Rabu, 10 Juni 2026

Insomnia

 Karena suatu sebab, aku berada di rumah terpencil di tengah kebun sendirian.  Berhubung lama nggak uzlah (menyendiri), maka aku sempat mengalami insomnia di tiga hari pertama dan itu pelajaran banget.

Pelajaran pertama.  

Biasanya aku menyalahkan kolesterol bila susah tidur, menganalisa aku habis makan apa ya?  Itu kalau susah tidurnya pas kondisi normal, maksudku ada suami di rumah.  Berhubung susah tidurnya pas sendirian, maka aku menganggap ini karena tidak ada suami di sampingku.  Coba cermati kalimatku di atas :

"Berhubung lama nggak uzlah (menyendiri), maka aku sempat mengalami insomnia di tiga hari pertama."

Aku menyalahkan 'lama tidak uzlah' , lalu menyalahkan kesendirian sehingga rasa takut menimbulkan ketegangan di syaraf yang membuatku susah tidur.

Itu semua adalah hubungan sebab-akibat yang masuk akal, itu bila dilihat dari kacamata orang kebanyakan.  Akan tetapi bila melihatnya dari kacamata spiritual, itu sudah menyimpang dari tauhid alias musyrik.  Kok bisa?

Karena satu-satunya sebab dari segala yang terjadi adalah Allah, itu adalah salah satu makna keesaan Tuhan.  Bila menjadikan makhluk sebagai penyebab, maka ini sudah menyalahi tauhid.  Ambil contoh yang populer, kamu berobat ke dokter, lalu sembuh, maka kamu menganggap dokter dan obat yang kamu minum itulah yang menyembuhkan, padahal di dalam Al Quran dikatakan Allahlah yang menyembuhkan.  Jadi kamu sudah menyalahi tauhid ketika menganggap obat adalah penyebab kesembuhanmu, alias kamu sudah musyrik.

Paham 'kan, Sayang?  

Bahkan aku sendiri pun harus dipahamkan dengan pengalaman.  Karena menganggap ketegangan syarat adalah penyebabnya, maka aku melakukan relaksasi dan meditasi, tapi hasilnya aku tetap tidak bisa tidur,  nah! 

Ketika aku insomnia dan menyalahkan kesendirian, ketegangan syaraf atau kolesterol sebagai penyebabnya.  Sudah musyriklah aku ini.  Inilah pelajarannya.  Harus segera disadari, bertaubat dan kembali ke Allah, bersyahadat lagi biar jadi muslim lagi.

Alhamdulillah akhirnya aku bisa tidur, walau di atas jam 12 malam.  Bagiku yang biasa tidur di bawah jam 9 malam, ini sudah insomnia dan membuat kepalaku pusing.

Pelajaran Kedua.

Di hari kedua kesendirianku, aku sudah paham bila Allahlah yang membuatku tidur, bukan penyebab apa pun.  Maka aku berangkat tidur dengan yakin sekali bila aku bakalan segera pulas.

Tapi aku masih belum bisa tidur, sampai larut malam, padahal berbaringnya sudah sejak habis isya!  Tuh bayangkan berapa jam aku glundang-glundung dan gelisah di atas tempat tidur, sebentar lihat Hp, buka Fb, IG, blog, Kwikku, beralih buka YouTube, lihat Gus Son, Pak Hans dan menyetel musik klasik Ernesto Cortazar.  Relaksasi dan meditasi.  Tetap tidak bisa tidur!

Apa sih ya Allah pelajarannya?  tanyaku pada Allah berulang-ulang.

Ternyata inilah pelajarannya.  Bila aku bersama suami, aku merasa nyaman dan aman, perasaan itu kayak sudah nyatu di jiwaku, pokoknya ada suami maka auto tenang dan tidak overthinking.  

Coba pikir.  Aku merasa tenang oleh makhluk yang hakekatnya tidak ada dan tidak memiliki kekuatan apa-apa, sedangkan bersama Allah yang selalu ada dan Maha Melindungi, yang Maha Dekat,  aku malah merasa gelisah.  Bukankah ini kebalik?  Bukankah semestinya aku merasa tenang bila bersama Allah melebihi ketenanganku bersama makhluk?  Bukankah ini berarti aku merasa makhluk lebih hebat dari Allah?  Bukankah ini berarti ketika aku bersama makhluk, aku menganggap makhluk itu ada padahal aslinya tidak ada?  Bukankah ini berarti aku menganggap ketika bersama makhluk, posisi Allah hanya sebagi 'pelengkap penderita' ?

Ohalah!  Rupanya aku memang pantas dihajar dengan insomnia yang membuat kepalaku pening.  Setelah semua itu aku sadari, Allah pun membuatku tidur setelah lewat tengah malam.

Pelajaran Ketiga.

Setelah dua pelajaran itu aku ambil, aku yakin sekali bakalan bisa tidur di malam ketiga, ternyata sampai malam menjadi sunyi sepi pun aku belum juga bisa tidur,  Sudah tidak terdengar kendaraan lewat di jalan propindi di depan sana, sudah tidak terdengar suara musik dari orang hajatan di kejauhan sana, bahkan bunyi binatang pun sudah tidak kedengaran lagi.  Kepalaku pusing tak karuan.  Sampai aku protes pada Allah.

"Ya Allah, bukankah untuk bisa membuatku tidur itu mudah saja bagiMu?  Tinggal 'kun' dan tidur, mengapa tidak Kau lakukan padaku?  Mengapa Kau siksa aku dengan kepala yang pusing begini?  Besok aku musti bangun, ke pasar dan nyiapin makanan buat tukang, tolong tidurkan aku ya Allah."

Aku sampai nangis memohon-mohon pada Allah, sampai menghabiskan tisu berlembar-lembar.

Tubuh yang lelah, kepala yang pening, mata yang pedas, membuatku terkulai lemas di titik terendahku malam itu.  Lalu kurasakan ada pijatan lembut di keningku, nyaris seperti belaian, seperti yang suamiku lakukan bila aku minta ditemani tidur.  Jadi tidur kami tidak sama jamnya, dia tidurnya jam 11 malam, tapi aku sering minta dininabobokan duluan, setelah aku tidur, dia bangun lagi melanjutkan nonton tivi atau ngapain aku tak tahu.  Ya istri yang aleman manja tak karuan aku ini.

Aku terus merasakan belaian itu sampai kepala dan mataku merasa rileks dan nyaman sekali.  Dan siapa sebenarnya yang memijatku malam itu?  Tanganku sendiri! yang bergerak sendiri tanpa aku sadari, karena aku sudah terlalu lemas untuk menggerakkan tangan.  Allahlah yang menggerakkan tanganku ini sampai aku merasa Allahlah tangan ini, Allahlah aku ini.  Aku merasa sedekat-dekatnya dengan Allah, aku merasakan ketiadaan, wushul di level yang lebih dalam dari yang pernah aku alami sebelumnya.

Anehnya, badanku tiba-tiba jadi segar, mataku melek, aku melihat kipas angin di samping tempat tidurku, itu kipas angin hadiah. Ngantang yang dingin tidak perlu kipas angin, jadi dia hanya diam saja di situ.  Dan aku melihat kipas angin itu diposisikan di tempat ini dengan perencanaan Allah mulai dulu, lalu aku melihat kipas angin itu Allah.  Aku melihat seluruh ruangan ini Allah.  Semua tiada, yang nyata hanya Allah.

Akupun menangis lagi menyadari semua ini, aku kenal siapa yang memanjakan aku selama ini, lewat suamiku, lewat rumah, kebun, mobil, lukisan, gunung, senja, apa pun dan siapapun yang membuatku bahagia dan menikmati hidup ini.  Semua itu Allah, Allah menjelma menjadi apa saja untuk membahagiakanku, bahkan Allah menjelma menjadi wujudku ini untuk membahagiakanku.  

Aku ingat, orang-orang mengalami keajaiban spiritual lewat sakit keras atau mati suri, ketika tubuh fisik dilemahkan sedemikian rupa, maka jiwa menjadi nyata dan hadirlah pengalaman yang hanya bisa diakses oleh jiwa.  Sedangkan aku, tubuh fisikku dilemahkan oleh insomnia, maka Allah hadirkan pengalaman dan kesadaran itu.

Puasa juga bentuk pelemahan fisik yang semestinya membuat jiwa lebih kuat, akan tetapi orang banyak yang salah dalam menyikapi puasa, saat berbuka menjadi momen memuaskan nafsu, sehingga penguatan jiwa tak terjadi.

Begitulah kisahku dengan insomnia.

Pada malam keempat aku sudah bisa tidur nyenyak mulai sore.  Ini hari kelima,  suamiku nanti nyusul ke Ngantang, horey!

Terimakasih Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar