Disclaimer : Untuk membaca tulisan ini, kamu musti memahami dulu tulisan di seri Perjalanan ke Dalam sebelum-sebelumnya, mulai dari tulisan klik di sini , sampai yang Perjalanan ke Dalam 5. Kalau tulisan sebelumnya tidak dipahami, bisa salah sangka dan kamu bisa menuduhku sesat. Aku tidak takut dituduh sesat, aku cuma kasihan padamu karena yang berhak menghukumi sesat itu cuma Allah.
Lanjut ya, siapkan diri untuk tidak kaget ... hehe.
Bila memang benar-benar ingin menyatu dengan Tuhan, musti mengenali gerakan batin kita sedang mengarah ke mana, ke arah ego atau ke Tuhan. Ini pembahasan yang halus sekali tentang ego, yang berbeda dengan pembahasan tentang ego dan self di tulisan terdahulu.
Ego yang aku maksud sekarang adalah ego dalam hal kehendak dan keinginan. Di dunia orang awam, keinginan adalah hal yang wajar dan sah-sah saja, bukan dosa, bukan kejahatan. Namun di dunia orang spiritual, keinginan itu bisa jadi berhala. Keinginan adalah produk dari ego dan merupakan sumber penderitaan.
Memangnya nggak boleh punya keinginan? Keinginan seperti apa yang berubah jadi berhala?
Boleh dong punya keinginan, asal keinginanmu itu tidak mengganggu hubunganmu dengan Tuhan. Keinginan berubah menjadi berhala apabila kamu mendambakannya melebihi kamu mendambakan Tuhan. Keinginan juga berubah menjadi berhala apabila kamu melakukan sesuatu demi keinginanmu dan bukan demi Tuhan.
Kamu mencintai sesuatu melebihi cintamu pada Tuhan, itu pun berhala yang menghalangimu mendapatkan pengalaman ketuhanan yang indah itu.
Tandanya bila keinginan sudah menjadi berhala adalah kamu sedih dan galau bila tidak tercapai. Kamu tersiksa oleh keinginanmu. Kamu menjadi budak atas keinginanmu.
Bahkan ego itu bersembunyi di balik alasan-alasan yang mulia. Misalnya nih, salah satu tujuan spiritual puasa itu melemahkan ego, tapi bisa berubah jadi semakin menguatkan ego ketika jadi langsing dan senang banget ketika dipuji orang. Sebuah paradoks. Ini mah cerita diriku sendiri.
Contoh lain lagi dari ego yang bersembunyi di balik hal mulia itu ketika jaman dulu aku selalu menampung orang yang melamar kerja di tempatku. Selalu aku kasih kesempatan, akibatnya aku bingung naruh dia di mana, sampai akhirnya bikin banyak produk yang bisa mereka kerjakan, bila nggak bisa ngerjain baju ya ngerjain makanan. Aku jadi super sibuk setiap hari dan super pusing ketika hari Sabtu saatnya menggaji puluhan karyawan. Dan ketika dapat penghargaan UMKM Award, bangganya luar biasa, egoku melambung tinggi, ngaku-ngaku bila aku telah berusaha keras membantu banyak orang mendapatkan pekerjaan, padahal zonk! Allah yang melakukannya.
Tidak ada yang salah dari memperbesar usaha, yang salah itu egonya. Penyelesaiannya adalah pola pikirmu harus spiritual, bukan aku, tetapi Tuhan, bukan aku yang menjalankan usaha ini, tetapi Tuhan. Bukan aku yang menggaji karyawan, tetapi Tuhan. Bukan aku yang mengetik tulisan ini, tetapi Tuhan. Bukan aku yang memasak untuk keluargaku setiap hari, tetapi Tuhan. Bukan aku yang menyuapkan makanan ini ke mulutku, tetapi Tuhan. Perbanyak sendiri kalimat-kalimat semacam ini di keseharianmu dan tanamkan pola pikir itu.
Mungkin kalimat-kalimat itu terdengar janggal dan aneh bila dipahami secara harfiah, bila kamu ucapkan dan ada orang yang mendengar, kamu pasti langsung dihukumi sesat, musrik, kafir, murtad. Masak Tuhan memasak? masak Tuhan makan? masak Tuhan pup? Makanya ucapkan di hati saja, pahami secara hakekat, itu adalah sebuah terapi melemahkan ego, agar kamu bisa menyatu dengan Tuhan.
Sebab hakekatnya manusia ini tidak ada, semua keberadaan dan semua pergerakan ini adalah keberadaanNya dan pergerakanNya. Kalau istilahnya Gus Son, semua ini adalah wujude Gusti Allah, sifat wujud Allah. Wujud Allah itu adalah diriku, dirimu, alam semesta dan segenap isinya ini, tapi bukan berarti itu semua Allah loh ya, Allah sendiri tidak bisa dilihat mata zahir ini, bisanya dilihat mata batin. Wujud Allah adalah alam semesta, tetapi Allah sendiri adalah yang tidak kelihatan mata di alam semesta ini.
Allah menyatu dengan dirimu, hanya dirimu tidak menyadarinya. Kalau kamu mau mencoba melakukan 'terapi' yang aku tuliskan di atas dalam keseharianmu, terapi membentuk pola pikir 'bukan aku, tetapi Tuhan' yang aku bilang tadi. Maka kamu perlahan akan merasakan betapa selama ini kamu telah dilayaniNya di setiap detak jantung dan tarikan napasmu.
Berhala batin berupa ego yang bisa menyusup kemana-mana itu kelihatannya susah dikenali. Tapi sebenarnya mudah, ketika kamu galau atau sedih, itu pasti ada ego yang menyusup. Ketika melihat seseorang / sesuatu, muncul perasaan lebih tinggi atau lebih rendah, itu pun menunjukkan kamu masih punya berhala.
Contoh. Kamu melihat temanmu liburan ke Bali, bila di hatimu muncul rasa lebih tinggi, walau dibalut kata religius, "Alhamdulillah, aku sekeluarga bisa liburan ke Jepang." Itu berarti kamu masih memberhalakan liburan. Atau kamu malah minder dan sedih, "Kenapa aku tak kunjung bisa liburan?" Ini juga berarti kamu masih memberhalakan liburan. Halus sekali ya, semakin ke dalam memang semakin halus.
Orang-orang yang terbiasa dipuja-puji dan dikagumi, itu lebih sulit melepas berhala egonya dan bakalan lebih sakit bila egonya tidak mendapat makanan yang berupa pujian itu. Terapinya adalah dengan menyadari bila itu semua perbuatan Tuhan padanya.
Bila batinmu sudah tidak lagi terpengaruh oleh sanjungan dan hinaan, , itu tandanya berhala egomu sudah masuk penjara.
Terkadang kamu tidak rela melepas berhala karena sulit dan manyakitkan, kamu bisa memotivasi dirimu ,"Ini loh merugikan aku dan membuatku galau, aku rela melepasnya karena aku mencintai diriku yang ingin segera bertemu Tuhan." Perasaan rugi bila dipelihara, membuat kamu melepasnya dengan senang hati.
Di atas semua itu, yang bisa membuatmu terlepas dari berhala ego adalah Tuhan, bukan usahamu. Maka mohon pertolongan pada Tuhan itu nomor satunya, usahamu itu cuma 'akting' kok ... hmm.
Selamat mencoba. Salam kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar