Doa Iftitah
Poin-poin dari doa Iftitah adalah menghadapkan wajah pada yang menciptakan langit dan bumi, dengan tunduk patuh dan pasrah (muslim) dan pernyataan bahwa salat, ibadah, hidup dan mati hanyalah untuk Allah. Dan juga ada pernyataan tidak akan menyekutukan Dia dengan sesuatu pun.
Inti dari doa Iftitah adalah tauhid.
Bila salat syariat menghadapkan wajah fisik, maka salat daim menghadapkan jiwa secara terus menerus ke yang menciptakan langit dan bumi dengan hati yang tunduk dan berserah.
Jadi setiap waktu ketika aku ingat, aku mengoreksi jiwaku apakah sudah menghadapkan wajahku padaNya? Merasakan kehadiranNya yang dekat dan meliputi aku, di dalam dan diluar diriku.
Apakah aku sudah berserah diri? Berserah diri dalam arti percaya penuh dikasih apa dan mau diapakan dalam perjalanan hidup ini, yakin skenarioNya pasti yang terindah.
Kombinasi antara keyakinan dan kepasrahan ini menghasilkan sikap batin yang selalu berbaik sangka kepada Tuhan apapun yang terjadi dalam hidup ini.
Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, itu sebuah ikrar yang diinstal ke dalam jiwa dalam salat daim. Dilanjutkan dengan pernyataan tidak akan menyekutukan Allah.
Menjaga kondisi batin seperti yang aku uraikan di atas itulah yang kumaknai sebagai salat daim. Meskipun ragamu tidak melakukan gerakan salat, meskipun lisanmu tidak komat-kamit membaca doa Iftitah, secara jiwa kamu sudah melakukan salat.
Sebaliknya seseorang yang rajin melakukan syariat salat sampai ke sunah-sunahnya bila selama salat yang dipikirkan pekerjaan, anak, pasangan atau sinetron di tivi, pokoknya selain Allah, berarti dia menghadapkan wajah pada selain Allah.
Jadi jangan dulu keburu menghukumi orang yang tidak salat secara syariat itu salah dan berdosa, bisa jadi jiwanya salat terus menerus.
Sebaliknya jangan terlalu bangga dengan rajin salat secara syariat bila selama salat pikiranmu malah mengembara kemana-mana dan tidak memberi bekas ke jiwamu.
Tidak mudah menjadi orang yang tidak menyekutukan Allah. Banyak orang mengejar uang dan kekayaan dengan berbagai cara. Meskipun cara yang halal, bila prioritas hidupnya adalah kekayaan, maka orang tersebut sesungguhnya menyembah uang dan kekayaan. Halus memang.
Bahkan rasa khawatirmu akan uang, juga mengisyaratkan hatimu yang merasa tenang dan aman dengan uang, lebih dibandingkan dengan Allah. Itu syirik yang halus sekali.
Sengaja aku ajak kalian menembus pemikiran yang halus-halus. Bila terbiasa berpikir mendalam, dengan ijin Allah kamu akan saksikan keindahan yang lebih nyata daripada yang tampak mata ini.
Bila kamu sudah bebas dari rasa takut, sedih dan khawatir, kemungkinan besar kamu sudah benar-benar menempatkan tauhid di jiwamu.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar