Senin, 30 Maret 2026

Menembus Ilusi Tiga Dimensi

 Persoalan yang sering menjegal manusia dalam memahami kesejatian adalah dia seolah abstrak, padahal itu lebih nyata dari yang terlihat.  Sesuatu yang nyata tapi abstrak, membuat manusia yang sudah sejak bayi terjebak di dunia tiga dimensi ini susah yakin dan percaya.  Ditunjang oleh pergaulan dengan sesama manusia dengan pandangan yang sama. 

Manusia yang tidak terjebak dalam ilusi tiga dimensi itu manusia langka, karena jumlahnya sedikit sekali. Bila kamu menemukannya, jadikanlah dia temanmu atau sahabatmu.

Ketika manusia bisa menemukan kesejatian, walau masih baru masuk sejengkal. Lalu dia membaur dengan keramaian, itu menariknya lagi dalam ilusi tiga dimensi yang kerap menyesatkan. Terjadi proses tarik ulur yang melelahkan.  Sesulit itu memang, tetapi worth it untuk ditempuh.

 Pikiran dan perasaan pun abstrak, tak terlihat atau teraba, tapi ,manusia mempercayainya karena berada di dalam dirinya dan dia merasakan gerakan dan gejolaknya.  Tuhan pun ada di dalam diri manusia, tetapi kebanyakan manusia sulit merasakannya, padahal Dia adalah sumber gerakannya. Pertanyaannya adalah ada apa?

Bagaimana saya yakin akan Allah?  Itu pertanyaan yang sering aku dengar dari pembacaku yang tengah terlilit masalah. 

Yang kamu butuhkan adalah keheningan, agar kamu bisa menembus ilusi tiga dimensi itu. 

Allah hanya bisa kamu temui ketika batinmu hening. 

Kamu harus merobohkan dinding ilusi dengan keheningan. 

Nah, yang sering Innuri temui dari orang-orang yang bermasalah dengan tubuh fisik dan batinnya adalah pikiran yang susah hening.  Pikiran yang semrawut, sana dikomentari, sini dibenci, situ dihakimi, sono dianalisa, pikiran yang terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak penting tapi dianggap penting.  Ada kegagalan dalam memilah informasi di dalam batinnya.

Saranku, rajin-rajinlah bermeditasi. Walau tak semudah itu bagi pikiran yang terbiasa meloncat ke sana ke mari. Bila tidak dilatih, selamanya kamu akan terpenjara dalam ilusi tiga dimensi. 

Diamlah, duduk diam, atau berbaring.  Bernapaslah seperti biasa tetapi sadari napasmu, sadari saja masuk dan keluarnya napas dari hidungmu. Sampai lama kelamaan, napasmu yang semula bergerak cepat, ritmenya melambat, terus melambat sampai napas terasa panjang dan lembut. Teruslah memerhatikan napasmu sampai hatimu terasa begitu damai. 

Dalam kedamaian kamu akan menemukan inti dirimu. Kamu akan temukan jawaban-jawaban, atau apa yang kamu butuhkan.  Kamu akan bertemu dengan yang dulunya kamu anggap abstrak, menjadi nyata.  Dalam dirimu terjadi 'pengalaman ketuhanan'. 

"Sudah mbak In, aku sudah meditasi. Tapi tidak bisa ketemu Allah."

Ya kamu harus meyakini, Allah melihatmu, melihat usahamu, Dia selalu ada di hatimu. Allah juga yang menggerakkanmu kepadaNya. Kamu hanya perlu percaya. 

Bermeditasilah tanpa merasa bermeditasi. Maksudku, kamu jangan merasa berusaha bermeditasi, tetapi kamu sedang digerakkan Allah untuk bermeditasi. Begicuu yaa. 


Minggu, 29 Maret 2026

Buku Harian

Seorang pembacaku bilang, membaca bukunya mbak Innuri itu kayak membaca buku harian.  Awalnya aku merasa agak gimana gitu, jadi teringat pesan anak-anakku, "Ibuk jangan memosting kehidupan pribadi ke media sosial ya."

Rasanya pingin membela diri, aku (bukan aku, tapi Allah yang menggerakkan) hanya memosting sesuatu yang bermanfaat yang bisa diambil hikmahnya oleh orang banyak, termasuk cerita receh pun bila itu menghibur, itu pun bermanfaat 'kan?  Aslinya biar linimasaku nggak terisi tulisan spiritual thok, biar aku terlihat manusia, bukan allien ... haha.  Poinnya adalah bermanfaat, bukan untuk pamer atau mengumbar kehidupan pribadi, ya walau kadang hanya untuk menyimpan kenangan sih (Allah, boleh nyimpen kenangan 'kan?)

Sejujurnya sudah terserah Allah saja hidupku ini mau diapakan. Bukankah para Nabi dan orang-orang bijak pun kehidupannya sudah nggak privat lagi, seperti buku harian yang terbuka, kesalahan-kesalahannya malah dibuka di kitab suci.

Di dunia ini tidak ada cerita tanpa makna, semua dihadirkan Allah untuk maksud tertentu, cerita hidupku, hidupmu, hidupnya, hidup mereka. 

Soal buku harian itu, memang tidak salah apa yang dikatakan pembacaku, aku menulis di blog terlihat seperti menulis buku harian. Kadang berupa renungan-renungan, kadang yo curhat, tapi tidak semua hal yang aku tulis aku publikasikan, sebatas yang bermanfaat bila dibaca orang saja.  Walau kadang malu-maluin, bila bermanfaat, it's oke, Allah.

Mungkin karena kebiasaan menulis buku harian sejak SMP. 

Ulang tahunku jatuh di bulan Januari, dan Bapak selalu memberi hadiah ulang tahun berupa buku harian.  Barangkali maksud Bapak agar aku punya kebiasaan menulis.  Waktu SMP, buku harianku yang pertama, aku masih belum rajin menulis, banyak halaman kosong, baru ketika SMA mulai banyak tulisan, terutama tentang kegiatanku sehari-hari, segala peristiwa dan juga perasaan aku tumpahkan di situ.  Itu berlangsung sampai aku kuliah dan menikah.  



Nah, saat aku ikut suami ke mana-mana, setumpuk buku harian itu aku tinggalkan di Ngantang, di rumah ibu.  Aku lebih suka membawa setumpuk buku resep masakan karena aku tidak bisa memasak dan tentu saja buku harian yang baru.  Baru ketika pindah ke Malang lagi, aku menemukan kembali buku harianku yang setumpuk itu, utuh tak berkurang sehelai pun di rak perpustakaan keluarga, bergabung dengan diktat kuliah sampai buku tulisku sewaktu SD. Seteliti itu ibuku, orang Jawa bilang primpen, aku sudah beranak pinak, ibu masih menyimpan buku tulisku waktu SD! Terima kasih Ibu, rupanya begitulah cara ibuku mencintai kami, anak-anaknya.

Sudah Allah kehendaki demikian, dari buku harian yang disimpan ibu itu aku jadi mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi dalam hidupku. Kutulis jadi novel dari buku harian juga, walau aku dramatisir biar manis, jadi aku minta maaf kepada siapa pun yang pernah berada di masa lalu, karena telah menuliskanmu tanpa ijin. 

Banyak yang aku pelajari dari buku harianku.  Orang-orang datang dan pergi dari hidupku, semua membawa makna.  Manusia dipertemukan satu sama lain untuk saling belajar, dipisahkan pun demikian.  Berpisah dengan orang yang aku cintai adalah sebuah latihan bagi jiwa untuk mengelola rasa sakit.  Aku heran juga dengan pemikiranku saat masih remaja, sudah spiritual sekali.

Suka dan duka datang silih berganti, hidup tidak banyak memberi pilihan, memaksa kita mengikuti 'rule'nya.  Tak bisa memilih pengalaman manis saja yang datang.  Kita tak bisa merasakan senang bila tidak pernah merasakan sedih.  Kita tidak bisa menghargai kesetiaan bila tak pernah dikhianati.  Kita tak bisa merasakan kelonggaran bila tak pernah mengalami kesempitan.  Tambahkan sendiri sesuai dengan kondisimu saat ini.
 
Selamanya dalam hidup selalu terjadi dua hal yang seolah bertentangan, tetapi mereka bersahabat, membentuk diri kita hingga hari ini.  Berterimakasihlah pada keduanya. 
 
Ada juga pembaca yang memuji-mujiku (ngasih makan egoku nih), mbak Innuri itu pengalaman spiritualnya luar biasa. Aku harus katakan, di luar sana banyak orang mengalami hal yang lebih luar biasa, tetapi mereka diam. Bisa jadi pembaca Innuri blog ini lebih dalam pengalaman spiritualnya, tetapi tak menulis.  Innuri bersuara karena aku memang punya tugas menulis, aslinya bukan aku, tapi Allah.  Aku menulis karena ada perintah untuk menulis, karena Allah yang menggerakkanku menulis.  Jadi Innuri tak seluarbiasa itu ya, dia mah sudah tiada.
 
Sekarang menjadi penulis itu mudah, tinggal ngepromt ke AI,  tulisan sudah auto bagus sekali, tetapi tidak ada 'ruh'nya.  Jadi biar saja Innuri hadir dengan tulisan yang sederhana tetapi jujur lahir dari manusia, bukan mesin.  Manusia butuh disentuh manusia, kukira rasanya pasti beda.   

Inilah catatan harianku hari ini ... hmm.

Mulai Dari Mana?

 "Hubungkan saja hati dengan Allah."

"Bagaimana caranya?" 

"Rasakan saja kehadiran Allah, hanya diam untuk merasakan."  Dia bingung tak tahu caranya dan tak tahu hendak mulai dari mana.  Adakah kalian yang merasa begitu?

"Aku sudah menulisnya, coba search di blog atau di Fb di album Innuri Inspirasi," kataku.

"Tulisan Bunda banyak sekali, bingung mana yang musti tak baca."

Belakangan ini aku sering dihadapkan pada situasi itu, saking seringnya sampai terpikirkan olehku mungkin perlu menyusun buku lagi, semacam panduan untuk mempermudah perjalanan bertemu Allah.  Menyusun buku, bukan menulis buku, karena sebenarnya aku sudah sering menuliskannya, tinggal merangkainya jadi buku.

Mungkin sudah waktunya.  Bukuku yang pertama Menciptakan Keajaiban Finansial, sebenarnya mengajak orang agar hidup untuk Allah, sementara materi akan mengikuti.  Sukses membuat anakku Zeli bilang, ini buku bikin orang jadi matre, tapi di sisi lain dengan ijin Allah banyak yang bisa punya rumah setelah sebelumnya merasa sangat sulit untuk punya, juga lunas hutang, dll.  Aku menilai itu buku yang "benar tapi salah", karena ujung-ujungnnya seperti dikatakan Zeli.

Lalu terbit buku kedua Energi Murni Alam Semesta (EMAS) yang di dalamnya ada tuntunan untuk mengakses energi murni alam untuk kesehatan dan kebahagiaan, tapi juga mengajak orang menempuh hidup dengan cinta kasih.  Aku menilai buku itu "salah tapi benar".  Salahnya aku menganggap semua orang bisa melakukan transfer energi sepertiku, padahal itu karomah namanya, tidak semua orang bisa.

Perasaan kok tidak ada yang benar-benar salah atau benar-benar benar ... hehe, tapi mungkin buku ketigaku adalah buku yang "benar tapi benar".  Kok bisa seyakin itu?  Karena aku tidak merasa menulis, Allahlah yang menulis atau Allah yang menggerakkanku menulis.  Inilah yang membuatnya benar tapi benar.

'Benar tapi benar' di hadapan Allah itu berbeda dengan versi manusia.  Di mata manusia bisa jadi 'salah tapi salah' dan bisa dihukumi sesat, murtad, gila, dsb, Innuri dah wareg dikatain begitu.  Innuri jangan nangis ya ... puk puk puk!

Innuri harus jujur pada kalian, dua bukuku yang sudah terbit itu masih berbau ego, aku masih merasa menulis, nah 'kan Innuri jadi malu sama Allah sekarang.  Tapi nggak apa-apa kata Allah, karena setiap orang menempuh langkah demi langkah untuk sampai kepada Allah.  Langkahnya Innuri ya buku itu, step pertama masih berkutat pada materi, step kedua sudah lebih mending, sudah bicara soal kedamaian, kebahagiaan hakiki dan cinta kasih, step ketiganya adalah puncak spiritual, memandu orang untuk menyatu dengan  Allah.

Entah kapan buku itu terwujud, Innuri belum memulainya, baru terpikirkan setelah dihadapkan pada masalah yang aku ceritakan di awal.  

Sementara ini, buat yang bingung memulai dari mana dan bagaimana caranya, berikut ini tips dari Innuri:

- pelajari mulai dari tulisan ini Tuhan dalam Pikiran  lanjut tulisan selanjutnya Menempuh Lapisan Indra  lalu lanjut ke seri  Perjalanan ke Dalam 1  

- ada 7 artikel di Perjalanan ke Dalam, sampai Perjalanan ke Dalam 7 , untuk yang ke dua sampai ke enam cari sendiri di blog ya.

- selanjutnya pelajari Zikir Sirrur Asror  

- bila sudah paham semuanya, boleh pelajari Salat Daim 1 sampai Salat Daim 4, cari sendiri di blog.

Sudah itu saja, bila ada pertanyaan di tengah-tengah mempraktekkan yang tertulis di sini, boleh inbox di Fb Innuri atau di IG atau yang tahu nomor WA-ku boleh juga. 


Jumat, 27 Maret 2026

Family yang Toxic

 Ada teman dari Quora yang bertanya begini (beliau sudah mengijinkan kisah ini aku tulis di blog) :

Maaf bu, keluar dari topik. Saya ingin bertanya. Dari sudut pandang ibu yg sangat saya kagumi, saya ingin ibu memberi saran kepada saya🙏

Saya usia 25 tahun belum menikah. Saya punya kakak dan orang tua yang menurut saya sangat toxic. Orang tua saya seringkali mendoakan kesuksesan saya tapi dengan embel-embel ingin saya menopang hidup beliau seumur hidupnya. Ketika saya punya uang, dia mengatai saya dengan kata2 pelit, eprhitungan, dll. Padahal nyatanya saya pernah habis-habisan tidak punya tabungan untuk mencukupi kebutuhan rumah. Padahal gaji saya gede waktu itu.

Sedangkan kakak saya ketika saya punya uang selalu berusaha supaya uang saya keluar untuk sesuatu yg sia-sia. Dia tidak terima ketika saya punya tabungan, tambah cantik, dan semakin maju. Ketika saya tidak menurutinya, saya difitnah kesana kemari katanya saya perhitungan dengan keluarga, sangat pelit, dll. Sehingga banyak yg diam2 membenci saya. Padahal saya hanya belajar dari pengalaman sebelumnya kalau membantu keluarga itu seperlunya saja tanpa mengesampingkan diri saya sendiri. Karena kalau ingat saya dulu yg mengutamakan keluarga saya malah saya sendiri kurus kering, gak terawat, dan selalu kurang. Kakak saya dulu seringkali bilang "hee, kamu gak akan bisa ada diatasku. Kamu dari dulu cuma babuku. Kamu itu akan selalu melarat. Aku gini dapatnya PNS. Kalau kmu dapat kuli atau gak buruh pabrik udah bagus banget hahaha. Palingan nikah bentar udah dicerai soalnya jijik liat wajah jelekmu". Sakit sekali dengarnya.

Saya bahagia dengan perubahan saya saat ini tapi saya sakit sekali dengan perlakuan keluarga.

Rasanya sangat lelah, Bu🥹🥹😭


Lalu aku minta mbak Eka, panggil saja begitu,  untuk berkirim pesan pribadi saja, aku minta foto mereka bertiga, Ibu, kakaknya dan mbak Eka sendiri, berikut nama asli mereka bertiga.


Kenapa aku minta foto dan nama asli?  Untuk 'diterawang' ya?  Iya dong, karena dalam kasus seperti ini aku tidak bisa berbicara dengan tiga belah pihak.  Bisa jadi omongan mbak Eka gak bener 'kan?  Nggak bisa 'kan melihat masalah dari satu sudut pandang saja?  Aku memang harus 'nerawang' untuk melihat masalah secara jernih.


Kembali ke masalah ya.

Akhirnya setelah aku lihat fotonya, memang karakter ibunya setoxic itu ditambah menekan, egois dan keras hati, makanya mba Eka merasa tertekan.  Kakaknya juga sejahat itu, kejam dan ingin menguasai, padahal wajahnya cantik dan lembut loh, tapi kebaca saja sisi gelapnya.  Sementara mba Eka punya wajah cantik dan positiv vibes orangnya, tapi karena punya pengalaman pahit sehubungan dengan membantu keluarga secara financial, orangnya jadi perhitungan dan ada hitam-hitamnya dendam yang harus diselesaikan.


Aku sarankan untuk menjauh dari keduanya, tidak tinggal serumah, ngekost atau ngontrak saja, kalau perlu membantu keluarga, ya membantu semampunya dan seikhlasnya. Sesederhana itu, yang tidak sederhana adalah apa maksud Allah dibalik situasi yang tidak enak itu?


Waktu aku membaca foto mbak Eka, aku langsung nangkep, bila dendam dan kemarahan yang masih terpendam di hatinya itu bisa diselesaikan, hidupnya bakal luar biasa, bisa melejit entah secara karier atau spiritual, dengan kehendak Allah.  Aku bilang padanya untuk mensyukuri ujian yang berupa ibu dan kakak, karena itu cara Allah menaikan levelnya.


Di masyarakat manusia memang sering terjadi pola seperti ini, diberikan ujian, setelah lulus mendapat anugerah yang indah.  Tinggal manusianya saja, mau nggak mengerjakan soal ujiannya?


Yang harus dikerjakan mbak Eka adalah menyelesaikan dendam dan kemarahan yang  masih tersimpan di batinnya sampai bersih dengan memaafkan, memaklumi.  Tandanya sudah bersih muncul perasaan damai, kasih sayang kepada Ibu dan kakaknya.


Bagaimana cara memaafkan sampai bisa berdamai dengan semuanya? Banyak caranya, Salah satunya bisa  mencoba Ho'oponopono , itu cara mudah.


Mbak Eka juga bertanya tentang sikap apa yang harus diambil sehubungan dengan kakaknya yang sering memfitnahnya?  Bila sudah bisa berdamai dengan perasaan marah dan dendam itu, otomatis nanti akan muncul petunjukNya musti ngapain.


Semoga mbak Eka bisa menyelesaikan PR-nya.  Aamiin.

Keajaiban Tahajud

 Beberapa pembaca Innuri mencurigai ada 'sesuatu' yang tidak beres dalam dirinya dan orang-orang terkasihnya, yang dia curiga itu guna-guna.  Aku jadi teringat tulisanku di Quora, ini aku copas jawaban atas pertanyaan,"Apakah keajaiban tahajud yang kamu alami?"

Semoga jawabanku bermanfaat buat orang-orang yang kena guna-guna atau siapa pun yang merasa ada yang tidak beres di tubuhnya.

Semasih remaja, masa-masa SMA, aku adalah gadis yang gampang membuat cowok jatuh cinta, entah karena apa. Tetapi tentunya aku nggak bisa menerima semua cinta itu bukan? Nah, di sinilah letak persoalannya, barangkali ada yang begitu sakit hati dengan penolakanku, maka aku dikirimi guna-guna.

Bagaimana rasanya kena guna-guna? Benar-benar mengerikan. Aku mengalami ketakutan sekitar 4 tahun, jadi guna-guna itu "bekerja" sampai aku kuliah dan menikah (untungnya guna-guna itu tak sampai 'menutup' jodohku).

Aku menduga, guna-guna itu ditargetkan untuk membuat aku gila.

Jadi ceritanya begini. Semula setiap malam aku merasa tidur ditunggui seorang nenek-nenek, lalu ketika terbangun, aku melihat banyak makhluk-makhluk aneh berwarna hitam berada di dekat kakiku dan memasukkan 'sesuatu' melewati telapak kakiku, aku merasa ada yang memasuki tubuhku. Lalu bisa aku atasi dengan doa-doa.

Ketika doa-doa selesai kupanjatkan, maka aku merasa ada 'asap hitam' keluar dari kepalaku. Jadi 'asap' itu dimasukkan lewat kakiku, keluarnya lewat kepalaku.

Kejadian itu berulang setiap malam sampai aku tidak berani tidur sendiri. Masa SMA, aku tinggal di rumah bulik, jadi kalau paklik lagi tidak ada di rumah, aku pindah ke kamar bulik. Kalau paklik sedang ada di rumah, maka sepupuku yang cowok aku minta tidur di sofa, akunya tidur di kamarku sendiri dengan pintu kamar yang terbuka.

Begitulah setiap malam aku mengalami ketakutan yang luar biasa, siangnya bayangan wajah seorang cowok yang pernah kutolak cintanya membayangiku terus. Hanya membayangi, tetapi cintaku tetap masih untuk cowokku sendiri.

Hari-hari yang berat aku lalui sambil memikirkan sekolah. Di sekolah aku jadi sering lemas dan pingsan karena malamnya susah tidur, aku langganan masuk ruang UKS sampai dekat dengan guru BK, nama beliau Pak Hanan, aku pajang di PP Quoraku, itu fotoku dengan beliau, alhamdulillah Pak Hanan masih sehat sampai saat ini, beliau hafal denganku gara-gara langganan pingsan dan kram di sekolah.

Foto aku dan Pak Hanan tahun 2019 lalu.

Puncak dari guna-guna itu terjadi pada suatu malam, mungkin karena tak berhasil dengan cara yang kemarin, malam itu guna-gunanya dimasukkan lewat mimpi. Aku bermimpi buruk sekali yang puncak dari mimpiku, aku merasa ada 'sesuatu' yang dimasukkan ke kepalaku bagian atas, masuk dengan 'dijejalkan', rasanya seperti dimasuki sebongkah batu berbentuk silinder tetapi tumpul di sisi-sisinya (berbentuk kapsul super gede).

Aku terbangun, kepalaku rasanya berat sekali dan berusaha menyelesaikannya dengan doa-doa seperti malam-malam sebelumnya, namun 'sesuatu' itu tidak bisa keluar, dia menetap di kepalaku sejak malam itu, kejadiannya aku kelas 2 SMA sampai aku kuliah dan menikah. Sudahlah kepalaku ini terasa berat, kadang merasa otakku seperti diremas-remas, membuatku susah berkonsentrasi. Itulah penderitaan beratku selama 4 tahun, sakit kepala yang bukan sakit kepala biasa ditambah penampakan makhluk-makhluk mengerikan hampir setiap malam. Bila bukan karena kasih sayang Allah, mungkin aku sudah depresi dan gila.

Singkat cerita, saat aku kuliah aku punya pembimbing spiritual, nama pena beliau Syamsul'alam, seorang penulis rubrik Tasawuf di majalah Jawa Panjebar Semangat. Aku memanggilnya Eyang Syamsul'alam. Beliau menyarankan aku untuk:

  • selalu dalam keadaan suci (menjaga wudu, kalau batal berwudu lagi)
  • tahajud
  • zikir setelah tahajud sampai tenggelam dalam asma Allah

Aku melakukan nasehat beliau, saat itu aku sudah menikah. Entah berapa lama aku melakukannya, keajaiban pun datang di sebuah malam.

Aku bermimpi, bertemu makhluk hitam dengan kepala pelontos (lebih mengerikan dibandingkan dengan gambaran tentang jin di film-film), lalu setelah itu aku seperti mendapat sebuah catatan di atas sebuah kertas tebal kira-kira lebih besar dari pada buku tulis biasa tetapi lebih kecil dari kertas folio. Ada sederet tulisan yang aku baca di kertas itu, tetapi yang aku ingat cuma tulisan "Aslam" (artinya selamat). Setelah itu aku merasa ada 'sesuatu' yang keluar dengan kuat, seperti angin yang kencang tetapi sumbernya dari kepaku, berhembus keluar kepala. Keluarnya sampai beberapa saat yang menurutku lama (padahal dulu masuknya sangat cepat). Setelah keluar semua, aku terbangun dan merasakan kepalaku ringan, sakit kepalaku sembuh seketika, saat itu juga sampai hari ini tak pernah lagi merasakan otak seperti diremas-remas.

Oh ya, selama masa-masa sakit kepala itu, tak terhitung sudah upaya dari orang tua, guruku, suamiku dan sahabarku untuk menyembuhkanku, ke dokter iya, ke kiai, ke orang pintar, sudah kemana-mana pokoknya, tetapi tak ada yang berhasil membuatku benar-benar sembuh, kalau meringankan sih iya.

Jadi rupanya untuk sembuh total, musti dari diri sendiri, kata kuncinya : selalu suci, tahajud, zikir sampai terbenam dalam asma Allah. Sudah 3 itu saja dan dengan ijin Allah aku sembuh.

Semoga bermanfaat, salam manis.

Kamis, 26 Maret 2026

Jatuh Cinta Pada Allah

 Banyak sekali orang yang mendoakanku panjang umur, membuatku ingin berteriak,"Tidaaaak! Aku tidak mau panjang umur!".  

Aku ingin segera pindah channel, ke channel yang lebih indah daripada dunia ini, mau ikut? ... haha.  

Seandainya orang-orang itu melihat apa yang pernah Allah perlihatkan padaku, barangkali mereka sendiri pun tak mau tinggal lama-lama di dunia. 

Kadang aku merasa terjebak di dunia hologram, kerinduanku setiap hari adalah berada di kesejatian dimana aku bisa bertemu Allah tanpa terdistraksi dengan urusan dunia. 

Itu semesta yang indah sekali, yang di sana Tao Ming Se pun kehilangan pesonanya, emas permata tak berarti, istana megah lebih kecil dari sebutir debu. 

Aku tidak mau panjang umur, mauku meninggalkan dunia ini sebelum usia 60 tahun dan aku harus mati duluan sebelum suamiku.  Aku pernah punya feeling seperti ini dan suamiku pernah sedih banget.

Tapi bukankah itu egois namanya?  Tak ada bedanya dengan orang-orang yang ingin panjang umur.  Aku hanya perindu surga dan bukan perindu Allah. Kalau aku perindu Allah, aku pasti bahagia saja di mana pun ditempatkan olehNya, meski di neraka sekali pun asal bersama Allah. Ini cuma dunia, masak aku sudah ingin buru-buru pindah channel, sedangkan di dunia ini ada Allah yang senantiasa membersamaiku.

Halus sekali jebakannya, jebakan mukasyafah. 

Orang-orang yang hanya melihat keindahan dunia, ingin panjang umur agar terus menetap di sini. Orang yang sudah Allah perlihatkan keindahan surga ingin segera mati. Keduanya sama saja, memuja tempat.

Lalu pemahaman baru diterbitkan Allah di hatiku, seperti sebuah penghiburan.  Pemahaman yang susah sekali diterangkan dengan kata-kata.  Ketika Allah menghadirkan diriNya ke hatimu, itu bukan lagi surga tempat yang kamu saksikan, itu bukan tempat tapi lebih indah.  Surga yang terjadi tanpa perlu mati fisik, tinggal kun fayakun. 

Itu terjadi ketika aku mengalami jatuh cinta pada Allah.

Ini hal yang luar biasa, aku seperti dimasukkan dalam pusaran waktu yang di dalamnya aku dipahamkan akan makna dibalik setiap hal yang aku alami sepanjang hidupku. 

Lalu aku menyadari (disadarkan Allah) bahwa momen-momen yang aku anggap luar biasa hanyalah sepercik saja dari pengalaman bahagia yang diberikan Allah, karena Allah sudah menyiapkan momen bahagia yang tak terbatas sebagai hadiah untukku. 

Allah membawaku ke masa lalu, masa kecilku yang bahagia, masa remajaku yang penuh warna. Momen jatuh cinta yang membahagiakan. Lalu Allah perlihatkan berjuta cinta yang disediakanNya sebagai anugerahNya.  Aku bisa jatuh cinta pada sebutir sel yang tak berarti di mata dunia, atau pada hembusan angin dan air yang mengalir seindah aku jatuh cinta pada kekasih. 

Lalu aku merasa sebagai setitik air dalam lautan kasih sayangNya. Itu lautan akhirat yang indah tiada tara, airnya ringan yang hampir-hampir tak membasahi kulitku, aku basah tetapi tidak basah, lautan itu berwarna pelangi yang berkilauan tapi tidak menyilaukan. 

Ketika aku jatuh cinta pada Allah, aku merasa kecil dalam kebesaranNya, aku kecil tanpa merasa dikecilkan, aku si kecil yang berharga dalam pandangNya. Aku kecil yang dipuja dan dimanjaNya.  

Allah menempatkanku di ketinggian dengan seluruh penjagaanNya sehingga aku bisa melihat dengan mata facet (sungguh Allah sudah memberikan perumpamaan dalam diri serangga).

Pengalaman itu ada istilahnya sendiri dalam psikologi transpersonal, tapi aku lupa apa di kuliah Pak Hans, jadi aku namakan saja pengalaman jatuh cinta pada Allah. 

Banyak orang yang berjalan di jalan spiritual (dalam Islam disebut jalan makrifatullah), mengalami hal yang mirip dengan yang aku alami.  Salah satunya dialami Jim Carey.  Coba buka tautan Pengalaman spiritual Jim Carey .

Seperti haknya Jim Carey, aku pun ingin mengalaminya lagi dan lagi.  Kalau kalian mengalaminya, certain ke Innuri dong! 

Apa Innuri masih pinging cepat mati?  Masih kadang-kadang (Allah, ampuni aku) ... sudah sering pamitan sama ojob tapi nggak mati-mati .... hahaha.  Sekarang dia malah menertawakanku, katanya aku cuma mati egonya.   

Tapi aku masih punya kesempatan beberapa bulan untuk tahu mana yang benar, suamiku atau aku, mati ego atau mati beneran, sebelum usiaku genap 60 tahun.   Waah, egoku bangkit lagi tuh, kepingin buktikan kalau aku yang benar.  Halus banget 'kan permainan ego itu?

Kadang egoku bermain-main di keinginan, ingin pameran lukisan tunggal.  Tapi kupikir lagi, apa yang dipuaskan dari pameran lukisan tunggal yang tidak memberi kontribusi apa pun pada dunia?  Ego lagi, terkecuali lukisanku laku milyaran dan aku pakai untuk berbuat baik.

Yang bener itu ya pasrah saja sama Allah, mati kapan pun selama bersama Allah dalam hidup dan mati, bahagia saja mestinya.

Rabu, 25 Maret 2026

Salat Daim. (4)

 Ruku dan sujud itu menggambarkan sikap jiwa yang tunduk dan patuh kepadaNya. .

Doa yang diucapkan saat ruku dan sujud adalah Maha Suci Allah, Maha Mulia Allah, Maha Tinggi Allah dan segala puji bagiNya. 

Maksudnya kamu harus menginstal ke dalam jiwamu sifat-sifat Allah ini agar hatimu jadi suci, mulia dan tinggi. Tapi jangan merasa menginstal juga, Allah yang melakukannya, Allah yang menggerakkan ruhanimu melakukannya. Ini sering aku bilang karena sepenting itu. 

Bila kamu merasa suci dan mulia, itu sudah kesombongan. Tapi bila kamu menyadari bila itu karena Allah, ya santai saja, kosong, kosong tapi isi. Jiwa yang kosong tapi isi ini jiwa yang tenang, tidak berisik, tidak bergemuruh, tidak banyak pertanyaan tentang kehidupan karena sudah dipahamkan Allah akan semuanya. Itu jiwa yang indah dan merdeka. 

Sujud melambangkan kerendahan hati di hadapan Yang Maha Tinggi. Di dalam kehidupan ini segala sesuatu dikendalikan Allah, termasuk perilaku orang-orang sekelilingmu sampai debu yang beterbangan.  Jadi ketika kamu melihat semua itu, yang kamu lihat ya Allahnya, dengan kata lain Allah yang sedang berada di hadapanmu (dan di dalam dirimu). Dengan demikian hatimu bisa merendah dalam posisi apapun.  Paham kan maksudku? 

Sujud juga momen terdekat antara makhluk-khaliq, ketika bisikan terhalus seorang hamba terasa didengar dengan nyata. Tempat seorang hamba berintim-intim dengan Penciptanya. Sujud bisa begitu indah sampai berlama-lama, apalagi sujudnya jiwa. 

Sujud itu mencium bumi, mencintai asal muasal kita, dari bumi juga jaringan tubuh kita tersusun membentuk kekuatan fisik untuk melaksanakan misinya di atas bumi. Menghargai bumi adalah menghargai diri kita sendiri karena kita tak pernah terlepas darinya, kita adalah bagian dari bumi. Jangan berjalan dengan sombong di atasnya. Rendah hatilah seperti bumi.

Doa yang diucapkan sewaktu duduk antara dua sujud itu artinya kurang lebih begini:

Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rizki, berilah aku petunjuk,  sehatkanlah aku dan sayangilah aku. 

Pada umumnya orang yang melakukan salat, menganggap doa antara dua sujud itu adalah permintaan. Yang namanya permintaan itu berarti meminta yang belum dia punya.  Padahal kalau direnungkan, semua yang disebut di dalam doa itu sudah dia punya, sudah Allah berikan. 

Allah sudah mengasihinya, sudah mencukupi, memberinya rizki, dsb.  Jadi sebenarnya doa yang terucap itu untuk menegaskan bila yang bisa memberikan semua itu adalah Allah, itu doa untuk bersyukur dan agar manusia tidak mengaku-ngaku yang mencukupinya adalah hasil kerja kerasnya, yang memberi petunjuk adalah ilmu yang dipelajarinya, dst. 

Walaupun saat berdoa memohon dikasih kesehatan, kita dalam keadaan sakit, sebaiknya sikap batin merasakan 'sudah dikasih Allah sehat'.  Itu bentuk prasangka baik kepada Allah dan membentuk pikiran bawah sadar 'sehat'.   Pikiran bawah sadar itu powerfull.  Mungkin lain kali aku cerita soal ini lebih mendalam. 

Salat syariat ditutup dengan bacaan tahiyat lalu mengucap salam ke kanan dan ke kiri. 

Di dalam bacaan tahiyat ada pernyataan segala kebiakan, keberkahan, keselamatan adalah dari Allah. Juga doa untuk para Nabi , leluhur dan diri sendiri berikut orang-orang seperjalanan spiritual, dan ada pernyataan-pernyataan syahadat.  

Entah mengapa, bacaan tahiyat ini mengingatkanku akan teori ketidaksadaran kolektif Carl Gustav Jung, dimana di dalam diri setiap manusia ada memori yang tersimpan yang merupakan memori seluruh umat manusia sejak jaman dahulu hingga sekarang.  

Kalau dikaitkan dengan teori Jung, ada benang merah yang menyatukan manusia jaman dulu, sekarang dan masa depan, benang merahnya itu adalah tauhid. 

Sedangkan bacaan salam ke kanan dan ke kiri adalah isyarat menyebarkan keselamatan dan kedamaian ke sekeliling kita. 

Orang yang rajin salat syariat tapi di luar salat suka menyebarkan kebencian dan permusuhan, sama saja dengan tidak salat. Sebaliknya orang yang selalu menyebarkan kebaikan dan kedamaian ke lingkungannya, dia sudah salat secara jiwa. 

Begitulah hasil renunganku tentang salat daim. Semoga bermanfaat ya. I love you. 

Senin, 23 Maret 2026

Salat Daim (3)

 Taawudz

Taawudz merupakan doa perlindungan dari godaan syetan yang terkutuk.  

Ada hadits yang mengatakan bila syetan itu mengikuti aliran darah, renungkan apa artinya ini? Artinya syetan itu bukan makhluk ghaib di luar sana yang selalu menggodamu, tapi dia menyatu denganmu, dalam psikologi transpersonal disebut ego. Carl Gustav Jung menyebutnya shadow, sisi gelap yang setiap orang punya. 

Bagaimana lolos dari syetan bila dia menyatu dengan kita?  Langkah paling efektif adalah menyatu dengan Tuhan.  Bila sudah menyatu dengan Tuhan, ya otomatis setannya tak berkutik, alias egonya masuk lemari dan terkunci tujuh lapis gembok. Shadow kita hilang karena ketiadaan diri. 

Bagaimana menyatu dengan Tuhan? Innuri sudah menuliskannya di seri Perjalanan ke Dalam

Akan tetapi, orang yang sudah pernah mengalami menyatu dengan Tuhan pun masih harus menempuh perjalanan lagi atau masih harus berjuang agar menyatunya tidak on of.

Perlu mengoreksi diri terus menerus, apakah sedang menyatu dengan Tuhan ataukah dengan syetan / ego / shadow.  Tapi kuingatkan lagi agar jangan merasa berusaha, Allah yang menggerakkanmu berusaha. Jangan merasa terpisah dengan Allah. 

Al Fatihah

Al Fatihah merupakan inti sari Al quran.  Poin-poinnya, melakukan segala sesuatu atas nama Allah yang Maha Kasih Sayang, memuji / bersyukur, penekanan pada kasih sayang lagi, Allah yang menguasai hari pembalasan (mempercayai karma), penyembahan hanya kepada Allah disertai doa memohon pertolongan, hati yang selalu mohon petunjuk ke arah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi kebahagiaan dan bukan jalan orang yang sesat dan dimurkaiNya. 

Indah sekali makna Al Fatihah, biarkan dia memperindah hidupmu dengan menginstal nya ke dalam jiwamu sampai menjadi kepribadianmu. Dengan demikian kamu sudah menjalankan salat daim. 

Ar-Rahman Ar rahiim sampai diulang dua kali, menunjukkan betapa pentingnya kasih sayang  dan betapa pentingnya memahami bila Allah Maha Kasih Sayang. Itulah basicnya kehidupan ini.

Melakukan apapun musti niat melakukannya karena digerakkan Allah yang penuh kasih sayang. Ini susah sekali di jaman media sosial ini.  Niat upload foto atau video karena pamer, karena biar dapat gaji dari medsos, atau untuk dapat like, entah karena apa lagi.  Halus sekali masuknya niat-niat itu. 

Harus disadari bila niat yang dilakukan bukan karena Allah itu endingnya ngenes! Misal nih karena uang, kalau nggak tercapai ya kecewa. Karena pamer, nggak ada yang merespon ya kecewa lagi. Kalau niatnya karena Allah yang Maha Kasih Sayang ya enteng saja, Allah yang menggerakkanku dan atas dasar kasih sayang, mau hasilnya bagaimana bisa auto santai, tanpa berharap apapun. Hidup hanya mengalir saja di dalam aliran kasih sayangNya. 

Siapa sih yang tidak bahagia dikasih sayangi Allah? Persoalannya adalah Allah sudah melimpahkan kasih sayangNya, manusianya yang gak notice alias hatinya lalai. Lalai karena ketutupan ego, keinginan, kehendak, hasrat duniawi yang serakah.  Semua tutup itu harus disingkirkan untuk bisa salat daim yang "sekedar" merasakan kasih sayang Allah, tanpa jungkat-jungkit, tanpa komat-kamit. 

Mendasari segala sesuatu dengan kasih sayang ini bukan melulu soal perbuatan, tapi juga membatin apapun musti atas dasar kasih sayang.  Misal dihadapanmu ada seseorang yang perilakunya jelek sekali, hatimu musti memahami itu pakai kasih sayang, nonjudgemental. Bukannya membatin orang ini kok begini banget ya, dll. Hati selalu dikondisikan berada di zona kasih sayang. 

Tentang maaliki yaumuddin, yang artinya yang menguasai hari pembalasan. Umumnya orang memaknai hari pembalasan itu nanti di akhirat, padahal di dunia ini sudah ada pembalasan, yang banyak orang menyebutnya karma. Ada karma baik ada karma buruk. Percaya pembalasan ini bikin hati-hati, tapi jangan melakukan sesuatu karena takut karma, lakukan karena Allah saja, kembali ke poin awal.  

Ayat berikutnya kepadaMu aku menyembah dan kepadaMu aku mohon pertolongan.  Ini tauhid lagi, jangan berharap pertolongan pada makhluk. Misal minta tolong Pak X untuk diterima bekerja.  Yakinlah Allah pasti menolong kehidupanmu.  Terkadang kita ditolong oleh seseorang, batinmu harus memandang Allahlah yang menolong via orang itu. 

Ayat selanjutnya mohon petunjuk selalu dijalankan di jalan yang lurus, yaitu jalan Tuhan, jalan orang-orang yang berbahagia. Jadi kalau kamu sudah berada di jalan yang lurus, jangan merasa itu karena usahamu, karena Allahlah yang menjalankanmu di situ. Bersyukur saja.

Jadikanlah Al Fatihah sebagai kepribadianmu. Itu lebih penting daripada salat fisik yang tidak membekas di jiwa. 

(bersambung) 


Sabtu, 21 Maret 2026

Salat Daim. (2)

 Doa Iftitah

Poin-poin dari doa Iftitah adalah menghadapkan wajah pada yang menciptakan langit dan bumi, dengan tunduk patuh dan pasrah (muslim) dan pernyataan bahwa salat, ibadah, hidup dan mati hanyalah untuk Allah. Dan juga ada pernyataan tidak akan menyekutukan Dia dengan sesuatu pun. 

Inti dari doa Iftitah adalah tauhid. 

Bila salat syariat  menghadapkan wajah fisik, maka salat daim menghadapkan jiwa secara terus menerus ke yang menciptakan langit dan bumi dengan hati yang tunduk dan berserah. 

Jadi setiap waktu ketika aku ingat, aku mengoreksi jiwaku apakah sudah menghadapkan wajahku padaNya? Merasakan kehadiranNya yang dekat dan meliputi aku, di dalam dan diluar diriku.

Apakah aku sudah berserah diri? Berserah diri dalam arti percaya penuh dikasih apa dan mau diapakan dalam perjalanan hidup ini, yakin skenarioNya pasti yang terindah.

Kombinasi antara keyakinan dan kepasrahan ini menghasilkan sikap batin yang selalu berbaik sangka kepada Tuhan apapun yang terjadi dalam hidup ini.

Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, itu sebuah ikrar yang diinstal ke dalam jiwa dalam salat daim. Dilanjutkan dengan pernyataan tidak akan menyekutukan Allah.

Menjaga kondisi batin seperti yang aku uraikan di atas itulah yang kumaknai sebagai salat daim.  Meskipun ragamu tidak melakukan gerakan salat, meskipun lisanmu tidak komat-kamit membaca doa Iftitah, secara jiwa kamu sudah melakukan salat. 

Sebaliknya seseorang yang rajin melakukan syariat salat sampai ke sunah-sunahnya bila selama salat yang dipikirkan pekerjaan, anak, pasangan atau sinetron di tivi, pokoknya selain Allah, berarti dia menghadapkan wajah pada selain Allah.

Jadi jangan dulu keburu menghukumi orang yang tidak salat secara syariat itu salah dan berdosa, bisa jadi jiwanya salat terus menerus. 

Sebaliknya jangan terlalu bangga dengan rajin salat secara syariat bila selama salat pikiranmu malah mengembara kemana-mana dan tidak memberi bekas ke jiwamu. 

Tidak mudah menjadi orang yang tidak menyekutukan Allah. Banyak orang mengejar uang dan kekayaan dengan berbagai cara.  Meskipun cara yang halal, bila prioritas hidupnya adalah kekayaan, maka orang tersebut sesungguhnya menyembah uang dan kekayaan. Halus memang. 

Bahkan rasa khawatirmu akan uang, juga mengisyaratkan hatimu yang merasa tenang dan aman dengan uang, lebih dibandingkan dengan Allah. Itu syirik yang halus sekali. 

Sengaja aku ajak kalian menembus pemikiran yang halus-halus. Bila terbiasa berpikir mendalam, dengan ijin Allah kamu akan saksikan keindahan yang lebih nyata daripada yang tampak mata ini. 

Bila kamu sudah bebas dari rasa takut, sedih dan khawatir, kemungkinan besar kamu sudah benar-benar menempatkan tauhid di jiwamu.  

(bersambung) 

Salat Daim (1)

Pertama mendengar istilah salat Daim dari ceramahnya Gus Mukhlason Rasyid di Youtube. Dalam kajian Gus Son, yang diperintahkan Allah saat isro' mi'raj Nabi Muhammad adalah salat 50 waktu dan itu adalah salat daim.  Karena Allah pasti tahu bila manusia tak mungkin melakukan salat jungkat-jungkit 50 kali sehari. 

Salat daim itu salatnya jiwa, dan Gus Son tidak merinci bagaimana caranya dan apa perbedaannya dengan zikir sirrur asror. Gus Son hanya mengatakan dalam keadaan apapun hubungkan hati dengan Allah, itu sudah salat daim.  Ataukah Innuri yang kurang mengikuti ceramahnya Gus Son jadi ada yang tertinggal? Cmiiw yaaa. 

Aku mau cerita saat aku coba mempraktekkannya, jadi salat daim yang aku uraikan di bawah ini caranya Innuri. 

Begini, bila dikatakan salat daim itu salatnya jiwa, aku coba "mengukir" bacaan salat versi syariat ke dalam jiwa. Apakah salatnya harus jungkat-jungkit? Tidak harus, yang penting jiwanya yang salat, tapi kalau mau jungkat-jungkit ya silakan. Bebas. 

NIAT

Mulai dari niat. Niat karena Allah itu berarti kita bisa melakukan salat karena Allah, bukan karena diri kita, artinya egonya ditaruh dulu. Jangan merasa bisa salat, Allahlah yang menggerakkanmu salat.

Niat ini harus terbawa di dalam kehidupan sehari-hari, kamu melakukan apapun dengan ego yang disimpan di lemari pakaian dan dikunci pakai gembok lapis tujuh.  Melakukan apa pun kataku, bukan kamu, tetapi Allah yang menggerakkan. 

Kamu memasak, berkebun, berkendaraan, bahkan sampai ke bermesraan dengan kekasih kalian, itu karena Allah yang menggerakkan, ini harus disadari betul, tak bisa ditawar. Ingat egonya sudah digembok!

Mengoreksi batin setiap hendak melakukan sesuatu, "Apakah ini karena Allah atau hawa nafsu, kehendak dan keinginanku? "  Ini penting banget.  Perasaan Allah yang menggerakkan itu berbanding lurus dengan menyingkirnya hawa nafsu dan kehendak ego.  Kalau ego masih berkuasa, susah sekali merasakan "Allah yang menggerakkan".

TAKBIRATUL IHRAM

Saat salat kamu mengangkat kedua tanganmu ke samping telinga sambil membaca takbir Allahu Akbar (Allah Maha Besar). 

Mengangkat tangan itu isyarat menyerah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Besar. 

Sebesar apa? Tak terdefinisikan. Satu dibagi nol, hasilnya adalah tak terdefinisikan. Kamu adalah nol itu! Kamu tak ada apa-apanya, jangan merasa ada. 

Ibarat jari yang dicelupkan ke air, air yang menempel di jari itulah kamu, sedangkan lautan luas itu ibarat ketuhanan. Artinya apa? Kamu terlalu mini untuk merasa penting! Jadi letakkan egomu yang kegedean itu, menyerahlah pada lautan. 

Menyerah pada lautan, biarkan molekul airmu mengapung dalam lautan kasih sayangNya, terserah lautan menjadikannya ombak atau menenggelamkanmu ke dasar. Artinya kamu menempuh kehidupan ini tanpa protes, kamu ridha berada di dalamnya, kamu mengikuti tarian lautan. 

Lautannya adalah kasih sayang dan keberlimpahan, itulah Maha Besarnya Allah.  Jaga perasaan itu di setiap waktu, kamu sudah melakukan takbiratul ihram di jiwamu. 

(bersambung) 


Selasa, 17 Maret 2026

Disadari Sampai Eneg

Meletakkan harapan pada makhluk itu bikin berat di hati, tercabik-cabik dari dalam, gloomy alias suram, ibarat mendung cumulus nimbus dah itu.  Nggak enak banget 'kan?  Dipermainkan oleh diri sendiri.

Kalau kepingin bahagia ya kita harus mencerabut harapan pada orang-orang yang kita sayangi, biarkan saja mereka apa adanya, Allah juga yang mendampingi mereka semua walaupun mereka tak menyadari.  

Bila dipikir lebih dalam, mengharap sesuatu menjadi seperti yang kita mau. itu 'kan sama artinya kita nggak puas dengan keadaan, Kita seperti ingin mengendalikan manusia, padahal siapa sih dibalik semua manusia itu?  Allah 'kan?  Jadi di kedalaman yang dalam sekali, berharap itu sama saja dengan meragukan kemampuan Allah.

Persoalannya adalah mencerabut harapan dari dalam hati kita itu tak semudah menjadi gendut di usia enampuluhan...haha.  Innuri sering menulis metode berjarak dengan emosi, atau hanya menatap emosi tanpa bereaksi.  Masih susah juga katanya.  Lalu aku tulis cara 'ngeles cantik'. itu juga ternyata susah bagi yang belum wushul (menyatu dengan Allah)/

Di cara ngeles cantik itu 'kan gini prosesnya, kita merasa tiada, keakuan lenyap,  ego mati, yang ada hanya Allah.  Karena yang ada hanya Allah, jadi segala harapan itu miliknya Allah  Nah, ketika ego belum lenyap, tapi menganggap yang punya harapan itu Allah. ya artinya belum berhasil lolos dari permainan emosi, karena egonya masih ada.

Siapa yang pusing sekarang?

Begini saja deh, Innuri mau jelaskan per kasus, nanti kamu bisa melatih hatimu per kasus juga.

Misalnya nih, kasus sederhana saja ya.  Ada istri yang berharap suaminya yang buang sampah setiap hari.  Tapi kadang suaminya lupa, hasilnya hati si istri jadi jengkel 'kan?  Nggak enak 'kan menyimpan jengkel di hati?  Menolak rasa jengkel malah membuatnya semakin kuat mencengkeram hati.  Jadi si istri harus menyadari itu dulu, jengkel itu tidak enak, si istri diam saja untuk merasakan rasa jengkel yang tidak enak itu sampai hatinya  sendiri bosan ketempelan rasa jengkel.  Istilahku "disadari sampai eneg".

Tips ini, seandainya tidak bisa menghilangkan harapan sama sekali, setidaknya bisa mengurangi muatan emosinya.  Bila rajin dilakukan, hasilnya cukup signifikan dalam mengatasi hati yang berat karena berharap pada orang lain.

Lama kelamaan bisa menyadari, intinya bukan pada orang lain berubah jadi orang yang sesuai dengan harapan kita atau tidak, tetapi bagaimana hati ini berdamai dan bersyukur dengan semua itu. 

Dicoba ya, Sahabat. 

Mencintai Bayangan

 Ada ungkapan yang bikin hati tersindir dari Gus Mukhlason Rasyid yaitu "mencintai bayangan."

Maksudnya, manusia punya kecenderungan mencintai makhluk melebihi cintanya pada yang menciptakan makhluk. Ibarat makhluk hanya bayangan dari sang Pencipta, tapi itulah yang lebih dicintainya dan malah mengabaikan sang Pencipta.  

Bagiku itu ungkapan yang nancep banget di hati. Lebih nancep lagi bila manusia juga sadar bila bayangan itu pasti akan menyakitinya, entah sakit dalam bentuk berpisah karena ditinggalkan / meninggalkan atau sakit karena benturan ego.

Cinta itu deritanya tiada akhir, kata Patkay dalam serial Kera Sakti.  Kalian yang punya happy married  pasti tidak setuju, aku juga tak setuju awalnya. 

'Kan belum dipisahkan dengan yang kamu cintai. Tunggu saja saatnya, itu pasti terjadi, baik kamu siap atau tidak. 

Mungkin baru sekarang mencintai pasangan yang sah terasa salah. 

Sudah tahu kalau cinta yang bahagianya tiada akhir itu adalah cinta ilahiyah, tapi manusia memang suka sekali cari perkara. 

Tapi memang dunia ini tempatnya ujian (surat Al Mulk). Punya pasangan yang nyaris sempurna itu ujian, punya pasangan yang rasanya pingin "ditukar tambah" juga ujian. Punya harta banyak itu ujian, miskin juga ujian.  Anak, jabatan, kehormatan di masyarakat, follower,  pecinta dan pembenci, apa sih yang bukan ujian di dunia ini? 

Tantangannya adalah bagaimana strategi menghadapi semua itu? 

Sadari bila semua itu hanya bayangan, selayaknya kita lebih mencintai wujud aslinya daripada bayangan.  Semakin kelihatan bodohnya kalau mencintai bayangan yang pasti akan melukaimu.

Yang tak pernah melukaimu adalah mencintai Tuhan. Itulah jurus paling ampuh.  

Untuk bisa mencintaiNya dan lengket denganNya, adalah mengenalNya.  Kurasa cara yang paling mudah adalah dengan zikir tanpa ucapan tanpa nama, hanya merasakan kehadiranNya terus menerus yang disebut zikir sirrur asror.  

Kalau di dalam Budhis, ada meditasi vipassana yang mengantarkan kita bertemu Tuhan. Meditasi vipassana itu akar dari mindfullness yang terkenal itu, makanya aku lebih suka vipassana karena ini yang ori. 

Yang muslim, dalam keadaan apa saja, kamu bisa melakukan zikir sirrur asror, karena 'hanya' perlu merasakan di hati kehadiranNya, penjagaanNya dan kasih sayangNya. Aku kasih tanda kutip kata 'hanya' karena ini kelihatannya mudah tapi tidak mudah. 

Kalau bisa sering-sering menyepi, menyendiri bersama Allah saja, itu bakalan lebih baik.  Aku sering melakukannya, beberapa hari jauh-jauhan dari suami dan anak-anak, benar-benar sendirian saja di Ngantang atau di rumah di dekat bandara, atau di kebun. Bersyukurnya aku didukung suami melakukan uzlah.

Allah mengijinkanku melakukan ketiga-tiganya, zikir sirrur asror, meditasi dan uzlah.  Kusarankan mengalir saja, yang penting ada niat kuat di hati, Allah pasti menuntun. Yang terpenting dari semua itu adalah 'jangan merasa melakukan', tapi Allahlah yang menggerakkanmu melakukannya. 

Ada lagi yang keren sekali yaitu salat daim. Yaitu salatnya jiwa, jiwa yang terhubung dengan Tuhan, tunduk patuh dan menghamba terus menerus (karena jiwanyalah yang ruku' dan sujud).  Salat daim ini salat 24 jam, atau salat 50 waktu.  Mirip-mirip zikir sirrur asror.  Innuri nggak tahu sudah bener belum dalam melakukannya, jadi aku nggak bisa cerita banyak. 

Yang bisa aku ceritakan adalah bagaimana karunia Allah saat melepaskan aku dari mencintai bayangan. 

Yaitu pandangan batin menjadi luas, dibukakan pemahaman-pemahaman baru. Seperti diperlihatkan keutuhan dari rancangan Allah yang menyangkut diriku dan orang-orang yang aku cintai.  

Ketika memahami keutuhan, jadi paham sebenarnya kita tak pernah berpisah.  Kedengarannya membingungkan, ketika sudah tidak melekat pada makhluk, justru di situ jadi paham sebenarnya kita selalu melekat satu sama lain (utuh).  Bila kamu belum paham, tak usah dipaksakan untuk paham, karena kepahaman yang ini diperoleh dengan mengalami sendiri.

Allah itu Maha Sayang, tak rela bila kita menderita.  Itulah mengapa mencintai bayangan itu salah, karena kita jadi terkurung dalam cinta yang penuh penderitaan.  Sedangkan mencintai Allah itu adalah cinta yang membebaskan.  Selain membebaskanmu dari penderitaan, juga membebaskan pikiranmu dari jeratan persepsi yang sempit.  Rasanya indah sekali. 

Kurasa kamu harus mencobanya. 

Btw, kuucap selamat merayakan Iedul Fitri bagi yang merayakannya ya. Aku merayakan hari ini, bagaimana denganmu? 

Salam untuk hatimu yang manis. 


Jumat, 13 Maret 2026

Semesta Paralel (7) Ajaibnya Cinta

Ada satu prinsip dalam mekanika quantum yang barangkali semua orang pernah mengalaminya. 

Misal begini kamu merindukan seseorang, lalu tiba-tiba orangnya hadir mak njekuthuk di hadapanmu, atau tiba-tiba dia kirim pesan.  Itu tidak terjadi secara kebetulan, karena di alam semesta ini tak ada yang kebetulan. 

Ada yang namanya hukum keterikatan quantum (quantum entanglement) yang mengatakan bahwa dua partikel bisa terhubung secara misterius tidak peduli seberapa jauh pun jaraknya, ketika yang satu berubah yang lain pun ikut berubah seketika, seakan-akan informasi disampaikan lebih cepat dari cahaya.

Maka tidak perlu heran dengan kehidupan yang terkadang membawa banyak kejutan. Saat kamu kangen seseorang, bisa jadi dia lagi kangen sama kamu dan "partikel kangen" nya lagi menggetarkan hatimu, atau sebaliknya. 

Tapi kayaknya quantum entanglement ini tidak berlaku untuk semua partikel, Innuri
pernah dikangenin seorang 'secret admirer' sampai puluhan tahun dan aku tidak merasakannya sama sekali dan banyak lagi cerita serupa aku alami. Kalau ingin tahu kisahnya aku tulis jadi cerpen tidak penting disini

 Kayaknya dua partikel yang bisa saling terhubung adalah pasangan partikel, makanya ada cinta yang bertepuk sebelah tangan atau rindu yang tidak terbalas. Tapi apa pun itu setiap perasaan pasti membawa perubahan pada partikel lain, walaupun terabaikan, jadi teruslah mencintai, gak pakai mikir terbalas atau tidak. 

Sekarang Innuri mau ngomong serius.  Cinta bukan partikel, rindu bukan partikel, tapi kita sudah belajar bahwa cinta kasih adalah struktur dasar multiverse.  Cinta kasih dalam arti compassion atau unconditional love, atau rahman rahiim atau cinta ilahiyah.  Itu adalah energi terkuat yang bisa menggetarkan apa pun dan siapa pun. 

Sudahi dulu cinta menye-menye ala cerpennya Innuri... haha.  Kita beralih ke cinta yang universal.  Bahkan dalam prinsip ho'oponopono , ketika kamu mencintai sesuatu, itu berubah. Sudah banyak tulisan aku tentang ho'oponopono di blog ini, salah satunya Klik di sini  . 

Cinta kasih yang dirasakan orang-orang biasa kayak kita-kita ini adalah cinta kasih yang terbatas, tapi seiring perjalanan spiritual, semakin kita masuk ke diri terdalam, cinta kasih yang kita rasakan pun semakin halus, luas dan indah dan semakin memengaruhi semesta yang lebih luas. 

Semakin ke dalam, cinta kasih menuntun kita menyatu dengan semuanya, itu adalah salah satu puncak dalam spiritualitas.  Ketika menyatu dengan semuanya kita bisa merasakan semuanya dan kita bisa memengaruhi semuanya secara quantum.  Ingat alam semesta yang gemebyar dan luar biasa luas ini terciptanya dari inti yang maha halus yang tak terbayangkan betapa halus dan kecilnya, quantumnya quantum sampai level tak terdefinisikan. 

Jadi semakin kamu bisa mencintai secara ilahiyah, semakin kamu berkontribusi pada kedamaian di atas bumi ini.  Cinta adalah kekuatan senyap yang memengaruhi banyak hal yang tak terpikirkan oleh kita. 

Contoh nyata saat ini banyak rakyat kecewa dengan para petinggi negara. Biarkan mereka yang protes, demo, dll, itu adalah peran yang harus mereka mainkan. Peran orang-orang spiritual adalah mencintai semuanya. 

Bagaimana bisa mencintai para koruptor? Penjahat kok dicintai, kurang kerjaan apa? Haha. 

InsyaAllah di tulisan berikutnya ya. 

Kamis, 12 Maret 2026

Semesta Parelel (6) Kesadaran yang Lebih Tinggi

 Lanjut membahas pengalaman Mbakyu Lynda Creamer yang bilang bila surga itu terletak di lapisan kesadaran yang lebih tinggi. tidak terpisah dengan kehidupan kita di dunia ini.

Teori semesta paralel itu dicetuskan oleh Hugh Everett, tokoh fisika quantum.  Jadi untuk menjelaskan itu, aku anggap kalian tahu semua tentang hukum-hukum di mekanika quantum yang tidak nurut sama fisika klasik.  Fisika quantum itu membahas soal atomik dan sub-atomik yang tidak tunduk pada hukum-hukum dalam fisika klasik semacam  hukum Newton, thermodnamika, Archimedes dll.  

Nah, ada satu prinsip dalam fisika quantum yang namanya superposisi yang menyatakan bahwa sebuah partikel dapat berada dalam beberapa keadaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan hingga dilakukan pengukuran.

Walaupun pikiran, perasaan dan jiwa bukan termasuk dalam atom dan quanta, melainkan lebih halus dari itu. Mungkin suatu waktu ada fisika quantum yang lebih quantum lagi... hmm. Jadi sementara kita asumsikan saja pikiran dan perasaan sebagai suatu quanta.

Lihat pikiran kita sendiri, dia bisa bergerak dengan kecepatan melebihi cahaya yang nyaris di waktu yang sama mikirin masakan gosong sama dracin  di hape.  Bukan Innuri loh, tetangganya Innuri ...hehe. Cari contoh dari dirimu sendiri deh, pikiran kamu, perasaan kamu bisa berada di dua tempat sekaligus kan? Bahkan bisa berada di dua masa sekaligus, masa lalu dan masa kini, atau masa kini dan masa depan. 

Dari sini kita bisa memahami pengalaman mbak Lynda Creamer meskipun belum pernah mengalami OOB. 

Tentang lapisan-lapisan di semesta kesadaran, aku punya pemahaman (dipahamkan Allah) yang mungkin berbeda.  

Di dunia fisik, inti itu berada di tengah, lalu ada lapisan-lapisan melingkar di atasnya dan bagian terluarnya adalah lapisan luar. Seperti bumi ini, inti bumi berada di tengah-tengah, lalu ada lapisan demi lapisan dan bagian terluarnya adalah tanah yang kita pijak. 

Nah, lapisan di semesta kesadaran malah kebalikannya.  Inti itu malah berada di paling luar dan meliputi lapisan-lapisan berikutnya, yang semakin jauh dari inti dia semakin terbatas dan kasar (semakin tersentuh panca indra).  Tapi keberadaan inti itu adanya di dalam semesta halus manusia (ini yang membedakan manusia dengan hewan, hewan tidak merasakan inti).  Bingung kan? Memang semembingungkan itu kok, tapi kalau sudah memahami, jadi terang benderang posisi kita di semesta paralel ini. 

Jadi, inti di semesta kesadaran adalah tidak terbatas, semakin jauh dari inti, dia semakin terbatas, pembatasnya adalah ruang dan waktu (dan entah apa lagi yang aku tak tahu).  Semakin mendekati inti semakin sedikit pembatasnya, lalu semakin sirna. Kira-kira begitulah pemahaman Innuri yang dipahamkan Allah. 

Bagaimana? Agak paham? Sambil mohon bimbingan Allah deh di hati kalian ya. 

Tuhan adalah inti kehidupan yang tak terbatas yang membuat semesta dengan lapisan-lapisannya itu mewujud. 

Saat ini kita sedang duduk manis di lapisan terluar semesta kesadaran, segala sesuatu yang tersentuh panca indra itulah semesta terluar, kasar, terlihat mata fisik, teraba dan terdengar. Namun justru ini bukan kehidupan yang sebenarnya, karena ini kehidupan yang rapuh dan suatu saat bisa runtuh. Akan halnya kita pun bisa mati. Kemarin kita sudah belajar bagaimana dunia ini hanyalah proyeksi atau hologram saja. 

Lapisan kesadaran itu semakin mendekati inti, semakin halus dan membutuhkan "indra" yang lain.  Sekarang kita jadi mengerti makna Allah Maha Lembut / halus, itu kehalusan yang tak terbayangkan. Semakin mendekati inti, sebenarnya itu semakin mendekati kehidupan yang sebenarnya, yang berarti semakin nyata.  Lalu pada intinya kita bertemu kehidupan sebenarnya, yang disebut ruh / jiwa / atman, yang terhubung dengan Tuhan. 

Kehidupan sebenarnya ini di al quran juga disebut akhirat, yang di sana kita bertemu Tuhan , yang kondisi di sana amat sangat indah yang tidak dijumpai di lapisan semesta terluar/dunia, yang tidak ada penderitaan, perang, dll. Yang perbandingan luasnya semesta akhirat dibandingkan semesta dunia ini adalah lautan luas dibandingkan dengan setitik air. 

Dari sini kita bisa memahami pengalaman Dr Lynda Creamer, ketika dimasukkan ke kehidupan akhirat dan indra batinnya dibuka untuk menyaksikan segala keindahannya. 

Allah itu Maha Kuasa untuk menempatkan sebuah jiwa ke semesta kesadaran yang mana pun. Pada saat mati suri, mbak Lynda dibawa ke lapisan kesadaran yang lebih tinggi. Makanya dia bilang surga itu tidak terpisah, karena semuanya berada dalam sistem yang tunggal. 

Karena di dalam inti kita bisa bertemu Tuhan, maka orang yang jiwanya sudah mengenal dan menyatu dengan Tuhan mudah sekali berpindah dari satu lapisan kesadaran ke lapisan kesadaran yang lain, alias mudah melompat-lompat multidimensi, baik saat terjaga dan sadar, atau saat bermimpi dan sadar (lucid dream).  Namun yang sering terjadi dan sering kita temui kesaksiannya adalah pada saat mendekati maut, seperti mbak Lynda salah satunya. 

Tapi yang pasti, kita semua akan berpindah channel lewat kematian jazad.  Persoalannya adalah pindah ke channel yang mana? Yang penuh keindahan alias surga atau yang penuh penderitaan alias neraka atau yang antara surga neraka, atau mbalik ke semesta terluar yaitu dunia ini (mengalami reinkarnasi) 

Pilihan ada di tanganmu, Sayang. 

Bersambung apa enggak ya? Tunggu saja deh.  

Rabu, 11 Maret 2026

Semesta Paralel (5) Pengalaman di Luar Indra

 Aku terkesan sekali dengan pengalaman ESP (extrasensory perception/ di luar indra / indra ke enam) yang dialami Dr Lynda Creamer, karena aku pernah mengalami hal yang mirip.  Kamu bisa mencarinya di internet kalau mau tahu lebih jauh tentang beliau.  Di sini aku mau ngobrolin Mbakyu Dr Lynda Creamer versi reels IG nya Kang Garna Raditya saja karena aku suka, Innuri sudah dapat ijin Kang Garna  memuatnya di blog. Klik di sini untuk membuka video yang aku maksud.

Mbakyu Lynda mengalami mati suri dan dalam kematiannya yang hanya 14 menit, beliau merasa jiwanya dibawa ke sebuah tempat yang indah.  Ada beberapa catatan yang bisa kubuat :
1. dibawa ke ruang kesadaran murni yang penuh cinta kasih, tanpa rasa takut dan tanpa batas
2. dibawa ke pemandangan indah yang tidak ditemukan di bumi
3. bisa berpindah tempat seketika
4. bisa berbicara dengan orang lain pakai pikiran dan bisa menjadi 'mereka', seolah satu eksistensi saling terhubung dalam satu kesadaran kolektif
5. bertemu sosok leluhur yang membantunya me-review seluruh hidupnya sampai mendapat pemahaman yang sangat dalam
6. pikiran, emosi dan niat itu menciptakan gelombang yang memengaruhi seluruh jaringan eksistensi
7. itu bukan surga yang terpisah, melainkan sisi kesadaran yang lebih tinggi yang selalu ada tetapi tidak terlihat panca indra
8. reinkarnasi terjadi bukan di waktu paralel, melainkan simultan/serentak 
9. banyak kehidupan terjadi bersamaan, seperti satu jiwa multidimensional
10. waktu tidak mengalir, melainkan terjadi sekaligus, jiwa kita tidak pernah mati, hanya berpindah channel
11. kesadaran berlanjut melampaui kematian
12. cinta kasih adalah struktur dasar dari segala sesuatu

Kesimpulan Kang Garna : dunia ini hanya satu lapisan kecil dari sesuatu yang lebih luas dan lebih indah dari yang kita bayangkan.

Indah sekali ya pengalaman Mbakyu Lynda, Innuri percaya karena aku pun pernah mengalami hal yang  mirip, juga sering mengalami lucid dream yang di sana aku dibawa ke pemandangan indah yang tidak pernah aku temukan di dunia, juga nggak pernah ketemu di YouTube ... hehe.

Tapi perlu kamu tahu, setiap jiwa punya pengalaman masing-masing dengan kematian, berbeda-beda tiap orang, tergantung kondisi jiwanya masing-masing.  Aku tidak bilang sesuai amal ibadahnya masing-masing ya, ini penting banget.  Amal ibadah yang banyak tidak menjamin seseorang berakhir indah, bila amal ibadahnya tidak membekas ke jiwa.  Yang kita bawa terus sampai kapan pun adalah ruh/jiwa/atman.  Hanya jiwa yang bersih/suci/fitri  sehingga mudah terkoneksi dengan Tuhanlah yang ditaruh di lapisan semesta yang indah yang disebut surga.  Kuduga Mbakyu Lynda itu orang yang dekat dengan Tuhan, maka pengalamannya seindah itu.  

Pengalaman orang yang semasa hidupnya berbuat jahat, fasik, zalim, pelit, kufur, musyrik, tentu berbeda.  Apalagi bagi yang sudah membaca novel Innuri Bulan Madu yang Tertunda pasti tahu, di novel itu hanya satu orang yang aku ceritakan mendapat ending yang indah, sisanya mengerikan.  Walau masih banyak yang tak sempat kuceritakan, tetap saja jumlah orang yang endingnya mengenaskan yang lebih banyak aku saksikan.

Allah itu tidak pernah menzalimi hambaNya, di dunia ini kita diberi dua jalan, jalan Allah atau jalan setan/ego, tinggal pilih yang mana.  Jalan Allah memang mengandung perjuangan, kesulitan, pengorbanan, dll, tapi endingnya indah.  Makanya aku pilih Allah saja. Bagaimana denganmu?

Kembali ke Mbakyu Lynda.  Aku terkesan dengan kesimpulan nomer 12, cinta kasih adalah struktur dasar segala sesuatu.  Relate dengan orang Islam yang mau ngapa-ngapain dianjurkan membaca basmallah, atas nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.  Relate dengan Al Quran yang setiap Surat diawali dengan basmallah, kecuali Surat Al Taubah.  Itu mengandung arti Allah pun bisa murka, tetapi kasih sayangNya lebih banyak daripada kemurkaanNya.  Di dalam kemurkaanNya ada kasih sayangNya.  Di dalam Taoisme itu namanya Yin-Yang.

Misal begini, kamu dizalimi seseorang, Allah membalas perbuatan orang itu tunai di dunia.  Di dalam kemurkaannya pada orang yang menzalimi kamu, ada kasih sayang Allah yang membelamu dan ada kasih sayang  Allah pada orang yang menzalimi kamu agar impas dan tidak mendapat balasan di neraka. Mengingat kasih sayang Allah yang luar biasa, kukira neraka pun kehidupan hologram, coba baca Surat Hud 107-108.  Jadi neraka pun terbuat dari kasih sayang! 

Bayangkan para pemimpin negri yang korup dan berfoya-foya di atas penderitaan rakyat kecil, merampas hak hidup layak sebagian penduduknya.  Bahkan mereka itulah yang bertanggung jawab atas penyakit dan kematian orang-orang akibat kemiskinan.  Orang-orang tidur di rumah yang lebih mirip kamar dan berdesakan dengan anak-anaknya, dengan lingkungan yang tidak sehat.  Anak-anak di daerah terpencil yang susah mengakses pendidikan dan kesehatan yang layak.  Silakan perbanyak sendiri ketimpangan di negri ini.

Apakah kamu rela para pemimpin itu tidak mendapat balasan atas perbuatannya?  Allah pun tidak rela, makanya kubilang neraka pun terbuat dari kasih sayang!

Jadi bila ada yang ngomong, masak Tuhan yang Maha Kasih Sayang menghukum dengan neraka?  Jawab, bukan Tuhan yang menghukum, tetapi perbuatan mereka sendirilah yang menghukum mereka.

Kembali ke cerita Mbak Lynda ya, poin ke 7 tentang surga yang berada di kesadaran yang lebih tinggi, bukan terpisah dengan dunia ini. Ini penjelasannya panjang, Innuri cepek ngetik.  Bersambung saja ya?  Iya jawabmu.  Terimakasih atas pengertiannya, jawab Innuri dan Innuri pun siap-siap mematikan lampu, mau tidur diiringi suara orang tadarusan yang kenceng banget suaranya.

(bersambung)

Selasa, 10 Maret 2026

Semesta Paralel (4) Surga dan Neraka

 Innuri jadi pingin sungkem sama Hugh Everett, karena hipotesa multiverse-nya membuatku lebih memahami surga dan neraka yang disebut di Al Quran dan membuka pemahaman yang lebih gamblang makna pengalaman ESP (extrasensoryperception) yang sering aku alami.

Beberapa ustaz makrifatullah yang kutemui (ketemu di internet tapi ... hihi), bilang akhirat itu sudah ada, surga dan neraka itu sudah ada, aku percaya banget ini.  Sementara ustaz lain yang cenderung memakai pikiran saja bilang, surga dan neraka itu soal rasa, perasaan bahagia ya surga, perasaan sumpek dan marah, itu neraka,  kalau ini aku maklumi karena yang bilang seperti itu tidak pernah melihat surga dan neraka.  Memangnya Innuri pernah lihat surga dan neraka?   Barangkali ya.

Dulu waktu awal-awal menulis di blog, aku sering bercerita di sini tentang pengalaman ESP-ku, termasuk pengalaman melihat hal ghaib orang yang sudah meninggal.  Lalu diserbu komentar negatif, sampai seorang pembacaku bilang ,"Pengalaman Bunda itu keren, tulis jadi novel saja biar nggak ada yang berkomentar macam-macam."  Lalu kupikir iya juga ya, siapa yang menghujat novel, walau kutulis pernah naik ke langit tingkat tujuh puluh sembilan?  Haha ... dari situlah aku menulis novel pengalaman-pengalaman mistisku, jadi dua judul novel. 

Novel pertama di aplikasi Fizzo, duh, di sini banyak banget iklannya, sampai eneg deh, tapi sayangnya nggak bisa aku pindah ke platform lain karena terkontrak.  Judulnya Kekasihku Indigo, nama pena tetap Innuri Sulamono, isinya tentang pengalaman ESP yang titik-titik.  Kalau pengalaman khusus mengenai kehidupan sesudah mati dari orang-orang yang kukenal aku tulis di novel berikutnya, merupakan kelanjutan dari Kekasihku Indigo, di Kwikku, judulnya Bulan Madu yang Tertunda.  Bila ingin membacanya, kalian bisa klik di sini    

Dua novel itu pemeran dan alur ceritanya fiksi, walau ada insert karakter orang-orang tersayang... hehe, biar nggak terlalu mikir Innuri, tetapi pengalaman ESP yang kutulis di situ benar-benar kualami sendiri.

Dari pengalaman ESP itulah aku percaya surga dan neraka itu sudah ada saat ini dan berfungsi.  Kalau di Islam 'kan ada alam kubur, alam barzah, dsb, yang intinya kehidupan sesudah mati, soal itu aku sendiri tak bisa membedakan, yang aku lihat dan aku ceritakan di novel itu alam mana.  Yang penting bagiku, kisah yang aku tulis bisa menjadi pelajaran buat kita semua.

Tentang surga, di Al Quran ditulis bahwa surga itu ada banyak macamnya, surga Firdaus, surga Adn, surga Naim, surga Darussalam, dll.  Aku membayangkannya, setiap surga ada semestanya sendiri, karena di Al Quran juga disebutkan bila surga itu luasnya seluas langit dan bumi, jadi luasnya kebangetan.  

Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, ada surga, ada neraka, ada langit, ada bumi, hitam-putih, terang-gelap dsb.  Begitu pun semesta, berpasangan juga, ada surga firdaus, ada neraka jahannam, dst.  Jadi semesta pun berpasangan, karena yang tidak berpasangan cuma Allah.

Nah, diri kita saat ini berada di semesta yang di dalamnya berpasangan, campuran, ada yang jahat ada yang baik, ada damai ada perang, selamanya di atas bumi seperti ini.  Semakin banyak orang baik, berarti semakin banyak orang jahat.  Berbeda dengan semesta surga yang isinya baik thok, dia berpasangan dengan semesta neraka yang isinya jahat thok.  Bisa dipahami maksud Innuri kan?  

Maksud Innuri, kita tinggal di semesta persinggahan, dimana kita diberikan dua pilihan, dari titik ini ditentukan ke arah mana nanti jiwa kita ditaruh, di semesta surgaNya atau di semesta nerakaNya.

Tapi surga dan neraka itu bukanlah tujuan dan jangan sekali-kali dijadikan tujuan.  Tujuan kita adalah Surat Al Fajr 27-28 "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridhai."  Jadi inti perjalanan kita hidup di dunia proyeksi ini adalah kembali ke asal kita, Tuhan yang menciptakan kita.  Kembalinya bagaimana?  Silakan dibaca di tulisanku yang lain di seri Perjalanan ke Dalam 

Di Al Quran tertulis, akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, sementara dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu, permainan dan senda gurau, sudah pula dibuktikan oleh fisika quantum kebenaran ini, bila ternyata kita cuma hidup di dunia hologram , dunia proyeksi.  Hanya saja fisika quantum belum bisa menjangkau akhirat, karena belum ada ilmuwan yang berkunjung ke akhirat lalu kembali ke dunia untuk merumuskan teorinya ... hehe.  Akan tetapi, secara logika, ada kehidupan palsu, pasti ada kehidupan sejati 'kan?  Jadi satu-satunya referensi yang kita dapat tentang kehidupan yang sebenarnya ya dari kitab suci.

Jadi sudah tahu ke arah mana tujuan kita 'kan?

(bersambung)

Senin, 09 Maret 2026

Semesta Paralel (3) Doa yang Selalu Terkabul

Dalam hidupmu ini, pernahkan kamu merasa begitu terkait dengan seseorang walau orangnya tidak ada, karena meninggal atau pun berpisah?  
Pernahkah kamu menjanjikan sesuatu lalu karena suatu sebab kamu tidak bisa memenuhinya dan sepanjang hidupmu kamu merasa bersalah?  
Atau kamu sering bermimpi tentang orang yang sama sepanjang hidupmu?
Atau apa pun itu yang begitu mengikatmu, tempat, benda, keinginan dan doa?

Sayangku, tenanglah.  Barangkali semua sudah terwujud di semesta lain di kemahabesaranNya.

Misalnya begini, kamu gagal menikah dengan si A, tapi sepanjang hidupmu kamu tak bisa berhenti mencintainya.  Bisa jadi di kehidupan paralelmu ada versi dirimu yang menikahi si A.  Jadi Allah mengabulkan keinginanmu hidup bersama si A tapi di semesta yang lain. 

Contoh lain, kamu merasa ibumu meninggal terlalu cepat, kamu masih membutuhkannya dan kamu sering merasa ibumu hadir dan memberimu semangat.  Bisa jadi di semesta yang lain ibumu masih mendampingimu terus. 

Tersadarnya aku di sini, ketika seorang sahabat bilang, "Justru konsep multiverse itu konsep yang paling masuk akal dibandingkan monoverse.  Allah 'kan Maha mengabulkan doa?  Kalau tidak terwujud di sini, pasti dikabulkan di semesta yang lain."  Benar juga apa yang dikatakan sahabatku.

Walau keberadaan multiverse masih susah dibuktikan karena belum ada yang membuka 'tur ke semesta yang lain' ... haha, aku mempercayainya karena tersirat di Al Quran dan karena aku pernah dijebloskan ke semestaku yang lain yang relate dengan kehidupanku di sini.

Bukanlah Tuhan Maha Besar dan Maha Kuasa, Maha menepati janji. Ketika Dia berkata berdoalah kepadaKu maka aku perkenankan bagimu, Dia pasti menepatinya. Tidak sulit bagiNya menciptakan semesta lain bukan?

Di dalam mekanika quantum many worlds-nya Hugh Everett, dikatakan bahwa setiap keputusan atau kejadian quantum membelah realitas, menciptakan realitas baru di semesta yang lain. 

Itu kupahami begini,  ada semesta paralel yang merupakan hasil dari kejadian quantum yang terjadi di dalamnya kamu dan aku dan semua makhluk di semesta ini.  

Emosi yang kuat, embuh itu cinta atau benci, cita-cita, niat, janji, dll yang pernah terjadi pada dirimu dan diriku, semua itu membentuk semesta paralel.  Lah banyak sekali dong versi diri kita di dunia paralel, ya iyalah.  Nggak percaya?  Ya gapapa, gak patheken Innuri, Hugh Everett juga nggak patheken! ... hahaha.  Innuri pun pasti nggak percaya kalau nggak dijebloskan Allah ke dunia paralel.

Sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya bagaimana aku masuk ke dunia paralel dan ternyata menjawab semua pertanyaan tentang hidupku sendiri. Tidak cuma di dunia paralel yang damai dan tenteram, pernah di dunia paralel lain yang disana aku dibunuh tepat di dada dan berlumuran darah!

Pertanyaannya sekarang, apa sih gunanya 'beriman' pada dunia paralel?
Jawabannya adalah untuk membuat jiwamu mengerti akan kasih sayang Tuhanmu yang Maha Kasih Sayang, lalu jiwamu akan mencintaiNya melebihi apa pun selainNya, pada akhirnya kamu akan menyatu denganNya.  Menyatu dengan kesejatian berarti 'karier' mu di dunia proyeksi selesai karena kamu naik pangkat.

Bagaimana bisa dunia paralel mengantarkan kita pada pemahaman sedalam itu?

Innuri susah menjelaskannya ya, karena memang ini dipahami dengan cara mengalami sendiri, tapi kucoba jelaskan.

Jadi semesta paralel itu terwujud bukan secara ngawur, yang bekerja di sana kecerdasan Yang Maha Tinggi.  Meskipun jiwa terbelah menjadi banyak bagian dan banyak skenario kehidupan, semuanya relate untuk menyelesaikan satu misi yaitu kembali kepada Tuhan yang menciptakannya.  

Semoga bisa kamu pahami ya dan jangan sedih bila doi kamu jadi milik orang lain di sini, bisa jadi di sono dia pasanganmu.  Juga jangan terlalu gembira bila doi jadi milikmu, karena tugas utamamu di dunia mana pun adalah kembali kepada Tuhan seutuhnya.

(bersambung)

Sabtu, 07 Maret 2026

Semesta Paralel (2) Lauhulmahfudz dan Dunia Proyeksi

 Innuri pernah diperlihatkan "film prekognisi", ada seorang lelaki dengan kepala berdarah-darah, digendong oleh seseorang, dengan banyak orang berdiri di belakangnya, suasana malam hari.  "Film" itu menghantui aku berbulan-bulan, tentunya aku jadi mikir dong, yang berdarah-darah itu siapa, dan pasti aku hubungkan dengan 3 ganteng yang kumiliki, ganteng pertama suamiku, atau ganteng kedua dan ketiga, anak-anak lelakiku.  Selama itu pula aku sering merasa cemas dan deg degan, karena wajah orang-orang di dalam film itu tidak jelas karena suasana malam yang gelap.

Kira-kira setelah 6 bulanan seingatku, kenyataannya terjadi.  Suatu senja, aku pulang dari Ngantang ke rumah Pakis bersama suami, adikku Ida, anakku Insan dan Alni.  Lewat maghrib ketika sampai di daerah Batu, dihadang sekumpulan anak muda, ketuk-ketuk kaca mobil, minta tolong membawa ke rumah sakit seorang temannya yang kecelakaan.  Diantara mobil-mobil yang lewat yang mereka mintai tolong, hanya mobil kami yang mau berhenti dan menolong mereka.  Adikku turun, Alni dan Insan duduk berdesakan di depan, suami nyetir, aku di belakang, jadi kursi tengah bisa memuat korban yang berbaring beralaskan paha dua temannya yang duduk.

Pemandangan itu benar-benar plek ketiplek dengan film prekognisi yang sudah menghantuiku selama berbulan-bulan. Suasana malam, saat itu kota Batu belum seramai dan seterang sekarang, lelaki yang digendong dengan kepala berdarah, orang-orang yang berdiri di later belakang.  Benar-benar itulah yang kulihat enam bulan yang lalu.  Setelah peristiwa itu, bayangan film prekognisi itu pergi dan tak menghantui aku lagi.  

Pernahkah kalian mengalami hal yang mirip itu?  Bisa membaca atau dikasih tahu Allah tentang peristiwa yang akan terjadi?

Otak kita sejak kecil sudah dikondisikan untuk memahami bila waktu adalah linier, ada masa lalu, masa kini dan masa depan.  Baru-baru ini aku tersadarkan akan fenomena lain yang sudah lama diungkapkan para ahli fisika, bahwa waktu itu relatif (mekanika kuantum Einstein), bahkan ada ilmuwan yang mempunyai pengalaman NDE (Near Death Experience) dan menyimpulkan bila waktu itu simultan, beliau Dr. Lynda Cramer, silakan digoogling ya.  

Selain mekanika quantum Einstein dan Dr Lynda Cramer, coba baca-baca tentang teori semesta Paralel dari ahli fisika Hugh Everett Dan Max Tegmark.  Dari semua itu Innuri coba kaitkan dengan Al Quran dan beberapa  pengalaman ESP (extrasensory perception) yang aku alami.  Ternyata penjelasan sains itu membuatku paham akan kedalaman makna yang tertulis di kitab suci.

Sekarang mari renungkan bersama-sama, ketika Innuri diperlihatkan Allah film orang yang mengalami kecelakaan itu, apakah sebenarnya kecelakaan itu sudah terjadi ataukah masih rencana?  Rencana Allah yang dibuka ke pandangan batin Innuri?  Rencana Allah yang masih berupa film yang masih menunggu waktu menjadi nyata? Atau barangkali sebenarnya kecelakaan itu sudah terjadi pada detik Innuri melihatnya di prekognisi, tapi menjadi tertunda dialami karena kelambanan prosessor yang berupa tubuh fisik dan indra ini karena pengaruh grafitasi bumi atau variabel lain?  Atau malahan kecelakaan itu sudah terjadi lama, tetapi Innuri terlambat melihatnya di prekognisi karena prosessor batin Innuri yang lemot?  Waah, pusing 'kan kalian?  Yuk kita pusing berjamaah.

Namun Innuri bukan bermaksud membuat kalian pusing, sungguh, Innuri hanya ingin merenungkan betapa Maha Besar Allah dengan segala KekuasaanNya.  Aku hanya mencoba memahami kehidupan ini untuk lebih mengenalNya, dekat denganNya, menyatu denganNya dan mencintaiNya.

Seperti yang selama ini aku yakini bila segala sesuatu tertulis di lauhulmahfudz, semacam blueprint dari kehidupan alam semesta beserta segala penghuninya.  Ataukah lauhulmahfudz itu bukanlah seperti yang aku dan kalian bayangkan?  

Waktu aku kecil, kukira lauhulmahfudz itu sebuah buku raksasa yang terbuat dari kertas berlembar-lembar, menuliskan (pakai huruf-huruf seperti yang kita temui di dunia ini) nasib seluruh umat manusia.  Ketika dewasa aku menertawakan pemikiran masa kecilku, pemahamanku berganti, itu mungkin semacam blueprint kehidupan seluruh alam dan manusia yang bentuknya tak kasat mata. Ketika tua, aku berubah pikiran lagi tentang lauhul mahfudz, terutama setelah mempelajari semesta paralel.  

Apakah lauhulmahfudz itu sebenarnya alam semesta tersendiri yang memuat rencana-rencana Allah dari yang gede-gede sampai ke yang sekecil-kecilnya, yang bisa jadi itu lebih gede dari alam semesta fisik yang kita tempati ini?  Yang merupakan pusat data multiverse? Rencana-rencana dari lauhulmahfudz terproyeksi ke dalam kenyataan di dunia manusia dan di semesta-semesta lain yang kita tidak tahu. Jadi dunia ini hanyalah proyeksi dari sesuatu yang benar-benar nyata di alam lauhulmahfudz, makanya di Al Quran disebutkan bahwa dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya, ternyata cumak proyeksi!  

Cuma proyeksi, tapi kalau itu buatan Tuhan, ya terasa nyata sekali sampai banyak orang tertipu olehnya dan menumpuk kekayaan seolah-olah hidup selamanyadi dunia. Dari sini ketika sudah dipahamkan Allah bila dunia ini bukanlah kehidupan yang sebenarnya, kita bisa mengambil sikap santai saja, mengalir saja mengikuti peran yang harus kita mainkan.  Oh ya, kita juga bisa mengucap. "Selamat datang ke dunia proyeksi," pada bayi yang baru lahir di atas bumi ... haha.

Selain menyebut dunia ini bukan kehidupan yang sebenarnya,  Al Quran juga bilang, dunia ini adalah permainan dan senda gurau.  Coba hubungkan dengan perkataan Ellon Musk yang bilang kita hidup di dunia simulasi yang dikendalikan entitas Maha Cerdas.  Tolong kasih tahu Ellon Musk ya, bila yang Maha Cerdas itulah Tuhan semesta alam yang bahkan mengendalikan segala pergerakan di alam semesta ini sampai ke bagian terkecilnya, termasuk isi otak dan isi hati si Ellon Musk itu.

Soal waktu itu relatif tertulis di beberapa ayat Al Quran, seperti di Surat Al Hajj 47, sehari di sisi Tuhan sama dengan seribu tahun versi manusia.  Di ayat yang lain dikatakan saat hari kebangkitan, manusia merasa hidup di dunia hanya sebentar saja. Di Surat Al Maarij, sehari kadarnya sama dengan lima puluh tahun.

Waktu itu relatif, itulah kebenaran yang musti kita telan.  Bahkan waktu itu kadang tidak berjalan linier, bisa simultan, itu pun tak terbantahkan bagi yang pernah mengalami OOB (out of body experience) atau NDE (Near Death Experience), Innuri pernah mengalami keduanya.  Jadi ... apa yang harus kita lakukan di kehidupan yang hanya proyeksi, permainan dan senda gurau, yang bukan kehidupan sebenarnya ini?

Adalah menemukan kehidupan sejati kita alias menemukan kesejatian, karena itulah kehidupan yang sebenarnya.

Bagaimana caranya?  Mungkin di tulisan berikutnya atau di tulisan sebelumnya Innuri sudah menuliskannya, eh bukan Innuri, tapi Allah.

(bersambung)