Senin, 29 Juni 2026

Memperbaiki Hidup Dengan Mengubah Pola (2)

 Kejadiannya sehabis ngrasani teman sama teman-teman, lalu tiba-tiba saja aku melihat (Allah yang memperlihatkannya padaku) bila ada pola yang nempel di setiap orang, yang membuat orang-orang itu mengalami segala kejadian di dalam hidupnya.  Namun pola itu bisa diubah dengan kesadaran orang itu sendiri dan dengan kehendak Allah tentunya.  Lalu kulihat juga ada 'manusia tanpa pola'.

Di tulisan kemarin aku bercerita tentang orang yang polanya 'nolak rejeki' yang membuat orang tersebut mengalami kesulitan demi kesulitan di dalam hidupnya.  Padahal orangnya sendiri sangat menginginkan kemudahan. Siapa sih yang mau kesulitan 'kan?  Tapi dalam hidup ini apa yang kita mau tidak akan datang bila 'setelan' atau pola kita tidak selaras dengan itu

Bukan hanya orang yang tidak pandai bersyukur yang polanya 'menolak rejeki', ada orang yang merasa sudah bersyukur, tapi kenyataannya tidak.  Misalnya orang yang hobi bertengkar dengan pasangannya, itu pun pola 'menolak rejeki'.  Pasangan pun rejeki dari Allah, bertengkar terkadang karena kurang menerima pasangan apa adanya, yang artinya ya tidak bersyukur.  Lalu kariernya jadi tersendat-sendat deh.

Bersyukur itu adalah menerima segala hal di dalam hidup tanpa komplain, menerima seutuhnya, menerima bulat-bulat.

Ada juga orang yang polanya 'menolak cinta' , dikasih Allah pasangan yang baik, tapi hatinya selalu terikat pada orang lain, lalu akibatnya dipisahkan Allah dengan pasangannya itu.  Harus disadari bila segala bentuk cinta pada hakekatnya adalah cinta Allah kepadanya, hargai Allah, maka hidup akan berkelimpahan cinta.

Ada orang yang polanya 'tidak mau berubah', dia melakukan kebiasaan yang sama dari waktu ke waktu, hidupnya seperti jalan di tempat.  Menghadapi orang seperti ini, kamu tidak bisa memotivasinya untuk berubah' menjadi lebih baik, didoakan saja.

Nah, kadang saat ingin mengubah kehidupan menjadi lebih baik, ada jebakan yang cukup halus dan sulit dilalui.  Jebakannya ada di 'perasaan yang paling kuat'.  Misal ingin kariernya berkembang, lalu mengubah pola pikir dan kebiasaannya menjadi lebih positif, tapi perasaan yang paling kuat adalah nelangsa karena teman-teman sudah melaju, aku kok tetap disini, maka hidup akan mengikuti perasaan yang paling kuat ini.

Jebakan perasaan yang paling kuat ini powerful banget.  Jadi musti gimana dong?

Mengubah pola itu juga berarti mengubah perasaan yang paling kuat melalui perubahan kesadaran.  Kesadaran bahwa kita ini makhluk spiritual, bukan makhluk materi,  Sadari bila segala kejadian yang menimpa hidupmu adalah perjalananmu untuk lebih mengenal dan lebih dekat dengan Allah.  Maknai setiap tahap kehidupanmu dari 'isi'nya , bukan bungkusnya, maksudku ada pesan Tuhan yang tersembunyi dibalik peristiwa, tangkap pesanNya.

Biarkan Dia menata hidupmu, terima segalanya sebagai tanda cintaNya.  Syukuri setiap hal dengan meniadakan komplain hingga nol.

Nah, pada suatu titik, dengan kehendak dan kasih sayang Allah, kamu bisa menjadi 'manusia tanpa pola'.  Bagaimana itu bisa terjadi?  Ketika Tuhan sudah 'masuk' sepenuhnya di dalam hidupmu, lalu kamu menjadi tidak terikat lagi pada sebab-akibat.  Ketika orang lain musti berusaha keras meraih sesuatu, itulah sebab-akibat, yang kamu sudah tak perlu lagi melaluinya.  Hidupmu sudah di luar aturan main di dunia manusia, sementara kamu masih berwujud manusia.

Bagaimana?  Tertarik?  Ehm ... bila kamu masih tertarik pada kondisi diluar sebab-akibat, maka kamu tak akan kunjung sampai ke sana.  Tertariklah pada Allah, terpesonalah pada Allah, serahkanlah pada Dia bagaimana saja hidupmu ini.

(selesai)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar