Ada curhatan dari beberapa sahabat Innuri tentang anak (herannya kok masalahnya sama, tentang anak) yang bikin aku jadi teringat dengan Tom Hanks dan Brad Pitt, sekaligus teringat Dr Masaru Emoto. Karena aku begitu kagum pada ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button.
Aku juga teringat Dr Masaru Emoto karena eksperimennya dengan kata-kata yang memengaruhi struktur air, karena mendidik anak itu berhubungan dengan kata-kata.
Bagaimana ibu Forrest Gump mengatakan kalimat-kalimat yang mengagumkan tentang sang anak yang menderita disabilitas fisik dan kecerdasan rendah, sampai anaknya menjadi orang hebat di kemudian hari. Sedangkan ibu angkatnya Benjamin Button menganggap kehadiran bayi aneh adalah sebuah keajaiban dan kemudian merawat bayi aneh tersebut dengan penuh cinta. Pasti tahu 'kan kedua film itu dibintangi Tom Hanks dan Brad Pitt, itu film yang terkenal sekali.
Walau hanya film, walau film itu tak sama dengan dunia nyata yang kompleks ini, tetapi ada pelajaran yang bisa diambil dari kedua ibu hebat itu, ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button, yaitu 'menerima dengan penuh cinta' yang menghasilkan 'mukjizat'. Kalimat-kalimat positif yang diucapkannya tentang si anak mengingatkanku pada Dr Masaru Emoto dengan percobaannya pada air. Bila setiap kata memengaruhi struktur air, pasti memengaruhi manusia juga 'kan?
Aku sendiri bukanlah ibu yang baik dan aku sering sekali memperlakukan anak-anakku dengan salah, bahkan sampai setua ini, jadi tulisan ini bukan bermaksud menggurui ya, ini tulisan dari 'sesama pelajar'. Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, makanya orang tua sering melakukan kesalahan sementara dia merasa itu untuk tujuan yang benar.
Beberapa hal bodoh yang sering orang tua (nunjuk diri sendiri) lakukan terhadap anak:
- membandingkan anak dengan anak orang lain atau dengan saudaranya yang lebih hebat, ini bikin anak jadi minder.
- menyepelekan perasaan anak, misal 'gitu aja kok nangis', 'gitu aja takut' , dsb.
- merendahkan anak dengan harapan dia akan terpacu untuk bertumbuh
- mendidik dengan ego, merasa lebih tahu dan lebih pintar dari si anak
- jarang memberi apresiasi (kurang menghargai), seringnya mengoreksi dan menyalahkan.
- terlalu mengatur anak sehingga tidak memberi kesempatan anak untuk memilih.
- dll boleh tambahkan sendiri.
Kalau secara spiritual, orang-orang terdekat seperti anak dan pasangan, adalah "penyampai pesan Tuhan". Bahkan anak bisa jadi guru spiritual yang menyamar. Ketika kamu semakin baik, maka kondisinya anak bakalan membaik. Jadi yang dikoreksi bukannya si anak, melainkan dirimu sendiri itu loh, eh diriku sendiri juga ding.
Jadi ketika ada masalah dengan anak, yang dipertanyakan duluan adalah ,"Apa sih pesan Allah lewat peristiwa ini?" Setelah itu biarkan petunjuk Allah mengalir dan lakukan sesuai petunjuk itu. Ini memang tidak sesederhana yang Innuri katakan. Tapi minimal kamu menerima anak baik positif maupun negatifnya, kamu berdamai dengan kondisi anak, berprasangka baik pada Allah apa pun kondisinya dan terus memperbaiki diri di hadapan Allah.
Intinya, kamu menerima anak dengan cinta dan mengajarinya untuk mencinta. Ini aku cetak tebal ya, itulah yang aku pelajari dari dua film terkenal itu dan film hidupku sendiri.
Di level spiritual yang lebih dalam lagi, kamu akan menyadari bila segala sesuatu di dalam kendali Allah, termasuk perasaanmu, perasaan anak, segala yang dilakukan olehmu dan anak, semua itu Allah yang menggerakkan. Di sini sudah tidak ada yang salah atau benar, manusia hanyalah wayang di tangan sang Dalang. Jadi segala usahamu untuk anak, kamu tidak merasa melakukan, tetapi Allahlah yang menggerakkanmu melakukannya. Di level ini, batinmu sudah damai sekali, kamu tak lagi resah, kamu hanya percaya penuh pada Allah dan kemungkinan terjadi, anak-anakmu akan membaik seperti mukjizat!
Semoga tulisan ini membantu.