Tulisan ini menjawab kasus pembaca Innuri blog, tentang anak yang sering ribut dengan ibunya sendiri.
Jadi begini, Sahabat.
Pesan Allah itu lebih banyak disampaikan lewat orang-orang terdekat, anak, pasangan, family, karyawan, pembantu, dsb. Jadi jangan fokus di 'peristiwa'nya, tapi cari 'pesan yang tersembunyi'.
Misal, anak marah karena ibunya bercerita soal anak orang lain yang menurutnya baik, agar anak kita sendiri mencontoh. Tak perlu tersinggung karena anak marah, cari akar permasalahannya, coba selami hati dan pikiran anak. Anak marah karena dia tidak mau dibandingkan dengan anak orang lain, dia ingin dihargai dan diterima apa adanya. Itulah sebabnya. Coba kalian sendiri dibanding-bandingkan dengan orang lain, misalnya anak membandingkan kalian dengan orang tua temannya, bagaimana perasaan kalian?
Selanjutnya, pesan Allah apa? Harus menyelam ke dalam diri sendiri, perasaan apa yang terbangkitkan saat anak protes? Perasaan negatif yang muncul itulah yang harus diselesaikan. Misal yang muncul perasaan nelangsa kok anakku begini, nggak mau tahu sama maksud orang tua. Itu perasaan tidak terima, tidak menerima pemberian Allah, seolah-olah bilang 'mauku begini, mau Allah kok begitu sih?'. Hati ibu yang protes terrefleksi ke anak yang protes.
Penyelesaiannya bagaimana? Ya menerima kehendak Allah dengan rasa syukur. Kalau mau menerima kelebihan anak, ya musti menerima kekurangannya, begitu loh. Sebagai ibu juga apakah sesempurna itu? Harus disadari juga sebagai orang tua juga punya kekurangan.
Sumber dari segala masalah itu adalah EGO. Ego sebagai orang tua yang merasa lebih tahu dari anak, sudah merasa melakukan yang terbaik untuk anak, sudah merasa mencurahkan segala kasih sayang, perhatian dan segalanya untuk anak. Itu penyakit orang tua kebanyakan, Innuri juga nunjuk diri sendiri ini mah.
Jadi begini, jadi orang tua itu jangan merasa super deh, kita ini cuma lahir lebih dulu dari anak. Lahir lebih dulu belum tentu lebih bijak, belum tentu tahu lebih banyak, belum tentu lebih pintar. Anak-anak terlahir di jaman yang berbeda dengan jaman orang tuanya, jadi kadang orang tualah yang belajar dari anak. Kita dilahirkan ke dunia ini untuk saling belajar satu sama lain kok. Jadikanlah anak sebagai 'teman seperjalanan spiritual', posisi kita dan anak-anak kita di hadapan Allah adalah setara.
Rendahkan hati ya, Ibu dan Bapak yang sudah jadi orang tua. Tidak ada kata terlambat untuk berubah walau anak kita sudah jenggotan.
Salam manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar