Ketika kegelapan batin telah terkikis, selain bikin hatimu unconditional love, juga bisa terjadi, tapi tidak selalu, diiringi tersingkapnya tirai kalbu dengan dunia ghaib yang disebut mukasyafah. Tapi pesanku, jangan sekali-kali menjadikan mukasyafah ini tujuanmu membersihkan diri loh ya, tujuanmu tetap untuk menyaksikan Allah / bersyahadah.
Mukasyafah itu sendiri bertingkat-tingkat, dari melihat makhluk ghaib seperti jin dan arwah dari tingkat rendah sampai bertemu arwah manusia-manusia luhur seperti para Nabi dan malaikat. Lebih jelas soal ini pernah aku tulis disini , silakan diklik, Innuri tak perlu menjelaskan lagi ya.
Selain itu bisa juga muncul kemampuan ESP (Extrasensory Perception) atau yang disebut indra keenam. ESP sendiri secara garis besar dibagi tiga, yaitu kemampuan telepati, clairvoyance dan prekognisi. Telepati itu semacam berkirim pesan pakai batin, clairvoyance itu penglihatan jarak jauh, sedangkan prekognisi itu kemampuan melihat hal yang akan terjadi di masa depan.
Lagi-lagi jangan jadikan kemampuan ESP ini sebagai tujuan ya, itu bisa jadi jebakan. Kalau kamu berhenti dan asik bermain-main dengan hal ini, kamu rugi besar.
Ada lagi jebakan yang lebih keren yaitu karomah, semacam kemampuan luar biasa yang biasanya dimiliki para wali. Innuri pernah tuh, bisa nyembuhin orang jarak jauh hanya pakai video transfer energi, ya aslinya Allah yang nyembuhin. Baru kutahu sekarang kalau itu salah satu jenis karomah. Yang kenal Innuri dari lama pasti tahu video yang aku maksudkan.
Jebakan-jebakan itu membuatmu merasa sudah sampai padahal masih di tengah jalan, itulah makanya harus waspada. Semakin ke dalam jebakannya semakin halus, yang bisa dikenali dengan bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan ini," Apakah ini Allah atau selain Allah?"
Segala sesuatu selain Allah, itu jebakan dan biasanya pesonanya luar biasa menarikmu untuk berhenti dan bermain-main di situ. Harus disadari bila kamu hanya bisa selamat dengan pertolonganNya, bukan usahamu. Bukan berarti kamu tidak berusaha, tetapi harus disadari bila usahamu itu atas ijin Allah, kalau mau aku bilang lebih tegas, buat pola pikir 'Allahlah yang berusaha dalam dirimu', Allahlah yang menggerakkanmu, ini lebih selamat. Ingat ceritaku di tulisan sebelumnya soal bagaimana aku menantang Allah untuk membuktikan bahwa Allahlah yang menggerakkanku dan bukan kemauan bebasku.
Lantas apa tandanya bila sudah sampai? Yaitu ketika hatimu sudah tidak ada lagi rasa takut, sedih dan khawatir (QS Yunus 62) dan ketika kamu merasa menyatu dengan Allah (manunggaling kawula-Gusti) dan menyatu dengan alam semesta dan hatimu selalu penuh kasih, damai, nonjudgmental.
Hati orang-orang yang sudah berada di Yunus 62 itu lurus banget terikat dengan Allah, seolah Allah sudah mengambil alih jiwa raganya, istilahku sendiri adalah 'kerasukan' Allah, atau dalam istilah tasawuf disebut fana , ketiadaan diri. Orang-orang ini sudah tidak tolah-toleh lagi karena pesonaNya yang luar biasa mengalahkan pesona gebyarnya dunia dan seisinya. Orang ini sudah di mana-mana yang dilihat Allah, apa pun yang di hadapannya yang kelihatan Allah, saking tajamnya penglihatan batinnya. Seperti penglihatan terbalik, bila orang-orang awam yang nyata adalah fisiknya dunia ini sedangkan yang tidak nyata adalah Allah, maka bagi orang-orang tercerahkan yang nyata adalah Allah, sedangkan gebyarnya dunia ini tidak nyata.
Biar tidak bingung, aku umpamakan sebuah lampu lima watt ditaruh di bawah sinar matahari yang sedang cerah-cerahnya, apakah lampu lima watt itu kelihatan cahayanya? Tidak! Kalah oleh cahaya matahari. Yang nyata adalah sinar matahari, sedangkan lampu yang lima watt itu tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan bagi orang yang masih berada dalam kegelapan, tentu saja lampu lima watt itu terlihat nyata karena dia belum melihat cahaya matahari. Faham 'kan Sayang?
InsyaAllah soal manunggaling kawula-Gusti itu aku bahas di tulisan selanjutnya, semoga Allah Yang Maha Kasih memberiku kekuatan menuliskannya.
Salam kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar