Juga masih tentang kebiasaanku setiap hari meditasi dan zikir di lantai dua yang masih berantakan.
Dari lantai dua itu aku bisa melihat pemandangan indah, gunung, danau, pepohonan, juga langit yang selalu berubah setiap detiknya.
Namanya gunung Selokurung, gunung yang memberiku pengajaran ini. Pernah sewaktu aku mengagumi keindahannya, gunung itu mengingatkan aku pada suatu ketika di masa remajaku, seseorang pernah menuliskan namanya dan namaku di sana. Ya, aku dan dia pacaran. Sejenak aku terbawa dalam kenangan dan berterimakasih kepada Allah untuk masa remaja yang indah. Walau hubungan itu berakhir, aku mensyukurinya karena Allah jua yang menuliskan takdir itu.
Tiba-tiba saja ada sebuah pengertian yang halus sekali, sebuah kesimpulan hati bila "Allah hanya berubah wujud". Penjelasannya, bila kekasih masa remajaku adalah A, kemudian kekasih masa dewasaku adalah B, itu bukan berarti kekasihku berbeda, itu hanyalah Allah yang menyamar menjadi A, kemudian menjadi B. Allah hanya berubah wujud, kekasih sejatiku ya Allah itu. Atau dengan kata lain, Allah sedang memahamkan aku, bila Dia ingin hadir sebagai kekasih. Kekasih itu berarti yang terdekat dan terintim.
Bayangkan pemahaman tentang Tuhan di mata kebanyakan orang. Sudahlah Tuhan posisinya di atas sana, yang Maha Menghukum bila kita salah, yang untuk melihat wajahNya kita musti mengumpulkan pahala dulu agar masuk surgaNya. Tuhan yang kita takuti.
Ternyata Tuhan ingin hadir di hati kita sebagai kekasih. Kekasih itu dekat, amat dekat, kata orang Jawa 'sigarane nyowo' artinya bagian tak terpisahkan dari diri kita ini. Kekasih itu selalu tahu apa pun yang kita inginkan tanpa mengatakannya, apa pun yang tersirat di hati kita.
Maka maukah kita menerimaNya sebagai Sang Maha Kekasih?
Bahkan Dia amat paham kebutuhan hambaNya, type kekasih seperti apa, maka seperti itulah dia menjelma. Ketika aku membutuhkan figur A, Dia pun mewujud, lalu ketika kebutuhanku berbeda, Allah 'ganti wujud' menjadi B.
Apakah masih susah dimengerti?
Karena yang terlihat Allah semua, orang datang dan pergi juga Allah. Jadi tidak ada yang benar-benar pergi. Aku tidak pernah kehilangan kekasih, hanya berubah tampilan, hakekatnya Allah. Dialah Sang Maha Kekasih.
Ketika kamu sudah memposisikan Allah sebagai kekasih, kamu otomatis merasa tak perlu berdoa minta ini itu, termasuk berdoa minta perlindungan, karena kamu yakin Sang Maha Kekasih pasti tahu semua harapanmu tanpa kamu mengatakannya. Sang Maha Kekasih pasti memenuhi semua kebutuhanmu tanpa kamu memintanya. Sang Maha Kekasih pasti membahagiakanmu dengan segala cara. Keyakinanmu utuh dan bulat, tak tergoyahkan.
Sudahkah kalian menjadikan Allah kekasih hatimu?
Apakah ada pertanyaan? Yang introvert boleh inbox saja kok, hmm... banyak pembaca Innuri blog yang introvert ternyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar