Sabtu, 16 Mei 2026

Menjadi Dia

 Untuk ke sekian kakinya aku merasa menjadi 'dia' , yang aku maksudkan dengan 'dia' disini adalah merasakan menjadi orang lain.  Bukan perasaan empati seperti dalam pengertian orang-orang, tapi perasaan menyatu, seperti pengalaman Dr Lynda Creamer yang pernah aku ceritakan di seri Semesta Paralel.

Ada kesadaran kolektif yang menjadikan manusia bisa merasakan satu sama lain, ini seperti digambarkan Al Quran di Surat Al Hijr 47 dan Al A'raf 43 , " ... Dan kami lenyapkan rasa dendam yang ada di dalam dada mereka ..."

Sulit dijebloskan dengan kata-kata perasaan ini, sudah rasa di awang-awang dah, ringan, enak dan indah.

Baiklah aku coba menjelaskannya.  Bayangkan kalian punya tetangga atau teman yang njengkelin banget, berkali-kali membuatmu kesal dan marah.  Saking kesalnya kamu pada si orang ini, dengar namanya disebut saja sudah bikin kamu mual-mual.  Lalu kamu memasrahkan pada Allah perasaanmu itu, agar Allah membersihkannya.  Beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja kamu bisa merasakan menjadi dia, kamu ikut senang ketika dia senang, kamu ikut sedih ketika dia sedih, dan kamu tahu mengapa dia bersikap njengkelin yang membuat kamu memaklumi sikapnya.

Perasaan kamu di awang-awang, maksudku walaupun merasa menjadi dia, emosi kamu tetap stabil, kamu tidak terseret, tapi kamu memahami. Memahami kesedihannya tanpa terseret perasaan kelabu, perasaanmu tetap ringan yang lebih ringan daripada udara. 

Aku pakai istilahku sendiri untuk pengalaman semacam ini, yaitu "mengalami Al Quran".

Tetaplah berhati baik dan bersandarlah selalu pada Allah, karena semua yang dijanjikanNya di Al Quran, keindahannya  jauh melampaui yang bisa kamu bayangkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar