Malam ini aku begitu merasa bersalah telah menciptakan kesulitan bagi seorang Bapak sopir yang telah mengantar barang elektronik ke rumah Ngantang. Lalu aku mencoba melihat jernih masalah dengan menganalisa kejadian di dalam batinku sendiri, dan betapa menakjubkan ketika aku saksikan interaksi pikiran perasaan antara orang-orang yang membentuk kenyataan. Semua itu sinkron dengan apa yang tertulis di kitab suci.
Ceritanya kami membeli mesin cuci, kulkas dan televisi untuk dikirim ke rumah Ngantang. Pembelian di tgl 30 Mei 2026, kami minta dikirim tgl 7 Juni. Pihak toko sudah bilang, pengiriman dilakukan oleh rekanan toko karena lokasinya di luar kota, jadi kami dikenakan ongkos kirim yang setara nyarter mobil pikep.
Saat pengiriman, aku sendirian di rumah, jadi aku minta tolong tetangga yang baik hati buat bantu mengangkat barang-barang itu. Kulkas di lantai satu, langsung dibuka dan aku cek kondisi normal dan baik. Televisi di lantai dua, tetap di dalam kardus dan aku juga tidak minta dicek (salahnya aku), mesin cuci di lantai tiga, aku juga tidak ngecek karena percaya saja.
Nah, tgl 11 Juni malam, suamiku dan adik iparku membuka televisi dan menyetelnya, ternyata ada retak di bagian kiri atas. Retaknya baru kelihatan ketika televisi menyala. Dipotret suamiku agar bisa komplain ke toko. Tapi aku tidak bisa menghubungi customer service toko. Kesalahan yang aneh, karena nomornya sudah benar, aku cek dua kali, aku sudah benar mengetik nomor WA itu, tapi tidak bisa dihubungi. Maka aku menghubungi si bapak sopir yang mengantar pada 7 Juni kemarin.
Bapak sopir itu menyalahkan kami, intinya dia membela diri dan merasa sudah melakukan prosedur pengiriman dengan benar. Dia memintaku untuk tidak lapor ke toko dan aku iyakan saja karena mungkin bapak ini takut disalahkan. Kemudian bapak ini menelepon lagi, agar aku lapor ke asuransi saja, yang kemungkinan akan mendapat ganti 80% dari nilai barang. Waah, kupikir rugi dong, karena ini bukan kesalahan kami, masak harus rugi jutaan, karena televisinya harga belasan juta.
Maka keesokkan harinya, alias hari ini tgl 12 Juni, akupun melapor ke toko, menemui costumer service dan menjelaskan kronologinya. Kata si mbak CS, nanti bakalan dapat ganti. Alhamdulillah. Kupikir masalah selesai.
Masalahnya sekarang adalah si bapak sopir rupanya kena komplain dari toko, lalu beliau kirim pesan WA untuk ketemuan sama aku. Kerasa banget getaran rasa kecewa dan marah si bapak sopir. Salahnya jadi orang kok peka gini (Oh Allah, ampuni, Innuri cuma guyon) Nah, disinilah aku merasa bersalah telah menjebloskan orang dalam kesulitan, padahal bukan salahku juga. Tapi aku merasa jadi orang berhati kejam, oh!
Aku diam mengendapkan pikiranku agar bisa memandang jernih persoalan ini.
Ternyataaa...
Itulah aksi reaksi yang terjadi di dunia interaksi antar manusia. Penolakan hanya menghasilkan kesulitan. Si bapak sopir menolak salah (mekanisme defensif proyeksi), melimpahkan kesalahan pada pihakku. Terjadi mekanisme defensif pula di bawah sadarku untuk tak peduli dengan nasib si bapak yang enak saja nyalah-nyalahin dan menimbulkan kerugian pada orang lain. Di kasus ini, aku dimenangkan walau aku tak merasa menang, malah merasa dikejar-kejar sama si bapak sopir.
Itulah kejadian tak kasat mata dibalik yang terjadi di depan mata. Kalau terjadi di dalam mata itu namanya kelilipan ya.
Bisa beda cerita kalau si bapak mau menerima informasi dari orang lain alias mau dengerin orang lain dan berusaha membantu agar win-win solution. Kalau mau win sendiri, malah jadi lose. Nah !
Kadang pikiran itu menular, membentuk proyeksi. Seperti si bapak sopir yang mikirnya cenderung ngeles, gak ada empatinya, nular ke aku, jadi aku juga tidak berempati padanya. Aku yang tadinya sempat mikirin nasibnya, malah jadi cuek.
Jadi kesimpulan dari ceritaku ini adalah: pertama, penolakan hanya menghasilkan kesulitan, jadi terima apa pun. Dua, jangan mau win sendiri ya. Tiga, pikiran itu menular membentuk proyeksi, jadi berhati-hatilah dengan pikiranmu.
Btw, win itu nama temanku, dipanggil Mbah Win sejak masih kuliah, gara-gara peran dukun di drama waktu maba ... haha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar