Senin, 23 Februari 2026

Otak yang Berisik

Kemarin lusa, pagi-pagi, aku diinbox seorang ibu, pembaca innuri blog, sebut saja ibu Y, minta tolong karena  anaknya yang masih remaja, cewek,  kena gejala depresi, emosi meledak-ledak, tantrum dsb, sudah ke psikiater, tapi belum membaik.  Lalu aku minta foto dan nama anak itu.

"Kenapa ya mbak?" tanyanya, padahal beliau aslinya tahu masalah yang dihadapi anaknya, tapi belum mau mengatakannya.

"Otaknya berisik,"jawabku, lalu aku transfer energi.  Aku minta seharian Bu Y mengamati perkembangan anaknya, sejauh apa kemajuannya.

Malamnya ibu Y bercerita perkembangan si cewek (aku copas dari WA tanpa edit, cuma nama aku ganti X).

"10 menit setelah mba Innuri kirim energi,  X yg awalnya sdg mendengarkan lagu di TV, langsung off kan TV, dan rebahan dilantai dan mulai rileks ngantuk.  Saya dampingi disebelahnya dan ikutan ketiduran.  X tertidur kurang lebih 1 jam an, lalu masuk ke kamar nya. Sore hari, X melanjutkan aktifitas menggambar sambil dengerin lagu. Setelah itu kalau diajak ngomong hanya jawab sepatah dua patah kata saja. Magrib habis berbuka, kami ngobrol dikamar bareng bapaknya, X datang ikutan nimbrung minta di pijetin, minta dipeluk saya dipangkuan, Sambil dipeluk dipangkuan, kami pijetin, elus elus, kami blg sayang sm X, jadi anak soleha ya nak... Dia jawab iya bunda, iya bapak."

"Berarti ada progressnya ya Mbak?" kataku.

"Iya mba Innuri, kmrn diajak ngomong saya aja gak mau jawab dan uring uringan terus." jawab ibu Y.

Alhamdulillah, walau belum tuntas dan menyisakan PR panjang. Bukan Innuri tapi Allah yang bisa menyembuhkan, kalau aku mah cuma 'akting'.

Nah esok paginya, X emosinya tak terkonrol lagi.  Baru keluar cerita dari ibu Y bila X sebenarnya produk dari orang tua bercerai, kemudian ibu Y menikah lagi dan suami barunya (yang dipanggil Bapak sama X), orang yang egonya cukup tinggi dan temperamental.

Menangani X itu gampang, dia masih remaja dan lentur, orang tua yang sudah kaku kayak kepala alien itu lah yang susah. Kondisi kejiwaan orang tua memengaruhi anak, tapi orang tua sering menyalahkan anak kalau anak suka membantah.

Padahal aku sendiri bukan ibu yang bijak.   

Tapi di balik semua itu ada Allah yang menggariskannya, tapi garisnya selalu benar 'kan?

Dunia ini panggang sandiwara, penulis skenarionya Allah.  Innuri yang kukira bakalan mati di usia sebelum 60 tahun, dengan tugas barunya ini, mungkin umurnya bisa lebih panjang, walau aku gak suka, enakan mati.  

Tapi di atas semua itu, di atas panggung sandiwara ini, tugas manusia adalah kembali kepada Allah seutuhnya, meletakkan ego dan memilih Tuhan.  

Masalah apa pun, pada dasarnya adalah untuk mendorong manusia kepada Tuhan.  Jadi Innuri itu tugas aslinya bukan bikin orang sembuh, itu mah cuma daya tarik biar orang mendekat, kalau sudah dekat dijebloskan ke Allah, tempat pulang paling kurindukan.

Jadi ceritanya Innuri lagi cerita apa lagi curhat nih?  Kayaknya sih yang terakhir itu ...

***

Ya Innuri lagi galau waktu nulis tulisan di atas, galau sendirian malam-malam di Ngantang.  Ditambah  juga lagi  chatting sama keluarga 'pasien' satunya, Bu R yang salah satu anggota keluarganya kena depresi juga.  Keluarga ibu R ini bahkan kisahnya bisa jadi novel 10.000 halaman ... haha.  Aku benar-benar terpapar cerita sedih 15.000 kata, bayangkan tuh!

Dalam kegalauan itu, aku nanya ke Allah,"Beneran nih Innuri dapat tugas? Apa bukan egoku itu ya Allah?"

Kepalaku mulai cenut-cenut.  "Allah, kayaknya aku gak kuat deh!" Lalu tanganku mulai menghapus artikel  yang kuposting tadi siang, kubilang pada diriku sendiri sebagai pembenaran atas tindakanku,"Ini yang nulis egoku, bukan Allah."

Otakku berisik dah kayak A.

Aku sempat terpikir mau konsultasi sama Pak Hans, soalnya Pak Hans pernah cerita ada meditasi khusus untuk terapis biar energi negatif pasien tidak memengaruhi, tapi tentu bukan malam ini, harus bikin janji zoom meeting dulu kalau sama Pak Hans.  Kalau malam ini mah yang aku butuhkan dielus-elus Taomingse ... eh, suamiku ding.  Wes pokoke kalau tulisannya sudah ngelantur begini, alamat egonya Innuri lagi kerja.

Baru kemarin aku diantar ke Ngantang, kalau aku cerita keadaanku sekarang, pasti detik ini juga doi meluncur ke sini.  Wong dia itu sayangnya nggak karu-karuan sama aku. Aku gak tega, dia pasti kecapean, karena dia handle sendiri usaha kami, belum dapat karyawan lagi sejak .... 

Akhirnya aku matikan lampu, berbaring, meditasi zikir sirrur asror dan yap! ketemu obatnya.

Mengapa kepalaku berat banget?  Karena aku merasa aku sendiri yang mendengar cerita-cerita ruwet itu, alias egoku, bukan selfku.  Karena aku sendiri yang merasa melakukan transfer energi, walau aku berdoa dan menghubungkan hati dengan Allah, tapi posisi aku dan Allah tidak menyatu. itu melelahkan di kepala.  Ini halus sekali perbedaannya, susah dijelaskan, tapi aku tahu kesalahanku. Mestinya aku tidak boleh merasa transfer energi, tapi Allah, aku harus hilang/tiada , itu baru bener.

Fana, aku harus selalu posisi 'on' di situ.  

Setelah kesadaran itu keluar, perlahan-lahan beban di kepalaku terangkat, diangkat Allah, akhirnya sembuh sakit kepalaku, aku bisa senyum lebar, menyalakan lampu, menelepon suamiku dan berhaha-hihi cerita tentang kisah yang kualami hari ini, teristimewa malam ini.  Di Pakis sana suamiku malah bilang sudah kangen, padahal baru sehari gak ketemu, dah kayak remaja puber saja.

Aku bisa tidur nyenyak malam ini, terima kasih Allah.

Seandainya seluruh dunia tahu, betapa ajaibnya Fana, ketiadaan diri dan menjadi satu dengan Allah.

Allah , I love You.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar