"Kenikmatan yang paling tinggi di surga adalah melihat wajah Allah." Itulah ajaran yang telah kita dengar dari lama.
Ternyata melihat wajah Allah itu tak usah menunggu mati lalu masuk surga. Semasih hidup di dunia ini pun bisa melihat wajah Allah dan itulah kenikmatan tertinggi, keindahan terindah, kebahagiaan terbahagia.
Ketika melihat semuanya Allah, sudah tak melihat makhluk lagi. Itu luar biasa, tak terdefinisikan rasanya. Sampai sering nangis karena terharu akan keindahanNya. Perasaan yang susah dilukiskan dengan kata-kata.
Kalian yang menganggap Innuri salah atau sesat dalam mengartikan "melihat wajah Allah", aku berani bilang kalian pasti belum pernah melakukan khalwat 40 hari. Nah, ketimbang nyalah-nyalahin orang, coba deh lakukan seperti yang Nabi Muhammad lakukan, khalwat 40 hari full, baru boleh menilai sesat atau tidaknya Innuri.
Awalnya melihat 'semuanya Allah' itu waktu melakukan khalwat 40 hari yang pertama di tahun 2024. Pernah aku tulis, maka yang aku tulis sekarang yang belum pernah aku ceritakan. Karena aku tidak berani menuliskan ini sebelumnya, terlalu susah dipahami umum dan terlalu rahasia. Sampai aku bertemu Gus Mukhlason Rasyid di Youtube, yang membuat aku punya keberanian bercerita sampai detail tentang pengalaman spiritualku.
Saat itu aku sering duduk di lantai dua rumah Ngantang yang masih berupa strukturnya saja, dengan tumpukan bata ringan yang aku pakai bersandar. Aku melakukan zikir dan meditasi di situ. Dari situ aku juga bisa melihat jalan ke arah rumah masa kecilku.
Terbayang di benakku, suasana rumah, kamarku, benda-benda kesayangan, majalah, buku, kaset, loteng tempat aku menikmati senja dengan memandang gunung dan pepohonan. Banyak hal manis aku alami di sana, membentuk kenangan yang kurindukan.
Lalu tiba-tiba saja aku melihat itu semua Allah! Ada kesimpulan batin yang amat jelas "Allah menjelma menjadi apa saja untuk membahagiakanku."
Aku sempat ragu dengan kesimpulan ini, sampai aku menelepon suamiku dan suamiku membenarkan apa yang aku rasakan. Kami berdua khalwat bareng, dia khalwat dalam keramaian.
Aku mencari dan mencari jawaban atas pengalamanku ini. Lalu kutemukan di channel Pak Hans "Eling lan Awas" yang saat itu malah membahas kitab Tao te Ching. Aku bersyukur sekali mendapat jawaban di situ. Berarti apa yang aku alami benar, pernah dialami oleh manusia bijak.
Sebenarnya ada jawaban di Al quran, tapi hampir tidak pernah dibahas oleh para ulama. Di Surat Al Baqarah 115.
"Kepunyaan Allahlah Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. "
Jadi wajah Allah itu ya semua ciptaanNya ini. Orang yang bilang penafsiran Innuri sesat pasti belum pernah khalwat 40 hari.
Kemanapun kamu menghadap, atau dengan kata lain, apa pun yang kamu hadapi, apa pun yang kamu lihat, itulah wajah Allah. Perwujudan Allah, wujude Gusti Allah kata Gus Son. Aku dan kamu itu adalah wujudnya Allah, tapi bukan Allah.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar