 'pelengkap penderita' ?

Ohalah!  Rupanya aku memang pantas dihajar dengan insomnia yang membuat kepalaku pening.  Setelah semua itu aku sadari, Allah pun membuatku tidur setelah lewat tengah malam.

Pelajaran Ketiga.

Setelah dua pelajaran itu aku ambil, aku yakin sekali bakalan bisa tidur di malam ketiga, ternyata sampai malam menjadi sunyi sepi pun aku belum juga bisa tidur,  Sudah tidak terdengar kendaraan lewat di jalan propindi di depan sana, sudah tidak terdengar suara musik dari orang hajatan di kejauhan sana, bahkan bunyi binatang pun sudah tidak kedengaran lagi.  Kepalaku pusing tak karuan.  Sampai aku protes pada Allah.

"Ya Allah, bukankah untuk bisa membuatku tidur itu mudah saja bagiMu?  Tinggal 'kun' dan tidur, mengapa tidak Kau lakukan padaku?  Mengapa Kau siksa aku dengan kepala yang pusing begini?  Besok aku musti bangun, ke pasar dan nyiapin makanan buat tukang, tolong tidurkan aku ya Allah."

Aku sampai nangis memohon-mohon pada Allah, sampai menghabiskan tisu berlembar-lembar.

Tubuh yang lelah, kepala yang pening, mata yang pedas, membuatku terkulai lemas di titik terendahku malam itu.  Lalu kurasakan ada pijatan lembut di keningku, nyaris seperti belaian, seperti yang suamiku lakukan bila aku minta ditemani tidur.  Jadi tidur kami tidak sama jamnya, dia tidurnya jam 11 malam, tapi aku sering minta dininabobokan duluan, setelah aku tidur, dia bangun lagi melanjutkan nonton tivi atau ngapain aku tak tahu.  Ya istri yang aleman manja tak karuan aku ini.

Aku terus merasakan belaian itu sampai kepala dan mataku merasa rileks dan nyaman sekali.  Dan siapa sebenarnya yang memijatku malam itu?  Tanganku sendiri! yang bergerak sendiri tanpa aku sadari, karena aku sudah terlalu lemas untuk menggerakkan tangan.  Allahlah yang menggerakkan tanganku ini sampai aku merasa Allahlah tangan ini, Allahlah aku ini.  Aku merasa sedekat-dekatnya dengan Allah, aku merasakan ketiadaan, wushul di level yang lebih dalam dari yang pernah aku alami sebelumnya.

Anehnya, badanku tiba-tiba jadi segar, mataku melek, aku melihat kipas angin di samping tempat tidurku, itu kipas angin hadiah. Ngantang yang dingin tidak perlu kipas angin, jadi dia hanya diam saja di situ.  Dan aku melihat kipas angin itu diposisikan di tempat ini dengan perencanaan Allah mulai dulu, lalu aku melihat kipas angin itu Allah.  Aku melihat seluruh ruangan ini Allah.  Semua tiada, yang nyata hanya Allah.

Akupun menangis lagi menyadari semua ini, aku kenal siapa yang memanjakan aku selama ini, lewat suamiku, lewat rumah, kebun, mobil, lukisan, gunung, senja, apa pun dan siapapun yang membuatku bahagia dan menikmati hidup ini.  Semua itu Allah, Allah menjelma menjadi apa saja untuk membahagiakanku, bahkan Allah menjelma menjadi wujudku ini untuk membahagiakanku.  

Aku ingat, orang-orang mengalami keajaiban spiritual lewat sakit keras atau mati suri, ketika tubuh fisik dilemahkan sedemikian rupa, maka jiwa menjadi nyata dan hadirlah pengalaman yang hanya bisa diakses oleh jiwa.  Sedangkan aku, tubuh fisikku dilemahkan oleh insomnia, maka Allah hadirkan pengalaman dan kesadaran itu.

Puasa juga bentuk pelemahan fisik yang semestinya membuat jiwa lebih kuat, akan tetapi orang banyak yang salah dalam menyikapi puasa, saat berbuka menjadi momen memuaskan nafsu, sehingga penguatan jiwa tak terjadi.

Begitulah kisahku dengan insomnia.

Pada malam keempat aku sudah bisa tidur nyenyak mulai sore.  Ini hari kelima,  suamiku nanti nyusul ke Ngantang, horey!

Terimakasih Allah.

Selasa, 09 Juni 2026

Tanda Cinta Allah

 Bersliweran di beranda Fb-ku, tentang afirmasi, tentang manifestasi, yang intinya sebuah cara untuk menggapai keinginan duniawi. Dan aku tiba-tiba merasa aneh dengan diriku yang tidak seperti orang-orang itu sejak lama. 

Betapa orang-orang suka banget dipermainkan fatamorgana. Bukan salah mereka, bukan pula salahku. Hanya dua posisi yang berseberangan. 

Aku pernah di posisi itu dahulu sekali, sampai lupa itu kapan. Dan aku tak pernah sebahagia ini, ketika menyeberang dan hanya menginginkan Allah. 

Tanda cinta Allah bukan berarti terkabulnya segala keinginan. Bisa jadi sebaliknya. Maka berhentilah merasa orang-orang yang berkelimpahan materi itu orang yang beruntung. Berhentilah memandang mereka. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang sedang tertipu. 

Nyata sekali tipuan dunia. Semua akan kita tinggalkan, tapi lucunya itulah yang kita kejar. Mengejar sesuatu yang bakalan lenyap. 

Kembalilah kepada Tuhanmu wahai jiwa yang letih mengejar dunia. Kau pikir di sisi Allah tidak ada dunia. Sedangkan di sisi Allahlah akhirat dan dunia. Maka kembali kepada Allah adalah memiliki semuanya. 

Tapi bila kau ingin kembali kepada Allah untuk memiliki dunia, maka kamu tertipu lagi. Murnikanlah niatmu. Inginkanlah Dia di atas segalanya, maka Dia akan membimbingmu demi sebuah pertemuan indah denganNya. 

Aku bersama Allah, dan dunia bersamaku, akhirat juga bersamaku. Tidaklah kau iri padaku? 

Senin, 08 Juni 2026

Mensyukuri Tua

 Berapa usiamu?  Apakah kamu merasa tua?  Apakah kamu bersyukur merasa tua?  Apa yang kamu syukuri di ketuaanmu?

Tiba-tiba saja aku merenungkan pertanyaan di atas untuk diriku sendiri.  Kalian boleh menanyakan itu untuk diri kalian sendiri dan silakan jawab sendiri, analisa sendiri ... hehe.

Aku merasa tua, menjelang 60 tahun, sudah bercucu. 

Yang paling aku syukuri dari proses menua ini adalah aku semakin mengenal Allah.

Lalu aku sadari bila hidupku sudah tidak lama lagi di dunia ini, berarti waktuku untuk lepas dari penjara dunia tinggal sebentar lagi.  Bisa bertemu Allah setelah mati beneran, itu membuatku bersuka cita seperti anak SD diajak tamasya, selalu menantikan datangnya saat itu.

Kenapa begitu merindukan mati?  Bukan mati yang aku rindukan, tetapi bertemu Allah, lepas dari dunia yang sering mengalihkan aku dari Allah, itulah kerinduanku.

Apakah hidupku tidak bahagia?  Bahagia banget dong, Allah melimpahiku dengan kebahagian lahir dan batin, punya suami dan anak-anak yang membahagiakan aku.

Apakah aku tidak mencintai keluargaku kok ingin cepat mati?  Cinta dong, tapi sama Allah lebih cinta, dan anak-anakku juga sudah dewasa semua.  Suamiku?  Ehm .... suamiku juga sudah dewasa ... haha.

Itulah obrolanku dengan diriku sendiri usai maghrib hari ini.

Kamis, 04 Juni 2026

Salat Tanpa Kata ( 4 )

Adakah yang mempertanyakan meski hanya dalam hati, mengapa di dalam Al Quran tidak disebutkan tata cara salat secara rinci, gerakannya bagaimana, bacaannya juga apa saja?

Menurut Innuri nih, karena yang menurunkan Al Quran adalah Tuhan semesta alam dan Al Quran juga diturunkan untuk seluruh umat manusia.  Jadi yang menurunkan Al Quran bukan Tuhannya umat Islam saja loh ya dan Al Quran adalah kitab suci umat manusia, bukan hanya kitab sucinya umat Islam.

Karena Al Quran diturunkan untuk semuanya, maka tata cara salat pun tidak diuraikan secara rinci, mengingat beraneka ragamnya tata cara salat yang dipraktekkan manusia di muka bumi ini.  Dengan kata lain, tata cara salat itu terserah keyakinanmu, yang penting adalah jangan keluar dari hakekatnya salat, yaitu untuk bertemu Tuhan dan membentuk jiwa yang tenang.  

Faktanya adalah banyak orang melakukan salat yang sesuai syariat, tetapi tidak mendapatkan apa pun, hanya olah raga jungkat-jungkit, saat salat pikirannya kemana-mana, sedikit sekali pikirannya ke Tuhan, alih-alih bertemu Tuhan, di luar salat jiwanya juga masih gelisah. Untuk khusyu' satu detik saja susahnya minta ampun. Jangan tersinggung, aku sedang membicarakan diriku sendiri.  Kalau tersinggung, bagus juga.

Jadi banyak orang melakukan salat secara fisik saja, yang akibatnya, salat tidak mencegah dari perbuatan keji dan munkar.  Rajin salat tapi masih galau dan berkeluh kesah tentang berbagai hal.  Salat tapi maling uang rakyat, itu contoh lainnya.

Inilah beberapa catatan tentang salat di dalam Al Quran yang penting untuk diketahui agar tidak melenceng dari hakekat salat:

- jangan lalai dari salat , itu orang yang mendustakan agama (Surat Al Ma'un)

- salat untuk mengingat Allah (Surat Thaha 14)

- khusyu' dalam salat (Al Mukminun 2)

- salat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar (Al Ankabut 45)

- sabar dan salat adalah cara mohon pertolongan Allah, salat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Al Baqarah 45)

- orang yang salat tidak suka berkeluh kesah dan kikir (Al Maarij 19-23)

Poin-poin itulah yang mestinya dipertanyakan kepada diri sendiri.  Apakah masih merasa berat menjalankan salat? Apakah sudah mengingat Allah sepenuhnya saat salat? Apakah masih kikir dan suka berkeluh kesah? Apakah bisa khusyu' saat salat? 

Apakah masih menganggap salat hanya sebagai kewajiban dan jauh di bawah sadar merasa itu sebagai beban? 

Carilah cara agar bisa menjadikan salat sebagai "pertemuan yang menyenangkan" dengan Tuhan.  Kalian boleh memakai cara apa saja.  Kalau kalian memakai cara syariat bisa sekaligus hakekatnya, itu bagus.  Kalau gak bisa boleh nyontek Innuri.  Dan itulah caraku, sudah aku tulis 'kan? Kalau takut melanggar syariat, ya kerjakan diluar salat wajib.

Dengan salat tanpa kata, hati dan pikiran menjadi lebih terkoneksi dengan Tuhan.  Ada yang bilang caraku ini tidak sah walau salatnya salat sunah, dan aku jawab ra patheken, yang penting aku bertemu Tuhan dan bisa jatuh cinta padaNya dan selalu rindu berdiri, ruku' dan sujud tanpa merasa berat sama sekali.

Ingat masa remaja pas dikunjungi pacar, aduh senengnya minta ampun sampai kepingin meloncat menemui dia.  Seperti itulah gambarannya.  Suka cita saat waktu salat datang karena itu artinya ketemu dengan Sang Kekasih.

Salat dengan pikiran yang terikat pada aturan sampai takut tidak sah, itu malah menghijab hati dari Allah. Itu pengalaman Innuri, kalau pengalaman kalian beda ya tak apa-apa.

 Aku tidak mau menyembah aturan, aturan salat yang dirumuskan ulama, yang di Indonesia saja terdapat berbagai tata cara salat, golongan satu merasa lebih benar daripada yang lain.

Mengapa tidak mencari persamaannya saja yang tertulis di Al Quran?  Bukankah ini lebih damai dan lebih dekat dengan Tuhan?

Hmm.... Itu memang sudah dikehendaki Allah kok, manusia dengan segala perbedaannya. Santai saja, bersyukurlah kalian yang sudah menemukan hakekat salat yang memperindah jiwa. 

Selasa, 02 Juni 2026

Salat Tanpa Kata (3) Menemukan Cinta

Seperti menemukan sumber mata air hikmah yang tidak habis-habisnya digali dan membuatku terpana, itulah yang kurasakan saat rajin melakukan salat tanpa kata. 

Ketika tangan terangkat pertanda menyerah pada Allahu Akbar, kamu sudah terjerat dalam kebesaranNya. Rasakan dan resapi kemahabesaranNya hingga kamu tak merasakan persoalan yang memberatkan kehidupanmu lagi. Semua itu terangkat dan kamu merasa ringan. 

Letakkan kedua tanganmu bersedekap di atas pusar.  Aku bilang di atas pusar karena pusar menyimpan rahasia yang akan mempertautkanmu dengan dua ibu, ibu kandungmu dan ibu alam semesta. 

Lakukan saja ini dengan penuh penghayatan akan makna bacaan Al Fatihah yang akan kamu baca di jiwamu. Biarkan makna bacaan al fatihah bergema di dalam jiwa ragamu. 

Lalu ketika jiwamu turut tunduk ruku' dan sujud, jiwamu menghormatiNya, menyerah dalam kasih sayangNya, lalu sujud mencium bumi,  

Kamu akan merasakan cinta, betapa Dia mengurungmu dalam jeratan cinta dari segenap penjuru.  Tidak ada titik yang kosong dari cinta kasihNya.

Maka kamu pun mencium bumi dengan sepenuh cinta. Cinta yang menyatu antaramu dan penciptamu, kamu kehilangan dirimu karena terlalu menempel padaNya. Kamu bagaikan sebuah molekul air yang terbuai dalam kasih sayang lautan. Kemana saja molekul airmu bergerak, kamu akan bertemu dengan Sang Maha Cinta. 

Cinta kasih adalah dasar penciptaan langit dan bumi. Menemukan kembali cinta kasih dalam ibadah tanpa kata adalah pulang kepada kebahagiaan yang asli, aslinya dirimu yang terbuat dari cinta kasih. 

Itulah hal terindah yang kebanyakan manusia lalai dari salatnya.

Mencapai apa yang aku lukiskan di atas itu perlu proses.  Yang penting selama melakukan salat jaga terus ikatan hati, pikiran dan jiwa selalu tertaut dengan Allah yang lebih dekat dari urat lehermu itu.  Merasakan kehadirannya sepanjang salat, lalu di luar salat pun kamu tetap terpaut dengan Allah, itulah makna dari 'tidak lalai dari salat'.

Jangan mengharap sesuatu selain Allah dari salatmu, misal demi masuk surga, karena surga pun makhluk.  Apalagi berharap hal-hal yang sifatnya duniawi.  Lurus untuk Allah saja, tidak usah tolah-toleh. 

( bersambung )

Senin, 01 Juni 2026

Salat Tanpa Kata (2) Raja di Kerajaan Batin

 Kamu akan mendapatkan hikmah dan pengalaman yang begitu berbeda saat melakukan salat tanpa kata, hingga kamu akan selalu rindu melakukannya.

Di antara hikmah yang aku alami adalah merasakan di dalam diriku ini ada sebuah kerajaan kecil tapi sebesar alam semesta.  Yang namanya kerajaan ya ada rajanya dan ada rakyatnya.  Persoalannya adalah siapa rajanya dan siapa rakyatnya?  Itu terjawab ketika kita salat tanpa kata.

Baiklah untuk memperjelas, di dalam dirimu itu ada apa saja sih?  Di bagian luar ada raga, sel-sel tubuh, anggota tubuh yang menggerakkanmu, ada panca indra.  Di bagian dalam ada pikiran dengan segenap 'pasukannya', ada gudang memori tempat menyimpan 'file' kejadian di masa lalu, ada perasaan, ada keinginan, ada hawa nafsu, dan ada Allah yang lebih dekat daripada urat lehermu.  Anggaplah semua itu sebagai penghuni atau penduduk di dalam kerajaan kecilmu.

Pertanyaannya adalah, siapa yang memimpin? Siapa raja di dalam dirimu?

Ketika kamu jawab, Allah pemimpinnya.  Eits, tunggu dulu!  Bila itu hanya ucapan di bibir saja, itu bukan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Salat tanpa kata adalah salah satu cara mengenali siapa pemimpinmu, siapa raja di kerajaan batinmu yang sebenarnya.

Bila selama salat, yang berputar-putar di dalam dirimu adalah pikiranmu yang melancong kesana kemari, berarti itulah rajanya.  Biasanya sih hidupmu masih terasa tegang dan banyak kecemasan.  Pikiran suka banget mengombang-ambingkan perasaan mencemaskan berbagai hal.  Pikiran pula yang menjadikan Allah di bawah 'perintah'nya, berupa doa-doa yang bersumber dari kehendak ego.  Doa yang ngotot sampai memaksa Allah mengabulkannya. 

Nah, salat tanpa kata itulah yang akan memproses batinmu dari kerajaan batin yang dipimpin oleh selain Allah menuju kepemimpinan Allah.  Pemahaman-pemahaman yang mendalam akan makna bacaan salat akan mengantarmu ke sana, dengan bimbingan Allah tentunya.

Perlu digarisbawahi sebelum melakukan salat tanpa kata, jaga hatimu dari 'merasa melakukan salat' menjadi ' Allahlah yang menggerakkan aku salat' .  

Kenali siapa raja di kerajaan batinmu dan rasakan pergantian kekuasaan dari selain Allah menjadi Allah saja. 

Dicoba ya. 

Semoga Allah selalu membimbingmu, Sahabat.

Salat Tanpa Kata (1)

 Untuk melatih hati agar semakin peka dalam memahamiNya dan semakin dekatnya diri dengan sifat-sifatNya, cobalah salat tanpa kata, maksudku bacaan salat diucapkan di hati, bukan di bibir.  Bila kalian masih belum berani meninggalkan tata cara syariat, lakukan salat wajib seperti biasa, tapi coba lakukan salat sunah dua rekaat tapi tanpa kata yang terucapkan di bibirmu.  Ucapkan bacaan salat di hati saja disertai pemahaman yang mendalam akan makna bacaan itu.

Misalnya, saat membaca takbiratul ihram, ucap Allahu Akbar di dalam hati sampai meresap betul hingga sampai ke setiap sel-sel tubuhmu akan kemahabesaranNya.  Dalam kondisi badan yang 'dirasuki' kemahabesaranNya, kamu akan merasa kecil, persoalan-persoalanmu juga menjadi kecil, hingga kamu merasa tidak membutuhkan siapa pun selainNya.

Begitu pun saat membaca Al fatihah dan bacaan salat yang lain.  Rasakan Maha Kasih SayangNya menerangi setiap sel-sel tubuhmu, sampai seluruh raga dan jiwamu bisa merasakan kasih sayangNya.

Bacaan salat itu bacaan yang terpilih, maknanya mendalam, menyangkut kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Lakukan gerakan salat bukan hanya fisik, ruku' dan sujud dengan mengajak serta jiwamu melakukan ruku' dan sujud.  Kepatuhan, tunduk, menghamba, lakukan itu semua di dengan segenap jiwa ragamu.

Salatmu jadi lama, tapi akan sangat terasa indahnya, karena yang menggema di hatimu hanyalah bacaan salat, bukan pikiranmu yang sibuk memikirkan dunia sementara bibirmu melantunkan bacaan salat.

Gema makna bacaan salat akan terpateri di jiwamu dan itu membentuk kekuatan baru, keyakinan yang semakin dalam dan kuat.  Kamu akan merasakan salatmu menggerakkan semesta, membentuk harmoni, seperti orkestra kehidupan.  

Bagaimana bila pikiran masih kemana-mana?  Tak apa-apa, karena ini sebuah ketrampilan batin, teruslah berlatih melakukannya.  Kamu harus belajar untuk hening, memasrahkan segalanya kepada Allah, kamu harus belajar meditatif di kehidupan sehari-hari, agar bisa meditatif saat salat.  Boleh simak tulisanku yang berjudul "Perjalanan ke Dalam", di situ ada caranya.

(bersambung)