Semakin ke sini semakin banyak yang paham bila akhirat, surga dan neraka itu sudah bisa diakses sejak di dunia ini.
Akan tetapi orang mengartikannya, kalau hatimu damai, senang dan bahagia, itulah surga. Kalau hatimu sumpek, panas, terbakar marah atau cemburu, itulah neraka. Pemahaman seperti ini tidak bisa disalahkan, wong belum ke akhirat beneran. Tapi juga perlu disalahkan, karena belum mengalami ke akhirat kok coba-coba mendeskripsikan tentang surga dan neraka. Jadi yang mereka deskripsikan itu surga dan neraka versi dunia, versi pikiran manusia yang terbiasa hidup dalam kungkungan ruang dan waktu.
Lah surga dan neraka versi akhirat bagaimana? Ya tidak bisa dideskripsikan. Nabi Muhammad membuat perumpamaan, celupkan jarimu ke laut, maka air yang menempel di jarimu itulah dunia, sedangkan air yang terbentang bersuka ria di lautan itulah akhirat. Jauh sekali 'kan bedanya?
Kebanyakan orang juga menganggap surga itu di atas sana, di tempat yang tinggi sekali. Padahal surga itu dekat, bersentuhan dengan dunia kita sekarang, hanya beda "frekwensi", maka kita tak bisa seenaknya mengakses masuk ke sana.
Alam dunia yang kita huni ini baru kulit terluarnya, yang gampang goyah, bukan kehidupan yang sebenarnya. Alam akhirat itu inti, itulah kehidupan yang sebenarnya.
Selama ini kita pahami bila inti itu berada di tengah dan ukurannya lebih kecil. Nah di dunia quantum, berlaku kebalikannya. Inti itu lebih gede (ibarat lautan tadi loh) yang menyelimuti ilusi ( ibarat air yang tertinggal di jemari).
Jadi sebenarnya akhirat itu dekat, kalau ingin mengaksesnya ya musti pegang kuncinya. Kuncinya apa? Laillahaillallah, tiada Tuhan selain Allah dalam arti Tauhid yang semurni-murninya.
Saat kamu meniadakan semua, termasuk meniadakan diri sendiri, berhenti melekat pada dunia dan seisinya, berhenti menginginkan makhluk termasuk surgaNya, hanya Allah yang kamu lihat. Sudah, kamu tak terdefinisikan.
Pengalaman "dicemplungin" ke ketidakberhinggaan itu memang luar biasa tapi tak bisa diulang di memori, pokoknya ya luar biasa thok wes. Setiap orang yang pernah ke sono pasti kepingin ke sono lagi.
Sayangnya, ketika menginginkan masuk ke sono lagi, hati malah kacau. Inilah pelajaran berharga yang kutangkap. Ketika aku menginginkan surga, aku malah kacau . Jadi inginkan Allah saja.
Jangan beribadah untuk surga, dijamin kamu kecele. Surga itu makhluk. Persembahkan hidup dan mati untuk Allah saja ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar