Jumat, 20 Februari 2026

Perjalanan ke Dalam (7) Mencicipi Surga

 Mungkin kamu pernah mendengar atau membaca hadits tentang perbandingan kehidupan dunia dan akhirat.  Celupkan ujung jarimu ke air laut, air yang menempel di jarimu itu ibarat kehidupan dunia, sedangkan lautan luas itu adalah kehidupan akhirat. 

Dan ini ayat Al Quran yang menerangkan kondisi batin penduduk surga:

- Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada di hati mereka (Al Hijr 47)

- ... dan kami cabut segala macam kedengkian yang berada di dalam dada mereka ... (Al Araf 43)

Kalau kita gabungkan ketiga dalil itu, maka sebenarnya kita bisa hidup di surga sejak sekarang, sejak Allah perjalankan diri kita menuju kefanaan / ketiadaan,  Tulisan panjangku di  Menempuh Lapisan Indra  melahirkan tulisan Perjalanan ke Dalam 1 sampai 7 , karena pertanyaan dari pembaca blog ini. Aslinya karena Allah dan Allah yang menulis. Bila kamu mengikuti kedelapan tulisan itu, kamu pasti paham ke mana arah perjalanan ini.  

Perjalanan ini arahnya menuju akhirat, aku ajak mati', yang dimatikan adalah ego, yang dihidupkan adalah ketuhanan di dalam dirimu, kamu menyatu dengan Tuhan dan kamu hidup di akhirat, tempatmu di akhirat adalah surga, sejak di dunia ini.

Adam Hawa diturunkan ke bumi gara-gara makan buah kuldi, buah kuldi itu ternyata adalah ego!  Ketika kamu sudah berhenti memberi makan egomu, kamu kembali ke surga.  Perjalananmu menuju surga abadi ini bukanlah perjalananmu, bukan kamu tetapi Allah, kamu diperjalankan Allah.

Digambarkan kondisi batin orang-orang yang sudah masuk surga itu lenyapnya dendam dan tercerabutnya rasa dengki, yang berarti bila seseorang sudah dilenyapkan rasa dendam dan benci oleh Allah, dia masuk surga dah, sejak di dunia ini.  Orang-orang tercerahkan itu hatinya penuh kasih, tidak ada ruang untuk dendam dan benci, isinya cuma cinta kasih thok thok thok. 

Aku akan cerita soal pengalamanku, pernah kutulis di sini sih tapi gak ketemu saking banyaknya artikelku. Aku tuh kalau membaca terjemah Al Quran, sering mengalami 'dimasukkan' dalam suasana yang sedang aku baca, seperti terjun lewat lubang waktu dan mak njekuthuk dihadirkan di masa itu.  Misalnya pas membaca ayat tentang peperangan, mak njekuthuk aku dimasukkan Allah dalam suasana perang yang dilukiskan di ayat itu, sampai gemetaran lihat kengeriannya.  Tapi enaknya pas ketemu Nabi, para Nabi itu orang-orang pilihan beneran deh, secara fisik ideal, maksudku guantenggggg bro! Memesona sampai ujung kain bajunya pun! haha ... Kalau hidup di masa sekarang, sudah ditawari jadi artis .. ehm, maafkan Innuri ya Allah, kok jadi ngelantur begini.

Suatu hari aku mak njekuthuk diperlihatkan Allah surga.  Digambarkan pakaian penduduk surga itu sutra yang halus 'kan di Al Quran?  Ternyata bukan hanya itu, pakaian penduduk surga itu kalau diselimutkan ke orang yang sakit parah di dunia ini, dia bisa sembuh!  Soal bagaimana mereka berkomunikasi, itu bukan pakai bahasa Arab, tetapi mirip lewat telepati kalau di dunia ini, gak butuh bahasa dunia.  Dan kediaman mereka itu luas banget, kayak pulau yang amat indah gitu deh untuk satu orang.  Selebihnya silakan berimajinasi, tapi jangan sekali-kali menjadikan surga sebagai tujuanmu, itu berarti kamu menyembah makhluk, tujuanmu hanya Allah, untuk menyatu dengan Allah.

Sekarang mari bandingkan dengan surga di dunia.

Pernah pas nginep di kebun, di pondok berukuran 2 x 2,5 m, malam-malam aku duduk bengong menikmati alam dan rembulan yang tergantung di langit.  Aku merasakan rumahku adalah alam semesta, dindingnya adalah gunung-gunung itu, plafonnya adalah langit, lampunya adalah rembulan dan matahari, musiknya musik alam, suara binatang dan hembusan angin.  Itu indah sekali, seperti di surga, kamu bisa membayangkannya.  Ternyata surga itu soal rasa.

Aku dan suami sejak mengalami fana, kami kerap mengerti isi hati satu sama lain.  Aku merasa nggak susah menyampaikan kebutuhan dan keinginanku, mak njekuthuk dia bawakan tanpa aku ngomong dulu.  Dah kayak bahasa surga, bahasa telepati.

Dan yang paling menarik adalah dikasih pengalaman Allah OOB alias out of body experience, mak njekuthuk salat di depan baitullah di Mekah, tanpa naik pesawat, tanpa bikin passport.  Atau OOB ke tempat yang tidak ada apa-apanya, seperti ruang hampa tapi luas dan indah sekali, yang di sana hanya ada aku dan Allah, itu terindah di atas yang indah.  Tapi sekali lagi aku bilang, jangan menjadikan semua ini tujuanmu, tujuan tetap Allah, kalau ada beloknya, segera sadari dan kembali ke Allah lagi.

Mengenai pakaian surga yang bisa menyembuhkan, kupikir-pikir 'kan sudah lama aku bisa (Allah yang menyembuhkan yaaa, ingat Innuri!) transfer energi untuk membantu orang sakit, kadang menyembuhkan, kadang mengurangi, kadang juga nggak ngefek, sesuai amal perbuatannya masing-masing.  Kalau soal ini semua orang bisa mempelajari, aku sudah tulis buku Energi Murni Alam Semesta , silakan unduh bagi yang tertarik.

Tentang surga, jangan berpikir itu khusus untuk orang muslim, siapa pun bisa asalkan bertauhid (Al Baqarah 62).  Tauhid itu apa? Ya yang aku tulis berjudul-judul ini.  Mengesakan Allah, berhenti memuja ego.

Ini adalah tulisan terakhir dari seri Perjalanan ke Dalam.  Aku tulis secara marathon sampai mata pedes, ups! bukan aku, tapi Allah.  

Ketika aku fana (difanakan Allah), aku ingat beberapa tahun lalu pernah punya feeling, prekognisi, bila aku akan mati sebelum usia 60.  Aku pun bilang pada suami dan anak-anak dengan sebijak mungkin menurutku.  Aku ingin menjadikan mati sebagai obrolan biasa saja, itu hal alamiah yang bakal dialami semua orang 'kan?  Bahkan kematian bagi orang-orang khusus adalah peristiwa kelulusan dari sekolah kehidupan yang patut dirayakan.  Tapi tak semudah itu, mereka sedih dong, terutama suamiku, lah aku ini kan istri dia yang pertama, kedua, ketiga dan keempat kata dia ... haha, berarti kalau aku' mati, itu ibarat kehilangan empat orang sekaligus.

Namun ketika usiaku belum 60 dan mengalami fana, aku menyadari sesuatu, mungkin inilah maksud prekognisiku beberapa tahun yang lalu, bukan mati fisik, tapi mati ego dan kembali ke Allah dalam arti manunggaling kawula-Gusti.  Tapi bila memang beneran aku mati fisik sebelum usia 60, aku minta maaf atas segala kesalahanku selama berinteraksi dengan kalian, tapi aku tak pernah meninggalkan kalian lewat tulisan-tulisan di blog ini dan di platform lain.  

Aku banyak menulis jawaban di Quora, ada banyak tulisanku di Quora belum sempat aku salin ke blog, kalau ingin tahu bisa buka Quora di ruang "Innuri dan Allah", itu khusus jawaban yang bersifat spiritual, kalau jawaban lain di akunku Innuri Sulamono, itu jawaban random dan banyak egonya ... hehe.

Bagi yang suka novel, boleh kunjungi novelku di Fizzo (di sini banyak iklannya tapi) atau di Kwikku.  Aku sudah tak menulis di Fizzo lagi, tapi novelku masih nangkring di sana, karena terkontrak dan aku sudah terima bayarannya, gak bisa dipindah ke platform lain jadinya.  Kalau cerita fiksiku yang baru-baru nangkringnya di Kwikku, aku buat gratis kok, yang pakai koin cuma cerita yang rahasia ... haha.  Meskipun berbentuk novel atau cerpen, ada pelajaran spiritual aku sisipkan di sana.

Oh ya, ada yang bertanya apa bisa Innuri menjadi pembimbing spiritual?  

Begini ya, bergurulah langsung kepada Allah, meskipun secara lahiriah kamu berguru pada manusia.  Pernah kubilang kalau kamu niat banget pingin dekat dengan Allah, Allah pasti kirimkan gurunya buat kamu.  Seandainya Allah kehendaki aku jadi pembimbingmu ya aku gak bisa menolak. Tapi soal menjadi pembimbing atau guru, itu ada metodenya sendiri dan aku bukan ahlinya, jadi aku hanya bisa menjadi teman / sahabat seperjalananmu.  Bukan guru-murid ya, tapi teman tempat berbagi cerita dan nasehat, bisa jadi kamu lebih tahu dari aku.

Kalau mau berguru yang ada metodenya, aku sarankan ke Gus Son yang pernah aku ceritakan di tulisan terdahulu.

Aku menulis soal spiritual bukan berarti aku lebih tahu dan lebih baik dari orang lain, tetapi murni karena Allahlah yang menugasiku menulis, bukan aku, tetapi Allah.  Jadi ayo jadi sahabat seperjalanan saja, kalau mau komunikasi bisa DM lewat Fb atau IG.  Aku dan beberapa gelintir teman juga punya grup WA judulnya Simak Al Quran, di sana ada Om Mar penghafal dan pendakwah Al Quran, kalau mau masuk ke grup itu boleh, DM saja, aku kasih tautannya. 

Tahu nggak, aku legaaaa sekali setelah menulis artikel terakhir dari seri Perjalanan ke Dalam, sepertinya tugasku sudah selesai saja.  Sampai jumpa di 'akhirat' ya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar