Rabu, 05 Agustus 2026

Mengapa Kosong Itu Penting?

 Banyak cerita kudengar, seseorang mendapatkan hidup yang luar biasa setelah mengalami kebuntuan lalu menyerah, seolah bilang,"Terserah Engkau, ya Tuhan."  Batinnya sudah kosong karena nggak tahu mau ngapain lagi untuk menolong dirinya sendiri, tetapi di titik itu dia justru mendapat solusi, seperti pembuka jalan.  Itulah 'fenomena kosong' yang mendatangkan pertolongan Allah.  Bila setelah itu si orang tadi bisa mempertahankan kekosongan itu, ya hidupnya bakalan dibanjiri dengan kejaiban demi keajaiban, kebahagiaan demi kebahagiaan.

Mengapa 'kosong' begitu penting?  Kosong dalam arti sudah 'berpasrah bongkokan' pada Allah, sudah tak lagi memikirkan bagaimana jalan keluar, bagaimana solusi, atau bagaimana usaha mencapai ini dan itu?  Kosong dalam arti mengalir saja, melangkah seperti wayang, terserah Sang Maha Dalang.

Mengapa kosong begitu penting?

Ketika kita kosong, Allah yang turun tangan memperbaiki kehidupan kita ini.  Sebaliknya ketika kita merasa bisa, Allah lepas tangan dong, wong kitanya merasa bisa.

Tapi manusia 'kan wajib berikhtiar, lalu hasilnya terserah Allah?  tanyamu.

Ikhtiarnya manusia itu bisa di level iman, di level pikiran, di level perbuatan.  Orang yang sudah kosong itu kebanyakan  sudah tidak bisa lagi berikhtiar di level pikiran dan perbuatan, jadi sudah menyerah alias secara iman dia sudah percaya bila hanya Allah yang bisa, manusia tidak bisa apa-apa.

Jadi bila ada orang yang terlihatnya seperti 'tidak ngapa-ngapain' sementara hatinya sedang menyerah kepada Allah, itulah ikhtiar di level iman.  Nanti Allahlah yang menggerakkan alam semesta ini, termasuk menggerakkan orang itu dalam mewujudkan kehendak Tuhan yang terindah.  Manusianya hanya menikmati setiap momen, mensyukuri setiap hal, sudah nggak tolah-toleh lagi.

Faham 'kan Sayang?

Minggu, 02 Agustus 2026

Pelajaran Dari Anak

 Ada curhatan dari beberapa sahabat Innuri tentang anak (herannya kok masalahnya sama, tentang anak) yang bikin aku jadi teringat dengan Tom Hanks dan Brad Pitt, sekaligus teringat Dr Masaru Emoto.  Karena aku begitu kagum pada ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button. 

Aku juga teringat Dr Masaru Emoto karena eksperimennya dengan kata-kata yang memengaruhi struktur air, karena mendidik anak itu berhubungan dengan kata-kata.

Bagaimana ibu Forrest Gump  mengatakan kalimat-kalimat yang mengagumkan tentang sang anak yang menderita disabilitas fisik dan kecerdasan rendah, sampai anaknya menjadi orang hebat di kemudian hari.  Sedangkan ibu angkatnya Benjamin Button menganggap kehadiran bayi aneh adalah sebuah keajaiban dan kemudian merawat bayi aneh tersebut dengan penuh cinta.  Pasti tahu 'kan kedua film itu dibintangi Tom Hanks dan Brad Pitt, itu film yang terkenal sekali.

Walau hanya film, walau film itu tak sama dengan dunia nyata yang kompleks ini, tetapi ada pelajaran yang bisa diambil dari kedua ibu hebat itu, ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button, yaitu 'menerima dengan penuh cinta' yang menghasilkan 'mukjizat'.  Kalimat-kalimat positif yang diucapkannya tentang si anak mengingatkanku pada Dr Masaru Emoto dengan percobaannya pada air.  Bila setiap kata memengaruhi struktur air, pasti memengaruhi manusia juga 'kan?

Aku sendiri bukanlah ibu yang baik dan aku sering sekali memperlakukan anak-anakku dengan salah, bahkan sampai setua ini, jadi tulisan ini bukan bermaksud menggurui ya, ini tulisan dari 'sesama pelajar'.  Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, makanya orang tua sering melakukan kesalahan sementara dia merasa itu untuk tujuan yang benar.  

Beberapa hal bodoh yang sering orang tua (nunjuk diri sendiri) lakukan terhadap anak:

- membandingkan anak dengan anak orang lain atau dengan saudaranya yang lebih hebat, ini bikin anak jadi minder.

- menyepelekan perasaan anak, misal 'gitu aja kok nangis', 'gitu aja takut' , dsb.

- merendahkan anak dengan harapan dia akan terpacu untuk bertumbuh

- mendidik dengan ego, merasa lebih tahu dan lebih pintar dari si anak

- jarang memberi apresiasi (kurang menghargai), seringnya mengoreksi dan menyalahkan.

- terlalu mengatur anak sehingga tidak memberi kesempatan anak untuk memilih.

- dll boleh tambahkan sendiri.

Kalau secara spiritual, orang-orang terdekat seperti anak dan pasangan, adalah "penyampai pesan Tuhan". Bahkan anak bisa jadi guru spiritual yang menyamar.  Ketika kamu semakin baik, maka kondisinya anak bakalan membaik.  Jadi yang dikoreksi bukannya si anak, melainkan dirimu sendiri itu loh, eh diriku sendiri juga ding.

 Jadi ketika ada masalah dengan anak, yang dipertanyakan duluan adalah ,"Apa sih pesan Allah lewat peristiwa ini?"  Setelah itu biarkan petunjuk Allah mengalir dan lakukan sesuai petunjuk itu.  Ini memang tidak sesederhana yang Innuri katakan.  Tapi minimal kamu menerima anak baik positif maupun negatifnya, kamu berdamai dengan kondisi anak, berprasangka baik pada Allah apa pun kondisinya dan terus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Intinya, kamu menerima anak dengan cinta dan mengajarinya untuk mencinta.  Ini aku cetak tebal ya, itulah yang aku pelajari dari dua film terkenal itu dan film hidupku sendiri.

Di level spiritual yang lebih dalam lagi, kamu akan menyadari bila segala sesuatu  di dalam kendali Allah, termasuk perasaanmu, perasaan anak, segala yang dilakukan olehmu dan anak, semua itu Allah yang menggerakkan.  Di sini sudah tidak ada yang salah atau benar, manusia hanyalah wayang di tangan sang Dalang.  Jadi segala usahamu untuk anak, kamu tidak merasa melakukan, tetapi Allahlah yang menggerakkanmu melakukannya.  Di level ini, batinmu sudah damai sekali, kamu tak lagi resah, kamu hanya percaya penuh pada Allah dan kemungkinan terjadi, anak-anakmu akan membaik seperti mukjizat!

Semoga tulisan ini membantu.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Menembus Logika

 "Mbak Innuri, gimana sih caranya agar bisa 100% menerima?  Aku terbiasa berpikir logis, jadi apa-apa kalau sudah masuk di pikiranku, baru aku bisa menerima."

Adakah yang punya masalah seperti si penanya?  Yuuk nikmati teh dan onde-ondenya.

Itu salah satu sisi kurang ajarnya pikiran, tapi tak perlu dibenci karena orang hidup butuh pikiran. 

Yang perlu diluruskan adalah tak semua hal bisa dilogikakan. 

Bagaimana bisa pikiran yang terbatas mampu memahami sesuatu yang tak terbatas, seperti kasih sayang Allah yang tidak terbatas atau alam semesta ini?

Karena pikiran itu terbatas, maka proses berpikir bukan satu-satunya cara memahami sesuatu. Letakkan semua pada tempatnya masing-masing. 

Untuk menerima sebuah kejadian di dalam hidup ini, maka diperlukan 'wawasan keimanan' yang mencakup bagaimana setiap kejadian diturunkan Allah padamu dengan kasih sayang. 

Kejadian ditipu orang misalnya. Secara materi kamu rugi, tapi ingat kamu bukan makhluk materi, kamu makhluk spiritual. Maka secara spiritual kamu beruntung karena mendapatkan kesempatan belajar bahwa di dunia ini tidak ada satupun yang kita miliki, materi bisa datang dan pergi sesuka takdir menuliskannya, atau kamu akan mendapatkan pelajaran / hikmah yang lain.  Itulah proses menerima peristiwa 'ditipu orang' dengan iman.  Kalau dengan logika pasti sulit, kamu pasti mendendam pada orang yang telah menipumu bertahun-tahun.

Bagaimana kalau menolak?  Marah, tidak terima atau mendendam itu tanda-tanda penolakan.  Kalau menolak ya kamu akan memelihara sampah kemarahan itu bertahun-tahun sampai kamu bisa menerima.  Atau kamu bakalan mengalami peristiwa yang mirip karena kamunya tak kunjung mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Jadi bagaimana menurutmu?  Pilih menerima walau tidak masuk di pikiranmu ataukah menolak karena tidak logis?  Atau kamu punya contoh peristiwa apa yang membuatmu susah untuk menerima?