Sedangkan di dunia spiritual yang lebih dalam, ada istilah yang membingungkan, berusaha tanpa berusaha, beribadah tanpa beribadah. Wujudnya Allah adalah alam semesta ini tapi Allah bukan alam semesta ini. Aku adalah Allah tetapi aku bukan Allah. Ini badanku tapi aku bukan badan ini.
Sungguh mempuyengkan bukan? Ya, sana beli obat sakit kepala di warung Madura ... haha.
Coba buka surat Al Anfal ayat 17 ... bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, Allahlah yang melempar ....
Karena pada hekekatnya Lahaulawalaquwataillabillah , tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan dari Allah. Jadi manusia itu aslinya cuma dipinjami kekuatan dari Allah, kalau dipinjami ya jangan ngaku-ngaku punya gitu loh. Aslinya kita ini tidak punya kekuatan apa-apa, bahkan tidak punya apa-apa, alias tidak ada. Yang ngaku-ngaku bisa berusaha itu ya keakuanmu itu, alias egomu itu, Tuhan ditaruh di mana? Apa Tuhan habis minjami kekuatan langsung ilang plas ... nunggu di langit, suatu saat nanti minta pertanggung jawabanmu atas kekuatan yang dipinjamkanNya? Begitukah? Ya nggak begitu kalau menurut Quran Surat Qaf ayat 16. Allah itu lebih dekat dari urat lehermu. Urat leher kalau diputus matilah kita, yang berarti Allah di dalam dirimu itulah kehidupan.
Melepaskan keakuan, itulah makna kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah alias mati, matinya ego, ya sudah kamu sampai ke akhirat yang luasnya seluas langit dan bumi ini. Pengalaman ketiadaan diri itu pengalaman indah sekali tiada tara, kemerdekaan diri dari perbudakan ego dan hawa nafsu.
Selengkapnya Qaf 16. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
Ketika diri tiada, yang tinggal hanya Allah, berarti yang berbisik di hati kita itu siapa dong? Ya Allah lah, Allah yang berbisik, menggantikan ego dan hawa nafsu. Manusia sudah berhenti berperang memerangi hawa nafsu, karena dirinya tiada. Maka manusia ini auto tidak suka ghibah, tidak mendengki, tidak nafsu mengejar dunia, tidak suka menilai ini itu, tidak suka menghukumi itu sesat, kafir dsb. Dan manusia ini kalau salat pikirannya tidak melayang kemana-mana, karena Allah sudah menerangi hati dan pikirannya.
Itulah makna berusaha tanpa berusaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar