Bayangkan bila kamu mengalami dihina orang, dipanggil, "Hai Anjing!"
Apa reaksimu?
Bagaimana reaksi spontan batinmu?
Barangkali jawab begini,"Kau yang anjing!" atau,"Babi kau!" atau ... isi sendiri.
Reaksi yang kutulis di atas itulah reaksi yang muncul dari ego / keakuan / aku. Aku yang spontan marah dan tidak terima ketika ada orang menyinggung perasaanku, menyenggol mobilku, mencuri sepeda motorku, memecahkan kaca rumahku, ... teruskan sendiri.
Ego adalah diri yang palsu, lapisan luar diri kita yang suka berubah-ubah, kemarin ceria, sekarang sedih, besok khawatir. Sementara di batin terdalam kita ada diri sejati, yang kita sebut saja self (pinjam istilahnya Carl Gustav Jung lagi), inilah diri yang tidak berubah, diri abadi yang terhubung dengan Sang Pencipta.
Sekarang yuk kita tanya self, bagaimana reaksinya ketika dipanggil 'anjing'.
Si self ini bakalan jatuh kasihan pada orang yang mengucapkan kata itu, karena kata-kata yang keluar dari mulut seseorang adalah cermin isi batinnya. Jadi bayangkan betapa luka dan sakit orang yang bisa mengucapkan kata caci maki. Self bisa melihat bahwa kata-kata itu bukan diucapkan kepada dirinya, melainkan ungkapan derita batin orang yang mengucap.
Itulah reaksi self, caci maki atau pun pujian dan segala tindakan di luar tidak memengaruhi dirinya sedikit pun. Si self ini penuh cinta kasih seperti penciptanya, karena dia terhubung dengan Yang Maha Kasih Sayang (QS Al An'am 12) Segala reaksi batin, ucapan dan tindakan yang dilakukan self adalah atas dasar cinta kasih dibawah tuntunan Sang Pencipta , unconditional love.
Sayangnya self ini sering ditutupi ego, sehingga kita menyangka bila ego itulah diri asli kita.
Menurut Jung, ego bisa ditarik / dipertemukan dengan self, itulah orang yang sudah menemukan jati dirinya, istilah Jung orang yang sudah mengalami individuasi. Kondisi batin orang yang sudah terindividuasi itu stabil yang bila dicari ayatnya di Al Quran ada di surat Yunus 62 , tidak ada sedih dan khawatir alias bahagia, aslinya bahagia pakai banget, bahagia yang melayang di atas bahagia, seperti bahagianya setitik air yang kembali pulang ke lautan.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara melewati hutan belantara ego untuk menemukan self?
Caranya sama seperti tulisan sebelumnya, mengambil jarak dengan emosi, pikiran dan perasaan, nanti akan muncul insight dari dalam yang menandakan bila self sudah muncul. Jadikan itu kebiasaan, aku rangkum dalam 3 kebiasaan yang wajib dilakukan bila ingin menemukan self.
1. Biasakan berjarak dengan emosi, pikiran dan perasaan.
2. Berhenti ngaku-ngaku, ini rumahku, ini badanku, ini hasil karyaku, ini suamiku, dan ku ku yang lain, karena semua ini milik Allah, tidak ada yang milikmu sebesar zarrahpun, bahkan nyawamu kalau diambil sewaktu-waktu kamu tidak akan bisa menahannya.
3. Jangan merasa sudah melakukan sesuatu, ingat lahaula walaquwata illabillah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan dari Allah. Kamu itu cuma dipinjami kekuatan, bukan kekuatanmu sendiri, pada hakekatnya Allah yang menggerakkanmu, behentilah mikir kalau kamu sudah berusaha dan berjuang. Apa nggak malu, kamu berusaha pakai fasilitas dari Allah, jantung yang berdetak tanpa kamu suruh, napas yang paru-paru yang jalan sendiri, tapi kamu ngaku-ngaku berusaha.
Tiga poin penting itu lakukan setiap hari.
Dalam Islam, ego itu disebut nafs alias hawa nafsu dengan banyak sekali macamnya, semua nafsu mendorong kepada kejahatan kecuali nafsu yang dirahmati Allah (Quran surat Yusuf 53). Bandingkan dengan apa yang dimaksud Jung dengan individuasi itu, ketika ego bertemu self , menjelma menjadi nafsu yang dirahmati Allah. Begitulah Allah menurunkan ilmuNya kepada siapa yang Dia kehendaki, entah di belahan dunia mana, selalu relate karena berasal dari sumber yang sama.
Bonus cerita pengalamanku tentang bagaimana Allah membuat egoku terhempas dan terbenam dalam self.
Ini terjadi saat khalwat 40 hari tahun 2024 di Ngantang, di rumah yang belum jadi di tengah kebun. Suatu pagi aku memotong sak semen pakai pisau sambil lesehan di atas pecahan bata ringan, niatnya mau aku jadikan alas duduk. Tiba-tiba mengalir insight dari dalam bila Allahlah yang menggerakkan anggota tubuhku melakukan itu. Insight ini aku bantah dong! Pikiran ini masih dilekati konsep bila manusia diberi free will atau kehendak bebas, jadi manusia bisa memilih mau melakukan apa saja asal siap dengan konsekuensinya.
Tapi insight itu semakin kuat berbunyi di hatiku, terus dan terus, sampai aku menantang Allah, aku bilang begini,"Buktikan padaku bila memang Engkau yang menggerakkan aku dan bukan kemauanku sendiri."
Tanpa menunggu lama, langsung dan kontan, tanganku ini bergerak tanpa bisa aku kendalikan, seperti gerakan refleks gitu deh, tanganku tiba-tiba mengubah posisi pisau yang aku taruh di atas pecahan bata ringan di samping tempatku duduk. Mata pisau itu semula menghadap ke atas (yang berbahaya bila aku menginjaknya tanpa sengaja) menjadi menghadap ke bawah.
Aku pun tertegun kehilangan kata-kata. Sungguh aku tak menyadari bila mata pisau itu menghadap ke atas, aku melakukannya srat sret srat sret saja, gak mikir, ternyata Allah memikirkannya!
Itu adalah kali pertama aku menantang Allah, siangnya aku menantang Allah lagi dengan kasus yang berbeda, lagi-lagi aku dibikin speechless. Esoknya dan esoknya lagi dibikin speechless lagi dengan pelajaran yang berbeda.
Mau coba menantang Allah juga?
Salam manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar