Sampai mikirin Indonesia Innuri, ketika siangnya ngobrol dengan sahabat tentang kemiskinan ekstrim di negri ini. Negeri di mana rakyatnya menjadi babu untuk orang-orang asing yang hidup mewah di tanah leluhur mereka sendiri. Negeri yang ....
Mikirin Indonesia Innuri, ketika suara anak-anakku mahasiswa yang peduli pada nasib bangsa ini berusaha dibungkam atau manusianya ditiadakan.
Mikirin Indonesia Innuri, ketika kebakaran hutan melanda, gempa dan bencana... Sementara ada tangan rakus yang merampok kekayaan alamnya.
Mikirin Indonesiaku ini ketika emas puluhan kilogram ditemukan di rumah pejabatnya. Oh Indonesia yang korup.
Aku gelisah malam itu, mendoakan negri dengan perasaan yang tidak yakin. Sampai aku sadari bila kegelisahan adalah sebuah pertanda bila hati sedang terpisah dengan Tuhan, dan melihat semua kenyataan terpisah dengan Tuhan juga.
Maka ketika aku kembali menyatu dengan Tuhan, disitulah aku merasa tenang. Semua ini dibawah kendaliNya, tidak ada yang perlu disedihkan atau dikhawatirkan. Ujung-ujungnya bakalan mati, kehidupan dunia bagaimana pun indah atau nelangsanya, semuanya bakalan ditinggalkan.
Tidak ada yang perlu dikasihani, tidak pula ada yang perlu "digemesin" saking serakah atau jahatnya. Kenapa?
Karena semuanya hanya pembagian peran saja. Peranku peranmu perannya peran mereka, semua itu tidak sama. Ya jalani peran masing-masing dengan bersyukur saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar