Rabu, 25 Maret 2026

Salat Daim. (4)

 Ruku dan sujud itu menggambarkan sikap jiwa yang tunduk dan patuh kepadaNya. .

Doa yang diucapkan saat ruku dan sujud adalah Maha Suci Allah, Maha Mulia Allah, Maha Tinggi Allah dan segala puji bagiNya. 

Maksudnya kamu harus menginstal ke dalam jiwamu sifat-sifat Allah ini agar hatimu jadi suci, mulia dan tinggi. Tapi jangan merasa menginstal juga, Allah yang melakukannya, Allah yang menggerakkan ruhanimu melakukannya. Ini sering aku bilang karena sepenting itu. 

Bila kamu merasa suci dan mulia, itu sudah kesombongan. Tapi bila kamu menyadari bila itu karena Allah, ya santai saja, kosong, kosong tapi isi. Jiwa yang kosong tapi isi ini jiwa yang tenang, tidak berisik, tidak bergemuruh, tidak banyak pertanyaan tentang kehidupan karena sudah dipahamkan Allah akan semuanya. Itu jiwa yang indah dan merdeka. 

Sujud melambangkan kerendahan hati di hadapan Yang Maha Tinggi. Di dalam kehidupan ini segala sesuatu dikendalikan Allah, termasuk perilaku orang-orang sekelilingmu sampai debu yang beterbangan.  Jadi ketika kamu melihat semua itu, yang kamu lihat ya Allahnya, dengan kata lain Allah yang sedang berada di hadapanmu (dan di dalam dirimu). Dengan demikian hatimu bisa merendah dalam posisi apapun.  Paham kan maksudku? 

Sujud juga momen terdekat antara makhluk-khaliq, ketika bisikan terhalus seorang hamba terasa didengar dengan nyata. Tempat seorang hamba berintim-intim dengan Penciptanya. Sujud bisa begitu indah sampai berlama-lama, apalagi sujudnya jiwa. 

Sujud itu mencium bumi, mencintai asal muasal kita, dari bumi juga jaringan tubuh kita tersusun membentuk kekuatan fisik untuk melaksanakan misinya di atas bumi. Menghargai bumi adalah menghargai diri kita sendiri karena kita tak pernah terlepas darinya, kita adalah bagian dari bumi. Jangan berjalan dengan sombong di atasnya. Rendah hatilah seperti bumi.

Doa yang diucapkan sewaktu duduk antara dua sujud itu artinya kurang lebih begini:

Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rizki, berilah aku petunjuk,  sehatkanlah aku dan sayangilah aku. 

Pada umumnya orang yang melakukan salat, menganggap doa antara dua sujud itu adalah permintaan. Yang namanya permintaan itu berarti meminta yang belum dia punya.  Padahal kalau direnungkan, semua yang disebut di dalam doa itu sudah dia punya, sudah Allah berikan. 

Allah sudah mengasihinya, sudah mencukupi, memberinya rizki, dsb.  Jadi sebenarnya doa yang terucap itu untuk menegaskan bila yang bisa memberikan semua itu adalah Allah, itu doa untuk bersyukur dan agar manusia tidak mengaku-ngaku yang mencukupinya adalah hasil kerja kerasnya, yang memberi petunjuk adalah ilmu yang dipelajarinya, dst. 

Walaupun saat berdoa memohon dikasih kesehatan, kita dalam keadaan sakit, sebaiknya sikap batin merasakan 'sudah dikasih Allah sehat'.  Itu bentuk prasangka baik kepada Allah dan membentuk pikiran bawah sadar 'sehat'.   Pikiran bawah sadar itu powerfull.  Mungkin lain kali aku cerita soal ini lebih mendalam. 

Salat syariat ditutup dengan bacaan tahiyat lalu mengucap salam ke kanan dan ke kiri. 

Di dalam bacaan tahiyat ada pernyataan segala kebiakan, keberkahan, keselamatan adalah dari Allah. Juga doa untuk para Nabi , leluhur dan diri sendiri berikut orang-orang seperjalanan spiritual, dan ada pernyataan-pernyataan syahadat.  

Entah mengapa, bacaan tahiyat ini mengingatkanku akan teori ketidaksadaran kolektif Carl Gustav Jung, dimana di dalam diri setiap manusia ada memori yang tersimpan yang merupakan memori seluruh umat manusia sejak jaman dahulu hingga sekarang.  

Kalau dikaitkan dengan teori Jung, ada benang merah yang menyatukan manusia jaman dulu, sekarang dan masa depan, benang merahnya itu adalah tauhid. 

Sedangkan bacaan salam ke kanan dan ke kiri adalah isyarat menyebarkan keselamatan dan kedamaian ke sekeliling kita. 

Orang yang rajin salat syariat tapi di luar salat suka menyebarkan kebencian dan permusuhan, sama saja dengan tidak salat. Sebaliknya orang yang selalu menyebarkan kebaikan dan kedamaian ke lingkungannya, dia sudah salat secara jiwa. 

Begitulah hasil renunganku tentang salat daim. Semoga bermanfaat ya. I love you. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar