Sabtu, 01 Agustus 2026

Menembus Logika

 "Mbak Innuri, gimana sih caranya agar bisa 100% menerima?  Aku terbiasa berpikir logis, jadi apa-apa kalau sudah masuk di pikiranku, baru aku bisa menerima."

Adakah yang punya masalah seperti si penanya?  Yuuk nikmati teh dan onde-ondenya.

Itu salah satu sisi kurang ajarnya pikiran, tapi tak perlu dibenci karena orang hidup butuh pikiran. 

Yang perlu diluruskan adalah tak semua hal bisa dilogikakan. 

Bagaimana bisa pikiran yang terbatas mampu memahami sesuatu yang tak terbatas, seperti kasih sayang Allah yang tidak terbatas atau alam semesta ini?

Karena pikiran itu terbatas, maka proses berpikir bukan satu-satunya cara memahami sesuatu. Letakkan semua pada tempatnya masing-masing. 

Untuk menerima sebuah kejadian di dalam hidup ini, maka diperlukan 'wawasan keimanan' yang mencakup bagaimana setiap kejadian diturunkan Allah padamu dengan kasih sayang. 

Kejadian ditipu orang misalnya. Secara materi kamu rugi, tapi ingat kamu bukan makhluk materi, kamu makhluk spiritual. Maka secara spiritual kamu beruntung karena mendapatkan kesempatan belajar bahwa di dunia ini tidak ada satupun yang kita miliki, materi bisa datang dan pergi sesuka takdir menuliskannya, atau kamu akan mendapatkan pelajaran / hikmah yang lain.  Itulah proses menerima peristiwa 'ditipu orang' dengan iman.  Kalau dengan logika pasti sulit, kamu pasti mendendam pada orang yang telah menipumu bertahun-tahun.

Bagaimana kalau menolak?  Marah, tidak terima atau mendendam itu tanda-tanda penolakan.  Kalau menolak ya kamu akan memelihara sampah kemarahan itu bertahun-tahun sampai kamu bisa menerima.  Atau kamu bakalan mengalami peristiwa yang mirip karena kamunya tak kunjung mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Jadi bagaimana menurutmu?  Pilih menerima walau tidak masuk di pikiranmu ataukah menolak karena tidak logis?  Atau kamu punya contoh peristiwa apa yang membuatmu susah untuk menerima? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar