Minggu, 17 Mei 2026

Cara Melepas Cinta Pada Makhluk

 Bagaimana mencintai pasangan yang sah dan mencintai anak-anak kita sendiri menjadi salah?  Memang di mata syariah itu tidak salah, yang salah ya mencintai suami / istri orang lain dan malah tidak mencintai anak-anak kita sendiri, itu baru salah.  

Kadang belajar spiritual itu membagongkan juga, tapi coba renungkan.  

Tujuan orang menempuh perjalanan spiritual itu 'kan menyaksikan Allah (bersyahadat) lalu menyatu dengan Allah (wushul, manunggaling kawula-Gusti).  Nah, kecintaan kita pada segala sesuatu selain Allah itu menghijab (menutup) antara kita dengan Allah.  Begitu deh. 

Intinya cinta kita pada makhluk jangan melebihi cinta kita pada Allah.  Kalau bahasa Innuri sih boleh cinta tapi jangan melekat, jangan lengket kayak prangko, ntar kalau dipisah jadi sobek alias terluka. Dari sini sudah mulai paham betapa bahayanya mencintai makhluk itu, sampai muncul istilah 'selingkuh dari Allah', istilahnya Gus Mukhlason Rasyid.  Padahal itulah cara Allah melindungi kita dari terluka hati yang amat dalam.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya biar nggak melekat pada cinta makhluk?  Prakteknya bagaimana? 

Caranya ya dipasrahkan Allah saja semua perasaan cinta itu.  Innuri bilang,"Allah, aku hanya ingin mencintaiMu saja, jadi tolong bantu aku memperbaiki hatiku ini."  Hati musti punya keinginan yang kuat untuk melepas semua cinta pada makhluk untuk memilih Allah saja.  Lakukan ini dengan sengaja, sebuah pilihan yang diputuskan dengan yakin dan penuh kesadaran, memilih Allah di atas makhlukNya.  

Terkadang aku pakai cara ngeles cantik, aku bilang,"Allah, ini bukan perasaanku loh ya, ini adalah perasaanMu, Allah."

Nah, ketika perasaan cinta yang melekat pada makhluk itu terlepas, perasaan jadi indah sekalil, digantikan rasa cinta yang lebih tinggi, compassion mungkin ya namanya.  Melekatnya hati sudah pada Allah saja.

Aku sendiri masih on of di rasa ini, tapi hatiku sudah tidak menginginkan melekat pada makhluk lagi, hatiku sudah mantab memilih Allah.  Kemantaban hati inilah yang aku syukuri karena tidak mudah sampai di titik ini, datangnya pelan-pelan sekali, perlu waktu lama Allah memproses diriku, saking lengketnya hatiku ini pada orang-orang yang aku cintai.


Selama puluhan tahun hidup bersama dalam sebuah happy married, bayangkan betapa susahnya untuk tidak melekat pada makhluk yang berjudul suami itu.  Terkadang aku pilih sendirian beberapa hari, pisah rumah dengan suami, tapi ternyata bukan begitu caranya.  Fisik yang berjauhan belum tentu bisa menghapus kemelekatan, karena melekat itu letaknya di hati.

Saat perasaan lagi of dan kumat kerinduan dan kecintaanku pada pesona makhluk, aku mengembalikan hatiku pada penglihatan tembus, aku harus melihat Allah dominan sampai melihat dia adalah Allah.  Lalu hatiku spontan berucap,"Oh, ternyata yang aku cintai adalah Allah."

Di tingkat yang lebih tinggi lagi, ketika kemelekatan sudah terlepas, aku bisa merasakan bila sebenarnya aku tidak pernah terpisah dengan orang-orang yang aku cintai.  Bagaimana menjelaskan perasaan ini ya? Susah dijelaskan, tapi kayak perasaan Tuhan deh, diri sudah kecemplung di alam ilahiyah yang luasnya tak terperi itu, indah sekali.  Ya indahnya tak bisa dikatakan.  Kalau istilahnya Gus Son, itu alam akhirat, aku lebih suka menyebut alam ilahiyah.

Pokoknya kalian jangan mati dulu deh sebelum merasakan kecemplung alam ilahiyah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar